Anda di halaman 1dari 28

AKUNTANSI KEUANGAN LANJUTAN I

“Akuntansi Likuidasi Persekutuan (Firma)”

OLEH

NAMA : GILBERT BRIANTO PATTIPEILOHY (33114071)

JURUSAN : AKUNTANSI

SEMESTER :V

KELAS :B

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDIRA

KUPANG

2016
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat
dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah Akuntansi Keuangan Lanjutan I berjudul
“ Akuntansi Likuidasi Persekutuan (Firma)” dengan baik.

Dalam penyusunan makalah ini penulis banyak mengalami kesulitan dan kendala yang
disebabkan oleh keterbatasan kemampuan, pengetahuan dan wawasan serta wawasan. Namun
berkat keinginan, keyakinan dan usaha yang sungguh-sungguh akhirnya semua hambatan itu
dapat diatasi.

Makalah ini berisikan tentang informasi-informasi yang berisikan tentang pembubaran


firma dan hal-hal yang terkait didalamnya.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik
dan saran yang membangun dari semua pihak akan penulis terima dengan tangan terbuka demi
kesempurnaan makalah ini.

Akhir kata, Penulis sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan
serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Tuhan Yang Maha Esa
senantiasa memberkati segala usaha dan kerja kera kita. Amin.

Kupang, Desember 2016

Penulis

1
DAFTAR ISI

Kata pengantar........................................................................................................................1
Daftar isi..................................................................................................................................2

Bab I Pendahuluan :
1.1 Latar Belakang......................................................................................................3
1.2 Rumusan Masalah.................................................................................................7
1.3 Tujuan Penulisan...................................................................................................7
1.4 Manfaat Penulisan.................................................................................................7

Bab II Pembahasan :
2.1 Pembubaran Persekutuan......................................................................................8
2.2 Akuntansi Pembubaran Persekutuan....................................................................10

Bab III Penutup :


3.1 Kesimpulan...........................................................................................................26
3.2 Saran.....................................................................................................................26

Daftar pustaka........................................................................................................................27

2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1.LATAR BELAKANG
Menurut Beam (2000, hal 625), disolusi persekutuan ialah berubahnya hubungan sekutu
yang menyebabkan berhentinya persekutuan secara hukum. Dengan disolusi, persekutuan tetap
bisa berjalan terus dengan perjanjian baru, atau persekutuan bisa juga berhenti/bubar secara
bisnis. Berhentinya persekutuan secara bisnis disebut juga likuidasi.
Likuidasi merupakan proses atau cara akibat terjadinya pembubaran atau perubahan
terhadap perusahaan yang mengalami kerugian yang sangat besar jumlahnya dan tidak mampu
untuk membayar segala kerugian tersebut. Sehingga perusahaan tersebut dengan terpaksa
memberhentikan untuk sementara waktu kegiatan dan kinerja perusahaannya agar tidak
menimbulkan risiko-risiko yang mungkin saja dapat terjadi, Risiko merupakan aspek utama dari
kehidupan manusia pada umumnya dan merupakan faktor penting dalam dunia bisnis. Risiko
merupakan kemungkinan penyimpangan harapan yang tidak menguntungkan, yaitu
ketidakpastian suatu peristiwa yang tidak diinginkan.
Pembubaran persekutuan dapat disebabkan oleh:
1) salah seorang sekutu menghendaki pembubaran
2) salah seorang sekutu meninggal dunia, dan ahli warisnya tidak menyetujui untuk
melanjutkan persekutuan
3) perselisihan intern diantara sekutu
4) salah seorang sekutu dinyatakan pailit
Tujuan utama dari likuidasi adalah melakukan pengurusan dan pemberesan atas harta
pailit. Proses likuidasi juga mengacu pada perpu No. 1 tahun 1998 tentang Perubahan Atas
Undang-Undang tentang Kepailitan.
Aturan dalam mendistribusikan aktiva dalam likuidasi persekutuan dibuat bertingkat
sesuai prioritas:
1) jumlah yang terhutang kepada negara.
2) jumlah yang dipinjam dari kreditur yang bukan sekutu.

3
3) jumlah yang dipinjam dari sekutu selain untuk modal dan laba.
4) jumlah yang harus diberikan kepada sekutu sesuai kepemilikannya.
Meskipun terdapat urutan prioritas tersebut diatas, namun bukan berarti jika terdapat kas
yang akan dibagikan kepada sekutu (distribusi kas) pasti dibagikan kepada sekutu atas bagian
pinjaman kepada sekutu yang bersangkutan, tetapi pada saat likuidasi maka kedudukan pinjaman
dari sekutu/loan dan modal sekutu yang bersangkutan adalah setingkat untuk menghitung hak
sekutu yang bersangkutan. Setelah melalui perhitungan yang tertuang dalam skedul pembayaran
kas, maka kas yang dibagikan kepada masing-masing sekutu barulah dibedakan berdasarkan
prioritas tersebut diatas untuk masing-masing sekutu yang bersangkutan.
Pada umumnya likuidasi persekutuan menyangkut hal-hal:
1) semua perkiraan sementara / nominal pada buku besar disesuaikan dan ditutup, kemudian
laba/rugi hasil penyesuaian dipindahkan ke modal para sekutu berdasarkan rasio
laba/rugi.
2) mengkonversi aktiva nonkas menjadi kas
3) mengakui keuntungan dan kerugian dan biaya likuidasi yang timbul selama masa
likuidasi dengan cara mengalokasikan ke modal para sekutu sesuai dengan perbandingan
laba/rugi
4) membayar semua kewajiban kepada negara dan kreditur / pihak ketiga
5) bila modal sekutu bersaldo debit (defisit) maka dapat dikompensasi / di-offset dengan
saldo pinjaman modal dari sekutu yang bersangkutan, maksimum sebesar saldo pinjaman
modal dari sekutu yang bersangkutan / loan tetapi tidak sampai menyebabkan modal
bersaldo kredit. Jika tidak ada saldo pinjaman dari sekutu yang bersangkutan, maka
sekutu yang bersaldo modal debit harus menyetorkan kas.
6) mendistribusikan sebagian atau seluruh kas yang tersedia kepada para sekutu berdasarkan
rasio laba/rugi dengan memperhatikan syarat perlu menyusun skedul pembayara kas.

Untuk likuidasi secara langsung, syarat perlu menyusun skedul pembayaran kas bila
memenuhi minimal satu syarat sebagai berikut:
1) bila ada sekutu yang defisit
2) bila ada kas yang ditahan
3) bila masih ada saldo aktiva non kas

4
Ditinjau dari waktu penyusunan daftar likuidasi, maka likuidasi dapat dibedakan menjadi:
1. Likuidasi secara langsung/sekaligus:
Likuidasi secara langsung yaitu likuidasi yang dilakukan setelah seluruh aktiva
direalisasi.
2. Likuidasi secara bertahap periodik
Likuidasi secara bertahap periodik yaitu proses likuidasi dilakukan secara periodik
setelah terjadinya realisasi aktiva nonkas dan mengikuti prosedur likuidasi secara
berulang-ulang sampai akhirnya semua perkiraan tidak bersaldo.
3. Likuidasi secara bertahap dengan program kas
Likuidasi secara bertahap dengan program kas yaitu proses likuidasi dilakukan secara
periodik dimana daftar likuidasi yang disusun akan sama dengan likuidasi secara
bertahap periodik tetapi perlu membuat suatu program kas terlebih dahulu sebelum daftar
likuidasi disusun, yang menunjukkan bagaimana kas dibagikan kepada para sekutu
dikemudian hari. Disamping itu skedul pembayaran kas pada cara ini juga agak berbeda
dengan likuidasi secara bertahap periodik.
Likuidasi berlangsung setelah proses realisasi selesai, dapat dibedakan menjadi:
1) Persekutuan mampu membayar semua kewajiban kepada pihak ketiga selain kepada
sekutu. Dalam hal ini terdapat beberapa kemungkinan sebagai berikut:
a. Tidak ada sekutu bersaldo modal debit setelah realisasi aktiva nonkas dilakukan,
biaya-biaya dikeluarkan dan offset dilakukan.
b. Terdapat minimal seorang sekutu bersaldo modal debit setelah realisasi aktiva
nonkas dilakukan, biaya-biaya dikeluarkan tetapi defisit tersebut masih bisa
ditutup dengan kompensasi loan (offset).
2) Persekutuan tidak mampu membayar semua kewajiban kepada pihak ketiga selain kepada
sekutu. Dalam hal ini terdapat beberapa kemungkinan sebagai berikut:
a. Terdapat minimal seorang sekutu bersaldo modal debit setelah realisasi aktiva
nonkas dilakukan, biaya-biaya dikeluarkan dan offset dilakukan tetapi semua
sekutu secara pribadi solven.
Kemungkinan yang dapat terjadi untuk kondisi seperti ini adalah:

5
1. Anggota yang mengalami defisit, menyetorkan uang kepersekutuan untuk
menutup defisit tersebut, Setoran uang ini digunakan untuk melunasi hutang
ke kreditur,sisanya kalau ada untuk anggota persekutuan.
2. Sisa hutang kepada pihak luar dilunasi oleh salah seorang anggota dulu (dapat
anggota yang defisit atau tidak). Pelunasan ini dianggap sebagai setoran
modal anggota tersebut. Setoran modal oleh anggota yang defisit dipakai
sebagai pembayaran kembali hak-hak anggota lainnya.
b. Terdapat minimal seorang sekutu bersaldo modal debit setelah realisasi aktiva
nonkas dilakukan, biaya-biaya dikeluarkan, dan offset dilakukan tetapi semua
sekutu secara pribadi insolven.
c. Terdapat minimal seorang sekutu bersaldo modal debit setelah realisasi aktiva
nonkas dilakukan, biaya-biaya dikeluarkan, dan offset dilakukan tetapi ada sekutu
yang secara pribadi solven mau pun insolven.
Untuk ini harus diadakan penelitihan seksama atas posisi harta dan hutang pribadi masing-
masing anggota. Ini penting untuk menentukan siapa yang harus membayar sisa hutang
kreditur terlebih dahulu dan siapa yang betul-betul tidak mampu.
Dalam hal penentuan kemampuan masing-masing anggota perlu diperhatikan :
1. Hak-hak kreditur pribadi anggota
Berhak sepenuhnya menerima pembayaran kembali dari hasil penjualan harta
pribadi pemilik. Dengan kata lain kreditur persekutuan hanya dapat
mengklaim atas harta pribadi pemilik bila hutang-hutang pribadi telah dilunasi.
Sebaliknya kreditur pribadi anggota hanya dapat mengajukan klaim atas aktiva
persekutuan, bila kewajiban persekutuan kepada pihak luar telah dilunasi dan
masih mempunyai hak dalam persekutuaan.
2. Hak-hak kreditur persekutuan.
Berhak sepenuhnya untuk menerima pembayaran kembali dari hasil penjualan
harta milik persekutuan. Dengan kata lain kreditur pribadi hanya dapat
mengklaim atas harta milik persekutuan bila semuat kewajiban persekutuan
kepada pihak luar telah dilunasi. Sebaliknya kreditur persekutuan hanya dapat
mengajukan klaim atas aktiva pribadi anggota, bila semua kewajiban pribadi
kepada pihak luar telah dilunasi.

6
1.2.RUMUSAN MASALAH
Dilihat dari latar belakang penulisan makalah ini, penulis ingin menjelaskan mengenai
pembubaran persekutuan dan akuntansi pembubaran persekutuan. Hal inilah yang jadi
permasalahan dalam makalah ini, yang mudah-mudahan dapat menjawab semua pertanyaan kita
tentang “ Akuntansi Likuidasi Persekutuan (Firma)”.

1.3.TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah :
1) Untuk memenuhi tugas mata kuliah Akuntansi Keuangan Lanjutan I.
2) Mampu menjelaskan tentang pembubaran persekutuan.
3) Mampu menjelaskan tentang akuntansi pembubaran persekutuan.

1.4.MANFAAT PENULISAN
Adapun manfaat penulisan makalah ini adalah :
1) Sebagai bahan pembelajaran bagi mata kuliah Akuntansi Keuangan lanjutan I.
2) Sebagai bahan untuk menambah wawasan mengenai Likuidasi Persekutuan (Firma).

7
BAB II

PEMBAHASAN

2.1.PEMBUBARAN PERSEKUTUAN
Dengan masuknya seorang sekutu kerja yang baru atau keluarnya sekutu kerja atau
meninggalnya seorang sekutu maka akan membubarkan persetujuan bersama persekutuan. Suatu
persekutuan dikatakan bubar apabila persetujuan awal para sekutu untuk menjalankan usaha
bersama-sama dilanggar dan tidak berlaku lagi. Misalnya, persekutuan secara otomatis bubar jika
salah seorang sekutu meninggal dunia. Apabila timbul perselisihan di antara para sekutu, maka
atas permintaan seorang sekutu atau lebih pengadilan dapat memutuskan pembubaran
persekutuan firma. Pengunduran diri salah seorang sekutu atau lebih lewat penjualan
kepentingannya juga membubarkan persekutuan firma.
Dengan bubarnya persekutuan firma, maka wewenang para sekutu untuk menjalankan
perusahaannya juga berakhir. Walaupun pembubaran ini mengakhiri asosiasi perorangan-
perorangan untuk tujuan awal mereka, namun hal ini tidak berarti pembubaran perusahaan atau
bahkan hambatan dalam kelangsungan hidupnya. Kalau seorang sekutu meninggal atau
mengundurkan diri, maka perusahaan dapat dilanjutkan sebagai persekutuan firma baru, yang
terdiri dari sekutu-sekutu yang ada ataupun sekutu-sekutu yang ada ditambah dengan masuknya
seorang sekutu baru.

Kondisi yang menimbulkan pembubaran persekutuan:


 Masuknya sekutu baru dan keluarnya sekutu lama pada persekutuan akan mengakibatkan
pembubaran. Pembubaran ada dua jenis:
 Pembubaran persekutuan dari segi hukum (perubahan surat perjanjian/akte pendirian),
tetapi kegiatan perusahaan tetap dilanjutkan, ini disebut disolution.
 Pembubaran persekutuan dengan menghentikan kegiatan dan penutupan perusahaan atau
disebut likuidasi.

8
Kondisi-kondisi yang menimbulkan pembubaran persekutuan firma dikelompokkan dan
diikhtisarkan sebagai berikut:
o Pembubaran oleh tindakan sekutu
Pembubaran karena ketentuan Undang-undang
o Persekutuan firma dengan sendirinya bubar karena kemungkinan-kemungkinan tertentu
yang ditetapkan oleh undang-undang, yakni:
1) Seorang anggota persekutuan firma meninggal dunia.
2) Seorang sekutu atau persekutuan firma itu sendiri mengalami kebangkrutan.
3) Setiap kejadian yang menyebabkan perusahaan tidak layak untuk menjalankan kegiatan
usahanya lagi atau bagi individu-individu untuk menjalankan perusahaan sebagai
persekutuan firma.
4) Perang.
o Pembubaran oleh Keputusan Pengadilan
Pengadilan dapat memutuskan pembubaran karena terbukti timbul hal-hal sbb:
1) Seorang sekutu tidak waras atau tidak mampu untuk menyelesaikan setiap masalah atau
untuk memenuhi bagiannya dalam perjanjian persekutuan firma.
2) Sikap seorang sekutu yang merugikan perusahaan.
3) Perselisihan intern di antara para sekutu.
4) Kelanjutan perusahaan tidak mungkin lagi menguntungkan.

9
2.2.AKUNTANSI PEMBUBARAN PERSEKUTUAN

 Masuknya sekutu baru dengan membeli kepentingan sekutu lama


 Seseorang dapat diterima sebagai sekutu baru hanya dengan kesepakatan semua sekutu.
 Penerimaan sekutu baru menimbulkan perjanjian baru dan hal ini merupakan
pembentukan persekutuan firma baru; persekutuan firma yang sebelumnya dianggap
bubar dengan kesepakatan umum.
 Persetujuan persekutuan firma hanya mengikat sepanjang para sekutunya tetap tunduk
terhadap persetujuan yang ditetapkan. Dengan masuknya seorang sekutu baru, maka
suatu persetujuan baru harus dirancang untuk menetapkan kepentingan sekutu pada
pembentukan firma, pembagian laba dan rugi, dan semua hal yang menyangkut asosiasi.
 Seorang sekutu yang baru masuk biasanya menyetorkan aktiva untuk memperoleh
kepentingan dalam persekutuan firma yang baru didirikan.
 Seseorang dapat dapat memperoleh kepentingan dalam persekutuan firma lewat:

1. Masuknya sekutu baru dengan membeli kepentingan sekutu lama


Jika semua sekutu setuju untuk menerima seorang pembeli kepentingan sebagai sekutu,
maka hal ini akan membubarkan persekutuan firma yang lama dan menciptakan
persekutuan firma baru.

Contoh 1:
Firma Selvi dan Andi dengan masing-masing modal sebesar Rp. 75.000.000 dan Rp.
90.000.000. Rasio laba/rugi dibagi sesuai dengan perbandingan modal. Henni diterima
sebagai sekutu baru dengan membeli kepentingan sekutu lama sebesar 1/6 bagian Rp.
50.000.000.
Jawab:
Jurnal firma atas masuknya sekutu Henni:
Modal Selvi Rp. 12.500.000
Modal Andi Rp. 15.000.000
Modal Henni Rp. 27.500.000
Catatan: uang sebesar Rp. 50.000.000 diterima oleh para sekutu lama sesuai dengan
perjanjian.

10
2. Perolehan Kepentingan Lewat Investasi
Apabila seseorang memperoleh kepentingan dengan melakukan investasi, maka aktiva
dan modal persekutuan firma akan bertambah.

Contoh 2:
Persekutuan bergerak dalam bidang percetakan, modal sekutu lama terdiri dari Selvi
sebesar Rp. 300.000.000 dan Christi sebesar Rp. 187.500.000. Pembagian laba/rugi
sekutu lama sesuai dengan ratio modal awal yang disetor. Sekutu Rita diterima sebagai
sekutu baru dan menyerahkan mesin percetakan seharga Rp. 560.000.000. sekutu lama
setuju menerima Rita dengan nilai mesin sebesar Rp. 480.000.000
Jawab:
Jurnal persekutuan atas masuknya Rita:
Mesin Rp. 480.000.000
Modal Rita Rp. 480.000.000

Dasar dalam pemberian ada tidaknya goodwill dan bonus serta pemberian goodwill dan bonus
untuk sekutu lama atau sekutu baru:
jika investasi = (modal awal sekutu lama + tidak ada bonus maupun goodwill
awal sekutu > setoran sekutu baru) * maka bonus/goodwill untuk sekutu lama
baru < kepentingan sekutu baru bonus/goodwill untuk sekutu baru

 Investasi dengan pemberian bonus atau goodwill kepada sekutu lama.


Masuknya sekutu baru dengan memberikan bonus atau goodwill kepada sekutu lama
berdasarkan ratio laba-rugi sekutu lama. Bonus ditentukan oleh selisih kepentingan dengan
modal yang disetor, dan total modal sekutu lama dan baru yang disetor tidak berubah.
Goodwill ditentukan selisih kepentingan dengan modal sekutu baru yang disetor, dan
total modal sekutu lama berubah.
Ketentuan bonus dan goodwill di atas tidak berlaku bila ada ketentuan modal
persekutuan. Bonus dan goodwill mempunyai pengertian yang sama, tetapi berbeda dari segi
pencatatan. Bonus dan goodwill adalah pengakuan adanya kelebihan terhadap salah satu
pihak dalam persekutuan yang baru didirikan.

11
Jika persekutuan firma telah beroperasi dengan sukses, maka para sekutu dapat menerima
seorang sekutu baru dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Bagian dari investasi sekutu baru akan diberikan sebagai bonus kepada sekutu lama, atau
2. Goodwill persekutuan akan ditetapkan dan mengkredit sekutu lama.

Contoh 3:
Persekutuan Selvi dan Tini dengan masing-masing modal sebesar Rp. 52.500.000 dan Rp.
70.000.000. Sekutu lama membagi laba berdasar ratio 3 : 2. Shinta diterima sebagai sekutu
baru dengan menyerahkan uang tunai sebesar Rp. 85.750.000. Kepentingan sekutu Shinta
pada persekutuan sebesar 40%.

Metode Bonus.
Modal Selvi = Rp. 52.500.000
Modal Tini = Rp. 70.000.000
Modal Shinta = Rp. 85.750.000
Total modal = Rp. 208.250.000

Kepentingan Shinta = 40% * Rp. 208.250.000 Rp. 83.300.000


Modal yang disetor Shinta Rp. 85.750.000
Bonus untuk sekutu lama Rp. 2.450.000
Jurnal persekutuan atas masuknya sekutu Shinta:
Kas Rp. 85.750.000
Modal Selvi Rp. 1.470.000
Modal Tini Rp. 980.000
Modal Shinta Rp. 83.300.000

Metode Goodwill
Total modal sekutu lama dan baru = Rp. 85.750.000 : 40% = Rp. 214.375.000
Total modal sekutu lama dan baru yang disetor Rp. 208.250.000
Goodwill untuk sekutu lama Rp. 6.125.000
Jurnal persekutuan atas masuknya sekutu Shinta:

12
Kas Rp. 85.750.000
Goodwill Rp. 6.125.000
Modal Selvi Rp. 3.675.000
Modal Tini Rp. 2.450.000
Modal Shinta Rp. 85.750.000

 Investasi dengan pemberian bonus atau goodwill kepada sekutu baru.


Hal ini terjadi apabila sekutu lama mempunyai nilai tambah dibandingkan sekutu lama.
Misal, sekutu baru ahli di bidang pemasaran. Metode bonus dengan memberikan tambahan
modal kepada sekutu baru dan mengurangi modal sekutu lama. Metode goodwill ditetapkan
bila modal persekutuan yang baru tidak sama dengan modal persekutuan lama setelah
ditambah investasi dari sekutu baru.
Contoh 4:
Persekutuan Selvi dan Adi dengan modal masing-masing sebesar Rp. 150.000.000 dan Rp.
210.000.000. Pembagian laba-rugi persekutuan dengan ratio 30% : 70%. Widya diterima
sebagai sekutu baru dengan menyerahkan persediaan barang dagang sebesar Rp.
330.000.000, dengan kepentingan 60%. Barang dagang dilakukan penilaian kembali sebesar
Rp. 240.000.000 dan telah disetujui oleh para sekutu.

Metode Bonus
Perhitungan:
Total modal sekutu lama dan baru:
Modal Selvi Rp. 150.000.000
Modal Adi Rp. 210.000.000
Modal Widya Rp. 240.000.000
Total modal Rp. 600.000.000

Kepentingan Widya = 60% * Rp. 600.000.000 =Rp. 360.000.000


Setoran modal Widya Rp. 240.000.000
Bonus untuk sekutu baru Rp. 120.000.000
Jurnal persekutuan atas masuknya Widya:

13
Persediaan barang dagang Rp. 240.000.000
Modal Selvi Rp. 36.000.000
Modal Adi Rp. 84.000.000
Modal Widya Rp. 360.000.000

Metode Goodwill
Total modal sekutu lama:
Selvi Rp. 150.000.000
Adi Rp. 210.000.000
Total modal sekutu lama = Rp. 360.000.000

Kepentingan sekutu lama = 1-60% = 40%


Total modal ketiga sekutu = Rp. 360.000.000 : 40% =
Rp. 900.000.000
Total modal ketiga sekutu yang disetor Rp. 600.000.000
Goodwill untuk sekutu baru Rp. 300.000.000

Jurnal persekutuan atas masuknya Widya:


Persediaan barang dagang Rp. 240.000.000
Goodwill Rp. 300.000.000
Modal Widya Rp. 540.000.000

 Tidak ada ketentuan bonus dan goodwill untuk sekutu lama dan baru.
1. Kepentingan sekutu baru sama dengan modal yang disetor, maka tidak ada bonus dan
goodwill.
Contoh 5:
Firma Selvi dan Yaya dengan modal sebesar Rp. 200.000.000 dan Rp. 250.000.000.
Pembagian laba-rugi berdasarkan ratio modal awal. Tessy diterima sebagai sekutu baru
dengan menyerahkan uang tunai Rp. 150.000.000, dan kepentingan pada persekutuan 1/4
bagian.
Perhitungan:

14
Modal Selvi = Rp. 200.000.000
Modal Yaya = Rp. 250.000.000
Modal Tessy = Rp. 150.000.000
Rp. 600.000.000
Kepentingan Tessy 1/4 bagian sama dengan 15/60, maka tidak ada bonus dan goodwill.
Jurnal firma atas masuknya Tessy:
Kas Rp. 150.000.000
Modal Tessy Rp. 150.000.000

2. Kepentingan sekutu baru lebih kecil dari modal yang disetor, maka bonus dan goodwill
untuk sekutu lama.

Contoh 6:
Sama dengan contoh soal 5, tapi kepentingan Tessy sebesar 20%.
Kepentingan Tessy (20%) lebih kecil dari modal yang disetor (15/60), maka bonus atau
goodwill untuk sekutu lama.
Perhitungan metode Bonus:
Kepentingan Tessy = 20% * Rp. 600.000.000 Rp. 120.000.000
Modal yang disetor Tessy Rp. 150.000.000
Bonus untuk sekutu lama Rp. 30.000.000
Jurnal firma atas masuknya Tessy:
Kas Rp. 150.000.000
Modal Selvi Rp. 13.333.333,33
Modal Yaya Rp. 16.666.666,67
Modal Tessy Rp. 120.000.000
*) Modal Selvi = (200.000.000/450.000.000)*30.000.000 = 13.333.333,33
Modal Yaya = (250.000.000/450.000.000)*30.000.000 = 16.666.666,67

Perhitungan metode goodwill:


Total modal ketiga sekutu = 150.000.000 : 20% = Rp. 750.000.000
Total modal ketiga sekutu yang disetor Rp. 600.000.000
Goodwill untuk sekutu lama Rp. 150.0000.000

15
Jurnal firma atas masuknya Tessy:
Kas Rp. 150.000.000
Goodwill Rp. 150.000.000
Modal Selvi Rp. 66.666.666,67
Modal Yaya Rp. 83.333.333,33
Modal Tessy Rp. 150.000.000

3. Kepentingan sekutu baru lebih besar dari modal yang disetor, maka bonus atau goodwill
untuk sekutu baru.

Contoh 7:
Sama dengan contoh 5, tetapi kepentingan Tessy sebesar 30%.
Kepentingan Tessy (30%) lebih besar dari modal yang disetor (15/60), maka bonus atau
goodwill untuk sekutu baru.
Perhitungan metode Bonus:
Kepentingan Tessy = 30% * Rp. 600.000.000 =Rp. 180.000.000
Modal disetor Tessy Rp. 150.000.000
Bonus untuk sekutu baru Rp. 30.000.000
Jurnal firma atas masuknya Tessy:
Kas Rp. 150.000.000
Modal Selvi Rp. 13.333.333,33
Modal Yaya Rp. 16.666.666,67
Modal Tessy Rp. 180.000.000

Perhitungan metode Goodwill:


Total modal sekutu lama = Rp. 450.000.000.
Kepentingan sekutu lama = 1-30% = 70%.
Total modal ketiga sekutu = 450juta : 70% = Rp. 642.857.142,9
Total modal ketiga sekutu yang disetor Rp. 600.000.000
Goodwill untuk sekutu baru Rp. 42.857.142,9
Jurnal firma atas masuknya Tessy:

16
Kas Rp. 150.000.000
Goodwill Rp. 42.857.142,9
Modal Tessy Rp. 192.857.142,9

4. Kepentingan sekutu baru lebih kecil dengan modal yang disetor, dan total modal yang
diinginkan sama dengan total modal yang disetor oleh sekutu lama dan baru. Masuknya
sekutu baru akan menimbulkan bonus untuk sekutu lama.

Contoh 8:
Firma Selvi dan Novi dengan modal masing-masing sebesar Rp. 75.000.000 dan Rp.
90.000.000. Firma tersebut membagi laba-rugi 30% dan 70%. Min diterima sebagai sekutu
baru dengan menyerahkan kendaraan sebesar Rp. 100.000.000 dengan kepentingan 30%.
Para sekutu setuju kendaraan dinilai wajar sebesar Rp.85.000.000. Total modal yang
diinginkan pada persekutuanbaru sebesar Rp. 250.000.000.
Diminta: jurnal masuknya sekutu Min pada persekutuan.
Jawab:
Perhitungan:
Modal Selvi Rp. 75.000.000 30%
Modal Novi Rp. 90.000.000 36%
Modal Min Rp. 85.000.000 34%
Rp. 250.000.000 100%
Total modal yang diinginkan sama dengan total modal yang disetor yaitu sebesar Rp.
250.000.000, jadi hanya bonus.
Kepentingan sekutu baru lebih kecil dari modal sekutu baru yang disetor (30% < 34%) jadi
bonus untuk sekutu lama.

Modal yang disetor oleh Min Rp. 85.000.000


Kepentingan Min = 30% * Rp. 250.000.000 = Rp. 75.000.000
bonus untuk sekutu lama Rp. 10.000.000

Modal sekutu lama bertambah masing-masing sebesar:


Modal Selvi = 30% * Rp. 10.000.000 = Rp. 3.000.000

17
Modal Novi = 70% * Rp. 10.000.000 = Rp. 7.000.000

Jurnal persekutuan atas masuknya Min:


Kendaraan Rp. 85.000.000
Modal Selvi Rp. 3.000.000
Modal Novi Rp. 7.000.000
Modal Min Rp. 75.000.000

5. Kepentingan sekutu baru lebih besar dengan modal yang disetor, dan total modal yang
diinginkan sama dengan total modal yang disetor oleh sekutu lama dan baru. Masuknya
sekutu baru akan menimbulkan bonus untuk sekutu baru, dan modal sekutu lama
berkurang.

Contoh 9:
Firma Selvi dan Hendry dengan modal masing-masing sebesar Rp. 37.500.000 dan Rp.
52.500.000, pembagian laba/rugi 2 : 3. Ani diterima sebagai sekutu baru dengan
menyerahkan uang tunai sebesar Rp. 60.000.000 dengan kepentingan sebesar 45%. Total
modal yang diinginkan untuk firma yang baru sebesar Rp. 150.000.000.
Perhitungan:
Modal Selvi Rp. 37.500.000 25%
Modal Hendry Rp. 52.500.000 35%
Modal Ani Rp. 60.000.000 40%
Rp. 150.000.000 100%

Total modal yang diinginkan sama dengan total modal yang disetor yaitu sebesar Rp.
150.000.000, jadi hanya bonus.
Kepentingan sekutu baru lebih besar dari modal sekutu baru yang disetor
(45% > 40%) jadi bonus untuk sekutu baru.
Modal yang disetor oleh Ani Rp. 60.000.000
Kepentingan Ani = 45% * Rp. 150.000.000 = Rp. 67.500.000
Bonus untuk sekutu baru Rp. 7.500.000
Jurnal persekutuan atas masuknya Ani:

18
Kas Rp. 60.000.000
Modal Selvi Rp. 3.000.000
Modal Hendry Rp. 4.500.000
Modal Ani Rp. 67.500.000

6. Kepentingan sekutu baru lebih kecil dengan modal yang disetor, dan total modal yang
diinginkan tidak sama dengan total modal sekutu lama dan baru yang disetor. Masuknya
sekutu baru akan memberikan bonus dan goodwill untuk sekutu lama.

Contoh 10:
Persekutuan Selvi dan Lili mempunyai setoran modal masing-masing sebesar Rp.
125.000.000 dan Rp. 175.000.000, dengan membagi laba-rugi 2 : 3. Siska diterima sebagai
sekutu baru dengan menyerahkan barang dagang sebesar Rp. 175.000.000, kepentingan Siska
pada persekutuan sebesar 25% dan total modal yang diinginkan pada persekutuan baru Rp.
500.000.000. Para sekutu lama dan baru setuju bahwa nilai barang dinilai wajar sebesar Rp.
150.000.000
Perhitungan:
Modal Selvi Rp. 125.000.000 27,78%
Modal Lili Rp. 175.000.000 38,89%
Modal Siska Rp. 150.000.000 33,33%
Jumlah Rp. 450.000.000 100%

Total modal yang diinginkan tidak sama dengan total modal sekutu lama dan baru yang
disetor (Rp. 500.000.000 / Rp. 450.000.000), maka timbul bonus dan goodwill. Kepentingan
sekutu baru lebih kecil dengan modal yang disetor
(25% < 33,33%), maka bonus dan goodwill untuk sekutu lama.
Setoran Siska Rp. 150.000.000
Kepentingan Siska = 25% * Rp. 500.000.000 = Rp. 125.000.000
Bonus untuk sekutu lama Rp. 25.000.000
Total modal yang diinginkan Rp. 500.000.000
Total modal yang disetor Rp. 450.000.000
Goodwill untuk sekutu lama Rp. 50.000.000
Total bonus dan goodwill untuk sekutu lama Rp. 75.000.000
Jurnal persekutuan atas masuknya Siska:

19
Persediaan barang dagang Rp. 150.000.000
Goodwill Rp. 50.000.000
Modal Selvi Rp. 30.000.000
Modal Lili Rp. 45.000.000
Modal Siska Rp. 125.000.000

7. Kepentingan sekutu baru lebih besar dengan modal yang disetor dan total modal yang
diinginkan tidak sama dengan total modal sekutu lama dan baru yang disetor. Masuknya
sekutu baru akan memberikan bonus dan goodwill untuk sekutu baru.

Contoh 11:
Sama dengan contoh 10, tetapi kepentingan Siska pada persekutuan sebesar 50%.
Perhitungan:
Modal Selvi Rp. 125.000.000 27,78%
Modal Lili Rp. 175.000.000 38,89%
Modal Siska Rp. 150.000.000 33,33%
Jumlah Rp. 450.000.000 100%

Total modal yang diinginkan tidak sama dengan total modal sekutu lama dan baru yang
disetor (Rp. 500.000.000 > Rp. 450.000.000), maka timbul goodwill. Kepentingan sekutu
baru lebih besar dengan modal yang disetor
(50% > 33,33%), maka bonus untuk sekutu baru.
Bonus untuk sekutu baru Rp. 100.000.000
Total modal yang diinginkan Rp. 500.000.000
Total modal yang disetor Rp. 450.000.000
Goodwill untuk sekutu lama Rp. 50.000.000
Total bonus yang diterima untuk sekutu baru Rp. 50.000.000

Jurnal persekutuan atas masuknya Ani:

20
Kas Rp. 150.000.000
Modal Selvi Rp. 20.000.000
Modal Lili Rp. 30.000.000
Goodwill Rp. 50.000.000
Modal Siska Rp. 150.000.000

 Penyelesaian dengan pengunduran diri seorang sekutu


Pengunduran diri salah seorang sekutu, di mana kegiatan perusahaan tetap dilanjutkan oleh
sekutu yang tinggal. Hal ini para sekutu yang lama harus membayar kepada sekutu yang
mengundurkan diri. Pembayaran kepada sekutu yang keluar ada 2 (dua) kemungkinan yaitu:
1. Pembayaran lebih besar dari saldo modalnya.
2. Pembayaran lebih kecil dari saldo modalnya.

o Pembayaran Kepada Sekutu yang Mengundurkan Diri Suatu Jumlah yang Melebihi Saldo
Modalnya.
Pembayaran kepada sekutu yang keluar melebihi saldo modalnya, pencatatannya ada 3
(tiga) metode:
a. Selisihnya dicatat sebagai bonus.
b. Selisihnya dicatat sebagai goodwill.
c. Modal persekutuan dinilai kembali dengan dasar jumlah selisihnya.
Seorang sekutu dapat mengundurkan diri dari persekutuan firma setiap saat. Jika seorang
sekutu mempunyai hak di dalam persekutuan, maka ia dapat mengklaim sejumlah penuh
kepentingannya di dalam perusahaan yang bersangkutan. Lain halnya apabila seorang
sekutu mengundurkan diri dengan melanggar persetujuan firma dan tanpa kesepakatan
bersama seluruh partisipan, maka ia harus bertanggungjawab kepada sekutu lainnya atas
setiap kerugian yang mereka derita akibat tindakan sekutu yang mengundurkan diri
tersebut. Dalam hal ini, klaim seorang sekutu yang mengundurkan diri atas
kepentingannya mungkin jadi melemah sebagian atau seluruhnya akibat kerugian yang
disebabkan oleh pengunduran dirinya.
Pengunduran diri seorang sekutu dapat menyebabkan pembubaran perusahaan
sepenuhnya. Sebaliknya, perusahaan dapat dilanjutkan tanpa hambatan, sementara
penyelesaian dengan sekutu yang mengundurkan diri dilakukan dengan:
21
1. Pembelian kepentingannya oleh salah seorang sekutu yang lain atau dengan
2. Pembayaran kepadanya uang kas perusahaan atau aktiva lainnya untuk memenuhi
kepentingannya.
Dalam hal terakhir di atas, pengunduran diri seorang sekutu akan dipertimbangkan
sebagai pembubaran persekutuan yang lama dan akan mendirikan persekutuan yang baru.
Pembelian kepentingan sekutu yang mengundurkan diri oleh sekutu yang akan
mengakibatkan pemindahan modal sekutu yang mengundurkan diri ke perkiraan modal
sekutu yang membelinya; jumlah sebenarnya yang dibayarkan kepada sekutu yang
mengundurkan diri merupakan transaksi di luar persekutuan firma dan tidak ditetapkan
dalam buku persekutuan firma. Penyelesaian pembayaran oleh persekutuan firma kepada
sekutu yang mengundurkan diri mengakibatkan penurunan aktiva perusahaan, yang
dibarengi dengan penghapusan modal sekutu yang mengundurkan diri. Jika penyelesaian
ditangguhkan sampai tanggal pengunduran diri, maka perkiraan modal sekutu yang
mengundurkan diri ditutup dan perkiraan kewajiban di kredit sebesar jumlah yang harus
dibayarkan dalam penyelesaian.
Contoh 13:
Firma SEL dengan modal masing-masing sekutu; S sebesar Rp. 70.000.0000, E sebesar
Rp. 50.000.000 dan L sebesar Rp. 80.000.000. Pembagian rugi-laba berdasarkan ratio 2 :
3 : 4. Sekutu L mengundurkan diri karena suatu hal, para sekutu setuju membayar L
sebesar Rp. 98.000.000.
a. Selisihnya dicatat sebagai bonus.
Selisih pembayaran dengan saldo modal sekutu lama dicatat sebagai bonus, maka
modal sekutu yang tinggal akan berkurang sesuai dengan perbandingan laba-rugi
sekutu yang tinggal.
Modal L Rp. 80.000.000
Dibayar Rp. 98.000.000
Bonus Rp. 18.000.000
Jurnal atas keluarnya sekutu L:
Modal S Rp. 7.200.000
Modal E Rp. 10.800.000
Modal L Rp. 80.000.000
Kas Rp. 98.000.000

22
b. Selisihnya dicatat sebagai goodwill.
Selisih pembayaran dengan saldo modal sekutu lama dicatat sebagai goodwill.
Goodwill hanya diberikan kepada sekutu yang keluar.
Jurnal firma atas keluarnya sekutu L:
Goodwill Rp. 18.000.000
Modal L Rp. 80.000.000
Kas Rp. 98.000.000

c. Modal persekutuan dinilai kembali dengan dasar jumlah selisihnya atau dibentuk
goodwill untuk semua sekutu.
Selisih pembayaran dengan saldo modal sekutu lama dicatat sebagai goodwill atau
aktiva laiinya. Goodwill yaitu selisih pembayaran dibagi ratio modal sekutu yang
keluar dan dialokasikan kepada para sekutu yang tinggal dan keluar.
Pada metode ini, modal persekutuan dilakukan penilaian kembali sebesar nilai
goodwill diatas.

Goodwill = Rp. 18.000.000 : 4/9 = Rp. 40.500.000.


Goodwill dialokasikan kepada para sekutu masing-masing sebesar:
- S = 2/9 * Rp. 40.500.000 = Rp. 9.000.000
- E = 3/9 * Rp. 40.500.000 = Rp. 13.500.000
- L = 4/9 * Rp. 40.500.000 = Rp. 18.000.000

Jurnal firma atas goodwill:


Goodwill Rp. 40.500.000
Modal S Rp. 9.000.000
Modal E Rp. 13.500.000
Modal L Rp. 18.000.000

Jurnal firma atas pembayaran kepada sekutu L:


Modal L Rp. 98.000.000
Kas Rp. 98.000.000

23
o Pembayaran Kepada Sekutu yang Mengundurkan Diri Dengan Jumlah yang Lebih Kecil
Daripada Saldo modalnya.
Pencatatan pembayaran kepada sekutu yang keluar lebih kecil dari saldo modalnya, ada
dua metode yaitu goodwill dan bonus.
Contoh 15:
Persekutuan SAM dengan masing-masing modal yaitu S sebesar Rp. 100.000.000, A
sebesar Rp. 180.000.000, dan M sebesar Rp. 240.000.000. Persekutuan membagi laba-
rugi berdasarkan ratio 30% : 30% : 40%. Sekutu M mengundurkan diri dari perusahaan
dengan dibayar sebesar Rp. 208.000.000
Metode Goodwill
Goodwill dihitung dari selisih modal sekutu yang keluar dengan pembayaran dibagi ratio
laba-ruginya. Goodwill akan mengurangi modal para sekutu berdasarkan ratio laba-rugi,
dicatat dengan mendebit modal para sekutu dan mengkredit goodwill. Bila tidak ada
saldo goodwill pada persekutuan, maka akan mengurangi aktiva bersih (net asset)
persekutuan.
Perhitungan Goodwill:
Selisih = Rp. 240.000.000 – Rp. 208.000.000 = Rp. 32.000.000
Goodwill = Rp. 32.000.000 : 40% = Rp. 80.000.000

Modal para sekutu masing-masing berkurang sebesar:


- S = 30% * Rp. 80.000.000 = Rp. 24.000.000
- A = 30% * Rp. 80.000.000 = Rp. 24.000.000
- M = 40% * Rp. 80.000.000 = Rp. 32.000.000
Jurnal untuk mencatat goodwill:
Modal S Rp. 24.000.000
Modal A Rp. 24.000.000
Modal M Rp. 32.000.000
Goodwill Rp. 80.000.000
Jurnal pembayaran kepada sekutu M:
Modal M Rp. 208.000.000
Kas Rp. 208.000.000

24
Metode Bonus
Selisih pembayaran dengan modal sekutu yang keluar diakui sebagai bonus. Bonus akan
menambah modal sekutu yang tinggal berdasarkan rasio laba-rugi.
Bonus = Rp. 240.000.000 – Rp. 208.000.000 = Rp. 32.000.000

Modal sekutu yang tinggal bertambah besar:


- Modal S = 30% /60% * Rp. 32.000.000 = Rp. 16.000.000
- Modal A = 30%/60% * Rp. 32.000.000 = Rp. 16.000.000

Jurnal atas keluarnya sekutu M:


Modal M Rp. 240.000.000
Modal S Rp. 16.000.000
Modal A Rp. 16.000.000
Kas Rp. 208.000.000

25
BAB III
PENUTUP

3.1. KESIMPULAN
Dengan masuknya seorang sekutu kerja yang baru atau keluarnya sekutu kerja atau
meninggalnya seorang sekutu maka akan membubarkan persetujuan bersama persekutuan. Suatu
persekutuan dikatakan bubar apabila persetujuan awal para sekutu untuk menjalankan usaha
bersama-sama dilanggar dan tidak berlaku lagi.
Dengan bubarnya persekutuan firma, maka wewenang para sekutu untuk menjalankan
perusahaannya juga berakhir. Walaupun pembubaran ini mengakhiri asosiasi perorangan-
perorangan untuk tujuan awal mereka, namun hal ini tidak berarti pembubaran perusahaan atau
bahkan hambatan dalam kelangsungan hidupnya.
Masuknya sekutu baru dan keluarnya sekutu lama pada persekutuan akan mengakibatkan
pembubaran. Kondisi-kondisi yang menimbulkan pembubaran persekutuan yaitu : Pembubaran
oleh tindakan sekutu, pembubaran karena ketentuan Undang-undang, dan pembubaran oleh
Keputusan Pengadilan.

3.2. SARAN
Adapun saran yang ingin penulis sampaikan adalah keinginan penulis atas partisipasi
para pembaca, agar sekiranya mau memberikan pendapat yang sehat dan bersifat membangun
demi kemajuan penulisan makalah ini.

26
DAFTAR PUSTAKA

Arifin, 2002. Pokok-pokok Akuntansi Lanjutan, Edisi Revisi, liberty, Yogyakarta.

Beams, Floyd A., Jusuf, Abadi, Amir, 2000. Akuntansi Keuangan Lanjutan di Indonesia,
Salemba Empat, Jakarta.

Ikatan Akuntan Indonesia, 2004. Standar Akuntansi Keuangan, Jakarta, Salemba Empat,
Jakarta.

http://www.slideshare.net/hermawatievi/makalah-likuidasi
http://www.slideshare.net/pramitharinda/bab-3pembubaranfirma

27