Anda di halaman 1dari 4

PENANGANAN SERANGAN ASMA

SOP No. Dokumen


Tanggal Terbit
No.Revisi
:
:
:0
Jumlah Hal. :2
Praktek Dokter Mandiri
Dr. Dovi Pratama

1. Pengertian  Asma adalah penyakit saluran respiratori dengan dasar inflamasi kronik
yang mengakibatkan obstruksi dan hiperreaktivitas saluran respiratori
dengan derajat bervariasi.
 Manifestasi klinis asma dapat berupa batuk, wheezing, sesak napas, dada
tertekan yang timbul secara kronik dan atau berulang, reversibel,
cenderung memberat pada, malam atau dini hari, dan biasanya timbul jika
ada pencetus.
 Serangan asma adalah episode perburukan yang progresif dari gejala
gejala seperti batuk, sesak napas, mengi, rasa dada tertekan atau berbagai
kombinasi dari gejala tersebut dengan ditandai obstruksi saluran napas.

2. Tujuan  Mengatasi penyempitan saluran respiratori secepat mungkin.


 Mengurangi hipoksemia.
 Mengembalikan fungsi paru ke keadaan normal secepatnya.
 Mengevaluasi dan memperbarui tata laksana jangka panjang. untuk
mencegah kekambuhan.
 Sebagai acuan dalam melakukan tatalaksana serangan asma pada pasien
di praktek dokter mandiri.

3. Referensi  UU Kesehatan No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan


 Permenkes RI No. 46 Tahun 2015 Tentang Akreditasi Puskesmas, Klinik
Pratama, Tempat Praktik Mandiri Dokter, dan Tempat Praktik Mandiri Dokter
Gigi.
4. Prosedur 1. Pasien anak dengan serangan asma datang atau ditemukan oleh petugas,
pastikan diagnosis serangan asma secara cepat dan tepat dengan anamnesis,
pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang.
2. Dokter menilai derajat serangan asma dan mencari riwayat asma risiko tinggi.
3. Derajat serangan asma ringan – sedang apabila:
- Pasien bicara dalam kalimat
- Lebih senang duduk daripada berbaring
- Tidak gelisah
- Frekuensi napas meningkat
- Frekuensi nadi meningkat
- Retraksi minimal
- SpO2 : 90 – 95%
- PEF > 50%
4. Derajat serangan asma berat apabila:
- Bicara dalam kata
- Duduk denga bertopang lengan
- Gelisah
- Frekuensi napas meningkat
- Frekuensi nadi meningkat
- Retraksi jelas
- SpO2 : < 90%
- PEF ≤ 50%
5. Derajat serangan asma dengan ancaman henti napas apabila:
- Mengantuk/letargi
- Suara napas tak terdengar
6. Jika didapatkan derajat serangan asma ringan – sedang, lakukan terapi awal,
yaitu:
- Berikan oksigen 1 – 2 L/menit jika SpO2 < 94%.
- Berikan agonis B2 kerja pendek via nebulizer atau via MDI dan spacer (4 –
10 semprot).
- Nebulisasi dapat diulang sampai 3 kali tiap 20 menit dalam 1 jam.
- Untuk nebulisasi yang ketiga, pertimbangkan kombinasi agonis B2 kerja
pendek dan ipratropium bromida
- Saat serangan berikan steroid sistemik (predinison/prednisolon) 1 – 2
mg/kgBB/hari. Maksimum 40 mg peroral (bila tidak memungkinkan,
berikan secara I.V selama 3 – 5 hari).
- Nilai respon terapi dalam 1 jam berikutnya (atau lebih cepat)
- Jika gejala membaik, SpO2 >94%, PEF membaik (60 – 80%), siapkan pasien
untuk dipulangkan.
- Jika memburuk, kelola sebagai derajat serangan asma berat.
- Jika didapatkan derajat serangan asma berat atau ancaman henti napas yang
dirujuk ke rumah sakit,
5. Unit terkait  Dokter

6. Rekaman Histori Perubahan


No Yang dirubah Isi perubahan Tanggal mulai diberlakukan
1.
2.