Anda di halaman 1dari 17

Pembubaran Persekutuan

Dengan masuknya seorang sekutu kerja yang baru atau keluarnya sekutu kerja atau
meninggalnya seorang sekutu maka akan membubarkan persetujuan bersama persekutuan. Suatu
persekutuan dikatakan bubar apabila persetujuan awal para sekutu untuk menjalankan usaha
bersama-sama dilanggar dan tidak berlaku lagi. Misalnya, persekutuan secara otomatis bubar jika
salah seorang sekutu meninggal dunia. Apabila timbul perselisihan di antara para sekutu, maka
atas permintaan seorang sekutu atau lebih pengadilan dapat memutuskan pembubaran
persekutuan firma. Pengunduran diri salah seorang sekutu atau lebih lewat penjualan
kepentingannya juga membubarkan persekutuan firma.
Dengan bubarnya persekutuan firma, maka wewenang para sekutu untuk menjalankan
perusahaannya juga berakhir. Walaupun pembubaran ini mengakhiri asosiasi perorangan-
perorangan untuk tujuan awal mereka, namun hal ini tidak berarti pembubaran perusahaan atau
bahkan hambatan dalam kelangsungan hidupnya. Kalau seorang sekutu meninggal atau
mengundurkan diri, maka perusahaan dapat dilanjutkan sebagai persekutuan firma baru, yang
terdiri dari sekutu-sekutu yang ada ataupun sekutu-sekutu yang ada ditambah dengan masuknya
seorang sekutu baru.
Kondisi yang menimbulkan pembubaran persekutuan
Masuknya sekutu baru dan keluarnya sekutu lama pada persekutuan akan mengakibatkan
pembubaran. Pembubaran ada dua jenis:
1. Pembubaran persekutuan dari segi hukum (perubahan surat perjanjian/akte pendirian),
tetapi kegiatan perusahaan tetap dilanjutkan, ini disebut disolution.
2. Pembubaran persekutuan dengan menghentikan kegiatan dan penutupan perusahaan atau
disebut likuidasi.
Kondisi-kondisi yang menimbulkan pembubaran persekutuan firma dikelompokkan dan
diikhtisarkan sebagai berikut:
 Pembubaran oleh tindakan sekutu
 Pembubaran karena ketentuan Undang-undang
Persekutuan firma dengan sendirinya bubar karena kemungkinan-kemungkinan tertentu yang
ditetapkan oleh undang-undang, yakni:
1) Seorang anggota persekutuan firma meninggal dunia.
2) Seorang sekutu atau persekutuan firma itu sendiri mengalami kebangkrutan.
3) Setiap kejadian yang menyebabkan perusahaan tidak layak untuk menjalankan kegiatan
usahanya lagi atau bagi individu-individu untuk menjalankan perusahaan sebagai
persekutuan firma.
4) Perang.
 Pembubaran oleh Keputusan Pengadilan
Pengadilan dapat memutuskan pembubaran karena terbukti timbul hal-hal sbb:
1) Seorang sekutu tidak waras atau tidak mampu untuk menyelesaikan setiap masalah atau
untuk memenuhi bagiannya dalam perjanjian persekutuan firma.
2) Sikap seorang sekutu yang merugikan perusahaan.
3) Perselisihan intern di antara para sekutu.
4) Kelanjutan perusahaan tidak mungkin lagi menguntungkan.
Akuntansi untuk pembubaran
 Masuknya sekutu baru dengan membeli kepentingan sekutu lama
 Seseorang dapat diterima sebagai sekutu baru hanya dengan kesepakatan semua sekutu.
 Penerimaan sekutu baru menimbulkan perjanjian baru dan hal ini merupakan
pembentukan persekutuan firma baru; persekutuan firma yang sebelumnya dianggap
bubar dengan kesepakatan umum.
 Persetujuan persekutuan firma hanya mengikat sepanjang para sekutunya tetap tunduk
terhadap persetujuan yang ditetapkan. Dengan masuknya seorang sekutu baru, maka
suatu persetujuan baru harus dirancang untuk menetapkan kepentingan sekutu pada
pembentukan firma, pembagian laba dan rugi, dan semua hal yang menyangkut asosiasi.
 Seorang sekutu yang baru masuk biasanya menyetorkan aktiva untuk memperoleh
kepentingan dalam persekutuan firma yang baru didirikan.
 Seseorang dapat dapat memperoleh kepentingan dalam persekutuan firma lewat:
1. Masuknya sekutu baru dengan membeli kepentingan sekutu lama
Jika semua sekutu setuju untuk menerima seorang pembeli kepentingan sebagai sekutu,
maka hal ini akan membubarkan persekutuan firma yang lama dan menciptakan
persekutuan firma baru.
Contoh 1:
Firma Selvi dan Andi dengan masing-masing modal sebesar Rp. 75.000.000 dan Rp.
90.000.000. Rasio laba/rugi dibagi sesuai dengan perbandingan modal. Henni diterima
sebagai sekutu baru dengan membeli kepentingan sekutu lama sebesar 1/6 bagian Rp.
50.000.000.
Jawab:
Jurnal firma atas masuknya sekutu Henni:
Modal Selvi Rp. 12.500.000
Modal Andi Rp. 15.000.000
Modal Henni Rp. 27.500.000
Catatan: uang sebesar Rp. 50.000.000 diterima oleh para sekutu lama sesuai dengan
perjanjian.

2. Perolehan Kepentingan Lewat Investasi


Apabila seseorang memperoleh kepentingan dengan melakukan investasi, maka aktiva
dan modal persekutuan firma akan bertambah.

Contoh 2:
Persekutuan bergerak dalam bidang percetakan, modal sekutu lama terdiri dari Selvi
sebesar Rp. 300.000.000 dan Christi sebesar Rp. 187.500.000. Pembagian laba/rugi
sekutu lama sesuai dengan ratio modal awal yang disetor. Sekutu Rita diterima sebagai
sekutu baru dan menyerahkan mesin percetakan seharga Rp. 560.000.000. sekutu lama
setuju menerima Rita dengan nilai mesin sebesar Rp. 480.000.000
Jawab:
Jurnal persekutuan atas masuknya Rita:
Mesin Rp. 480.000.000
Modal Rita Rp. 480.000.000

Dasar dalam pemberian ada tidaknya goodwill dan bonus serta pemberian goodwill dan bonus
untuk sekutu lama atau sekutu baru:
jika investasi = (modal awal sekutu lama + tidak ada bonus maupun goodwill
awal sekutu > setoran sekutu baru) * maka bonus/goodwill untuk sekutu lama
baru < kepentingan sekutu baru bonus/goodwill untuk sekutu baru

Investasi dengan pemberian bonus atau goodwill kepada sekutu lama.


Masuknya sekutu baru dengan memberikan bonus atau goodwill kepada sekutu lama
berdasarkan ratio laba-rugi sekutu lama. Bonus ditentukan oleh selisih kepentingan dengan
modal yang disetor, dan total modal sekutu lama dan baru yang disetor tidak berubah.
Goodwill ditentukan selisih kepentingan dengan modal sekutu baru yang disetor, dan
total modal sekutu lama berubah.
Ketentuan bonus dan goodwill di atas tidak berlaku bila ada ketentuan modal
persekutuan. Bonus dan goodwill mempunyai pengertian yang sama, tetapi berbeda dari segi
pencatatan. Bonus dan goodwill adalah pengakuan adanya kelebihan terhadap salah satu
pihak dalam persekutuan yang baru didirikan.
Jika persekutuan firma telah beroperasi dengan sukses, maka para sekutu dapat menerima
seorang sekutu baru dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Bagian dari investasi sekutu baru akan diberikan sebagai bonus kepada sekutu lama, atau
2. Goodwill persekutuan akan ditetapkan dan mengkredit sekutu lama.

Contoh 3:
Persekutuan Selvi dan Tini dengan masing-masing modal sebesar Rp. 52.500.000 dan Rp.
70.000.000. Sekutu lama membagi laba berdasar ratio 3 : 2. Shinta diterima sebagai sekutu
baru dengan menyerahkan uang tunai sebesar Rp. 85.750.000. Kepentingan sekutu Shinta
pada persekutuan sebesar 40%.

Metode Bonus.
Modal Selvi = Rp. 52.500.000
Modal Tini = Rp. 70.000.000
Modal Shinta = Rp. 85.750.000
Total modal = Rp. 208.250.000

Kepentingan Shinta = 40% * Rp. 208.250.000 Rp. 83.300.000


Modal yang disetor Shinta Rp. 85.750.000
Bonus untuk sekutu lama Rp. 2.450.000
Jurnal persekutuan atas masuknya sekutu Shinta:
Kas Rp. 85.750.000
Modal Selvi Rp. 1.470.000
Modal Tini Rp. 980.000
Modal Shinta Rp. 83.300.000

Metode Goodwill
Total modal sekutu lama dan baru = Rp. 85.750.000 : 40% = Rp. 214.375.000
Total modal sekutu lama dan baru yang disetor Rp. 208.250.000
Goodwill untuk sekutu lama Rp. 6.125.000
Jurnal persekutuan atas masuknya sekutu Shinta:
Kas Rp. 85.750.000
Goodwill Rp. 6.125.000
Modal Selvi Rp. 3.675.000
Modal Tini Rp. 2.450.000
Modal Shinta Rp. 85.750.000

Investasi dengan pemberian bonus atau goodwill kepada sekutu baru.


Hal ini terjadi apabila sekutu lama mempunyai nilai tambah dibandingkan sekutu lama. Misal,
sekutu baru ahli di bidang pemasaran. Metode bonus dengan memberikan tambahan modal
kepada sekutu baru dan mengurangi modal sekutu lama. Metode goodwill ditetapkan bila modal
persekutuan yang baru tidak sama dengan modal persekutuan lama setelah ditambah investasi
dari sekutu baru.

Contoh 4:
Persekutuan Selvi dan Adi dengan modal masing-masing sebesar Rp. 150.000.000 dan Rp.
210.000.000. Pembagian laba-rugi persekutuan dengan ratio 30% : 70%. Widya diterima sebagai
sekutu baru dengan menyerahkan persediaan barang dagang sebesar Rp. 330.000.000, dengan
kepentingan 60%. Barang dagang dilakukan penilaian kembali sebesar Rp. 240.000.000 dan
telah disetujui oleh para sekutu.
Metode Bonus
Perhitungan:
Total modal sekutu lama dan baru:
Modal Selvi Rp. 150.000.000
Modal Adi Rp. 210.000.000
Modal Widya Rp. 240.000.000
Total modal Rp. 600.000.000

Kepentingan Widya = 60% * Rp. 600.000.000 =Rp. 360.000.000


Setoran modal Widya Rp. 240.000.000
Bonus untuk sekutu baru Rp. 120.000.000
Jurnal persekutuan atas masuknya Widya:
Persediaan barang dagang Rp. 240.000.000
Modal Selvi Rp. 36.000.000
Modal Adi Rp. 84.000.000
Modal Widya Rp. 360.000.000

Metode Goodwill
Total modal sekutu lama:
Selvi Rp. 150.000.000
Adi Rp. 210.000.000
Total modal sekutu lama = Rp. 360.000.000

Kepentingan sekutu lama = 1-60% = 40%


Total modal ketiga sekutu = Rp. 360.000.000 : 40% =
Rp. 900.000.000
Total modal ketiga sekutu yang disetor Rp. 600.000.000
Goodwill untuk sekutu baru Rp. 300.000.000

Jurnal persekutuan atas masuknya Widya:


Persediaan barang dagang Rp. 240.000.000
Goodwill Rp. 300.000.000
Modal Widya Rp. 540.000.000
Tidak ada ketentuan bonus dan goodwill untuk sekutu lama dan baru.
1. Kepentingan sekutu baru sama dengan modal yang disetor, maka tidak ada bonus dan
goodwill.
Contoh 5:
Firma Selvi dan Yaya dengan modal sebesar Rp. 200.000.000 dan Rp. 250.000.000.
Pembagian laba-rugi berdasarkan ratio modal awal. Tessy diterima sebagai sekutu baru
dengan menyerahkan uang tunai Rp. 150.000.000, dan kepentingan pada persekutuan 1/4
bagian.
Perhitungan:
Modal Selvi = Rp. 200.000.000
Modal Yaya = Rp. 250.000.000
Modal Tessy = Rp. 150.000.000
Rp. 600.000.000
Kepentingan Tessy 1/4 bagian sama dengan 15/60, maka tidak ada bonus dan goodwill.
Jurnal firma atas masuknya Tessy:
Kas Rp. 150.000.000
Modal Tessy Rp. 150.000.000

2. Kepentingan sekutu baru lebih kecil dari modal yang disetor, maka bonus dan goodwill untuk
sekutu lama.
Contoh 6:
Sama dengan contoh soal 5, tapi kepentingan Tessy sebesar 20%.
Kepentingan Tessy (20%) lebih kecil dari modal yang disetor (15/60), maka bonus atau
goodwill untuk sekutu lama.
Perhitungan metode Bonus:
Kepentingan Tessy = 20% * Rp. 600.000.000 Rp. 120.000.000
Modal yang disetor Tessy Rp. 150.000.000
Bonus untuk sekutu lama Rp. 30.000.000
Jurnal firma atas masuknya Tessy:
Kas Rp. 150.000.000
Modal Selvi Rp. 13.333.333,33
Modal Yaya Rp. 16.666.666,67
Modal Tessy Rp. 120.000.000
*) Modal Selvi = (200.000.000/450.000.000)*30.000.000 = 13.333.333,33
Modal Yaya = (250.000.000/450.000.000)*30.000.000 = 16.666.666,67

Perhitungan metode goodwill:


Total modal ketiga sekutu = 150.000.000 : 20% = Rp. 750.000.000
Total modal ketiga sekutu yang disetor Rp. 600.000.000
Goodwill untuk sekutu lama Rp. 150.0000.000

Jurnal firma atas masuknya Tessy:


Kas Rp. 150.000.000
Goodwill Rp. 150.000.000
Modal Selvi Rp. 66.666.666,67
Modal Yaya Rp. 83.333.333,33
Modal Tessy Rp. 150.000.000
3. Kepentingan sekutu baru lebih besar dari modal yang disetor, maka bonus atau goodwill
untuk sekutu baru.
Contoh 7:
Sama dengan contoh 5, tetapi kepentingan Tessy sebesar 30%.
Kepentingan Tessy (30%) lebih besar dari modal yang disetor (15/60), maka bonus atau
goodwill untuk sekutu baru.
Perhitungan metode Bonus:
Kepentingan Tessy = 30% * Rp. 600.000.000 =Rp. 180.000.000
Modal disetor Tessy Rp. 150.000.000
Bonus untuk sekutu baru Rp. 30.000.000
Jurnal firma atas masuknya Tessy:
Kas Rp. 150.000.000
Modal Selvi Rp. 13.333.333,33
Modal Yaya Rp. 16.666.666,67
Modal Tessy Rp. 180.000.000

Perhitungan metode Goodwill:


Total modal sekutu lama = Rp. 450.000.000.
Kepentingan sekutu lama = 1-30% = 70%.
Total modal ketiga sekutu = 450juta : 70% = Rp. 642.857.142,9
Total modal ketiga sekutu yang disetor Rp. 600.000.000
Goodwill untuk sekutu baru Rp. 42.857.142,9
Jurnal firma atas masuknya Tessy:
Kas Rp. 150.000.000
Goodwill Rp. 42.857.142,9
Modal Tessy Rp. 192.857.142,9
4. Kepentingan sekutu baru lebih kecil dengan modal yang disetor, dan total modal yang
diinginkan sama dengan total modal yang disetor oleh sekutu lama dan baru. Masuknya
sekutu baru akan menimbulkan bonus untuk sekutu lama.
Contoh 8:
Firma Selvi dan Novi dengan modal masing-masing sebesar Rp. 75.000.000 dan Rp.
90.000.000. Firma tersebut membagi laba-rugi 30% dan 70%. Min diterima sebagai sekutu
baru dengan menyerahkan kendaraan sebesar Rp. 100.000.000 dengan kepentingan 30%.
Para sekutu setuju kendaraan dinilai wajar sebesar Rp.85.000.000. Total modal yang
diinginkan pada persekutuanbaru sebesar Rp. 250.000.000.
Diminta: jurnal masuknya sekutu Min pada persekutuan.
Jawab:
Perhitungan:
Modal Selvi Rp. 75.000.000 30%
Modal Novi Rp. 90.000.000 36%
Modal Min Rp. 85.000.000 34%
Rp. 250.000.000 100%
Total modal yang diinginkan sama dengan total modal yang disetor yaitu sebesar Rp.
250.000.000, jadi hanya bonus.
Kepentingan sekutu baru lebih kecil dari modal sekutu baru yang disetor (30% < 34%) jadi
bonus untuk sekutu lama.

Modal yang disetor oleh Min Rp. 85.000.000


Kepentingan Min = 30% * Rp. 250.000.000 = Rp. 75.000.000
bonus untuk sekutu lama Rp. 10.000.000

Modal sekutu lama bertambah masing-masing sebesar:


Modal Selvi = 30% * Rp. 10.000.000 = Rp. 3.000.000
Modal Novi = 70% * Rp. 10.000.000 = Rp. 7.000.000

Jurnal persekutuan atas masuknya Min:


Kendaraan Rp. 85.000.000
Modal Selvi Rp. 3.000.000
Modal Novi Rp. 7.000.000
Modal Min Rp. 75.000.000

5. Kepentingan sekutu baru lebih besar dengan modal yang disetor, dan total modal yang
diinginkan sama dengan total modal yang disetor oleh sekutu lama dan baru. Masuknya
sekutu baru akan menimbulkan bonus untuk sekutu baru, dan modal sekutu lama berkurang.
Contoh 9:
Firma Selvi dan Hendry dengan modal masing-masing sebesar Rp. 37.500.000 dan Rp.
52.500.000, pembagian laba/rugi 2 : 3. Ani diterima sebagai sekutu baru dengan
menyerahkan uang tunai sebesar Rp. 60.000.000 dengan kepentingan sebesar 45%. Total
modal yang diinginkan untuk firma yang baru sebesar Rp. 150.000.000.
Perhitungan:
Modal Selvi Rp. 37.500.000 25%
Modal Hendry Rp. 52.500.000 35%
Modal Ani Rp. 60.000.000 40%
Rp. 150.000.000 100%

Total modal yang diinginkan sama dengan total modal yang disetor yaitu sebesar Rp.
150.000.000, jadi hanya bonus.
Kepentingan sekutu baru lebih besar dari modal sekutu baru yang disetor
(45% > 40%) jadi bonus untuk sekutu baru.
Modal yang disetor oleh Ani Rp. 60.000.000
Kepentingan Ani = 45% * Rp. 150.000.000 = Rp. 67.500.000
Bonus untuk sekutu baru Rp. 7.500.000
Jurnal persekutuan atas masuknya Ani:
Kas Rp. 60.000.000
Modal Selvi Rp. 3.000.000
Modal Hendry Rp. 4.500.000
Modal Ani Rp. 67.500.000

6. Kepentingan sekutu baru lebih kecil dengan modal yang disetor, dan total modal yang
diinginkan tidak sama dengan total modal sekutu lama dan baru yang disetor. Masuknya
sekutu baru akan memberikan bonus dan goodwill untuk sekutu lama.
Contoh 10:
Persekutuan Selvi dan Lili mempunyai setoran modal masing-masing sebesar Rp.
125.000.000 dan Rp. 175.000.000, dengan membagi laba-rugi 2 : 3. Siska diterima sebagai
sekutu baru dengan menyerahkan barang dagang sebesar Rp. 175.000.000, kepentingan Siska
pada persekutuan sebesar 25% dan total modal yang diinginkan pada persekutuan baru Rp.
500.000.000. Para sekutu lama dan baru setuju bahwa nilai barang dinilai wajar sebesar Rp.
150.000.000
Perhitungan:
Modal Selvi Rp. 125.000.000 27,78%
Modal Lili Rp. 175.000.000 38,89%
Modal Siska Rp. 150.000.000 33,33%
Jumlah Rp. 450.000.000 100%

Total modal yang diinginkan tidak sama dengan total modal sekutu lama dan baru yang
disetor (Rp. 500.000.000 / Rp. 450.000.000), maka timbul bonus dan goodwill. Kepentingan
sekutu baru lebih kecil dengan modal yang disetor
(25% < 33,33%), maka bonus dan goodwill untuk sekutu lama.
Setoran Siska Rp. 150.000.000
Kepentingan Siska = 25% * Rp. 500.000.000 = Rp. 125.000.000
Bonus untuk sekutu lama Rp. 25.000.000
Total modal yang diinginkan Rp. 500.000.000
Total modal yang disetor Rp. 450.000.000
Goodwill untuk sekutu lama Rp. 50.000.000
Total bonus dan goodwill untuk sekutu lama Rp. 75.000.000
Jurnal persekutuan atas masuknya Siska:
Persediaan barang dagang Rp. 150.000.000
Goodwill Rp. 50.000.000
Modal Selvi Rp. 30.000.000
Modal Lili Rp. 45.000.000
Modal Siska Rp. 125.000.000

7. Kepentingan sekutu baru lebih besar dengan modal yang disetor dan total modal yang
diinginkan tidak sama dengan total modal sekutu lama dan baru yang disetor. Masuknya
sekutu baru akan memberikan bonus dan goodwill untuk sekutu baru.
Contoh 11:
Sama dengan contoh 10, tetapi kepentingan Siska pada persekutuan sebesar 50%.
Perhitungan:
Modal Selvi Rp. 125.000.000 27,78%
Modal Lili Rp. 175.000.000 38,89%
Modal Siska Rp. 150.000.000 33,33%
Jumlah Rp. 450.000.000 100%

Total modal yang diinginkan tidak sama dengan total modal sekutu lama dan baru yang
disetor (Rp. 500.000.000 > Rp. 450.000.000), maka timbul goodwill. Kepentingan sekutu
baru lebih besar dengan modal yang disetor
(50% > 33,33%), maka bonus untuk sekutu baru.
Bonus untuk sekutu baru Rp. 100.000.000
Total modal yang diinginkan Rp. 500.000.000
Total modal yang disetor Rp. 450.000.000
Goodwill untuk sekutu lama Rp. 50.000.000
Total bonus yang diterima untuk sekutu baru Rp. 50.000.000

Jurnal persekutuan atas masuknya Ani:


Kas Rp. 150.000.000
Modal Selvi Rp. 20.000.000
Modal Lili Rp. 30.000.000
Goodwill Rp. 50.000.000
Modal Siska Rp. 150.000.000

 Penyelesaian dengan pengunduran diri seorang sekutu


Pengunduran diri salah seorang sekutu, di mana kegiatan perusahaan tetap dilanjutkan oleh
sekutu yang tinggal. Hal ini para sekutu yang lama harus membayar kepada sekutu yang
mengundurkan diri. Pembayaran kepada sekutu yang keluar ada 2 (dua) kemungkinan yaitu:
1. Pembayaran lebih besar dari saldo modalnya.
2. Pembayaran lebih kecil dari saldo modalnya.

o Pembayaran Kepada Sekutu yang Mengundurkan Diri Suatu Jumlah yang Melebihi Saldo
Modalnya.
Pembayaran kepada sekutu yang keluar melebihi saldo modalnya, pencatatannya ada 3
(tiga) metode:
a. Selisihnya dicatat sebagai bonus.
b. Selisihnya dicatat sebagai goodwill.
c. Modal persekutuan dinilai kembali dengan dasar jumlah selisihnya.
Seorang sekutu dapat mengundurkan diri dari persekutuan firma setiap saat. Jika seorang
sekutu mempunyai hak di dalam persekutuan, maka ia dapat mengklaim sejumlah penuh
kepentingannya di dalam perusahaan yang bersangkutan. Lain halnya apabila seorang
sekutu mengundurkan diri dengan melanggar persetujuan firma dan tanpa kesepakatan
bersama seluruh partisipan, maka ia harus bertanggungjawab kepada sekutu lainnya atas
setiap kerugian yang mereka derita akibat tindakan sekutu yang mengundurkan diri
tersebut. Dalam hal ini, klaim seorang sekutu yang mengundurkan diri atas
kepentingannya mungkin jadi melemah sebagian atau seluruhnya akibat kerugian yang
disebabkan oleh pengunduran dirinya.
Pengunduran diri seorang sekutu dapat menyebabkan pembubaran perusahaan
sepenuhnya. Sebaliknya, perusahaan dapat dilanjutkan tanpa hambatan, sementara
penyelesaian dengan sekutu yang mengundurkan diri dilakukan dengan:
1. Pembelian kepentingannya oleh salah seorang sekutu yang lain atau dengan
2. Pembayaran kepadanya uang kas perusahaan atau aktiva lainnya untuk memenuhi
kepentingannya.
Dalam hal terakhir di atas, pengunduran diri seorang sekutu akan dipertimbangkan
sebagai pembubaran persekutuan yang lama dan akan mendirikan persekutuan yang baru.
Pembelian kepentingan sekutu yang mengundurkan diri oleh sekutu yang akan
mengakibatkan pemindahan modal sekutu yang mengundurkan diri ke perkiraan modal
sekutu yang membelinya; jumlah sebenarnya yang dibayarkan kepada sekutu yang
mengundurkan diri merupakan transaksi di luar persekutuan firma dan tidak ditetapkan
dalam buku persekutuan firma. Penyelesaian pembayaran oleh persekutuan firma kepada
sekutu yang mengundurkan diri mengakibatkan penurunan aktiva perusahaan, yang
dibarengi dengan penghapusan modal sekutu yang mengundurkan diri. Jika penyelesaian
ditangguhkan sampai tanggal pengunduran diri, maka perkiraan modal sekutu yang
mengundurkan diri ditutup dan perkiraan kewajiban di kredit sebesar jumlah yang harus
dibayarkan dalam penyelesaian.
Contoh 13:
Firma SEL dengan modal masing-masing sekutu; S sebesar Rp. 70.000.0000, E sebesar
Rp. 50.000.000 dan L sebesar Rp. 80.000.000. Pembagian rugi-laba berdasarkan ratio 2 :
3 : 4. Sekutu L mengundurkan diri karena suatu hal, para sekutu setuju membayar L
sebesar Rp. 98.000.000.
a. Selisihnya dicatat sebagai bonus.
Selisih pembayaran dengan saldo modal sekutu lama dicatat sebagai bonus, maka
modal sekutu yang tinggal akan berkurang sesuai dengan perbandingan laba-rugi
sekutu yang tinggal.
Modal L Rp. 80.000.000
Dibayar Rp. 98.000.000
Bonus Rp. 18.000.000
Jurnal atas keluarnya sekutu L:
Modal S Rp. 7.200.000
Modal E Rp. 10.800.000
Modal L Rp. 80.000.000
Kas Rp. 98.000.000
b. Selisihnya dicatat sebagai goodwill.
Selisih pembayaran dengan saldo modal sekutu lama dicatat sebagai goodwill.
Goodwill hanya diberikan kepada sekutu yang keluar.
Jurnal firma atas keluarnya sekutu L:
Goodwill Rp. 18.000.000
Modal L Rp. 80.000.000
Kas Rp. 98.000.000

c. Modal persekutuan dinilai kembali dengan dasar jumlah selisihnya atau dibentuk
goodwill untuk semua sekutu.
Selisih pembayaran dengan saldo modal sekutu lama dicatat sebagai goodwill atau
aktiva laiinya. Goodwill yaitu selisih pembayaran dibagi ratio modal sekutu yang
keluar dan dialokasikan kepada para sekutu yang tinggal dan keluar.
Pada metode ini, modal persekutuan dilakukan penilaian kembali sebesar nilai
goodwill diatas.

Goodwill = Rp. 18.000.000 : 4/9 = Rp. 40.500.000.


Goodwill dialokasikan kepada para sekutu masing-masing sebesar:
- S = 2/9 * Rp. 40.500.000 = Rp. 9.000.000
- E = 3/9 * Rp. 40.500.000 = Rp. 13.500.000
- L = 4/9 * Rp. 40.500.000 = Rp. 18.000.000

Jurnal firma atas goodwill:


Goodwill Rp. 40.500.000
Modal S Rp. 9.000.000
Modal E Rp. 13.500.000
Modal L Rp. 18.000.000

Jurnal firma atas pembayaran kepada sekutu L:


Modal L Rp. 98.000.000
Kas Rp. 98.000.000
o Pembayaran Kepada Sekutu yang Mengundurkan Diri Dengan Jumlah yang Lebih Kecil
Daripada Saldo modalnya.
Pencatatan pembayaran kepada sekutu yang keluar lebih kecil dari saldo modalnya, ada
dua metode yaitu goodwill dan bonus.
Contoh 15:
Persekutuan SAM dengan masing-masing modal yaitu S sebesar Rp. 100.000.000, A
sebesar Rp. 180.000.000, dan M sebesar Rp. 240.000.000. Persekutuan membagi laba-
rugi berdasarkan ratio 30% : 30% : 40%. Sekutu M mengundurkan diri dari perusahaan
dengan dibayar sebesar Rp. 208.000.000
Metode Goodwill
Goodwill dihitung dari selisih modal sekutu yang keluar dengan pembayaran dibagi ratio
laba-ruginya. Goodwill akan mengurangi modal para sekutu berdasarkan ratio laba-rugi,
dicatat dengan mendebit modal para sekutu dan mengkredit goodwill. Bila tidak ada
saldo goodwill pada persekutuan, maka akan mengurangi aktiva bersih (net asset)
persekutuan.
Perhitungan Goodwill:
Selisih = Rp. 240.000.000 – Rp. 208.000.000 = Rp. 32.000.000
Goodwill = Rp. 32.000.000 : 40% = Rp. 80.000.000

Modal para sekutu masing-masing berkurang sebesar:


- S = 30% * Rp. 80.000.000 = Rp. 24.000.000
- A = 30% * Rp. 80.000.000 = Rp. 24.000.000
- M = 40% * Rp. 80.000.000 = Rp. 32.000.000
Jurnal untuk mencatat goodwill:
Modal S Rp. 24.000.000
Modal A Rp. 24.000.000
Modal M Rp. 32.000.000
Goodwill Rp. 80.000.000
Jurnal pembayaran kepada sekutu M:
Modal M Rp. 208.000.000
Kas Rp. 208.000.000
Metode Bonus
Selisih pembayaran dengan modal sekutu yang keluar diakui sebagai bonus. Bonus akan
menambah modal sekutu yang tinggal berdasarkan rasio laba-rugi.
Bonus = Rp. 240.000.000 – Rp. 208.000.000 = Rp. 32.000.000

Modal sekutu yang tinggal bertambah besar:


- Modal S = 30% /60% * Rp. 32.000.000 = Rp. 16.000.000
- Modal A = 30%/60% * Rp. 32.000.000 = Rp. 16.000.000

Jurnal atas keluarnya sekutu M:


Modal M Rp. 240.000.000
Modal S Rp. 16.000.000
Modal A Rp. 16.000.000
Kas Rp. 208.000.000