Anda di halaman 1dari 10

PEMBUATAN INJEKSI

Eriska Febriyanti, Hanisah Amalia, Ita Nuritasari, Riawati Sinaga,


Yunikhe Anafisya

Jurusan Farmasi Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam


Universitas Sriwijaya Indralaya
Email : farmasiunsri2017@gmail.com

ABSTRACT
Including one injection of sterile preparations in the form of solutions, emulsions,
suspension, or powder to be dissolved or suspended before use that use by tearing tissue
in the skin or through a mucous membrane. Manufacture of injection using materials
such as nicotinamide as an active ingredient, Na-benzoate as a preservative, and aqua
pro injection as well as the carrier solvent. Preparations injection in single-dose use of
packaging in the form of ampoules (1mL), while in the double-dose use vial (5 mL).
Making the injection of nicotinamide both packaging vials or ampoules had the same
procedure by dissolving the substance by using API / WFI in the glass beaker. Injection
dosage should whenever possible be isotonic and isohidris, meant that when injected into
the body does not hurt and absorption of the drug can be optimized. Preparations
injection in vial packaging are hipotonis so that the addition of NaCl as 0,0171g to make
the preparation isotonic, whereas injection ampoule packaging is hpertonic. Tonicity
calculation method used is the method krioskopik, equivalent NaCl, white-vincent,
sprows and dissociation of factors.
Keyword : nicotinamide injection, tonicity, packaging

ABSTRAK
Injeksi termasuk salah satu sediaan steril yang berupa larutan, emulsi, suspense, atau
serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan yang
pemakaiannya dengan cara merobek jaringan dalam kulit atau melalui membrane
mukosa. Pembuatan injeksi menggunakan bahan berupa nikotinamid sebagai zat aktif,
Na-benzoat sebagai pengawet, dan aqua pro injection sebagai pelarut sekaligus
pembawa. Sediaan injeksi dalam dosis tunggal menggunakan pengemas berupa ampul
(1mL) sedangkan dalam dosis ganda menggunakan vial (5mL). Pembuatan injeksi
nikotinamid baik pengemas vial ataupun ampul memiliki prosedur yang sama dengan
cara melarutkan zat dengan menggunakan API/WFI didalam beaker glass. Sediaan
injeksi harus sebisa mungkin bersifat isotonis dan isohidris, dimaksudkan agar saat
disuntikkan ke badan tidak terasa sakit. Sediaan injeksi dalam pengemas vial bersifat
hipotonis sehingga dilakukan penambahan NaCl sebanyak 0,0171g untuk membuat
sediaan isotonis, sedangkan injeksi pengemas ampul bersifat hpertonis. Metode
perhitungan tonisitas yang digunakan berupa metode krioskopik, ekuivalen NaCl, white-
vincent, sprows, dan faktor disosiasi.
Kata kunci : injeksi niotinamid, tonisitas, pengemas
1. PENDAHULUAN Nicotinamide adalah
Sediaan injeksi merupakan turunan dari vitamin B3. Tidak
sediaan steril berupa larutan, hanya dihasilkan secara alami
emulsi, suspense, atau serbuk oleh tubuh, nicotinamide juga
yang harus dilarutkan atau bisa diperoleh dari jenis-jenis
disuspensikan lebih dahulu makanan, seperti daging ayam,
sebelum digunakan secara sapi, ikan, telur, susu, ragi,, dan
parenteral, yang disuntikkan gandum utuh. Di dalam tubuh,
dengan cara merobek jaringan nicotinamide akan diubah
kedalam kulit atau melalui kulit menjadi enzim yang dapat
atau memlalui membrane mengurai lemak menjadi energi.
mukosa. Wadah untuk sediaan Selain itu, zat ini juga memiliki
dosis ganda yang umum sifat anti inflamasi, sehingga
digunakan berupa vial atau dipakai untuk mencegah
flakon.Wadah dosis ganda peradangan pada jerawat.[3]
dilengkapi dengan penutup karet Vial adalah salah satu
atau plastic untuk wadah dari bentuk sediaan steril
memungkinkan penusukan yang umumnya digunakan pada
jarum suntik tanpa membuka dosis ganda namun terkadang
[1]
atau merusak tutup. juga digunakan sebagai wadah
Ampul adalah wadah dosis tunggal. Tutup vial terbuat
berbentuk silindris yang terbuat dari karet yang berasal dari karet
dari gelas dengan ujung runcing alam, silikon,neoprene atau
dan bidang dasar datar. Ukuran polyisoprene.[4]
nominalnya adalah 1, 2, 5, 10,
20 atau 30 mL. Ampul adalah
wadah takaran tunggal atau 2. METODE PENELITIAN
single doses ehingga total 2.1 Waktu Dan Tempat
jumlah cairannya ditentukan
Penelitian ini dilakukan di
pemakaian dalam satu kali
Laboratorium Teknologi
pemakainnya untuk satu kali
Farmasi, Jurusan Farmasi,
injeksi. [2]
Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Universitas merupakan air yang dipakai
Sriwijaya pada tanggal 11 untuk pembuatan sediaan steril
September 2019. seperti injeksi. Pertama lakukan
penyulingan terhadap aquadest,
2.2 Alat Dan Bahan
di panaskan hingga pada
2.2.1 Alat
erlenmeyer nampak gelembung
Alat yang digunakan untuk gas pada air. Setelah itu
pembuatan injeksi dalam bentuk masukkan arang aktif untuk
vial dan ampul, berupa pipet memurnikan aquadest, dan
tetes, gelas beker, batang lakukan penyaringan untuk
pengaduk, pengemas primer memindahkan wadah nya.
vial, pengemas primer ampul,
pengemas sekunder vial, 2.3.2 Pembuatan sediaan

pengemas sekunder ampul, dan Ampul

kotak aseptis. Pertama larutkan zat aktif


Aminofillin, pada pelarut air,
2.2.2 Bahan maka dapat langsung di larutkan
Bahan merupakan media ke Water For Injection,
yang dipakai dan ikut kemudian lakukan penambahan
berlangsung dalam pembuatan eksipien berupa NaCl 0,9 % yang
sediaan injeksi berupa vial dan sudah di hitung tonisitas nya
ampul, dimana bahan yang di untuk dapat kompatibel dengan
pakai berupa WFI (Water For cairan darah pada tubuh.
Injection), Nicotinamide, Prosedur ini dilakukan pada
Natrium benzoat dan NaCl 0,9 ruangan steril serta kotak aseptis
%. dengan lilin yang menyala agar
2.3 Prosedur Kerja kesterilannya terjaga.

2.3.1 Pembuatan Water For


2.3.3 Pembuatan sediaan Vial
Injection
Petama larutkan zat aktif
Water For Injection adalah
aminofilin pada pelarut yang
air khusus bebas pyrogen dan
sesuai, yaitu larut pada pelarut
bebas mikroorganisme,
air, maka dapat langsung
dilarutkan ke Water For a. Vial
Jumlah 4 buah
Injection, kemudian lakukan
Volume 1 ml
penambahan eksipien berupa Volume larutan yang dibutuhkan
NaCl 0,9 % yang sudah di = (n + 2) V´ + (2.3)
= (4 + 2). 5,3 + 6
hitung tonisitasnya untuk dapat = 31,8 + 6
= 37,8
kompatibel dengan cairan darah
pada tubuh, kemudian -Nikotinamida
100 𝑚𝑔
tambahkan Benzyl Alkohol = = 37,8 ml
5 𝑚𝑙
=756 mg
sebagai pengawet untuk sediaan -Api ad 37,8 ml
multiple injection seperti Vial
-Na. Benzoate
ini sesuai dari perhitungan 0,025 𝑚𝑔
= 𝑚𝑙 = 37,8 ml
formula. Masukkan ke dalam
=0,189 mg
Vial, kemudian tutup vial rapat.
Prosedur ini dilakukan pada b. Ampul
Jumlah 5 buah
ruangan steril serta kotak aseptis Volume 1 ml
dengan lilin yang menyala agar Volume larutan yang dibutuhkan
= (n + 2) V´ + (2 . 3)
kesterilannya terjaga.
= (5 + 2) 1.1 + 6
= 13,7 ml
2.3.4 Prosedur penutupan
Ampul -Nikotinamida
50 𝑚𝑔
= 𝑚𝑙 = 13,7 ml
Pertama dimasukkan sediaan
= 685 mg
ke ampul sesuai volume di etiket, -Api ad 13,7 ml
kemudian untuk menutupnya
C. Tonisitas
digunakan metode tarik-putar,
Vial
dengan pemanasan pada ujung 1. Metode krioskopik
𝐵𝑜𝑏𝑜𝑡 1000
ampl, kemudian di putar saat ∆𝑇𝑓 = Liso = 𝐵𝑀 . 𝑉
0,1 𝑔 1000
∆𝑇𝑓𝑁𝑖𝑘𝑜 = 1,9 = .
suhu melelehkan kaca, kemudian 122 5
= 0,311°
uji apakah terjadi kebocoran atau
0,0025 𝑔 1000
tidak. ∆𝑇𝑓𝑁𝑎.𝑏𝑒𝑛 = 3,4 . 144
. 5
= 0,012°
∆𝑇𝑓𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 = 0,311° + 0,012°
III. PERHITUNGAN DAN = 0,323° < 0,52° (Hipotonis)
0,52 – 0,323° = 0,197°
MONOGRAFI 0,9 % 0,52°
𝑥
= 0,197° → x = 0,341 %
3.1.Perhitungan
0,341 100 𝑚𝑙
𝑥
= 5 𝑚𝑙
→ x = 0,0171 g
0,3 𝑔 8,985 𝑚𝑙
Jadi Nacl yang dibutuhkan sebanyak 0,1 𝑔
. 𝑥
→ x = 2,995 ml
0,0171 g
0,3 1000
→ 0,52° = 3,4 . .
144 𝑉𝑁𝑎.𝑏𝑒𝑛
2. Metode ekuivalen Nacl 1.020
17 𝑉𝑁𝑎.𝑏𝑒𝑛 = 144 . 0,52
E = Liso . 𝐵𝑀
17
= 13,622 ml
→ 𝐸𝑁𝑖𝑘𝑜 = 1,9 . 122 0,3 𝑔 13,622 𝑚𝑙
. → x = 0,144 ml
0,0025 𝑔 𝑥
= 0, 265 g → 1 g Nikotinamida setara
dengan Nacl 0,265 g 𝑉𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 = 2,995 + 0,114 ml
= 3,109 ml
1𝑔 0,265 𝑔 5- 3,109 ml = 1,891ml
=
0,1 𝑔 𝑥
0,9 𝑔 𝑥
x = 0,0265 g . 1,891 𝑚𝑙
17 100 𝑚𝑙
→ 𝐸𝑁𝑎.𝑏𝑒𝑛 = 3,4 . 144 x = 0,0172 g
= 0,401 g →1 g Na. Benzoat setara Jadi Nacl yang dibutuhkan sebanyak
dengan Nacl 0,401 g 𝑀𝑛
0,0172 g 𝑋𝑛 = 𝑓𝑛
1𝑔 0,401
=
0,0025 𝑔 𝑥 5. Metode faktor disosiasi
x = 0,001 g 𝑀𝑛 𝑓𝑎 𝑓𝑏
𝐸𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 = 0,0265 + 0,001 g 𝑋𝑛 = . ⌊0,28 − ( . 𝑋𝑎 + )⌋
𝑓𝑛 𝑚𝑎 𝑚𝑏
= 0,0275 g Nacl yang diwakilkan 58,5 1
1,8
. ⌊0,28 − (152 . 0,1 +
0,9 𝑔 𝑥 1,8
= 5 𝑚𝑙 →x = 0,045 g 144
. 0,0025)⌋
100 𝑚𝑙
0,0275 g < 0,045 (hipotonis) = 32,5 (0,28 – 0,00085)
𝑔
Nacl yang dibutuhkan = 0,045 – 0,0275 = 9,072 ⁄𝐿
g 9,072 𝑔 𝑥
1000 𝑚𝑙
= 5 𝑚𝑙
= 0,0175
x = 0,04536 g
3. Metode white-Vincent
0,9 𝑔 0,0275 𝑔 Ampul
=
100 𝑚𝑙 𝑥 1. Metode Krioskopik
x = 3,056 ml 𝐵𝑜𝑏𝑜𝑡 1000
∆𝑇𝑓 = Liso . . 𝑉
Nacl yang diperlukan = 5 – 9,056 ml 𝐵𝑀
0,05 𝑔 1000 𝑚𝑙
= 1,944 ml ∆𝑇𝑓𝑁𝑖𝑘𝑜 = 1,9 . 122
. 1 𝑚𝑙
0,9 𝑔 𝑥
= = 1,9 . 0,00041 . 1000
100 𝑚𝑙 1,944 𝑚𝑙
x = 0,0175 g = 0,778 ℃
Jadi Nacl yang dibutuhkan sebanyak 0,778 ℃ > 0,52 ℃ (Hipertonis)
0,0175 g
2. Ekuivalen Nacl
17
E = Liso . 𝐵𝑀
4. Metode Serows 17
𝑀𝑔 1000
𝐸𝑁𝑖𝑘𝑜 = 1,9 . 142
∆𝑇𝑓 = Liso . 𝐵𝑀 . 𝑉 = 0,264
𝑁𝑖𝑘𝑜
0,3 1000 0,9 𝑔 𝑥
→ 0,52° = 1,9 . 122 . 𝑉 E=
100
=
1 𝑚𝑙
𝑁𝑖𝑘𝑜
570 x = 0,009 g
𝑉𝑁𝑖𝑘𝑜 = 0,52 . 122
0,264 > 0,009 (Hipertonis)
= 8,985 ml
3. Metode White-Vincent  Nama kimia : piridina-3-
0,009 0,264
1 𝑚𝑙
= 𝑥 karboksamida
0,009 x = 0,264
x = 29,333 ml  Rumus empiris: C6H6N2O
→ 29,333 ml > 1 ml (Hipertonis)  Rumus molekul :
4. Metode serows
𝑀𝑔 1000
∆𝑇𝑓 = Liso . 𝐵𝑀 . 𝑉
0,3 1000
0,52 = 1,9 . .
122 𝑉
570
V= 63,44
= 8,985 ml  BM : 122,1 g/mol
0,3 𝑔 8,985 𝑚𝑙

0,05 𝑔
=
𝑥
 Pemerian : hablur atau
0,3 x = 0, 44925 serbuk hablur, putih atau
X = 1,4975 ml
tidak berwarna, berbau lemah
0,009 x = 0,264 dan khas
x = 29,333 ml
→ 29,333 ml > 1 ml (Hipertonis)  Kelarutan : larut dalam 1
bagian air, dalam 1,5 bagian
4. Metode serows
𝑀𝑔 1000 etanol, sukar larut dalam
∆𝑇𝑓 = Liso . .
𝐵𝑀 𝑉
0,3 1000
0,52 = 1,9 . . kloroform dan eter
122 𝑉
570
V=
63,44
 pH : 6,0 – 7,5

0,3 𝑔
= 8,985 ml
8,985 𝑚𝑙
 Penyimpanan : dalam wadah
→ =
0,05 𝑔 𝑥 tertutup rapat dan tempat
0,3 x = 0, 44925
X=1,4975ml sejuk
 Khasiat : antipallegra,
5. Metode Faktor disosiasi vitamin B kompleks
𝑀𝑛 𝑓𝑎
𝑋𝑛 = . ⌊0,28 − ( . 𝑋 )⌋  Sterilisasi : cara A atau cara
𝑓𝑛 𝑚𝑎 𝑎
58,5 1 C
= 1,8
. ⌊0,28 − (122 . 0,05 )⌋
= 32,5 (0,28 – 0,00041)  Titik lebur : antara 128oC –
= 32,5 (0,27959)
𝑔 131oC
= 9,087 ⁄𝐿

9,087 𝑔
=
𝑥  Stabilitas : hindari dari sinar
1000 𝑚𝑙 1 𝑚𝑙
X=0,0091g cahaya
 Imkompatibilitas : dengan zat
3.2 Monografi pengoksidasi yang kuat
3.2.1 Nikotinamid
3.2.2 Natrium Benzoat (HOPE Ed kalsium, gelatin, dan garam
VI, Hal. 627 – 629) dari logam berat
 Nama kimia :
Sodium Beanzoate 3.2.2 API (Farmakope Indonesia
 Rumus empiris : C7H5NaO2 Ed III, Hal.94-97)
 Rumus molekul :  Nama resmi: aqua pro
injection
 Rumus empiris : H2O
 Rumus molekul :
 BM : 144,1 g/mol
 Pemerian : granul putih atau
kristal atau hablur, dalam
 BM : 18,02 g/mol
bentuk serbuk bersifat
 Pemerian : cairan jernih tak
higroskopis, tidak berbau,
berwarna, tak berbau, tak
stabil di udara
berasa
 Kelarutan : mudah larut
 Kelarutan : sangat mudah
dalam air, agak sukar larut
larut dalam 100 bagian air
dalam etanol,
 pH : 5,0 – 7,0
 pH : > 5,0
 Penyimpanan : dalam wadah
 Penyimpanan : dalam wadah
tertutup baik dan rapat
tertutup rapat dan ditempat
 Kegunaan : pelarut sekaligus
yang sejuk serta kering
pembawa
 Khasiat : antimikrobial atau
 Sterilisasi : dengan cara A
pengawet
 Titik lebur : 0oC
 Sterilisasi : cara A atau cara
 Stabilitas : stabil dalam suhu
C
ruang
 Titik lebur : 0,24oC (1,0%
 Imkompatibilitas : dengan
w/v)
bahan yang mudah
 Stabilitas : stabil di udara
terhidrolisis
 Imkompatibilitas : komponen
kuartener, garam feri, garam
Jurnal teknologi farmasi (III) steril |8

III. HASIL DAN PEMBAHASAN terhadap tubuh.Apabila sediaan injeksi


Praktikum Teknologi Farmasi
yang dibuat tidak isotonis, maka
Steril kali ini mengenai pembuatan
terdapat dua kemungkinan yaitu
injeksi.Injeksi yang dibuat memiliki
hipertonis atau hipotonis. Selain itu
zat aktif berupa nikotinamid yang
juga, akan memberikan rasa sakit
memiliki khasiat sebagai antipellagra.
kepada pasien saat pemberian obat.
Adapun zat tambahan atau eksipien
Keadaan hipotonis maupun hipertonis
yang digunakan dalam pembuatan
tidak diingkan di dalam tubuh. Pada
injeksi ini antara lain Na benzoate dan
keadaan hipotonis sel darah merah
water for injection (WFI).
atau eritrosit akan mengkerut.
Sediaan injeksi dalam
Sedaangkan, pada keadaan hipertonis
pembuatannya harus dijaga
sel darah merah atau eritrosit akan
kesterilannya. Hal ini dikarenakan
membesar dan terjadinya lisis. Pada
sediaan injeksi memeiliki
keadaan hipertonis lebih dapat
bioavailibilitas yang tinggi sekitar
diterima oleh tubuh dibandingkan
99,95%. Bioavailibiltas yang tinggi
keadaan hipotonis.
karena sedian injeksi langsung mauk
Perhitungan tonisitas dilakukan pada
ke dalam sirkulasi sistemik
sediaan ampul dan sediaan vial. Pada
tubuh.Adapun sterilisasi alat dan
perhitungan tonisitas terdapat lima
bahan dipilih metode autoklaf pada
metode. Metode tersebut antara lain
suhu 121°C selama 15 menit.Metode
metode krioskopik, metode ekivalensi,
autoklaf dipilih karena sesuai dengan
metode sprowls, metode white-
sifat fisika dari bahan yang digunakan.
vincent, dan metode faktor
Tonisitas harus benar-benar
disosiasi.Nilai pada masing-masing
diperhatikan. Perhitungan tonisitas
metode harus memenuhi syarat
digunakan untuk mengetahui kadar
dimana nilainya tidak boleh berbeda
NaCl yang diperlukan untuk mencapai
signifikan. Hasil perhitungan metode-
pH tubuh. Hal ini diperlukan agar
metode tersebut ditulis dalam tabel
sediaan injeksi yang dibuat isotonis
berikut:
Jurnal teknologi farmasi (III) steril |9

Metode Ampul Vial beku. Maka untuk mencapai

Metode 0,778°C 0,0,0171g isotonisitasnya perlu ditambahkan

Krioskopik NaCl sesuai dengan perhitungan

Metode 0,0,264g 0,0175g tonisitas.

Ekivalensi Penimbangan banyaknya zat aktif dan

Metode 0,8,985g 0,0172g eksipien yang digunakan pada

Sprowls kemasan ampul dan vial berbeda. Pada

Metode 0,29333g 0,0175g sediaan vial nikotinamid yang

White- dibutuhkan sebanyak 100mg, Na

Vincent benzoat sebanyak 0,025mg, , dan WFI

Metode 0,0091g 0,0453g ad 5mL. Sedangkan, pada sediaan

Faktor ampul nikotinamid yang dibutuhkan

Disosiasi sebanyak 50mg, dan WFI ad 1

Tabel 1. Pehitungan Tonisitas mL.Pemilihan ekspien sesuai dengan

Ampul dan Vial sifat fisika dari nikotinamid sehingga

Berdasarkan data tabel tersebut jangan sampai terjadi OTT pada

dapat dilihat bahwa pada kelima ekspien dan zat aktif yang digunakan.

metode tersebut tidak memiliki Na benzoate dalam hal ini memiliki

perbedaan yang sangat sifat yang incompatible terhadap

signifikan.Sehingga, perhitungan komponen guarter,gelatin,garam

isotonisitas pada injeksi nikotinamid feri,garam kalsium,dan metal berat

yang dibuat setara dengan gram dan aktivitas preservativenya jarang

NaCl. jika berinteraksi dengan kaolin atau

Perhitungan terhadap sediaan surfaktan non-ionik.

injeksi pada vial didapatkan hasil yang Pengemas yang digunakan pada

hipotonis .dengan nilai penurunan titik sediaan injeksi ini berubah pegemas

beku lebih kecil dari primer dan pengemas

ketetapannya,nilai tersebut berupa sekunder.Pengemas primer yang


digunakan berupa ampul dan
0,323°untuk penurunan titik bekunya
vial.Sedangkan pengemas sekunder
dan 0,52°C sebagai ketetapan titik
J u r n a l t e k n o l o g i f a r m a s i ( I I I ) s t e r i l | 10

yang digunakan kotak yang terbuat teliti.Praktikkan diharapkan teliti


dari kertas concorn dan sticker.Tujuan dalam perhitungan tonisitas agar
dari pengunaan kemasan sekunder dihasilkan sediaan yang isotonis.
untuk melindungi pengemas primer
dari lingkungan yang buruk dan DAFTAR PUSTAKA
benturan. 1. Priyambodo,Bambang.2007.M
anajemen Industri Farmasi
KESIMPULAN Edisi Ke 1. Global Pustaka.
Injeksi nikotinamide dibuat dalam Yogyakarta.
pengemas ampul untuk penggunaan 2. Lachman, Lieberman, Kanig,
dosis tunggal sedangkan vial untuk 1994, Teori dan Praktek
dosis tunggal. Perhitungan tonisitas Farmasi Industri II.
vial nikotinamide dilakukan dengan 5 Universitas Indonesia. Jakarta.
metode yang menunjukkan bahwa 3. Black, Jacquelyn g, 1999,
injeksi nikotinamide mengalami Microbiology principles and
hipertonis dengan penambahan Explorations. Upper saddle.
NaClsebesar 0.0172 gram. Newjersey.
Perhitungan osmolaritas menunjukkan 4. Voight, R., 1994, Buku
bahwa sedian ampu nikotinamid Pelajaran Tekhnologi Farmasi
menunjukkan hipotonis sehingga aman Edisi Ke-5. Gajah Mada
untuk diinjeksikan secara intravena University Press. Yogyakarta.
atau masuk kedalam pembuluh darah.

SARAN
Semua alat dan bahan yang akan
digunakan dalam praktikum harus
disiapkan terlebih dahulu.Prosedur
kerja yang dilakukan harus sesuai dan
tidak boleh menyimpang dan lebih