Anda di halaman 1dari 24

ABSTRAK

Telah dilakukan percobaan yang berjudul “Pemisahan dan Penentuan Kadar Ion
Cu2+ dan Ion Zn2+ dalam Larutan Campuran Kupri dan Seng Sulfat Secara
Elektrogravimetri”. Percobaan ini bertujuan untuk memisahkan dan menentukan kadar ion
Cu2+ dan ion Zn2+ dalam larutan campuran kupri dan seng sulfat secara elektrogravimetri.
Prinsip dari percobaan ini adalah pengendapan suatu kation melalui reaksi redoks pada
sistem elektrolisis dengan metode elektrogravimetri. Pada proses elektrolisis ini dilakukan
pencatatan arus setiap 5 menit. Hasil yang diperoleh dari percobaan ini adalah terdapat
endapan merah bata yang merupakan endapan Cu, elektrolisis dilakukan selama 20 menit
dengan beda potensial 1,8 V. Arus listrik yang didapat sebesar 0,03A; 0,03A; 0,04A;
0,06A; 0,06A dan menghasilkan endapan 0,12 gram. Selain itu, juga terdapat endapan
putih yang menunjukkan bahwa endapan tersebut adalah endapan Zn, elektrolisis
dilakukan selama 15 menit dengan beda potensial 2,7 V menghasilkan arus sebesar 0,02A;
0,00A; 0,00A; 0,001A dan menghasilkan endapan 0,0101 gram. Rendemen prosentase
pada Cu sebesar 95,62%, sedangkan rendemen prosentase pada Zn sebesar 70,98%.

Kata Kunci : Elektrolisis, elektrogravimetri, ion Cu2+, Ion Zn2+, reaksi redoks.
ABSTRACT

An experiment was conducted entitled "Separation and Determination of Ion Cu2+


and Zn2+ Ion in Coupled Mixture of Kupri and Zinc Sulfate by Electrogravimetry". This
experiment was aimed at separating and determining the levels of Cu 2+ ions and Zn2+ ions
in a mixture of cupric and zinc sulfate by electrogravimetry. The principle of this
experiment is the deposition of a cation through a redox reaction in the electrolysis system
by electrogravimetric method. In this electrolysis process carried out the recording current
every 5 minutes. The result obtained from this experiment is that there is a precipitate of
red brick which is Cu precipitate, electrolysis done for 20 min with potential difference 1,8
V. Electric current obtained by 0,03A; 0,03A; 0,04A; 0,06A; 0,06A and 0,12 gram of
precipitate. In addition, there is also a white precipitate which indicates that the precipitate
is a Zn precipitate, electrolysis carried out for 15 min with a potential difference of 2.7 V
yielding a current of 0,02A; 0,00A; 0,00A; 0,01A and yield 0,0101 gram of sediment. The
percentage yield on Cu was 95,62%, while the percentage rendement on Zn was 70,98%.

Keywords: Electrolysis, electrogravimetry, Cu2+ ions, Ion Zn2+, redox reactions.


LAPORAN PRAKTIKUM
KIMIA ANALITIK

PERCOBAAN VII

PEMISAHAN DAN PENENTUAN KADAR ION Cu2+ DAN ION Zn2+ DALAM
LARUTAN CAMPURAN KUPRI DAN SENG SULFAT SECARA
ELEKTROGRAVIMETRI

DI SUSUN OLEH :

Synta Mutiara Bunga W 24030116130068


Pandu Yoda Putri Bilqis 24030116130069
M Akbar Darajat 24030116140110
Ratna Dwi Ayuni 24030116130111
Hirla Adelia Sukma Ningrum 24030116130116
Audry Fahmi Dewi 24030116140117

Asisten
Wini Fitriana
24030114120057

DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2017
PERCOBAAN VII

PEMISAHAN DAN PENENTUAN KADAR ION Cu2+ DAN ION Zn2+

DALAM CAMPURAN KUPRI DAN SENG SULFAT SECARA

ELEKTROGRAVIMETRI

I. TUJUAN PERCOBAAN
Dapat memisahkan dan menentukan kadar ion Cu2+ dan ion Zn2+ dalam larutan
campuran kupri dan seng sulfat secara elektrogravimetri.

II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1.Elektrokimia
Reaksi elektrokimia dapat dibagi dalam dua kelas: yang menghasilkan arus listrik
(proses yang terjadi dalam baterai) dan yang dihasilkan oleh arus listrik elektrolisis. Tipe
pertama reaksi bersifat serta merta, dan energy bebas system kimianya berkurang; system
itu dapat melakukan kerja, misalnya menjalankan motor. Tipe kedua harus dipaksa agar
terjadi (oleh kerja yang dilakukan terhadap system kimia), dan energy bebas system
kimia bertambah. Elektrokimia adalah disiplin ilmu kimia yang memperlajari tentang
perubahan zat yang menghasilkan arus listrik atau perubahan kimia yang disebabkan oleh
arus listrik (Keenan, 1980)

2.2.Elektrolisis
Elektrolisis adalah suatu proses dimana reaksi kimia terjadi pada elektroda yang
tercelup dalam elektrolit. Ketika tegangan diberikan terhadap elektroda itu. Elektroda yang
bermuatan positif disebut anoda dan elektroda yang bermuatan negarif disebut katoda.
Elektroda seperti platina yang hanya mentransfer elektron dari larutan, disebut elektron
inert. Elektroda reaktif adalah elektroda yang secara kimia memasuki reaksi elektroda
selama elektrolisis, terjadilah reduksi pada katoda dan oksidasi pada anoda (Dogra, 1998)
Elektrolisis adalah peristiwa penguraian suatu elektrolit oleh suatu arus listrik. Jika
dalam sel volta energi kimia diubah menjadi energi listrik, maka dalam sel elektrolisis
yang terjadi adalah sebaliknya, yaitu energy listrik diubah menjadi energi kimia. Dengan
mengalirkan arus listrik ke dalam suatu larutan atau leburan elektrolit, akan diperoleh
reaksi redoks yang terjadi dalam sel elektrolisis. Faktor yang menentukan reaksi kimia
elektrolisis antara lain konsentrasi (keaktifan) elektrolit yang berbeda, ada yang bersifat
inert (tak aktif) dan elektroda tak inert. (Anshory, 1984)

2.3.Elektrogravimetri
Analisis dimana elektroda kerja ditimbang sebelum elektrolisis dan kemudian
ditimbang kembali saat elektrolisis analit selesai dan perbedaan berate l e k t r o d a
memberikan b es a r massa analit. Te k n i k ini dikenal
s e b a g a i elektrogravimetri (Harvey, 2000)

2.4 Hukum Faraday

2.4.1 Hukum Faraday I


Jumlah zat yang terjadi pada elektroda sebanding dengan jumlah coulumb yang
mengalir. dimana, W = massa zat (g) I = kuat arus (A) T = waktu (detik) (Hogness,
1954)

2.4.2 Hukum Faraday II


Apabila jumlah Coulumb yang mengalir sama maka berat zat yang terjadi pada
elektroda berbanding lurus dengan gram ekivalen listrik. Jika i x t, maka W ∞ it
(ekivalen listrik). Jika hukum I dan II digabung maka dimana, W = massa zat (g) E =
BA/valensi i = kuat arus (A) t = waktu (detik) (Hogness, 1954)

2.5 Potensial Dekomposisi

Memulai suatu elektrolisis harus melampaui ggl balik galvani atau potensial
dekomposisi (Ed). Nilai ini dinyatakan dengan persamaan Ed = E anoda – E katoda.
Nilai ini akan berubah seiring berjalannya elektrolisis, tetapi nilai tersebut dapat dihitung
untuk semua kondisi dengan menggunakan persamaan Nerst untuk E0 anoda dan E0
katoda. Suatu tahap kimiawi dengan kinetika yang lambat pada proses elektroda
keseluruhan dapat juga menyebabkan potensial elektroda menyimpang dari nilai Nerst.
Sebagai contoh, dalam reduksi H+ pada katoda, tahap awal transfer elektron menghasilkan
atom hidrogen. H+ + e H Untuk membentuk produk akhir, atom-atom tersebut harus
bergabung(Underwood, 1999).

2.6 Stoikiometri Gravimetri


Dalam prosedur gravimetrik dilakukan penimbangan pada zat yang terendapkan
dan nilai analit yang didapat dari sampel kemudian dihitung. Maka persentase analit A
adalah :

(Underwood, 1999)

2.7 Tembaga

Tembaga (Cu) merupakan logam transisi golongan IB yang memiliki nomor atom 29
dan berat atom 63,55 g/mol. Tembaga dalam bentuk logam memiliki warna kemerah-
merahan, namun lebih sering ditemukan dalam bentuk berikatan dengan ion-ion lain
seperti sulfat sehingga memiliki warna yang berbeda dari logam tembaga murni. Tembaga
sulfat pentahidrat (CuSO4.5H2O) merupakan salah satu bentuk persenyawaan Cu yang
sering ditemukan. Senyawa tersebut biasa digunakan dalam bidang industri, misalnya
untuk pewarnaan tekstil, untuk penyepuhan, pelapisan, dan pembilasan pada industri
perak. Selain itu, tembaga sulfat pentahidrat juga marak digunakan dalam bidang pertanian
dan peternakan, yaitu sebagai fungisida, algasida, pupuk Cu, dan sebagai zat pengatur
pertumbuhan untuk babi (Alloway, 1995).

2.8 Logam Seng (Zn)

Seng merupakan salah satu unsur dengan simbol Zn, memiliki nomor atom 30, massa
atom 65,37 g/mol, konfigurasi elektron [Ar]3d10 4s2 dan terdapat pada golongan IIB unsur
transisi di dalam tabel periodik. Seng adalah logam yang berwarna putih kebiruan yang
sangat mudah ditempa. Seng liat pada suhu 110- 1500°C, melebur pada suhu 4100°C, dan
mendidih pada suhu 9060°C. Logamnya yang murni, melarut lambat dalam asam maupun
basa, adanya zat-zat pencemar atau kontak dengan platinum atau tembaga, yang dihasilkan
oleh penambahan beberapa tetes larutan garam dari logam-logam ini dapat mempercepat
reaksi (Svehla,1985)

2.9 Reaksi Redoks


Terdapat sejumlah reaksi saat keadaan oksidasi berubah yang disertai
dengan pertukaran electron antara pereaksi. Ini disebut reaksi oksidasi reduksi atau
reaksi redoks. Dari sejarahnya dapat diketahui bahwa oksidasi dianggap sebagai
proses oksigen diambil dari suatu zat,sedangkan penangkapan hydrogen disebut
reduksi. Reaksi oksidasi adalah suatu perubahan kimia dimana suatu zat
memberikan atau melepas electron,mengalami penambahan biloks/tingkat
oksidasi,terjadi di anoda pada suatu sel elektrokimia. Sedangkan reaksi reduksi
adalah suatu perubahan kimia dimana suatu zat menerima atau menangkap
electron,mengalami pengurangan biloks,dan terjadi di katoda pada suatu sel
elektrokimia (Svehla,1985).
Banyak reaksi redoks yang sulit disetarakan dengan cara menebak. Reaksi
seperti itu dapat disetarakan dengan metode setengah reaksi ataupun bilangan
oksidasi. Metode setengah reaksi atau metode ion elektron in didasarkan pada
pengertian jumlah elektron yang dilepaskan pada setengah reaksi redoks. Proses
penyetaraan in berlangsung melalui tahap-tahap sebagai berikut :

Contoh : K2Cr2O7 + HCl → KCl + CrCl3 + Cl2 + H2O


1. Langkah I : menulis kerangka dasar dari dari setengah reksi oksidasi dan
setengah reaksi reduksi secara terpisah dalam bentuk ion.
Oksidasi : Cl- → Cl2
Reduksi : Cr2O72- → 2Cr3+
2. Langkah II : masing-masing setengah reaksi tersebut disetarakan agar jumlah
atom sebelah kiri sama dengan sebelah kanan.
Oksidasi : 2Cl- → Cl2
Reduksi : Cr2O72+ + 14H+ → 2Cr3+ + 7H2O
3. Langkah III : jika ada spesies lain selain unsur yang mengalami perubahan
bilanagna oksidasi O2 dan H2, maka penyetaraannya dengan menambahkan
spesies yang bersangkutan pada ruas yang lainnya.
Dalam reaksi in tidak ada.
4. Langkah IV : menyetarakan muatan denangan menambahkan elektron pada
ruas yang jumlah muatannya lebih besar.
Oksidasi : 2Cl- → Cl2 +2e-
Reduksi : Cr2O72- + 14H+ + 6e → 2Cr3+ + 7H2O
5. Langkah V : menyetarakan jumlah elektron yang diserap pada setengah reaksi
reduksi dengan elektron tinggi yang dibebaskan pada setengah reaksi oksidasi
denagn cara memberi koefisien yang sesuai kemudian menjumlahkan kedua
setengah reaksi tersebut.

Reaksi redoks yang setara :


Oksidasi : 2Cl- → Cl2 + 2e x3
Reduksi : Cr2O72- + 14H+ +6e → 2Cr3+ + 7H2O x1
Hasil :
Oksidasi : 6Cl- → 3Cl2 +6e
Reduksi : Cr2O72- + 14H+ + 6e → 2Cr3+ + 7H2O +
Cr2O72- + 6Cl- + 14 H + → 2Cr3+ + 3Cl2 + 7H2O
Persamaan reaksi ion tersebut sudah dianggap cukup. Apabila diperlukan, reaksi
redoks yang setara dapat ditunjukkan dari reaksi ionnya sehingga menjadi :
K2CrO7 + 14 HCl → 2 CrCl3 + 3Cl2 + 2KCl + 7H2O
(Petrucci, 1992)

2.10 Potensial Elektroda


Potensial elektroda Ɛº dapat diukur dalam larutan yang mengandung bentuk
pengoksidasi dan pereduksi dalam konsentrasi yang ekuimolar. Elektroda standar
yakni yang bersentuhan dengan larutan-larutan yang kadar ionya 1M dan tekanan 1
atm. Pengukuran suatu sel volta adalah pengukuran gaya dorong dari reaksi redoks.
Elektroda hydrogen standar digunakan sebagai elektroda pembanding standar
karena harga voltanya nol. Potensial elektroda standar diukur secara langsung,
namun potensial antara dua elektroda standar ideal dapat dihitung dari pengukuran
yang dilakukan terhadap larutan yang lebih encer. Voltage sel keseluruhan
diberikan kepada elektode disebut potensial reduksi standar. Reaksi katode
(reduksi) kebalikan dan elektroda yang sebagai anode dan menjalankan oksidasi.
(Keenan, 1991)
Tabel nilai potensial reduksi pada 25oC
Setengah reaksi Eo (V)

Li+(aq) + e- -----> Li(s) -3.05

K+(aq) + e- -----> K(s) -2.93

Ba2+(aq) + 2 e- -----> Ba(s) -2.9

Sr2+(aq) + 2 e- -----> Sr(s) -2.89

Ca2+(aq) + 2 e- -----> Ca(s) -2.87

Na+(aq) + e- -----> Na(s) -2.71

Mg2+(aq) + 2 e- -----> Mg(s) -2.37

Be2+(aq) + 2 e- -----> Be(s) -1.85

Al3+(aq) + 3 e- -----> Al(s) -1.66

Mn2+(aq) + 2 e- -----> Mn(s) -1.18

2 H2O + 2 e- -----> H2(g) + 2 OH-(aq) -0.83

Zn2+(aq) + 2 e- -----> Zn(s) -0.76

Cr3+(aq) + 3 e- -----> Cr(s) -0.74

Fe2+(aq) + 2 e- -----> Fe(s) -0.44

Cd2+(aq) + 2 e- -----> Cd(s) -0.4

PbSO4(s) + 2 e- -----> Pb(s) + SO42-(aq) -0.31

Co2+(aq) + 2 e- -----> Co(s) -0.28

Ni2+(aq) + 2 e- -----> Ni(s) -0.25

Sn2+(aq) + 2 e- -----> Sn(s) -0.14

Pb2+(aq) + 2 e- -----> Pb(s) -0.13

2 H+(aq) + 2 e- -----> H2(g) 0

Sn4+(aq) + 2 e- -----> Sn2+(aq) 0.13

Cu2+(aq) + e- -----> Cu+(aq) 0.13

SO42-(aq) + 4 H+(aq) + 2 e- -----> SO2(g) + 2 H2O 0.2

AgCl(s) + e- -----> Ag(s) + Cl-(aq) 0.22

Cu2+(aq) + 2 e- -----> Cu(s) 0.34

O2(g) + 2 H2 + 4 e- -----> 4 OH-(aq) 0.4


I2(s) + 2 e- -----> 2 I-(aq) 0.53

MnO4-(aq) + 2 H2O + 3 e- -----> MnO2(s) + 4 OH-(aq) 0.59

O2(g) + 2 H+(aq) + 2 e- -----> H2O2(aq) 0.68

Fe3+(aq) + e- -----> Fe2+(aq) 0.77

Ag+(aq) + e- -----> Ag(s) 0.8

Hg22+(aq) + 2 e- -----> 2 Hg(l) 0.85

2 Hg2+(aq) + 2 e- -----> Hg22+(aq) 0.92

NO3-(aq) + 4 H+(aq) + 3 e- -----> NO(g) + 2 H2O 0.96

Br2(l) + 2 e- -----> 2 Br-(aq) 1.07

O2(g) + 4 H+(aq) + 4 e- -----> 2 H2O 1.23

MnO2(s) + 4 H+(aq) + 2 e- -----> Mn2+(aq) + 2 H2O 1.23

Cr2O72-(aq) + 14 H+(aq) + 6 e- -----> 2 Cr3+(aq) + 7 H2O 1.33

Cl2(g) + 2 e- -----> 2 Cl-(aq) 1.36

Au3+(aq) + 3 e- -----> Au(s) 1.5

MnO4-(aq) + 8 H+(aq) + 5 e- -----> Mn2+(aq) + 4 H2O 1.51

Ce4+(aq) + e- -----> Ce3+(aq) 1.61

PbO2(s) + 4 H+(aq) + SO42-(aq) + 2 e- -----> PbSO4(s) + 2 H2O 1.7

H2O2(aq) + 2 H+(aq) + 2 e- -----> 2 H2O 1.77

Co3+(aq) + e- -----> Co2+(aq) 1.82

O3(g) + 2 H+(aq) + 2 e- -----> O2(g) + H2O 2.07

F2(g) + 2 e- -----> F-(aq) 2.87

(Chang, 2005)

2.11 Hukum Ohm


Hukum ohm adalah suatu pernyataan bahwa besar arus listrik yang mengalir melalui
sebuah penghantar selalu berbanding lurus dengan beda potensial yang diterapkan
kepadanya. Sebuah benda penghantar dikatakan mematuhi hukum ohm apabila nilai
resistansinya tidak bergantung terhadap besar dan polaritas beda potensial yang dikenakan
kepadanya (Durbin, 2005)
Secara matematis hokum ohm dirumuskan sebagai berikut:
V = I.R
Keterangan :
V = tegangan dalam satuan volt
I = arus dalam satuan ampere
R = hambatan dalam satuan ohm
(Alonso, 1979)
II.12 Analisa Bahan
2.12.1 CuSO4.5H2O
 Sifat Fisik : berbentuk butiran Kristal padat atau serbuk padat, BM
249.69 g/mole, berwarna biru, titik didih 150°C, titik leleh 110°C,
densitas 2.2840g/cm3
 Sifat kimia : mudah larut dalam air panas, larut dalam air dingin dan
methanol (MSDS)
2.12.2 ZnSO4.7H2O
 Sifat Fisik : berbentuk Kristal putih, tak berbau, titik leleh 100°C, massa
jenis 3.54 g/cm3
 Sifat kimia : larut dalam air (MSDS)
2.12.3 Akuades:
 Sifat Fisik : Cairan tidak berwarna, tidak berbau, tak berasa, titik didih
1000C, dan titik beku 00C, densitas 1 g/cm3
 Sifat Kimia : Mempunyai ikatan hidrogen , mempunyai tetapan
dielektrik tinggi, bersifat polar dan digunakan sebagai pelarut universal.
(Mulyono, 1996)

2.12.4 NaOH
 Sifat Fisik : Padatan putih yang menarik air dan CO2 dari udara, titik
cair 97,5 ºC, titik leleh 318,4 ºC, titik didih 1390 ºC, dan indeks bias
2,13
 Sifat Kimia : NaOH larut dalam air menggunakan kalor, NaOH dapat
digunakan sebagai industri sabun, detergen, pulp kertas, tekstil, dan
plastik. (Daintith, 1994)
2.12.5 HNO3
 Sifat Fisik : berbentuk cairan, warna cairan tak berwarna sampai kuning
muda, titik didih 121°C, titik leleh -41.6°C, massa jenis 1.408
 Sifat Kimia : bersifat asam, mudah larut dalam air dingin dan panas,
larut dalam dietil eter (MSDS)
2.12.6 Aseton
 Sifat Fisik : Berat molekul 58,08 g/mol, densitas 0,792 g/cm3, titik
lebur -94,60C, titik didih 56,50C
 Sifat Kimia : Senyawa organik yang mudah menguap, mudah terbakar,
berbau khas, dan agak manis, merupakan gugus fungsi keton, larut
dalam air, alkohol, eter, kloroform, dan minyak, diasa digunakan
sebagai pelarut lemak, minyak, plastik, dan lilin (Pudjaatmaka, 1993).

III METODELOGI PERCOBAAN

3.1 Alat
 Elektroanalizer
 Gelas beker
 Neraca analitik
 Pipet tetes
 Elektroda karbon
 Gelas ukur
3.2 Bahan
 CuSO4.5H2O
 ZnSO4.7H2O
 Larutan H2SO4 pekat
 HNO3 pekat
 Aseton
 Akuades
3.3 Skema kerja
3.3.1.Pemisahan dan penentuan kadar ion Cu2+

Katoda Anoda

Pembersihan Pembersihan
Penimbangan Penimbangan
Pemasangan pada elektroanalizer Pemasangan pada elektroanalizer

Gelas Beker Gelas Beker

CuSO4.5H2O 1.255 gr Gelas ZnSO4.7H2O 1.43 gr Gelas


Beker Beker

Pelarutan dalam 50 ml aquades Pelarutan dalam 50 ml aquades

Pencampuran larutan
Penambahan 2 tetes H2SO4
Penambahan 2 tetes HNO3
Pemasangan pada elektroanalizer
Pengelektrolisaan selama 20 menit pada 1,8 V
Penghentian elektrolisis
Pengambilan katoda
Pemasukkan dalam aseton
Pengeringan
Penimbangan dan pencatatan berat
Hasil

3.3.2.Pemisahan dan penentuan kadar ion Zn2+

Katoda Anoda

Pembersihan Pembersihan
Penimbangan Penimbangan
Pemasangan pada elektroanalizer Pemasangan pada elektroanalizer

Gelas Beker Gelas Beker


100 ml larutan cuplikan Cu2+ dan Zn2+

Gelas Beker

Penambahan NaOH pekat sampai pH netral


Pemasangan pada elektroanalizer
Pengelektrolisaan selama 15 menit pada 2,7 V
Penghentian elektrolisis
Pengambilan katoda
Pemasukkan dalam aseton
Pengeringan
Penimbangan dan pencatatan berat

Hasil

IV. DATA PENGAMATAN

Ion yang Arus listrik Waktu Berat Berat katoda Berat


diendapkan dalam elektrolisis katoda + endapan endapan (g)
ampere (menit) mula-mula (g)
(g)
0,03 A 0
0,03 A 5
Cu2+ 0,04 A 10 5,1294 g 5,1414 g 0,012 g
0,06 A 15
0,06 A 20
0,02 A 0
0,00 A 5
Zn2+ 5,0562 g 5,0663 g 0,0101 g
0,00 A 10
0,01 A 15

V. HIPOTESIS

Percobaan yang berjudul “Pemisahan dan Penentuan Kadar Ion Cu 2+ dan Ion Zn2+
Dalam Larutan Campuran Kupri dan Seng Sulfat” mempunyai tujuan untuk memisahkan
dan menentukan kadar ion Cu2+ dan Zn2+ dalam larutan kupri dan seng sulfat secara
elektrogravimetri. Prinsip yang digunakan dalam percobaan ini adalah pengendapan suatu
kation melalui reaksi redoks pada sistem elektrolisis. Metodenya adalah elektrogravimetri.
Kation-kation diendapkan pada katoda dengan nilai tegangan sistem yang disesuiakan
dengan logam yang akan diendapkan. Elektroda yang digunakan adalah karbon. Hasil yang
diperoleh yaitu endapan Cu berwarna merah bata, dan endapan Zn berwarna abu-abu.

Penentuan massa ditentukan dengan rumus : W = =

VI. PEMBAHASAN

Percobaan ini berjudul pemisahan dan penentuan kadar ion Cu2+ dan ion Zn2+
dalam larutan campuran kupri dan seng sulfat secara elektrogravimetri yang bertujuan
untuk memisahkan dan menentukan kadar ion Cu2+ dan Zn2+ dalam larutan kupri dan
seng sulfat secara elektrogravimetri. Prinsip percobaan ini adalah pengendapan suatu
kation melalui reaksi redoks pada sistem elektrolisis dengan metode yang digunakan
Elektrogravimetri. Elektrogravimetri adalah suatu analisis dimana elektroda kerja
ditimbang sebelum elektrolisis dan kemudian ditimbang kembali saat elektrolisis
analit selesai dan perbedaan berat e l e k t r o d a m e m b e r i k a n b e s a r m a s s a a n a l i t .
Te k n i k i n i d i k e n a l s e b a g a i elektrogravimetri (Harvey, 2000).

Kation-kation diendapkan pada katoda dengan nilai tegangan sistem yang


disesuiakan dengan logam yang akan diendapkan. Elektroda yang digunakan adalah
karbon, dimana karbon merupakan elektroda yang inert sehingga tidak akan bereaksi
dengan komponen-komponen logam dalam sistem elektrokimia tersebut, melainkan hanya
menyediakan permukaannya sebagai tempat berlangsungnya reaksi. Batang karbon yang
akan digunakan sebelumnya diampelas terlebih dahulu sampai mengkilap. Tujuannya
adalah untuk menghilangkan zat pengotor seperti nikel, kobalt, dan lain-lain yang terdapat
pada batang karbon. Sistem elektrokimia terdiri dari larutan elektrolit yang polar
sedangkan karbon merupakan unsur nonpolar yang tidak akan berinteraksi secara kimia
dengan senyawa polar (sesuai prinsip “like dissolves like). Batang katoda dalam
percobaan ini ditimbang beratnya terlebih dahulu sampai didapat berat yang tetap,
kemudian setelah terjadi reaksi pengendapan, batang katoda ditimbang lagi untuk
mengetahui pengendapan logam terjadi sempurna atau tidak

Pemisahan kation menggunakan metode elektrolisis dengan sistem tegangan


terpasang tetap, tujuannya adalah untuk memaksimalkan pengendapan suatu kation pada
nilai tegangan dekomposisi yang khusus bagi kation tersebut untuk mengendap. Proses
tersebut dapat meminimalisir kontaminan logam lain untuk ikut mengendap. Pada proses
elektrolisis akan terjadi perubahan energi listrik menjadi energi kimia dan reaksi redoks
dengan aliran listrik dari anoda (+) ke katoda (-), dimana pada anoda terjadi oksidasi dan
pada katoda terjadi reduksi. Pengendapan ion logam berdasarkan deret volta yang dapat
dilihat dari mudah dan sulitnya direduksi :

Li, K, Ba, Ca, Na, Mg, Al, Mn, H2O2, Zn, Cr, Fe, Cd, Co, Ni, Sn, Pb, H+, Sb, Br, Au,
Hg, Ag, Pb, Au (Rivai, 1995).

Pada deret volta, unsur logam dengan potensial elektroda lebih negatif ditempatkan
di bagian kiri, sedangkan unsur dengan potensial elektroda yang lebih positif ditempatkan
di bagian kanan. Semakin ke kiri kedudukan suatu logam dalam deret tersebut, maka
logam semakin reaktif (semakin mudah melepas elektron) dan logam merupakan reduktor
yang semakin kuat (semakin mudah mengalami oksidasi). Sebaliknya, semakin ke kanan
kedudukan suatu logam dalam deret tersebut, maka logam semakin kurang reaktif
(semakin sulit melepas elektron) dan logam merupakan oksidator yang semakin kuat
(semakin mudah mengalami reduksi) (Dogra, 1990). Berdasarkan deret volta, Cu berada di
sebelah kanan Zn, maka Cu2+ lebih mudah untuk direduksi sehingga Cu2+ akan lebih
dahulu mengendap dibandingkan Zn2+ yang sukar untuk direduksi tetapi mudah
mengalami oksidasi. (Keenan, 1992)

6.1 Pemisahan dan Penentuan Kadar Ion Cu2+

Dalam percobaan ini dilakukan dengan elektroda karbon, ada yang anoda dan
katoda. Elektroda karbon dipakai karena karbon bersifat inert, sehingga tidak akan
bereaksi dengan komponen-komponen logam dalam sistem ini. Logam tembaga
diendapkan dalam larutan yang berisi cuplikan bersuasana asam (H 2SO4 dan HNO3) pada
potensial 1,8 V. Penambahan H2SO4 dan HNO3 berfungsi untuk memberikan suasana asam
pada larutan, selain itu juga untuk mempercepat reaksi dimana konduktivitas akan naik
sehingga transfer ion akan lebih cepat berlangsung. Adanya suasana asam juga dapat
mengendapkan logam Cu. Selain fungsi itu diatas medium asam nitrat juga sangat
diperlukan, yaitu dengan menurunkan konsentrasi Cu2+ oleh elektroreduksi, katoda
semakin negatif sampai tereduksinya nitrat.

Reaksinya adalah :

NO3 + 10H+ + 8e- NH4 + 3H2O (Svehla, 1985)

Proses reaksi tersebut menstabilkan potensial katoda yang kemudian menjadi tidak
cukup negatif untuk mereduksi logam lain yang terdapat dalam sampel dan mencegah
reduksi H+ yang tidak sesuai dalam kasus ini karena pembebasan hidrogen yang terjadi
bersama akan menyebabkan terjadinya endapan tembaga .

Proses reaksi yang terjadi adalah :

Katoda : 2Cu2+ + 4e- 2Cu E0 = +0,337 V

Anoda : 2H2O O2 + 4H2+ + 4e E0 = -1,229 V

2Cu2+ + 2H2O O2 + 4H2+ + 2Cu E0 = -0,892 V

(Underwood, 2002)

Sebelum penimbangan, dilakukan pencucian katoda dengan aseton. Hal ini


dilakukan agar pengotor-pengotor dapat larut dengan aseton. Dalam percobaan ini aseton
digunakan sebagai pelarut non polar yaitu untuk melarutkan pengotor yang bersifat non
polar yaitu polimer yang berasal dari botol penyimpan cuplikan. Setelah penimbangan,
karena berat katoda belum diketahui, maka dilakukan pengamplasan pada bagian yang
terdapat endapan Cu. Lalu dilakukan pencucian katoda dengan dengan akuades, agar
endapan Cu-nya hilang. Lalu katoda ditimbang lagi untuk mengetahui berat katoda tanpa
endapan, sehingga dengan perlakuan ini bisa mengetahui berat endapan Cu.

Pada akhir elektrolisis didapatkan hasil pada katoda berupa endapan merah tembaga
dimana hal ini menunjukan Cu telah tereduksi. Pada percobaan ini diperoleh logam Cu
seberat 0,01255 gram dengan rendemen prosentase Cu sebesar 95,62% untuk 20 menit dan
arusnya 0,06 A Tidak dihasilkan 100% dikarenakan dalam larutan masih tersisa ion Cu2+.
6.2 Pemisahan dan Penentuan kadar Ion Zn2+
Tujuan percobaan ini adalah memisahkan ion Zn 2+ dari larutan cuplikan Cu2+ dan
Zn2+ dengan cara pengendapan pada katodanya serta menentukan kadar ion Zn2+ tersebut
dengan cara menimbang katoda yang terdapat endapan Zn hasil elektrolisis. Pada
pemisahan dan penentuan kadar ion Zn2+, larutan yang digunakan adalah larutan hasil
elektrolisis pada pemisahan dan penentuan kadar ion Cu2+ (hasil elektrolisis sebelumnya)
yang kemudian ditambahkan NaOH untuk menetralkan larutan yang sebelumnya
bersuasana asam. Penambahan NaOH dilakukakan karena sifat Cu yang lebih mudah
tereduksi daripada Zn, sedangkan percobaan ini bertujuan untuk mereduksi Zn, oleh
karenanya untuk mendapatkan Zn yang lebih banyak, ditambahkan basa pada larutan
untuk menetralkan larutan sehingga CuSO4 tetap berbentuk molekulnya atau dengan kata
lain mencegah mengionnya CuSO4 sehingga meminimalisir adanya ion Cu2+ yang dapat
mengganggu proses mereduksinya ion Zn2+ atau dengan kata lain ikut tereduksi atau
bahkan hanya Cu2+ yang akan tereduksi. Potensial yang digunakan adalah sebesar 2,7 V
dengan arus 0,01 A selama 15 menit. Potensial yang digunakan sebesar 2,7 V dimaksudkan
agar dapat melebihi potensial dekomposisinya yang sebesar -1,989 V, dengan reaksi
sebagai berikut :

Katoda : (-) 2Zn2+ + 4e- 2Zn Eo = -0,76 V

Anoda : (+) 2H2O O2 + 4H+ + 4e- Eo = -1,229 V

2Zn2+ + 2H2O O2 + 4H+ + 2Zn Eo = -1,989 V

(Underwood, 1999)

Jika voltase yang digunakan lebih kecil dari 2,7V, maka yang tereduksi adalah Cu2+, sebab
potensial 2,7 V melebihi potensial dekomposisi Cu2+ sebesar -0,892V dan tidak diperoleh
endapan Zn sebab tidak melebihi potensial dekomposisi Zn2+ sebesar -1,989V. Sebaliknya,
jika voltase yang digunakan lebih besar dari 2,7 V, maka pada katoda yang terbentuk
adalah endapan Zn dan endapan Cu.

Pada katoda dengan voltase 2,7 V diperoleh endapan Zn yang ditandai dengan
warna abu-abu pada katoda karbon serta adanya penambahan berat katoda setelah
dielektrolisis.

Pada saat elektrolisis terdapat gelembung gas pada anoda. Gas yang dihasilkan
adalah O2 yang terjadi karena hidrolisis air. Pada anodanya terjadi reaksi H2O karena untuk
reaksi elektrolisis pada larutan, reaksi yang terjadi pada anoda tergantung pada
elektrodanya. Jika elektrodanya inert seperti Pt, C, Au maka kita perlu melihat anionnya,
apakah ia merupakan sisa asam oksi atau sisa asam nonoksi. Karena pada percobaan
menggunakan elektroda karbon yang merupakan elektroda inert dan pada anionnya
terdapat sisa asam oksi (SO42-) maka yang teroksidasi adalah H2O. Hal ini terjadi karena
H2O lebih negatif (lebih kecil) potensial reduksinya yaitu sebesar −0.8277V sehingga akan
lebih mudah teroksidasi daripada SO42- dengan potensial reduksi standar sebesar +0,17V.

2  H2O + 2 e− H2(g) + 2 OH− E0 = −0.8277V

SO42- + 4H+ + 2 e− SO2(aq) + 2H2O E0 = +0,17V

(Keenan, 1992)

Namun, pada katoda tidak terbentuk endapan dari SO42- melainkan terbentuk
endapan dari Zn2+, sebab potensial reduksi Zn2+ menjadi Zn lebih positif atau lebih besar
daripada potensial reduksi yang dimiliki oleh SO42-.

Pada katoda terdapat endapan seng yang berwarna abu-abu yang berarti seng telah
terendapkan. Setelah 15 menit, elektrolisis dihentikan dan katoda dimasukkan ke dalam
aseton untuk mengeringkan katoda, sebab aseton sangat mudah menguap, sehingga saat
penimbangan tidak ada sisa larutan yang ikut dalam katoda, melainkan berat yang
ditimbang merupakan berat katoda dan endapan Zn hasil elektrolisis saja. Logam Zn yang
diperoleh dari percobaan ini sebesar 0,0101 gram dengan rendemen prosentase (efisiensi
arus) sebesar 70,98%. Efisiensi arus pada pengendapan Zn dari elektrode karbon lebih
rendah, hal ini dapat dijelaskan karena arus yang digunakan tidak hanya untuk reduksi ion
logam Zn2+ menjadi logam padat Zn, melainkan lebih banyak digunakan untuk reduksi ion
hidrogen menjadi gas hidrogen (Potter, 1971).
VII. PENUTUP

VII.1 Kesimpulan

1) Pemisahan dan penentuan kadar ion Cu2+ dan ion Zn2+ dapat dilakukan
dengan metode elektrogravimetri
2) Terbentuk endapan merah bata pada elektroda saat pemisahan logam
Cu, dan endapan abu-abu saat pemisahan logam Zn
3) Logam Cu yang diperoleh sebanyak 0.12 gr dengan arus listrik setiap 5
menit adalah 0.03 A, 0.03 A, 0.04 A, 0.06 A, dan 0.06 A. Rendemen
persentase yang didapat adalah 95.62%
4) Logam Zn yang diperoleh sebanyak 0.0101 gr dengan arus listrik setiap
5 menit adalah 0.02 A, 0.00 A, 0.00 A dan 0.001 A. Rendemen
persentase yang didapat adalah 70.98 %
VII. 2 Saran
1) Praktikan harus paham mengenai langkah kerja percobaan
2) Dalam merangkai alat harus sesuai agar tidak terjadi kesalahan
DAFTAR PUSTAKA

Alloway B.J 1995. Heavy Metals in Soils. London : Chapman & Hall
Alonso.1979.Dasar-dasar Fisika Universitas.Jakarta: Erlangga
Anshory, Irfan. 1984. Kimia. Ganesha Exact: Bandung.
Chang, R., 2005, Kimia Dasar, Erlangga, Jakarta
Daintith. 1994. Kamus Lengkap Kimia.. Jakarta : Erlangga
Day, R.A. & Underwood, A.L. 1999. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi 6. Jakarta :
Erlangga
Dogra. 1998. Kimia Fisika. Universitas Indonesia: Jakarta.
Durbin.2005.Rangkaian Listrik.Jakarta:Erlangga
Keenan, charles W. 1980. Ilmu Kimia untuk Universitas Jilid 1. Jakarta: Erlangga
MSDS Copper sulfate pentahydrate .Science Lab.com, 16 November 2017, 20.43
WIB
Potter, E. C., 1971, Electrochemistry Principles and Application, cleaver Hume
Press
LTD: London, vol IX: 355-356
MSDS Nitric acid.Science Lab.com, 17 November 2017, 16.22 WIB
MSDS Zinc sulfate heptahydrate.Qorpak.com, 17 November 2017, 17.36 WIB
Mulyono, HAM., 1996. Kamus Kimia. Bandung: PT Genesindo
Pudjaatmaka, 1993, Kamus Kimia Pangan, Depdikbud, Jakarta.
Svehla. 1985. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro.
Jakarta :
Kalman Media Pustaka.
Underwood, 1999, Kimia Analisis Kuantitatif, Erlangga, Jakarta.
LEMBAR PENGESAHAN

Semarang, 20 November 2017

Praktikan 1 Praktikan 2 Praktikan 3

Synta Mutiara Bunga W Pandu Yoda Putri B M Akbar Darajat


24030116130068 24030116130069 24030116140110

Praktikan 4 Praktikan 5 Praktikan 6

Ratna Dwi Ayuni Hirla Adelia Sukma N Audry Fahmi Dewi


24030116130111 24030116130116 24030116140117

Mengetahui,

Asisten

Wini Fitriana
24030114120057
LAMPIRAN

Perhitungan

1.M CuSO4.5H2O = 1M
BM CuSO4.5H2O = 251 g/mol
V akuades = 50 ml = 0,05 L

M= x

1= x

g = 12,55 mg

g = 0,01255 g

2.M ZnSO4.7H2O = 1M
BM CuSO4.7H2O = 284.57 g/mol
V akuades = 50 ml = 0,05 L

M= x

1= x

g = 14,2285 mg

g = 0,142285 g

3. Kadar Cu2+ dalam CuSO4.5H2O


gr CuSO4.5H2O = 0,01255 g
gr Cu = 0,012 g

4. Kadar Zn2+ dalam CuSO4.5H2O


gr ZnSO4.7H2O = 0,0142285 g
gr Zn = 0,0101 g

LAMPIRAN FOTO

Cu

Zn