Anda di halaman 1dari 13

AKUNTANSI BANK SYARIAH

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat


Perbaikan Nilai Pada Mata Kuliah Akuntansi Perbankan Syariah

Di Susun Oleh :

ROHANA
NPM. 171120026

Program Studi D.III Perbankan Syariah

FAKULTAS SYARIAH DAN EKONOMI ISLAM


INSTITUT AGAMA ISLAM MA’ARIF NU
METRO LAMPUNG
1440 H/ 2019 M

1
ABSTRAK

Di tengah pesatnya perkembangan transaksi syariah, terutama di


perbankan syariah, maka kebutuhan akan akuntansi syariah sangat meningkat.
Akuntansi sebagai proses untuk melaporan transaksi keuangan perusahaan harus
dapat mengikuti seluruh perkembangan transaksi yang sedang berlangsung.
Akuntansi Syariah adalah ilmu sosial profetik yang menurunkan ajaran
normatif Al-Quran dalam bentuk yang lebih konkret. Dengan langkah derivasi ini,
maka untuk melakukan pencatatan transaksi dapat dilakukan dengan baik pada
tataran praktis. Dengan demikian, akuntansi syariah merupakan bagian tak
terpisahkan dari trilogi iman, ilmu, dan amal. Artinya, wujud keberimanan
seseorang harus diekspresikan dalam bentuk perbuatan (amal atau aksi). Di mana
perbuatan tadi harus didasari dan dituntun oleh ilmu (dalam hal ini adalah ilmu
sosial profetik, yaitu akuntansi syariah). Adapun pentingnya akuntansi syariah
mendukung bank syariah dalam upaya pengembangan perbankan syariah yakni
tercapainya beberapa sasaran sebagai berikut: Terpenuhinya prinsip syariah dalam
operasional perbankan, Diterapkannya prinsip kehati-hatian dalam operasional
perbankan syariah, Terciptanya sistem perbankan syariah yang kompetitif dan
efisien, serta Terciptanya stabilitas sistemik serta terealisasinya kemanfaatan bagi
masyarakat luas.

Kata Kunci: Akuntansi, Bank Syariah

A. PENDAHULUAN
Lembaga keuangan mempunyai peranan penting dalam berbagai aspek
kehidupan manusia. Industri perbankan merupakan salah satu lembaga yang
berperan secara kompleks terhadap perekonomian. Perbankan berperan
sebagai perantara keuangan (financial intermediary) antara pihak-pihak yang
memiliki dana (surplus unit) dengan pihak-pihak yang memerlukan dana
(deficit unit). Bank juga berfungsi untuk memperlancar aliran lalu lintas
pembayaran.
Dunia perbankan Indonesia menggunakan dual banking system, yang
berarti sistem operasinya adalah dua jenis usaha bank yaitu bank konvensional
dan syariah. Bank konvensional menetapkan bunga sebagai balas jasa yang
diterima oleh nasabah dan bank, sedangkan bank syariah menetapkan bagi
hasil sebagai balas jasa kepada nasabah dan bank. Jika dilihat secara sekilas,
tidak tampak perbedaan di antara keduanya. Padahal bunga dan bagi hasil
sangatlah berbeda. Suku bunga bersifat fluktuatif dan mengikuti suku bunga

1
BI, sedangkan bagi hasil memiliki prosentase bersifat tetap dan ditentukan
dari kesepakatan bersama antara nasabah dan bank.
Di tengah pesatnya perkembangan transaksi syariah, terutama di
perbankan syariah, maka kebutuhan akan akuntansi syariah sangat meningkat.
Akuntansi sebagai proses untuk melaporan transaksi keuangan perusahaan
harus dapat mengikuti seluruh perkembangan transaksi yang sedang
berlangsung.

B. PEMBAHASAN
1. Pentingnya Akuntansi Bank Syariah
Akuntansi secara umum mempunyai fungsi sebagai alat untuk
menyajikan informasi khususnya yang bersifat keuangan dalam kaitannya
dengan kegiatan sosial ekonomi dalam suatu komunitas masyarakat
tertentu. Adapun proses akuntansi berupa tindakan mencatat,
mengklarifikasi, menganalisis, dan melaporkan berbagai transaksi
sehingga dapat dipahami oleh para pengguna informasi.
Akuntansi Syariah adalah ilmu sosial profetik yang menurunkan
ajaran normatif Al-Quran dalam bentuk yang lebih konkret. Dengan
langkah derivasi ini, maka untuk melakukan pencatatan transaksi dapat
dilakukan dengan baik pada tataran praktis. Dengan demikian, akuntansi
syariah merupakan bagian tak terpisahkan dari trilogi iman, ilmu, dan
amal. Artinya, wujud keberimanan seseorang harus diekspresikan dalam
bentuk perbuatan (amal atau aksi). Di mana perbuatan tadi harus didasari
dan dituntun oleh ilmu (dalam hal ini adalah ilmu sosial profetik, yaitu
akuntansi syariah). Dalam hal ini manfaat akuntansi dalam perbankan
syariah adalah:
a. Menyediakan informasi ekonomi mengenai keuangan yang bermanfaat
bagi pihak-pihak yang membutuhkan.
b. Pertangungjawaban manajemen kepada pemilik perbankan atau
investor.
c. Untuk mengetahui tren perkembangan perbankan dari tahun ke tahun.1

1 http://shariapedia.blogspot.com/2012/08/dasar-dasar-akuntansi-perbankan-
syariah.html diunduh 21 Mei 2019, 08.16 AM

2
Untuk mewujudkan terealisaasinya penggunaan akuntansi yang
berbasis syariah maka standar yang digunakan untuk menyusun laporan
keuangan yakni Generally Accepted Accounting Principles yang tidak bisa
terlepas dari cara pandang masyarakat (dimana kegiatan ekonomi itu
diselenggarakan) terhadap nilai-nilai kehidupan sosialnya. Ini terbukti dari
tidak mudahnya melakukan harmonisasi standar akuntansi secara
internasional meskipun upaya ke arah sana selalu diusahakan dengan
adanya International Accounting Standard.
Adanya organisasi akuntansi dan audit untuk lembaga keuangan
islam (Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial
Institution), lembaga profesi akuntansi dan central bank dari negara-
negara yang mengizinkan beroperasinya lembaga keuangan islam, telah
menerbitkan standar akuntansi bagi lembaga keuangan islam /bank yang
tentunya sangat diharapkan dapat diadopsi oleh organisasi profesi
akuntansi dan bank sentral negara-negara penyelenggara bank islam.
Pendekatan dalam penyusunan standar akuntansi tsb, menggunakan
International Accounting Standard sebagai basis utama dalam pengkajian
kebutuhan standar yang sesuai dengan operasi bank syariah sehingga
secara praktis akan menerima IAS sepanjang tidak bertentangan dengan
syariah dan otomatis akan menolak bila tidak sejalan dengan tuntunan
syariah dengan konsekwensi menciptakan suatu standar baru sesuai
dengan syariah.2
Adapun pentingnya akuntansi syariah mendukung bank syariah
dalam upaya pengembangan perbankan syariah yakni tercapainya
beberapa sasaran sebagai berikut:
a. Terpenuhinya prinsip syariah dalam operasional perbankan
Hal ini ditandai dengan tersusunnya norma-norma keuangan
syariah terstandarisasi, terwujudnya mekanisme kerja yang efisien bagi
pengawasan prinsip syariah operasional perbankan, baik instrument
maupun badan yang terkait, dan rendahnya tingkat keluhan masyarakat
dalam hal penerapan prinsip syariah dalam setiap transaksi.

2 Yaya, Rizal dkk. Akuntansi Perbankan Syariah ; Teori Dan Praktik Kontemporer.
Jakarta: Salemba Empat. 2009. Hlm 5

3
b. Diterapkannya prinsip kehati-hatian dalam operasional perbankan
syariah
Hal ini ditandai dengan terwujudnya kerangka pengaturan dan
pengawasan yang berbasis risiko sesuai dengan karakteristiknya dan
didukung oleh sumber daya insane yang andal, diterapkannya konsep
corporate governance dalam operasi perbankan syariah,diterapkannya
kebijakan exit dan entry yang efisien, serta terwujudnya real time
supervision dan self regulation system.
c. Terciptanya sistem perbankan syariah yang kompetitif dan efisien
Hal ini ditandai dengan terciptanya pemain-pemain yang mampu
bersaing secara global, terwuujudnya aliansi strategis yang efektif, dan
terwujudnya mekanisme kerja sama dengan lembaga-lembaga
pendukung.
d. Terciptanya stabilitas sistemik serta terealisasinya kemanfaatan bagi
masyarakat luas
Hal ini ditandai dengan terwujudnya safety net yang merupakan
kesatuan dengan konsep operasional perbankan yang berhati-hati,
terpenuhinya kebutuhan masyarakat yang menginginkan layanan bank
syariah diseluruh Indonesia dengan target mangsa sebesar 5 persen dari
total asset perbankan nasional, terwujudnya fungsi perbankan syariah
yang kafah dan dapat melayani seluruh segmen masyarakat, dan
meningkatkan proporsi pola pembiayaan secara bagi hasil.3
Metodologi konstruksi akuntansi syariah sedapat mungkin adalah
metodologi yang paling dekat dengan syariah, yaitu metodologi yang lebih
holistik dibandingkan dengan yang lainnya. Sebagai contoh misalnya,
perspektif Khalifatullah fil Ardh tidak melihat realitas dalam bentuk yang
paling sederhana yaitu relitas materi. Tetapi melihatnya dalam perspektif
yang lebih luas, yaitu meliputi: realitas materi, realitas psikis, realitas
spiritual, dan realitas absolut (Tuhan). Realitas yang tidak terpisah dengan

3 Yaya, Rizal dkk. Akuntansi Perbankan Syariah ; Teori Dan Praktik Kontemporer, hlm
28-29

4
realitas lainnya yakni dari realitas yang paling rendah hingga yang paling
tinggi, yaitu realitas Absolut (Tuhan).4
Pemahaman realitas yang demikian akan sangat berpengaruh
terhadap bentuk akuntansi syariah. Konsekuensi yang harus diterima
adalah bahwa akuntansi syariah tidak saja merefleksikan realitas materi,
tetapi juga realitas non-materi. Konsekuensi ini tentu saja tetap konsisten
dengan tujuan dari akuntansi syariah itu sendiri, yaitu: menstimulasi
perilaku manusia pada kesadaran Ketuhanan yang pada akhirnya akan
menghantarkan manusia untuk kembali kepada Realitas Absolut dari mana
manusia itu berasal.
Mempelajari Akuntansi Islam sudah merupakan keharusan dalam
ekonomi yang semakin global ini. Hal ini misalnya didorong oleh:
a. Munculnya kesadaran orang membayar zakat baik zakat pribadi
maupun zakat perusahaan.
b. Munculnya berbagai yayasan atau organisasi islam yang
memerlukannya.
c. Semakin banyaknya lembaga bisnis yang menerapkan syariat islam
akan memerlukan Akuntansi Islam dan tenaga yang menguasainya.
d. Keberadaan lembaga ini tentu membuka peluang untuk masyarakat
luas bekerja sama dengan lembaga ini. Misalnya jika ada bank yang
dijalankan secara syariah seperti bank Muamalat maka bank lain atau
perusahaan lain yang ingin meminjam atau ingin kerja sama, join
financing, pinjaman, atau sindikasi maka mau tidak mau perlu
mengetahui sistem akuntansi lembaga yang ingin bekerja sama ini.
e. Demikian juga skala internasional, maka semakin banyak negara
yang akan menerapkan model akuntansi ini.5
Jika dilakukan suatu perbandingan antara akuntansi syariah dan
konvensional maka akan ditemukan beberapa perbedaan yang sifatnya
sangat mendasar antara lain sebagai berikut:

4 http://enggarcz.blogspot.com/2012/05/pentingnya-akuntansi-bank-
syariah.html diunduh 21 Mei 2019, 08.08 AM
5 Sofyan Syafri Harahap. Akuntansi Islam. Jakarta: Bumi Aksara. 2002. Hlm 11

5
a. Dalam akuntansi konvensional Assets (harta) dibedakan atas dua hal
yakni harta lancar (current assets) dan harta tetap (fixed assets),
sedangkan dalam akuntansi syariah harta terbagi atas harta berupa
uang (cash), harta berupa barang (stock) yang kemudian dibagi
kembali menjadi harta dagang dan harta milik
b. Dalam akuntansi Syariah mata uang seperti emas, perak dan barang
lainnya memiliki kedudukan yang sama, dan tidak dibedakan atas
tujuan tertentu, sebagaimana yang ada pada akuntansi konvensional
c. Akuntansi Konvensional senantiasa menerapakan prinsip ketelitian dan
pencadangan yang berlebihan atas kemungkinan terjadinya kerugian
dari kesalaha pencatatan sehingga mengesampingkan perhitungan laba
yang masih mungkin terjadi. Sedangkan dalam akuntansi syariah juga
berlaku demikian namun tidak berlebihan dan selalu memperhatikan
akan adanya laba yang masih mungkin terjadi.
d. Akuntansi konvensional menerapkan prinsip laba yang universal
sehingga laba dagang, modal pokok, transaksi, dan juga uang dari
sumber yang haram tercampur menjadi satu. Sedangkan dalam
akuntansi syariah laba dipisahkan pencatatanya atas laba hasil aktivitas
pokok, laba modal pokok yang hasil transaksi dan juga wajib
menjelaskan dan mencatat pendapatn dari sumber yang haram jika
ada.6

2. Akuntansi Syariah dan Epistemologi Islam


Kerangka konseptual akuntansi syariah menggunakan pendekatan
epistimologi Islam. Epistimologi adalah cabang filsafat yang secara
khusus membahas teori ilmu pengetahuan, secara harfiah epistimologi
berasal dari bahasa Yunani episteme yang berarti pengetahuan. Dalam
lingkup filsafat ilmu, epistimologi mengandung pengertian sebagai metode
memperoleh pengetahuan agar memiliki karakteristik, kebenaran, dan
nilai-nilai tertentu sebagai ilmu.

6 http://ekonomisyariah.blog.gunadarma.ac.id/2010/03/31/akuntansi-syariah/ diunduh 21
Mei 2019, 08.45 AM

6
Dalam konteks epistimologi sebagai metode memperoleh
pengetahuan ilmu, epistimologi Islam diperlukan guna memperoleh
pengetahuan yang diharapkan memiliki karakteristik, kebenaran dan nilai-
nilai Islami. Epistimologi Islam adalah metode memperoleh pengetahuan
ilmu yang Islami melalui proses penalaran yang sistematis, logis dan
sangat mendalam menggunakan “ijtihad” yang dibangun atas kesadaran
sebagai khalifatullah fii-ardl.
Prinsip dasar paradigma syariah merupakan multi paradigma yang
mencakup keseluruhan dimensi wilayah mikro dan makro dalam
kehidupan manusia yang saling terkait. Diantaranya dimensi tersebut
adalah sebagai berikut:
Pertama, dimensi mikro prinsip dasar paradigma syariah adalah
individu yang beriman kepada Allah SWT (tauhid) serta mentaati segala
aturan dan larangan yang tertuang dalam Al-Qur’an,Al Hadits, Fiqh, dan
hasil ijtihad. Landasan tauhid diperlukan untuk mencapai tujuan syariah
yaitu menciptakan keadilan sosial (al a’dl dan al ihsan) serta kebahagiaan
dunia dan akhirat. Pencapaian tujuan syariah tersebut dilakukan
menggunakan etika dan motal iman (faith), taqwa (piety), kebaikan
(righteoneus/birr), ibadah (worship), tanggungjawab (responsibility/
fardh), usaha (free will/ikhtiyar), hubungan dengan Allah dan manusia
(Habluminallah dan Habluminannas), serta barokah (blessing).
Kedua, dimensi makro prinsip syariah adalah meliputi wilayah
politik,ekonomi dan sosial. Dalam dimensi politik, menjunjung tinggi
musyawarah dan kerjasama. Sedangkan dalam dimensi ekonomi,
melakukan usaha halal, mematuhi larangan bunga, dan memenuhi
kewajiban zakat. Selanjutnya dalam dimensi sosial yaitu mengutamakan
kepentingan umum dan amanah.
Dalam kerangka konseptual akuntansi syariah tersebut di atas,
dinyatakan bahwa tujuan diselenggarakannya akuntansi syariah adalah
mencapai keadilan sosialekonomi dan sebagai sarana ibadah memenuhi
kewajiban kepada Allah SWT, lingkungan dan individu melalui
keterlibatan institusi dalam kegiatan ekonomi. Produk akhir teknik

7
akuntansi syariah adalah informasi akuntansi yang akurat untuk
menghitung zakat dan pertanggungjawaban kepada Allah SWT dengan
berlandaskan moral, iman dan taqwa.7
Dengan demikian dalam hal akuntansi syariah sebagai alat
pertanggungjawaban, diwakili informasi akuntansi syariah dalam bentuk
laporan keuangan yang sesuai dengan syariah yaitu mematuhi prinsip full
disclousure. Laporan keuangan akuntansi syariah tidak lagi berorientasi
pada maksimasi laba, akan tetapi membawa pesan modal dalam
menstimuli perilaku etis dan adil terhadap semua pihak. Jenis laporan
keuangan akuntansi syariah yang memenuhi kriteria ini menurut Harahap
meliputi:
a. Neraca, yang menyajikan pula Laporan Sumberdaya Manusia.
b. Laporan Nilai Tambah (Value Added Reporting) yang menyajikan
semua hasil yang diperoleh perusahaan darikontribusi semua pihak
yang terkait dengan entitas, dan kemudian mendistribusikannya secara
adil.
c. Laporan Arus Kas (Cash Flow).
d. Laporan Pertanggungjawaban Sosial Perusahaan (Socio Economy
Accounting Reporting). Catatan atas Laporan Keuangan, mengenai
implementasi syariah misalnya zakat, infaq, shodaqoh, transaksi
haram, dan laporan dewan syariah. Melaporkan good governance,
mengenai produksi, efisiensi, produktivitas, dan laporan lainnya yang
relevan.8

3. Prinsip Akuntansi Bank Syariah


Dengan prinsip operasi yang berbeda dengan bank konvensional
memberikan implikasi perbedaan pada prinsip akuntansi baik dari segi
penyajian maupun pelaporannya. Laporan akuntansi bank Islam akan
terdiri dari :
a. Laporan posisi keuangan / neraca
b. Laporan laba-rugi

7 Sofyan Syafri Harahap. Akuntansi Islam, hlm. 13


8 Sofyan Syafri Harahap. Akuntansi Islam, hlm. 13

8
c. Laporan arus kas
d. Laporan perubahan modal
e. Laporan perubahan investasi tidak bebas /terbatas
f. Catatan atas laporan keuangan
g. Laporan sumber dan penggunaan zakat
h. Laporan sumber dan penggunaan dana qard/qardul hasan.9

Beberapa hal yang menonjol dalam akuntansi bank Islam adalah :


a. Giro dan tabungan wadiah dicatat / disajikan sebagai hutang dalam
neraca.
b. Rekening investasi mudharabah bebas / deposito dicatat/disajikan
sebagai rekening tersendiri antara hutang dan modal (bukan hutang).
c. Rekening investasi tidak bebas dicatat terpisah sebagai off balance
sheet account dalam bentuk laporan perubahan posisi investasi tidak
bebas.
d. Piutang murabahah dicatat sebesar sisa harga jual yang belum tertagih
dikurangi dengan margin yang belum diterima.
e. Investasi mudharabah dan musyarakah disajikan sebesar sisa nilai
modal yang disertakan atau diinvestasikan
f. Aset yang disewakan dicatat sebesar harga perolehan dikurangi dengan
akumulasi penyusutan.
g. Pendapatan pada umumnya diakui secara cash basis sedang beban
tetap secara accrual basis.
h. Bagi hasil antara mudharib dan sahibul mal dilakukan atas profit loss
sharing atau revenue sharing, sedangkan pendapatan bank yang berasal
dari investasi dana sendiri atau dari dana yang bukan berasal dari
rekening investasi sepenuhnya menjadi pendapatan bank, disamping
itu pendapatan jasa bank sepenuhnya menjadi pendapatan bank yang
tidak dibagi hasilkan.10

9 Sofyan Syafri Harahap. Akuntansi Islam, hlm. 15


10 Sofyan Syafri Harahap. Akuntansi Islam, hlm. 16

9
Prinsip akuntansi bank Islam mengacu pada Accounting and
Auditing Standard for Islamic Financial Institution yang diterbitkan oleh
Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institution
yang berpusat di Bahrain yang didirikan pada tahun 1991 atas prakarsa
IDB dan beberapa lembaga keuangan Islam besar dan sekarang telah
mempunyai anggota hampir seluruh lembaga keuangan Islam. Bank
Indonesia bersama IAI sedang dalam proses untuk mengadopsi standard
tersebut menjadi standar akuntansi bank syariah di Indonesia yang
diharapkan selesai tahun ini.

4. Prinsip Filosofis Akuntansi Syariah


Teori Akuntansi Syariah tidak terlepas dari konteks faith, knowledge,
dan action. Ini artinya adalah bahwa teori akuntansi syariah ( dalam hal
ini adalah knowledge) digunakan untuk memandu praktik akuntansi
(action) dari keterkaitan ini kita bisa melihat bahwa teori Akuntansi
Syariah (knowledge) dan praktik Akuntansi Syariah (action) adalah dua
sisi dari satu uang logam yang sama. Keduanya tidak bisa dipisahkan.
Keduanya tidak boleh lepas dari bingkai keimanan/tauhid (faith) yang
dalam hal ini bisa digambarkan sebagai sisi lingkaran pada iang logam
yang membatasi dua sisi lainnya untuk tidak keluar dari keimanan.
Dari teori diatas akuntansi syariah memiliki prinsip sebagai berikut:
a. Humanis
b. Emansipatoris
c. Trasendental, dan
d. Teologikal.11
Humanis memberikan suatu pengertian bahwa teori Akuntansi
Syariah bersifat manusiawi, sesuai dengan fitrah manusia, dan dapat
dipraktikan sesuai dengan kapasitas yang dimiliki oleh manusia sebagai
makhluk yang selalu berinteraksi dengan orang lain (dan alam) secara
dinamis dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks ini berarti akuntansi
syariah di bangun berdasarkan budaya manusia itu sendiri.

11 Sofyan Syafri Harahap. Akuntansi Islam, hlm. 19

10
Emansipatoris mempunyai pengertian bahwa teori Akuntansi
Syariah mampu melakukan perubahan-perubahan yang signifikan terhadap
teori dan praktik akuntansi modern yang eksis saat ini. Perubahan-
perubahan yang dimaksud adalah perubahan membebaskan (emansipasi).
Pembebasan dari ikatan-ikatan semu yang tidak perlu diikuti, pembebasan
dari kekuatan semu (pseudo power), dan pembebasan dari ideologi semu.
Transendental mempunyai makna bahwa teori akuntansi syariah
melintas batas disiplin ilmu akuntansi itu sendiri. Bahkan melintas batas
dunia materi (ekonomi). Dengan prinsip filosofis ini teori akuntansi
syariah dapat memperkaya dirinya dengan mengadopsi disiplin ilmu
lainnya (selain ilmu ekonomi), seperti : sosiologi, psikologi, etnologi,
fenomenologi, antropologi, dan lain-lainnya. Aaspek transendental ini
sebetulnya tidak terbatas pada disiplin ilmu, tetapi juga menyangkut aspek
ontologi, yaitu yaitu tidak terbatas pada objek yang bersifat materi
(ekonomi) tetapi juga aspek non-materi (mental dan spiritual).
Teologikal memberikan suatu dasar pemikiran bahwa akuntansi tidak
sekedar memberikan informasi untuk pengambilan keputusan ekonomi,
tetapi juga memiliki tujuan transendental sebagai bentuk pertanggung
jawaban manusia terhadap Tuhannya, kepada sesama manusia, dan kepada
alam semesta. Prinsip ini mengantarkan manusia pada tujuan hakikat
kehidupan, yaitu falah (kemenangan). Falah disini dapat diartikan
keberhasilan manusia kembali ke sang pencipta dengan jiwa yang tenang
dan suci (muthmainah).12

C. KESIMPULAN
Akuntansi Syariah adalah ilmu sosial profetik yang menurunkan ajaran
normatif Al-Quran dalam bentuk yang lebih konkret. Dengan langkah derivasi
ini, maka untuk melakukan pencatatan transaksi dapat dilakukan dengan baik
pada tataran praktis. Dengan demikian, akuntansi syariah merupakan bagian
tak terpisahkan dari trilogi iman, ilmu, dan amal. Artinya, wujud keberimanan
seseorang harus diekspresikan dalam bentuk perbuatan (amal atau aksi). Di

12 Sofyan Syafri Harahap. Akuntansi Islam, hlm. 20

11
mana perbuatan tadi harus didasari dan dituntun oleh ilmu (dalam hal ini
adalah ilmu sosial profetik, yaitu akuntansi syariah). Adapun pentingnya
akuntansi syariah mendukung bank syariah dalam upaya pengembangan
perbankan syariah yakni tercapainya beberapa sasaran sebagai
berikut: Terpenuhinya prinsip syariah dalam operasional perbankan,
Diterapkannya prinsip kehati-hatian dalam operasional perbankan syariah,
Terciptanya sistem perbankan syariah yang kompetitif dan efisien, serta
Terciptanya stabilitas sistemik serta terealisasinya kemanfaatan bagi
masyarakat luas.

D. DAFTAR PUSTAKA
Sofyan Syafri Harahap. Akuntansi Islam. Jakarta: Bumi Aksara. 2002. Hlm 11
Yaya, Rizal dkk. Akuntansi Perbankan Syariah ; Teori Dan Praktik
Kontemporer. Jakarta: Salemba Empat. 2009. Hlm 5
http://shariapedia.blogspot.com/2012/08/dasar-dasar-akuntansi-perbankan-
syariah.html diunduh 21 Mei 2019, 08.16 AM
http://enggarcz.blogspot.com/2012/05/pentingnya-akuntansi-bank-
syariah.html diunduh 21 Mei 2019, 08.08 AM
http://ekonomisyariah.blog.gunadarma.ac.id/2010/03/31/akuntansi-syariah/ di
unduh 21 Mei 2019, 08.45 AM

12