Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Prevalensi gangguan jiwa berat pada penduduk Indonesia yang


berdasarkan data Riskerdas tahun 2013 sebesar 1.7 per mil sedangkan prevalensi
penduduk Indonesia yang mengalami gangguan mental emosional secara nasional
sebesar 6%. Angka ini mengalami penururnan dibandingkan data Riskerdas tahun
2007 dimana prevalensi gangguan mental emosional seperti gangguan cemas dan
panik sebesar 11,6% dari populasi orang dewasa. Data tersebut menunjukkan
adanya penurunan prevalensi gangguan mental emosional sebesar 5.6% tidak ada
penjelasan spesifik tentang upaya yang telah dilakukan dengan upaya penurunan
angka tersebut. Ansietas dan panik merupakan bentuk gangguan jiwa yang paling
umum terjadi. Bahkan World Health Organization mengingatkan bahwa panic
telah menduduki peringkat ketiga beban penyakit skala global sejak tahun 2004.
Diperkirakan kasus panik akan terus meningkat menjadi beban penyakit pada
tahun 2030 mendatang. Perawatan dan pengobatan yang efektif untuk gangguan
cemas dan panik sangat diperlukan hal ini diperlukan agar individu yang
mengalami gangguan tersebut dapat kembali produktif dalam memenuhi
kebutuhan hidup. Tidak bergantung pada orang lain dan dapat melakukan
aktivitas sehari-hari.

Saat ini penatalaksaan pelayanan ansietas dan panik tidak hanyak


diberikan psikofarmako saja namun juga dengan pendekatan psikoterapi. Salah
satu psikoterapi yang telah banyak dilakukan dan cukup efektif dalam mengurangi
dan mengontrol gejala penyakit atau gangguan adalah cognitive behavioral
therapy atau CBT. CBT merupaka pengobatan non farmakologi yang efektif
untuk hampir seluruh gangguan jiwa terutama ansietas.Terapi ini memiliki waktu
yang terbatas mendorong keterampilan selfhealth berfokus pada masalah bersifat
induktif dan mengharuskan klien untuk mengembangkan dan mempraktekan
penampilan dalam lingkungan sendiri melalui pekerjaan rumah yang diberikan

1
sendiri . Permasalahan dalam pelaksaanaa CBT oleh klien adalah sebagian besar
yaitu klien tidak mampu melakukan pengobatan atau prosesterapi karena beberapa
faktor seperti ketersediaan pengobatan, akses, biaya dan kurangnya praktisi yang
terlatih untuk melakukan CBT.Memberikan dampak pada kurangnya pelyanan
jiwa yang optimal.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Istilah keadaan anxietas berkenaan dengan cemas pervasif yang tidak


terbatas dengan suatu keadaan eksternal yang spesifik dan tidak berhubungan
kegiatan pancaindra yang menetap dan dalam jangka waktu lama yang merupakan
karakteristik dari phobia.
Karena banyak pasien keadaan anxietas merupakan anxietas pervasif
dengan tidak adanya beberapa bahaya yang nyata, keadaan cemas terkadang
dideskripsikan sebagai contoh cemas yang mengambang bebas atau cemas yang
sumbernya tidak dikenali. Tetapi, teori-teori kognitif telah menentang sudut
pandang ini, berpendapat bahwa dugaan cemas yang tidak jelas itu adalah
berdasarkan sudut pandang pengamat, bukan dari pasien. Ketika diwawancarai,
pasien keadaan cemas sering kali melaporkan pemikiran dan gambaran yang
menjelaskan bahwa mereka merasakan amarah dalam keadaan mereka dan
kegelisahan mereka menjadi tidak bisa dimengerti. Pengamatan ini telah
merupakan perkembangan terapi tingkah laku kognitif yang bertujuan mengobati
keadaan anxietas dengan membantu pasien untuk mengidentifikasi,
mengevaluasi, dan memodifikasi pemikiran bahaya yang tidak realistis dan
tingkah laku yang mungkin memelihara pemikiran tersebut. Pada bagian ini akan
dibahas mengenai bentuk utama keadaan anxietas dan kemudian akan
dideskripsika secara menyeluruh tentang Cognitive Behavioural Therapy pada
keadaan tersebut.

Tipe-tipe Anxietas
Penelitian sebelumnya menjelaskan bahwa membedakan dua tipe anxietas
yang berbeda. Pertama-tama, masalah predominannya adalah serangan panik yang
berulang yang dapat terjadi pada waktu yang tidak diharapkan. Serangan panik
terdiri atas perasaan keprihatinan yang mendalam atau ajal yang akan datang
dengan serangan tiba-tiba dan dihubungkan dengan lingkup sensasi fisik
menyedihkan yang luas. Sensasi tesebut terdiri atas sulit bernapas, keadaan
berdebar, nyeri dada, tercekik, kepusingan, gatal-gatal di tangan dan kaki, gejolak

3
panas dingin, berkeringat, pusing, bergetar, dan berkhayal. Keadaan yang tidak
diharapkan dan mendalam dari sensasi tersebut sering membawa pasien berpikir
bahwa mereka dalam bahaya beberapa bencana fisik atau mental, seperti pingsan,
serangan jantung, hilangnya kontrol, keadaan marah ketika tidak mengalami
serangan panik beberapa pasien tenang dengan sempurna. Tetapi, mayoritas
menyisakan sedikit cemas di antara serangan, seringkali karena mereka
mengantisipasi serangan lain.
Pada bentuk kedua anxietas, masalah predominan adalah cemas yang tidak
realistis dan kekhawatiran yang berlebihan tentang berbagai kondisi kehidupan
dan tidak dihubungkan dengan antisipasi serangan panik. Lingkungan gejala fisik
yang luas mungkin berhubungan dengan keadaan anxietas ini. Terdiri atas tegang
otot, kedutan dan tremor, gelisah, mudah pusing, sulit napas, palpitasi,
berkeringat, mulut kering, pusing , mual, diare, sering kencing, sulit menelan,
merasa seperti diujung tanduk, kesulitan berkonsentrasi, insomnia, dan iritabilitas.
Gagasan yang berhubungan dengan bentuk kebingungan ini sangat bervariasi
tetapi berkisar sekitar tema tidak mampu untuk menanggulangi, mengantisipasi
penilaian negatif dari orang lain, ketidak percayaan diri, dan perasaan somatis.
Kedua tipe anxietas ini merujuk ke kategori gangguan panik DSM IIIR
dan gangguan kegelisahan umum. Tetapi, ini harus diarahkan bahwa proporsi
subtansial pasien mengalami kedua tipe kegelisahan. Seperti yang kita lihat
belakangan, ada beberapa perbedaan pada prosedur pengobatan yang digunakan
untuk kedua tipe kegelisahan. Individu dengan kedua tipe kegelisahan sering
memerlukan kedua jenis pengobatan.

Pravelensi
Keadaan anxietas bersifat umum baik di psikiatri maupun praktik umum.
Lader dan Mark 8 % dari seluruh pasien psikiatri, pasien sembuh dari anxietas,
gangguan fobia (35%) atau untuk gangguan obsesif kompulsif (1-2 ). Gangguan
panic 0.5-3 persen, sementara gangguan anxietas memiliki pravelensi 3-6%. Pada
penelitian sebelumnya dikemukakan bahwa pasien dengan gangguan panik
sebagian besar merupakan pasien rawat jalan .

4
Mode on Onset
Gangguan panik biasanya berawal secara tiba-tiba dengan sebagian besar
pasien berusai pertengahan sampai akhir usia 20 tahun. Beberapa keadaan
anxietas yang umum juga mempunyai gejala yang muncul secara tiba-tiba, tetapi
sebagian besar mulai muncul pada usia belasan tahun. kejadian ini mungkin
berpengaruh terhadap masa depan penderita. Tetapi pada gangguan campuran
anxietas dan depresi akan melibatkan beberapa unsur kehilangan.

Metode presentasi
Beberapa pasien dengan anxietas tidak secara awal menganggap
permasalahan mereka berupa perasaan cemas. Ketika gejala somatis seperti
jantung berdebar dan sulit menelan merupakan hal utama yang mencolok, ini
mungkin hanya gejala-gejala yang didiskusikan di konsultasi permulaan dengan
dokter umum, atau ke klinik neurologi, kardiologi, dan respiratori. Ketika
beberapa pasien akhirnya menempuh layanan psikiatri, mereka sering ragu akan
keadaan psikologis tentang gejala-gejala mereka dan ini perlu untuk dijelaskan
sebelum pasien menerima terapi yg efektif.

Model kognitif dari Axietas


Inti dari model kognitif gangguan emosional adalah ide bahwa ini
bukanlah kejadian tetapi lebih ke harapan dan interpretasi orang-orang akan suatu
kejadian yang dapat membentuk emosi negatif seperti cemas, kemarahan, atau
kesedihan. Pada depresi, interpretasi yang penting berhubungan dengan hilangnya
suatu hubungan atau status. Pada anxietas, interpretasi yang penting berhubungan
dengan bahaya fisik atau psikososial yang dirasa. Beck berpendapat jika pada
keadaan gelisah, individu secara sistematis menafsirkan terlalu tinggi bahaya yang
ada pada situasi tersebut sehingga secara otomatis timbul keadaan cemas. Ini
merupakan suatu respon yang telah ada sejak masa lampau dan berguna untuk
menjaga kita dari bahaya lingkungan primitif (zaman dahulu kala). Terdiri atas:
1. Perubahan pada penggerakan otonomik sebagai persiapan menyerah,
berusaha dan kelemahan.
2. Penghalang tingkah laku terus menerus dan

5
3. Merekam lingkungan secara selektif untuk sumber bahaya yang
memungkinkan.
Tingkatan kognisi
Di dalam model kognitif dari gangguan emosional, dua tingkatan yang
berbeda dari pikiran yang terganggu dibedakan. Pemikiran otomatis yang negatif
merupakan pemikiran atau penggambaran yang saat ini ada di situasi spesifik
ketika seseorang cemas. Misalnya,menyangkut penilaian sosial seseorang akan
secara otomatis mengarah pada pemikiran yang negatif, mereka berpikir “Aku
bosan” sambil berbicara ke kelompok lain. Asumsi dan aturan disfungsional
merupakan kepercayaan umum yang mana seseorang memegang dunia dan diri
mereka sendiri yang dikatakan membuat mereka cenderung menginterpretasikan
sutuasi spesifik pada cara negatif dan difungsional secara berlebihan.
Mengikuti pengenalan umum model kognitif kegelisahan di atas, bagian
selanjutmya berkonsentrasi pada cara spesifik yang mana kognisi dikatakan
berkontribusi untuk perkembangan dan mengatasi serangan gelisah dan panik
yang umum.

Model kognitif Anxietas umum


Model kognitif Anxietas secara umum (Beck, Emery, and Greenberg)
dikemukakan bahwa seseorang mengalami kegelisahan pervasif karena
kepercayaannya akan diri sendiri dan dunia membuat mereka mudah
menginterpretasikan secara luas suatu situasi dan ancaman. Kepercayaan, atau
asumsi disfungsional, yang dilibatkan pada anxietas secara umum sangat variatif.
Tetapi sebagian besar membahas tentang penerimaan, persaingan, responsibilitas,
kontrol, dan gejala cemas diri mereka sendiri. Misalnya asumsi yang berhubungan
dengan penerimaan akan: ‘Aku bukan apa-apa kecuali Aku dicintai’, kritisme
mengartikan penolakan personal dan ‘Aku selalu harus menyenangkan orang
lain’. Asumsi berhubungan dengan persaingan terdiri atas ‘hanya ada pemenang
dan yang kalah di kehidupan,’ ‘jika aku berbuat kesalahan , aku akan gagal’, ‘aku
tidak bisa mengatasi’, ‘kesuksesan seseorang diambil dari aku’,’aku harus
melakukan segala hal dengan sempurna,’ ‘jika sesuatu tidak sempurna, itu tidak
bagus semuanya.’ Asumsi yang berhubungan dengan responsibilitas terdiri ata

6
‘aku responsibel terhadap orang lain’ kenyamanan ketika mereka denganku’,’aku
responsibel untuk cara anak-anak saya berkembang.’ Asumsi yang berhubungan
dengan kontrol terdiri atas ‘aku satu-satunya orang yang bisa menyelesaikan
masalahku’, ‘aku harus menkontrol diri ku’. Asumsi berhubungan dengan
kegelisahan terdiri atas ‘aku harus tenang sepanjang waktu’,’ini bahaya untuk
menunjukkan tanda kegelisahan.’
Sekali seseorang telah mengembangkan Anxietas umum, perubahan
perhatian dan perilaku akan berkontribusi lebih jauh terhadap pemeliharaan
masalah.

Anxiety states
Rangsangan pemicu (internal atau eksternal)

Ancaman yang dirasa

Interpretasi sensasi
keprihatinan
sebagai bencana besar

Sensasi tubuh

Model kognitif panik


Model kognitif panik menyatakan bahwa seseorang mengalami serangan
panik karena mereka mempunyai kesalahan dalam menginterpretasikan sensasi
yang dirasa pada tubuh dalam cara yang bahaya. Sensasi yang salah ditafsirkan
utamanya yang dapat dilibatkan dalam respon cemas normal (antara lain berdebar-
debar, kurang bernapas, pusing), tetapi juga melibatkan beberapa sensasi lainnya.
Salah penafsiran yang berbahaya melibatkan sensasi yang dirasa ini sebagai
indikatif gangguan fisik atau mental yang tiba-tiba. Misalnya, merasakan
kesulitan napas sebagai bukti penghentian napas dan kematian.Rangsangan ini
dapat bersifat eksternal (seperti situasi dimana seseorang sebelumnya telah
mengalami serangan panik) tetapi lebih sering bersifat internal (pemikiran,
penggambaran, dan sensasi tubuh). Pada rangsangan ini dirasakan sebagai bahaya,
sebuah keadaan hasil ketakutan. Keadaan ini berhubungan dengan lingkup sensasi

7
tubuh yang luas. Jika kegelisahan yang menginduksi sensasi ini diinterpretasikan
dalam cara yang berbahaya, peningkatan ketakutan yang lebih jauh akan terjadi.
Ini menghasilkan peningkatan sensasi tubuh yang hebat.

Tipe Panik lainnya


Beberapa serangan panik didahului dengan periode cemas memuncak, dan
lainnya muncul ketika sedang sedih ketika saat orang tersebut tidak mengalami
cemas cemas. Pada kedua kasus, ini mengasumsikan bahwa kejadian krusial
adalah misinterpretasi sensasi tubuh. Pada serangan didahui oleh cemas
memuncak, sensasi ini sebagian besar berupa konsekuensi dari cemas yang
mendahului yang menimbulkan kejadian yang tidak berhubungan dengan panik.
Pada kasus serangan panik yang tidak didahului dengan periode cemas yang
memuncak, sensasi tubuh yang disalahtafsirkan disebabakan baik itu oleh keadaan
emosional yang berbeda (kegembiraan, kemarahan) atau oleh beberapa kejadian
tidak berbahaya seperti pada saat duduk lalu berdiri secara tiba-tiba merasa pusing
dan berdebar-debar, olahraga (kesulitan napas, palpitations), meminum kopi
(palpitations).
Ringkasan topik dilengkapi di penilaian
Deskripsi penampilan masalah
Untuk masing-masing masalah:
1. Deskripsi mendetail dari kesempatan sebelumnya ketika masalah
terjadi/saat atau di sebagian besar tanda:
a. Situasi
b. Reaksi tubuh
c. Kognisi
d. Tingkah laku
2. Daftar permasalahan keadaan sebagian besar hampir terjadi/sebagian
besar parah
3. Penghindaran (situasi dan aktivitas, aktif dan pasif)
4. Modulator (sesuatu membuat lebih baik atau lebih buruk)
5. Sikap dan tingkah laku lainnya
6. Kepercayaan tentang kasus masalah

8
7. Eskperiment behavioral (dimana cocok)
8. Serangan dan jalan

Pengobatan (ditentukan atau tidak ditentukan)


Pengobatan sebelumnya (tipe, apakah berhasil)
Kekuatan dan aset personal
Keadaan sosial dan finansial

Penilaian
Secara normal, wawancara akan mulai dengan meminta pasien
menyediakan deskripsi jelas tentang masalah utama yang muncul. Misalnya,
merasa lelah sepanjang waktu, menjadi tegang saat di rumah dan kerja,
mempunyai kesulitan berhadapan dengan tekanan saat bekerja dan bertemu orang.
Untuk setiap masalah yang diidentifikasi, pewawancara menghasilkan deskripsi
mendetail tentang kesempatan sebelumnya ketika maslaah terjadi atau sebagian
besar tidak ditandai. Ini akan melibatkan keadaan (‘dimana kamu?, ‘ apa yang
sedang kamu lakukan’), reaksi tubuh (‘apa yang kamu perhatikan yang sedang
terjadi pada tubuhmu?’. ‘sensasi apa yang kamu rasakan?’), kognisi (‘saat ini
pikiranmu sedang bingung, apa yang kamu pikirkan?’), tingkah laku (‘apa yang
kamu lakukan?, ‘apakah kamu meninggalkan situasi?’), dan tingkah laku terhadap
orang lain (‘bagaimana reaksi X?’, ‘apa yang diucapkan/dilakukan X?’_. dengan
menghasiklkan deskriosi mendetail dari kesempatan sebelumnya, pewawanxara
harus memeriksa apakah kesempatan itu bersifat tipikal. Jika tidak, deskripsi yang
lebih jauh dari kesempatan laun sebelumnya harus didatangkan tunk menyediakan
gambar lengkap. Selanjutnya daftar situasi dimana masalah tidak hamopir terjadi
paling parah didatangkan (‘adakah keadaan dimana kamu hampir panik/merasa
lelah/mempunyai kesulitan menguasai?’).
Tingkah laku penghindaran diidentifikasi dengan memberikan pertanyaan
seperti ‘adakah keadaan yang kamu hindari karena cemas?’, ‘adakah sesuatu yang
kamu gunakan sebelum kamu mengembangkan masalah tetapi tidak berlangsung
lama?’, ‘ketika kamu memperhatikan gejala, adakah hal yang ingin kamu
lakukan?’, ‘ketika kamu memperhatikan gejala, adakah hal yang kamu lakukan

9
untuk menjaga dirimu sendiri (dari pusing, marah, hilang kontrol)?’ Modulator
diintifikasi dengan mengajukan pertanyaan sebagai berikut: ‘adakah hal yang
kamu perhatikan membuat gejala lebih kuat/lebih hampir ?’, ‘adakah yang kamu
eprhatikan menolongmu mengontrol gejala/membuat sedikit hampuir terjadi?
Sebagaimana mengidentifikasi hal yang pasien lakukan untuk mengkontrol atau
memperburuk masalah, ini juga penting untuk mengidentifikasi sikap dan tingkah
laku lainnya yang sigjifikan seperti kerabat dan teman dekat pasien (‘apa yang
dipikirkan X tentang masalahnya?’, ‘ apa yang dilakukan X ketika kamu
gelisah?’)/ Ini juga penting untukj menilai kepercayaan yang dimilikim pasien
tentang beberapa penyebab masalah karena beberapa kepercayaan dapat membuat
sulit pasien untuk menjalani terapi. Misalnya, seseorang percaya bahwa
kegelisahan sosial mereka karena pribadi, dan yang percaya bahwa kegelisahan
sosial mereka karena pribadi, dan kepribadian tidak bisa diubah, tidak mungkin
menunjukan banyak ketertarikan dalam mempelajari strategi pengelolaan
kegelisahan hingga kepercayaan ini sedikitnya dimodifikasi. Ketika gejala
somatik menonjol, pasien ragu-ragu tentang ide bahwa mempunyai penyebab
psikologis, eksperimen behavioral dapat berupa jalan meyakinkan utama untuk
menentukan apakah faktor psikologis itu penting. Pada eksperimen behaviroal,
pewawancara memanipulasi faktor yang dia peroleh apakah ini berkaitan dengan
menghasilkan gejala. Akhirnyam deskripsi jelas langkah awal dan berikutnya dari
masalah diperoleh, Deskripsi ini harus utama fokus pada faktor yang sudah
responsif untuk awal dan fluktuasi pada langkah gejala.

Pengawasan kemajuan
Di awal percakapan, sangat penting mengawasi kemajuan secara berlanjut
untuk memutuskan apakah strategi pengobatan utama bekerja atau diperlukan
suatu prosedur pengobatan baru untuk diterapkan. Tiga dari sebagian besar
prosedur pengawasan umum antara lain:
1. Kuesioner terstandarisasi. Berberapa kuesioner yang distandarisasi
dpaat digunakan untuk mengawasi kemajuan minggu demi minggu.
The Beck Anxiety Inventory dan the Beck Depression Inventory

10
berguna untuk mengukur kebingungan dan nafsu yang turun secara
respektif.
2. Diari, dapat digunakan untuk menyimpan rekaman gejala harian. Sisi
tangan kiri digunakan untuk merekam situasi dimana serangan panik
terjadi dan sensasi dialami. Sisi tangan kanan diari diguankan untuk
membantu pasien mereka pemikiran negatif mereka dan menjawab
pemikiran tersebut sekali terapi sudah mulai. Ost (1988) menyarankan
pengguanaan diari untuk kegelisahan umum. Pasien diminta untuk
mereka setiap tiga jam apakah mereka telah mengalami beberapa
kegelisahan selama awal tiga jam. Jika kegelisahan sudah dialami, 0
terekam. Ukuran yang daoat diperoleh untuk diari ini merupakan
jumlah periode kegelisahan rerata tiap minggu dan intensitas
kegelisahan rata-rata selama periode.
Ketika gejala spesifik merupakan pertimbangan utama, ini sering
berguna untuk membuat diri individu. Dua ukuran kemajuan utama
diperoleh dari ini. Pertama, frekuensi urinasi harian secara berkala
ditunda. Kedua, korelasi mingguan antara dorongan kencing dan
jumlah cairan yang dihasilkan. Sebelum pengobatan, korelasi ini lemah
(0.3-0.4) mengindikasikan bahwa kekuatan dorongan untuk kencing
tidak hanya ditentukan oleh jumlah cairan di kandung kemih tetapi
juga jangkauan faktor psikologis. Di akhir pengobatan, korelasi lebih
tinggi secara subtansial (0.7) mengindikasikan bahwa saat ini faktor
psikologis merupakan penentu kekuatan dorongan utama.

3. Tingkat kepercayaan. Satu dari tujuan utama terapi tingkah laku


kognitif adalah untuk menolong pasien menghadapi kepercayaan
irasional mereka dan penafsiran salah mereka. Agar mentukan apakah
mereka telah berhasil dalam melaksanakan ini, kepercayaan pasien
kuncinya diawasi secara berulang. Berapa banyak pemikiran dipercaya
dapat dinilai dengan menanyakan pasien untuk menilai skalanya dari 0,
saat tidak percaya semuanya, hingga 100, saya benar-benar yakin.
Tingkat kepercayaan yang diulangi kemudian dapat digunakan untuk

11
mengawasi kemajuan dalam sesi dan di antara sesi dan juga membantu
fokus perhatian pasien pada peran penting yang mana kepercayaan
spesifik bermain di pengelolaan masalah mereka. Penilaian
kepercayaan yang sering untuk bencana yang diantisipasi (antara lain
Saya akan mampu mencegah, orang-orang akan berpikir Saya bodoh
jika Saya berbicara di kelas, ketika saya bingung dan merasa pusing,
saya hampir kambuh) lebih tinggi ketika pasien berada pada situasi
menakutkan atau menglami gejala ketakutan kemudian ketikan mereka
perlahan mendiskusikan kejadian ini pada sesi terapi. Untuk sesi ini,
ini penting bahwa terapis memeriksa pengobatan itu telah menguran gi
kepercayaan di situasi menakutkan sebagaimana di klinik.

Kesesuaian Pengobatan
Terapi tingkah laku kognitif cocok untuk sebagian besar pasien dengan
keadaan anxietas. Tetapi, beberapa eksperimen behavioral yang dideskripsikan di
bagian ini memerlukan modifikasi untuk pasien dengan sakit fisik yang kambuh.
Misalnya, hiperventilasi berat secara medis kontradiksi dengan pasien yang hamil
atau pasien dengan riwayat jantung, emfisema, epilepsi, atau asma . Tetapi terapis
masih dapat mendemonstrasikan peran hiperventilasi dalam suatu kegiatan untuk
bernapas secara dalam dari diri mereka sendiri dan kemudian mendeskripsikan
dampaknya kepada pasien mereka. Ketika keadaan gelisah muncul sebagai
depresi mayor sekunder, gangguan primer harus diobati pertama.

Deskripsi Pengobatan
Terapi tingkah laku kognitif bertujuan untuk mengurangi anxietas dengan
mengajarkan pasien bagaimana mengidentifikasi, mengevaluasi, mengkontrol,
dan memodifikasi bahaya negatif mereka berdasar pada pemikiran dan
berhubungan dengan tingkah laku. Macam teknik kognitif dan behavioral
digunakan untuk meraih tujuan ini dan banyak dari teknik-teknik ini diilustrasikan
sebagai berikut. Beberapa teknik lebih relevan untuk panik daripada anxietas
umum dan sebaliknya.

12
Model terapi umum sama dengan terapi kognitif untuk depresi (lihat
bagian 6). Pasien pada umumnya terlihat mingguan antara 5 dan 20 sesi. Gaya
terapi merupakan empirisme kolaboratif (Beck, Rush, Shaw, and Emery 1979).
Meskipun terapis diyakinkan secara irasioanal pemikiran pasien mereka, mereka
tidak seharusnya mengajarkan pasien tentang validitas alternatif postif pemikiran
mereka. Daripada terapi lebih dekat dengan kerja tim saintifik. Pemikiran negatif
pasien diobati sebagai hipotesis, dan pasien dan terapis bekerja sama untuk
mengumpulkan bukti untuk menentukan apakah hipotesis tersebut berguna dan
membantu. Daripada menyediakan seluruh jawaban untuk pemikiran negatif
pasien, terapis menanyakan seri pertanyaan dan merancang seri tugas behavioral
yang bertujuan untuk menolong pasien mengevaluasi dan menyediakan jawaban
untuk pemikiran mereka sendiri.
Seri terapi sangat tertata. Mereka awali dengan menyusun agenda, dengan
daftar item yang cocok dengan sesi. Pasien dan terapis menyetujui isi agenda. Ini
selalu melibatkan penjelasan ulang tugas minggu sebelumnya dan memenuhi satu
atau dua problem spesifik yang akan menjadi fokus utama sesi saat ini. Dalam
balasan sesi digunakan untuk menjamin pemahaman mutual dan sesi selalu
berakhir dengan pola tugas rumah yang mengikuti topik yang didiskusikan selama
sesi, perawatan perlu diambil untuk meyakinkan bahwa titik penting yang sudah
dilakukan itu diingat. Penelitian pada konsultasi medis menyarankan bahwa orang
secara normal menahan hanya proporsi kecil informasi yang diberikan di
konsultasi (Ley 1979). Dua teknik yang digunakan untuk mengatasi masalah
memori ini antara lain:
1. Menulis jawaban pemikiran yang mereka identifikasi
2. Merekam sesi dengan audio tape dan memberikan tape kepada pasien
untuk didengarkan sebagai tugas.

Mendengarkan tape terapi sebagai pekerjaan rumah dapat mempercepat


kemajuan terapi. Agar mengurangi biaya pasien audio tape yang sama dapat
digunakan melalui terapi dengan masing-masing sesi direkam hingga akhir sesi.
Teknik utama dari pengobatan behavioral kognitif dideskripsikan berikut
ini, mulai dari identifikasi pemikiran negatif.

13
Gb. 3.3 Contoh diari serangan panik
Keadaan gelisah

Gb. 3.3 (Cont’d)

14
Mengidentifikasi pemikiran negatif
Beberapa pasien menemukan kemudahan untuk mengidentifikasi
pemikiran negatif mereka pada awal terapi. Tetapi, lainnya memerlukan beberapa
latihan sebelum mereka secara konfiden mengidentifiksi pusat cemas mereka
berhubungan dengan gejala Anxietas. Ada beberapa alasan mengapa beberapa
pasien anxietas dapat menemukan kesulitan untuk mengidentifikasi pemikiran
mereka. Pertama, pemikrian negatif otomatis bisa terjadi dan masuk akal ketika
mereka gagal menarik perhatian orang. Kedua, gambaran visual memainkan
bagian menonjol di anxietas.. Ketiga, karena pemikiran menyangkut bahaya dapat
menghasilkan anxietas, pasien mencoba untuk terikat di berbagai penghindaran
yang samar dan jelas. Telah mengalami gambaran jelas atau pemikiran
berhubungan dengan bencana yang diantisipasi, mereka dapat dengan cepat
mencoba menekan gambaran dengan mengalihkan diri mereka sendiri atau
menghilangkan diri mereka sendiri dari situasi yang mendatangkan pikiran.
Ini mencegah pemrosesan mendetail dari pemikiran dan juga membuat
sulit bagi pasien untuk berhati-hati terhadap keadaan eksak dari kegelisahan yang
berhubungan dengan kognisi. Misalnya, Beck et al. (1985) mendeskripsikan
pasien yang mencoba menanggulangi kegelisahan dengan bersiul-siul sendiri
segera dia mengalami gambaran provokasi kegelisahan. Siulan mengurangi
kegelisahan tetapi juga dicampuri dengan pemanggilan kembali pemikiran yang
sudah memicu kegelisahan. Seperti yang dipoinkan oleh As Clark and Beck
(1988), dampak yang menginduksi kegelisahan dari pemikiran berhubungan
dengan bahaya yang diantisipasi, berarti bahwa beberapa pasien segan untuk
memanggil kembali dan mendiskusikan detail pemikiran eksak yang terjadi
selama episode kegelisahan sebelumnya. Malahan, mereka lebih memilih
berbicara dengan hal umum dengan topik yang menyangkut mereka atau
mendeskripsikan versi cair dari pemikiran gelisah mereka. Pada beberapa kasus,
terapis harus dengan perlahan bertahan dalam pertanyaan hingga kognisi yang
cocok didatangkan. Atruan yang berguna untuk terapis dalam menerapkan kognisi
yang didatangkan adalah “bisakah saya sebingung pasien saya jika saya
mempunyai pemikiran ini dan percaya ini.” Jika jawaban pertanyaan itua dalah
“tidak”, pemikiran yang diberikan kemungkinan tidka akurat atau memerlukan

15
elaborasi yang lebih jauh. Beberapa teknik telah ditemukan untuk membantu
pasien mengidentifikasi pemikiran otomatis yang negatif. Yang paling umum
digunakan adalah diskusi detail untuk pengalaman emosional sebelumnya.
1. Mendiskusikan pengalaman emosional sebelumnya
Pasien diminta untuk memanggil kejadian atau situasi sebelumnya yang
berhubungan dengan kegelisahan dan untuk mereka yang mempunyai ingatan
yang jelas. Kegelisahan dideskripsikan pada beberapa detail dan terapis
mendatangkan pemikiran yang berhubungan dengan serangan dan pemeliharaan
reaksi emosional dengan menanyakan pertanyaan seperti: “apa yang paling kamu
bingungkan, apa hal yang buruk yang mungkin terjadi?”. Luasnya pasien
mempercayai kegelisahan yang berhubungan dengan pemikiran sering variatif
dengan tingkat kegelisahan. Ketika tenang, pasien terkadang dapat melihat
irasional pemikiran mereka dan mencoba memotong dan mengabaikan mereka.
Misalnya, pasien yang panik yang berkenaan dengan ide bahwa mungkinada hal
yang salah dengan jantung mereka dapat menjawab pertanyaan, “apa yang kamu
takutkan dari serangan panik?” dengan menjawab, “aku berpikir aku akan
mengalami serangan jantung.”
Ketika mendaftar kognisi yang berhubungan dengan serangan panik,
terapis harus mencoba untuk menolong pasien melihat akses di antara sensasi
spesifik atau kelompok sensasi dan interpretasi spesifik. Ini bisa diperoleh dengan
menulis daftar semua sensasi yang pasien alami saat serangan. Terapis kemudian
menanyakan pemikiran mana yang menyertai sensasi dan menyarankan
kemungkinan bahwa pemikiran mungkin interpretasi dari sensasi. Contoh spesifik
akses di antara sensasi dan pemikiran diberikan di tabel 3.2.
Table 3.2 Contoh hubungan spesifik di antara sensasi dan pemikiran
Sensation Thought (interpretation)
Palpitation/hearth racing I am having a heart attack; there is
something seriously wrong with my
Breathlessness heart
Faintness/dizziness I am going to stop breathing, suffocate
Unusual thoughts, difficulty thinking and die
I will faint, fall over, pass out
I am going mad

16
2. Menggunakan perumpamaan permainan peran untuk mengenang pengalaman
emosioanal
Ketika penanyaan langsung yang simpel gagal untuk mendatangkan
pemikiran otomatis, ini dapat berguna untuk menanyakan pasien untuk
mengenang kejadian emosional yang lalu baik itu memainkan kembali dalam
detail besar menggunakan perumpamaan atau, jika ini merupakan interaksi
interpersonal, melalui bermain peran.

3. Perubahan suasana hati selama sesi


Suasana hati selama sesi terapi terutama sekali dapat berupa sumber yang
berguna dari pemikiran otomatis. Terapis menitikberatkan bahwa perubahan
suasana hati telah terjadi kemudian menanyakan kepada pasien, apa yang di
pikiranmu kemudian? Ini diilustrasikan dalam transkrip untuk sesi dengan pasien
yang bungung yang dilengkapi dengan ide bahwa sakit kepalanya
mengindikasikan abnormalitas otak yang serius (pendarahan atau tumor).

4. Menentukan arti kejadian


Terkadang, usaha dengan bakat untuk menghadirkan pemikiran tidak
berhasil. Terapis harus kemudian mencoba melihat, melalui pertanyaan, arti
spesifik dari kejadian bagi pasien, antara lain.
Terapis “kamu tidak cukup yakin apa yang sedang ada di pikiranmu
ketika kamu merasa bingung [menspesifikan situasi]. Lihat kembali situasi
sekarang, apa atinya bagimu?” (Jika ini gagal, terapis perlu menyediakan isyarat
yang lebih jauh dengan memberikan pasien ide dari bagian pemikiran yang
mereka cari, misalnya pemikiran yang menyertai kegelisahan berdasarkan
persepsi bahaya; pemikiran yang menyertai kesalahan berhubungan dengan
kepercayaan bahwa kamu telah melakukan hal yang salah; pemikiran menyertai
kemarahan berhubungan dengan orang yang sedang merasakan karena
mempunyai kerusakan satu dari kebiasaan aneh

17
Memodifikasi pemikiran negatif dan tingkah laku yang berhubungan
Lingkup prosedur yang luas digunakan untuk membantu pasien
mengevaluasi, mengkontrol, dan memodifikasi pemikiran negatif mereka dan
tingkah laku yang berhubungan. Ketika memilih prosedur spesifik untuk
menggunakan pada pasien utama, terapis sangat dibantu dengan wawancara
penilaian dan, terutama, melalui hipotesis yangmana dia mengembangkan kognitif
dan behavioral utama sebagai proses mengatasi keadaan anxietas pasien.

Rasional
Sebelum terapis dan pasien dapat bekerja bersama untuk menguji dan
memodifikasi pemikiran negatif, terapis pertama kali harus menghadirkan rasional
untuk pengobatan melalui demonstatrasi hubungan antara pikiran, perasaan, dan
berkelakukan. Ini dapat dilakukan dengan menggunakan contoh abstrak seperti
yang diberikan oleh Back et al. (1979, pp.147-8). Pada contoh ini, pasien
diundang untuk menggambarkan mereka dengar tubrukan di ruangan lain ketika
mereka di rumah sendiri tengah malam. Penanyaan kemudian digunakan untuk
menunjukkan bahwa jika mereka mempunyai pemikiran seperti, “ada pencuri di
ruangan,” mereka akan merasa gelisah dan akan bertingkah laku memperkecil
bahaya (bersembunyi atau menelpon polisi). Tetapi, jika mereka telah mempunyai
pemikiran,” jendelanya terbuka dan angin menciup sesuatu” mereka tidak akan
takut dan akan bertingkah laku berbeda (perlahan menutup jendela dan kembali
tidur). Selain itu untuk contoh abstrak ini, ini dapat berguna untuk menggunakan
material yang sudah diberikan selama wawancara penilaian untuk
mendemonstrasikan hubungan antara pikiran dan perasaan. Clark and Beck (1988)
mendeskripsikan contoh pemisahan gelisah secara umum yang terutama yang
sebelumnya bingung dan setelah pesta makan. Pemikiran negatifnya berhubungan
dengan pendapat bahwa orang tidak akan menikmati diri mereka sendiri dan
kemudian menyalahkan diri. Menanyakan tentang apakah teman-temannya secara
umum nampak sebagai pemikiran mereka sedang menikmati diri mereka sendiri
selama pesta makan, apakah ada faktor lain selain tingkah laku mereka yang
mungkin menentukan kenyamanannya, dan apakah dia mempunyai bukti yang
berarti jika mereka tidak menikmati diri mereka sendiri, membantu mereka untuk

18
menyadari bahwa pesta mereka nyatanya sering berhasil, dan lebih jauh lagi,
meskipun jika mereka tidak, orang tidak akan perlu menyalahkannya akan hal ini.
Dia juga mampu melihat di kesempatan sebelumnya dia telah mampu mengakses
beberapa pemikiran yang lebih realistis sebelum pesta makan malam yang akan
dia alami kurang kegelisahan antisipasi.

Memberikan informasi tentang cemas


Awal pengobatan, ini dapat berguna untuk membuat pasein memahami
tentang keadaan cemas yang wajar. Ini dapat melibatkan deskripsi gejala anxietas,
asal dan fungsi evolusioner mereka yang memungkinkan, kurangnya hubungan
antara kegelisahan dan sakit jiwa, dan fakta perubahan otonomik yang terjadi pada
anxietas (seperti degup jantung) tidak berbahaya. Informasi ini disesuaikan
dengan keperluan utama masing-masing pasien. Ini digunakan untuk memberikan
efek reduksi masalah (menolong pasien melihat bahwa seri kesulitan yang tak
terhubung-seperti insomnia, kesulitan membuat keputusan, mudah lelah, dan
terkadang pandangan buran-merupakan seluruh aspek keadaan gelisah); untuk
menolong pasien memahami model behavioral kognitif dari kegelisahan; dan
untuk membenarkan miskonsepsi tentang keadaan gelisah.

Selingan
Beragam teknik selingan dideskripsikan pada halaman 187-8. Teknik ini
dapat digunakan sebagai strategi pengelolaan gejala imediet. Awal terapi,
pelatihan pada selingan dapat menjadi langkah yang sangat berguna untuk
mengalahkan kepercayaan pasien bahwa mereka tidak mempunyai kontrol
kegelisahan mereka. Terapi selingan dapat berguna dalam teknik pengelolaan
gejala dalam situasi dimana tidak mungkin untuk memunculkan pemikiran
otomatis. Di situasi ini, penggunaan selingan akan melibatkan pasien untuk lebih
dekat dengan orang agar mereka mengisi ruang pandangan pasien, dan
konsentrasi pada percakapan itu sendiri daripada pemikiran yang menyangkut
evaluasi penampilan dirinya sendiri.

19
Jadwal kegiatan
Pada jadwal kegiatan (lihat halaman 190 untuk contohnya), pasien
merekam aktivitas mereka jam demi jam, menilai nya (pada skal 0-100) untuk tipe
yang menonjol, seperti cemas, kelelahan, kesenangan, dan penguasaan. Jadwal
kegiatan dapat digunakan dengan cara yang berbeda. Pada seseorang yang merasa
di bawah tekanan waktu intensif mereka dapat digunakan untuk merencanakan
aktivitas seperti cara mereka mungkin mampun terikat dalam satu tugas saat itu
(mencoba melakukan beberapa tugas sering meningkatkan tekanan waktu). Tabel
3.3 menggarisbawahi prinsip umum pengelolaan waktu dan mungkin berguna
dalam perencanaan aktivitas dengan orang-orang yang merasakan diri mereka
sendiri di bawah tekanan waktu yang dipertimbangkan. Tekanan waktu dan hal
yang menyangkut gelisah lainnya dapat membawa beberapa pasien berhenti
terikat dalam aktivitas sosial yang dinikmati sebelumnya. Seringkali aktivitas ini
berkontribusi dalam perasaan buruk mereka dan merasakan kontrol di lingkungan.
Oleh karena itu, menghentikan aktivitas sering meningkatkan dan merasa mudah
diserang. Sekali masalah teridentifikasi, terapis dan pasien dapat menggunakan
jadwal kegiatan untuk memperkenalkan lagu aktivitas yang menyenangkan.
Imspeksi jadwal kegiatan juga dapat membantu untuk mengidentifikasi periode
ruminasi kehelisahan, masalah dengan perfeksionis (disarankan oleh master
terpolarisasi dan tingkat kesenangan-segalanya dengan skala 10-0), dan pemicu
kegelisahan.

Tantang pemikiran verbal otomatis


Seri pertanyaan digunakan untuk membantu pasien mengevaluasi
pemikiran yang negatif dan otomatis dan untuk menambah pemikiran yang lebih
realistis. Dalam sesi, pasien dan terapis berkerja secara kolabortif untuk
mengidentifikasi respon rasional terhadap pemikiran otonomik. Di antara sesi-
sesi, pasien mencoba untuk menanyakan apa yang dia pelajari pada sesi tersebut,
dan memunculkan pemikiran otomatis yang mereka rasa. Salah satu caranya
adalah menggunakan rekaman harian dari pemikiran disfungsional pada Gambar
3.4 (jika serangan panik merupakan masalah utama) diari panik pada Gambar 3.3.

20
Table 3.3 Principles of time management

1. Review your GOALS. Decide what you want to get out of the day at work,
the weekend, etc.
2. Make a LIST of the things you think you have to do and things you
wouldnlike to do, with estimates.
3. If tasks and activity exceed the time available, decide on PRIORITIES.
What must be done to day, what can wait, and until when? What do I
want done today? Can I delegate anything? If I can to whom? What will
happen if I don’t do X? if nothing consider omitting X
4. Select an ORDER or SEQUENCE for tasks to be done. Find the sort of
sequence that suits you best. For example, some people find the day is
more pleasurable if they start with a task they must do and then follow it
with a task they enjoy. In that way, they have something to look forward
to and the unpleasant task doesn’t play on their mind all day.
5. Try to do ONE TASK AT A TIME and try to FINISH what you start. Don’t
jump from one task to another leaving behind a stack of partially
completed activities. In general, each task takes longer this way as you
waste time getting repeatedly started on the same task and uncompleted
tasks remain on your mind, interfering with the present task.
6. Don’t rush immediately from one task to another. Instead PAUSE. Plan
brief BREAKS and times to relax; tea breaks, lunch breaks, time for
yourself.
7. RIVIEW priorities and progress midway through the day
8. Look out for PROCASTINATION. Are you putting it off because you’re
setting yourself too high a standard? Are you being unrealistic about
what you could do? Could you do it now and get it out of the way?
9. At the end of the day, REMEMBER what you have achieved and GIVE
YOURSELF CREDIT.

21
Terapi tingkah laku kognitif

Tanggal SITUASI EMOTION (S) Pemikiran otomatis


(S)
Describe : 1. Menspesifikkan
sedih, gelisah, 1. Menulis
1. Kejadian marah, dll pemikiran
aktual otomatis (s)
membawa ke 2. Derajat nilai: 1-100 yang
emosi yang memunculk
tidak an emosi
disenangi (s).
2. Aliran 2. Nilai
pemikiran, kepercayaan
melamun,
rekoleksi,
membawa ke
emosi yang
tidak
disenangi

22
21/6 2 a.m.; Masih Gelisah 70 Saya tidak bida
terbangun. Tidak mengerjakan tugas
bisa tidur karena saya oerlu
waktun tidur 8 jam
80 %
Mereka tidak
Ikut kawan-kawan Gelisah 50
menyukaiku.
menikmati kopi di Mereka pikir aku
24/6
kantin. Mereka tidak bosan.
mengakui saya dan
tetap berbicara

Diminta melakukan Ini tidak adil. Aku


pekerjaan karena dia Marah 40 seharusnya tidak
akan ke dokter gigi melakukan
25/6 sore because he is pekerjaannya. Aku
going to the dentist mempunyai cukup
for ene afternoon pekerjaan ku
sendiri yang ahrus
aku lakukan. Dia
meninggalkanku.
Dia sudah diatur
pergi keluar untuk
kerja 75%

Gelisah 60 Aku akan


membersihkan
barang kotor. 65 %

Gambar 3.4 Rekaman pemikiran disfungsional sehari hari

23
Keadaan Anxietas

RESPON RASIONAL HASIL TINDAKAN LEBIH


1. Menuliskan respon 1. Menilai ulang JAUH
rasional terhadap kepercayaan pada
pemikiran otomatis (s) pemikiran otomatis (s),
2. Menilai kepercayaan 0-100 %
respon rasional, 0- 2. Menspesifikasi dan
100% menilai emosi
subsekuen 0-100.
Ini tidak benar jika saya 1. 2 0 Merasa belum siap tidur.
melihat kebelakang hari % Daripada hanya
lain ketika saya dapat 2. 15 berbaring di kasur,
melihat bahwa ada yang membaca buku. Merasa
harus saya lakukan dan ngantuk setelah asatu
pekerjaanku sama seperti setengah jam.
biasan. Saya baru saja
merasa ngeri dan hal itu
yang dapat saya
tanggulangi dengan dasar
kesempatan 70%

Mereka yang sedang 1. 10 % Mendengarkan apa yang


melakukan percakapan 2. 30 mereka katakan dan
tidak benar-benar mencari pembukaan
berpikir tentang aku. untuk ikut serta dalam
Mereka tentuk tidak percakapan.
melihat bermusuhan 50% Mengajhukan
pertanyaan. Berhentu
Sekretarisnya berkata 1. 0 % membaca.
jika dia berkata dia bisa 2. 0
pusing ini bukan
pemeriksaan rutin dan
mungki tak ada janji Menanyakan beberapa
berjam-jam di catatan pekerjaan sehingga aku
pendek (90%) tahu apa yang harus aku
kerjakan
Dia tidak akan 1. 15 %
memnanyaiku jika dia 2. 20%
tidak berpikir aku bisa.
Ada banyak orang yang
bisa dia pilih 85%

Gambar 3.4 (cot’d)

24
Terapi tingkah laku kognitif

Beberpaa pertanyaan yang utama berguna untuk menguji dan mengetes


kenyataan pemikiran otomatis antara lain:

1. ‘apa bukti yang aku punya untuk pemikiran ini?’’adakah alternatif lain
melihat situasi ini?’’Adakah beberapa penjelasan alternatif?’.
2. ‘Bagaimana orang lain akan berpikir tentang situasi ini?’ pasien membesar-
besarkan persepsi bahaya biasanya tidak diperluas ke orang lain (Butler and
Mathews 1983). Untuk alasan ini, menanyakan bagaimana orang lain akan
melihat situasi dapat menjadi langkah membantu yang utama utnuk
menyimpan perspektif.
3. ‘Apakah pendapatmu berdasarkan yang kamu rasakan daripada yang kamu
lakukan?’ , sebuah gangguan umum pada kegelisahan umum yaitu pasien
berpendapat bahwa mereka tidak dapat mengatasi situasi karena mereka
merasa gelisah dengan situasinya. Tetapi, ketika ditanya bagaimana mereka
sesungguhnya bertingkah, mereka sering menyadari bahwa mereaka sesuai
dan mengindikasikan bahwa mereka mengatasi dengan baik.
4. Apakah kamu menentukan standar diri yang tidak realistis atau mungkin sulit
dicapai?’ beberapa pasien menata diri mereka sendiri dengan standar yang
tidak bisa dicapai dan kemudian merasa cemas karena mereka seingkali tidak
dapat menghindar dari suatu keadaan yang menjatuhkan diri mereka.
5. Apakah kamu melupakan fakta yang relevan atau terlalu fokus ke fakta yang
tidak relevan?’
6. apakah kamu memikirkan tentang semua hal atau tidak sama sekali/’ ketika
cemas, seseorang mengevaluasi diri mereka sendiri dan melangsungkan
kegiatan dengan keadaan yang ekstrim.
7. ‘apakah saya over estimate terhadap suatu keputusan yang dibuatnya
sendiri?’ pasien yang anxietas terkadang over-estimate pada kontrol atau
respinsiobiltas yang mereka punya terhadap suatu kejadian. Misalnya,
seorang ibu muda secara konstan khawatir akan apakah dia telah membuat
keputusan yang benar dalam mengirim anaknya ke sekolah umum.
Pertanyaan mengungkap bahwa dia telah membuat apa yang dia pikirkan

25
meruoakan keputusan terbaik atas dasar informasi yang tersedia, tetapi hal ini
tidak menjamin bahwa anaknya akan menikmati dan memperoleh manfaat di
sekolah.
8. Kenapa jika terjadi?’Apakah itu terlalu buruk?’. Hal ini, mendorong pasien
untuk mempertimbangkan hal buruk yang dapat terjadi sering membantu
mereka untuk menutupi baik itu bahwa kejadian menakutkan akan sedikit
berbahaya daripada antisipasi atau yang diasumsikan oleh mereka.
9. Bagaimana suatu hal akan terjadi dalam waktu X bulan/tahun ?’ ini dapat
menjadi langkah berguna dalam antisipasi kehilangan, seperti rusaknya
sebuah hubungan, dalam perspektif.
10. Apakah kamu over estimate terhadap suatu kejadian, pasien anxietas sering
overestimate terhadap kemungkinan kejadian yang menakutkan dan over
estimate mereka beragam dengan faktor yang tidak berhubungan dengan
kemungkinan objektif.
11. Apakah kamu under-estimate terhadap apa yang dapat kamu lakukan
berkaitan dengan masalah/situasi?. Pasien anxietas sering meremehkan
sumber masalah mereka,

Penyelidikan behavioral
Seperti bukti yang didiskusikan untuk pasien dengan pemikiran negatif, terapis
seharusnya juga mencoba untuk memberikan tugas behavioral yang membantu
pasien memeriksa kebenaran dari pemikiran negatif mereka. Tugas ini dapat
menjadi satu dari sebagian besar cara yang efektif untuk mengubah kepercayaan.

Penyelidikan behavioral pada Panik


Tujuan utama pengobatan panik adalah memodifikasi penafsiran bahaya pasien
sensasi tubuh yang mereka alami selama serangan panik. Meskipun diskusi bukti
alterantif, penafsiran tidak berbahaya dapat berguna, pasien terkadang hanya
percaya bahwa penafsiran alternatif diterapkan jika kebenaran dapat
didemonstrasikan melalui penyelidikan behavioral yang gejalanya dihasilkan dan
atau dikurangi.

26
Sejalan dengan tingkah laku penghindaran.
Meski tidak menunjukkan karektristik fobia, banyak pasien anxietas menghindari
sitausi dan kegiatan. Ada tiga tipe penghindaran. Pertama, mengindari keadaan
spesifik: Butler et al .(1987a) menemukan bahwa kira-kira 40 persen opasien
gelisah menghindari evaluasi sosial (berbicara di depan publik, makan di
restauran, makan dengan orang asing) dan kira-kira 20 persen menghindari
keadaan tipe agorafobik (perjalanan dengan angkutan umum, keramaian,
berbelanja). Kedua penghindaran yang membawa sensasi ytakut (olahraga), ketiga
menghindari strategi yang digunakan sekali gejala diberikan (anatara lain
memegang benda oadat saat pusing). Karena inilah, penting bagi terapis untuk
mengajak pasien mempelajari situasi atau berhubungan dengan aktivitas, yang
sebelumnya dihindari untuk melihat apakah ketakutan itu benar terjadi. Pasien
diminta melaporkan dirinya untuk menhadapi situasi dengan pola berkelas (lihat
bagian 4). Selain itu, mereka diminta memprediksi apa yang terjadi saat latihan
dan apakaha hasilnya kurang atau lebih negatif. Saat membuat prediksi, pasien
menspesifikasi tingkat ketakutan tapi juga (lebih penting) antisispasi abahya (aku
akan sakit jantung, akau akan pusing, aku akan melengkapi kebodohanku, aku
tidak bisa mengatasi’. Kegelisahan akan meningkat tak terkintrol. Bahkan pasien
memprediksi pengalaman ketakutan dengan akurat tapi prediksi mereka akan
antisipasi bahaya kurang benar.
Selain itu, untuk menyarankan pasein melaporkan dirinya pada situasi atau
aktivitas yang mereka hindari, ini penting memodifikasi tingkah laku yang
digunakan sekali gejala telah mulai dan membangun kepercayaan pasien bahwa
gejala tertentu berbahaya (Salkovskis 1988).

Mempelajari tingkah laku dan bakat baru.


Bagi beberapa pasien, alasan mengapa mereka mengalami kesulitan dalam
situasi sosial adalah tidak ada atau sulit menggunakan bakat sosial dan
percakapan. Keadaan problematis terisolasi, bermain peran dan diskusi apa yang
sesungguhnua dilakukan pasien diidentifikasi, alternatif disarankan, dimodelkan
oleh teraois dan dipraktikan oleh pasien, secara inisial dalam kenyamanan
bermain peran utnuk sesi terapi dan keadaan kehiduapn nyata (

27
seeLiberman,King, De Risi , dan McCann 1975: atau Rimm dan Masters 1979,
Chapter 4, untuk penjelasan lebih jauh).

Teknik asumsi
Sesi secara spesifik konsentrasi di beberapa teknik yang digunakan untuk
asumsi disfungsional. Beberapa cara identifikasi asumsi seseorang di bagian 6.
Dua dari teknik umum antara lain: melihat tema rekaman disfungsional umum dan
menggunakan teknik, untuk menjawab pemikiran otomatis, pasien bertujuna
mengidentifikasi kepercayaan dengan bertanya “jika pemikiran ini benar, apa
artinya untukku?”
Tabel 3.4 (dari Clarck and Beck 1988 mengilustrasikan asumsi
disfungsional pasien anxietas umum dan respon rasional terhadap asumsi. Pasien
menjelaskan keadaannya dan sedikitnya 80 persen per hari. Pada situasi dimana
mereka cemas. Kekhawatiran ini digunakan utnuk menolong dan memodifikasi
asumsi. Penjelasan historis pasien menjelaskan bahwa pasien mampu melihat
asumsi hasil riwayat awal. pandangan ini membantu mencari jarak dari
kepercayaan.diskusi manfaat dan kerugian yang memungkinkan membuat dia
mampu melihat meskipun hanya peningkatan motivasi yang berhasil.
Tabel 3.4 ilustrasi asumsi disfungsional, respon rasional asumsi, dan pesawat
perubahan 9 dari D.M and Becj, A.T (1988) . pendekatan kognitif Handbook of
anxiety disorder, (ed, C Last and M Hersen). Pp, 362-85. Pergamon, New York.
1. Asumsi
Memegang kepercayaan bahwa, saya tidak cukup kecuali jika berhasil.
Seluruh kesuksesanku dihitung bukan untuk apa-apa kecuali jika saya
berhasil lagi hari ini. Tak seorangpun akan mencintaiku hingga aku sukses.
2. Respon rasional dan rencana perubahan
Ini dapat dipahami mengapa saya memegang kepercayaan ini karena pada
waktu dulu orang tua saya tidak pernah memberikan saya penghargaan yang
jelas untuk kesuksesanku, tetapi selalu menyarankan bahwa ada rintangan
penting yang tidak terlihat lainnya untuk menyerang.
Tetapi, kepercayaan ini tidak benar karena ada hal tentang saya masa lalu
yang baik dan tidak seorangpun dapat mengambil dari saya. Juga saya orang

28
yang sama ketika di sekolah. Tidak ada anggota keluarga dan teman
memperlakukan aku dengan berbeda, mereka masih mencintai saya.
Selain itu, kepercayaan disfungsional karena ini membuat kegelisahan yang
tidak leluasa.
Saya akan bekerja keras dan berubah, dua hal yang bisa saya lakukan adalah:
a) membuat daftar aset saya b) menghabiskan sedikit waktu perhari
melakukan hal yang menyenangkan.
Teknik relaksasi
Relaksasi dapat menjadi cara efektif bagi pasien untuk
mendemonstrasikan diri mereka dengan kontrol gejala mereka. Selain itu, adanya
dampak kognitif yang lebih luas. Peveler and Jhinston (1986) menemukan bahwa
relaksasi meningkatkan aksesbilitas informasi memori yang positif dan karenanya
membuat lebih mudah untuk menemukan alternatif dari pemikiran yang
berhubungan dengan bahaya. Satu dari cara paling sederhana menjalani relaksasi
adalah melalui perencanaan keagiataan relaksasi dan perencanaan yang
mematahkan rutinitas kesibukan. Selain itu, beberapa pasien pasien mendapatkan
manfaat dari latihan formal pada teknik relaksasi. Ini relevan pada individu yang
melaporkan kesulitan merelaksasi atau yang melaporkan perasaan tegang secara
berkelanjutan. Lingkup teknik relaksasi tersedia available ( Bern Stein and
Borkovec 1973: Goldfried and Davison 1976 ost 1987). Yang mana saja teknik
dipilih, ini penting bahwa relaksasi harus ditampilkan sebagai keterampilanuntuk
dipelajari melalui praktik berulang dengan tujuan tidak hanya merelaksasi di atas
sofa di rumah, tetapi juga mampu menggunakan relaksasi selama kegiatan sehari-
hari.

Pencegahan kambuh
Merujuk ke akhir terapi, perubahan tekanan dari reduksi gejala untuk
mencegah kambuhnya penyakit. Agar menaikkan kepercayaan diri, interval antara
sesi terapi bertambah secara teratur, usaha dibuat untuk mengantisipasi beberapa
balasan dimasa mendatang, seperti hilangnya pekerjaan atau rusaknya hubungan.
Untuk memfasilitasi ini, pasien diminta menulis daftar yang telah mereka pelajari
selama terapi dan menyarankan rencana ini digunakan untuk keadaan cemas yang

29
mungkin akan datang. Karena model kognitif memprediksi bahwa satu alasan
besar tidak akan lengkap [argumen yang mengalahkan pemikiran negatif, tekanan
utama ditempatkan di pengecekan kuat pasien percaya respon rasioanalnya.
Poin/counterpoin bisa menjadi cara yang berguna untuk melakukan ini. Pada
bermain peran pasien menyatakan respon rasionalnya terhadap pemikiran negatif
utama dan terapis mengambil counterpoin dengan mencoba berpendapat
mengalahkan respon rasional. Proses ini menolong pasien untuk menunjuk
kelemahan dengan tepat pada rasional responnya. Jika kelemahan teridentifikasi,
alternatif, respon yang lebih meyakinkan dikembangkan.
Pengobatan alternatif
Benzodiazepines, beta blockher, dan antidepressan trcyclic merupakan
alternatif yang paling banyak digunakan utnuk pengobatan behavioral kignitif.
Sementara jangka pendek penggunaan benzodiazepines dapat berguna untuk
mengatasi krisis emosional, obat ini muncul menjadi nilai kecil di kegelisahan
yang lebih persisten. Catalan, Gath, Edmonds, and Ennis (1984) menginvestigasi
akibat praktisi umum tidak memberikan benzodiazepines pada pasien dengan
gangguan afketif, pada sebagian besar kasus anxietas. Lebih dari enam bulan,
pasien tidak diberikan benzodiazepine akan berdampak pada pengobatan meraka,
penggunaan jangka panjang benzodiazepine dapat menghasilkan ketergantungan,
lebih jauh lagi pasien mengalami kesulitan. Propanolol telah disarankan sebagai
obat antipanik, tetapi percobaan terkontrol tidak mendukung (Noyes et al 1984
:Grie and van de Hout 1986). Satu seri kasus (Garakani, Zitrin, and Klein 1984).
Menyarankan bahwa Impramine dapat menurunkan serangan panik pada pasien
dengan gangguan panik. Tetapi, hasilnya perlu dikonfirmasi di ujicoba terkontrol.

Hasil
Pendekatan behavioral kognitif terhadap pengobatan keadaan anxietas
merupakan suatu inovasi. Prosedur pengobatan sama halnya dengan yang
dideskripsikan di bagian ini telah digunakan di delapan seri kasus (Hollon 1980;
Waddell, Barlow, and O’Brien 1984; Clark et al. 1985; Clark 1986b; Gitlin et al.
1986; Salkovskis, Jones, and Clark 1986; Beck 1988; Clark et al. 1988), seluruh
yang diperoleh menjanjikan hasil. Dua dari seri kasus (Clark et al. 1985;

30
Salkovskis et al. 1986a) basis yang stabil ditegakkan sebelum memulai
pengobatan dan perkembangan ynag signifikan dari basis itu iobservasi dalam
jangka waktu pendek. Ini menyarankan bahwa perkembangan tidak dengan
sederhana berdasarkan remisi spontan, saran yang diterima oleh percobaan
terkontrol sebelumnya. Beck (1988) menginvestigasi keefektifan bentuk terapi
kognitif pada pasien dengan gangguan panik. Pasien yang diberikan pengobatan
ini, yang sama halnya dengan pengobatan yang digunakan oleh Clark et al.
(1985), dikembangkan lebih signifikan daripada pasien yang diberikan bentuk
psikoterapi suportif yang tidak langsung. Sebelumnya, lima uji coba terkontrol
lebih jauh telah mengidentifikasi keefektifan beragam kombinasi prosedur
kognitif dan behavioral. Barlow et al. (1984) menemukan bahwa pasien dengan
gangguan panik dan kegelisahan umum diberikan pengobatan kognitif plus
relaksasi dan umpan balik biologis EMG memgembangkan secara signifikan lebih
dari kotrol daftar penantian. Butler, Cullington, Hibbert, Klimes, and Gelder
(1987b) menemukan bahwa pasien kegelisahan umum yang diberikan Anxiety
Management Training (pemberian sekaligus pelatihan dalam pembangunan
kognitid, selingan, dan relaksasi) memgembangkan secara signifikan lebih dari
kotrol daftar penantian, dan keuntungannya adalah pemeriksaan selama enam
bulan. Durham and Turvey (1987) menemukan bahwa baik terapi behavioral
maupun terapi kognitif lebih efektif. Akhirnya, Ost (1988)found menemukan
bahwa pasien yang panik dan gelisah secara umum diberikan relaksasi (lihat
lampiran di bagian ini) berkembang secara signifikan lebih banyak daripada
pasien yang lebih diberikan bentuk relaksasi tradisional (relaksasi otot progresif).

31
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Ansietas dan panik merupakan bentuk gangguan jiwa yang paling umum
terjadi. Bahkan World Health Organization mengingatkan bahwa panic telah
menduduki peringkat ketiga beban penyakit skala global sejak tahun 2004.
Diperkirakan kasus panik akan terus meningkat menjadi beban penyakit pada
tahun 2030 mendatang.
Anxietas memiliki dua tipe yang berbeda. Pertama-tama, masalah
predominannya adalah serangan panik yang berulang yang dapat terjadi pada
waktu yang tidak diharapkan. Serangan panik terdiri atas perasaan keprihatinan
yang mendalam atau ajal yang akan datang dengan serangan tiba-tiba dan
dihubungkan dengan lingkup sensasi fisik menyedihkan yang luas. bentuk kedua
anxietas, masalah predominan adalah cemas yang tidak realistis dan kekhawatiran
yang berlebihan tentang berbagai kondisi kehidupan dan tidak dihubungkan
dengan antisipasi serangan panik.
Benzodiazepines, beta blockher, dan antidepressan trcyclic merupakan
alternatif yang paling banyak digunakan utnuk pengobatan behavioral kignitif.
Sementara jangka pendek penggunaan benzodiazepines dapat berguna untuk
mengatasi krisis emosional, obat ini muncul menjadi nilai kecil di kegelisahan
yang lebih persisten.

32
DAFTAR PUSTAKA

Beck,A.T.,Epstein,N,and.Harriosn,R.P.(1983).Cognition,Attitude, and Personality


dimention and depression.British Journal of Cognitive Psychotherapy 1,1-16

Beck,A.T.(1976).Cognitive theraphy and the emotional disorder. International


Uviversities Press,New York.

Bellack.A.S.and Hersen,M.(1988).Behavioral assessment: a practical


handbook,(3rd edn).Pergamon,New York

Bellack.A.S.and Schwartz,J.S.(1976).Assessment for self control programs.In


Behavioral assessment:a practical handbook,(e.M.Harsen and
A.S.Bellack),pp.111-42.Pergamon,Oxford.

Bemis,K.M.(1987).The present status of operant conditioning for the treatment of


anorexia nervosa.Behavioral Modification 11,432-64

Ost.L.G. (1988). Applied relaxation v.progressive relaxation in the treatment of


panic disorder.Behaviour Reasearch and therapy 26, 13-22.

33