Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH SEJARAH KEPERAWATAN JIWA

(Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Jiwa)

Oleh :

Dyah Ayu Kumalasari S.

080117A020

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

2019/2020
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena
berkat rahmat, hidayah dan karunia-Nya maka penulis dapat menyelesaikan
makalah ini dengan judul “SEJARAH KEPERAWATAN JIWA”.

Makalah ini diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Keperawatan Jiwa.
Penulis menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih banyak terdapat
kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan, hal ini dikarenakan keterbatasan
kemampuan yang penulis miliki.

Atas segala kekurangan dan ketidaksempurnaan makalah ini, penulis


sangat mengharapkan masukan, kritik dan saran yang bersifat membangun kearah
perbaikan dan penyempurnaan makalah ini.

Akhir kata penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi
semua pihak dan semoga amal baik yang telah diberikan kepada penulis mendapat
balasan dari Allah SWT

Ungaran , 03 September 2019

Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

B. Rumusan Masalah

C. Tujuan Penulisan

BAB II TINJAUAN TEORI


A. Sejarah Perkembangan Keperawatan Jiwa di Dunia
B. Sejarah Perkembangan Keperawatan jiwa di Indonesia
C. Upaya Kesehatan Jiwa di Indonesia

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

B. Saran

DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Keperawatan jiwa adalah proses interpersonal yang berupaya


meningkatkan dan mempertahankan perilaku pasien yang berperan pada
fungsi yang terintegrasi. Sistem pasien atau klien dapat berupa individu,
keluarga, kelompok, organisasi, atau komunitas. American Nurses
Association mendefenisikan keperawatan kesehatan jiwa sebagai suatu
bidang spesialisasi bidang keperawatan yang menerapkan teori perilaku
manusia sebagai ilmunya dan penggunaan diri yang bermanfaat sebagai
kiatnya (Stuart,2013).

Masalah kesehatan jiwa masyarakat dewasa saat ini semakin


meningkat, yaitu dengan semakin meningkatnya tindak kekerasan,
tingginya kenakalan remaja, meningkatnya penyalahgunaan NAPZA,
meningkatnya tawuran, pengangguran dan perselingkuhan juga
merupakan faktor penyebab gangguan jiwa di masyarakat. Untuk
penanganan masalah ini, masyarakat perlu mendapatkan informasi yang
luas tentang kesehatan jiwa baik dalam permasalahan maupun
pencegahan dan penangananya.

Untuk menangani masalah kesehatan jiwa tersebut di perlukan


peran tenaga kesehatan khususnya perawat kesehatan jiwa, dengan cara
melibatkan peran serta masyarakat untuk menangani masalah tersebut
dengan membentuk kader kesehatan jiwa yang bertugas untuk mendata
masalah kesehatan jiwa dimasyarakat mulai dari deteksi dini masyarakat
yang sehat jiwa, yang beresiko mengalami masalah gangguan jiwa, sampai
yang mengalami gangguan jiwa berat,sehingga seluruh masalah kesehatan
jiwa di masyarakat dapat diatasi (Keliat, 2013). Dengan adanya kader
kesehatan jiwa, tugas perawat jiwa dalam mendeteksi masalah kesehatan
jiwa di masyarakat akan sangat terbantu.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana sejarah perkembangan keperawatan jiwa di dunia?
2. Bagaimana sejarah perkembangan keperawatan jiwa di Indonesia?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui dan memahami bagaimana sejarah perkembangan
keperawatan jiwa di dunia?
2. Untuk mengetahui dan memaami Bagaimana sejarah perkembangan
keperawatan jiwa di Indonesia?
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. SEJARAH PERKEMBANGAN KEPERAWATAN JIWA DI DUNIA


1. Zaman Mesir Kuno
Pada zaman ini, gangguan jiwa dianggap disebabkan karena adanya
roh jahat yang bersarang diotak. Oleh karena itu, cara menyembuhkannya
dengan membuat lubang pada tengkorak kepala untuk mengeluarkan roh
jahat yang bersarang diotak tersebut. Hal ini terbukti dengan
ditemukannya lubang dikepala pada orang yang pernah mengalami
gangguan jiwa. Selain itu, ditemukan pada tulisan Mesir Kuno tentang
siapa saja yang pernah kena roh jahat dan sudah dilubangi kepalanya.
Tahun-tahun berikutnya, pasien yang mengalami gangguan jiwa diobati
dengan dibakar, dipukuli, atau dimasukkan dalam air dingin dengan cara
diajak jalan melewati sebuah jembatan lalu diceburkan dalam air dingin
dengan maksud agar terkejut, yakni semacam syok terapi dengan harapan
agar gangguannya menghilang. Hasil pengamatan berikutnya diketahui
ternyata orang yang menderita skizofrenia tidak ada yang mengalami
epilepsi (kejang atau hyperplasia). Padahal penderita epilepsi setelah
kejangnya hilang dapat pulih kembali. Oleh karenanya, pada orang
skizofrenia dicoba buat hyperplasia dengan membuat terapi kejang listrik
(elektro convulsive theraphy).
2. Zaman Yunani (Hypocrates)
Pada zaman ini, gangguan jiwa sudah dianggap suatu penyakit.
Upaya pengobatannya dilakukan oleh dokter dan orang yang berdoa untuk
mengeluarkan roh jahat. Pada waktu itu, orang sakit jiwa yang miskin
dikumpulkan dan dimasukkan dalam rumah sakit jiwa. Jadi, rumah sakit
jiwa lebih banyak digunakan sebagai tempat penampungan orang
gangguan jiwa yang miskin, sehingga keadaannya sangat kotor dan jorok.
Sementara orang kaya yang mengalami gangguan jiwa dirawat dirumah
sendiri. Pada tahun 1841, Dorothea Line Dick melihat keadaan perawatan
gangguan jiwa. Ia tersentuh hatinya, sehingga berusaha memperbaiki
pelayanan kesehatan jiwa. Bersamaan dengan itu, Herophillus dan
Erasitratus memikirkan apa yang ada dalam otak, sehingga ia mempelajari
anatomi otak pada bintang. Khale kurang puas hanya mempelajari otak,
sehingga ia berusaha mempelajari seluruh system utuh hewan.
3. Zaman Vasalius
Vasalius tidak yakin hanya dengan mempelajari anatomi hewan
saja, sehingga ia ingin mempelajari otak dan system tubuh manusia.
Namun, membelah kepala manusia untuk dipelajari merupakan hal yang
mustahil, apalagi mempelajari system tubuh manusia. Akhirnya, ia
berusaha mencuri mayat manusia untuk dipelajari. Sayangnya kegiatannya
tersebut diketahui masyarakat, sehingga ia ditangkap, diadili, dan diancam
hukuman mati (pancung). Namun, ia bisa membuktikan bahwa
kegiatannya itu untuk kepentingan keilmuan, maka akhirnya ia
dibebaskan. Varsalius bahkan dapat penghargaan karena bisa menunjukan
adanya perbedaan antara manusia dan binatang. Sejak saat itu dapat
diterima bahwa gangguan jiwa adalah suatu penyakit. Namun
kenyataannya, pelayanan dirumah sakit jiwa tidak pernah berubah. Orang
yang mengalami gangguan jiwa dirantai, karena petugasnya khawatir
dengan keadaan pasien.
4. Revolusi Prancis I
Philipe Pinel, seorang direktur RS Bicetri Prancis, berusaha
memanfaatkan revolusi perancis untuk membebaskan belenggu pada
pasien jiwa. Revolusi Prancis ini dikenal dengan revolusi humanism dengan
semboyan utamanya “Liberty, Equality, Fraternity”. Ia meminta kepada
walikota agar melepaskan belenggu untuk pasien gangguan jiwa. Pada
awalnya, walikota menolak. Namun, pinel menggunakan alasan revolusi,
yaitu “jika tidak, kita harus siap diterkam binatang buas yang berwajah
manusia”. Perjuangan ini diteruskan oleh murid-murid pinel sampai
Revolusi ke 2.
5. Revolusi Kesehatan Jiwa II
Dengan diterimanya gangguan jiwa sebagai suatu penyakit, maka
terjadilah perubahan orientasi pada argono biologis. Pada saat ini, Qubius
menuntut agar gangguan jiwa masuk dalam bidang kedokteran. Oleh
karena itu, gangguan jiwa dituntut mengikuti paradigma natural sciences,
yaitu adalah taksonomi (penggolongan penyakit) dan nosologi (ada tanda
atau gejala penyakit). Akhirnya, Emil Craepelee mampu membuat
penggolongan dari tanda-tanda gangguan jiwa. Sejak saat itu, kesehatan
jiwa terus berkembang dengan berbagai tokoh dan spesfikasinya
masingmasing.
6. Revolusi Kesehatan Jiwa III
Pola perkembangan pada Revolusi Kesehatan Jiwa II masih
berorientasi pada berbasis rumah sakit (hospital base), maka pada
perkembangan berikutnya dikembangkanlah basis komunitas (community
base) dengan adanya upaya pusat kesehatan mental komunitas
(community mental health centre) yang dipelopori oleh J.F. Kennedy pada
saat inilah disebut revolusi kesehatan jiwa.

B. SEJARAH USAHA KESEHATAN JIWA DI INDONESIA


Di Indonesia sejak dulu sudah dikenal adanya gangguan jiwa, misalnya
dalam cerita Mahabrata dan Ramayana dikenal adanya “Srikandi Edan”,
‘Gantot Gaca Gandrung”. Bila beberapa tindakan terhadap penderita gangguan
jiwa sekarang dianggap sebagai warisan dari nenek moyang kita, maka kita
dapat membayangkan sedikit bagaimanakah kiranya paling sedikit sebagaian
dari jumlah penderita gangguan jiwa itu ditangani pada jaman dulu. Adapun
tindakan yang dimaksud adalah dipasung, dibiarkan berkeliaran di desa, sambil
mencari makanan dan menjadi totonan masyarakat malahan ada kalanya
diperlukan sebagai orang sakti, mbah wali atau medium (perantara antara roh
dan manusia).
1. Zaman Kolonial
Sebelum ada Rumah Sakit Jiwa di Indonesia, para gangguan jiwa ditampung
di RS sipil atau RS militer di Jakarta, Semarang, Surabaya. Yang ditampung
pada umumnya penderita gangguan jiwa berat. Ternyata tempat RS yang
disediakan tidak cukup. Tahun 1862 pemerintah Hindia Belanda
mengadakan sensus terhadap penderita gangguan jiwa di Pulau Jawa dan
Madura, hasilnya ada kira- kira 600 orang penderita gangguan jiwa di Pulau
Jawa dan Madura, 200 orang lagi didaerah- daerah lain. Keadaan demikian
untuk penguasa pada waktu itu sudah ada cukup alasan untuk membangun
RS jiwa. Maka pada tanggal 1 Juli 1882, dibangun Rumah Sakit Jiwa pertama
dibogor, kemudian berturut- turut RSJ Lawang (23 Juni 1902), RSJ Magelang
(1923) dan RSJ Sabang (1927). RSJ ini tergolong RS besar dan menampung
pederita gangguan jiwa menahun yang memerlukan perawatan lama.
Pemerintah Hindia Belanda mengenal 4 macam tempat perawatan
penderita psikiatrik yaitu:
a. RS Jiwa (kranzinnigengestichten) Di Bogor, Magelang, Lawang, dan
Sabang, RSJ terus penuh, sehingga terjadi penumpukan pasien di RS
sementara, tempat tahanan sementara kepolisian dan penjara-
penjara. Maka dibangunlah “aanexinrichtingen” pada RS Jiwa yang
sudah ada seperti di Semplak (Bogor) tahun 1931 dan Pasuruan (dekat
Lawang) tahun 1932.
b. RS Sementara (Doorgangshuizen) Tempat penampungan sementara
bagi pasien psikotik yang akut, dipulangkan setelah sembuh, yang perlu
perawatan lebih lama dikirim ke RS Jiwa yang didirikan di Jakarta,
Semarang, Surabaya, Ujung Pandang, Palembag, Bali, Padang,
Banjarmasin, Manado, dan Medan.
c. Rumah Perawatan (Veerplegtehuiizen) Berfungsi sebagai RS jiwa tetapi
dikepalai seorang perawat berijazah dibawah pengawasan dokter
umum.
d. Koloni Tempat penampungan pasien psikiatrik yang sudah tenang
pasien dapat berkerja dalam bidang pertanian serta tinggal di rumah
penduduk, tuan rumah diberi uang kos, dan masih berada dibawah
pengawasan. Rumah-rumah semacam ini dibangun jauh dari kota dan
masyarakat umum. Perawatan bersifat isolasi dan penjagaan (custodial
care). Teori dasar (yang sekarang tidak dianut lagi):
1) Pasien harus keluar dari rumah dan lingkungan yang menyebabkan
ia sakit, oleh sebab itu harus dirawat disuatu tempat yang tenang,
sehingga terbiasa dengan suasana rumah sakit.
2) Menghindari stigma (cap yang tidak baik). Dewasa ini pemerintah
hanya memiliki satu jenis rumah sakit jiwa yaitu RSJ pemerintah,
untuk menyederhanakan dan memperkuat struktur organisasi
serta sekaligus menghapus kecenderungan pada diskriminasi
pelayanan. Terdapat pula kecenderungan membangun rumah sakit
yang tidak besar lagi tetapi berkapasitas 250-300 tempat tidur,
karena lebih efektif dan efisien. RS juga sebaiknya tidak terpencil
tetapi berada ditengah-tengah masyarakat agar kegiatan dan
hubungan lebih dijamin. Cara pengobatan yang dahulu sering
dipakai RSJ adalah isolasi dan penjagaan (custodial care) sejak 1910
telah dicoba untuk meninggalkan penjagaan yang terlalu ketat
terhadap pasien dengan memberikan kebebasan yang lebih besar
(no restrin).
2. Zaman Setelah Kemerdekaan
Membawa babak baru bagi perkembangan usaha kesehatan jiwa, Oktober
1947 Pemerintah RI membentuk jawatan Urusan Penyakit Jiwa, karena
masih terjadi revolusi fisik maka belum dapat bekerja dengan baik. Pada
tahun 1950 pemerintahan RI menugaskan untuk melaksanakan halhal yang
dianggap penting bagi penyelenggaraan dan pembinaan kesehatan jiwa di
Indonesia. Jawatan ini bernaung dibawah Departemen Kesehatan; tahun
1958 diubah menjadi Urusan Penyakit Jiwa; 1960 menjadi Bagian Kesehatan
Jiwa; pada tahun 1966 menjadi Direktorat Kesehatan Jiwa yang sampai
sekarang dipimpin oleh Direktur Kesehatan Jiwa atau Kepala Direktorat
Kesehatan Jiwa. Direktorat Kesehatan Jiwa menyempurnakan struktur
organisasinya menjadi Dinas, yang diubah menjadi Subdirektorat
Peningkatan (promosi), Subdirektorat pelayanan dan pemulihan,
Subdirektorat Rehabilitasi serta Subdirektorat pengembanga Program.
Dengan ditetapkannya UU Kesehatan Jiwa No. 3 Tahun 1966 oleh
pemerintah, maka lebih terbuka untuk menghimpun semua potensi guna
secara bertahap melaksanakan modernisasi semua sistem rumah sakit serta
fasilitas kesehatan jiwa di Indonesia. Direktorat Kesehatan Jiwa
mengadakan kerjasama dengan berbagai instansi pemerintah dan dengan
fakultas kedokteran, badan kedokteran, badan internasional, seminar
nasional dan regional asia serta rapat kerja nasional serta daerah. Adanya
pembinaan sistem pelaporan, tersusunnya PPDGJ I tahun 1973 dan
diterbitkan tahun 1975 serta integrasi dalam pelayanan kesehatan
dipuskesmas. Pihak swastapun lebih memikirkan masalah kesehatan jiwa,
terutama dikota-kota besar.
Di Jakarta, kemudian di Jogjakarta dan Surabaya serta beberapa kota
lainnya didirikan sanatorium kesehatan jiwa. RSU Pemerintah dan RS ABRI
menyediakan tempat tidur untuk pasien gangguan jiwa dan mendirikan
bagian pskiatri, demikian pula RS Swasta seperti RS St. Carolus di Jakata RS
Gunung Maria (minahasa). Di Jakarta dan Surabaya telah didirikan pusat
kesehatan jiwa masyarakat. Metode pengobatan penderita gangguan jiwa
telah banyak mengalami kemajuan dari jaman ke jaman. Evolusi ini
merupakan cerminan dari perubahan dasar-dasar filosofi dan teori tentang
pengobatan.
a. Awal Sejarah Gangguan Jiwa masih dianggap sebagai penyakit yang
tidak dapat disembuhkan dan berkaitan dengan dosa atau kejahatan,
sehingga terkadang pengobatan yang dilakukan bersifat brutal dan
tidak manusiawi.
b. Abad Pertengahan Orang yang mengalami gangguan Jiwa biasanya
dipenjara/dikurung oleh keluarganya. Bahkan mereka dibuang dan
dibiarkan hidup dijalanan dengan mengemis. Namun setelah ada
beberapa kelompok agama yang memberikan sumbangan, para
penderita mulai disalurkan kerumah sakitrumah sakit.
c. Abad ke 15-17 Kondisinya masih memprihatikan penderita laki-laki dan
perempuan disatukan. Mereka mendapat pakaian dan makanan yang
tidak layak, bahkan sering dirantai, dikurung, dan dijauhkan dari sinar
matahari.
d. Abad ke 18 Terjadi revolusi Perancis dan Amerika yang memberikan
inspirasi pada masyarakat luas akan kebebasan serta perlakuan yang
adil untuk semua.
e. Abad ke 19 Didirikan Rumah Sakit Jiwa pertama, McLean Asylum di
Massachusetts yang memberikan pengobatan secara manusiawi pada
penderita Gangguan Jiwa.
f. Abad ke 20 Disebut Era psikiatri, karena para medis mulai menggali
basis Gangguan Jiwa secara ilmu dan klinik, seperti:
 Adolphmeyer (1866-1950) dengan teori psikobiologi
 Cliffordbeers (1876-1943) yang menulis artikel mengenai intensif
 Emill Krapelin (1856-1926) dengan klsifikasi Gangguan Jiwanya
 Eugene Bleuler (1857-1939) yang menemukan istilah Skizofrenia
 Sigmund Freud (1856-1939) yang mengembangkan teori
Psikoanalisis, Psikoseksual, dan Neurolosis
 Carll Gustav (1857- 1961)
 Karen Horny (1885-1952).
Kesehatan Jiwa berkembang pesat pada perang dunia II karena
menggunakan pendekatan metode pelayanan publik Health service.
Konsekuensinya, peran perawat Jiwa juga berubah dari peran pembantu
menjadi peran aktif dalam tim kesehatan untuk mengobati penderita
Gangguan Jiwa lebih difokuskan pada basis komunitas. Pada masa kini,
perawatan penderita Gangguan Jiwa ini sesuai dengan hasil konferensi
Nasional I Keperawatan Jiwa (Oktober 2004) bahwa pengobatan akan lebih
difokuskan dalam hal tindakan prefentif. Beberapa jurnal menunjukkan
bahwa tindakan prefentif sangat penting.

C. UPAYA KESEHATAN JIWA DI INDONESIA


Pada masa jaman kolonial Belanda, para penderita ganguan jiwa ditampung di
rumah sakit sipil atau militer. Semakin banyak jumlah penderita gangguan
jiwa, mendorong pemerintah pada saat itu untuk mendirikan Rumah Sakit Jiwa
pertama di Bogor pada tanggal 1 Juli 1882 (sekarang RSJ Marzoeki Mahdi).
Selanjutnya di Lawang (23 Juni 1902), RSJ Magelang (1923), RSJ Sabang (1927).
Namun sangat disayangkan, setelah Jepang menduduki Indonesia
perkembangan kesehatan jiwa sempat mengalami kemunduran, bahkan RSJ
yang berada di Sabang hancur. Selama tahun 1940 sampai dengan 1990 terjadi
berbagai gerakan perubahan kesehatan mental, diantaranya:
1. Tahun 1946: peluncuran Undang-Undang Kesehatan Mental.
Perubahan yang terjadi: Terbentuknya farmasi institut nasional kesehatan
mental yang mendukung penelitian tentang intervensi, diagnosa psikiatri,
dan pencegahan serta pengobatan gangguan jiwa.
2. Tahun 1961: Komisi Presiden kesehatan dan gangguan jiwa.
Perubahan yang terjadi: Dukungan legislatif untuk pendidikan bagi tenaga
profesi kesehatan jiwa termasuk perawat, pekerja sosial, psikiatri, dah
psikolog.
3. Tahun 1963: Peluncuran Undang-Undang tentang pusat kesehatan jiwa
masyarakat.
Perubahan yang terjadi: Deinstitusionalisasi klien gangguan jiwa kronik
pindah dari institusi (RSJ) ke pusat rehabilitasi masyarakat.
4. Tahun 1970-1980: munculnya minat pada aspek biologi dan neurobiologi
daari gangguan jiwa dan pengobataannya.
Perubahan yang terjadi: Munculnya generasi ketiga obat psikotropika
popularitas terapi biologi meningkat.
5. Tahun 1990-an: dekade otak.
Perubahan yang terjadi:
 Semakin berkembangnya neurobiologi dan teknologi.
 Identifikasi penelitian-penelitian diagnostik yang inovatif khususnya
untuk skizoprenia dan gangguan mood.
6. Tahun 1990-awal abad ke-20: terjadinya perubahan pada ekonomi dan
sosial reformasi pelayanan kesehatan.
Perubahan yang terjadi:
 Meningkatnya jumlah tunawisma.
 Kurangnya dukungan dana legislatif untuk pencegahan primer,
sekunder dan tersier.
 Epidemik global AIDS.
 Perlunya pemberian pelayanan kesehatan yang sistematis.
 Berkembangnya resiko tinggi gangguan jiwa pada wanita hamil.
 Kekerasan pada wanita anak-anak, orang tua, dan pengguna obat-obat
terlarang.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Keperawatan jiwa di dunia dimulai pada zaman mesir kuno, dimana
gangguan jiwa dianggap disebabkan karena adanya roh jahat yang
bersarang diotak. Perkembangan keperawatan jiwa didunia terus
berkembang dengan menggali dari beberbagai teori dasar yang telah
dibuat oleh ilmuan dibidang psikologi dan lebih menerapkan pelayanan
prefentif. Dimasa ini juga ditemukan kencenderungan seorang anak yang
terlahir dari orang tua mengalami gangguan jiwa cenderung akan untuk
mengalami gangguan jiwa pula dimasa mendatang. Perkembangan
keperwatan jiwa di Indonesia tidak diketahui secara pasti diperlakukan
seperti apa.
Namun, pada masa jaman kolonial Belanda, para penderita
ganguan jiwa ditampung di rumah sakit-rumah sakit sipil atau militer.
Semakin tahun penderita gangguan jiwa terus bertambah sehingga
mengharuskan untuk pemerintah membangun rumah sakit jiwa yang
pertama di Bogor pada tanggal 1 Juli 1882 (sekarang RSJ Marzoeki Mahdi).
Selanjutnya di Lawang (23 Juni 1902), RSJ Magelang (1923), RSJ Sabang
(1927).Namun sangat disayangkan, setelah Jepang menduduki Indonesia
perkembangan kesehatan jiwa sempat mengalami kemunduran.
Pemerintah Indonesia terus memperbaiki pelayanan penderita gangguan
jiwa terbukti dengan adanya UU Kesehatan Mental dan memberi
dukungan dengan memberikan pendidikan bagi tenaga kesehatan jiwa.
B. Saran
Dengan adanya makalah ini penyusun berharap agar pembaca khususnya
tenaga kesehatan lebih memahami Sejarah Keperawatan Jiwa baik di dunia
maupun di Indonesia sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Azizah L . 2011. Keperawatan Jiwa Aplikasi Praktik Klinik. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Keliat, B.A. (2010). Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa. Jakarta: EGC

Kusumawati F dan Hartono Y. 2011. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC.
Nasir A dan Muhith A. 2011. Dasar-Dasar Keperawatan Jiwa. Jakarta : Salemba
Medika.

Stuart,G.W. (2013). Psyciatric Nursing. (Edisi 10). Jakarta: EGC.

Yosep,Iyus. 2010. Keperawatan Jiwa. Bandung : PT. Refika Aditama.

Anda mungkin juga menyukai