Anda di halaman 1dari 31

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Kedaruratan Psikiatri


Kedaruratan psikiatri merupakan cabang dari Ilmu Kedokteran Jiwa
dan Kedokteran Kedaruratan, yang dibuat untuk menghadapi kasus
kedaruratan yang memerlukan intervensi psikiatrik. Tempat pelayanan
kedaruratan psikiatri antara lain di rumah sakit umum, rumah sakit jiwa,
klinik dan sentra primer. Kasus kedaruratan psikiatrik meliputi gangguan
pikiran, perasaan dan perilaku yang memerlukan intervensi terapeutik
segera, antara lain: (Elvira, Sylvia D dan Gitayanti Hadisukanto, 2010)
a. Kondisi gaduh gelisah
b. Tindak kekerasan (violence)
c. Tentamen Suicidum/percobaan bunuh diri
d. Gejala ekstra piramidal akibat penggunaan obat
e. Delirium

Berdasarkan konsensus yang dikembangkan oleh American


Psychiatric Association (APA) menyebutkan bahwa kedaruratan psikiatri
adalah gangguan yang bersifat akut, baik pada pikiran, perilaku, atau
hubungan sosial yang membutuhkan intervensi segera yang didefinisikan
oleh pasien, keluarga pasien, atau masyarakat. (Trent, 2013)

Tujuan pelayanan kedaruratan psikiatri adalah untuk:

1) Memberikan perawatan tepat waktu atas kedaruratan psikiatri,

2) Adanya akses perawatan yang bersifat lokal dan berbasis


masyarakat,

3) Menyingkirkan etiologi perilaku pasien yang mungkin mengancam


nyawa atau meningkatkan morbiditas medis, dan

4) Berjalannya kesinambungan perawatan. (Allen et al., 2002; Sadock


and Kaplan, 2009)
Tujuan utama dalam melakukan evaluasi kedaruratan psikiatrik
adalah menilai kondisi pasien yang sedang dalam krisis secara cepat dan
tepat. Tindakan segera yang harus dilakukan secara tepat adalah:

a. Menentukan diagnosis awal


b. Melakukan identifikasi faktor-faktor presipitasi dan kebutuhan
segera pasien
c. Memulai terapi atau merujuk pasien ke fasilitas yang sesuai

Proses evaluasi di kedaruratan psikiatri antara lain:

1) Wawancara kedaruratan psikiatri,

2) Pemeriksaan fisik, dan

3) Pemeriksaan penunjang.

Hal hal yang sebaiknya dievaluasi pada pasien yang dirujuk ke


bagian psikiatri adalah risiko bunuh diri, risiko kekerasan
(violence), dan penilaian psikososial.

Dalam proses evaluasi, dilakukan:

1. Wawancara Kedaruratan Psikiatri

Wawancara dilakukan lebih terstruktur, secara umum fokus


wawancara ditujukan pada keluhan pasien dan alasan dibawa ke
unit gawat darurat. Keterangan tambahan dari pihak pengantar,
keluarga, teman atau polisi dapat melengkapi informasi, terutama
pada pasien mutisme, tidak kooperatif, negativistik atau inkoheren.
Hubungan dokter-pasien sangat berpengaruh terhadap informasi
yang diberikan. Karenanya diperlukan kemampuan mendengar,
melakukan observasi dan melakukan interpretasi terhadap apa yang
dkatakan ataupun yang tidak dikatakan oleh pasien, dan ini
dilakukan dalam waktu yang cepat.
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan psikiatrik standar meliputi: riwayat perjalanan
penyakit, pemeriksaan status mental, pemeriksaan status
fisik/neurologik dan jika perlu pemeriksaan penunjang. Yang
pertama dan terpenting yang harus dilakukan oeh seorang dokter di
unit gawat darurat adalah menilai tanda-tanda vital pasien. Tekanan
ddarah, suhu, nadi adalah sesuatu yang mudah diukur dan dapat
memberikan informasi bermakna. Misalnya seorang yang gaduh
gelisah dan mengalami halusinasi, demam, frekuensi nadi 120 per
menit dan tekanan darah meningkat, kemungkinan besar
mengalami delirium dibandingkan dengan suatu gangguan
psikiatrik. Lima hal yang harus ditentukan sebelum menangani
pasien selanjutnya:

a. Keamanan pasien
Sebelum mengevaluasi pasien, dokter harus dapat
memastikan bahwa situasi di UGD, jumlah pasien di
ruangan tersebut aman bagi pasien. Jika intervensi verbal
tidak cukup atau kontraindikasi, perlu dipikirkan pemberian
obat atau pengekangan.
b. Medik atau psikiatrik?
Penting bagi dokter untuk menilai apakah kasusnya medik,
psikiatrik atau kombinasi keduanya, sebab penanganannya
akan jauh berbeda. Kondisi medik umum seperti trauma
kepala, infeksi berat dengan demam inggi, kelainan
metabolisme, intoksikasi atau gejala putus zat seringkali
menyebabkan gangguan fungsi mental yang menyerupai
gangguan psikiatrik umumnya. Dokter gawat darurat tetap
harus menelusuri semua kemungkinan penyebab gangguan
fungsi mental yang tampak.
c. Psikosis
Yang penting bukanlah penegakan diagnosisnya, tetapi
seberapa jauh ketidakmampuannya dalam menilai realita
dan buruknya tilikan. Hal ini dapat mempengaruhi sikapnya
terhadap pertolongan yang kita berikan serta kepatuhannya
dalam berobat.
d. Suicidal atau homicidal
Semua pasien dengan kecenderungan bunuh diri harus
dobservasi secara ketat. Perasaan-perasaan yang berkaitan
dengan tindak kekerasan atau pikiran bunuh diri harus
selalu ditanyakan kepada pasien.
e. Kemampuan merawat diri sendiri
Sebelum memulangkan pasien, harus dipertimbangkan
apakah pasien mampu merawat dirinya sendir, mampu
menjalankan saran yang dianjurkan. Ketidakmampuan
pasien dan atau keluarganya untuk merawat pasien di
rumah merupakan salah asatu indikasi rawat inap.

Adapun indikasi rawat inap antara lain adalah:


a. Bila pasien membahayakan diri sendiri atau orang lain,
b. Bila perawatan di rumah tidak memadai, dan
c. Perlu observasi lebih lanjut.

Pertimbangan Dalam Penegakan Diagnosis Dan Terapi


1. Diagnosis
Meskipun pemeriksaan gawat darurat tidak harus lengkap, namun ada
beberapa hal yang harus dilakukan sesegera mungkin untuk keakuratan
data , misalnya penapisan toksikologi ( tes urin untuk opioid, amfetamin),
pemeriksaan radiologi, EKG dan tes laboratorium. Data penunjang seperti
catatan medik sebelumnya, informasi dari sumber luar juga dikumpulkan
sebelum memulai tindakan.
2. Terapi
Pemberian terapi obat atau pengekangan harus mengikuti prinsip terapi
Maximum tranquilization with minimum sedation. Tujuannya adalah
untuk:
a. Membantu pasien untuk dapat mengendalikan dirinya kembali
b. Mengurangi/menghilangkan penderitaannya
c. Agar evaluasi dapat dilanjutkan sampai didapat suatu kesimpulan
akhir
Obat-obatan yang sering digunakan adalah:
a. Low-dose High-potency antipsychotics seperti haloperidol,
trifluoperazine, perphenazine dsb
b. Atypical antipsychotics, seperti risperidone, quetiapine, olanzapine.
c. Injeksi benzodiazepine. Kombinasi benzodiazepine dan antipsikotik
kadang sangat efektif.

Hal-hal yang harus diperhatikan di seting kedaruratan yaitu,

1) Agitasi dan agresi,


2) Withdrawal (lepas zat),

3) Intoksikasi zat,

4) Kekerasan domestik,

5) Kekerasan pada anak,

6) Kekerasan pada lansia, dan

7) Perkosaan. (Heriani, et al., 2010; Trent, 2013; Sadock and Kaplan,


2009)

2.2 Penatalaksanaan Kedaruratan Psikiatri


Perawatan di kedaruratan psikiatri biasanya berfokus pada manajemen
perilaku dan gejala. Proses pengobatan dilakukan bersamaan dengan proses
evaluasi (jika pemberian terapi telah memungkinkan). Wawancara awal
tidak hanya berfungsi untuk memperoleh informasi diagnostik yang penting,
tetapi juga untuk terapi. Dalam melakukan proses evaluasi, bila fasilitas
tidak memadai, dapat dilakukan perujukan pada fasilitas kesehatan terdekat
yang memiliki fasilitas yang cukup untuk penatalaksanannya. (Sadock and
Kaplan, 2009; Trent, 2013)
Modalitas terapi yang digunakan untuk seting kedaruratan psikiatri
antara lain: 1) farmakoterapi, 2) seclusion (isolasi) dan restraint (fiksasi
fisik), dan 3) psikoterapi. (Knox dan Holloman, 2011; Riba et al., 2010;
Sadock and Kaplan, 2009)

2.3 Intervensi Psikososial Pada Kedaruratan Psikiatri

Kedaruratan psikiatri memerlukan penatalaksanaan dalam waktu


yang tepat dan keahlian interpersonal. Suatu krisis merupakan kesempatan
untuk membantu dan jika memungkinkan melakukan perubahan, sehingga
suatu pelayanan krisis tidak hanya sesederhana mengumpulkan data dan
mengirim pasien ke tempat lain, namun diperlukan suatu proses
interpersonal yang terjadi antara pasien dan staf di kedaruratan. (Allen et
al., 2002)
Intervensi psikososial secara umum berupa beberapa bentuk
psikoterapi, pelatihan sosial, dan pelatihan vokasional. Penatalaksanaan ini
sangat bermanfaat untuk menyediakan dukungan, edukasi, dan panduan
kepada orang-orang yang mengalami gangguan mental beserta
keluarganya. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa salah satu manfaat
dari terapi ini adalah dapat membantu individu mengurangi efek negatif
dari gangguan yang dideritanya dan meningkatkan fungsi hidupnya
(tampak melalui sedikitnya waktu hospitalisasi, dan kurangnya kesulitan
dalam mengerjakan kegiatan di rumah, sekolah, atau pekerjaannya).
(Duckworth K. dan Freedman J., 2012)

Pada seting kedaruratan, tujuan intervensi psikososial adalah untuk


keamanan pasien, melakukan penilaian, jika memungkinkan untuk
dilakukan fasilitasi terhadap perubahan meski sedikit namun bermakna
pada kondisi diri pasien. (Allen et al., 2002)
Komponen atau fase intervensi psikososial di kedaruratan psikiatri
yaitu:

1. Membangun Hubungan (Building an Alliance)

Berartinya suatu wawancara tergantung dari sifat hubungan terapis


dengan pasien. Agar wawancara dapat menghasilkan data yang dapat
diandalkan (reliable), hendaknya senantiasa diusahakan menciptakan
dan memelihara hubungan yang optimal antara dokter dengan pasien.
Wawancara tidak dapat dipisahkan antara sifat terapeutik dan
penegakan diagnosis. Meski beberapa staf profesional telah memiliki
intuisi bagaimana membangun suatu hubungan dengan pasien, beberapa
teknik berikut ini dapat bermanfaat yaitu: memenuhi kebutuhan pasien,
gunakan pertanyaan alliance-building pada fase awal penilaian dan
tunda pertanyaan yang bersifat alliance-deflecting, menunjukkan
empati, bantu pasien mengungkapkan aspek emosional yang tidak
menyenangkan pada saat perujukan atau saat terapi sebelumnya, dan
secara langsung atau tidak langsung menanyakan perasaan pasien
mengenai terapi atau sakit yang dialaminya. (Allen et al., 2002; Elvira,
2005)

2. Menghadapi Krisis Melalui Proses Stabilisasi dan Intervensi

Intervensi krisis adalah suatu metode yang diberikan segera pada


seseorang yang mengalami suatu peristiwa yang dapat mengakibatkan
gangguan pada mental dan fisik. Secara ringkas tujuan dari intervensi
krisis adalah (1) stabilisasi, (2) meredakan tanda dan gejala akut dari
distres, dan (3) restorasi dari fungsi adaptasi independen jika mungkin
atau fasilitasi akses menuju ke perawatan lebih lanjut. (Dass-
Brailsford, 2007; Roberts, 2005)

Prinsip intervensi krisis menggunakan model ABC, yang dimulai


dari mengidentifikasi persepsi pasien terhadap kejadian yang memicu
krisis. Intervensi ini baik jika dimulai dalam 4-6 minggu terjadinya
krisis. Model ABC merupakan proses intervensi 3 tahap, terdiri dari
A=Achieving Rapport (membangun hubungan), B=Beginning of
Problem Identification (mulai mengidentifikasi problem yang terjadi),
dan C=Coping. Model ini digunakan dengan tujuan mengembalikan
individu kepada level fungsinya sebelum krisis. (Khouzam et al., 2007)

3. Melakukan Psikoterapi (Therapy Work)

Fase ketiga pada intervensi psikososial adalah pengenalan


psikoterapi dan kemudian memulai melakukan psikoterapi tersebut.
Tantangan dalam mengenalkan elemen psikoterapi di seting kedaruratan
adalah banyak karakteristik terapi yang biasanya dilakukan di klinik
tidak dapat dilakukan di seting kedaruratan, hal ini karena lingkungan
kedaruratan yang berisik, privacy minimal, tuntutan kerja staf
profesional IRD yang bertumpang tindih sehingga membingungkan
pasien, dan dibutuhkan waktu yang cepat untuk membangun hubungan
terapeutik. (Allen et al., 2002)

Secara umum terdapat tiga karakteristik terapi yang dapat


diaplikasikan di seting kedaruratan psikiatri, yaitu perilaku
(behavioral), kognitif, dan dinamik. Psikoedukasi, pendekatan keluarga
dan kultur juga penting, namun hanya dipandang sebagai modifikasi
pada awal wawancara. Mayoritas pasien akan mendapatkan medikasi,
yang dapat meningkatkan efisiensi dan keamanan intervensi
psikoteraputik, serta diperlukan pasien dalam kondisi tidak tersedasi
atau terganggu karena efek samping obat. (Allen et al., 2002)
Berikut ini adalah penatalaksanaan intervensi psikososial pada
kedaruratan psikiatri tertentu, yaitu:
1. Agitasi

Strategi klinis inti untuk mengelola agitasi adalah penggunaan


strategi interpersonal yang menekankan teknik intervensi verbal atau
perilaku. Terdapat metode untuk intervensi verbal yang disebut “verbal
deescalation”. Pendekatan ini merupakan langkah awal untuk mengatasi
pasien agitasi, mencakup respon verbal dan non verbal yang digunakan
untuk meredakan atau mengurangi situasi yang potensial terjadi
kekerasan. (Trent, 2013; Velayudhan & Mohandas, 2009)
2. Bunuh Diri

Pilihan terapi yang akan dilakukan berdasarkan penilaian risiko


bunuh diri yang didapatkan melalui evaluasi psikiatrik. Tujuan
intervensi psikososial termasuk mencapai perbaikan dalam hubungan
interpersonal, keterampilan coping, fungsi psikososial, dan manajemen
afek. beberapa konsensus klinis yang menunjukkan bahwa intervensi
psikososial dan psikoterapeutik spesifik memiliki manfaat untuk
mengurangi risiko bunuh diri. (Jacobs dan Brewer, 2004; Jacobs et al.,
2003)
Klinisi hendaknya memperhatikan isu-isu di bawah ini untuk
perencanaan penatalaksanaan segera, yaitu 1) Do no harm. Jangan
berikan medikasi kepada pasien yang mempunyai potensi toksik dan
overdosis. 2) Hindarkan pasien dari hal-hal dan benda-benda berbahaya
yang bisa menyebabkan bunuh diri berulang. 3) Berikan harapan kepada
pasien.

Klinisi hendaknya mencoba untuk membantu pasien memahami


problemnya dan membantu untuk penyelesaiannya. (Allen et al, 2002;
Riba et al., 2010)
3. Kekerasan Domestik

Intervensi terhadap pasien yang mengalami kekerasan domestik


yang dibawa ke IRD adalah memfasilitasi secara independen,
melakukan formulasi untuk „exit-plan‟, edukasi pasien, serta
konseling dan kelompok pendukung. (Khouzam et al., 2007)

Identifying, preventing, and reducing


domestic violence and abuse

Plan services
Training

Health and social Training and referral


care professionals pathway for GP practices
and other agencies

Work in partnership to prevent domestic


violence and abuse
Develop an integrated commissioning
strategy

Commission and evaluate programs for Establish integrated care pathways and
perpetrators information sharing protocols

Remove obstacles to people disclosing


domestic violence and abuse

Ask about domestic violence and ensure Identify, and when necessary, refer
formal referral pathways are in place children and young people at risk

Provide tailored support and advocacy Provide children and young people at
risk with specialist services

Support people with mental health


conditions

Gambar 1 : Domestic Violence and Abuse Overview (NICE,


2014)

4. Perkosaan

Pemeriksaan hendaknya dilakukan oleh staf profesional yang telah


memiliki kemampuan untuk tidak hanya melakukan pemeriksaan
menyeluruh namun juga mampu mengumpulkan bukti-bukti yang ada
pada pasien. Pasien juga sebaiknya juga didampingi oleh konselor krisis
atau advokat selama proses pemeriksaan evaluasi. Sesi awal intervensi
psikoterapi mencakup unsur-unsur exposure therapy dan cognitive
restructuring, membantu pasien mengenai respon stres, meminimalkan
pasien menghindari kenangan yang menyakitkan, dan memaksimalkan
reintegrasi ke dalam rutinitas kehidupan. Krisis intervensi pada pasien
korban perkosaan menjadi intervensi yang bersifat cepat, singkat, dan
fokus, serta dirancang untuk menstabilkan individu dan membantu
mereka mengatasi situasi. Terapi segera diperlukan untuk membantu
pasien dalam memperbaiki distorsi persepsi, mengurangi rasa bersalah,
menggunakan koping yang efektif, dan memfasilitasi korban untuk
hubungan sosial yang lebih luas serta dukungan dari keluarga. (Riba
et.al 2010; Mezey, 1997)

5. Kekerasan Pada Anak (Child Abuse)

Evaluasi dilakukan secara komprehensif dan penatalaksaan awal


atau melakukan perujukan yang sesuai pada anak yang mengalami
kekerasan untuk meminimalisir konsekuensi jangka panjang akibat
kekerasan yang dialaminya. Anak yang mengalami kekerasan seksual
beserta keluarganya memerlukan penatalaksanaan yang profesional.
Psikiater dapat membantu mengembalikan rasa harga diri anak,
menghadapi perasaan bersalah karena kekerasan yang dialaminya, dan
memulai proses untuk mengatasi trauma anak. Penatalaksanaan yang
baik dapat mengurangi risiko masalah pada anak berkembang menjadi
lebih serius pada saat telah dewasa. Untuk orang tua anak dapat
dilakukan terapi yang bersifat mendukung, dilakukan pelatihan orang
tua, dan manajemen marah. Dukungan dari orang tua, sekolah, dan
teman sebaya merupakan hal yang sangat penting untuk menciptakan
perasaan aman pada anak. (Khouzam et al., 2007; Guerrero dan
Piasecki, 2008)

6. Kekerasan Pada Lansia (Elder Abuse)

Penatalaksanaan segera difokuskan pada penanganan manifestasi


fisik akibat kekerasan yang dialami lansia dan menjamin keamanan
pasien. Tujuan intervensi adalah agar lansia tersebut mampu
mempertahankan kemandiriannya seaman mungkin. Harus dilakukan
evaluasi terhadap kelangsungan program, terapi fisik, bantuan kesehatan
di rumah, dan alat bantu seperti kursi roda, alat bantu dengar, dan
kacamata. Klinisi di IRD juga hendaknya berkonsultasi dengan tim
multidisipliner dari pekerja sosial yang ada, klinisi lain, perawat, dan
administrator untuk penanganan kasus ini. Tujuan akhir penatalaksanaan
adalah agar para lansia dapat memuaskan dan menikmati hidupnya.
Melaporkan kekerasan tergantung pada hukum lokal yang berlaku,
status klinis, dan derajat kemandirian atau disfungsi korban kekerasan.
(Khouzam et al., 2007).

1) Keadaan Gaduh Gelisah


Keadaan gaduh gelisah bukanlah diagnosis dalam arti kata sebenarnya,
tetapi hanya menunjuk pada suatu keadaan tertentu, suatu sindrom dengan
sekelompok gejala tertentu. Keadaan gaduh gelisah dipakai sebagai sebutan
sementara untuk suatu gambaran psikopatologis dengan ciri-ciri utama gaduh
dan gelisah. (Maramis dan Maramis, 2009).
A. Etiologi
Keadaan gaduh gelisah merupakan manifestasi klinis salah satu jenis
psikosis (Maramis dan Maramis, 2009):
1. Delirium
2. Skizofrenia katatonik
3. Gangguan skizotipal
4. Gangguan psikotik akut dan sementara
5. Gangguan afektif bipolar, episode kini manik dengan gejala
psikotik
6. Amok

1. Psikosis karena gangguan mental organik: delirium


Pasien dengan keadaan gaduh-gelisah yang berhubungan
dengan sindroma otak organik akut menunjukkan kesadaran yang
menurun. Sindroma ini dinamakan delirium. Istilah sindroma
otak organik menunjuk kepada keadaan gangguan fungsi otak
karena suatu penyakit badaniah (Maramis dan Maramis, 2009).
Penyakit badaniah ini yang menyebabkan gangguan fungsi
otak itu mungkin terdapat di otak sendiri dan karenanya
mengakibatkan kelainan patologik-anatomik (misalnya meningo-
ensefalitis, gangguan pembuluh darah otak, neoplasma
intracranial, dan sebagainya), atau mungkin terletak di luar otak
(umpamanya tifus abdominalis, pneumonia, malaria, uremia,
keracunan atropine/kecubung atau alcohol, dan sebagainya) dan
hanya mengakibatkan gangguan fungsi otak dengan manifestasi
sebagai psikosa atau keadaan gaduh-gelisah, tetapi tidak
ditemukan kelainan patologik-anatomik pada otak sendiri
(Maramis dan Maramis, 2009).
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa pada sindrom otak
organik akut biasanya terdapat kesadaran menurun sedangkan
pada sindrom otak organik menahun biasanya terdapat dementia.
Akan tetapi suatu sindrom otak organik menahun (misalnya
tumor otak, demensia paralitika, aterosklerosis otak, dan
sebagainya) dapat saja pada suatu waktu menimbulkan psikosis
atau pun keadaan gaduh gelisah. Untuk mengetahui penyebabnya
secara lebih tepat, perlu sekali dilakukan evaluasi internal dan
neurologis yang teliti (Maramis dan Maramis, 2009).
2. Skizofrenia dan gangguan skizotipal
Bila kesadaran tidak menurun, maka biasanya keadaan
gaduh gelisah itu merupakan manifestasi suatu psikosis dari
kelompok ini, yaitu psikosis yang tidak berhubungan atau sampai
sekarang belum diketahui dengan pasti adanya hubungan dengan
suatu penyakit badaniah seperti pada gangguan mental organik.
Skizofrenia merupakan psikosis yang paling sering didapat
di negara kita. Secara mudah dapat dikatakan bahwa bila
kesadaran tidak menurun dan terdapat inkoherensi serta afek-
emosi yang inadequate, tanpa frustasi atau konflik yang jelas
maka hal ini biasanya suatu skizofrenia. Diagnosa kita diperkuat
bila kelihatan juga tidak ada perpaduan (disharmoni) antara
berbagai aspek kepribadian seperti proses berpikir, afek-emosi,
psikomotorik dan kemauan (kepribadian yang retak, terpecah-
belah atau bercabang = schizo; jiwa = phren), yaitu yang satu
meningkat, tetapi yang lain menurun. Pokok gangguannya
terletak pada proses berpikir (Maramis dan Maramis, 2009).
Dari berbagai jenis skizofrenia, yang sering menimbulkan
keadaan gaduh-gelisah ialah episode skizofrenia akut dan
skizofrenia jenis gaduh-gelisah katatonik. Di samping psikomotor
yang meningkat, pasien menunjukkan inkoherensi dan afek-
emosi yang inadequate. Proses berpikir sama sekali tidak realistik
lagi (Maramis dan Maramis, 2009).
3. Gangguan psikotik akut dan sementara
Gangguan ini timbul tidak lama sesudah terjadi stress
psikologik yang dirasakan hebat sekali oleh individu. Stress ini
disebabkan oleh suatu frustasi atau konflik dari dalam ataupun
dari luar individu yang mendadak dan jelas, umpamanya dengan
tiba-tiba kehilangan seorang yang dicintainya, kegagalan,
kerugian dan bencana.Gangguan psikotik akut yang biasanya
disertai keadaan gaduh-gelisah adalah gaduh-gelisah reaktif dan
kebingungan reaktif (Maramis dan Maramis, 2009).
4. Psikosis bipolar
Psikosisbipolar termasuk dalam kelompok psikosa afektif
karena pokok gangguannya terletak pada afek-emosi. Tidak jelas
ada frustasi atau konflik yang menimbulkan gangguan mental ini.
Belum ditemukan juga penyakit badaniah yang dianggap
berhubungan dengan psikosa bipolar, biarpun penelitian
menunjuk kearah itu. Tidak ditemukan juga disharmoni atau
keretakan kepribadian seperti pada skizofrenia; pada jenis depresi
ataupun mania, bila aspek afek-emosinya menurun, maka aspek
yang lain juga menurun, dan sebaliknya (Maramis dan Maramis,
2009).
Pada psikosa bipolar jenis mania tidak terdapat inkoherensi
dalam arti kata yang sebenarnya, tetapi pasien itu
memperlihatkan jalan pikiran yang meloncat-loncat atau
melayang (“flight of ideas”). Ia merasa gembira luar biasa (efori),
segala hal dianggap mudah saja. Psikomotorik meningkat,
banyak sekali berbicara (logorea) dan sering ia lekas tersinggung
dan marah (Maramis dan Maramis, 2009).
5. Amok
Amok adalah keadaan gaduh-gelisah yang timbul
mendadak dan dipengaruhi oleh faktor-faktor sosiobudaya.
Karena itu PPDGJ-III (Pedoman Penggolongan Diagnosa
Gangguan Jiwa ke-III di Indonesia) memasukkannya ke dalam
kelompok “Fenomena dan Sindrom yang Berkaitan dengan
Faktor Sosial Budaya di Indonesia” (“culture bound
phenomena”). Efek “malu” (pengaruh sosibudaya) memegang
peranan penting. Biasanya seorang pria, sesudah periode
“meditasi” atau tindakan ritualistic, maka mendadak ia bangkit
dan mulai mengamuk. Ia menjadi agresif dan destruktif, mungkin
mula-mula terhadap yang menyebabkan ia malu,tetapi kemudian
terhadap siapa saja dan apa saja yang dirasakan menghalanginya.
Kesadaran menurun atau berkabut (seperti dalam keadaan
trance). Sesudahnya terdapat amnesia total atau sebagian. Amok
sering berakhir karena individu itu dibuat tidak berdaya oleh
orang lain, karena kehabisan tenaga atau karena ia melukai diri
sendiri, dan mungkin sampai ia menemui ajalnya(Maramis dan
Maramis, 2009).

B. Menilai dan Memprediksi Perilaku Kekerasan


Tanda-tanda adanya perilaku kekerasan yang mengancam (Sadock, et al,
2007):
a. Pernah melakukan tindakan kekerasan beberapa saat yang lalu
b. Kata-kata keras /kasar atau ancaman akan kekerasan
c. Membawa benda-benda tajam atau senjata
d. Adanya perilaku agitatif
e. Adanya intoksikasi alkohol atau obat
f. Adanya pikiran dan perilaku paranoid
g. Adanya halusinasi dengar yang memerintahkan untuk melakukan
tindak kekerasan.
h. Kegelisahan katatonik
i. Episode manik
j. Episode depresi agitatif
k. Gangguan Kepribadian tertentu
Menilai resiko terjadinya perilaku kekerasan (Sadock, et al, 2007):
a. Adanya ide-ide untuk melakukan kekerasan
b. Adanya faktor demografik seperti jenis kelamin laki-laki, usia 15 –
24 tahun, status sosioekonomi yang rendah, dukungan sosial yang
rendah
c. Adanya riwayat kekerasan sebelumnya, penjudi, pemabuk,
penyalahgunaan zat psikoaktif,percobaan bunuh diri ataupun
melukai diri sendiri, psikosis
d. Adanya stresor (masalah pernikahan, kehilangan pekerjaan, dan
lainnya)
C. Tatalaksana
Bila seorang dalam keadaan gaduh gelisah dibawa kepada kita,
penting sekali kita harus bersikap tenang. Dengan sikap yang
meyakinkan, meskipun tentu waspada, dan kata-kata yang dapat
menenteramkan pasien maupun para pengantarnya, tidak jarang kita
sudah dapat menguasai keadaan (Maramis dan Maramis, 2009).
Bila pasien masih diikat, sebaiknya ikatan itu disuruh dibuka
sambil tetap berbicara dengan pasien dengan beberapa orang
memegangnya agar ia tidak mengamuk lagi. Biarpun pasien masih tetap
dipegang dan dikekang, kita berusaha memeriksanya secara fisik.
Sedapat-dapatnya tentu perlu ditentukan penyebab keadaan gaduh gelisah
itu dan mengobatinya secara etiologis bila mungkin (Maramis dan
Maramis, 2009).
Suntikan intramuskular suatu neuroleptikum yang mempunyai
dosis terapeutik tinggi (misalnya chlorpromazine HCL), pada umumnya
sangat berguna untu mengendalikan psikomotorik yang meningkat. Bila
tidak terdapat, maka suntikan neuroleptikum yang mempunyai dosis
terapeurik rendah, misalnya trifluoperazine, haloperidol (5 – 10 mg), atau
fluophenazine dapat juga dipakai, biarpun efeknya tidak secepat
neuroleptikum kelompok dosis terapeutik tinggi. Bila tidak ada juga,
maka suatu tranquailaizer pun dapat dipakai, misalnya diazepam (5 – 10
mg), disuntik secara intravena, dengan mengingat bahwa tranquilaizer
bukan suatu antipsikotikum seperti neuroleptika, meskipun kedua-duanya
mempunyai efek antitegang, anticemas dan antiagitasi (Maramis dan
Maramis, 2009).
Efek samping neuroleptika yang segera timbul terutama yang
mempunyai dosis terapeutik tinggi, adalah hipotensi postural, lebih-lebih
pada pasien dengan susunan saraf vegetatif yang labil atau pasien lanjut
usia. Untuk mencegah jangan sampai terjadi sinkop, maka pasien jangan
langsung berdiri dari keadaan berbaring, tetapi sebaiknya duduk dahulu
kira-kira satu menit (bila pasien sudah tenang) (Maramis dan Maramis,
2009).
Penjagaan dan perawatan yang baik tentu juga perlu, mula-mula
agar ia jangan mengalami kecelakaan, melukai diri sendiri, menyerang
orang lain atau merusak barang-barang. Bila pasien sudah tenang dan
mulai kooperatif, maka pengobatan dengan neuroleptika dilanjutkan per
oral (bila perlu suntikan juga dapat diteruskan). Pemberian makanan dan
cairan juga harus memadai. Kita berusaha terus mencari penyebabnya,
bila belum diketahui, terutama bila diduga suatu sindrom otak organik
yang akut. Bila ditemukan, tentu diusahakan untuk mengobatinya secara
etiologis (Maramis dan Maramis, 2009).

Gambar 2: Diagram-alur penanggulangan keadaan gaduh-gelisah

Pasien dengan amok, bila sampai kepada kita, biasanya sudah tidak
mengamuk lagi, kita tinggal berusaha tambah menentramkan saja dan
mengobati keadaan fisik bila sudah terganggu sewaktu dia dalam keadaan
amok. Psikosis skizofrenia dan bipolar memerlukan pengobatan jangka
panjang dengan neuroleptika (Maramis dan Maramis, 2009).

2) Tindak kekerasan (violence)


Violence atau tindak kekrasan adalah agresi fisik yang dilakukan
oleh seseorang terhadap orang lain. Jika hal itu diarahkan kepada dirinya
sendiri, disebut mutilasi diri atau tingkah laku bunuh diri (suicidal
behavior). Tindak kekerasan dapat timbul akibat berbagai gangguan
psikiatrik, tetapi dapat pula terjadi pada orang biasa yang tidak dapat
mengatasi tekanan hidup sehari-hari dengan cara yang lebih baik.

A. Gambaran klinis dan diagnosis


Gangguan psikiatrik yang sering berkaitan dengan tindak kekerasan
adalah:
a. Gangguan psikotik, seperti skizofrenia dan manik, terutama bila
paranoid dan mengalami halusinasi yang bersifat suruhan
(commanding hallucination),
b. Intoksikasi alkohol atau zat lain,
c. Gejala putus zat akibat alkohol atau obat-obat hipnotik-seddatif
d. Katatonik furor
e. Depresi agitatif
f. Gangguan kepribadian yang ditandai dengan kemarahan dan
gangguan pengendalian impuls (misalnya gangguan kepribadian
ambang dan antisosial),
g. Gangguan mental organik, terutama yang mengenai lobus frontalis
dan temporalis otak.
Faktor risiko lain terjadinya tindak kekerasan adalah :
a. Adanya pernyataan seseorang bahwa ia berniat melakukan tindak
kekerasan,
b. Adanya rencana spesifik,
c. Adanya kesempatan atau suatu cara untuk terjadinya kekerasan,
d. Laki-laki,
e. Usia muda (15-24 tahun),
f. Tatus sosioekonomi rendah,
g. Adanya riwayat melakukan tndak kekrasan,
h. Tindakan antisosial lainnya
i. Riwayat percobaan bunuh diri.
Tujuan pertama menghadap pasien yang potensial untuk melakukan
tindak kekerasan adalah mencegah kejadian itu. Tindakan selanjutnya
adalah membuat diagnosa sebagai dasar rencana penatalaksanaan,
termasuk cara-cara untuk memperkecil kemungkinan terjadinya tindak
kekerasan berikutnya.

B. Panduan wawancara dan Psikoterapi


i. Bersikaplah suportif dan tidak mengancam, tegas dan berikan batasan
yang jelas bahwa kalau perlu pasien dapat diikat (physical restraints).
Tentukan batasan itu dengan memberikan pilihan (misalnya pilih obat
atau diikat), dan bukan dengan menyuruh pasien secara provokatif:
“minum tablet ini sekarang”
ii. Katakan langsung kepada pasien bahwa tindak kekerasan tidak dapat
diterima,
iii. Tenangkan pasien bahwa ia aman di sini. Tunjukkan dan tularkan
sikap tenang dan penuh kontrol.
iv. Tawarkan obat kepada pasien untuk membantunya lebih tenang.
C. Evaluasi dan penatalaksanaan
i. Lindungi diri anda
- Jangan pernah mewawancarai pasien yang bersenjata
- Jangan pernah mewawancarai pasien yang bersikap beringas
(violent) seorang diri atau di ruang tertutup. Lepaskan hal-hal yang
bisa dijambak/ditarik seperti kalung atau dasi.
- Jangan melakukan pengikatan pasien seorang diri, serahkan urusan
itu pada anggota staf yang terlatih.
- Duduklah dengan jarak paling tidak sepanjang lengan
- Jangan menantang atau menentang pasien psikotik.
- Jangan duduk berdekatan dengan pasien paranoid, yang muungkin
merasa bahwa anda mengancamnya
- Waspadalah terhaddap tanda-tanda munculnya kekrasan. Selalu
persiapkan rute untuk melarikan diri seandainya pasien menyerrnag
anda. Jangan pernah membelakangi pasien
ii. Waspada terhadap tanda-tanda munculnya kekerasan, antara lain:
- Adanya kekerasan terhadap orang atau benda yang terjadi belum
lama ini, gigi yang dikatupkan serta telapak yang dikepal,
- Ancaman verbal,
- Agitasi psikomotor,
- Intoksikasi alkohol atau obat atau zat lain,
- Waham kejar, dan
- Senjata atau benda-benda yang dapat digunakan sebagai senjata
(seperti garpu, asbak)
iii. Pastikan bahwa terdapat jumlah staf yang cukup untuk mengikat
pasien secara aman.
iv. Pengikatan pasien hanya dilakukan oleh mereka yang telah terlatih.
Biasanya setelah pasien diikat diberikan benzodiazepin atau
antipsikotik untuk menenangkan pasien.
v. Lakukan evaluasi diagnostik yang tepat, meliputi TTV, pemeriksaan
fisik dan wawancara pskiatrik.
D. Terapi Psikofarmaka
Terapi obat tergantung diagnosisnya. Biasanya untuk menenagkan
pasien diberikan obat antipsikotik atau benzodiazepin:
- Flufenazine, trifluoperazine atau haloperidol 5mg per oral atau IM,
- Olanzapine 2,5-10 mg per IM, maksimal 4 injeksi per hari, dengan dosis
rata-rata per hari 13-14mg,
- Atau lorazepam 2-4 mg, diazepam 5-10mg per IV secara pelahan (dalam
2 menit).
Bila dalam 20-30 menit kegelisahan tidak berkurang, ulangi
dengan dosis yang sama. Hindari pemberian antipsikotik pada pasien
yang mempunyai risiko kejang. Utnuk penderia epilepsi, mula-mula
berikan antikonvulsan misalnya carbamazepine lalu berikan
benzodiazepine. Pasien yang menderita ganggauan organik kronik
seringkali memberikan respon yang baik dengan pemberian ß-blocker
seperti propanolol. (Elvira, Sylvia D dan Gitayanti Hadisukanto, 2010)

3) Bunuh diri (suicide)/ Tentamen Suicidum


Bunuh diri atau suicide atau tentamen suicidum adalah kematian
yang diniatkan dan dilakukan oleh seseorang terhadap dirinya sendiri
(Elvira, Sylvia D dan Gitayanti Hadisukanto, 2010) atau segala perbuatan
seseorang yang dapat mengakhiri hidupnya sendiri dalam waktu singkat
(Maramis dan Maramis, 2009).
Ada macam-macam pembagian bunuh-diri dan percobaan bunuh-
diri. Pembagian Emile Durkheim masih dapat dipakai karena praktis,
yaitu:
1. Bunuh diri egoistik

Individu ini tidak mampu berintegrasi dengan masyarakat. Hal


ini disebabkan oleh kondisi kebudayaan atau karena masyarakat
yang menjadi individu itu seolah-olah tidak berkepribadian.
Kegagalan integrasi dalam keluarga dapat menerangkan mengapa
mereka tidak menikah lebih rentan untuk melakukan percobaan
bunuh diri dibandingkan dengan mereka yang menikah.
Masyarakat daerah pedesaan mempunyai integrasi social yang
lebih baik dari pada daerah perkotaan, sehingga angka suiside juga
lebih sedikit.

2. Bunuh diri altruistik

Individu itu terikat pada tuntutan tradisi khusus ataupun ia


cenderung untuk bunuh diri karena identifikasi terlalu kuat dengan
suatu kelompok, ia merasa bahwa kelompok tersebut sangat
mengharapkannya. Contoh: “Hara-kiri: di Jepang, “puputan” di Bali
beberapa ratus tahun yang lalu, dan di beberapa masyarakat primitive
yang lain. Suiside macam ini dalam jaman sekarang jarang terjadi,
seperti misalnya seorang kapten yang menolak meninggalkan
kapalnya yang sedang tenggelam.

3. Bunuh diri anomik

Hal ini terjadi bila tedapat gangguan keseimbangan integrasi antara


individu dengan masyarakat, sehingga individu tersebut
meningglakan norma-norma kelakuan yang biasa. Individu itu
kehilangan pegangan dan tujuan. Masyarakat atau kelompoknya tidak
dapat memberikan kepuasan kepadanya karena tidak ada pengaturan
dan pengawasan terhadap kebutuhan-kebutuhannya. Hal ini
menerangkan mengapa percobaan bunuh diri pada orang cerai
pernikahan lebih banyak dari pada mereka yang tetap dalam
pernikahan. Golongan manusia yang mengalami perubahan ekonomi
yang drastis juga lebih mudah melakukan percobaan bunuh diri.
Helber Hendin mengemukakan beberapa hal psikodinamika bunuh-diri
sebagai berikut:

1. Kematian sebagai pelepasan pembalasan (“Death as retaliatory


abandonment”).

Suiside dapat merupakan usaha untuk mengurangi preokupasi


tentang rasa takut akan kematian. Individu mendapat perasaan
seakan-akan ia dapat mengontrol dan dapat mengetahui bilamana
dan bagaimana kematian itu.
2. Kematian sebagai pembunuhan terkedik (ke belakang) (“Death as
retroflexed murder”).
Bagi individu yang mengalami gangguan emosi hebat, suiside
dapat mengganti kemarahan atau kekerasan yang tidak dapat
direpresikan. Orang ini cenderung untuk bertindak kasar dan
suiside dapat merupakan penyelesaian mengenai pertentangan
emosi dengan keinginan untuk membunuh.
3. Kematian sebagai penyatuan kembali (“Death as reunion”).
Kematian dapat mempunyai arti yang menyenangkan, karena
individu itu akan bersatu kembali dengan orang yang telah
meninggal (reuni khayalan).

4. Kematian sebagai hukuman buat diri sendiri (“Death as self


punishment”).
Menghukum diri sendiri karena kegagalan dalam pekerjaan
jarang terjadi pada wanita, akan tetapi seorang ibu tidak mampu
mencintai, maka keinginan menghukum dirinya sendiri dapat
terjadi. Dalam rumah sakit jiwa, perasaan tak berguna dan
menghukum diri sendiri merupakan hal yang umum. Mula-mula
mungkin karena kegagalan, rasa berdosa karena agresi, individu
itu mencoba berbuat lebih baik lagi, tetapi akhirnya ia
menghukum diri sendiri untuk menjauhkan diri dari tujuan itu.
A. Faktor Risiko
Berikut ini faktor-faktor resiko untuk bunuh diri (Sadock, et al, 2007):
i. Jenis kelamin
Perempuan lebih banyak melakukan percobaan bunuh diri
dibanding laki-laki. Akan tetapi, keberhasilan bunuh diri lebih
tinggi pada laki-laki. Hal ini berkaitan dengan metode bunuh diri
yang dipilih. Laki-laki lebih banyak dengan gantung diri, meloncat
dari tempat tinggi, dengan senjata api. Perempuan lebih banyak
dengan overdosis obat-obatan atau menggunakan racun.
ii. Usia
Kasus bunuh diri meningkat seiring dengan bertambahnya
usia. Pada laki-laki, angka bunuh diri tertinggi pada usia di atas 45
tahun sedangkan pada perempuan angka bunuh diri tertinggi pada
usia di atas 55 tahun. Orang yang lebih tua lebih jarang melakukan
percobaan bunuh diri, tetapi lebih sering berhasil.
iii. Ras
Di Amerika Serikat ras kulit putih lebih banyak melakukan
bunuh diri dibanding ras kulit hitam.
iv. Status perkawinan
Pernikahan menurunkan angka bunuh diri, terutama jika
terdapat anak di rumah. Orang yang tidak pernah menikah dua kali
lebih beresiko untuk bunuh diri. Perceraian meningkatkan resiko
bunuh diri. Janda atau duda yang pasangannya telah meninggal
juga memiliki angka bunuh diri yang tinggi.
v. Pekerjaan
Semakin tinggi status sosial semakin tinggi resiko bunuh
diri, tetapi status sosial yang rendah juga meningkatkan resiko
bunuh diri. Pekerjaan sebagai dokter memiliki resiko bunuh diri
tertinggi dibanding pekerjaan lain. Spesialisasi psikiatri memiliki
resiko tertinggi, disusul spesialis mata dan spesialis anestesi.
Pekerjaan lain yang memiliki resiko tinggi untuk bunuh diri adalah
pengacara, artis, dokter gigi, polisi, montir, agen asuransi. Orang
yang tidak memiliki pekerjaan memiliki resiko lebih tinggi untuk
bunuh diri.
vi. Kesehatan fisik
Satu dari tiga orang yang melakukan bunuh diri memiliki
masalah kesehatan dalam 6 bulan sebelum bunuh diri. Hilangnya
mobilitas fisik, nyeri hebat yang kronik, pasien hemodialisis
meningkatkan resiko bunuh diri.
vii. Gangguan mental
Sekitar 95% dari semua orang yang mencoba atau
melakukan bunuh diri memiliki gangguan mental. Gangguan
mental tersebut terdiri dari depresi 80%, skizofrenia 10%, dan
demensia atau delirium 5%. Di antara semua pasien dengan
gangguan mental, 25% kecanduan juga kepada alkohol.
viii. Kecanduan alkohol
Sekitar 15% pasien kecanduan alkohol melakukan bunuh
diri. Sekitar 80% pasien bunuh diri akibat kecanduan alkohol
adalah laki-laki. Sekitar 50% dari pasien kecanduan alkohol yang
bunuh diri mengalami kehilangan anggota keluarga atau pasangan
dalam satu tahun terakhir.
ix. Gangguan kepribadian
Sebagian besar orang yang bunuh diri memiliki gangguan
kepribadian. Gangguan kepribadian merupakan faktor predisposisi
untuk gangguan depresi. Selain itu juga merupakan faktor
predisposisi untuk kecanduan alkohol. Gangguan kepribadian juga
dapat menyebabkan konflik dengan keluarga dan orang lain.
Gangguan Jiwa yang sering Berkaitan dengan Bunuh Diri, adalah
gangguan mood, keterantungan alkohol, skizofrenia. Pencegahan tindak
bunuh diri yang terbaik adalah dengan mendeteksi dini dan
menatalaksana gangguan jiwa yang mungkin menjadi faktor kontribusi
tadi.

B. Mengenali pasien yang berpotensi bunuh diri


Kemungkinan bunuh diri dapat terjadi apabila (Tomb, 2004):
a. Pasien pernah mencoba bunuh diri
b. Keinginan bunuh diri dinyatakan secara terang-terangan maupun
tidak, atau berupa ancaman: “kamu tidak akan saya ganggu lebih
lama lagi” (sering dikatakan pada keluarga)
c. Secara objektif terlihat adanya mood yang depresif atau cemas
d. Baru mengalami kehilangan yang bermakna (pasangan, pekerjaan,
harga diri, dan lain-lain)
e. Perubahan perilaku yang tidak terduga: menyampaikan pesan-
pesan, pembicaraan serius dan mendalam dengan kerabat,
membagi-bagikan harta/barang-barang miliknya.
f. Perubahan sikap yang mendadak: tiba-tiba gembira, marah atau
menarik diri.
C. Panduan Wawancara dan Psikoterapi
a. Pada waktu wawancaa, pasien mungkin secara spontan
menjelaskan adanya ide bunuh diri. Bila tidak, tanyakan langsung.
b. Mulailah dengan menanyakan:
- Apakah anda pernah merasa ingin menyerah saja?
- Apakah anda pernah merasa bahwa lebih baik kalau anda mati
saja?
c. Tanyakan isi pikiran pasien:
- Berapa sering pikiran ini muncul?
- Apakah pikiran tentang bunuh diri ini meningkat?
d. Selidiki :
- Apakah pasien bisa mendapatkan alat dan cara untuk melaukan
rencana bunuh dirinya?
- Apakah mereka sudah mengambilkah aktif, isalnya
mengumpulkan obat?
- Seberapa pesimiskah mereka?
- Aakah mereka bisa memikirkan bahwa kehidupannya akan
membaik?
D. Evaluasi dan Penatalaksanaan
Pertolongan pertama biasanya dilakukan secara darurat di rumah
(di tempat kejadian) dan atau di Unit Gawat Darurat di rumah sakit, di
bagian penyakit dalam atau bedah. Dilakukan pengobatan terhadap luka-
luka dan atau keracunan. Bila keracunan atau luka sudah dapat diatasi
maka dilakukan evaluasi psikiatrik. Tidak ada hubungan antara beratnya
gangguan fisik dengan beratnya gangguan psikologis. Penting sekali
dalam pengobatan untuk menangani juga gangguan mentalnya. Untuk
pasien dengan depresi dapat diberikan psikoterapi dan obat antidepresan
(Maramis dan Maramis, 2009).
Ketika sedang mengevaluasi pasien dengan kecendrungan bunuh
diri, jangan tinggalkan mereka sendiri di ruangan. Singkirkan benda-benda
yang dapat membahayakan dari ruang tersebut. Etika mengevaluasi pasien
yang baru melakukan percobaan bunuh diri, buatlah penilaian apakah hal
itu direncanakan atau dilakukan secara impulsif.
Penatalaksanaan tergantung dari diagnosis yang ditegakkan. Pasien
yang depresi berat boleh saja berobat jalan asalkan keluarganya dapat
mengawasi pasien secara ketat di ruma. De bunuh diri pada pasien
alkoholik umumnya hilang setelah sesudah menghentkan pengguanan
alkohol itu. Pasien dengan gangguan kepribadian akan berespon baik bila
mereka ditangani secara empatik dan dibantu untuk memecahkan masalah
dengancara rasionald an bertanggung jawab.
Rawat inap jangka panjang diperlukan bagi pasien yang cendrung
dan mempunyai kebiasaan melukai diri sendiri serta parasuicides.
Parasuicides yaitu mereka yang berulangkali melakukan hal-hal berbahaya
tetapi menyangkal adanya ide-ide bunuh diri. (Elvira, Sylvia D dan
Gitayanti Hadisukanto, 2010)
E. Terapi psikofarmaka
Seorang yang sedang dalam krisis karena baru ditinggal mati
biasanya akan berfungsi lebih baik setelah mendapat tranquilizer ringan,
tertama bila tidurnya terganggu. Obat pilihannya adalah golongan
benzodiazepine, misalnya lorazepam 3x1 mg per hari selama 2 minggu.
Jangan memberukan obat dalam jumlah banyak sekaligus terhdap
pasien(rrespkan sedikit-seikit saja) dan pasien harus kontrol dalam
bebeapa hari.

4) Sindroma Neuroleptik Maligna


Sindrom neuroleptik maligna adalah suatu sindrom toksik yang
behubungan dengan penggunaan obat antipsikotik. Gejalanya meliputi :
kekakuan otot, distonia, akinesia mutisme dan agitasi.
A. Gambaran Klinis dan Diagnosis
Ditandai oleh demam tinggi (dapat mencapai 41,5ºC), kekakuan
otot yang nyata sampai seperti pipa (lead-pipe rigidity), instabilitas
otonomik (takikardia, tekanan darah yang labil, keringat berlebih) dan
gangguan kesadaran. Kekakuan yang parah dapat menyebabkan
rhabdomyolysis, myaglobinuria dan akhirnya gagal ginjal. Penyulit lain
dapat berupa tombosis vena, emboli paru dan kematian. Biasanya terjadi
dalam hari-hari pertama pengguanaan antipsikotik pada saat dosis mulai
ditingkatkan, umunya dalam 10 hari pertama pengobatan antipsikotik.
Sindrom neuroleptik maligna paling mungkin terjadi pada pasien yang
menggunakan antipsikotik potensi tinggi dalam dosis tinggi atau dosis
yang meningkat cepat.
Menurut DSM-IV-TR, diagnosis sindrom neuroleptik maligna
ditegakkan jika terdapat demam dan kekakuan otot yang parah disertai
dengan 2 atau lebih gejala berikut:
- Diaforesis
- Disfagia
- Tremor
- Inkontinensia
- Penurunan kesadaran
- Mutism
- Takikardia
- Tekanan darah yang meningkat atau labil
- Leukositosis
- Bukti laboratorium adanya kerusakan otot rangka
B. Patofisiologi
Patofisiologi sindrom neuroleptik maligna belum diketahui secara
jelas. Timbulnya sindrom neuroleptik maligna akibat obat yang
menghambat reseptor D2 menghasilkan hipotesis bahwa penghambatan
reseptor D2 pada berbagai area di otak menjelaskan gejala klinis yang
timbul. Hambatan reseptor D2 di formatio retikularis dapat menurunkan
kesadaran. Hambatan reseptor D2 di jalur nigrostriatal dapat
menyebabkan rigiditas. Hambatan reseptor D2 di hipotalamus dapat
menyebabkan instabilitas otonom, gangguan pelepasan panas.
Hiperpireksia terjadi akibat disfungsi hipotalamus dan kekakuan otot
C. Faktor resiko
Jenis kelamin laki-laki dua kali lebih beresiko dibanding
perempuan.Faktor predisposisi munculnya sindrom neuroleptik maligna
adalah dehidrasi, malnutrisi, kelelahan, injeksi intramuskular neuroleptik,
cedera kepala, infeksi, intoksikasi alkohol, pengunaan antipsikotik
bersama dengan litium (Hall and Chapman, 2006). Gangguan ini dapat
pula terjadi pada pasien yang baru menghentikan terapi dengan obat-
obatan agoni dopaminergik seperti carbidopa, levodopa, amantadine dan
bromocriptine.
D. Panduan Wawancara dan Psikoterapi
Sindrom neuroleptik maligna adalah kegawatdaruratan medik
sehingga perlu dirawat di ICU. Kesadarannya terganggu, tanyakan
perjalanan penyakitnya pada keluarga dan teman-temannya.
E. Evaluasi dan Penatalaksanaan
i. Pertimbangkan kemungkinan sindrom neuroleptik maligna pada
pasien yang mendapat antipsikotik yang mengalami demam serta
kekakuan otot.
ii. Bila terdapat rigiditas rinan yang tidak berespon terhdap
antikolinergik biasa dan bila demamnya tak jelas sebabnya, buatlah
diagnosis sementara sindroma neuroleptik maligna.
iii. Hentikna pemberian antipsikotik segera.
iv. Monitor tanda-tanda vital secara berkala.
v. Lakukan pmeriksaan laboratorium
vi. Hidrasi cepat intrvena daapt mencegah erjadinya renjatan dan
menurnkan kemungkinan terjadiny agagal ginjal.
vii. Sindrom ini biasanya berlangsung selama 15 hari. Setelah sebuh,
masalah kemudian adalah pemberian naipsikotik selanjutnya
apakah mengganti dari kelas yang berbeda atau kembali ke
antipsikotik semula yang efektif.
F. Terapi Psikofarmaka
i. Amantadine 200-400 mg PO/hari dalam dosis terbagi
ii. Bromocriptine 2,5 mg PO 2 atau 3 kali/hari , dapat dianikan
sampai 45 mg/hari
iii. Levodopa 50-100 mg/hari IV dlam infus terus-menerus
BAB III

PENUTUP

3.1 Simpulan

3.2

Kedaruratan psikiatri merupakan cabang dari Ilmu Kedokteran Jiwa dan


Kedokteran Kedaruratan, yang dibuat untuk menghadapi kasus kedaruratan
yang memerlukan intervensi psikiatrik. Menurut Elvira, Sylvia D dan
Gitayanti Hadisukanto, Kasus kedaruratan psikiatrik meliputi gangguan
pikiran, perasaan dan perilaku yang memerlukan intervensi terapeutik segera
yang meliputi kondisi gaduh gelisah, tindak kekerasan (violence),tentamen
Suicidum/percobaan bunuh diri, gejala ekstra piramidal akibat penggunaan
obat.

Delirium

3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA

Elvira, Sylvia D dan Gitayanti Hadisukanto ed. 2010. Buku Ajar Psikiatri. Jakarta:
Badan Penerbit FKUI
Maramis, W.F. dan Maramis, A.A. 2009. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Edisi 2.
Surabaya: Airlangga University Press.
Sadock, B.J., Sadock, V.A., et al. 2007. Kaplan & Sadock's Synopsis of
Psychiatry: Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry, 10th Edition. New York:
Lippincott Williams & Wilkins.
Tomb, D.A. 2004. Buku Saku Psikiatri. Edisi 6. Jakarta: EGC.