Anda di halaman 1dari 14

PPs-UT

Berbagai Model Evaluasi Program


Model Evaluasi
Berbasis
Pengguna
(Consumer) Evaluasi
Model Evaluasi Berorientasi
Berbasis pada Ahli
Manajemen (Expertise-
Oriented)

Evaluasi
Pendekatan Model Berorientasi
Evaluasi
Berbasis Evaluasi pada Partisipan
(Participant-
Tujuan Program oriented)
Model Evaluasi Berbasis Tujuan

 Fokus evaluasi lebih pada tujuan yang akan dicapai, bukan


pada prosesnya.
 Model-model evaluasi berbasis tujuan diantaranya: Model
evaluasi dari Tyler, Model evaluasi dari Meftassel dan
Michael, Model evaluasi kesenjangan (discrepancy) dari
Provus, Model Kubus evaluasi, Model logis
 Kelebihan:
1.Mudah digunakan
2.Fokus evaluasi hanya pada satu aspek saja yaitu hasil
 Kekurangan:
1.Terlalu sederhana
2.Terlalu menekankan hasil, tidak melihat dan mencermati
aspek yang lain, misalnya prosesnya seperti apa, atau
aspek yang terkait dengan audiens dan pengelola program
sama sekali tidak menjadi perhatian.
Model evaluasi Tyler
 Model evaluasi Tyler awalnya dikembangkan dan digunakan pada
1930-an untuk mengevaluasi pembelajaran yang telah dilakukan
selama 8 tahun.
 Menurut Tyler, evaluasi merupakan proses untuk menentukan
sejauhmana tujuan program telah dicapai.
 Pendekatan Tyler dilaksanakan mengikuti langkah-langkah:
1.Menetapkan tujuan utama
2.Mengklasifikasikan tujuan
3.Mendefinisikan tujuan dalam pernyataan perilaku yang dapat terukur
4.Menemukan situasi ketika pencapaian tujuan telah Nampak
5.Mengumpulkan data
6.Membandingkan data dengan tujuan yang telah dinyatakan sesuai
dengan perilaku yang terukur
Model Evaluasi Metfessel & Mickkael
 Model evaluasi Metfessel dan Mickael masih dipengaruhi oleh tradisi Tyler,
yakni evaluasi sangat terkait dengan tujuan.
 Langkah-langkah evaluasi ini meliputi:
1. Melibatkan pengguna sebagai fasilitator evaluasi program
2. Merumuskan model hubungan antara tujuan umum dan tujuan khusus
3. Menerjemahkan tujuan khusus dalam bentuk yang dapat dikomunikasikan
4. Memilih dan menyusun instrumen untuk melakukan pengukuran untuk menarik
kesimpulan tentang efektifitas program
5. Melakukan observasi secara periodik menggunakan tes yang valid dan ukuran
perilaku lainnya
6. Menganalisis data menggunakan metode yang sesuai
7. Menginterpetasikan data menggunakan standar yang diharapkan
8. Mengembangkan rekomendasi untuk implementasi, modifikasi, dan revisi dari
tujuan utama dan tujuan khusus.
Model evaluasi Provus
 Model evaluasi Provus : evaluasi sebagai proses manajemen informasi untuk manajemen
program, pengembangan program, dan pembuatan keputusan.

 Provus menyetujui adanya standar yang merupakan bentuk lain dari tujuan, menentukan
apakah terjadi kesenjangan antara standar dengan pelaksanaan program, dan
menggunakan informasi adanya kesenjangan untuk memutuskan apakah program akan
dipertahankan, diperbaiki, dimodifikasi, atau dihentikan.

 Karena sangat terkait dengan informasi kesenjangan, model ini disebut dengan model
evaluasi kesenjangan (discrepancy evaluation model).

 Ada 4 tahap untuk melaksanakan model evaluasi kesenjangan dan satu tahap pilihan:

1. Mendefinisikan tujuan, proses, aktivitas program, dan menentukan sumbedaya yang dibutuhkan
untuk melaksanakan aktivitas dalam rangka mencapai tujuan (definisi)

2. Instalasi, yaitu menyusun instrumen-instrumen yang sesuai dengan standar untuk mengidentifikas
adanya kesenjangan dari pelaksanaan program

3. Proses, yaitu pengumpulan data dari program meliputi mengukur kemampuan peserta, dengan
berdasarkan program yang ingin dicapai

4. Produk, yaitu mengetahui apakah tujuan inti dari program sudah tercapai atau belum. Jika
kesenjangan ditemukan, Provus menyarankan suatu proses pemecahan masalah yang kooperatif
dan melibatkan evaluator dengan staf pelaksana program
Model Evaluasi bebas Tujuan (Goal Free-Evaluation)

 Model Evaluasi Bebas Tujuan (Goal-Free Evaluation) dari Scriven tidak didasarkan
pada tujuan yang ingin dicapai dari program kegiatan.

 Evaluasi berorientasi pada pihak eksternal, pihak konsumen, stakeholder, atau


masyarakat.

 Evaluator akan melihat efek nyata (actual effect) dari suatu program, bukan hanya
efek yang termaksud (intended effect).

 Goal free evaluation model tidak didasarkan pada goal, namun berdasarkan pada
effect.

 Menurut Scriven, dalam melaksanakan evaluasi model ini, evaluator tidak perlu
memperhatikan apa yang menjadi tujuan program, tetapi justru melihat bagaimana
program bekerja, dengan jalan mengindentifikasi hal-hal yang terjadi, baik hal-hal
positif (yang diharapkan) maupun hal-hal negatif (yang tidak diharapkan).

 Tujuan tidak terlalu perlu diperhatikan, karena dengan merinci tujuan khusus,
evaluator dapat melupakan proses dari program yang sedang dilaksanakan.

 Model ini hanya mempertimbangkan tujuan umum yang akan dicapai oleh progam,
tidak setiap komponen tujuan secara rinci.
Model Evaluasi Berbasis Manajemen: CIPP
 Evaluasi berbasis menajemen diperlukan ketika pembuat kebijakan
memerlukan informasi pendukung untuk memutuskan masa depan suatu
program.
 Stufflebeam tahun 1968 mengkritisi keterbatasan model evaluasi yang telah
ada dalam membuat keputusan dengan mengusulkan model berbasis
Context, Input, Process, dan Product (CIPP)
 Evaluasi context membantu merencanakan keputusan, menentukan
kebutuhan yang akan dicapai oleh program, dan merumuskan tujuan
program.
 Evaluasi Input membantu dalam membuat keputusan, menentukan sumber-
sumber yang ada, alternatif apa yang diambil, apa rencana dan strategi
untuk mencapai kebutuhan serta bagaimana prosedur kerja untuk
mencapainya.
 Evaluasi process untuk membantu mengimplementasikan keputusan,
dilanjutkan pertanyaan sampai sejauh mana rencana telah diterapkan? apa
yang harus direvisi? Begitu pertanyaan tersebut terjawab, prosedur dapat
dimonitor, dikontrol, dan diperbaiki.
 Evaluasi product untuk mengetahui apa hasil yang telah dicapai dan apa
yang dilakukan setelah program berjalan.
Model Evaluasi Berbasis Manajemen: UCLA
 Model Evaluasi UCLA dikembangkan Alkin, isi mirip dengan model CIPP

 Ada 5 tipe evaluasi menurut Alkin:


1. Sistem asesmen (beberapa ahli lain menyebutnya sebagai need assessment), untuk
menyediakan informasi tentang pernyataan suatu sistem (setara denga konteks
dalam CIPP)

2. Perencanaan program untuk membantu memilih bagian program yang efektif dan
kaitannya dengan kebutuhan pendidikan (setara dengan input)

3. Implementasi program, untuk menyediakan informasi tentang bagaimana suatu


program yang digunakan pada grup yang sesuai

4. Peningkatan program, untuk menyediakan informasi tentang bagaimana suatu


program berfungsi, apakah tujuan ke dalam atau hasil yang tidak diharapkan
tercapai (hampir sama dengan proses)

5. Sertifikasi program, untuk menyediakan informasi tentang nilai program dan


potensinya ketika digunakan di berbagai tempat (hampir sama dengan produk
evaluasi).
Model Evaluasi Berbasis Manajemen:
Keunggulan vs Keterbatasan

 Keunggulan: komprehensif, sensitif terhadap


keperluan informasi, menggunakan pendekatan
sistematik, dan menggunakan berbagai informasi
yang bervariasi.
 Kelemahan: Tidak efisien, mengasumsikan
keteraturan dan dapat diprediksinya suatu
penetapan keputusan, diperlukan biaya yang mahal,
sangat tergantung pada pemimpin.
Model Evaluasi Berbasis Pengguna (Consumer)

 Model ini dikenal dengan model Kirkpatrick (1996)


 The Four Levels atau Kirkpatrick’s evaluation model meliputi:
1. Aspek reaction: mengukur kepuasan peserta program.
2. Aspek learning: evaluasi mengenai pengetahuan apa yang telah
dipelajari, keterampilan apa yang dikembangkan atau ditingkatkan,
dan sikap apa yang berubah.
3. Aspek behavior dilakukan dengan membandingkan perilaku
kelompok kontrol dengan perilaku kelompok peserta training, atau
membandingkan perilaku sebelum dan setelah mengikuti training.
4. Aspek result difokuskan pada hasil akhir yang terjadi karena peserta
telah mengikuti suatu program.
 Kekurangan: Biaya cukup besar, diperlukan kreativitas atau inovasi
yang lebih, tidak terbuka terhadap debat atau uji silang karena semua
berbasis pengguna.
Model Evaluasi Berorientasi pada Ahli
(Expertise-Oriented)

 Tujuan dari evaluasi ini untuk menyediakan keputusan


profesional tentang kualitas.
 Deskriptor utama dalam melakukan evaluasi model ini yakni
keputusan didasarkan atas pengalaman individu yang
dianggap sebagai ahli, menggunakan standar yang
disepakati, dan kunjungan tim ke tempat yang dievaluasi.
 Berdasarkan hasil studi mandiri ini dapat dilakukan diskusi
panel antara beberapa ahli, ujian oleh tim/komite, dan
kemudian melakukan kritik.
 Kriteria untuk membuat keputusan didasarkan atas standar
yang dikenal atau kualifikasi dari ahli.
Model Evaluasi Berorientasi pada Partisipan
(Participant-oriented)

 Tujuan dari evaluasi ini untuk memahami dan menjelaskan


kompleksitas dari aktivitas dalam suatu program, merespons
tuntutan audiens akan informasi.
 Stake mengidentifikasi 3 tahap model evaluasi ini, yaitu
1.Antisiseden fase bertujuan untuk mengetahui kondisi
atau kejadian apa yang ada sebelum implementasi
program.
2.Fase transaksi bertujuan untuk mengetahui apakah yang
sebenanya terjadi selama pelaksanaan program.
3.Fase hasil untuk mengetahui apakah program
dilaksanakan sesuai dengan yang diharapkan
WWWWW