Anda di halaman 1dari 9

Analisis Kualitas Pelayanan E-Procurement pada Pengadaan Barang

dan Jasa di Kota Semarang

Oleh
Riyan Rahayu Pratiwi, Nina Widowati, Rihandoyo
Jurusan Administrasi Publik
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Diponegoro
Jalan Profesor Haji Soedarto, Sarjana Hukum Tembalang Semarang Kotak Pos 1269
Telepon (024) 7465407 Faksimile (024) 7465405
Laman: http://www.fisip.undip.ac.id email: fisip@undip.ac.id

ABSTRACT

This research aims to analize of service quality of e-procurement ini the


procurement of good and services ini Semarang city and to know the aspects that drive
and inhibit the quality of e-procurement services in Semarang city. Locus if this
research is Sekretaris Daerah Kota Semarang Bagian Pembangunan who became chief
executive of Layanan Penyediaan Secara Elektronik (LPSE) and providers of goods and
services in Semarang City. This research used qualitative research methods explorative.
Subjects in this research consisted of five key informants.

Based on the results of the research showed that the service quality of e-
procurement in Semarang City has not been optimally. Although there are several
dimensions of service quality are considered have optimal. Factors that impede service
quality of e-procurement which aspects of several dimensions have not been optimally.
Need for improvement and optimization of various dimensions of service quality of
service that is increasing.
Keyword : e-procurement, service quality, level of quality.

ABSTRAKSI

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Kualitas Pelayanan e-procurement


pada pengadaan barang dan jasa di Kota Semarang dan untuk mengetahui aspek-aspek

1
yang mendorong dan menghambat kualitas pelayanan e-procurement di Kota Semarang.
Locus penelitian ini adalah Setda Kota Semarang Bag. Pembangunan yang menjadi
ketua pelaksana Layanan Penyediaan Secara Elektronik (LPSE) dan Penyedia barang
dan jasa di Kota Semarang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian Kualitatif
yang bersifat eksploratif. Subyek dalam penelitian ini terdiri dari 5 (lima) informan
utama.

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa Kualitas pelayanan e-


procurement di Kota Semarang dapat dikategorikan belum optimal. Walau terdapat
beberapa dimensi kualitas pelayanan yang dinilai sudah optimal. Faktor yang
menghambat kualitas pelayanan e-procurement di Kota Semarang yaitu dimensi-
dimensi kualitas pelayanan yang belum optimal. Perlu adanya perbaikan dan
pengoptimalan diberbagai dimensi pelayanan agar kualitas pelayanan tersebut semakin
meningkat.
Kata Kunci : E-Procurement, kualitas pelayanan, tingkat kualitas.

PENDAHULUAN publik. Melalui INPRES No. 3 Tahun


2003, pemerintah mengeluarkan
A. LATAR BELAKANG
Kebijakan dan Strategi Nasional
Sejak pertengahan tahun 1990- Pengembangan e-Government yang
an, pemerintah di seluruh dunia telah merupakan payung bagi seluruh
mengadopsi inisiatif penggunaan kebijakan detail teknis di bidang e-
potensi Internet untuk memperbaiki dan Government.
meningkatkan pelayanan publik.
Salah satu bentuk pelayanan
Internet, seperti personal computer,
publik berbasis e-government adalah
menjadi alat penting dalam lingkungan
Elektronik Procurement (e-
administrasi publik. Di negara kita
Procurement) yang mengkhususkan
sendiri, perkembangan teknologi
perdagangan pada pengadaan
informasi dan komunikasi mengarah
barang/jasa. E-Procurement yakni
pada pengembangan penyelenggaraan
proses pengadaan barang atau jasa
pemerintahan berbasis elektronik dalam
pemerintah yang pelaksanaannya
meningkatkan kualitas pelayanan

2
dilakukan secara elektronik yang 3. Ada penyedia barang/jasa yang
berbasis situs atau internet dengan memenangkan beberapa proyek
memanfaatkan fasilitas teknologi dan sekaligus.
informasi yang diselenggarakan oleh 4. Tidak ada sosialisasi langsung
Layanan Pengadaan Secara Elektronik kepada penyedia barang/jasa.
(LPSE). Penyelenggaraan e- Berdasarkan permasalahan di
Procurement dalam peningkatan atas, dalam penelitian ini akan diteliti
kualitas pelayanan publik dikatakan tentang Analisis Kualitas Pelayanan
telah berhasil apabila sudah memenuhi E-Procurement pada Pengadaan
dimensi-dimensi keberhasilan antara Barang dan Jasa di Kota Semarang.
lain indikator kualitas pelayanan publik
serta tujuan utama dari dilaksanakannya B. TUJUAN
e-Procurement itu sendiri. Dimensi Tujuan dari pelaksanaan
kualitas pelayanan publik yang sesuai penelitian ini adalah:
untuk menilai keberhasilan pelaksanaan a. Mengetahui dan menganalisa
e-Procurement yakni tangibel, kualitas pelayanan e-procurement
assurance, transparansi, akuntabilitas, pada pengadaan barang dan jasa di
patisipatif, efektiveness, dan Kota Semarang.
responsiviness. b. Mengetahui dan menganalisa
dimensi-dimensi yang menghambat
Permasalahan dalam
kualitas pelayanan e-procurement
pelaksanaan e-procurement pada
pada pengadaan barang dan jasa di
pengadaan barang dan jasa di Kota
Kota Semarang.
Semarang:
1. Web site LPSE Kota Semarang
C. TEORI
dapat diakses oleh semua
masyarakat, namun hanya sebatas Pelayanan Publik
mendapatkan informasi dasar. Pelayanan publik merupakan
2. Lambatnya pemberian respon atau pelayanan yang diberikan oleh
jawaban terhadap pertanyaan dalam pemerintah ataupun pihak swasta
layanan Tanya Jawab. kepada masyarakat dalam bentuk jasa,
barang, dan administratif dalam rangka
melayani pemenuhan kebutuhan dan

3
kepentingan masyarakat. Pelayanan kerahasiaan dokumen, jaminana
publik yang harus diberikan oleh waktu dalam pelayanan
pemerintah dapat diklasifikasikan ke 3. Dimensi transparansi, adanya
dalam dua kategori utama, yaitu: keterbukaan dalam pelayanan
pelayanan kebutuhan dasar dan serta mudah dan dapat diakses
pelayanan umum. (Hardiyansyah, 2011: semua pihak.
20) 4. Dimensi akuntabilitas, Kesesuaian
dengan peraturan perundang-
Kualitas Pelayan Publik
undangan, mengurangi tingkat
Kualitas pelayanan publik kecurangan.
merupakan suatu bentuk kegiatan yang 5. Dimensi patisipasif, Mendorong
dilakukan oleh penyedia layanan yang peran serta masyarakat,
digunakan untuk meningkatkan memperhatikan aspirasi dan
kepuasan pelanggan yang berhubungan kebutuhan masyarakat.
dengan produk, jasa, dan proses yang 6. Dimensi efektiveness, Adanya
memenuhi atau melebihi harapan. persaingan sehat, mengurangi
Untuk mengukur kualitas pelayanan e- biaya pelaksanaan, dan efisiensi
government. Dimensi-dimensi yang waktu pelaksanaan.
dapat digunakan yakni, dimensi 7. Dimensi responsiviness, Pelaya-
tangibel, assurance, transparansi, nan yang cepat, pelayanan yang
akuntabilitas, patisipasif, efektiveness, cermat, dan pelayanan terhadap
dan responsiviness. keluhan pengguna.
1. Dimensi Tangible, dengan melihat
Penampilan Website LPSE, E-Government
kemudahan memahami fitur-fitur E-government merupakan sistem
LPSE, penggunaan alat bantu teknologi dan informasi berbasis
dalam pelayanan, dan pembaruan internet yang digunakan sebagai sarana
informasi. untuk melayani masyarakat agar lebih
2. Dimensi assurance, dengan efektif dan efisien.
melihat Jaminan biaya LPSE, Tujuan penerapan e-government:
jaminan legalitas dalam a. Pelayanan publik tak terbatas
pelayanan, jaminan keamanan dan waktu dan tempat.

4
b. Meningkatkan kualitas wawancara mendalam, observasi, dan
pelayanan publik studi kepustakaan.
c. Meningkatkan kinerja
pemerintah PEMBAHASAN
d. Meningkatkan pendapatan A. HASIL PENELITIAN
pemerintah. Kualitas Pelayanan E-Procurement

1. Berdasarkan Dimensi Tangible


Kaitan antara Pelayanan Publik
Penampilan website, tampilan
dengan E-Government
portal LPSE Kota Semarang kurang
E-government dikembangkan
menarik letak fitur-fiturnya.
untuk mendukung proses pelayanan
Kemudahan akses fitur-fitur website
publik. Dengan mengembangkan
LPSE, Ada kemudahan dalam akses
pelayanan berbasis teknologi digital
website LPSE, namun masih ada
akan meningkatkan efisiensi, efektifitas,
penyedia yang lebih mudah jika
transparansi dan akuntabilitas. E-
menggunakan lelang secara manual.
government sangat berperan dalam
2. Berdasarkan Dimensi
mewujudkan pelayanan publik yang
Assurance
berkualitas.
Dalam pelaksanaan e-
procurement, peserta lelang dijamin
D. METODE
tidak dipungut biaya, dokumen-
Dalam penelitian ini, metoda
dokumen yang mereka unduh dari
penelitian yang digunakan penulis
website LPSE juga dijamin legalitasnya.
adalah metoda penelitian kualitatif
Namun untuk dokumen penyedia yang
yang bersifat eksploratif. Penelitian
dikirim ke LPSE masih dipertanyakan
dilakukan di LPSE Bagian
keamanan dan keraha-siaan, masih ada
Pembangunan Setda Kota Semarang
ketidakpercayaan pe-nyedia. Waktu
dan penyedia barang/jasa di Kota
layananpun berbeda-beda antara
Semarang. Dalam penelitian ini
penyedia satu dengan yang lain.
mempergunakan teknik snowballing
3. Berdasarkan Dimensi
untuk memperoleh data kualitatif.
Transparansi
Teknik pengumpulan data dengan
Semua proses e-procurement
dilaksanakan secara terbuka, sehingga

5
siapapun yang terkoneksi dengan E-procurement belum dapat
internet dapat melihatnya. Penyedia sepenuhnya menciptakan persaingan
juga merasa dimudahkan dalam sehat antar penyedia barang, namun
mengikuti proses lelang. Namun bagi dapat mengurangi biaya pelaksanaan
penyedia yang belum dapat lelang pengadaan meski tidak terlalu
menggunakan aplikasi tersebut, akan besar. e-procurement juga dapat
kesulitan untuk melihat pengumuman memcepat proses pelaksanaan lelang
maupun proses lelang. pengadaan barang/jasa.
4. Berdasarkan Dimensi 7. Berdasarkan Dimensi
Akuntabilitas responsiviness
Pelaksanaan e-procurement Pelayanan e-procurement di
sudah sesuai dengan Perwal Semarang Kota Semarang masih belum sesuai
No. 27 tahun 2010. Namun untuk dengan harapan penggunannya, tidak
masalah Berkurang atau tidaknya adanya inovasi dan sosialisasi untuk
tingkat kecurangan tergantung pada penyedia yang belum mengerti prosedur
kepentingan yang mengikuti pelaksanaannya. Dalam memberikan
pelaksanaan pengadaan. Masih ditemui jawaban terhadap pertanyaan pengguna
adanya penyimpangan dalam LPSE juga cukup lama dan tidak
pelaksanaan e-procurement. menentu.
5. Berdasarkan Dimensi Aspek-aspek Penghambat Kualitas
Partisipatif Pelayanan E-Procurement
Yang dapat perpartisipasi dalam
1. Aspek Tampilan Website LPSE
pelaksanaan e-procurement hanya pihak
tampilan portal LPSE Kota
yang mengerti dengan sendirinya
Semarang kurang menarik letak fitur-
tentang aplikasi tersebut. Namun untuk
fiturnya. Masih ada penyedia
pihak yang belum mengerti, tanpa
barang/jasa yang merasa lebih mudah
adanya sosialisasi secara langsung dari
jika menggunakan lelang secara
pengelola LPSE, kesulitan untuk ikut
manual, lebih mudah melihat
berpartisipasi.
pengumuman lelang di papan
6. Berdasarkan Dimensi
pengumuman dari pada lewat website
efektiveness
LPSE.
2. Aspek Kemudahan Akses

6
Bagi penyedia barang dan jasa memikirkan sosialisasi untuk penyedia
juga merasa dimudahkan dengan adanya yang belum mengerti prosedur
layanan e-procurement ini. Meski bagi pelaksanaan e-procurement.
penyedia yang tidak dapat B. ANALISIS
menggunakan internet, layanan e- Analisis Kualitas Pelayanan E-
procurement ini akan menyulikan procurement pada Pengadaan Barang
mereka dalam akses informasi dan Jasa
pengadaan.
1. Analisis berdasarkan Dimensi
3. Aspek Keamanan dan
Tangible
Kerahasiaan Dokumen
Kualitas pelayanan e-
Pada kenyataannya masih
procurement masih belum optimal
ditemukan ketidakpercayaan penyedia
dalam pelaksanaannya.
barang/jasa terhadap keamanan dan
2. Analisis berdasarkan Dimensi
kerahasiaan dokumen yang mereka
Assurance
kirim kepada pengelola LPSE Kota
Kualitas pelayanan e-
Semarang.
procurement masih belum optimal.
4. Aspek Kepastian Waktu
3. Analisis berdasarkan Dimensi
Pelayanan
Transparansi
Pengelola LPSE dalam
Kualitas pelayanan e-
memberikan pelayanan terkadang
procurement sudah optimal.
membutuhkan waktu lama, kadang
4. Analisis berdasarkan Dimensi
cepat. Email dari penyedia barang/jasa
Akuntabilitas
dibalas dalam waktu yang tidak pasti.
Kualitas pelayanan e-
Pelayanan antara satu penyedia dengan
procurement secara akuntabilitas sudah
penyedia lain juga berbeda-beda waktu
optimal.
pelayanannya.
5. Analisis berdasarkan Dimensi
5. Aspek Pelayanan terhadap
Partisipatif
Keluhan
Kualitas pelayanan e-
Pelayanan e-procurement ini
procurement di Kota Semarang dilihat
masih belum sesuai dengan harapan
dari dimensi partisipatif dapat
pengguna. Tidak ada inovasi dari
dikatakan sudah optimal.
pengelola, pengelola juga kurang

7
6. Analisis berdasarkan Dimensi Aspek-Aspek Penghambat Kualitas
Efektivenessi Pelayanan E-Procurement
Kualitas pelayanan berdasarkan
Dalam pelaksanaan pelayanan e-
dimensi efektivenessi sudah optimal.
procurement di Kota Semarang, ada
7. Analisis berdasarkan Dimensi
beberapa aspek yang mempengaruhi
Responsiviness
kualitas pelayanan e-procurement di
Kualitas pelayanan e-
Kota Semarang. Aspek-aspek tersebut
procurement berdasarkan dimensi
dapat dilihat dari indikator dari setiap
responsiveness masih belum optimal
dimensi-dimensi kualitas pelayanan
dalam pelaksanaannya.
publik antara lain, tampilan website,
kemudahan akses, keamanan dan
PENUTUP
kerahasiaan dokumen, kepastian waktu
A. SIMPULAN
pelayanan, dan pelayanan terhadap
Kualitas Pelayanan E-Procurement
keluhan.
Berdasarkan penelitian dan hasil
B. REKOMENDASI
analisis yang telah dilakukan, peneliti
Berdasarkan kesimpulan yang
dapat menyimpulkan bahwa kualitas
telah dipaparkan, saran yang diberikan
pelayanan e-procurement pada
peneliti guna meningkatkan kualitas
pengadaan barang dan jasa di Kota
pelayanan e-procurement dalam
Semarang belum optimal dalam
pengadaan barang dan jasa di Kota
pelaksanaannya karena masih belum
Semarang adalah sebagai berikut:
memenuhi ketujuh dimensi kualitas
pelayanan. Hasil analisis peneliti 1. Melakukan inovasi terhadap
menyatakan masih ada tiga dimensi dari tampilan portal LPSE Kota
tujuh dimensi kualitas pelayanan yang Semarang.
digunakan dalam penelitian masih a. Membuat fitur-fitur website
kurang optimal. lebih menarik.
b. Membuat tampilan website
Ketiga dimensi yang belum
LPSE Kota Semarang lebih
optimal dalam pelaksanaannya yakni
mudah lagi untuk dipahami.
dimensi tangible, dimensi assurance,
2. Meningkatkan jaminan pelayanan
dan dimensi responsiviness.
terhadap peserta pengadaan.

8
a. Meningkatkan kemanan dan Good Governance di Dinas Bina Marga
kerahasiaan data dan dokumen Provinsi Jawa Tengah. Skripsi.
penawaran peserta pengadaan Universitas Diponegoro.
barang dan jasa dari peserta lain. Hardiyansyah.(2011). Kualitas
b. Mempergunakan data peserta Pelayanan Publik. Yogyakarta: Gava
sesuai dengan kebutuhan. Media.
c. Ada kepastian waktu pelayanan Indrajit, Richardus Eko. (2006).
yang sama amtara satu peserta Electronic Government. Yogyakarta:
dengan peserta lain. ANDI.
3. Meningkatkan responsifitas Ratminto dan Atik Septi
pelayanan e-procurement. Winarsih. (2005). Manajemen
a. Pengelola melakukan riset untuk Pelayanan. Yogyakarta: Pustaka
mengetahui kebutuhan Pelajar.
masyarakat akan pelayanan yang Rihandoyo.(2012). Analisis
dibutuhkan. Manfaat Nilai Publik Pengembangan
b. Melakukan sosialisasi setiap Web Site di Kota Semarang. Laporan
tahun kepada penyedia barang Penelitian. Universitas Diponegoro.
dan jasa tentang prosedur
pelaksanaan e-procurement.
c. Meningkatkan kecepatan dalam
menjawab setiap pertanyaan,
keluhan, dan aspirasi dari
pengguna layanan.
d. Meningkatkan infrastruktur
teknologi guna menunjang
pelayanan yang lebih
berkualitas.

DAFTAR PUSTAKA
Adrian, Rizky. (2013).
Implementasi Pelaksanaann Elektronic
Procurement dengan Prinsip-prinsip