Anda di halaman 1dari 44

IMPLEMENTASI BAGI HASIL PADA PEMBIAYAAN MUSYARAKAH

PADA KSPS ARTA JAYA BAROKAH RUMBIA TAHUN 2018

TUGAS AKHIR

Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Guna

Memperoleh Gelar Ahli Madya (Amd)

Oleh

AGIL ABSARI DEWI


NPM :161120001
Program Studi : D.III. Perbankan Syariah

FAKULTAS SYARI’AH DAN EKONOMI ISLAM


INSTITUT AGAMA ISLAM MA’ARIF NU (IAIM NU)
METRO - LAMPUNG
1440 H / 2019 M

i
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada dasarnya setiap manusia dalam kegiatan tersebut baik duniawi dan

akhirat tidak lepas dari tujuan (maqosyid) dari apa yang akan dia dapatkan

setelah kegiatan ini, dengan berbagai sudut pandang yang berbeda dari

manusia itu sendiri untuk esensi dari apa yang ia ingin dapatkan, tidak jarang

dan tidak menutup kemungkinan setelah proses menuju maqosyidnya

tujuannya adalah warna-warni.

Salah satu contoh dalam kegiatan sosial-ekonomi, banyak manusia itu

sendiri terjebak dalam hal ini, lebih mengedapankan pada pemenuhan hak-

hak pribadi dan mengabaikan hak orang lain, apakah itu seorang individu atau

hak-hak masyarakat umum. Tapi Islam agama yang rohmatan lil'alamin

mengelola seluruh tatanan kehidupan manusia, sehingga norma-norma yang

dikenakan Islam dapat memberikan solusi untuk keadilan dan keadilan dalam

hal pencapaian manusia pada tujuan daripada kegiatan, sehingga tidak akan

ada sosial ketimpangan antara mereka.

Hal ini tidak jarang di antara kita yang sering menemukan ayat-ayat

dalam kitab suci Al-Quran yang mendorong perdagangan dan perdagangan,

dan Islam sangat jelas; sikap yang seharusnya tidak ada hambatan

perdagangan dan bisnis yang adil dan halal, untuk membuat semua orang

mendapatkan.

Dalam memenuhi kebutuhan ekonomi, masyarakar tidak dapat

dipisahkan dari kegiatan perbankan di mana dapat dilihat bahwa sektor

1
perbankan telah berkembang sangat pesat, khususnya sektor perbankan

syariah.Bank syariah sebagai salah satu solusi alternatif untuk masalah ini

adalah konflik antara Bank bunga sebagai riba. Lahir bank syariah di

Indonesia pada sekitar tahun 90-an atau lebih tepatnya setelah Peraturan

Pemerintah Nomor 72 tahun 1992, yang kemudian direvisi dengan UU No. 10

Tahun 1998 dalam bentuk sistem operasi berbagi perbankan.1

Perbankan adalah lembaga yang melaksanakan tiga fungsi utama

meliputi: uang Lending, menerima deposito, deposito tunai dan memberikan

layanan.

"Perbankan Islam adalah lembaga keuangan yang pada dasarnya


memberikan lembaga pembiayaan dan layanan lainnya dalam lalu lintas
pembayaran dan peredaran uang yang beroperasi disesuaikan dengan
prinsip-prinsip hukum Islam".2

Kemitraan dalam produksi, beroperasi menggunakan prinsip berbagi

yang menyediakan alternatif, menyoroti aspek keadilan dalam transaksi, etika

Investasi, mempromosikan nilai-nilai kebersamaan dansistem perbankan yang

saling menguntungkan bagi masyarakat dan bank, serta menghindari kegiatan

spekulatif dalam transaksi keuangan adalah sistem perbankan Islam. dalam

berbagai layanan yang beragam perbankan, menyediakan berbagai produk,

dan skema keuangan yang lebih bervareatif, islamic banking sebagai sistem

perbankan alternatif yang kradibel dan dapat dinikmati oleh kelompok

masyarakat tanpa kecuali.3

1
Mohammed, Teknik Perhitungan Bagi Hasil dan Profit Margin Pada Bank Islam,
(Yogyakata: UII Press, 2004), p. 1
2
Muhammad, manajemen bank syariah, (Yogyakarta (UPP) AMP YKPN, 2002) p. 15
3
http://www.bi.go.id/id/perbankan/syariah/contents/default.aspex:diaksestanggal 5 April
2018: di 10: 30.wib

2
Dalam perbankan Islam kita tahu bahwa di dalamnya tidak

menggunakan prinsip bunga melainkan prinsip bagi hasil sesuai dengan

prinsip-prinsip Islam. prinsip-prinsip Islam itu sendiri adalah aturan

perjanjian berdasarkan hukum Islam antara bank dan pihak lain untuk

menyimpan dana dan / atau pembiayaan kegiatan usaha, atau kegiatan lain

yang menyatakan sesuai dengan syariah, termasuk pembiayaan berdasarkan

prinsip berbagi (Mudharabah), pembiayaan berdasarkan prinsip ekuitas

(musharakah), prinsip jual beli barang dengan keuntungan (murabahah), atau

pembiayaan barang modal berdasarkan prinsip sewa murni tanpa pilihan

(ijarah), atau dengan pemilihan transfer kepemilikan barang disewa dari bank

dengan pihak lain (ijarah wa iqtina),4

pembiayaan ekuitas atau transaksi yang hasilnya didasarkan pada ekuitas

pembiayaan bagi hasil antara bank dan nasabah.Keadilan tercermin dalam

prinsip profit and loss sharing, kerugian bersama dan keuntungan dibagi.5

Al-Musyarakah adalah perjanjian kerja sama antara dua pihak atau lebih

untuk suatu usaha tertentu di mana masing-masing pihak memberikan

kontribusi dana (atau amal / expertise) dengan kesepakatan bahwa

keuntungan dan risiko akan dibagi sesuai dengan kesepakatan.6

Dalam termonologis, menurut Kompilasi Hukum Ekonomi Islam,


"syirkah (musyarokah) merupakan kerjasama antara dua orang atau lebih
dalam hal modal, keahlian atau keyakinan dalam usaha tertentu dengan
pembagian keuntungan berdasarkan rasio".7

4
Jundiani, Pengaturan Hukum Perbankan Syariah di Indonesia (Malang: UIN-Malang Press,
2009), p. 113
5
Ahmad Dahlan, bank syariah teoritis, praktis, kritik konstruktif (Yogyakarta: Teras penerbit,
2012), p. 164
6
Bidayatul Mujtahid II. hlm.253-257
7
Pasal 20 (3)

3
Pembiayaan disebut shahibul maal (bank) atau memberikan mandat

kepada Pelanggan (mudharib) dalam bentuk modal untuk digunakan

kemudian menjalankan usaha atau tujuan-tujuan lainnya yang sesuai dengan

ketentuan hukum Islam dan Nasabah harus mengembalikan modal yang

sesuai dengan kesepakatan awal.

Tujuan dari pembiayaan berdasarkan prinsip syariah Islam adalah untuk

meningkatkan produktivitas, meningkatkan lapangan kerja, menciptakan

lapangan kerja, distribusi pendapatan dan kesejahteraan ekonomi sesuai

dengan nilai-nilai Islam.8

Banyak Bank yang memberikan kemudahan dan keuntungan dalam

pembiayaan, dengan menawarkan berbagai keuntungan untuk pembiayaan

kepentingan umum kepada bank, termasuk orang-orang yang membutuhkan

dana untuk konsumsi.

Selain lembaga perbankan juga diterapkan lembaga pembiayaan dan

keuangan mikro Musyarakah adalah di Baitul Mal Wattamwil (BMT). Salah

satu lembaga keuangan mikro yang mengimplementasikan pembiayaan

Kabupaten KSPS Musyarakahadalah Arta Jaya Barokah Rumbia Lampung

Tengah.

Untuk memenuhi kebutuhan modal dari pelanggan tidak lagi kasus

yang sulit, pembiayaan yang disediakan oleh KSPS musyarokah Arta Jaya

Barokah kepada Nasabah dengan persyaratan yang ditetapkan dan disepakati

oleh kedua belah pihak.

8
Nur Binti Assia, Manajemen pembiayaan Islamic Bank (Yogyakarta: Teras, 2014), p. 4-5

4
musyarokah pembiayaan yang dimiliki perjanjian kerjasama KSPS Arta

Jaya Barokahmerupakan antara kedua belah pihak atau lebih dalam

menjalankan bisnis, di mana masing-masing pihak menyetorkan modal sesuai

dengan perjanjian dengan periode waktudan untuk hasil berdasarkan

kesepakatan antara KSPS pihak dan pelanggan.

Musyarakah pembiayaan sistem bagi mereka disepakati oleh KSPS Arta

Jaya Barokah maka banyak pelanggan yang mengajukan pembiayaan untuk

melakukan usaha atau kegiatan ekonomi lainnya.

KSPS Arta Jaya Barokah dalam aplikasi pembiayaan musyarakah

menggunakan jenis syirkah 'innan mana syirkah' innan didefinisikan sebagai

kontrak antara dua orang atau lebih,di mana masing-masing pihak

memberikan porsi dana keseluruhan dan berpartisipasi dalam kehilangan

pekerjaan dan. Kedua belah pihak dalam keuntungan dan kerugian dibagi

pada ketentuan perjanjian. Namun, porsi masing-masing pihak, baik di tempat

kerja atau hasil dana maupan, belum tentu sama sesuai dengan kesepakatan

mereka.9

Berdasarkan latar belakang di atas penulis mengamati pembiayaan

musyarakah yang terjadi di KSPS Arta Jaya diberkati, dan jumlah pelanggan

yang cukup banyak pembiayaan musyarakah.Sehingga penulis tertarik untuk

mengangkat judul "Pelaksanaan Bagi Hasil Dalam pembiayaan musyarakah

di Arta Jaya Barokah KSPS Rumbia 2018"

B. Rumusan masalah
9
Muhammad Syafi'i 'i Antonio, Bank Syariah Dari Teori ke Praktik, (Jakarta: Gema Insani,
2001), p. 93

5
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, penulis

merumuskan masalah yang akan dibahas adalah: "Bagaimana menerapkan

bagi hasil pada KSPS musyarakah di Arta Jaya Barokah 2018"

C. Tujuan penelitian

Berdasarkan rumusan masalah, tujuan penelitian yang ingin dicapai

adalah untuk mengetahui pelaksanaan bagi hasil pembiayaan musyarakah

diKSPS Arta Jaya Barokah 2018

D. Manfaat dan Kontribusi Penelitian

1. Untuk Penulis Peneliti

Diharapkan mampu mengembangkan dan menerapkan teori-teori yang

telah diterima di bangku kuliah ke praktik.Serta menambahkan

kemampuan untuk menganalisis sebuah implementasi untuk hasil

pembiayaan Musyarakahdi KSPS Arta Jaya diberkati, dan menumbuhkan

sikap profesionalisme yang didasarkan pada teori dalam praktek dan

meningkatkan kemampuan untuk berpikir dalam memecahkan masalah

ilmiah.

2. Akademik

Para peneliti diharapkan dapat memberikan informasi yang berguna dan

untuk akademisi pada pelaksanaan hasil pembiayaan musyarakah di Arta

Jaya KSPS penganalisannya Barokah dan praktek dalam hal ini untuk

pelaksanaan hasil antara bank dan nasabah.Sekaligus sebagai

perbandingan antara teori belajar dengan latihan lari.

3. Masyarakat yang

6
Para peneliti diharapkan dapat menambah wawasan kepada masyarakat

untuk memahami tentang prosedur untuk pelaksanaan hasil pembiayaan

musyarakah, sehingga menjadi acuan baru dalam dunia perbankan Islam.

4. Untuk Lembaga Keuangan

Untuk informasi donasi untuk lembaga keuangan di Arta Jaya

Barokahdalam adalahKSPS halini menerapkan hasil pembiayaan untuk

kesejahteraan rakyat musayarakah sesaui dengan hukum Islam.

E. Metode penelitian

1. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan

kualitatif, prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif, berupa

kata-kata tertulis atau lisan dari orang dan perilaku keheningan itu.

Penelitian ini merupakan penilitin lapangan (field research) bidang

.Penelitian adalah penelitian yang bertujuan mempelajari sosialisasi

langsung di lapangan, latar belakang dan keadaan yang terjadi sekarang

dan tidak membuat perubahan apa yang sedang diselidiki.10

2. Sumber data

Menurut Suharlah Arikunto yang dimaksut dengan sumber data

dalam penelitian adalah subjek di mana para peneliti data yang

diperoleh.Apabila menggunakan kuesioner atau wawancara dalam

pengumpulan data, sumber data disebut responden, yaitu orang yang

merespon atau menjawab pertanyaan dari peneliti, baik tertulis dan

10
Moh.Kasiram, metodologi penelitian kualitatif-kuantitatif, (malang: UIN Maliki Pres,
2010), p. 53

7
pertanyaan lisan. Sumber data penelitian ini adalah sumber data primer,

sumber data sekunder, sumber data tersier.11

a. Sumber data primer

Sumber data primer adalah sumber data primer yang diperoleh

langsung dari subyek atau pelaku dengan sumber daya

dicari.12Sumber data primer adalah data yang diperoleh langsung dari

sumbernya melalui wawancara dan dokumentasi.

Sumber data primer dalam penelitian ini, yaitu, 1) Mnager, 2)

Account Officer (AO) KSPS Arta Jaya Barokah.

Dalam rangka untuk mendapatkan informasi yang lebih lengkap

untuk keperluan data penelitian untuk laporan akhir.

b. sumber data sekunder

sumber data sekunder merupakan sumber dukungan dan

perbandingan terkait dengan masalah tersebut. Menurut Sugiono,

sumber data sekunder adalah sumber yang tidak langsung memberikan

data, misalnya lewat orang lain atau melalui dokumen.13

Ada juga data yang diperoleh dalam bentuk siap pakai, data yang

sudah di olah dan dikumpulkan oleh orang lain, biasanya dalam

bentuk publikasi dan dicetak sebagai buku dan sebagainya. Para

peneliti mencari buku-buku, jurnal, serta beberapa referensi lain dan

dokumen terkait dengan judul ditunjuk penulis sebagai data

pendukung kelengkapan. Beberapa buku yang peneliti gunakan

11
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis, (Jakarta: Rineka Cipta
2006), hlm.12
12
Saifuddin Azwar, Metode (Yogyakarta: Perpustakaan Mahasiswa, 1998). hlm.91
13
Sugiono, Metode Penelitian Kualitatif, Kualitatif dan R & D., P. 193

8
mereka adalah 1) Fiqh Syafei Rahmat Tenets dari penulis, 2) Ekonomi

Fiqh Islam dengan penulis Mardani, 3) Bank Syariah dari Teori ke

Praktik oleh penulis M. Syafi'i Antonio, 4) Pembiayaan Musyarakah

dan Mudharabah dengan penulis Naf 'an, 5) Manajemen penulis

Muhammad Islamic Bank.

c. sumber data tersier

sumber data tersier adalah bentuk ketiga yang mendukung atau

produk sampingan.14 sumber data tersier dalam penelitian ini seperti

brosur dan data lain seperti Al-Quran dan terjemahan, kamus,

ensikplodia dan internet sumbernya.

3. Pengumpulan Data Teknik

Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data dalam penelitian

ini yaitu sebagai berikut:

a. Pengamatan

Teknik pengamatan pengamatan sistematis dan pencatatan

gejala terlihat pada penelitian.Observasi objek sebagai alat

pengumpulan data banyak digunakan untuk mengukur perilaku atau

terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati, baik dalam situasi

yang sebenarnya dan dalam situasi buatan. Pengamatan dapat

dilakukan secara langsung atau tidak langsung.15

Pengamatan oleh penulis di sini adalah pengamatan langsung

dari operasi di Kabupaten Arta Jaya Barokah KSPS Rumbia

Lampung Tengah.

14
ibid, P. 194
15
Rianto Adi, Sosial dan Metode Penelitian Hukum (Jakarta: Granit, 2004), hlm 70.

9
b. Wawancara

Wawancara adalah dialog yang dilakukan oleh para peneliti

yang bertindak sebagai pewawancara untuk memperoleh informasi

dari responden (wawancara). Wawancara atau wawancara adalah

dialog yang dilakukan dua orang atau lebih untuk mendapatkan

informasi dari wawancara.16 Wawancara dibagi menjadi tiga yaitu:

Sebuah). Wawancara bebas (tanpa pertanyaan bimbingan)

b). Dipandu Wawancara (menggunakan daftar pertanyaan)

c). Wawancara bebas terpimpin (kombinasi wawancara bebas dan

terpimpin)

Untuk mendapatkan informasi yang lebih lengkap untuk

keperluan data penelitian untuk laporan akhir, penulis melakukan

wawancara langsung dengan Manajer KSPS Arta Jaya Jaya

danAccount Officer (AO).

c. Dokumentasi

Dokumentasi adalah mencari data tentang hal-hal seperti

catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat,

pertemuan, lengger, agenda, dan sebagainya.17dokumentasi teknik

yang digunakan untuk mengumpulkan data yang berisi informasi dan

penjelasan yang telah berpikir tentang studi ini, seperti hal yang

berkaitan dengan pelaksanaan hasil dari musyarokah KSPS

pembiayaan di Kabupaten Arta Jaya Barokah Lampung Tengah

tertulis.

16
Sutrisno Hadi, metodologi penelitian, (Yogyakarta: Andi offest, 2000), hlm.75
17
Suharsimi Arikunto, Metodologi Penelitian, hlm.274

10
4. Analisis Data Teknik

Analisis data adalah cara menyederhanakan data dengan lebih

mudah dimengerti dan dibaca. Dalam kaitan dengan kesimpulan,

penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif dengan cara

induktif berbentuk berpikir.

Menurut Sutrisno Hadi, berpikir induktif adalah keberangkatan dari

fakta-fakta atau peristiwa khusus, peristiwa yang konkret, maka dari

fakta-fakta ditarik generalisasi yang memiliki ciri umum.18

Berdasarkan penjelasan di atas, analisis data adalah untuk

membangun teori yang ada dengan kenyataan di lapangan untuk

mengambil kesimpulan dari penelitian yang berkaitan dengan

pelaksanaan hasil musyarokah pembiayaan di Arta Jaya Barokah KSPS.

18
Sutrisno Hadi, Metodologi Penelitian, hlm.42

11
BAB II
dasar teoritis

A. pemahaman Musyarokah

Syirkah di etismologis memiliki rasa menarik (ikhli-itu), yaitu

pencampuran salah satu dari dua harta dengan harta benda lainnya, tanpa bisa

membedakan antara keduanya.1

Dalam termonologis, menurut Kompilasi Hukum Ekonomi Islam,

syirkah (musyaroakah) merupakan kerjasama antara dua orang atau lebih

dalam hal modal, keahlian atau keyakinan dalam usaha tertentu dengan

pembagian keuntungan berdasarkan rasio.2

definisi lain dari musyarakah di yurisprudensi dalam buku, As-Syailul

Jarrar III: 246 dan 248, Imam Ash-syaukani menulis sebagai berikut:

"(Syirkah shar" Iyah) menyadari (menyadari) atas dasar kedua berkat antara

dua orang atau lebih, masing-masing dari mereka untuk menghabiskan modal

dalam ukuran tertentu. Kemudian modal bersama itu berhasil mendapatkan

keuntungan, asalkan masing-masing mendapatkan keuntungan sesuai dengan

jumlah sekuritas dikirim ke syirkah tersebut. Tapi ketika mereka semua setuju

dan kesenangan, keuntungan dibagi rata antara mereka, meskipun besarnya

modal tidak sama, mungkin sah, meskipun sebagian besar dari mereka kurang

saham sementara yang lain lebih besar jumlahnya. Di mata hukum, hal

1
Rahmat Syafei fiqh muamalah (Bandung: perpustakaan setia, 2001), hlm.183
2
Pasal 20 (3)

12
semacam ini tidak masalah, karena itu adalah usaha bisnis yang paling

penting berdasarkan ridha ridha sama, toleransi dan anggun.3

B. Pilar dan Kondisi musyarakah

Hanafiyah menemukan syirkahhanya pilar satu, yang sighot

(persetujuan dan Kabul) yang mewujudkan transaksi syirkah.Mayoritas

Syirkah ulama ditemukan empat pilar, yaitu: shigat, dua orang melakukan

transaksi, ( 'aqhidain), dan objek transaksi.

Shighat, Ungkapan yang keluar dari masing-masing dua transaksi

pihakyang yang menunjukkan keinginan untuk melaksanakannya.Shighat

terdiri dari ijab qobul berlaku dengan semua hal yang menunjukkan syirkah

niat, baik bertindak atau ucapan.'Aqidhain dua pihak yang bertransaksi

Ahliyah al -'aqad, yaitu pubertas, cerdas, pintar, dan tidak terhalang untuk

menghabiskan harta.Adapun syirkah objek, yang dapat menjadi harta

pokok.Ini modal atau pokok pekerjaan.Modal syirkah harus ada.

Seharusnya tidak harta dibayarkan atau benda yang tidak diketahui

karena tidak dapat dijalankan sebagai syirkah tujuan, yaitu keuntungan.

Adapun syirkah persyaratan sesuai kesepakatan Ulama adalah:

1. Kedua pihak yang bertransaksi memiliki kapasitas / keahlian (ahliah)

untuk mewakili dan meneriam perwakilan.Demikian dapat terwujud

jika status seseorang sebagai independen, pubertas, dan pintar (rasyid).

Hal ini karena masing-masing posisi dua pihak sebagai mitra jika hal

kewajaran sehingaa ia menjadi wakil mitra di harta mebelanjakan.

3
Naf'an, pembiayaan musyarakah dan Mudharaah, (Yogyakarta: Graha Ilmu, cet 1, 2014), p.
96

13
2. Syirkah modal yang ada pada saat transaksi.

3. modal syirkah dikenal.

4. Jumlah laba ditentukan oleh jumlah yang berlaku, seperti setengah, dan

sebagainya.4

Beberapa istilah musyarokah Ottoman dikutip As-Carya, antara lain:

1) Syarat kontrak

Karena musyarokah adalah hubungan yang dibentuk oleh mitra

melalui kontrak / perjanjian yang disepakati bersama, maka otomatis

empat kondisi kontrak adalah: ketentuan berlakunya kontrak (In'iqod),

hal keabsahan kontrak (Shihah), syarat-syarat terealisasiya kontrak

(nafadz), kondisi umum yang harus dipenuhi.Misalnya, mitra harus

memenuhi syarat aktor kontrak (Ahliyah dan wilayah), kontrak harus

dilakukan dengan persetujuan para pihak tanpa tekanan, penipuan, atau

keliru, dan sebagainya.

2) Proporsi Distribusi Laba

Dalam pembagian proporsi keuntungan harus dipenuhi hal-hal berikut:

a. Proporsi keuntungan didistribusikan kepada mitra bisnis harus

disepakati di awal kontrak / perjanjian. Jika proporsi tidak

ditentukan, kontrak tidak sah menurut syariah.

b. Rasio rasio / manfaat untuk setiap mitra bisnis harus didefinisikan

sesuai dengan keuntungan yang nyata yang diperoleh dari bisnis, dan

tidak ditentukan oleh modal yang disertakan. Tidak diizinkan untuk

4
Abdullah bin Muhammad Ath-Thayyar, et al., Loc., Hlm.266

14
mengatur lump sum untuk pasangan tertentu, atau tingkat keuntunga

tertentu yang terkait dengan investasi modal.

3) Penentuan Proporsi Gain

Dalam menentukan proporsi keuntungan ada beberapa pendapat

dari para ahli hukum Islam sebagai berikut:

a. Imam Malik dan Imam Syafi'i berpendapat bahwa proporsi

keuntungan dibagi antara mereka sesuai dengan kesepakatan yang

ditentukan dalam kontrak sesuai dengan proporsi modal

disertakan.Imam Ahmad berpendapat bahwa proporsi keuntungan

juga mungkin berbeda dari proporsi modal mereka termasuk.

b. Imam Abu Hanifah, yang dapat dianggap sebagai pertengahan

pendapat, ditemukan proporsi keuntungan dapat berbeda dari

proporsi modal di bawah kondisi normal. Namun demikian, mitra

memutuskan modal dalam kondisi normal. Namun demikian, mitra

memutuskan untuk menjadi slleping mitra, proporsi keuntungan

tidak boleh melebihi proporsi modal mereka.

4) berbagi kerugian

ahli hukum Islam sepakat bahwa masing-masing pasangan untuk

menanggung kerugian sesuai dengan proporsi investasi mereka.

5) sifat Modal

Mayoritas ahli hukum Islam berpendapat bahwa modal yang

diinvestasikan oleh masing-masing pasangan harus dalam bentuk modus

cair. Ini berarti bahwa kontrak hanya dengan uang dan tidak musyarokah

15
dapat komoditas. Dengan kata lain, modal saham dari perusahaan

patungan harus dalam bentuk moneter (uang). Tidak ada bagian dari modal

dalam jenis.

6) manajemen musyarokah

Prinsip normal musyarokah yang masing-masing pasangan memiliki

hak untuk berpartisipasi dalam manajemen dan bekerja untuk perusahaan

patungan ini. Namun, akan dilakukan oleh salah satu dari mereka, dan

mitra lainnya tidak akan menjadi bagian dari pengelolaan musyarakah.

Dalam kasus seperti tidur partnersakan hanya menerima keuntungan dari

investasi, dan proporsi keuntungan adalah proporsi terbatas ekuitas. Jika

semua mitra setuju untuk bekerja di perusahaan, masing-masing pasangan

harus diperlakukan sebagai agen mitra lain dalam semua masalah bisnis,

dan semua pekerjaan yang dilakukan oleh masing-masing pasangan, dalam

keadaan bisnis normal, harus disetujui oleh semua mitra.

7) penghentian Musyarakah

Musyarakah akan berakhir jika salah satu peristiwa terjadi, yaitu:

a) Setiap pasangan memiliki hak untuk mengakhiri musyarakah kapan

saja setelah memberikan pemberitahuan kepada mitra lainnya

mengenai hal ini.

b) Jika salah satu dari meniggal mitra musyarakah ketika menjalankan,

kontrak dengan almarhum masih berakhir / berhenti. Ahli waris

memiliki pilihan untuk menarik sebagian dari modal atau kontrak

forward musyarakah

16
c) Jika salah satu mitra menjadi gila atau menjadi tidak dapat

melakukan transaksi komersial, musyarakah berakhir.5

C. Dasar Syirkah Hukum

1. Al-Qur'an

Dasar hukum Musyarakah adalah QS. Shad (38): 24:

‫وإن كثيرا من الخلطاء ليبغي بعضهم على بعض إال الذين آمنوا وعملوا‬
‫الصالحات وقليل ما هم‬

Artinya: "sesungguhmya sebagian besar orang yang mengatur itu


kebanyakan dari mereka berbuat salah kepada orang lain, kecuali
orang-orang yang beriman dan berbuat baik, dan sangat sedikitlh
mereka."

Dan firman (4) Allah QS.an-Nisa: 12:

‫ذلك فهم شركاء في الثلث‬

Artinya:" ... mereka adalah mitra dalam ketiga.

5
Ascarya, ibid., Hlm.53-58

17
2. Al-Hadits

Adapun dalil Sunnah adalah: dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah

SAW.Bahwa rafa'kan Nabi berkata, "Allah swt berfirman," Aku adalah yang

ketiga dalam dua atau bersekutu, selama salah satu dari dua tidak

mengkhianati temannya.Aku akan keluar dari aliansi ketika salah satu

mengkhianati. "(HR. Abu Dawud dan Hakim dan memvalidasi sanadnya.

3. ijma '

Ibnu Qudamah dalam bukunya Al-Mughni,6 mengatakan, "Muslim

memiliki konsensus terhadap legitimasi Musyarokahsecara global, meskipun

ada perbedaan pendapat dalam beberapa elemen itu."

Maksutnya Allah akan melindungi dan membantu dua sekutu dan lebih

rendah berkat atas pandangan mereka. Jika salah satu dari mereka yang

mengkhianati sekutunya, Allah akan menghapus bantuan dan berkah.7

D. jenis Musyarokah

Syirkah (musyarakah) dibagi menjadi dua jenis, yaitu syirkah Amlak

(kepemilkan) dan syirkah 'Uqud /' kontrak (kontrak).

1. Syirkah al-susu, dapat diartikan sebagai kepemilikan bersama antara

pihak-pihak asosiasi itu dan keberadaannya muncul ketika dua orang atau

lebih secara kebetulan memperole kepemilikan bersama properti apapun

6
Abdullah Ibn Ahmad Ibn Qudamah, Mughni waSyarh Kabir (Beirut: Darul Fikr-1979), vol.
v, p. 109
7
Rahmat Syafe'i, op.cit

18
tanpa perjanjian / kontrak kemitraan resmi. Syirkah al-susu biasanya

berasal dari warisan.8

2. Syirkah al-Uqud, dapat diperlakukan sebagai kemitraan yang benar-benar

berarti, karena pihak yang bersangkutan secara sukarela ingin membiarkan

perjanjian investasi bersama dan berbagi keuntungan dan risiko.

Sementara itu, menurut membagi syirkah Sabiq Syaid menjadi

empat bagian:

Syirkah inan, syirkah mufawwadah, syirkah Wujuh, syirkah Abdan.

1) syirkah inan

Perjanjian kerjasama usaha antara dua pihak atau lebih, masing-

masing pihak harus menserahkan porsi modal modal belum tentu

sama. Distribusi hasil usaha sesuai dengan perjanjian, belum tentu

sesuai dengan kontriusi dana yang disediakan. Dalam Syirkah Inan, 9

masing-masing pihak tidak harus menyerah modal dalam bentuk uang

tunai, tetapi akan dalam bentuk aset atau kombinasi dari kas dan aset

atau tenaga

2) syirkah mufawwadah

Perjanjian kerjasama usaha antara dua pihak atau lebih, masing-masing

pihak harus menserahkan porsi yang sama dari modal dan bagi hasil

joint venture atau risiko yang ditanggung oleh jumlah yang sama.

Dalam SyirkahMufawwadah, masing-masing mitra bisnis memiliki

hak dan tanggung jawab.

3) syirkah Wujuh

8
Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah, (Jakarta: Rajawali Press, 2010) p. 129
9
Syirkah juga disebut al-Amwal.

19
Sebuah perjanjian kerjasama antara dua atau lebih orang untuk

menggunakan milik orang lain di luar keduanya. Dengan kata lain,

salah satu investor menyerahkan hartanya untuk dua manajer atau

melalui syirkah mudharabah, sehingga dua orang yang manajer

bersyirkah laba dengan milik orang lain di luar keduanya. Kemudian

kedua belah pihak (yaitu investor dan dua manajer) telah sepakat untuk

membagi keuntungan menjadi tiga bagian: bagian ketiga dari masing-

masing manajer dan bagian ketiga lagi untuk investor, atau keuntungan

dibagi empat bagian, yaitu bagi investor kuartal dan untuk manajer

setengahnya, atau untuk melakukan keuntungan divisi dalam bentuk

lain sesuai dengan ketentuan yang disepakati.

4) syirkah Abdan

AKAT adalah bentuk kerjasama antara dua pihak atau lebih, yang

masing-masing hanya menyumbang kerja (amal), tanpa kontribusi

modal (mal). Kontribusi untuk pekerjaan dapat menjadi cara kerja

pikiran (sebagai penulis skenario) atau bekerja fsik (seperti tukang

batu). Syirkah juga disebut amal syirkah'.

E. Tujuan dan Manfaat Musyarokah

Musyarokah tujuan dan manfaat:

a. Memberikan manfaat bagi para anggota pemilik modal.

b. Anggota kerja untuk karywannya.

20
c. Memberikan bantuan keuangan dari sebagian hasil operasi musyarokah

(syirkah) untuk mendirikan tempat ibadah, sekolah, dan sebagainya.10

F. DSN tentang Pimbiayaan musyarakah

ketentuan pembiayaan musyarakah yang terkandung dalam DSN-MUI

fatwa No.08 tahun 2000, sebagai berikut:11

1. Pernyataan persetujuan qabul dan harus dinyatakan oleh para pihak untuk

menunjukkan kehendak mereka untuk masuk ke dalam kontrak (kontrak),

dengan mempertimbangkan hal-hal berikut:

a. Penawaran dan penerimaan harus secara eksplisit menunjukkan

tujuan kontrak (kontrak).

b. Penerimaan dari penawaran dilakukan pada saat kontrak.

c. Akad dimasukkan ke dalam tulisan, melalui korespondensi, atau

dengan menggunakan metode komunikasi modern.

2. Pihak kontraktor harus mampu hukum, dan memperhatikan hal-hal

berikut:

a. Kompeten dalam memberikan atau diberikan kekuasaan representasi.

b. Setiap pasangan harus menyediakan dana dan pekerjaan, dan setiap

mitra melaksanakan pekerjaan sebagai deputi.

c. Setiap pasangan memiliki hak untuk mengatur aset musyarakah

dalam proses bisnis normal.

d. Setiap pasangan kewenangan mitra lain untuk mengelola aset dan

masing-masing dianggap telah diberi wewenang untuk melakukan

10
Mardani, Fiqh Ekonomi Islam, (Jakarta: Prenamedia Group, 2012), hlm.224
11
Ghufron Aji Kontemporer Fiqh Muamalah II-Indonesia (Semarang:. CV Karya Aadi
Services, cet 1, 2015) p. 177-181

21
kegiatan musyarakah berkaitan dengan kepentingan mitranya, tanpa

kelalaian dan kesalahan yang disengaja.

e. Seseorang tidak diperbolehkan untuk mencairkan mitra atau

menginvestasikan dana untuk kepentingannya sendiri.

3. Objek kontrak (modal, tenaga kerja, keuntungan dan kerugian)

a. Modal

1. Modal yang diberikan harus uang tunai, emas, perak atau orang

lain sama. Modal dapat terdiri dari aset perdagangan, seperti

barang-barang, properti, dan sebagainya. Jika aset dalam bentuk

modal, terlebih dahulu harus dinilai dengan uang tunai dan

disetujui oleh mitra.

2. Para pihak mungkin tidak meminjam, meminjamkan,

menyumbangkan atau memberikan modal musyarakah ke pihak

lain, kecuali atas dasar kesepakatan.

3. Pada prinsipnya, dalam musyarakah tidak ada jaminan, namun

untuk menghindari terjadinya penyimpangan, LKS dapat

meminta jaminan.

b. Kerja

1. Partisipasi mitra adalah dasar untuk pelaksanaan pekerjaan

dealam musyarakah; Namun, bagian dalam pekerjaan umum

adalah bukan keharusan. Seorang mitra dapat melakukan lebih

banyak pekerjaan daripada yang lain, dan dalam hal ini mungkin

memerlukan tambahan bagi hasil untuk dirinya sendiri.

22
2. Setiap mitra dalam musyarakah melaksanakan pekerjaan atas

nama pribadi dan perwakilan dari mitra. Posisi masing-masing

dalam organisasi kerja harus diklarifikasi dalam kontrak.

c. keuntungan

1. Keuntungan harus dikuantifikasi dengan jelas untuk

menghindari perbedaan dan perselisihan pada saat alokasi

keuntungan atau penghentian musyarakah.

2. Setiap keuntungan mitra harus dibagikan secara proporsional

atas dasar semua manfaat dan tidak ada jumlah awalnya

ditentukan ditetapkan untuk pasangan.

3. Seorang mitra dapat mengusulkan bahwa jika keuntungan

melebihi jumlah tertentu, kelebihan atau persentase yang

diberikan kepadanya.

d. Kerugian

Kerugian harus dibagi di antara para mitra dalam proporsi saham

masing-masing di ibukota.

4. biaya operasional dan perselisihan

a. biaya operasional dibebankan ke ibukota bersama-sama.

b. Jika salah satu pihak tidak memenuhi kewajibannya atau jika ada

sengketa antara para pihak, penyelesaian melalui Syariah Badan

Arbitrase setelah tidak tercapai kesepakatan melalui konsensus.

G. Implementasi Pendanaan Musyarokah di Bank Syariah

1) pembiayaan proyek

23
Al-Musyarakahbiasanya diterapkan untuk proyek bank pembiayaan di

mana pelanggan dan bersama-sama menyediakan dana untuk membiayai

proyek tersebut. Setelah proyek itu selesai, pelanggan mengembalikan dana

bersama-sama untuk hasil yang telah disepakati oleh Bank

2) Modal usaha

Dalam lembaga keuangan khusus yang diizinkan untuk berinvestasi

dalam kepemilikan perusahaan, al-musyarakah diterapkan dalam skema

modal ventura. Investasi dibuat untuk jangka waktu tertentu dan setelah itu

Bank divestasi atau menjual bagian sahamnya baik secara singkat atau secara

bertahap.12

Mekanisme adalah sebagai berikut:

1. Bank dan pelanggan di setiap bertindak sebagai mitra bisnis untuk

bersama-sama menyediakan dana dan / atau barang untuk membiayai

kegiatan usaha tertentu.

2. Pelanggan bertindak sebagai manajer bisnis dan Bank sebagai mitra

bisnis dapat berpartisipasi dalam manajemen bisnis sesuai dengan tugas

dan wewenang disepakati sebagai melakukan review, meminta bukti

laporan hasil bisnis yang dilakukan oleh pelanggan berdasarkan bukti

yang mendukung dapat dipertanggungjawabkan.

3. Distribusi hasil usaha dari pengelolaan dana dinyatakan dalam bentuk

yang disepakati rasio.

4. Rasio bagi hasil yang disepakati tidak dapat diubah sepanjang jangka

waktu investasi, kecuali atas dasar kesepakatan antara para pihak

12
Muhammad Syafi'i Antonio, Bank Syariah dari Teori kepraktik (Jakarta: Gema Insani, 2001) p.
93

24
5. pembiayaan Akad berdasarkan Musyarakah diberikan dalam bentuk

uang dan / atau barang, dan tidak dalam bentuk piutang atau tagihan.

6. Dalam kasus secara pembiayaan Akad Musyarakah yang disediakan dalam

bentuk uang harus dinyatakan secara jelas jumlahnya.

7. Dalam kasus atas dasar Akad Musyarakah pembiayaan diberikan dalam

bentuk barang, barang tersebut harus dinilai berdasarkan nilai pasar (nilai

realisasi bersih) dan jelas dinyatakan jumlahnya.

8. Periode waktu atas dasar Akad Musyarakah pembiayaan, pengembalian

dana, dan pembagian hasil usaha ditentukan oleh kesepakatan antara Bank

dan nasabah.

9. Pengembalian atas dasar Akad Musyarakah pembiayaan dilakukan dengan

dua cara, yaitu dengan angsuran atau sekaligus pada akhir periode

pembiayaan, sesuai dengan jangka waktu atas dasar Akad Musyarakah

pembiayaan;

10. Bisnis bagi hasil berdasarkan laporan hasil usaha nasabah didasarkan pada

bukti yang mendukung dapat dipertanggungjawabkan danBank dan

pelanggan menanggung kerugian secara proporsional dengan porsi modal

masing-masing.

H. skema pembiayaan Musyarakah

Dalam pembiayaan musyarakah, bank-bank Islam memberikan porsi

modal dari total modal yang dibutuhkan. Dari bank dapat mencakup modal

sebagian sesaui sepakat untuk memfasilitasi pemahaman sistem pembiayaan

nasabah.Untuk musyarakah, skema musyarakah berikut dalam bentuk

gambar:

25
Shahibul mal 2 kontrak pembiayaan Shahibul mal 1
musyarakah
(Pelanggan) (Bank Islam)

Modal 30% Modal 70%

Kerja sama

Bagi hasil Bagi hasil


Pendapatan

Modal 30% Modal 70%


Modal

. skema pembiayaan Musyarakah

26
BAB III

DISKUSI

A. Ikhtisar KSPS Arta Jaya Barokah

1. Sejarah KSPS Arta Jaya Barokah

Pada hari Sabtu 15 Desember 2013 di 19: 30-20: 12:00 telah

menerapkan pertemuan pembentukan Koperasi diadakan di rumah Bapak

Supriyono, S.pd Dusun IV Rt 02 Rw 01 Rekso Binangun Kampung

Rumbia Kecamatan Kabupaten Lampung Tengah. Dalam pertemuan

tersebut, dihadiri oleh 25 orang daftar hadir terlampir.

Pertemuan tersebut memutuskan:

1. Dasar Anggota Dukung Kredit Serikat Islam

2. Set nama dan domisili Serikat Kredit Syariah yaitu:

SIMPAN PINJAM DARI ISLAM KERJASAMA ARTA JAYA

BAROKAH disingkat "KSPS AJB" Berbasis di desa Rekso Binangun

Rumbia Kecamatan Kabupaten Lampung Tengah.

3. Membangun deposito utama Koperasi sebesar Rp. 10.000, - (sepuluh

ribu rupiah) dan sertifikat Koperasi Modal Rp. 10.000, - (sepuluh ribu

rupiah) 1 lembar peranggota Koperasi

4. Memilih administrator dan supervisor untuk pertama kalinya adalah:

a. pengelolaan

Presiden Direktur : Wiryono, S.Pd

Direktur Administrasi dan Sumber Daya Manusia : Andi

Ariyanto

Direktur Keuangan Wahyu Widianto

27
b. Dewan Pengawas Syariah

Ketua : Herly Syani

Sekretaris : Suparman

Anggota : Munawar

c. pengawas

Ketua : Supriyono, S.pd

Sekretaris : Nasib Supriyono

Anggota Ridwan

5. Masa jabatan dan Dewan Pengawas selama 5 tahun.

6. Membangun sebuah divisi dari SHU dengan porsi berikut:

a. 35% untuk cadangan

b. 40% untuk anggota

c. 10% untuk pendidikan

d. 10% dari administrator dan manajer

e. 2,5% untuk konstruksi

f. 2,5% untuk sosial

7. Setuju untuk mengotorisasi

a. Wiryono, S.pd

b. Andi ariyanto

c. Wahyu Widianto

Khusus untuk mendeklarasikan berdirinya Koperasi Simpan Pinjam

Syariah Artha Jaya Baroakah dalam akta notaris dan ke penerima

kuasa juga berhak untuk mengambil tindakan apapun yang dapat

dikecualikan.

28
2. Visi, Misi, KSPS Artha Jaya Barokah

a. visi Artha Jaya Barokah KSPS menjadi Koperasi Syariah yang

sehat dan bermanfaat bagi masyarakat Ekonomi.

b. Misi KSPS Arta Jaya Barokah pertama Anggota untuk membawa

kemakmuran, baik berpartisipasi dalam lomba bermotif

memberdayakan Ekonomi Syariah, pengorganisasian tiga Standar

dan prosedur sesuai dengan Koperasi Syariah yang sehat, handal,

dan terbuka dalam pengiriman Keuangan Operasi.1

3. KSPS Struktur Organisasi Arta Jaya Barokah

RAPAT ANGGOTA

Pengawas Syariah Ketua: pengawas


1.Herly S. 1. E. Siswanta, S.pd
Wiryono, S.pd
2. Suparman 2. Nasib Puryono
3. Munawar 3. Ridwan

1.

Sekretaris Bendahara
Andi Asiyanto, S.pd Wahyu Widianto

Anggota

1
Dokumen / Arsip KSPS Arta Jaya Barokah

29
4. Produk KSPS Artha Jaya Barokah

Produk pembiayaan di Arta Jaya Barokah KSPS Rumbia menggunakan

kontrak danMurobahah musyarakah.

1. akad Murodorobah

Mudhorobah adalah kontrak kerjasama antara KSPS yang

menyediakan modal untuk mudharib (anggota) memanfaatkan untuk

tujuan usaha produktif dan halal. Hasil keuntungan dari penggunaan

dana tersebut dibagi berdasarkan nisbah yang disepakati.

2. kontrak musyarakah

Kerjasama adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih untuk

suatu usaha tertentu di mana masing-masing pihak memberikan

kontribusi dana untuk kesepakatan bahwa keuntungan dan risiko

akan dibagi sesuai dengan kesepakatan.2

2
Bidayatul Mujtahid II, hlm.253-257.

30
Gambar 2. Skema perjanjian Pembiayaan Musyrakah KSPS Arta Jaya

Barokah

1. Pendanaan Permintaan dari pelanggan untuk KSPS Arta jaya Barokah

penentuan Akad

perjanjian akad

Serah terima agunan

Pelanggan membayar angsuran


KSPS Arta Jaya
Barokah

Skema Keterangan:

a. Pelanggan menerapkan fasilitas pembiayaan musyarakah untuk

KSPS Arta Jaya Barokah dan memenuhi persyaratan yang

ditentukan KSPS Arta Jaya Barokah

b. KSPS Arta Jaya Barokah dan Nasabah Pembiayaan musyarakah

c. Pelanggan pembiayaan KSPS Arta Jaya Barokah serah terima

objek musyarakah menerima obyek KSPSArta Jaya Barokah

d. Pelanggan membayar angsuran ke KSPS Arta Jaya Barokah

31
5. mekanisme pembiayaan Musyarakah KSPS Arta Jaya Barokah

a. Pilar dan pembiayaan musyarakah persyaratan

Sesuai dengan teori yang telah disajikan dan ilmiah yang tepat

bahwa pilar Musyarakah pembiayaan adalah sebagai berikaut:1)

shigat, 2) dua orang yang melakukan transaksi, ( 'aqhidain), dan 3)

objek yang ditransaksikan. Sementara kondisi itu sendiri

pembiayaan musyarakah adalah: 1) memiliki kapasitas / keahlian

(ahliah) untuk mewakili dan perwakilan meneriam, 2) syirkah

modal yang ada pada saat transaksi, 3) syirkah Capital dikenal, 4)

Besarnya manfaat tidak diketahui .

Berdasarkan hasil penelitian para peneliti melakukan pilar itu

dan kondisi untuk pembiayaan musyarakah diterapkan di Arta Jaya

Barokah KSPS adalah sebagai berikut:

1) Shighot

2) 2 orang yang melakukan transaksi

3) 'aqidain

4) Objek yang diperdagangkan

5) Syarat syirkah:

a) 2 orang yang melakukan transaksi

b) Syirkah modal yang ada pada saat transaksi

c) syirkah modal yang tidak diketahui

d) Jumlah laba ditentukan oleh jumlah berlaku

32
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa yang

harmonis dan persyaratan pembiayaan musyarakah di Arta Jaya

Barokah KSPS sudah sesuai dengan teori yang ada.

b. prosedur pembiayaan musyarakah

1) prospek

Pengajuan pembiayaan oleh calon nasabah dengan

melengkapi dokumentasi / persyaratan yang dibutuhkan

pembiayaan dan mengisi formulir aplikasi.3

Setelah pelanggan melengkapi persyaratan yang diperlukan

dan mengisi formulir pembiayaan maka tugas berikutnya adalah

untuk menindaklanjuti pengajuan pembiayaan calon Nasabah

koperasi.

Pelanggan hanya akan menunggu konfirmasi dari Koperasi

apakah pengajuan pembiayaan dapat dilanjutkan atau tidak.

2) Inisiasi

Inisiasi calon Pelanggan termasuk:

1. Memeriksa keaslian dokumen

Dokumen sudah dikonfirmasi keasliannya sesuai aslinya

dicap dan diparaf.

2. Melakukan Wawancara / interview Nasabah

Setelah dokumen dipastikan keasliaannya lanjut AO

(Accounting Officer) akan melakukan wawancara atau

wawancara dengan calon Nasabah. AO akan meminta secara

3
Wawancara dengan AO KSPS Arta Jaya Barokah Ibu Linda pada 25 September 2019

33
rinci kepada calon pelanggan tentang latar belakang keluarga,

bisnis yang dimiliki dan pendapatan dan juga tentang

jaminan.4

3. Mengevaluasi kelayakan calon Nasabah

Evaluasi Pembiayaan dilakukan untuk menentukan apakah

kandidat memenuhi kebutuhan pelanggan untuk koperasi

keuangan yang diberikan, baik secara kualitatif maupun

kuantitatif.

Analisis kualitatif untuk menentukan dan mengevaluasi

latar belakang calon Nasabah dilakukan dengan menggunakan

menghakimi pendekatan apparoach (5C). Analisis kuantitatif

digunakan untuk menentukan kemampuan membayar Nasabah

atau RPC (kemampuan membayar). Untuk analisis kuantitatif

setiap calon pelanggan harus dievaluasi dan diverifikasi sumber

pendapatan meliputi:

a. Memastikan penghasilan bulanan pelanggan pada slip gaji /

sertifikat pendapatan Pelanggan Calon dengan konfirmasi ke

HRD / Bendahara gaji.

b. RPC menghitung calon Nasabah

kapasitas pembayaran (RPC) adalah maksimum angsuran

Pelanggan setelah dikurangi kewajiban Koperasi / lembaga.

3) Persiapan Pembiayaan Usulan (MUP)

4
ibid

34
Menurut ketentuan dalam kebijakan pemberian fasilitas

pembiayaan dari setiap pengajuan yang diusulkan harus

didasarkan pada permohonan tertulis dari Nasabah.

accaount Petugas inisiator mengusulkan fasilitas

pembiayaan menggunakan diusulkan Pembiayaan

memorandum (MUP) Konsumen. Membuat MUP lakukan

setelah mendapatkan hasil dari jurnalisme investigasi,

memeriksa, penilaian jaminan dan verifikasi kuantitatif dan

data kualitatif yang terkait dengan pembiayaan yang diusulkan.

Setiap MUP pengajuan harus ditandatangani oleh

pendukung Account Officer untuk disetujui oleh Komite

Keuangan yang bertujuan untuk menemukan pembiayaan yang

bertujuan untuk menentukan apakah pembiayaan Pelanggan

calon disetujui atau ditolak.

4) penyaluran pembiayaan Musyarakah

Langkah terakhir adalah Search Pembiayaan kepada

pelanggan dan dokumentasi pembiayaan setelah pencairan.

5) Pelanggan Pembayaran angsuran

Setelah pembiayaan dan generasi kas telah diberikan

Nasabah Koperasi harus membayar angsuran sesuai dengan

Perjanjian yang telah disepakati antara kedua belah pihak.5

Tabel 1. Dokumen Kelengkapan Pemohon

5
Wawancara dengan Manajer KSPS Arta Jaya Baroakah ayah Wiryono pada 25
September 2019

35
Dokumen kelengkapan pemohon karyawan kesehatan Provesi

Copy KTP dan fotokopi ID

pemohon kartu pasangan (jika

sudah menikah)

Fotokopi Kartu Keluarga

Copy surat nikah

Salin ID pajak pribadi (untuk

pinjaman> 50 juta)

Sertifikat kerja (/ original copy

SK pengangkatan)

Sertifikat kerja / slip gaji (asli)

tabungan copy / giro calon

Nasabah

Fotokopi surat regristasi

c. Penentuan Berbagi di Musyarakah pembiayaan KSPS Arta Jaya

Barokah

Dalam terori tekad untuk hasil pembiayaan Musyarakahadalah

sebagai berikut:

1. Disepakati pada awal kontrak / perjanjian

2. manfaat rasio untuk setiap mitra bisnis harus ditegakkan sesuai

dengan manfaat modal berdasarkan terkait tertu termasuk

Berdasarkan hasil penelitian pembiayaan musyarakah yang

diterapkan oleh KSPS Arta Jaya Barokah itu didasarkan pada:

36
1. Hal itu disepakati dalam kontrak awal

2. Ditentukan berdasarkan keuntungan bukan pada modal.

Sebagai contoh: Seorang pelanggan mengajukan pembiayaan

musyarokan ke KSPS dengan nomor Rp.10.000.000, - dengan

keuntungan Rp.3.000.000, -, maka yang akan dibagi antara

KSPS pihak dengan pelanggan sesuai dengan kesepakatan

adalah keuntungan yaitu sebesar Rp.3.000.000

Berdasarkan hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa

penentuan hasil dalam pembiayaan musyarakah di Arta Jaya

Barokah KSPS sudah sesuai dengan teori yang ada.

d. penentuan kerugian

Sementara pembagian kelemahan teoritis adalah bahwa jika

kerugian terjadi dari dikelolamaka bisnis masing-masing pasangan

akan menanggung sebagian susuai kerugaian masing-masing.

Demikian pula, praktik yang KSPS Arta Jaya diberkati, masing-

masing pasangan akanmenanggung kerugian sesuai dengan Bagian

investasinya berjalan jika ada kerugian bisnis.

e. Bagaimana menghitung pembiayaan musyarakah di Arta Jaya

KSPS Barokah

Contoh:

Ekuitas pemilik = 20.000.000, -

Pinjaman modal = 25.000.000, -

Perbandingan = 20%: 80% (KSPS: Mitra)

Batas tanggal terakhir = 5 bulan)

37
Rasio Penentuan:

𝐾𝑒𝑢𝑛𝑡𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛/𝑏𝑢𝑙𝑎𝑛
-𝑁𝑖𝑠𝑏𝑎ℎ 𝐾𝑆𝑃𝑆 = 𝑥 100%
𝑃𝑒𝑛𝑗𝑢𝑎𝑙𝑎𝑛

5.625.000
= 𝑋 100%
35.000.000

= 16.071429% = 20%

- Rasio Pelanggan = 100% - 20% = 80%

- Proyeksi Untuk KSPS Hasil

𝑀𝑜𝑑𝑎𝑙 𝐾𝑆𝑃𝑆
= 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑚𝑜𝑑𝑎𝑙 𝑥 𝑡𝑜𝑎𝑙 𝑘𝑒𝑢𝑛𝑡𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑥 𝑛𝑖𝑠𝑏𝑎ℎ 𝐾𝑆𝑃𝑆

25.000.000
= 45.000.000 𝑥 5.625.000𝑥20%

= Rp. 625.000 / bulan

6. Data pembiayaan Musyarakah KSPS Arta Jaya Barokah 2018

- Jumlah Anggota pada musyarakah pembiayaan Bulan Januari

2018 adalah 4

- Jumlah Anggota pada pembiayaan musyarakah di Bulan adalah

9 Februari 2018

- Jumlah Anggota pada musyarakah pembiayaan Bulan Maret

2018 adalah 11

- Jumlah Anggota pada musyarakah pembiayaan Bulan April

2018 adalah 12

- Jumlah Anggota pada pembiayaan musyarakah Bulan Mei

2018 adalah 5 orang

- Jumlah Anggota pada musyarakah pembiayaan Bulan Juni

2018 Anggota 5 orang

38
- Jumlah Anggota musyarakah pembiayaan Anggota padaBulan

8 Juli 2018

- Jumlah Anggota pada Musyarakah pembiayaan Anggota Bulan

Agustus 2018 4

- Jumlah Anggota pada Bulan Musyarakah pembiayaan Anggota

6 September 2018

- Jumlah Anggota Musyarakah pembiayaan di Oktober 2018

Bulan Anggota 6 orang

- Jumlah pembiayaan musyarakah Anggota pada Bulan Anggota

6 November 2018

- Jumlah Anggota pembiayaan musyarakah di Desember 2018

Anggota 12 orang

- Jumlah total pembiayaan musyarakah pada 2018 adalahRp. 528

450 000

39
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dalam pembiayaan Musyarakah di Arta Jaya KSPS berkat bahwa

perjanjian kerjasama antara pihak-pihak atau di mana pihak-pihak yang

Nasabah dan KSPS sama-sama termasuk sesuai Capital dengan perjanjian

tersebut, dan hasil pada usaha patungan yang disediakan sesuai dengan

Konstribusi dana atau sesuai kesepakatan bersama.

Pelaksanaan hasi musyarakah pada KSPS Arta Jaya Barokah memiliki

prosedur yang cukup baik untuk setiap pelanggan atau anggota yang ingin

mendaftar harus mekanisme pembiayaan musyarakah di mana mekanisme

pembiayaan tahap ada.Beberapa di Arta Jaya Barokah KSPS adalah: 1)

Prospect, di mana di dalamnya terdapat proses pengajuan pembiayaan oleh

calon nasabah untuk mengisi dokumen / formulir, 2) Inisiasi, di mana proses

pemeriksaan dokumen dan melakukan wawancara dengan calon pelanggan

yang dilakukan oleh Account Officer, 3) evaluasi kelayakan, yaitu untuk

menentukan apakah atau tidak calon diberikan pembiayaan konsumen, dan

jika peminjam untuk memenuhi syarat untuk mendapatkan pembiayaan maka

tahap selanjutnya mencair pembiayaan musyaraka.

Pembiayaan Musyarakah sistem KSPS Arta Jaya Barokah digunakan

dalam penerapan yang tepat dalam teori dan Hukum Perbankan Islam.

B. Saran

40
Saran yang diberikan kepada institusi penulis Kabupaten KSPS Arta Jaya

Barokah Rumbia Lampung Tengah adalah sebagai berikut:

1. KSPS Arta Jaya Barokah harus mempertahankan dan memberikan

inovasi dalam produk, terutama produk musyarakahsehingga

pembiayaan mampu menarik orang untuk mengajukan permohonan

pembiayaan musyarakah.

2. KSPS Arta Jaya Barokah harus menjaga pelaksanaan atau penerapan

hasil pembiayaan musyarakah berdasarkan hukum Islam (Muamalah)

sehingga transaksi keuangan di Arta Jaya Barokah KSPS murni

berdasarkan hukum Islam.

3. Lebih optimal dalam menerapkan sistem lembaga keuangan

berdasarkan ajaran Islam, sehingga KSPS Arta Jaya Barokah mampu

menjadi dasar dari menciptakan kesejahteraan dan kepentingan rakyat

di bidang ekonomi.

41
BIBLIOGRAFI

Abdullah Ibn Ahmad Ibn Qudamah, Mughni waSyarh Kabir (Beirut: Darul Fikr-
1979)

Ahmad Dahlan, Bank Syariah Teori, Kritik Praktis (Yogyakarta: penerbit teras,
2012)

Nur Binti Assia, Manajemen Pembiayaan Islamic Bank (Yogyakarta: Teras, 2014)

Ghufron Aji Kontemporer Fiqh Muamalah II-Indonesia (Semarang:. CV Karya


Aadi Services, cet 1, 2015)

Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah, (Jakarta: Rajawali Press, 2010)

http://www.bi.go.id/id/perbankan/syariah/contents/default.aspex:diaksestanggal 5
April 2018: 10:30. sore

Mardani, Fiqh Ekonomi Islam, (Jakarta: Prenamedia Group, 2012)

Moh.Kasiram, metodologi penelitian kualitatif-kuantitatif, (malang: UIN Maliki


Pres, 2010)

Muhammad, manajemen bank syariah, (Yogyakarta (UPP) AMP YKPN, 2002)

Muhammad Syafi'i Antonio, M.Ec. Bank Syariah dari Teori kepraktik (Jakarta:
Gema Insani, 2001)

Naf'an, pembiayaan musyarakah dan Mudharaah, (Yogyakarta: Graha Ilmu, cet 1,


2014)

Rahmat Syafei, Fiqh Muamalah (Bandung: perpustakaan setia, 2001)

Rianto Adi, Sosial dan Metode Penelitian Hukum (Jakarta: Granit, 2004)

Ridwan Widegdo & Nurul Qomar, Mudharabah dan Musyarakah Pengaruh


Terhadap Pengembangan Usaha Mikro di BMT Gunung Jati, Al-Amwal Journal,
Vol 7, No 2 (2015)

Saifuddin Azwar, Metode (Yogyakarta: Perpustakaan Mahasiswa, 1998)

ix
Sugiono, Metode Penelitian Kualitatif, Kualitatif dan R & D., Bandung: Alfabeta,
2014

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis, (Jakarta:


Rineka Cipta 2006)

Sutrisno Hadi, metodologi penelitian, (Yogyakarta: Andi offest, 2000)

Zaenudin, Pendapatan Pengaruh Mudharabah, Musyarakah dan Murabahah


Terhadap Revshare Taungan, Etikonomi Journal, Vol.13 # 1 April 2014