Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PENDAHULUAN

MOBILISASI DAN PEMENUHAN ADL

A. MASALAH KESEHATAN
Pasien dengan gangguan mobilisasi dan pemenuhan ADL
B. PENGERTIAN
Mobilisasi dan imobilisasi merupakan kemampuan individu untuk bergerak secara
bebas, mudah dan teratur dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan aktivitas guna
mempertahankan kesehatannnya.
Imobilisasi adalah ketidakmampuan klien bergerak bebas yang disebabkan kondisi
tertentu atau dibatasi secara terapeutik (Potter dan Perry 2006). Imobilisasi merupakan
suatu kondisi yang relatif. Maksudnya, individu tidak saja kehilangan kemampuan
geraknya secara total, tetapi juga mengalami penurunan aktivitas dari kebiasaan
normalnya.
Jenis mobilitas ada dua yaitu sebagai berikut mobilitas penuh dan mobilitas
sebagian Mobilitas seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah
gaya hidup,proses penyakit atau cedera, kebudayaan, tingkat energi, usia dan status
perkembangan.
Dibawah ini beberapa diagnosa yang berhubungan langsung dengan gangguan
mobilisasi dan pemenuhan ADL :
1. Gangguan mobilitas Fisik adalah keterbatasan dalam gerakan fisik dari satu atau
lebih ekstremitas secara mandiri (PPNI,2016)
2. Intoleransi Aktivitas adalah ketidakcukupan energi untuk melakukan aktivitas sehari-
hari (PPNI,2016)
3. Defisit Perawatan Diri adalah tidak mampu melakukan atau menyelesaikan aktivitas
perawatan diri (PPNI,2016)
C. MANFAAT AKTIVITAS ATAU MOBILISASI
Manfaat dari gerakan tubuh antara lain, tubuh menjadi segar, memperbaiki tonus
otot, mengontrol berat badan, merangsang peredaran darah, mengurangi stres,
meningkatkan relaksasi, memperlambat proses penyakit (penyakit degeneratif), untuk
aktualisasi diri (harga diri dan citra tubuh), sedang untuk anak merangsang pertumbuhan.
Ada beberapa alasan perlunya dilakukan Immobilisasi seperti dibawah ini :
1. Pengobatan atau terapi, seperti pada klien setelah menjalani pembedahan atau
mengalami cedera pada kaki atau tangan. Tirah baring merupakan merupakan suatu
intervensi dimana klien dibatasi untuk tetap berada di tempat tidur untuk tujuan terapi
antara lain untuk memenuhi kebutuhan oksigen, mengurahi nyeri, mengembalikan
kekuatan dan cukup beristirahat,
2. Mengurangi nyeri pasca operasi, dan
3. Ketedakmampuan premir seperti paralisis,
4. Klien yang mengalami kemunduran pada rentang imobilisi parsial – mutlak.
D. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI AKTIVITAS ATAU MOBILISASI
Apabila seseorang terjadi patah tulang, menderita penyakit atau cacat, dan lain-
lain. seseorang tersebut akan mengalami masalah gangguan pergerakan (immobilisasi),
apa lagi sampai klien tersebut selalu bedrest dalam waktu lama, hal ini bisa
menyebabkan:
1. Klien mengalami atropi otot, dimana keadaan otot menjadi mengecil karena tidak
tepakai dan pada akhirnya serabut otot diinfiltrasi dan diganti jaringan fibrosa dan
lemak. Maka sebelum perawat membantu klien memenuhi kebutuhan aktivitas
seperti ganti posisi atau berjalan, perawat harus mengkaji kekuatan otot. Langkah ini
diambil untuk menurunkan risiko cedera tubuh.
2. Nekrosis (jaringan mati), terjadi trauma atau iskemia di mana proses regenerasi otot
sangat minim.
3. Kontraktur sehingga body mechanic terganggu.
4. Beberapa faktor lain yang harus di ketahui antara lain:
a. Tingkat perkembangan tubuh: Usia seseorang mempengaruhi system
muskuloskeletal dan persarafan, Untuk itu, dalam melakukan tindakan
keperawatan untuk membantu memenuhi kebutuhan aktivitas, perawat harus
memperhatikan aspek tumbuh kembang klien sesuai kebutuhan.
b. Kesehatan fisik: Seseorang dengan penyakit (gangguan musculoskeletal,
gangguan kardiovaskuler, gangguan sistem respirasi), cacat tubuh dan imobilisasi
akan dapat menggangu pergerakan tubuh.
c. Keadaan nutrisi: Seseorang dengan nutrisi kurang, hal ini menyebabkan
kelemahan dan kelelahan otot yang berdampak pada penurunan aktivitas dan
pergerakan. Sebaliknya, hal yang sama terjadi pada kondisi nutrisi lebih
(obesitas).
d. Status mental: Seseorang mengalami gangguan mental cenderung tidak antusias
dalam mengikuti aktivitas , bahkan kehilangan energi untuk memenuhi kebutuhan
personal hygiene.
e. Gaya hidup: Seseorang dalam melalukan pola aktivitas sehari-hari dengan baik
tidak akan mengalami hambatan dalam pergerakan, demikian juga sebaliknya.
E. DAMPAK IMOBILISASI
Dampak imobilisasi pada klien secara fisik adalah (1) pada fisik seperti kerusakan
integumen/integritas kulit, system kardiovaskuler, sistem eliminasi, musculoskeletal,
sistem pencernaan, dan respirasi (2) psikologis seperti depresi dan istirahat tidur, dan (3)
tumbuh kembang. Untuk mencengah dampak buruk dari immobilisasi, maka perlu
dilakukan latihan rentang gerak (range of motion -ROM) secara aktif maupun pasif dan
ambulasi (kegiatan berjalan) (Kozier dkk. 1995).
1. Sistem Integumen
a. Turgor kulit menurun: Kulit mengalami atropi akibat imobilisasi dan perpindahan
cairan antar-komportemen pada area yang mengantung, hal ini dapat
mengganggu keutuhan dan kesehatan dermis dan jaringan subkutan.
b. Kerusakan kulit: Kondisi imobilisasi mengganggu sirkulasi dan suplai nutrisi
pada area tertentu, hal ini berakibat iskemia dan nekrosis jaringan superfisial
yang dapat menimbulkan ulkus dekubitus.
2. Sistem Kardiovaskuler
a. Hipotensi ortostatik: Hipotensi ortostatik terjadi karena sistem saraf otonom tidak
dapat menjaga keseimbangan suplai darah ke tubuh saat klien bangun dari posisi
berbaring yang lama. Darah berkumpul di eksteremitas, dan tekanan darah
menurun drastis dan perfusi di otak mengalami gangguan, akibatnyan klien dapat
mengalami pusing, berkunang-kunang, bahkan pingsan.
b. Pembentukan trambus: Trombus atau massa padat darah di jantung atau
pembuluh darah biasa disebabkan oleh, gangguan aliran balik vena menuju
jantung, hiperkoagulabilitas darah, dan cedera dinding pembuluh darah . Jika
trombus lepas dari dinding pembuluh darah dan masuk ke siskulasi disebut
embolus.
c. Edema dependen: Edema dependen biasa terjadi pada area yang menggantung
seperti kaki dan tungkai bawah, edema akan menghambat aliran balik vena
menuju jantung yang akan meninbulkan lebih banyak edema.
3. Sistem Eleminasi
a. Stasis urine: Stasis urine adalah terhentinya atau terhambatnya aliran urine. Klien
berbaring lama pengosongan ginjal dan kandung urine terlambat, akibat dari
gravitasi yang memainkan peran dalam proses pengosongan urine.
b. Batu ginjal: Imobilisasi bisa terjadi ketidakseimbangan antara kalsium dan asam
sitrat yang menyebabkan kelebihan kalsium, akibatnya urine menjadi lebih basa,
dan garam kalsium mempresipitasi terbentuknya batu ginjal.
c. Retensi urine: Penurunan tonus otot kandung kemih menghambat kemampuan
mengosongkan kandung kemih secara tuntas.
d. Infeksi perkemihan: Urine yang statis dan juga sifat urine yang basa akibat
hiperkalsiuria merupakan media baik pertumbuhan bakteri. Organisme penyebab
infeksi saluran kemih adalah Escherichia coli.
4. Sistem Muskuloskeletal
a. Osteoporosis: Tanpa aktivitas yang memberi beban pada tulang akan mengalami
demineralisasi (osteoporosis), hal ini menyebabkan tulang kehilangan kekuatan
dan kepadatan sehingga tulang menjadi keropos dan mudah patah.
b. Atrofi otot: Otot yang tidak digunakan dalam waktu lama akan kehilangan
sebagian besar kekuatan dan fungsi normalnya.
c. Kontraktur dan nyeri sendi: Kondisi imobilisasi jaringan kolagen pada sendi
mengalami ankilosa dan tulang terjadi demineralisasi yang menyebabkan
akumulasi kalsium pada sendi yang berakibat kekakuan dan nyeri pada sendi.
5. Sistem Pencernaan
Konstipasi: Imobilisasi mempengaruhi pencernaan yaitu konstipasi akibat penurunan
peristaltik dan mobilitas usus. Jika konstipasi berlanjut dan feses sangat keras, maka
perlu upaya kuat untuk mengeluarkannya.
6. Respirasi
a. Penurunan gerakan pernafasan: Kondisi ini disebabkan oleh pembatasan gerak,
hilangnya kordinasi otot .
b. Penumpukan sekret: Normalnya sekret pada saluran pernafasan dikeluarkan
dengan perubahan posisi, postur tubuh dan batuk. Pada klien imobilisasi sekret
terkumpul pada jalan nafas akibat gravitasi sehingga mengganggu proses difusi
oksigen dan karbon dioksida di alveoli, serta pengeluarkan sekret dengan batuk
terhambat karena melemahnya tonus otot pernafasan
c. Atelektasis: Imobilisasi terjadi perubahan aliran darah regional dan menurunkan
produksi surfaktan, ditambah sumbatan sekret pada jalan nafas, dapat
mengakibatkan atelektasis.
F. TINGKAT IMOBILISASI
1. Imobilisasi komplet: Imobilisasi dilakukan pada individi yang mengalami gangguan
tingkat kesadaran.
2. Imobilisasi parsial: Imobilisasi dilakukan pada klien yang mengalami fraktur.
3. Imobilisasi karena pengobatan: Imobilisasi pada penderita gangguang pernafasan
atau jantung, Pada klien tirang baring (bedrest) total, klien tidak boleh bergerak dari
tempat tidur, berjalan, dan duduk dikursi. Keuntungan dari tirah baring antara lain
mengurangi kebutuhan oksigen sel-sel tubuh, menyalurkan sumber energi untuk
proses penyembuhan, dan mengurangi respons nyeri.
G. TANDA DAN GEJALA
Dibawah ini tanda dan gejala yang muncul pada pasien dengan gangguan
pemenuhan mobilisasi dan ADL :
1. Gangguan mobilitas fisik
Subjektif :
1. Mengeluh sulit menggerakkan ekstremitas
2. Nyeri saat bergerak
3. Enggan melakukan pergerakan
4. Merasa cemas saat bergerak
Objektif
1. Kekuatan otot menurun
2. Rentang gerak (ROM) menurun
3. Sendi kaku
4. Gerakan tidak terkoordinasi
5. Gerakan terbatas
6. Fisik lemah
H. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
Pengkajian pada masalah pemenuhan kebutuhan mobilitas dan imobilitas adalah
sebagai berikut: (Aziz, 2009) :
1. Riwayat Keperawatan Sekarang Pengkajian riwayat pasien saat ini meliputi alasan
pasien yang menyebabkan terjadi keluhan/gangguan dalam mobilitas dan imobilitas,
seperti adanya nyeri, kelemahan otot, kelelahan, tingkat mobilitas dan imobilitas,
daerah terganggunya mobilitas dan imobilitas dan lama terjadinya gangguan
mobilitas(Aziz, 2009).
2. Riwayat Keperawatan Penyakit yang Pernah Diderita Pengkajian riwayat penyakit
yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan mobilitas, misalnya adanya
riwayat penyakit sistem neurologis (Kecelakaan cerevrovaskular, trauma kepala,
peningkatan tekanan intracranial, miastenia, gravis, guillain barre, cedera medulla
spinalis, dan lain-lain), riwayat penyakit sistem kardiovaskular (infark miokardiak,
gagal jantung kongestif), riwayat penyakit sistem muskuluskeletal (osteoporosis,
fraktur, artitis), riwayat penyakit sistem pernafasan (penyakit paru obstruktif
menahun,pneumonia dan lain-lain),riwayat pemakaian obat, seperti sedative,
hipnotik, depresan sistem saraf pusat, laksansia dan lain-lain (Aziz, 2009).
3. Kemampuan Fungsi Motorik Pengkajian fungsi motorik antara lain pada tangan
kanan dan kiri, kaki kanan dan kiri untuk menilai ada atau tidaknya kelemahan,
kekuatan, atau spastic (Aziz,2009).
4. Kemampuan Mobilitas Pengkajian kemampuan mobilitas dilakukan dengan tujuan
untuk menilai kemampuan gerak ke posisi miring, duduk berdiri, bangun dan
berpindah tanpa bantuan. Kategori tingkat kemampuan aktivitas adalah sebagai
berikut: (Aziz, 2009)

5. Kemampuan Rentang Gerak Pengkajian mobilisasi pasien berfokus pada rentang


gerak, gaya berjalan, latihan, dan toleransi aktivitas, serta kesejajaran tubuh.
Rentang gerak merupakan jumlah maksimum gerakan yang mungkin dilakukan
sendi pada salah satu dari tiga potongan tubuh: sagittal, frontal, dan transversal
tubuh. Pengkajian rentang gerak (range of motion-ROM) dilakukan pada daerah
seperti bahu, siku, lengan,panggul dan kaki (Aziz, 2009)
6. Perubahan Intoleransi Aktivitas Pengkajian intoleransi aktivitas yang berhubungan
dengan perubahan pada sistem pernafasan, antara lain: suara napas, analisis gas
darah, gerakan dinding thorak, adanya mukus, batuk yang produktif diikuti panas,
dan nyeri saat respirasi. Pengkajian intoleransi aktivitas terhadap perubahan sistem
kardiovaskular, seperti nadi dan tekanan darah, gangguan sirkulasi perifer, adanya
thrombus, serta perubahan tanda vital setelah melakukan aktivitas atau perubahan
posisi (Aziz, 2009).
7. Kekuatan Otot dan Gangguan Koordinasi Dalam mengkaji kekuatan otot dapat
ditentukan kekuatan secara bilateral atau tidak. derajat kekuatan otot dapat
ditentukan dengan: (Aziz, 2009)

8. Perubahan Psikologis Pengkajian perubahan psikologis yang disebabkan oleh


adanya gangguan mobilitas dan immobilitas, antara lain perubahan perilaku,
peningkatan emosi, perubahan dalam mekanisme koping, dan lain-lain.
I. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Hambatan Mobilitas Fisik
J. INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Gangguan Mobilitas Fisik
a. Dukungan Ambulasi
Memfasilitasi pasien untuk meningkatkan aktivitas berpindah
Observasi :
- Identifikasi adanya nyeri atau keluhan fisik lainnya
- Identifikasi toleransi fisik melakukan ambulasi
- Monitor frekuensi jantung dan tekanan darah sebelum memulai ambulasi
- Monitor kondisi umum selama melakukan ambulasi
Terapeutik :
- Fasilitasi aktivitas ambulasi dengan alat bantu
- Fasilitasi melakukan mobilisasi fisik
- Libatkan keluarga untuk membantu pasien dalam meningkatkan ambulasi
Edukasi :
- Jelaskan tujuan dan prosedur ambulasi
- Anjurkan melakukan ambulasi dini
- Ajarkan ambulasi sederhana yang harus dilakukan
b. Dukungan mobilisasi
Memfasilitasi pasien untuk meningkatkan aktivitas pergerakan fisik
Observasi :
- Identifikasi Adanya Nyeri atau keluhan fisik lainnya
- Identifikasi toleransi fisik melakukan pergerakan
- Monitor frekuensi jantung dan tekanan darah sebelum memulai mobolisasi
- Monitor kondisi umum selama melakukan mobilisasi
Terapeutik :
- Fasilitasi aktivitas mobilisasi dengan alat bantu
- Fasilitasi melakukan pergerakan
- Libatkan keluarga untuk embantu pasien dalam meiningkatkan pergerakan
Edukasi :
- Jelaskan tujuan dan prosedur mobilisasi
- Anjurkan melakukan mobilisasi dini
- Ajarkan mobilisasi sederhana yag harus dilakukan
-
K. REFERENSI
Alimul H, A. Aziz. 2009. Kebutuhan Dasar Manusia Aplikasi Konsep dan Proses
Perawatan. Jakarta : Salemba Medika.
A Potter, & Perry, A. G. (2006). Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses,
Dan Praktik, edisi 4, Volume.2. Jakarta: EGC.
Handayani, Sriayu. 2017.Asuhan Keperawatan pada Tn. S dengan Prioritas Masalah
Gangguan Kebutuhan Dasar Mobilitas Fisik di Kelurahan Sari Rejo Medan Polonia
Diakses pada tanggal 28 Agustus 2019 Pukul 15.44 WIB
http://repositori.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/2557/142500009.pdf?sequence=1
&isAllowed=y
Kasiati dan Ni Wayan Dwi Rosmalawati. 2016. Modul Bahan Ajar Cetak Keperawatan :
Kebutuhan dasar manusia I. Diakses pada tanggal 28 Agustus 2019 Pukul 15.44 WIB
http://bppsdmk.kemkes.go.id/pusdiksdmk/wp-content/uploads/2017/08/Kebutuhan-
dasar-manusia-komprehensif.pdf
PPNI (2016). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator
Diagnostik, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.
PPNI (2016). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan
Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI
PPNI (2016). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil
Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.