Anda di halaman 1dari 9

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas limpahan
Rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Konsep
Dasar Penapisan Calon Akseptor KB (Seleksi Klien, Pemeriksaan Ginekologi
Dan Konseling Calon Akseptor)”. Semoga makalah ini bisa bermanfaat dan
bernilai untuk para pembaca yang membutuhkan Konsep Dasar Penapisan
Calon Akseptor KB.
Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi tugas kelompok mata
kuliah Pengembangan Asuhan Pelayanan KB. Makalah ini membahas segala
aspek yang berkaitan dengan Penapisan Calon Akseptor KB yang terdiri dari
konsep Seleksi Klien, Pemeriksaan Ginekologi Dan Konseling Calon Akseptor.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.
Oleh karena itu, Penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi
kesempurnaan makalah ini di kemudian hari. Akhir kata, semoga makalah ini
bermanfaat bagi penyusun khususnya dan pembaca pada umumnya.

Bandung, 2019

Tim Penyusun
DAFTAR ISI

JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan
BAB II PEMBAHASAN
BAB III PENUTUP
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Di Indonesia pertumbuhan penduduk masih cukup tinggi dengan
rata-rata pertumbuhan penduduk yaitu 1,38% per tahun, sehingga
pemerintah mencanangkan program keluarga berencana (KB) (Suratun,
2008). Program KB nasional ini merupakan salah satu komponen
pembangunan nasional terkait dengan upaya peningkatan kualitas sumber
daya manusia, kesehatan, dan kesejahteraan keluarga. Program ini
dilaksanakan melalui empat misi gerakan KB nasional yaitu pengaturan
kelahiran, penundaan usia kawin, peningkatan ketahanan keluarga, dan
kesejahteraan keluarga.
Program keluarga berencana ini mempunyai tujuan program
nasional kependudukan dan keluarga berencana diantaranya: tujuan
demografis yaitu dapat dikendalikannya tingkat pertumbuhan penduduk
berupa penurunan angka fertilitas; tujuan normatif yaitu dapat
dihayatinya norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera (NKKBS) yang
pada waktunya akan menjadi falsafah hidup masyarakat Indonesia
(Hartanto, 2004).
Gerakan KB Nasional selama ini telah berhasil mendorong
peningkatan peran serta masyarakat dalam membangun keluarga kecil
yang mandiri. Peran serta masyarakat tersebut harus diperhatikan bahkan
terus ditingkatkan karena pencapaian tersebut belum merata. Sementara
ini, masih kurangnya pengunaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang
(MKJP) dalam kegiatan Keluarga Berencana karena pada umumnya 2
masyarakat lebih memilih metode non MKJP (BKKBN, 2005).
Selain itu untuk mendukung gerakan pemerintah dalam kegiatan KB
nasional, melalui empat misi gerakan KB nasional yaitu pengaturan
kelahiran, penundaan usia kawin, peningkatan ketahanan keluarga, dan
kesejahteraan keluarga, para Bidan di Indonesia juga harus mengetahui
konsep dasar penapisan dalam penggunaan KB mulai dari seleksi klien,
pemeriksaan ginekologi sebagai penunjang dan konseling calon akseptor
atau pengguna alat KB agar tidak terjadi gangguan dan masalah yang
diakibatkan oleh penggunaan alat kontrasepsi tersebut. Oleh karena itu,
melalui makalah ini penulis akan menjelaskan konsep-konsep yang telah
diuraikan dalam latar belakang diatas mengapa dan bagaimana para Bidan
di Indonesia harus memahami pentingnya Penapisan bagi para calon
akseptor KB.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, Rumusan masalah yang dapat diambil
adalah:
“ Terdapat keberhasilan penggunaan KB melalui penapisan calon akseptor
KB dengan metode seleksi klien, pemeriksaan ginekologi dan konseling
calon akseptor oleh para Bidan di Indonesia. ”

1.3 Tujuan Penulisan Makalah


1 Memberi Pengetahuan kepada para Bidan dan masyarakat berupa
konsep asuhan pelayanan KB dalam penapisan calon akseptor melalui
cara penyeleksian klien, pemeriksaan ginekologi dan konseling.
2 Mempermudah para Tenaga medis kususnya tenaga Bidan dalam
mengaplikasikan pemberian pelayanan kesehatan yang efisien dan
efektif serta tepat bagi kebutuhan masyarakat dalam menggunakan
sarana KB.
3 Bidan Indonesia dapat melindungi Masyarakat sesuai fungsi Sarana
alat-alat Kontrasepsi yang dibutuhkan masyarakat dan mendukung
program pemerintah dalam pelayanan KB yang Profesional.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Seleksi Klien
Tujuan utama penapisan atau seleksi klien sebelum pemberian
suatu metode kontrasepsi (seperti pil KB, suntikan atau AKDR) adalah
untuk menentukkan apakah ada kehamilan, adanya keadaan yang
membutuhkan perhatian khusus, adanya masalah yang membutuhkan
pengamatan dan pengelolaan lebih lanjut (seperti diabetes atau tekanan
darah tinggi). Bagi sebagian besar klien, keadaan-keadaan ini dapat
diketahui dengan cara anamnesis terarah, sehingga bisa menemukan
masalah utama atau adanya kemungkinan hamil. Untuk meyakini bahwa
klien tidak hamil dapat dipastikan melalui anamnesis seperti: tidak
senggama sejak haid terakhir, sedang memakai metode efektif secara baik
dan benar, sekarang di dalam 7 hari pertama haid terakhir, di dalam 4
minggu pascapersalin, dalam 7 hari pascakeguguran, sementara menyusui
aktif dan tidak mendapatkan haid. Pemeriksaan fisik jarang dibutuhkan,
kecuali untuk menyingkirkan kehamilan yang lebih dari 6-8 minggu. (2)
Sebagian besar cara kontrasepsi, kecuali AKDR dan kontrasepsi
mantap, tidak memerlukan pemeriksaan fisik termasuk pemeriksaan
panggul. Pemeriksaan laboratorium untuk klien keluarga berencana baru,
umumnya tidak diperlukan karena sebagian besar klien keluarga
berencana baru berusia muda (16-35 tahun) dan umumnya sehat, dan
pada wanita masalah kesehatan reproduksi yang membutuhkan perhatian
seperti kanker genitalia dan payudara serta fibroma uterus jarang didapat
pada umur sebelum 35 tahun. Prosedur penapisan klien dapat
digambarkan dalam table berikut : (2)

PROSEDUR KBA ATAU METODE METODE AKDR KONTAP


MAL BARRIER HORMONAL (PIL WANITA/PRI
(KONDOM) KOMBINASI, PIL A
PROGESTIN/SUNTI
KAN/IMPLANT)
Penapisan reproduksi Tidak Tidak Ya Ya Ya
Seleksi ISR/IMS risiko tinggi Tidak Tidak Tidak Ya Ya
Pemeriksaan abdomen Tidak Tidak Tidak Ya Ya
Pemeriksaan spekulum Tidak Tidak Tidak Ya Ya
Pemeriksaan dalam Tidak Tidak Tidak Ya Ya
Pria (lipat paha, penis, testis, - - - - Ya
skrotum)
Berikut ini merupakan daftar tilik penapisan klien metode
nonoperatif:

METODE HORMONAL (PIL KOMBINASI, PIL PROGESTIN, SUNTIKAN DAN YA TIDAK


SUSUK)
Apakah hari pertama haid terakhir 7 hari yang lalu atau kurang
dari 7 hari yang lalu
Apakah anda menyusui dan kurang dari 6 minggu pascapersalinan
(xx)

Pakah anda mengalami perdarahan/perdarahan bercak antara


haid setelah senggama
Apakah pernah icterus pada kulit atau mata
Apakah pernah nyeri kepala hebat atau gangguan visual
Apakah pernah nyeri hebat pada betis, paha atau dada, atau
tungkai bengkak (edema)
Apakah pernah tekanan darah diatas 160 mmHg (sistolik) atau 90
mmHG (diastolic)
Apakah ada massa atau benjolan pada payudara
Apakah anda sedang minum obat-obatan anti kejang (epilepsi) (xxx)
AKDR (SEMUA JENIS PELEPAS TEMBAGA DAN PROGESTIN) YA TIDAK
Apakah hari pertama haid terakhir 7 hari yang lalu atau kurang
dari 7 hari yang lalu
Apakah klien atau pasangan mempunyai pasangan seks lain
Apakah pernah mengalami infeksi menular seksual (IMS)
Apakah pernah mengalami penyakit radang panggul atau
kehamilan ektopik
Apakah pernah mengalami haid banyak (1-2 pembalut tiap 4 jam )
Apakah pernah mengalami haid lama (lebih dari 8 hari)
Apakah pernah mengalami dismenorhoe berat yang membutuhkan
analgetika dan/atau istirahat baring
Apakah pernah mengalami perdarahan/perdarahan bercak antara
haid atau setelah sanggama
Apakah pernah mengalami gejala penyakit jantung vascular atau
kongenital

Beberapa pertimbangan setelah penapisan sebagai berikut:


(x)
: Apabila klien menyusui dan kurang dari 6 minggu pascapersalinan maka
pil kombinasi adalah metode pilihan terakhir
(xx)
: Tidak cocok untuk pil progestin (minipil), suntikan (DMPA atau NET-EN),
atau susuk.
(xx)
: Tidak cocok untuk suntikan progestin (DMPA atau NET-EN)
B. Pemeriksaan Ginekologi
Seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa tidak semua metode
kontrasepsi memerlukan pemeriksaan ginekologi, hanya metode AKDR dan
kontrasepsi mantap saja. Pemeriksaan panggul dilakukan untuk
menyingkirkan adanya kontraindikasi pemasangan IUD, misalnya adanya
penyakit radang panggul yang aktif dan kelainan anatomis. Berikut adalah
pemeriksaan ginekologi bagi klien calon akseptor AKDR : (3)
1. Minta pasien buang air kecil dan membersihkan daerah genitalia
2. Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, keringkan tangan dengan
kain bersih, dan pakai handscoen steril
3. Minta pasien melepaskan celana dan berbaring di meja periksa
4. Lakukan palpasi pada daerah perut untuk memeriksa apakah ada
benjolan atau nyeri suprapubik
5. Minta pasien berbaring dengan posisi litotomi (mengangkang)
6. Lakukan inspeksi pada genitalia eksterna, kelenjar Skene dan Bartholin,
serta amati adanya nyeri atau sekret vagina.
7. Lakukan pemeriksaan bimanual untuk mengecek besar dan posisi
uterus, pastikan tidak ada kehamilan, pastikan tidak ada tumor dan
pastikan gerak serviks bebas
8. Masukkan spekulum vagina, dan lakukan inspeksi pada serviks
9. Lepaskan sarung tangan dan celupkan pada larutan klorin 0,5%

C. Konseling Calon Akseptor


Perencanaan keluarga juga termasuk dalam konseling calon
akseptor, dengan merujuk pada beberapa hal bahwa: (2)
1. Seorang perempuan telah dapat hamil dan melahirkan segera setelah ia
mendapat haid yang pertama (menarche)
2. Kesuburan seorang perempuan akan terus berlangsung sampai mati
haid (menopause).
3. Kehamilan dan kelahiran terbaik, dimana memiliki risiko yang paling
rendah untuk ibu dan anak adalah antara 20-35 tahun
4. Persalinan pertama dank ke dual ah yang paling rendah risikonya
5. Jarak antar dua kelahiran sebaiknya 2-4 tahun
Berdasarkan beberapa faktor di atas maka, perencanaan keluarga
dapat dibuat sebagai berikut :
1. Fase menunda kehamilan (di bawah umur 20 tahun) dengan
menyarankan penggunaan pil, IUD, sederhana implant, suntikan.
2. Fase menjarangkan kehamilan (antara umur 20 sampai umur 35
tahun) dengan menyarankan IUD, suntikan, minipil, pil, implant,
sederhana. Bila anak sudah lebih dari 4 bisa disarankan untuk steril.
3. Fase tidak hamil lagi (di atas umur 35 tahun) dengan menyarankan
steril, IUD, implant, suntikan, sederhan, pil.
Daftar pustaka

1.http://kesga.kemkes.go.id/images/pedoman/Pedoman%20Manajemen
%20Pelayanan%20KB.pdf
2. Saifuddin, AB. Buku panduan praktis pelayanan kontrasepsi
3. https://www.alomedika.com/tindakan-medis/obstetrik-dan-ginekologi/pemasangan-iud/teknik

Anda mungkin juga menyukai