Anda di halaman 1dari 5

NOTULEN

JUDUL MATERI 1. Lesson Learnt dan Best Practice Upaya Peningkatan Cakupan
Imunisasi

Nama Penyaji 1. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung


2. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat
3. Dr. dr. Hariadi Wibisono, MPH

1. Sekretaris Ditjen Pencegahan dan Pengendalian


Moderator
Penyakit

Tanggal 13 Februari 2018, ICE BSD Tangerang

Petugas Notulis Sekar Astrika Fardani; Eka Desi

ISI RINGKAS
(tambahan penjelasan penting dan tidak ada di bahan presentasi)
Agenda Rakerkesnas:
1. Kebijakan dan strategi pembangunan kesehatan yg akan dilaksanakan pd 2019 dan
5 tahun ke depan
2. Akselarasi penurunan angka PTM, AKI, dan bayi baru lahir

Ada side event untuk berdiskusi ttg inovasi/hal baik dalam pembangunan kesehatan
Tindak lanjut Rakerkesnas 2018: imunisasi, stunting, TB.
Ada 8 kelas paralel side event.

MATERI 1: Situasi Global KLB PD3I dan Inovasi Imunisasi Terkini oleh DR. dr.
Hariadi Wibisono, MPH
1. Di dalam pelaksanaan program imunisasi, sering terpaku untuk mengejar cakupan di
berbagai level. Seharusnya dilihat dari tujuan pokok program imunisasi yaitu
memberikan kekebalan untuk menurunkan insiden suatu penyakit/ PD3I.
2. Indonesia merupakan bagian dari masyarakat dunia, sehingga pemahaman situasi
penyakit di dunia adalah hal yang penting dari pelaksanaan program kesehatan di
Indonesia, termasuk untuk imunisasi.
3. Ada target penurunan angka penyakit, yaitu eliminasi, reduksi dan eradikasi.
4. Status suatu negara mencapai eliminasi penyakit merupakan status yang fragile,
dimana jika tidak dipertahankan maka status eliminasi dapat dicabut.
5. Kejadian-kejadian KLB yang terjadi di negara maju dengan cakupan imunisasi tinggi
memberikan pelajaran bahwa cakupan tinggi saja tidak cukup untuk mencegah KLB.
6. Tahun 2014 Asia Tenggara bebas dari polio liar, namun kasus polio belum selesai
karena kita masih harus menghadapi ancaman dari importasi virus atau virus polio
yang bermutasi. Untuk itu disusun polio eradication and endgame strategy.
7. Indonesia masih dalam tahap transisi untuk bisa dikatakan benar-benar bebas dari
polio. Namun, Indonesia masih menghadapi ancaman improtasi virus polio atau
VDVP, dimana hal ini bisa terjadi jika cakupan imunisasi polio rendah dalam kurun
waktu yang lama.
8. Beberapa invonasi dalam pelaksanaan program imunisasi yaitu needle free injector,
fractional dose, vaksin malaria, vaksin HIV, vaksin TB, dan vaksin influenza.

MATERI 2: Upaya Peningkatan Cakupan Imunisasi Provinsi Papua Barat oleh

1
NOTULEN

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat


1. Papua Barat memiliki wilayah yang sangat luas dibandingkan dengan jumlah
penduduknya yang sedikit sehingga wilayah jangkauan persebaran penduduk luas.
2. Cakupan imunisasi Campak-Rubella di Papua Barat mencapai 102,35%. Cakupan
tersebut lebih dari 100% karena di Provinsi Papua Barat, untuk daerah-daerah
pedalaman sangat sulit untuk mengetahui secara pasti umur anak, tidak semua anak
memiliki dokumen yang jelas terkait keterangan lahir, sehingga sasaran yang ada
diberikan imunisasi saja tanpa diskrining secara pasti berpa umurnya.
3. Cakupan imunisasi massal (kampanye/pin/dll) lebih baik daripada cakupan imunisasi
rutin karena persiapan lebih matang, sosialisasi sampai ke level bawah, pelaporan
online yang memacu semangat bersaing tenaga kesehatan, umpan balik cepat, serta
keterlibatan dan dukungan penuh dari kepala daerah dan LS/LP.

MATERI 3: Peningkatan Cakupan Imunisasi Rutin Provinsi Lampung


1. Petugas yang menjadi ujung tombak kebanyakan hanya melihat cakupan tanpa
evaluasi lebih lanjut.
2. Meskipun topik hari ini fokus kepada imunisasi rutin, perlu kami sampaikan juga
bahwa Lampung berhasil mencapai 97,2% cakupan kampanye imunisasi MR.
3. Lampung tidak termasuk daerah DTPK tetapi juga memiliki banyak Pulau.
4. Lampung memiliki perbedaan data sasaran antara data riil dengan data BPS/Pusdatin
sehingga ini menjadi permasalahan tersendiri.
5. Cakupan imunisasi campak Provinsi Lampung masih belum mencapai target sehingga
masih terjadi KLB Campak di beberapa kabupaten.
6. Di Lampung ada Kepala Daerah yang melakukan penolakan terhadap imunisasi
campak rubella, namun dari Dinas Kesehatan Provinsi langsung berkomunikasi
dengan kepala daerah tersebut sehingga kepala daerah langsung menarik
pernyataan menolak tersebut.
7. Pemberitaan media
8. PWS Imunisasi harus diaktifkan kembali sehingga kita tidak boleh bangga hanya
melihat cakupan di tingkat provinsi saja, tapi juga harus dilihat cakupan per
kabupaten/kota juga, kabupaten/kota yang cakupannya masih dibawah target harus
diberi perhatian khusus jangan sampai terjadi KLB.

No. Pertanyaan/ Tanggapan Jawaban


1 dr. Mohamad Subuh, MPPM
 Jika berbicara imunisasi maka harus
melihat perspektif yang lebih luas.
Inovasi dan kreatifitas untuk
imunisasi harus dipertahankan.
Perjalanan imunisasi sudah cukup
lama, sehingga saya ingin melihat
dari perspektif yang berbeda.
Seharusnya Provinsi dengan cakupan
rendah juga diberikan kesempatan
untuk paparan.
 Wabah penyakit muncul pada saat
revolusi industri 10, kemudian pada
revolusi industri 20, program
imunisasi mulai dilaksanakan.
 Pengembangan vaksin-vaksin
dimulai pada revolusi industri 30,

2
NOTULEN

No. Pertanyaan/ Tanggapan Jawaban


pada saat itu cakupan imunisasi di
seluruh Indonesia baik/ the best
achivement (Tahun 1969-2010).
 Industri 40 (2010-sekarang) tidak
revolusi karena intinya
pengembangan jejaring dengan
menggunakan data yang ada. Pada
masa ini hampir diseluruh dunia
terjadi KLB PD3I. Seharunya dengan
pengembangan jejaring yang bagus,
cakupan imunisasi semakin baik,
namun yan terjadi sebaiknya.
 Selain pengembangan jejaring, kunci
dari pelaksanaan imunisasi adalah
kolaborasi (membangun saling
pengertian); kontribusi; koordinasi
(koordinasi masih sangat lemah);
kepatuhan.
 Imunisasi merupakan industri yang
tidak pernah tergantikan karena
merupakan upaya pencegahan yang
spesifik.
 Benar jika kita harus mengaktifkan
PWS, pertanyaannya siapa yang
selama ini tidak menggunakan PWS.
 Inti dari Health for All dengan UHC
sama. UHC lebih mengutamakan
pembiayaan kesehatan untuk
mencapai Health for All. Kita tidak
bisa mencapai UHC tanpa melakukan
primary health care, dimana salah
satu komponen yang utama adalah
perlindungan spesifik dengan
imunisasi.
 Suatu wabah/KLB biasanya berkaitan
dengan konflik, di Indonesia tidak
ada konflik tetapi banyak KLB
seharusnya tidak terjadi wabah.
2 Engko Sosialine, Apt. M. Biomed
 Salah satu komponen UHC adalah
akses terhadap obat dan vaksin,
dimana ini selama ini kita jadikan
indikator untuk dimonitoring.
 UU Sertifikasi halal sudah ada, RPP
sudah ada, Kemenkes terlibat terus
dalam proses penyusunan RPP ini.
Dalam RPP ini vaksin, obat dan alat
kesehatan mendapatkan pasal
khusus untuk pengaturannya. Untuk
makanan akan diatur dalam
Peraturan Kementerian Agama,
namun untuk obat, vaksin dan alkes

3
NOTULEN

No. Pertanyaan/ Tanggapan Jawaban


akan diatur dalam Peraturan
Presiden.
 Proses pengembangan vaksin halal,
untuk vaksin yang sudah exisisting
membutuhkan waktu 7 tahun,
sedangkan untuk vaksin baru
membutuhkan waktu 13 tahun.
 Penerapan UU JPH terus dikawal oleh
Kementerian Kesehatan agar tidak
menjadi masalah.
3 Dr. Vinod Bura (WHO Indonesia)
 UHC dan Primary Health Care
merupakan program prioritas yang
diterapkan oleh seluruh negara di
dunia.
 Imunisasi merupakan mekanisme
pencegahan yang paling efektif.
 Pelaksanaan program imunisasi ada
hasilnya, misalnya Indonesia sudah
dinyatakan bebas polio.
 20% anak Drop Out. Hal ini
disebabkan karena kurangnya
komunikasi dan edukasi kepada
orang tua, sehingga orang tua tidak
tahu jadwal imunisasi berikutnya,
atau orang tua tidak mau kembali
karena anaknya setelah diimunisasi
panas.
 Masih ada salah interpretasi
mengenai definisi imunisasi dasar
lengkap. Petugas Kesehatan/ Orang
Tua menganggap bahwa imunisasi
dasar lengkap hanya sampai usia 1
tahun saja, padahal masih ada
imunisasi lanjutan sampai usia 2
tahun, kemudian dilanjutkan dengan
BIAS.
 Indonesia tidak memiliki masalah
dengan cold chain, tenaga
kesehatan, dan sarana prasarana
lainnya. Namun, perlu ditingkatkan
perencanaan yang baik dan
komunikasi kepada orang tua.

4 drg. R. Vensya Sitohang, M.Epid


Terkait kekebalan dari imunisasi di
masyarakat, harus dicek di masyarakat
seperti apa, ada beberapa metode yaitu
survey cakupan. Imunisasi merupakan
program lama.
Dibalik keberhasilan provinsi, masih
ada kabupaten/ kecamatan/ desa yang

4
NOTULEN

No. Pertanyaan/ Tanggapan Jawaban


cakupannya tidak baik. PWS yang ada
harus dianalisa sampai ke level bawah.
Ada mekanisme yang harus dilakukan
untuk daerah-daerah ini, misal
sweeping, BLF, crash program, dll.
Pelaksanaan PIS-PK dapat
dimanfaatkan untuk peningkatan
cakupan imunisasi.
5 Bagaimana dengan metode pamakaian drg. R. Vensya Sitohang, M.Epid
UU Karantina, sanksi pidana dan UU Wabah yang sudah masuk dalam
administrasi prolegnas tahun 2019, semoga dapat
segera disahkan. Dalam UU Wabah ini
ada sanksi bagi orang-orang atau
sekelompok yang menghalang-halangi
program kesehatan sehingga dapat
menimbulkan wabah, sanskinya dapat
berupa pidana dan administrasi. Namun,
untuk sanksi administrasi berupa denda
dalam UU Wabah ini tidak sebesar dalam
UU karantina.

KESIMPULAN
SESI 1:
a. Di dalam pelaksanaan program imunisasi tidak hanya mengejar cakupan saja tetapi juga
harus dievaluasi apakah imunisasi yang diberikan memberikan kekebalan sehingga
menurunkan insiden suatu penyakit/ PD3I.
b. Untuk pelaksanaan imunisasi perlu diperhatikan Colaboration, Contribution,
Coordination, Compliance, Advocatio, Socialization and Education.
c. Kawal penyelesaian RPP Jaminan Produk Halal
d. Kita harus mulai membaca UU yang berkaitan dengan imunisasi karena banyak
hambatan yang bisa diselesaikan dengan UU/ aturan yang sudah ada.
e. Laksanakan imunisasi sesuai dengan strategi di daerah masing-masing