Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Di Indonesia kain diciptakan dari berbagai macam bahan, baik bahan
alami maupun buatan yang diolah sedemikian rupa yang dapat menghasilkan jenis
kain yang bernilai tinggi maupun jenis pakaian masyarakat yang digunakan
sebagai pakaian adat maupun pakaian sehari-hari. Proses pembuatan kain
menggunakan teknik dan dekorasi yang akan melahirkan ragam hias kekhasan
masing-masing daerah, mulai dari bentuk sederhana maupun menggunakan
teknologi, yang menghasilkan karya atau benda yang dijadikan bahan pakaian
untuk memenuhi kebutuhan praktis dan sakral bagi masyarakat pendukungnya.
Hal itu tidak terlepas dari segi bahan, teknik, mode yang daoat memperkaya
khasanah budaya nasional. (Arsyad, 1998: 18)
Kebutuhan manusia akan sandang merupakan kebutuhan pokok yang tidak
dapat dipisahkan dengan kebutuhan lain seperti pangan dan papan. Itulah
sebabnya manusia akan berusaha semaksimal mungkin agar semua kebutuhan
terebut dapat terpenuhi secara seimbang. Melalui pemikiran tersebut, sejak zaman
nenek moyang dahulu telah diproduksi kain-kain tradisional untuk memenuhi
kebutuhan akan sandang mereka sendiri. Seiring dengan perkembangan zaman,
maka produk-produk kain tradisional tersebut semakin terdesak dengan masuknya
produk tekstil yang lebih modern. Dengan demikian maka produk kain tradisional
pun lama-kelamaan berkurang peminatnya, dan secara otomatis para produsen
pun akan mengurangi hasil produksinya. (Hendraswati, 2012: 1)
Fenomena bahwa kain tradisional yang semakin hari tidak menunjukkan
peningkatan dari segi ekonomi. Namun sebaliknya justru semakin menurun
karena berbagai hal seperti harga yang relatif lebih mahal, kualitas produk kain
yang kurang bersaing dengan produk asing, variasi motif yang monoton, hingga
menyebabkan pangsa pasar kain tradisional semakin sempit dan terbatas. Bagi
para pengrajin kain tradisional itu sendiri memang mempunyai banyak alasan
seperti modal yang kurang memadai, bahan baku yang semakin sulit didapatkan,
sumber daya manusia yang juga sangat terbatas, pekerjaannya yang banyak

  1  
memakan waktu, termasuk alasan lain mengapa mereka membuat atau
memproduksi kain dengan motif yang kurang bervariasi. Hal itu karena mereka
masih mempercayai bahwa motif sebuah kain memiliki nilai, makna dan arti yang
berbeda-beda, hingga mereka tidak bisa sembarangan dalam membuat motif.
(Hendraswati, 2012: 2)
Sementara itu disadari bahwa perkembangan kain sasirangan di
Kalimantan Selatan belum semaju seperti misalnya kain batik di pulau Jawa.
Banyak hal yang menyebabkan belum semaju kain batik di pulau Jawa tersebut,
antara lain karena masih terbatasnya usaha dan upaya para pengrajin, terbatasnya
modal, faktor media promosi, belum berkembangnya usaha dan aktivitas
pemasaran dan hal-hal lain yang dikaitkan dengan kebijakan pemerintah serta
faktor-faktor dukungan dari berbagai pihak di dalam dan di luar daerah
Kalimantan Selatan (Syamsiar Seman, 2013: 32).
Menurut Hendraswati (2012: 3) kain sasirangan dianggap sebagai kain
adat, dan dipercaya sebagai kain sakral peninggalan nenek moyang bagi
masyarakat Kalimantan selatan pada umumnya. Oleh sebab itu, upaya pengkajian,
pelestarian, dan pengembangan perlu dilakukan agar keberadaan kain tersebut
tidak tersingkirkan dilindas derasnya perdagangan global seperti sekarang ini,
namun sebaliknya dapat menjadi salah satu unggulan dan dapat diperhitungkan di
pasar global. Untuk itulah, promosi harus dilakukan agar kain sasirangan dapat
diketahui oleh seluruh masyarakat Indonesia pada umumnya, dan dapat dikenal di
dunia internasional karena kain sasirangan merupakan salah satu dari sekian
banyak warisan budaya bangsa yang tidak saja memiliki nilai ekonomis, namun
juga memiliki nilai-nilai budaya dan nilai-nilai sosial yang lain, baik bagi para
pengrajin itu sendiri maupun bagi masyarakat Kalimantan Selatan pada
umumnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa pemahaman dan pengetahuan
masyarakat di Banjarmasin mengenai kain sasirangan sangatlah kurang, hal itu
tentu saja sangat meresahkan karena masyarakat diharapkan dapat berperan aktif
dalam upaya pelestarian unsur budaya bangsanya.

  2  
1.2 Permasalahan
1.2.1 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah disusun di atas maka ditarik
beberapa permasalahan yang timbul, antara lain:
1. Kurangnya media promosi yang memperkenalkan kain sasirangan
kepada masyarakat Indonesia pada umumnya.
2. Kurangnya pemahaman dan pengetahuan masyarakat di
Banjarmasin mengenai kain sasirangan.
1.2.2 Rumusan Masalah
Dari identifikasi masalah di atas dapat dirumuskan beberapa
masalah yaitu:
1. Bagaimanakah merancang sebuah media promosi untuk
memperkenalkan kain sasirangan kepada masyarakat Indonesia
pada umumnya.
1.2.3 Ruang Lingkup Masalah
Dari identifikasi masalah di atas maka ruang lingkup masalah
dalam perancangan ini adalah:
1. Apa?
Penelitian mengenai pemahaman masyarakat tentang kain
sasirangan, untuk menjadi landasan perancangan art book kain
sasirangan.
2. Bagian mana?
Fokus penelitian pada perancangan art book yang menjelaskan
tentang makna kain sasirangan, sejarah kain sasirangan, alat dan
bahan pembuatan kain sasirangan, proses pembuatan kain sasirangan,
serta motif-motif kain sasirangan. Art book ini dibuat dengan bahasan
yang ringan dan semenarik mungkin.
3. Tempat?
Penelitian ini berlokasi di Kelurahan Seberang Mesjid,
Kecamatan Banjarmasin Tengah, Kota Banjarmasin daerah ini dikenal
sebagai Kampung Kain Sasirangan Banjarmasin.

  3  
4. Waktu?
Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan pada tanggal
23 Maret 2015 sampai dengan 25 April 2015.

1.3 Tujuan Perancangan


Berdasarkan rumusan masalah yang telah dipaparkan sebelumnya, maka
tujuan yang ingin dicapai dari perancangan ini adalah:
1. Untuk memberikan pemahaman mengenai kain sasirangan kepada
masyarakat di Banjarmasin khususnya.
2. Merancang media promosi untuk memperkenalkan kain sasirangan kepada
masyarakat Indonesia.

1.4 Cara Pengumpulan Data dan Analisis Data


1.4.1 Pengumpulan Data
Dalam rangka pengumpulan data dan analisis untuk memenuhi
kebutuhan perancangan guna mendapatkan hasil perancangan yang baik
diperlukan data-data yang berhubungan dengan pokok bahasan.
Pengumpulan data-data tersebut dilakukan dengan berbagai metode
pengumpulan data antara lain sebagai berikut:
1. Wawancara
Melakukan tanya jawab melalui wawancara terhadap narasumber
yang bergerak langsung dalam proses pembuatan kain sasirangan itu
sendiri yaitu pengrajin. Pertanyaan yang diberikan seputar sejarah kain
sasirangan, perkembangan motif kain sasirangan, pembuatan kain
sasirangan, serta promosi yang telah dilakukan untuk kain sasirangan.
2. Observasi
Pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati,
mencatat, dan turun langsung kepada pelaku usaha kain sasirangan di
daerah Kalimantan Selatan. Dengan harapan mencari data pengetahuan
mereka tentang kain sasirangan yang nantinya akan mendapatkan
kesimpulan dari hasil observasi dan dijadikan dasar untuk perancangan.

  4  
3. Kajian literatur dan studi pustaka
Kajian literatur dan studi pustaka sebagai referensi yang
berhubungan dengan masalah yang dianalisis, diantaranya: Buku
Sasirangan Kain Khas Banjar, Sasirangan Kain Tradisional Banjar,
Metode Riset untuk Desain Komunikasi Visual, Pengantar Desain
Komunikasi Visual, dan Desain Grafis Komputer.

1.5 Kerangka Perancangan

  5  
1.6 Pembabakan
Tugas Akhir ini disusun dalam beberapa bab yang terdiri dari:
BAB I PENDAHULUAN
Pada Bab ini penulis menjelaskan tentang latar belakang masalah
kejadian/fenomena yang diangkat. Masalah perancangan yang meliputi
identifikasi masalah, rumusan masalah, ruang lingkup masalah. Serta
tujuan perancangan, manfaat perancangan, cara pengumpulan data,
kerangka perancangan dan pembabakan. Sehingga permasalahan tersebut
memiliki fokus dan tidak keluar dari permasalahan yang diangkat.
BAB II DASAR PEMIKIRAN
Berisikan teori-teori yang relevan untuk perancangan art book kain
sasirangan. Teori-teori yang digunakan adalah teori dari art book, ilustrasi,
dan ilmu desain komunikasi visual.
BAB III DATA DAN ANALISIS MASALAH
Pada bab ini berisikan data-data yang sudah didapat dari hasil
observasi, wawancara, dan studi literatur serta menjelaskan analisis dari
data yang telah didapatkan dengan menggunakan teori yang telah
dijabarkan pada Bab II untuk strategi perancangan.
BAB IV KONSEP & HASIL PERANCANGAN
Bab ini berisikan penjelasan konsep perancangan art book yang akan
dibuat. Konsep tersebut akan berupa art book kain sasirangan untuk
memberikan pemahaman kepada masyarakat di Banjarmasin khususnya
serta sebagai media promosi untuk memperkenalkan kain sasirangan
kepada masyarakat Indonesia. Kemudian selain konsep juga berisikan
hasil rancangan yang dibuat berdasarkan data yang telah didapatkan dan
konsep yang telah ditentukan.
BAB V PENUTUP
Bab ini berisi dari data kesimpulan dan saran berdasarkan uraian
pada bab-bab sebelumnya.

  6