Anda di halaman 1dari 17

ANALISIS PENGARUH PERTUMBUHAN EKONOMI,

INFLASI, DAN PAJAK TERHADAP INVESTASI

Penyusun :

Klemens / 2017-0103-0011
Kimberly / 2017-0103-0003
Vina Aprila / 2017-0103-0005
Rendy Oliver Mariano Pono / 2016-013-030
Axel Rizky Putranto / 2016-013-036
Alfonsus Kuncoro Tri Prabandanu / 2016-013-033
Richardo Anastasius /2016-013-034
Nikolaus Leriano / 2016-013-031
Gordianus Haryanto Selai / 2016-013-028

Abstrak
Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya
Jakarta
2019
Sulitnya mencari pendanaan investasi membuat sebuah negara menggunakan segala cara untuk
mengumpulkannya. Sumber pendanaan investasi dapat berasal dari dalam negeri maupun dari luar
negeri. Pemerintah harus dapat membuat para investor luar negeri tertarik untuk menanamkan
modalnya di Indonesia, serta bagaimana membuat para pemilik modal di dalam negeri untuk tetap
mau melakukan investasinya di Indonesia sehingga tidak menginvestasikan modal yang
dimilikinya di luar negeri. Berkenaan dengan hal tersebut, pemerintah harus mampu menyiapkan
iklim investasi yang kondusif di dalam negeri (pertumbuhan ekonomi, pajak, inflasi, dan kebijakan
ekonomi makro dalam negeri) agar pelaku ekonomi merasa aman dalam melakukan aktivitasnya.
Tujuan penelitian ini adalah ingin melihat pengaruh modal dalam negeri maupun modal luar negeri
dalam transaksi investasi di Indonesia. Metodologi yang dipakai adalah regresi dengan time series.
Hasil analisis menunjukkan bahwa perubahan kondisi makro ekonomi seperti pertumbuhan, pajak
dan inflasi di Indonesia sangat berpengaruh terhadap investasi. Oleh karena jika inflasi mengalami
tren naik akan mendorong investor untuk mengurangi kegiatan investasi dan begitu juga
sebaliknya.

Kata kunci: pertumbuhan ekonomi, pajak, inflasi, investasi

Pendahuluan
Para pemula dalam ilmu makroekonomi kadang-kadang dibingungkan oleh bagaimana
para ahli makroekonomi menggunakan kata-kata biasa dengan cara baru dan spesifik. Contohnya
adalah istilah “investasi”. Kebingungan muncul karena apa yang tampak seperti investasi untuk
seorang individu bukanlah investasi bagi perekonomian secara keseluruhan. Kaidah umumnya
adalah investasi perekonomian tidak mencakup pembelian yang hanya merelokasi aset-aset yang
ada di antara individu-individu yang berbeda. Investasi, dalam pandangan para ahli
makroekonomi, menciptakan modal baru. Investasi merupakan faktor penting dalam membentuk
pertumbuhan ekonomi dan pembangunan ekonomi di Indonesia. Indonesia sebagai negara
berkembang mengalami beberapa permasalahan salah satunya dalam pembangunan ekonomi.
Penanaman modal dapat dijadikan sebagai sumber pembiayaan untuk mengatasi masalah
pembangunan ekonomi. Oleh karena itu, investor baik investor domestik maupun investor asing
sangat dibutuhkan di Indonesia. Menurut Sitompul (2007) berpendapat bahwa pertumbuhan
ekonomi terutama didorong oleh investasi yang berpengaruh secara signifikan.

Investasi adalah kata kunci penentu laju pertumbuhan ekonomi, karena investasi dapat
mendorong kenaikan output secara signifikan, selain itu juga secara otomatis akan meningkatkan
permintaan input, sehingga pada gilirannya akan meningkatkan kesempatan kerja dan
kesejahteraan masyarakat sebagai konsekuensi dari meningkatnya pendapatan yang diterima
masyarakat (Makmum & Yasin, 2003 : 63). Menurut Rostow (dalam Todaro, 2000) menjelaskan
bahwa setiap upaya untuk “tinggal landas” dalam konsep pembangunan nasional suatu negara,
mengharuskan adanya mobilisasi tabungan dalam dan luar negeri dengan maksud untuk
menciptakan investasi yang cukup, untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, sehingga pada
gilirannya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sebagai konsekuensi dari meningkatnya
pendapatan yang diterima masyarakat.

Sebagai negara berkembang, Indonesia mengalami beberapa permasalahan salah satunya


adalah pembangunan ekonomi. Keterbatasan pembiayaan merupakan permasalahan yang sering
terjadi dalam pembangunan ekonomi. Penanaman modal dapat dijadikan sebagai sumber
pembiayaan untuk menutup keterbatasan pembiayaan dalam pembangunan ekonomi Indonesia
(Thirafi, 2013). Banyak cara dapat dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan pembangunan
ekonomi, salah satunya dengan cara menarik para investor asing untuk berinvestasi di Indonesia.
Menurut Leitao (2010) dikatakan bahwa investasi merupakan indikator keterbukaan dan ini sangat
penting untuk pertumbuhan ekonomi. Menurut Sarwedi (2002), menjelaskan bahwa Indonesia
sebagai negara berkembang membutuhkan dana yang besar untuk menjalankan pembangunan
nasional, karena Indonesia masih mencari dana untuk pembangunan dalam upaya menyetarakan
pembangunan di berbagai sektor dari negara maju, di tingkat regional maupun global. Oleh karena
itu Indonesia memanfaatkan sumber Investasi Asing Langsung (foreign direct investment) untuk
pembiayaan dalam pembangunan ekonomi di Indonesia. Kebijakan investasi tersebut akan terkait
langsung dengan penanaman modal asing pada sektor-sektor ekonomi di Indonesia (Jannah, 2010).
Foreign Direct Investment (FDI) merupakan suatu investasi jangka panjang bagi negara
yang sedang berkembang dan dimana dengan kedatangan penanaman modal asing dapat
membantu pembangunan ekonomi dalam hal pembangunan modal dengan cara tidak langsung
menciptakan lapangan pekerjaan sehingga dapat meningkatkan pendapatan negara untuk
mendorong kegiatan produksi untuk menghasilkan barang dan jasa. Modal asing sangat membantu
dalam mengurangi masalah neraca pembayaran dan tingkat inflasi, sehingga dapat memperkuat
sektor usaha negara dan swasta domestik. Pada penelitian sebelumnya Awan (2011), menyatakan
bahwa PDB (Produk Domestik Bruto) memiliki pengaruh positif terhadap FDI, karena dengan
meningkatnya PDB dapat menarik modal asing ke domestik. Penelitian Sarwedi (2002),
menemukan bahwa Gross Domestic Produk merupakan indikator pertumbuhan ekonomi
mempunyai hubungan yang positif terhadap FDI karena faktor ekonomi suatu negara dapat
menarik minat investor untuk menanamkan modalnya di negara tersebut.

Modal asing sangat membantu dalam mengurangi problem neraca pembayaran dan tingkat
inflasi, jadi memperkuat sektor usaha negara dan sektor usaha swasta domestik (Zaenuddin, 2009).
Banyak faktor yang mempengaruhi investasi asing langsung yang dapat membantu pembangunan
ekonomi sebuah negara. Pertumbuhan ekonomi adalah salah satu faktor yang mempengaruhi
investasi asing langsung. Menurut Ernita dkk (2013), dalam analisis makro pertumbuhan ekonomi
yang dicapai oleh satu negara diukur dari perimbangan pendapatan nasional riil yang dicapai suatu
negara. Suatu perekonomian dikatakan meningkat apabila jumlah barang dan jumlah jasa
mengalami peningkatan. Suatu negara dikatakan aktif dalam perdagangan internasional jika nilai
total ekspor lebih besar daripada nilai total impor (Shah, 2013). Laju pertumbuhan jangka panjang
di suatu negara akan meningkatkan situasi ekonomi di negara tersebut (Soumia dan Benhabib
Abderrezzak, 2013). Tingkat pertumbuhan PDB yang baik akan memberikan efek yang positif
bagi negara karena akan menarik para investor untuk berinvestasi (Shahzad, 2013). Penelitian yang
berbeda dikemukakan oleh Jayachandran (2010), dalam penelitiannya ditemukan bahwa tingkat
pertumbuhan ekonomi yang tinggi atau rendah tidak memiliki efek pada keberadaan investasi
asing langsung.

Pertumbuhan PDB Indonesia dari tahun 2000 sampai 2009 menunjukkan tren naik,
walaupun pertumbuhan PDB sempat mengalami penurunan di tahun 2001. Adanya trend naik dari
pertumbuhan PDB ini sejalan dengan adanya trend naik dari IHSG. PDB berasal dari jumlah
barang konsumsi yang bukan termasuk barang modal dan dengan meningkatnya jumlah barang
konsumsi menyebabkan perekonomian bertumbuh dan meningkatkan skala pendapatan penjualan
perusahaan karena masyarakat yang konsumtif. Dengan meningkatnya pendapatan penjualan
maka keuntungan perusahaan meningkat dan menyebabkan harga saham perusahaan juga
meningkat dan berdampak pada pergerakan IHSG. Sehingga PDB dapat mencerminkan
pertumbuhan ekonomi suatu negara dengan melihat tingkat pendapatan negara dan pembelanjaan
pemerintah karena PDB merupakan patokan bagi pihak regulator dalam menentukan kebijakan
yang tepat untuk meredam jika tingkat inflasi meningkat dan PDB termasuk faktor yang
mempengaruhi perubahan harga saham. Tingkat inflasi yang tinggi dapat dikaitkan juga dengan
kondisi ekonomi yang kurang kondusif yang menyebabkan penurunan daya beli uang dan dapat
mengurangi tingkat pendapatan riil yang diperoleh investor

Di lain sisi inflasi adalah faktor penting terhadap investasi karena dengan meningkatnya
inflasi akan mempengaruhi investor untuk tidak berinvestasi dan jika inflasi menurun akan
meningkatkan investor untuk melakukan investasi karena biaya investasi akan mengalami
penurunan. Inflasi adalah naiknya harga-harga komoditi secara umum yang disebabkan oleh tidak
sinkronnya antara program pengadaan komoditi (produksi, penentuan harga, pencetakan uang, dan
sebagainya) dengan tingkat pendapatan yang dimiliki oleh masyarakat (Putong, 2002:147).
Tingkat inflasi yang tinggi menyebabkan barang dan jasa menjadi kurang kompetitif yang
menyebabkan keuntungan yang diperoleh oleh perusahaan akan menurun, pada akhirnya akan
menghambat investasi baru. Oleh sebab itu dalam penelitiannya, Letarisky (2014) mengungkapkan
bahwa semakin tinggi tingkat inflasi akan mengakibatkan menurunnya jumlah Penanaman Modal
Asing Langsung yang masuk ke Indonesia.

Perusahaan multinasional atau sektor swasta bertujuan untuk memaksimalkan kekayaan


dan biasanya dalam bentuk investasi. Akan tetapi, pemerintah akan mengenakan pajak dalam
sektor usaha swasta sehingga perusahaan swasta dan perusahaan multinasional sangat terpengaruh
oleh tingkat pajak. Tujuan perusahaan multinasional yaitu memaksimalkan kekayaan para
pemegang saham. Menurut Azam (2008), tujuan dari perusahaan multinasional yaitu untuk
mendapatkan keuntungan yang lebih dengan cara berinvestasi, oleh karena itu mereka sangat
sensitif terhadap faktor pajak, karena pajak memiliki efek langsung terhadap keuntungan mereka.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Azam (2008) mengemukakan bahwa pajak memiliki dampak
yang negatif terhadap investasi asing langsung. Negara-negara yang mengenakan tarif pajak yang
relatif rendah atas laba perusahaan akan lebih menarik investasi asing langsung (Insah, 2013).
Tingkat pajak dari Negara tuan rumah sangat penting dalam mempengaruhi investor asing (Leitao,
2010).

Pajak merupakan salah satu variabel penting dari investasi asing langsung. Menurut Shah
(2013) sebagai investor asing langsung segala kegiatan baik positif atau negatif dipengaruhi oleh
kebijakan pajak Negara. Dengan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa tingkat pajak dapat
mempengaruhi investasi selain inflasi. Perpajakan mengambil peran penting dalam ekonomi
politik komparatif yang artinya dengan globalisasi dan jika suatu negara menurunkan tarif pajak
maka akan meningkatkan investor untuk berinvestasi. Langkah-langkah dan kebijakan pemerintah
untuk meningkatkan penerimaan pajak dapat melalui penyempurnaan perundang-undangan,
penerbitan peraturan- peraturan baru di bidang perpajakan, meningkatkan tingkat kepatuhan wajib
pajak maupun menggali sumber-sumber pajak lainnya. Selain mempunyai fungsi budgeter, pajak
juga mempunyai fungsi regulerend, yaitu menggunakan pajak untuk mengatur distribusi
pendapatan dan kekayaan masyarakat. Pajak dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kegiatan
pembangunan di kawasan tertentu agar terdapat pemerataan pembangunan dan pendapatan. Salah
satu fungsi regulerend ini adalah adanya kebijakan insentif pajak yang diharapkan dapat menarik
minat investasi.

Banyak negara berkembang menggunakan insentif pajak untuk mempromosikan investasi.


Dengan menerapkan pengurangan tarif pajak penghasilan badan, pemberian pembebasan secara
periodik pada pajak perusahaan (tax holiday), yang memungkinkan investasi tambahan dari
pemotongan kewajiban pajak (melalui kredit pajak atau tunjangan investasi), dan lain-lain. Hal ini
dilakukan pemerintahan tertentu dalam kegiatan ekonomi yang mencoba untuk mengalokasikan
atau menarik investasi modal dari dalam dan luar negeri. Penggunaan insentif pajak dan
pembebasan pajak sangat banyak dilakukan di negara-negara berkembang. Kinerja buruk dari
administrasi pajak dan biaya kepatuhan yang tinggi bagi investor dapat mengganggu efektivitas
insentif pajak. Kurangnya jaminan hukum bagi investor dan iklim investasi umum menjadi alasan
untuk mengevaluasi efektivitas insentif pajak di negara-negara berkembang. Oleh karena itu, kami
ingin mengetahui seberapa besar pengaruh dari inflasi, pajak, dan pertumbuhan ekonomi
terhadap investasi asing serta investasi domestik.

Landasan Teori

A. Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi tercermin dari meningkatnya kemampuan suatu negara
dalam menyediakan kebutuhan (barang-barang ekonomi) warga negaranya. Kelembagaan,
kemajuan teknologi, dan penyesuaian ideologi diperlukan untuk dapat meningkatkan
kemampuan tersebut (Todaro and Smith, 2012). Pertumbuhan ekonomi yang baik tentunya
akan membuat investor tertarik untuk berinvestasi di negara tersebut. Suparmoko (2013:4)
menyatakan bahwa suatu negara harus dapat menjamin kebutuhan minimum warganya
dengan menargetkan pertumbuhan ekonomi yang diukur dengan PDB.
Menurut Kurniawan dan Made Kembar (2015:116), PDB merupakan nilai yang
dihasilkan suatu negara dalam satu tahun dalam memproduksi semua barang dan jasa.
Sesuai dengan pengertian tersebut bahwa PDB dapat digunakan sebagai media pengukuran
yang baik untuk kehidupan masyarakat, bagaimana PDB tersebut ketika meningkat maka
akan meningkatkan standar hidup masyarakat. Pertumbuhan ekonomi dapat diukur sebagai
berikut (Sukirno, 2014) :

Gt = (PDB1 – PDBt−1) x 100% ..........................................(1)PDBt−1

Keterangan:
t = masa waktu

B. Pajak
Pajak merupakan salah satu variabel penting dari investasi asing langsung. Menurut
Shah (2013) sebagai investor asing langsung segala kegiatan baik positif atau negatif
dipengaruhi oleh kebijakan pajak Negara. Perpajakan mengambil peran penting dalam
ekonomi politik komparatif yang disebut dengan globalisasi dan jika suatu negara
menurunkan tarif pajak maka akan meningkatkan proses pertumbuhan dan perkembangan
negara tersebut karena secara positif akan menarik para investor (Gedik, 2013). Tujuan
dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pertumbuhan ekonomi, Inflasi, dan
pajak secara parsial terhadap investasi asing langsung. Berdasarkan latar belakang diatas
maka dilakukan suatu penelitian untuk mengetahui pengaruh pertumbuhan ekonomi,
inflasi dan pajak terhadap investasi asing langsung di indonesia

C. Inflasi
Dalam ilmu ekonomi, inflasi merupakan suatu proses meningkatnya harga-harga
secara umum dan terus-menerus (continue) berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat
disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat,
berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi, sampai
termasuk juga akibat adanya ketidaklancaran distribusi barang.

Dampak Inflasi Terhadap Minat Orang untuk Menabung : Pada masa inflasi, pendapatan
rill para penabung berkurang karena jumlah bunga yang diterima pada kenyataannya
berkurang karena laju inflasi. Misalnya, bulan januria tahun 2006 seseorang menyetor
uangnya ke bank dalam bentuk deposito satu tahun. Deposito tersebut menghasilkan bunga
sebesar, misalnya, 15% per tahun. Apabila tingkat inflasi sepanjang januari 2006-januari
2007 cukup tinggi, katakanlah 11%, maka pendapatan dari uang yang didepositokan
tinggal 4%. Minat orang untuk menabung akan berkurang.

D. Investasi
Kata investasi memiliki pengertian yang lebih luas karena dapat mencakup
investasi asing langsung (direct investment) maupun investasi tidak langsung (portofolio
investment), sedangkan kata penanaman modal lebih mempunyai konotasi kepada
investasi langsung. Penanaman modal asing memiliki pengertian yang berbeda diantara
akan mendorong lebih banyak investasi, Sukirno (2010: 127). Bila tingkat suku bunga naik,
pinjaman akan menjadi lebih mahal dan menyebabkan sedikit proyek yang dapat
dijalankan investor. Sebaliknya, apabila tingkat suku bunga turun, biaya peminjaman lebih
murah dan akan menaikkan jumlah proyek yang dapat dijalankan oleh investor.

Metode Penelitian

Dalam penelitian ini, bertujuan untuk menjelaskan apakah hubungan korelasi mengenai
variabel inflasi, pajak, dan pertumbuhan ekonomi memiliki hubungan kuat terhadap investasi di
Indonesia. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan
melakukan pengamatan, dimana peneliti tidak terlibat langsung dalam aktivitas tapi hanya sebagai
pengamat independen. Penelitian ini menggunakan jenis data time series kurun waktu 10 tahun
(2008-2018) dan pengolahan data menggunakan regresi atau metode OLS. Sumber data yang
digunakan dalam penelitian ini berasal dari Badan Pusat Statistik Indonesia, Bank Indonesia serta
Databoks.
Hasil dan Pembahasan

Data

Tahun Pajak Invetasi Tingkat Infasi Pertumbuhan Ekonomi

2010 620 16.214 6.96 0.068

2011 742 19.474 3.79 0.644

2012 835 24.564 4.3 0.619

2013 921 28.617 8.38 0.556


2014 985 28.529 8.36 0.502

2015 1060 29.275 3.35 0.479

2016 1105 28.964 3.02 0.502

2017 1151 32.239 3.61 0.507

2018 1315 36.107 3.13 0.506

Hasil Regresi Menggunakan Time series


Analisa :

Berdasarkan hasil analisis regresi, secara parsial tingkat inflasi dan pertumbuhan ekonomi
mempengaruhi investasi secara signifikan akan tetapi pajak tidak mempengaruhi investasi secara
signifikan hal ini dikarenakan pendapatan pajak yang diperoleh pemerintah dari perusahaan dapat
mengurangi keuntungan suatu perusahaan atas kegiatan produksi suatu barang dan jasa yang
dimana dana dari keuntungan tersebut investor menggunakannya untuk investasi dan pada
dasarnya pajak mempengaruhi keputusan investasi sepanjang pengenaan pajak tersebut
mempengaruhi besarnya biaya dan keuntungan yang didapat oleh investor. Jika besarnya pajak
terutama pada pajak penghasilan badan (corporate income tax) di negara investor lebih besar, maka
perusahaan akan insentif untuk investasi ke luar negeri dimana besarnya pajak efektif lebih rendah.
Inflasi dan pertumbuhan ekonomi secara signifikan terhadap investasi karena pergerakan inflasi
dan pertumbuhan ekonomi yang baik sangat berpengaruh terhadap investasi karena seperti yang
sudah dijelaskan secara teori jika inflasi mengalami trend naik akan mendorong investor untuk
mengurangi kegiatan investasi dan begitu juga dengan pengaruhnya pertumbuhan ekonomi yang
lamban akan menyebabkan performa kegiatan investasi terhambat karena sulit untuk menarik
investor.

Pertumbuhan ekonomi merupakan hal yang penting bagi suatu negara. Apabila
pertumbuhan ekonomi suatu negara tinggi, maka suatu negara akan memiliki peningkatan status.
suatu negara dikategorikan sebagai negara maju apabila memiliki pendapatan per kapita tinggi,
indeks pembangunan manusianya tinggi, kualitas hidup rakyat terjamin dan sejahtera,
pembangunan infrastruktur tinggi, teknologi berkembang pesat, dan laju pertumbuhan ekonomi
yang tinggi atau setidaknya stabil. Berdasarkan konseptualnya pertumbuhan ekonomi dapat kita
ukur dan gambarkan melalui pendapatan nasional dengan persamaan GDP yaitu
(Y=C+I+G+NX) dengan menganalisa persamaan tersebut dapat kita simpulkan bahwa investasi
memiliki hubungan yang positif dengan pertumbuhan ekonomi, dengan garis besarnya bahwa
investasi naik maka pertumbuhan juga meningkat berdasarkan korelasinya dan investasi juga
turun ketika pertumbuhan ekonomi turun dan yang menjadi tolak ukurnya yaitu bahwa investasi
dipengaruhi oleh tingkat pengembalian modal dan tingkat bunga, para pemilik modal (investor)
akan menanamkan modalnya disaat suku bunganya turun. Hasil regresi dari penelitian ini
mendukung hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Insah (2013), Anna (2012),
Sarwedi (2002) dan Awan (2011) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa pertumbuhan
ekonomi berpengaruh positif signifikan terhadap investasi asing langsung.

Berbeda dengan negara berkembang bahkan terbelakang. Negara-negara berkembang


umumnya memiliki pertumbuhan ekonomi yang fluktuatif alias tidak stabil, kadang naik kadang
turun. Sementara negara terbelakang atau miskin jelas pertumbuhan ekonominya rendah.
Pertumbuhan ekonomi yang fluktuatif bahkan rendah mengindikasikan bahwa tingkat
kesejahteraan rakyat di negara-negara berkembang dan terbelakang belumlah merata dan
cenderung rendah. Sehingga dapat disimpulkan, bahwa pertumbuhan ekonomi signifikan
terhadap investasi karena jika pertumbuhan ekonomi suatu negara tinggi dan stabil, maka
semakin banyak minat untuk menabung atau berinvestasi , begitu juga sebaliknya.

Inflasi adalah keadaan dimana harga-harga secara umum mengalami peningkatan secara
terus menerus sementara di sisi lain tingkat pendapatan masyarakat relatif tetap dan bila itu terjadi
maka proses pemiskinan sedang terjadi. Ketidakstabilan perekonomian suatu negara dapat menjadi
penghalang masuknya investasi ke suatu negara. Inflasi yang tinggi menggambarkan bahwa
ekonomi negara tersebut tidak stabil yang artinya pemerintah negara tersebut gagal dalam
menyeimbangkan perekonomian. Inflasi dapat menyebabkan tingkat resiko kegagalan usaha
semakin besar.

Tingginya tingkat inflasi membuat konsumsi masyarakat berkurang karena menurunnya


kemampuan masyarakat untuk membeli barang akibat harga yang melambung tinggi. Dapat
disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara inflasi dan investasi. Artinya,
semakin tinggi inflasi suatu negara, maka semakin rendah tingkat investasinya, hal tersebut dapat
terjadi karena dipicu berdasarkan respon dari bank sentral terhadap inflasi, jika inflasi meningkat
bank sentral akan menaikan suku bunga sebagai langkah menanggapi hal tersebut agar terjadi
keseimbangan karena perannya bank sentral menstabilkan nilai rupiah, dampak tersebut tentu
dirasakan para investor karena suku bunga yang tinggi investor akan menarik dananya dan akan
menyalurkan dananya ke obligasi maupun deposito. Dan semakin rendah inflasi suatu negara,
maka semakin tinggi tingkat investasi.

Pajak merupakan kewajiban untuk setiap warga negara. Pajak diterapkan untuk
kepentingan suatu negara untuk mencapai tujuan negara. Pajak atas keuntungan atau laba
perusahaan dapat mempengaruhi investasi meskipun hal tersebut cenderung tidak signifikan. Ada
faktor-faktor lain yang menjadi pertimbangan investor dalam pengambilan keputusan investasi,
seperti kemudahan perizinan, besarnya pasar domestik, akses pasar internasional, Infrastruktur,
kondisi sosial dan keamanan, dan ketersediaan sumber daya manusia. Berdasarkan analisis hasil
penelitian, bagaimanapun akses pasar tampaknya menjadi faktor signifikan yang menghasilkan
investor asing di Indonesia.

Meskipun adanya kebijakan insentif pajak di negara-negara berkembang masih


kontroversial. Penerapan insentif pajak dapat membawa biaya yang penting bagi negara. Tidak
hanya biaya keuangan seperti pendapatan yang berkurang dan biaya administrasi meningkat, tetapi
jika tidak hati-hati dalam perancangan dan pelaksanaannya, juga akan berdampak pada biaya
kesejahteraan karena adanya alokasi modal yang tidak efisien.

Oleh karena itu, jika dilihat dari perspektif perekonomian Indonesia konsep yang
menempatkan dampak perubahan peraturan perpajakan khususnya pajak Badan yang dilakukan
pemerintah terhadap tingkat investasi di Indonesia menjadi penting untuk dikaji lebih mendalam.
Evaluasi dampak peraturan perpajakan secara langsung dilakukan dalam melihat kerangka dampak
langsung peraturan perpajakan terhadap tingkat investasi.

Sehingga dapat disimpulkan, adanya pengaruh yang tidak terlalu signifikan antara pajak
dan investasi. Karena apabila Pajak yang ditetapkan tinggi maka pendapatan akan berkurang
sehingga investasi akan berkurang, dan adanya asumsi dasar yang digunakan produsen yang
rasional secara ekonomi yaitu berusaha untuk memaksimalkan keuntungan.

Kesimpulan dan Saran

A. Kesimpulan
Jadi, berdasarkan hasil analisis kami, investasi dapat dilihat bahwa peran investasi belum
optimal. Secara umum, berbagai indikator makroekonomi di Indonesia seperti pertumbuhan
ekonomi, inflasi, dan pajak memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan investasi di
Indonesia, terutama pada kegiatan penanaman modal asing, sedangkan kegiatan penanaman modal
dalam negeri, pengaruh kebijakan ini tidak nyata. Berdasarkan hasil regresi, secara parsial tingkat
inflasi dan pertumbuhan ekonomi mempengaruhi investasi secara signifikan akan tetapi pajak
tidak mempengaruhi investasi secara signifikan hal ini dikarenakan pendapatan pajak yang
diperoleh pemerintah dari perusahaan dapat mengurangi keuntungan suatu perusahaan atas
kegiatan produksi suatu barang dan jasa yang dimana dana dari keuntungan tersebut investor
menggunakannya untuk investasi.

Inflasi dan pertumbuhan ekonomi secara signifikan terhadap investasi karena pergerakan
inflasi dan pertumbuhan ekonomi yang baik sangat berpengaruh terhadap investasi karena seperti
yang sudah dijelaskan secara teori jika inflasi mengalami tren naik akan mendorong investor untuk
mengurangi kegiatan investasi dan begitu juga dengan pengaruhnya pertumbuhan ekonomi yang
lamban akan menyebabkan performa kegiatan investasi terhambat karena sulit untuk menarik
investor.

Pengaruh pertumbuhan ekonomi sangat signifikan terhadap investasi dikarenakan negara-


negara berkembang yang tingkat pertumbuhannya sekitar 4% - 5% mempunyai daya tarik bagi
negara-negara maju untuk menaruh modalnya. Kemampuan dari negara tersebut menjadi salah
satu tolak ukur dari para investor luar untuk menanamkan modalnya karena kemampuan untuk
menghasilkan barang dan jasa meningkat karena akan menguntungkan bagi investor tersebut.

B. Saran

Secara teoritis hubungan antara inflasi dan pertumbuhan ekonomi menunjukkan hal
menarik untuk dicermati. Inflasi yang terlalu rendah, bahkan berada di level deflasi, akan menekan
pertumbuhan ekonomi dan inflasi yang terlalu tinggi juga akan membuat daya beli masyarakat
turun mengakibatkan roda perekonomian tidak berjalan. Oleh karena itu menjaga angka inflasi
perlu memperhatikan dua faktor sekaligus yaitu level inflasi yang membuat tingkat perekonomian
bisa optimum dan sekaligus tidak membuat daya beli masyarakat turun. Di sisi lain, pertumbuhan
ekonomi dibutuhkan agar target-target pembangunan seperti penciptaan lapangan kerja,
bertambahnya output nasional, penerimaan pajak, pengurangan tingkat kemiskinan, pengurangan
pengangguran dan bertambahnya tingkat kesejahteraan masyarakat dapat tercapai.

Rumus sederhananya, tingkat investasi harus lebih besar dari tingkat konsumsi, maka
ekonomi akan tumbuh sehat. Kalau investasi tinggi, maka tingkat kemiskinan dan pengangguran
akan turun. Investasi akan menumbuhkan lapangan kerja yang dapat membantu mengurangi
tingkat pengangguran dalam mencapai target tertentu. Meski begitu, pertumbuhan ekonomi tidak
boleh kurang dari 5 persen. Untuk lebih mendorong pertumbuhan berkelanjutan dan inklusif
diperlukan fokus yang berkesinambungan pada peningkatan daya saing, pengembangan sumber
daya manusia (SDM) dan penguatan ketangguhan. Investasi yang kuat didorong terutama proyek
infrastruktur publik di transportasi dan energi. Demikian dengan dukungan dari manajemen
makroekonomi yang solid dan permintaan domestik yang kuat, momentum pertumbuhan
Indonesia diharapkan berlanjut secara sehat.
Di sisi lain, Pemotongan tarif pajak dinilai dapat mendorong pertumbuhan ekonomi.
Meskipun harus diakui dampak kebijakan ini akan terasa pada penurunan penerimaan pajak.
Penurunan tarif pajak adalah solusi jangka pendek yang bisa ditempuh pemerintah untuk
mendorong pertumbuhan ekonomi. Maka, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, pemerintah
hanya bisa menggenjot dari konsumsi rumah tangga. Dengan pemotongan tarif pajak, masyarakat
memiliki ruang lebih untuk membelanjakan uang-nya. Meskipun penurunan tarif pajak
menyebabkan tax ratio turun, namun dampaknya ke ekonomi akan lebih kuat. Untuk menyikapi
ini, pemerintah lebih baik memberi sanksi tegas bagi wajib pajak yang melanggar ketentuan
sehingga ada efek jera dan mengurangi penghindaran pajak.

Daftar Pustaka

Anna, Chingarande. 2012. The impact of interest rates on foreign direct investment: A case study
of the Zimbabwean economy (February 2009-June 2011). International Journal of
Management Sciences and Business Research, 1(5): 1-24..

Awan, M. Z., Khan, B., & Uz Zaman, K. 2011. Economic determinants of Foreign Direct
Investment (FDI) in commodity producing sector: A case study of Pakistan. African Journal
of Business Management, 5(2), pp: 537-545.
Dewi, Putu Kartika dan Nyoman Triaryati. 2015. Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi, Suku Bunga
dan Pajak terhadap Investasi Langsung. E-Jurnal Manajemen Unud,Vol 4 No 4.

Febriana, Asri dan Mashyudi. 2014. Investasi Asing Langsung di Indonesia dan Faktor-Faktor
yang Mempengaruhinya. Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan, 15 (2), hal. 109-117.

Hall, R. E., & Jorgenson, D. W. 1967. Tax Policy and Investment Behavior. The American
Economic Review, 57(3), 391-414.

Hartono, M., & Setyowati, M. S. 2011. Hubungan insentif Pajak dengan iklim investasi bagi
Perusahaan Penanaman Modal Asing di Sektor industri tekstil di Indonesia. Bisnis &
Birokrasi Journal, 16(1).
Iamsiraroj, Sasi and Hristos Doucouliagos. 2015. Does Growth Attract FDI? Economics
Discussion Papers, 18.

Insah Baba. 2013. Foreign Direct Investment Inflows and Economic Growth in Ghana.
International Journal of Economic Practices and Theories, 3(2), pp:115-121.

Jannah, Aliyatul, 2010. Analisis Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Penanaman Modal Asing
(PMA) di Indonesia.

Leitao, Nuno Carlos. 2010. Foreign Direct Investment: The Canadian Experience. International
Journal of Economics Finance, Vol 2 No 4.

Makmun dan Akhmad Yasin, 2003, “ Pengaruh Investasi dan Tenaga Kerja PDB Sektor
Pertanian“, Kajian Ekonomi dan Keuangan, Vol 7, No 3 September.

Mankiw, N. G., Euston Quah, dan Peter Wilson. 2012. Pengantar Ekonomi Makro, edisi Asia.
Jakarta: Salemba Empat.

Paulus Kurniawan dan Made Kembar Sri Budhi, Pengantar Ekonomi Mikro & Makro,
(Yogyakarta: ANDI, 2015), hal. 240.

Robert, Sollow. Teori Pertumbuhan Neo Klasik. PT. Raja Grafindo Pustaka, Jakarta.
Rostow dan Musgrave, 1996. Pembangunan Ekonomi. Ekonomi Perencanaan Pembangunan. PT.
Raja Grafindo Pustaka, Jakarta.

Sarwedi, 2012. Investasi Asing Langsung di Indonesia dan Faktor Yang Mempengaruhinya. Jurnal
Akuntansi dan Keuangan, Universitas Kristen Petra, Vol 4 No 1.
Sugiartiningsih, Sugiartiningsih. “Pengaruh Inflasi Indonesia Terhadap Penerimaan Penanaman
Modal Asing Langsung Korea Selatan Di Indonesia Periode 2000-2014.” Jurnal
Manajemen Maranatha, vol. 17, no. 1, 2017, p. 33., doi:10.28932/jmm.v17i1.416.

Sukirno, Sadono. 2014. Teori Makroekonomi. Rajawali Press: Jakarta

Thirafi, Muhammad Aulia Zul. 2013. Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi, Ketersediaan Tenaga
Kerja, Infrastruktur dan Kepadatan Penduduk Terhadap Penanaman Modal Asing di
Kabupaten Kendal. Economics Development Analysis Journal,Vol 2 No 1.

Suparmoko, M. 2013. Keuangan Negara. BPFE: Yogyakarta

Todaro, Michael P., and Stephen C. Smith. Economic Development. Pearson, 2015.
Zaenuddin, Muhammad. 2009. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Investasi PMA di
Batam. Jurnal JEJAK, 2(2): 156-166.