Anda di halaman 1dari 13

PANCASILA SEBAGAI KUNCI DALAM ETIKA

BERBANGSA DAN BERNEGARA

PAPER

Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Pendidikan Pancasila


Yang dibina oleh Bapak Abd. Mu’id Aris Shofa, M.Sc

Oleh :
Silvi Nur Rahayu / Off C
NIM 170351616535

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN IPA
NOVEMBER 2017
I. PENGANTAR
1.1. LatarBelakang
Pancasila telah menjadi kesepakatan nasional bangsa Indonesia
sebagai dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia, namun dalam upaya
penerapannya mengalami berbagai hambatan, banyaknya penyelewengan
dari tuntutan untuk melaksanakan demokratisasi di segala bidang,
menegakkan hukum dan keadilan, menegakkan hak asasi manusia (HAM),
memberantas korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) dan yang lainnya.
Dalam perkembangannya, Masyarakat Indonesia mulai
kehilangan jati diri. Citra bangsa ini sebagai bangsa yang besar dan ramah
semakin memudar. Hal ini memang tidak hanya berlaku di Indonesia saja.
Banyak bangsa-bangsa timur yang budayanya tergeser oleh budaya-
budaya barat, sehingga sebagian masyarakat seperti lepas kendali dan
tergelincir ke dalam perilaku yang anarkis, timbul berbagai konflik sosial
yang tidak kunjung teratasi, dan bahkan di berbagai daerah timbul gerakan
yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa serta keutuhan NKRI.
Sebenarnya hal ini dapat dihindari apabila setiap anggota masyarakat,
utamanya para penyelenggara negara dan masyarakat konsekuen, dalam
mewujudkan Indonesia Masa Depan yang dicita-citakan, senantiasa
berdasarkan pada kesadaran dan komitmen yang kuat terhadap Pembukaan
UUD 1945, yang di dalamnya mengandung nilai-nilai Pancasila yang
harus dijadikan pedoman Etika.
Pancasila memegang peran dalam perwujudan sebuah
sistemetika yang baik di Negara ini. Di setiap saat dan dimana saja kita
berada, kita diwajibkan untuk beretika disetiap tingkah laku kita. Sehingga
tidak dapat dipungkiri bahwa kehadiran pancasila dalam membangun etika
bangsa ini sangat berandil besar. Oleh karena itu, penulis akan
menjelaskan kedudukan dan implementasi Pancasila sebagai sistem etika
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia dalam bentuk
tulisan dengan judul “Pancasila Sebagai Kunci dalam Etika Berbangsa dan
Bernegara”.
1.2. Permasalahan
Pada zaman sekarang sudah diketahui bahwa mulai banyak
melunturnya nilai pancasila atau mulai tergelincirnya pancasila dengan
budaya barat yang tidak sesuai dengan budaya Indonesia mengenai politik
maupun dalam kehidupan sehari-hari. Dimana mereka melakukan kegiatan
yang tidak sesuai dengan Pancasila.
Rumusan dari sila-sila pancasila itu sendiri sebenarnya hakikat
maknanya yang terdalam menunjukkan adanya sifat-sifat umum universal
dan abstrak, karena merupakan suatu nilai. Inti nilai-nilai Pancasila akan
tetap ada sepanjang masa dalam kehidupan bangsa Indonesia dan mungkin
juga pada bangsa lain baik dalam adat kebiasaan, kebudayaan, kenegaraan,
maupun dalam kehidupan keagamaan.
Pancasila yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945,
menurut ilmu hukum memenuhi syarat sebagai pokok kaidah yang
fundamental Negara sehingga merupakan suatu sumber hukum positif di
Indonesia. Oleh karena itu dalam hierarki suatu tertib hukum-hukum
Indonesia berkedudukan sebagai tertib hukum yang tertinggi. Maka secara
objektif tidak dapat diubah secara hukum sehingga melekat pada
kelangsungan hidup Negara.
Dalam tulisan ini membahas mengenai arti dari etika dan moral,
aliran-aliran dalam filsafat moral, norma etik yang bersumberkan
Pancasila dan juga mengenai etika kehidupan berbangsa dan bernegara.

II. PEMBAHASAN
Pancasila dapat menjadi etika kehidupan berbangsa dan bernegara
karena nilai pancasila merupakan sumber etika. Kata “etika” memiliki tiga
makna, arti pertama adalah sebagai “sistem nilai. Kata etika disini berarti
nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan hidup atau sebagai
pedoman hidup penilaian baik-buruknya perilaku manusia, baik secara
individual maupun sosial dalam suatu masyarakat. Arti kedua adalah seabagai
“kode etik” yaitu sebagai kumpulan norma dan nilai moral yang wajib
diperhatikan. Arti ketiga adalah ilmu yang melakukan refleksi kritis dan
sistematis tentang moralitas. (Sudarminta, 1997).
Pengertian Etika dan Moral
1. Etika
Etika adalah cabang dari filsafat, yang biasanya disebut dengan
filsafat moral. Dilihat dari etimologinya, kata “etika” berasal dari bahasa
Yunani, yakni ethos, yang artinya tempat tinggal, padang rumput,
kebiasaan adat, akhlak, watak dan perasaan serta cara berpikir. (Setijo,
2011)
Antara kata etika dan moral hampir memiliki kesamaan arti, namun
dalam pemakaian sehari-hari dua kata ini digunakan secara berbeda.
Moral atau moralitas digunakan untuk perbuatan yang sedang dinilai,
sedangkan etika digunakan untuk mengkaji sistem yang ada. Dalam
bahasa arab, etika berasal dari kata akhlak yang merupakan jamak dari
khuluk yang berarti perangai, tingkah laku, atau tabiat. (Syarbaini,2012)
2. Moral
Moral berasal dari bahasa latin, yaitu kata mos (mores) =
kesusilaan, tabiat, kelakuan. Moral adalah ajaran tentang hal yang baik
dan buruk, yang menyangkut tingkah laku dan perbuatan manusia.
Seorang pribadi yang taat kepada aturan-aturan, kaidah-kaidah dan
norma yang berlaku dalam masyarakatnya dianggap sesuai dan bertindak
benar secara moral. Jika sebaliknya yang terjadi, maka pribadi itu
dianggap tidak bermoral. Moral dalam perwujudannya dapat berupa
peraturan, prinsip-prinsip yang benar, baik terpuji, dan mulia. Moral
dapat berupa kesetiaan, kepatuhan, terhadap nilai dan norma yang
mengikat kehidupan masyarakat, negara, dan bangsa. (Syarbaini, 2012)

Aliran-aliran dalam filsafat moral


a. Etika Keutamaan
Etika keutamaan atau etika kebajikan adalah teori yang
mempelajari keutamaan (virtue), apakah perbuatan manusia itu baik atau
buruk. Menurut etika keutamaan, keutamaan adalah suatu disposisi batin
yang bersifat tepat sebagai akibat suatu latihan dan kebiasaan untuk
berbuat baik. Keutamaan-keutamaan merupakan ciri keluhuran watak
yang secara moral pantas dianjurkan pada setiap orang dan dikejar
olehnya. Etika keutamaan meletakkan tekanan dan fokus perhatiannya
pada pribadi pelaku tindakan dan kualitas watak pribadi tersebut. Bagi
penganut etika keutamaan, pertanyaan pokok dalam etika bukan “apa
yang harus atau wajib aku lakukan?” (what should i do?) melainkan
“mau menjadi manusia macam apakah aku ini?” (what should i be?).
(Sudarminta, 1997).
b. Etika Deontologi
Etika deontologi adalah teori etika yang membicarakan kewajiban
moral sebagai hal yang benar dan bukan membicarakan tujuan atau
akibat dari etika deontologi dalam memberi tekanan dan fokus
perhatiannya pada prinsip-prinsip yang mendasari tindakan. Etika
eontologi mengajarkan bahwa sebuah tindakan itu benar kalau tindakan
tersebut selaras dengan prinsip kewajiban yang relevan untuknya.
(Winarno, 2017)
Kata “deon” berasal dari bahasa Yunani yang artinya kewajiban
yang merupakan inti dar teori ini dan mengasumsikan bahwa orang-orang
bertindak secara moral bila mengikuti atuan-aturan yang benar atau baik.
(Kalidjernih, 2010)
Aturan itu sebenarnya adalah kewajiban moral yang sifatnya
imperatif kategoris. Teori deontologi menekankan pada pelaksanaan
kewajiban moral. Deontologi tidak berpusat pada konsekuensi perbuatan.
Dengan kata lain, deontologi melaksanakan terlebih dahulu tanpa
memikirkan akibatnya. Oleh karena itu, etika ini bisa disebut etika
kewajiban atau peraturan.
c. Etika Teleologi
Etika Teleologi adalah teori etika yang menyatakan bahwa hasil
dari tindakan moral menentukan nilai tindakan atau kebenaran tindakan.
Seseorang yang mugkin berniat baik atau mengikuti asas-asas moral yang
tinggi, ttapi hasil tindakan moral itu berbahaya atau jelek, maka tindkan
itu dinilai secara moral sebagai tindakan yang etis. Etika teleologi
menganggap nilai moral dari suatu tindakan berdasarkan sejauh mana
tindakan tersebut mencapai tujuannya. Etika ini juga menganggap bahwa
kebenaran dan kesalahan suatu tindakan yang dinilai berdasarkan tujuan
akhir yang diinginkan. (Mudhofir, 2009).

Norma etik bersumberkan pancasila


Etika pancasila sebagai filsafat moral atau filsafat kesusilaan yang
berdasar atas kepribadian, ideologi, jiwa dan pandangan hidup bangsa
Indonesia. Etika pancasila adalah cabang filsafat yang dijabarkan dari sila-sila
Pancasila untuk mengatur perilaku kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara. Oleh karena itu, didalam etika Pancasila terkandung nilai-nilai
Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan. Kelima nilai
tersebut membentuk perilaku masyarakat Indonesia dalam segala aspek
kehidupan.
Gagasan tentang etika Pancasila pada hakikatnya berkaitan dengan
kedudukan Pancasila sebagai filsafat negara. Pancasila sebagai dasar filsafat
negara sebagaimana termuat dalam UUD 1945 yakni sebagai sumber norma
etik. Etika Pancasila bersumber dari pemikiran mendalam terhadap nilai-nilai
dasar Pancasila.
1. Nilai Pancasila sebagai Sumber Norma Etik
Etika Pancasila mendasarkan dirinya pada keberadaan nilai-nilai
Pancasila. Nilai-nilai yang tertuang dalam Pancasila menjadi inspirasi
sekaligus pegangan hidup dalam mewujudkan harapan dan cita-cita
bangsa. (Winarno, 2017)
Namun demikian, nilai tidak bersifat operasional dan belum
konkret. Agar dapat bersifat operasional dan menjadi pedoman hidup,
nilai diwujudkan kedalam norma. Norma atau kaidah itulah yang bersifat
operasional dan menjadi pegangan atau panduan hidup dalam bersikap
dan berperilaku. Dengan demikian, nilai menjadi sumber
bagipembentukan norm. Norma hidup bernegara yang dapat diwujudkan
dari nilai Pancasila adalah norma hukum dan norma moral atau etik.
Bahwa sila-sila Pancasila pada hakikatnyabukan merupakan pedoman
yang langsung yang besifat normatif atau praksif, melainkan sebagai
suatu sistem nilai-nilai etika yang menjadi sumber norma baik. (Kaelan,
2013)
2. Etika Pancasila dalam Ketetapan MPR RI No. II/MPR/1978
Dalam kedudukan sebagai dasar filsafat negara, maka nilai-nilai
Pancasila harus dijabarkan kedalam norma yang menjadi pedoman dalam
penyelenggaraan bernegara, berbangsa dan bermasyarakat. Ada dua
norma dalam hidup bernegara, yakni norma hukum dan norma moral atau
etik. Oleh karena itu, dapat dinyatakan bahwa nilai Pancasila perlu
diderivasikan kedalam norma hukum dan norma etik bernegara. Pancasila
menjadi sumber norma hukum adalah implikasi yuridis dari Pancasila
dasar filsafat negara. Pancasila sebagai sumber norma etik adalah imlikasi
etis dari Pancasila dasar filsafat negara. (Winarno, 2017)
Dalam pengalaman sejarah bernegara di Indonesia, Ketetapan MPR
RI No. II/MPR/1978 tentang pedoman penghayatan dan pengalaman
Pancasila atau Ekaprasetya Pancakarsa dapat dipandang sebagai contoh
norma etik bernegara. Pedoman penghayatan dan pengalaman Pancasila
berisi butir-butir prngalaman dari sila-sila Pancasila yang dimaksudkan
sebagai pedoman untuk dijadikan penuntun dan pegangan terhadap sikap
dan tingkah laku bagi setiap manusia Indonesia dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dalam ketetapan tersebut
dinyatakan pula bahwa P4 bukan merupakan tafsir Pancasila dasar negara.
Tafsir Pancasila dasar negara adalah sebagaimana termuat dalam UUD
1945 yang berisikan norma hukum. Oleh karena itu, dapat dinyatakan
bahwa butir-butir P4 merupakan norma etik daripada sila-sila Pancasila.
Di sisi lain, UUD 1945 sebagai norma hukum bernegara merupakan
penjabaran pula dari nilai-nilai Pancasila.
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
1) Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan
ketaqwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
2) Manusia Indonesia percaya dan taqwa terhadap Tuhan Yang
Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-
masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
3) Membina kerukunan hidup diantara sesama umat beragama
dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
4) Mengembangkan sikap hormat-menghormati dan bekerja
sama antara pemeluk agama dengan penganut kepercayaan
yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang maha Esa.
5) Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap
Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.
2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
1) Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat
danmartabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
2) Mengembangkan sikap saling mencintai sesama mannusia.
3) Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira
4) Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
5) Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh
umat manusia.
3. Persatuan Indonesia
1) Mampu menempatkan persatua, kesatuan serta kepentingan
dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan
bersama diatas kepentingan pribadai atau golongan.
2) Mengembangkan rasa cinta tanah dan bangsa.
3) Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhineka
Tunggal Ika.
4) Memelihara ketertiban dunia berdasar kemerdekaan,
perdamaian abadi dan keadilan sosial.
5) Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.
4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan / Perwakilan
1) Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia
Indonesia mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang
sama.
2) Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.
3) Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan
untuk kepentingan bersama.
4) Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang
dicapai sebagai hasil musyawarah.
5) Keputusan yang diambil harus bisa dipertanggung jawabkan
secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung
tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan
keadilan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi
kepentingan bersama.
5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesi
1) Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan
sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.
2) Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
3) Tidak mengunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat
pemmerasan terhadap orang lain.
4) Suka bekerja keras.
5) Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan
kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.
3. Etika Pancasila dalam Ketetapan MPR RI No. V/MPR/2001
Setelah vakum beberapa tahun karena norma etik sebagaimana
tertuang dalam P4 dicabut pada tahun 1998, kehidupan berbangsa dan
bernegara tampaknya tetap membutuhkan norma etik bernegara
disamping norma hukum. Sebagaimana dikatakan bahwa sistem
kenegaraan modern menurut rasionalitas berdasarkan sistem the rule of
law dan juga the rule of ethics. Hal ini dikarenakan, masyarakat modern
makin menyadari bahwa sistem hukum sekarang tak lagi cukup menjadi
andalan dan acuan untuk membangun negara yang baik. Diperlukan juga
sistem etika untuk mengontrol perilaku ideal manusia. Hukum sudah
terlalu berat menerima beban. Terlalu banyak kekacuan-kekacauan
manusia modern yang tidak bisa hanya diatasi dan diselesaikan melalui
hukum. Di sisi lain, bahwa masyarakat mulai jenuh dengan banyaknya
aturan. Manusia modern tidak hanya membutuhkan the rule of law, tetapi
juga the rule of ethics. (Asshiddieqie, 2005)
Etika Kehidupan Berbangsa yang ditetapkan oleh MPR melalui
Ketetapan MPR RI No. V/MPR/2001 dapat dikatakan sebagai norma etik
bernegara. Dalam ketetapan tersebut dinyatakan bahwa Etika Kehidupan
Berbangsa merupakan rumusan yang bersumber dari ajaran agama,
khususnya yang bersifat universal dan nilai-nilai luhur budaya bangsa
yang tercermin dalam Pancasila sebagai acuan dasar dalam berfikir,
bersikap dan bertingkah lakudalam kehidupan bernegara.
Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa Pancasila
merupakan salah satu sumber etika kehidupan berbangsa. Sumber etika
berbangsa lainnya adalah ajaran agama. Pancasila merupakan sumber
etika kehidupan berbangsa karena didalamnya terkandung nilai-nilai luhur
budaya bangsa. Nilai Pancasila menjadi sumber norma etik bernegara
Indonesia. (Winarno, 2017)
Etika kehidupan berbangsa dan bernegara meliputi sebagai berikut:
 Etika sosial dan Budaya
Etika ini bertolak dari rasa kemanusiaan yang mendalam dengan
menampilkan kembali sikap jujur, saling peduli, saling memahami,
saling menghargai, saling mencintai, dan tolong-menolong di antara
sesama manusia dan anak bangsa.
 Etika pemerintahan dan politik
Etika ini dimaksudkan untuk mewujudkan pemerintahan yang
bersih, efesien, dan efektif serta menumbuhkan suasana politik yang
demokratis yang bercirikan keterbukaan, tanggung jawab, tanggap
akan aspirasi rakyat, menghargai perbedaan, jujur dalam persaingan,
serta menjujunjung tinggi hak asasi manusia.
 Etika ekonomi dan bisnis
Etika ini bertujuan agar prinsip dan prilaku ekonomi baik oleh
pribadi, institusi, maupun keputusan dalam bidang ekonomi dapat
melahirkan ekonomi dengan kondisi yang baik dan realitas.
 Etika penegakan hukum yang berkeadilan
Etika ini bertujuan agar penegakan hukum secara adil, perlakuan
yang sama dan tidak diskriminatif terhadap setiap warga Negara di
hadapan hukum, dan menghindarkan peggunaan hukum secara salah
sebagai alat kekuasaan.
 Etika keilmuan dan disiplin kehidupan
Etika ini diwujudkan dengan menjunjung tinggi nilai-nilai ilmu
pengetahuan dan teknologi agar mampu berpikir rasional, kritis, logis,
dan objektif.
 Etika lingkungan
Etika lingkungan menegaskan pentingnya kesadaran menghargai
dan melestarikan lingkungan hidup serta penataan tata ruang secara
berkelanjutan dan tanggung jawab. (Winarno, 2017)
Dengan berpedoman pada etika kehidupan berbangsa tersebut,
penyelenggara Negara dan warga Negara berperilaku secara baik
bersumber pada nilai-nilai pancasila dalam kehidupannya. Etika kehidupan
berbangsa tidak memiliki sanksi hukum. Namun sebagai semacam kode
etik, pedoman etik berbangsa memberikan sanksi moral bagi siapa saja
yang berprilaku menyimpang dari norma-norma etik yang baik. Etika
kehidupan berbangsa ini dapat kita pandang sebagai norma etik Negara
sebagai perwujudan dari nilai-nilai dasar Pancasila.
Etika dan moral bagi manusia dalam kehidupan berbangsa,
bernegara, dan bermasyarakat, senantiasa bersifat relasional. Hal ini berarti
bahwa etika serta moral yang terkandung dalam sila-sila Pancasila, tidak
dimaksudkan untuk manusia secara pribadi, namun secara relasioanal
senantiasa memiliki hubungan dengan yang lain baik kepada Tuhan yang
maha esa maupun kepada manusia lainnya.
III. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Dilihat dari etimologinya, kata “etika” berasal dari bahasa Yunani,
yakni ethos, yang artinya tempat tinggal, padang rumput, kebiasaan adat,
akhlak, watak dan perasaan serta cara berpikir. Moral adalah ajaran tentang
hal yang baik dan buruk, yang menyangkut tingkah laku dan perbuatan
manusia.
Aliran-aliran dalam filsafat moral mencakup: etika Keutamaan, Etika
Deontologi dan etika Teleologi. Norma etik bersumberkan pancasila
mencakup: nilai Pancasila sebagai sumber norma etik, etika Pancasila dalam
Ketetapan MPR RI No. II/MPR/1978 dan etika Pancasila dalam Ketetapan
MPR RI No. V/MPR/2001.
Peran pancasila sebagai solusi menghadapi masalah-masalah bangsa
tersirat dalam lima sila di dalamnya. Masing-masing sila memiliki makna
khusus yang sejatinya merupakan solusi pemecahan masalah bangsa ini.
Intinya bahwa nilai-nilai pancasila itu bagi bangsa Indonesia menjadi
landasan, dasar serta motivasi atas segala perbuatan baik dalam kehidupan
sehari-hari, maupun dalam kehidupan kenegaraan. Dengan kata lain bahwa
nilai-nilai pancasila merupakan cita-cita tentang kebaikan yang harus
diwujudkan menjadi suatu kenyataan seperti:

1. Beretika yang baik sesuai dengan Pancasila.


2. Mengupayakan pembudayakan nilai-nilai Pancasila. Diharapkan
terdapat penghayatan dan pengalaman nilai-nilai Pancasila di berbagai
bidang kehidupan bagi seluruh masyarakat
3. Menanamkan jiwa Pancasila dalam setiap tindakan yang akan
dilakukan.
4. Berusaha semampu mungkin dalam beretika tidak melanggar atau
menyeleweng dari Pancasila.
5. Saling menegur apabila mengetahui adanya penyelewengan terhadap
Pancasila.
IV. DAFTAR PUSTAKA
Assiddiqie, Jimly. 2005. Konstitusi dan Konstitusinasionalisme Indonesia.
Jakarta: Konstitusi Press.
Kaelan. 2013. Negara Kebangsaan Pancasila, Kultural Historis Filosofis
Yuridis dan Aktualisasinya. Yogyakarta: Paradigma.
Kalidjernih, FK. 2010. Puspa Ragam Konsep dan Isu Kewarganegaraan.
Bandung: Widya Aksara Press.
Mudhofir, Ali. 2009. Kamus Etika. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Setijo, Pandji. 2011. Pendidikan Pancasila Perspektif Sejarah Perjuangan
Bangsa. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana.
Sudarminta.1997. “Filsafat Moral: Beberapa Pengertian asar dan Teori-
Teori Etika Normalitas”. Diktat Kuliah. Jakarta: STF Driyarkata.
Syarbaini, Syahrial. 2006.Membangun Karakter dan Kepribadian Melalui
Pendidikan Kewarganegaraan. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Syarbaini, Syahrial. 2012.Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi.
Bogor: Ghalia Indonesia.
Winarno. 2017. Paradigma Baru Pendidikan Pancasila. Jakarta: Bumi
Aksara.
Ketetapan MPR RI No. II/MPR/1978 tentang Pedoman Penghayatan dan
Pengamalan Pancasila (Ekaprasetya Pancakarsa).
Ketetapan MPR RI No. V/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa