Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Atonia uteri merupakan penyebab terbanyak perdarahan postpartum dini (50%), dan
merupakan alasan paling sering untuk melakukan histerektomi postpartum.Kontraksi
uterus merupakan mekanisme utama untuk mengontrol perdarahan setelah
melahirkan.Atonia terjadi karena kegagalan mekanisme ini.Perdarahan postpartum secara
fisiologis dikontrol oleh kontraksi serabut-serabut miometrium yang mengililingi
pembuluh darah yang memvaskularisasi daerah implantasi plasenta.Atonia uteri terjadi
apabila serabut-serabut miometrium tidak berkontraksi.
Atonia uteri adalah suatu kondisi dimana miometrium tidak dapat berkontaksi dan bila ini
terjadi maka darah yang keluar dari bekas tempat melekatnya plasenta menjadi tidak
terkendali (Apri, 2007).
Perdarahan postpartum secara fisiologis dikontrol oleh kontraksi serabut-serabut
miometrium yang mengelilingi pembuluh darah yangmemvaskularisasi daerah implantasi
plasenta.Atonia uteri terjadi apabila serabut-serabut miometrium tersebut tidak
berkontraksi.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana konsep penyakit pada Atonia Uteri?
2. Bagaimana Asuhan Keperawatan pada Atonia Uteri?

2.1 Tujuan Penulisan


1.3.1. Tujuan umum

Adapun tujuan yang ingin disampaikan penulis dalam makalah Pielonefritis


Akut ini adalah :

Memberikan gambaran mengenai konsep penyakit pada Pielonefritis Akut


secara teori.

1.3.2. Tujuan khusus.

1. Untuk mengidentifikasi definisi Atonia Uteri


2. Untuk mengetahui dan mengetahui etiologi Atonia Uteri
3. Untuk mengetahui manifestasi klinis Atonia Uteri

1
4. Untuk mengetahui patofisiologi Atonia Uteri
5. Untuk mengetahui pencegahan Atonia Uteri
6. Untuk mengetahui penatalaksanaan Atonia Uteri
7. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada Atonia Uteri.

2.2 Manfaat Penulisan


2.2.1 Bagi Mahasiswa
Dengan adanya makalah ini, diharapkan mahasiswa mampu memahami dan
menerapkan konsep asuhan keperawatan pada atonia uteri.
2.2.2 Bagi Institusi
Dapat dijadikan sebagai referensi perpustakaan
2.3 Ruang Lingkup
Dalam pembuatan makalah ini penulis membatasi pembahasan asuhan keperawatan
pada atonia uteri.

2.4 Metode Penulisan


Metode yang kami gunakan dalam pembuatan makalah ini adalah metode studi
kepustakaan dengan mempelajari buku-buku atau literatur yang berkaitan dengan konsep
atonia uteri.

2.5 Sistematika Penulisan

BAB I : Latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat


penulisan, ruang lingkup, metode penulisan,dan sistematika penulisan.

BAB II : Tinjauan teoritis pada asuhan keperawatan atonia uteri.


BAB III : Asuhan keperawatan pada atonia uteri.
BAB IV : Kesimpulan dan saran

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2
2.1 Definisi

Atonia uteri (relaksasi otot uterus) adalah uteri tidak berkontraksi dalam 15 detik
setelah dilakukan rangsangan taktil (pemijatan) fundus uteri (Azwar, 2004).
Atonia uteri adalah kegagalan serabut-serabut otot miometrium uterus untuk berkontraksi
dan memendek.
Atonia uteri adalah suatu kondisi dimana miometrium tidak dapat berkontraksi dan
bila terjadi maka darah yang keluar dari bekas tempat melekatnya plasenta menjadi tidak
terkendali (Apri, 2007).

2.2 Etiologi
a. Uterus membesar lebih dari normal selama kehamilan
b. Kala I atau kala II memanjang
c. Persalinan cepat (partus presipitatus)
d. Persalinan yang diinduksi atau dipercepat dengan oksitosin
e. Infeksi intrapartum
f. Multiparitas tinggi
g. Magnesium sulfat yang digunakan untuk mengendalikan kejng pada preeklamsia atau
eklamsia
h. Umur yang terlalu tua untuk terlalu muda (<20 tahun dan >35 tahun)
Atonia uteri juga dapat timbul karena salah penanganan kala III persalinan, dengan
memijat uterus dan mendorongnya ke bawah dalam usaha melahirkan plasenta,
sedang sebenarnya belum terlepas dari uterus.

2.3 Manifestasi Klinis

a. Perdarahan pervagina
Perdarahan yang sangat banyak dan darah tidak merembes. Peristiwa sering terjadi
pada kondisi ini adalah darah keluar disertai gumpalan disebabkan tromboplastin
sudah tidak mampu lagi sebagai anti pembeku darah.
b. Konsistensi rahim lunak
Gejala ini merupakan gejala terpenting/ khas atonia dan yang membedakan atonia
dengan penyebab perdarahan yang lainnya.

3
c. Fundus uteri naik
d. Terdapat tanda-tanda syok :
1) Nadi cepat dan lemah (110 kali/ menit atau lebih)
2) Tekanan darah sangat rendah : tekanan sistolik < 90 mmHg
3) Pucat
4) Keringat/ kulit terasa dingin dan lembap
5) Pernafasan cepat frekuensi30 kali/ menit atau lebih
6) Gelisah, binggung atau kehilangan kesadaran
7) Urine yang sedikit ( < 30 cc/ jam)

2.4 Patofisiologi

Perdarahan obstetri sering disebabkan oleh kegagalan uterus untuk berkontraksi


secara memadai setelah pelahiran. Pada banyak kasus, perdarahan postpartum dapat
diperkirakan jauh sebelum pelahiran. Contoh-contoh ketika trauma dapat menyebabkan
perdarahan postpartum anatara lain pelahiran janin besar, pelahiran dengan forseps
tengah, rotasi forseps, setiap manipulasi intrauterus, dan mungkin persalinan pervaginam
setelah seksio sesarea (VBAC) atau insisi uterus lainnya. Atonia uteri yang
menyebabkan perdarahan dapat diperkirakan apabila digunakan zat-zat anestetik
berhalogen dalam konsentrasi tinggi yang menyebabkan relaksasi uterus (Gilstrap dkk,
1987).

Uterus yang mengalami overdistensi besar kemungkinan besar mengalami hipotonia


setelah persalinan. Dengan demikian, wanita dengan janin besar, janin multipel, atau
hidramnion rentan terhadap perdarahan akibat atonia uteri. Kehilangan darah pada
persalinan kembar, sebagai contoh, rata-rata hampir 1000 ml dan mungkin jauh lebih
banyak (pritchard, 1965). Wanita yang persalinannya ditandai dengan his yang terlalu
kuat atau tidak efektif juga dengan kemuungkinan mengalami perdarahan berlebihan
akibat atonia uteri setelah melahirkan.

Demikian juga, persalinan yang dipicu atau dipacu dengan oksitosin lebih rentan
mengalami atonia uteri dan perdarahan postpartum. Wanita dengan paritas tinggi
mungkin berisiko besar mengalami atonia uteri. Fucs dkk. (1985) melaporkan hasil akhir
pada hampir 5800 wanita para 7 atau lebih. Mereka melaporkan bahwa insiden
perdarahan postpartum sebesar 2,7 persen pada para wanita ini meningkat empat kali
lipat dibandingkan dengan populasi obstetri umum. Babinszki dkk. (1999) melaporkan

4
insiden perdarahan postpartum sebesar 0,3 persen pada wanita dengan paritas rendah,
tetapi 1,9 persen pada mereka dengan para 4 atau lebih.

Risiko lain adalah wanita yang bersangkutan perbah mengalami perdarahan


postpartum. Akhirnya, kesalahan penatalaksanaan persalinan kala tiga berupa upaya
untuk mempercepat pelahiran plasenta selain dari pada mengeluarkannya secara manual.
Pemijatan dan penekanan secara terus menerus terhadap uterus yang sudah berkontraksi
dapat mengganggu mekanisme fisiologis pelepasan plasenta sehingga pemisahan
plasenta tidak sempurna dan pengeluaran darah meningkat.

2.5 Pencegahan Atonia Uteri

Pemberian oksitosin rutin pada kala III dapat mengurangi risiko perdarahan
pospartum lebih dari 40%, dan juga dapat mengurangi kebutuhan obat tersebut sebagai
terapi. Menejemen aktif kala III dapat mengurangi jumlah perdarahan dalam persalinan,
anemia, dan kebutuhan transfusi darah.

Kegunaan utama oksitosin sebagai pencegahan atonia uteri yaitu onsetnya yang
cepat, dan tidak menyebabkan kenaikan tekanan darah atau kontraksi tetani seperti
ergometrin. Pemberian oksitosin paling bermanfaat untuk mencegah atonia uteri. Pada
manajemen kala III harus dilakukan pemberian oksitosin setelah bayi lahir. Aktif
protokol yaitu pemberian 10 unit IM, 5 unit IV bolus atau 10-20 unit per liter IV drip
100-150 cc/jam.

Analog sintetik oksitosin, yaitu karbetosin, saat ini sedang diteliti sebagai
uterotonika untuk mencegah dan mengatasi perdarahan pospartum dini. Karbetosin
merupakan obat long-acting dan onset kerjanya cepat, mempunyai waktu paruh 40 menit
dibandingkan oksitosin 4-10 menit. Penelitian di Canada membandingkan antara
pemberian karbetosin bolus IV dengan oksitosin drip pada pasien yang dilakukan operasi
sesar. Karbetosin ternyata lebih efektif dibanding oksitosin.

1. Oksitosin

Jika uterus tidak keras, diindikasikan pemijatan fundus kuat-kuat. Dua puluh unit
(2 ampul) oksitosin dalam 1000 ml ringer laktat atau salin normal umumnya
efektif jika diberikan secara intravena dengankecepatan sekitar 10 ml/mnt (200

5
Mu oksitosin per menit) dibarengi dengan pemijatan uterus. Oksitosin jangan
diberikan sebagai dosisi bolus yang tidak diencerkan karena

2. Turunan Ergot

Jika oksitosin yang disalurkan secara cepat melalui infus terbukti tidak
efektif, sebagian dokter memberikan metilergonovin (Mathergine), 0,2 mg, secara
intramuskulus atau intravena. Obat ini dapat merangsang uterus untuk
berkontraksi menghentikan perdarahan. Jika diberikan secara intravena,
metilergonovin dapat menyebabkan hipertensi yang berbahaya, teutama pada
wanita preeklamsia.

3. Prostaglandin

Turunan 15 methyl dari prostaglandin F2α (Hemabate) juga dapat digunakan


untuk mengatasi atonia uterus. Dosis awal yang dianjurkan adalah 250 µg (0,25
mg) secara intramuskulus, dan hal ini diulangi jika diperlukan dengan interval 15
hingga 90 menit hingga maksimum 8 dosis. Selain kontriksi vaskuler dan saluran
napas paru, efek samping lain adalah diare, hipertensi, muntah, demam, flushing
dan takikardi.

4. Perdarahan yang tidak responsif terhadap oksitosik

Perdarahan yang berlanjut setelah beberapa kali pemberian obat oksitosik


mungkin berasal dari laserasi jalan lahir, termasuk dari pada beberapa kasus
ruptur uterus. Karena itu, jika perdarahan menetap, jangan membuang-buang
waktu dengnan melakukan upaya-upaya acak untk menghentikan perdarahan,
tetapi harus segera dimulai suatau penatalaksanaan seperti di Tabel 56-2. Dengan
transfusi dan kompresi uterus dengan tangan serta oksitosin intravena, jarang
diperlukan tindakan tambahan. Bila atonia tidak teratasi, mungkin diperlukan
histerektomi sebagai tindakan untuk menyelamatkan nyawa. Cara lain yang
mungkin berhasil adalah ligasi arteri uterina, ligasi arteri illiaka interna, atau
embolisasi angiografik.

2.6 Penatalaksanaan

a. Kenali dan tegakkan diagnosa kerja atonia uteri

6
b. Sementara dilakukan pemasangan infus dan pemberian uterotonika, lakukan
kompresi bimanual
c. Pastikan plasenta lahir lengkap (bila ada indikasi sebagian plasenta masih tertinggal,
lakukan evaluasi sisa plasenta) dan tak ada laserasi jalan lahir
d. Berikan transfusi darah bila sangat diperlukan
e. Lakukan uji beku (lihat solusi plasenta) untuk komfirmasi system pembekuan darah
(hacker, 2001).

Kompresi Bimanual Internal (KBI)


a. Pakai sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril, dengan lembut masukkan
tangan (dengan cara menyatukan kelima ujung jari) ke introitus dan kedalam vagina
ibu.
b. Periksa vagina dan serviks – jika ada selaput ketuban atau bekuan darah pada kavum
uteri mungkin uterus tidak dapat berkontraksi secara penuh.
c. Letakkan kepalan tangan pada foniks anterior, tekan dinding anterior uterus,
sementara telapak tangan lain pada abdomen, menekan dengan kuat dinding
belakang uterus ke arah kepalan tangan dalam.
d. Tekan uterus dengan kedua tangan secara kuat, kompresi uterus ini memberikan
tekanan langsung pada pembuluh darah didalam dinding uterus dan juga merangsang
miometrium untuk berkontraksi.
e. Evaluasi keberhasilan
1) Jika uterus berkontraksi dan perdarahan berkurang, teruskan melakukan KBI
selama 2 menit, kemudian perlahan – lahan keluarkan tangan dari dalam vagina.
Pantau kondisi ibu secara melekat selama kala empat.
2) Jika uterus berkontraksi tapi perdarahan terus berlangsung, periksa perinium,
vagina dan serviks apakah terjadi laserasi dibagian tersebut segera lakukan
penjahitan jika ditemukan laserasi.
3) Jika kontraksi uterus tidak terjadi dalam waktu 5 menit, ajarkan keluarga untuk
melakukan kompresi bimanual eksternal (KBE) kemudian teruskan dengan
langkah – langkah penatalaksanaan atonia uteri selanjutnya. Alasan atonia uteri
sering kali diatasi dengan KBI, jika KBI tidak berhasil dalam waktu 5 menit
diperlukan tindak – tindakan lain

7
BAB III

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian

Pengkajian merupakan langkah awal dari proses keperawatan. Pengkajian yang


benar dan terarah akan mempermudah dalam merencanakan tindakan dan evaluasi dari
tidakan yang dilakasanakan. Pengkajian dilakukan secara sistematis, berisikan informasi
subjektif dan objektif dari klien yang diperoleh dari wawancara dan pemeriksaan fisik.
Pengkajian terhadap klien post meliputi:

a. Identitas klien

Data diri klien meliputi : nama, umur, pekerjaan, pendidikan, alamat, medical record
dan lain – lain.

b. Riwayat kesehatan

1) Riwayat kesehatan dahulu

Riwayat penyakit jantung, hipertensi, penyakit ginjal kronik, hemofilia, riwayat


pre eklampsia, trauma jalan lahir, kegagalan kompresi pembuluh darah, tempat
implantasi plasenta, retensi sisa plasenta.

2) Riwayat kesehatan sekarang

Keluhan yang dirasakan saat ini yaitu: kehilangan darah dalam jumlah banyak
(>500ml), Nadi lemah, pucat, lokea berwarna merah, haus, pusing, gelisah, letih,
tekanan darah rendah, ekstremitas dingin, dan mual.

3) Riwayat kesehatan keluarga

Adanya riwayat keluarga yang pernah atau sedang menderita hipertensi, penyakit
jantung, dan pre eklampsia, penyakit keturunan hemopilia dan penyakit menular.

c. Riwayat obstetrik

1) Riwayat menstruasi meliputi: Menarche, lamanya siklus, banyaknya, baunya ,


keluhan waktu haid, HPHT

8
2) Riwayat perkawinan meliputi : Usia kawin, kawin yang keberapa, Usia mulai
hamil

3) Riwayat hamil, persalinan dan nifas yang lalu

a) Riwayat hamil meliputi: Waktu hamil muda, hamil tua, apakah ada abortus,
retensi plasenta.
b) Riwayat persalinan meliputi: Tua kehamilan, cara persalinan, penolong,
tempat bersalin, apakah ada kesulitan dalam persalinan anak lahir atau mati,
berat badan anak waktu lahir, panjang waktu lahir.
c) Riwayat nifas meliputi: Keadaan lochea, apakah ada pendarahan, ASI cukup
atau tidak dan kondisi ibu saat nifas, tinggi fundus uteri dan kontraksi

4) Riwayat kehamilan sekarang

a) Hamil muda, keluhan selama hamil muda


b) Hamil tua, keluhan selama hamil tua, peningkatan berat badan, tinggi badan,
suhu, nadi, pernafasan, peningkatan tekanan darah, keadaan gizi akibat mual,
keluhan lain
c) Riwayat antenatal care meliputi : Dimana tempat pelayanan, beberapa kali,
perawatan serta pengobatannya yang didapat

d. Pola aktifitas sehari-hari.

1) Makan dan minum, meliputi komposisi makanan, frekuensi, baik sebelum dirawat
maupun selama dirawat. Adapun makan dan minum pada masa nifas harus
bermutu dan bergizi, cukup kalori, makanan yang mengandung protein, banyak
cairan, sayur-sayuran dan buah – buahan.
2) Eliminasi, meliputi pola dan defekasi, jumlah warna, konsistensi. Adanya
perubahan pola miksi dan defeksi. BAB harus ada 3-4 hari post partum sedangkan
miksi hendaklah secepatnya dilakukan sendiri (Rustam Mukthar, 1995)
3) Istirahat atau tidur meliputi gangguan pola tidur karena perubahan peran dan
melaporkan kelelahan yang berlebihan.
4) Personal hygiene meliputi : Pola atau frekuensi mandi, menggosok gigi, keramas,
baik sebelum dan selama dirawat serta perawatan mengganti balutan atau duk.

9
Pemeriksaan Fisik

a. Inspeksi
1) Mulut : bibir pucat
2) Payudara : hyperpigmentasi, hipervaskularisasi, simetris
3) Abdomen : terdapat pembesaran abdomen
4) Genetalia : terdapat perdarahan pervaginam
5) Ekstremitas : dingin

b. Palpasi

1) Abdomen : uterus teraba lembek, TFU lebih kecil daripada UK, nyeri tekan,
perut teraba tegang, messa pada adnexa.
2) Genetalia : Nyeri goyang porsio, kavum douglas menonjol.
a. Auskultasi
Abdomen : bising usus (+), DJJ (-)
b. Perkusi
Ekstremitas : reflek patella + / +

Pemeriksaan Umum

Pemeriksaan fisik umum meliputi pemeriksaan pada ibu hamil:

a. Rambut dan kulit


1) Terjadi peningkatan pigmentasi pada areola, putting susu dan linea nigra.
2) Striae atau tanda guratan bisa terjadi di daerah abdomen dan paha.
3) Laju pertumbuhan rambut berkurang.
b. Mata : pucat, anemis
c. Hidung
d. Gigi dan mulut
e. Leher
f. Buah dada / payudara
1) Peningkatan pigmentasi areola putting susu
2) Bertambahnya ukuran dan noduler
g. Jantung dan paru
1) Volume darah meningkat

10
2) Peningkatan frekuensi nadi
3) Penurunan resistensi pembuluh darah sistemik dan pembulu darah pulmonal.
4) Terjadi hiperventilasi selama kehamilan
5) Peningkatan volume tidal, penurunan resistensi jalan nafas.
6) Diafragma meninggi.
7) Perubahan pernapasan abdomen menjadi pernapasan dada.

h. Abdomen

1) Menentukan letak janin


2) Menentukan tinggi fundus uteri

i. Vagina

1) Peningkatan vaskularisasi yang menimbulkan warna kebiruan ( tanda


Chandwick)
2) Hipertropi epithelium

j. System musculoskeletal

1) Persendian tulang pinggul yang mengendur


2) Gaya berjalan yang canggung
3) Terjadi pemisahan otot rectum abdominalis dinamakan dengan diastasis
rectal

Pemeriksaan Khusus

Observasi setiap 8 jam untuk mendeteksi adanya tanda-tanda komplikasi dengan


mengevaluasi sistem dalam tubuh. Pengkajian ini meliputi :

a. Nyeri/ketidaknyamananNyeri tekan uterus (fragmen-fragmen plasenta tertahan)

Ketidaknyamanan vagina/pelvis, sakit punggung (hematoma).

b. Sistem vaskuler

1) Perdarahan di observasi tiap 2 jam selama 8 jam 1, kemudian tiap 8 jam


berikutnya
2) Tensi diawasi tiap 8 jam
3) Apakah ada tanda-tanda trombosis, kaki sakit, bengkak dan merah

11
4) Haemorroid diobservasi tiap 8 jam terhadap besar dan kekenyalan
5) Riwayat anemia kronis, konjungtiva anemis/sub anemis, defek koagulasi
kongenital, idiopatik trombositopeni purpura.

c. Sistem Reproduksi

1) Uterus diobservasi tiap 30 menit selama empat hari post partum, kemudian
tiap 8 jam selama 3 hari meliputi tinggi fundus uteri dan posisinya serta
konsistensinya
2) Lochea diobservasi setiap 8 jam selama 3 hari terhadap warna, banyak dan bau
3) Perineum diobservasi tiap 8 jam untuk melihat tanda-tanda infeksi, luka
jahitan dan apakah ada jahitannya yang lepas
4) Vulva dilihat apakah ada edema atau tidak
5) Payudara dilihat kondisi areola, konsistensi dan kolostrum
6) Tinggi fundus atau badan terus gagal kembali pada ukuran dan fungsi sebelum
kehamilan (sub involusi)

d. Traktus urinarius

Diobservasi tiap 2 jam selama 2 hari pertama. Meliputi miksi lancar atau tidak,
spontan dan lain-lain

e. Traktur gastro intestinal

Observasi terhadap nafsu makan dan obstipasi

f. Integritas Ego : Mungkin cemas, ketakutan dan khawatir

Pemeriksaan Penunjang

a. Golongan darah : menentukan Rh, ABO dan percocokan silang


b. Jumlah darah lengkap : menunjukkan penurunan Hb/Ht dan peningkatan jumlah sel
darah putuih (SDP). (Hb saat tidak hamil:12-16gr/dl, saat hamil: 10-14gr/dl. Ht
saat tidak hamil:37%-47%, saat hamil:32%-42%. Total SDP saat tidak hamil
4.500-10.000/mm3. saat hamil 5.000-15.000).
c. Kultur uterus dan vagina : mengesampingkan infeksi pasca partum
d. Urinalisis : memastikan kerusakan kandung kemih

12
e. Profil koagulasi : peningkatan degradasi, kadar produk fibrin/produk split fibrin
(FDP/FSP), penurunan kadar fibrinogen : masa tromboplastin partial diaktivasi,
masa tromboplastin partial (APT/PTT), masa protrombin memanjang pada KID

Sonografi : menentukan adanya jaringan plasenta yang tertahan

3.2 Diagnosa Keperawatan

Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul adalah :

a. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan vaskuler yang


berlebihan
b. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan hipovelemia
c. Ansietas berhungan dengan krisis situasi, ancaman perubahan pada status
kesehatan atau kematian, respon fisiologis
d. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan trauma jaringan, Stasis cairan
tubuh, penurunan Hb
e. Resiko tinggi terhadap nyeri berhubungan dengan trauma/ distensi jaringan
f. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang pemajanan atau tidak mengenal
sumber informasi

3.3 Intervensi Keperawatan

a. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan vaskuler yang


berlebihan

Intervensi :

1) Tinjau ulang catatan kehamilan dan persalinan/kelahiran, perhatikan faktor-faktor


penyebab atau pemberat pada situasi hemoragi (misalnya laserasi, fragmen plasenta
tertahan, sepsis, abrupsio plasenta, emboli cairan amnion atau retensi janin mati
selama lebih dari 5 minggu)

Rasional : Membantu dalam membuat rencana perawatan yang tepat dan


memberikan kesempatan untuk mencegah dan membatasi terjadinya komplikasi.

2) Kaji dan catat jumlah, tipe dan sisi perdarahan; timbang dan hitung pembalut,
simpan bekuan dan jaringan untuk dievaluasi oleh perawat.

13
Rasional : Perkiraan kehilangan darah, arteial versus vena, dan adanya bekuan-
bekuan membantu membuat diagnosa banding dan menentukan kebutuhan
penggantian.

3) Kaji lokasi uterus dan derajat kontraksilitas uterus. Dengan perlahan masase
penonjolan uterus dengan satu tangan sambil menempatkan tangan kedua diatas
simpisis pubis.

Rasional : Derajat kontraktilitas uterus membantu dalam diagnosa banding.


Peningkatan kontraktilitas miometrium dapat menurunkan kehilangan darah.
Penempatan satu tangan diatas simphisis pubis mencegah kemungkinan inversi
uterus selama masase.

4) Perhatikan hipotensi atau takikardi, perlambatan pengisian kapiler atau sianosis


dasar kuku, membran mukosa dan bibir.

Rasional : Tanda-tanda ini menunjukan hipovolemi dan terjadinya syok.


Perubahan pada tekanan darah tidak dapat dideteksi sampai volume cairan telah
menurun sampai 30 - 50%. Sianosis adalah tanda akhir dari hipoksia.

5) Pantau parameter hemodinamik seperti tekanan vena sentral atau tekanan baji arteri
pulmonal bila ada.

Rasional : Memberikan pengukuran lebih langsung dari volume sirkulasi dan


kebutuhan penggantian.

6) Lakukan tirah baring dengan kaki ditinggikan 20-30 derajat dan tubuh horizontal.

Rasional : Perdarahan dapat menurunkan atau menghentikan reduksi aktivitas.


Pengubahan posisi yang tepat meningkatkan aliran balik vena, menjamin
persediaan darah keotak dan organ vital lainnya lebih besar.

7) Pertahankan aturan puasa saat menentuka status/kebutuhan klien.

Rasional : Mencegah aspirasi isi lambung dalam kejadian dimana sensorium


berubah dan/atau intervensi pembedahan diperlukan.

8) Pantau masukan dan keluaran, perhatikan berat jenis urin.

14
Rasional : Bermanfaat dalam memperkirakan luas/signifikansi kehilangan cairan.
Volume perfusi/sirkulasi adekuat ditunjukan dengan keluaran 30 – 50 ml/jam atau
lebih besar.

9) Hindari pengulangan/gunakan kewaspadaan bila melakukan pemeriksaan vagina


dan/atau rektal

Rasional : Dapat meningkatkan hemoragi bila laserasi servikal, vaginal atau


perineal atau hematoma terjadi.

10) Berikan lingkungan yang tenang dan dukungan psikologis

Rasional : Meningkatkan relaksasi, menurunkan ancietas dan kebutuhan metabolik.

11) Kaji nyeri perineal menetap atau perasaan penuh pada vagina. Berikan tekanan
balik pada laserasi labial atau perineal.

Rasional : Haematoma sering merupakan akibat dari perdarahan lanjut pada


laserasi jalan lahir.

12) Pantau klien dengan plasenta acreta (penetrasi sedikit dari myometrium dengan
jaringan plasenta), HKK atau abrupsio placenta terhadap tanda-tanda KID.

Rasional : Tromboplastin dilepaskan selama upaya pengangkatan placenta secara


manual yang dapat mengakibatkan koagulopati.

13) Mulai Infus I atau 2 i.v dari cairan isotonik atau elektrolit dengan kateter !8 G atau
melalui jalur vena sentral. Berikan darah lengkap atau produk darah (plasma,
kriopresipitat, trombosit) sesuai indikasi.

Rasional : Perlu untuk infus cepat atau multipel dari cairan atau produk darah
untuk meningkatkan volume sirkulasi dan mencegah pembekuan.

14) Berikan obat-obatan sesuai indikasi

Oksitoksin, Metilergononovin maleat, Prostaglandin F2 alfa.

Rasional : Meningkatkan kontraktilitas dari uterus yang menonjol dan


miometrium, menutup sinus vena yang terpajan, dan menghentikan hemoragi pada
adanya atonia.

15
Magnesium sulfat

Rasional : Beberapa penelitian melaporkan penggunaan MGSO4 memudahkan


relaksasi uterus selama pemeriksaan manual.

Terapi Antibiotik.

Rasional : Antibiotok bertindak secara profilaktik untuk mencegah infeksi atau


mungkin perlu diperlukan untuk infeksi yang disebabkan atau diperberat pada
subinvolusi uterus atau hemoragi.

15) Pantau pemeriksaan laboratotium sesuai indikasi : Hb dan Ht.

Rasional : Membantu dalam menentukan kehilangan darah. Setiap ml darah


membawa 0,5 mg Hb.

b. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan hipovalemia

Intervensi :

1) Perhatikan Hb/Ht sebelum dan sesudah kehilangan darah. Kaji status nutrisi, tinggi
dan berat badan.

Rasional : Nilai bandingan membantu menentukan beratnya kehilangan darah.


Status yang ada sebelumnya dari kesehatan yang buruk meningkatkan luasnya
cedera dari kekurangan oksigen.

2) Pantau tanda vital; catat derajat dan durasi episode hipovolemik.

Rasional : Luasnya keterlibatan hipofisis dapat dihubungkan dengan derajat dan


durasi hipotensi. Peningkatan frekuensi pernapasan dapat menunjukan upaya untuk
mengatasi asidosis metabolik.

3) Perhatikan tingkat kesadaran dan adanya perubahan prilaku.

Rasional : Perubahan sensorium adalah indikator dini dari hipoksia, sianosis, tanda
lanjut dan mungkin tidak tampak sampai kadar PO2 turun dibawah 50 mmHg.

4) Kaji warna dasar kuku, mukosa mulut, gusi dan lidah, perhatikan suhu kulit.

16
Rasional : Pada kompensasi vasokontriksi dan pirau organ vital, sirkulasii pada
pembuluh darah perifer diperlukan yang mengakibatkan sianosis dan suhu kulit
dingin.

5) Beri terapi oksigen sesuai kebutuhan

Rasional : Memaksimalkan ketersediaan oksigen untuk transpor sirkulasi


kejaringan.

6) Pasang jalan napas; penghisap sesuai indikasi

Rasional : Memudahkan pemberian oksigen.

c. Ancietas berhubungan dengan ancaman perubahan pada status kesehatan atau


kematian.

Intervensi :

1) Evaluasi respon psikologis serta persepsi klien terhadap kejadian hemoragi pasca
partum. Klarifikasi kesalahan koinsep.

Rasional : Membantu dalam menentukan rencana perawatan. Persepsi klien tentang


kejadian mungkin menyimpang, memperberat ancietasnya.

2) Evaluasi respon fisiologis pada hemoragik pasca partum; misalnya tachikardi,


tachipnea, gelisah atau iritabilitas.

Rasional : Meskipun perubahan pada tanda vital mungkin karena respon fisiologis,
ini dapat diperberat atau dikomplikasi oleh faktor-faktor psikologis.

3) Sampaikan sikap tenang, empati dan mendukung.

Rasional : Dapat membantu klien mempertahankan kontrol emosional dalam


berespon terhadap perubahan status fisiologis. Membantu dalam menurunkan
tranmisi ansietas antar pribadi.

4) Bantu klien dalam mengidentifikasi perasaan ancietas, berikan kesempatan pada


klien untuk mengungkapkan perasaan.

17
Rasional : Pengungkapan memberikan kesempatan untuk memperjelas informasi,
memperbaiki kesalahan konsep, dan meningkatkan perspektif, memudahkan proses
pemecahan masalah.

d. Nyeri berhubungan dengan trauma atau distensi jaringan.

Intervensi :

1) Tentukan karakteristik, tipe, lokasi, dan durasi nyeri. Kaji klien terhadap nyeri
perineal yang menetap, perasaan penuh pada vagina, kontraksi uterus atau nyeri
tekan abdomen.

Rasional : Membantu dalam diagnosa banding dan pemilihan metode tindakan.


Ketidaknyamanan berkenaan dengan hematoma, karena tekanan dari hemaoragik
tersembunyi kevagina atau jaringan perineal. Nyeri tekan abdominal mungkin
sebagai akibat dari atonia uterus atau tertahannya bagian-bagian placenta. Nyeri
berat, baik pada uterus dan abdomen, dapat terjadi dengan inversio uterus.

2) Kaji kemungkinan penyebab psikologis dari ketidaknyamanan.

Rasional : Situasi darurat dapat mencetuskan rasa takut dan ansietas, yang
memperberat persepsi ketidaknyamanan.

3) Berikan tindakan kenyamanan seperti pemberian kompres es pada perineum atau


lampu pemanas pada penyembungan episiotomi.

Rasional : Kompres dingan meminimalkan edema, dan menurunkan hematoma


serta sensasi nyeri, panas meningkatkan vasodilatasi yang memudahkan resorbsi
hematoma.

4) Berikan analgesik, narkotik, atau sedativa sesuai indikasi

Rasional : Menurunkan nyeri dan ancietas, meningkatkan relaksasi.

e. Resiko tinggi terjadi Infeksi berhubungan dengan trauma jaringan.

Intervensi :

18
1) Demonstrasikan mencuci tangan yang tepat dan teknik perawatan diri. Tinjau
ulang cara yang tepat untuk menangani dan membuang material yang
terkontaminasi misalnya pembalut, tissue, dan balutan.

Rasional : Mencegah kontaminasi silang / penyebaran organinisme infeksious.

2) Perhatikan perubahan pada tanda vital atau jumlah SDP

Rasional : Peningkatan suhu dari 100,4 ºF (38ºC) pada dua hari beturut-turut (tidak
menghitung 24 jam pertama pasca partum), tachikardia, atau leukositosis dengan
perpindahan kekiri menandakan infeksi.

3) Perhatikan gejala malaise, mengigil, anoreksia, nyeri tekan uterus atau nyeri
pelvis.

Rasional : Gejala-gejala ini menandakan keterlibatan sistemik, kemungkinan


menimbulkan bakterimia, shock, dan kematian bila tidak teratasi.

4) Selidiki sumber potensial lain dari infeksi, seperti pernapasan (perubahan pada
bunyi napas, batuk produktif, sputum purulent), mastitis (bengkak, eritema, nyeri),
atau infeksi saluran kemih (urine keruh, bau busuk, dorongan, frekuensi, nyeri).

Rasional : Diagnosa banding adalah penting untuk pengobatan yang efektif.

5) Kaji keadaan Hb atau Ht. Berikan suplemen zat besi sesuai indikasi.

Rasional : Anemia sering menyertai infeksi, memperlambat pemulihan dan


merusak sistem imun.

f. Kurang Pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi.

Intervensi :

1) Jelaskan faktor predisposisi atau penyebab dan tindakan khusus terhadap penyebab
hemoragi.

Rasional : Memberikan informasi untuk membantu klien/pasangan memahami dan


mengatasi situasi.

19
2) Kaji tingkat pengetahuan klien, kesiapan dan kemampuan klien untuk belajar.
Dengarkan, bicarakan dengan tenang, dan berikan waktu untuk bertanya dan
meninjau materi.

Rasional : Memberikan informasi yang perlu untuk mengembangkan rencana


perawatan individu. Menurunkan stress dan ancietas, yang menghambat
pembelajaran, dan memberikan klarifikasi dan pengulangan untuk meningkatkan
pemahaman.

3) Diskusikan implikasi jangka pendek dari hemoragi pasca partum, seperti


perlambatan atau intrupsi pada proses kedekatan ibu-bayi (klien tidak mampu
melakukan perawatan terhadap diri dan bayinya segera sesuai keinginannya).

Rasional : Menurunkan ansietas dan memberikan kerangka waktu yang realistis


untuk melakukan ikatan serta aktivitas-aktivitas perawatan bayi.

4) Diskusikan implikasi jangka panjang hemoragi pasca partum dengan tepat,


misalnya resiko hemoragi pasca partum pada kehamilan selanjutnya, atonia uterus,
atau ketidakmampuan untuk melahirkan anak pada masa datang bila histerektomie
dilakukan.

Rasional : Memungkinan klien untuk membuat keputusan berdasarkan informasi


dan mulai mengatasi perasaan tentang kejadian-kejadian masa lalu dan sekarang.

3.4 Implementasi

Setelah rencana tindakan perawatan tersusun, selanjutnya rencana tindakan tersebut


dilaksanakan sesuai dengan situasi yang nyata untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan. Dalam pelaksanaan tindakan, perawat dapat langsung melaksanakan kepada
orang lain yang dipercaya di bawah pengawasan orang yang masih seprofesi dengan
perawat. (Nursalam, 2001 : 63)

20
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan

Atonia uteri (relaksasi otot uterus) adalah uteri tidak berkontraksi dalam 15
detik setelah dilakukan rangsangan taktil (pemijatan) fundus uteri (Azwar, 2004).
Atonia uteri adalah kegagalan serabut-serabut otot miometrium uterus untuk
berkontraksi dan memendek.
Atonia uteri adalah suatu kondisi dimana miometrium tidak dapat berkontraksi
dan bila terjadi maka darah yang keluar dari bekas tempat melekatnya plasenta
menjadi tidak terkendali (Apri, 2007).

4.2 Saran

Mahasiswa (khususnya mahasiswa perawat) atau pembaca disarankan agar


dapat mengambil pelajaran dari makalah ini sehingga apabila terdapat tanda dan
gejala penyakit atonia uteri dalam masyarakat maka kita dapat melakukan tindakan
yang tepat agar penyakit tersebut tidak berlanjut ke arah yang lebih buruk. Makalah
ini juga dapat dijadikan referensi awal untuk bahan belajar dan tugas Sistem
Reproduksi.Pada makalah ini masih memiliki banyak kekurangan maka dari itu
masih dibutuhkan saran yang bersifat membangun.

21
DAFTAR PUSTAKA

Cunningham, G. F., Gant, Norman, F., Lenevo, Kenneth, J., Larry, J., Katharine.

(2012). Obstetri Williams, edisi 21, Jakarta : EGC

Prawirohardjo, sarwono. 20009. Buku Ilmu Kebidanan, Jakarta : PT Bina Pustaka

Manuaba. 2007. Pengantar Kuliah Obstetric, Jakarta : EGC

22