Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN

OSTEOSARCOMA

I. Konsep Penyakit
1.1 Definisi
Osteosarkoma (sarkoma osteogenik) adalah tumor tulang ganas, yang biasanya
berhubungan dengan periode kecepatan pertumbhan pada masa remaja.
Osteosarkoma merupakan tumor ganas yang paling sering ditemukan pada anak-
anak. Kanker tulang (osteosarkoma) lebih sering menyerang kelompok usia 15-
25 tahun ( pada usia pertumbuhan). Rata-rata penyakit ini terdiagnosis pada
umur 15 tahun. Angka kejadian pada anak laki-laki dan anak perempuan adalah
sama, tetepi pada akhir masa remaja penyakit ini lebih banyak ditemukan pada
anak laki-laki.

Osteosarkoma cendrung tumbuh pada bagian ujung tulang panjang, terutama


lutut, seperti pada tulang paha ( ujung bawah), tulang lengan atas (ujung atas)
dan tulang kering (ujung atas). Ujung tulang- tulang tersebut merupakan daerah
dimana terjadi perubahan dan kesepatan pertumbuhan terbesar. meskipun
demikian, osteosarkoma juga bisa tumbuh dibagian tulang lainya. Sampai
sekarang penyebab pasti belum diketahui.

Osteosarkoma (sarkoma osteogenik) adalah tumor tulang ganas, yang biasanya


berhubungan dengan periode kecepatan pertumbhan pada masa remaja.
Osteosarkoma merupakan tumor ganas yang paling sering ditemukan pada anak-
anak. Rata-rata penyakit ini terdiagnosis pada umur 15 tahun. Angka kejadian
pada anak laki-laki dan anak perempuan adalah sama, tetepi pada akhir masa
remaja penyakit ini lebih banyak ditemukan pada anak laki-laki. ( Saferi Wijaya,
Meriza Putri 2013).

1.2 Etiologi
Penyebab yang pasti tidak diketahui . bukti- bukti mendukung bahwa
osteosarkoma merupakan penyakit yang diturunkan. Untuk kanker tulang
sekunder merupakan metastase dari kanker primer diorgan lain, misalnya pada
payudara paru, prostat, ginjal dll.

Penyebaab kanker tulang memang tidak diketahui secara pasti. Namun dari
beberapa bukti yang ada tampaknya kemungkinan bahwa penyakit ini
diturunkan besar sekali. Setiap tubuh manusia mengandung sel kanke, agar sel
kanker tidak mengganas, gaya hidup perlu dijaga.

Penyebab kanker merupakan gabungan faktor genetik, kimia, virus, dan radiasi.
Orang tua penting menciptakan lingkungan yang aman bagi anak sejak dalam
kandungan dan menjaga gaya hidup sesudah dilahirkan.
2

Gaya hidup sehat antara lain, menciptakan lingkungan bebas asap rokok, banyak
makan sayur dan buah, menjaga berat badan, serta aktif berolah raga. Ster juga
bisa memicu perkembangan sel kanker dan mengurangi efektifitas obat kanker. (
Saferi Wijaya, Meriza Putri 2013).

1.3 Tanda dan Gejala


Pasien dengan tumor tulang datang dengan masalah yang berhubungan dengan
tumor tulang yang sangat bervariasi. Dapat tanpa gejala atau dapat juga nyeri (
ringan dan kadang-kadang sampai konstan dan berat). Kecacatan yang
berfariasi, dan pada suatu saat adanya pertumbuhan tulang yang jelas.
Kehilangan berat badan, malise, demam dapat terjadi. Tumor kadang baru
terdiagnosis saat terjadinya patah tulang patologik.

Bila terjadi kompresi korda spinalis, dapat berkembang lambat atau cepat.
Deficit neurologik ( misalnya : nyeri progresif, kelemahanerjadinya patah tulang
patologik. Bila terjadi kompresi korda spinalis, dapat berkembang lambat atau
cepat. Deficit neurologik ( misalnya : nyeri progresif, kelemahan, parestesia,
paraplegia, retensia urine)., parestesia, paraplegia, retensia urine). Harus
diidentifikasi awal dan ditangani dengan laminektomi dekompresi untuk
mencegah cedera korda spinalis permanent.

1.3.1 Mieloma multipe


Gejala yang paling sering timbul adalah nyeri tulang., dan lokasi nyeri
sering kali pada tulang iga dan tulang belakang. Dapat teraba lesi tulan,
terutama pada tulang tengkorak dan klavikula. Lesi pada tulang
punggung dapat menyebabkan vertebra kolaps dan kadang-kadang
menjepit syaraf spinal.
Konsekuensi klinis dari sel plasma abnormal mencakup kerusakan tulang
dan penggantian unsure sum-sum tulang normal, menyebabkan anemia,
trombositopenia, leukopenia; perubahan fungsi imun dengan resiko
mendapat infeksi tinggi, manifestasi pendarahan, hiperkalsemia, dll.

1.3.2 Osteosarkoma
Gejala yang paling sering ditemukan dengan nyeri. Sejalan dengan
pertumbuhan tumor, juga bisa terjadi pembengkakan dan pergerakan
yang terbatas. Tumor ditungkai menyebabkan penderita berjalan
timpang, sedangkan tumor di lengan menimbulkan nyeri ketika lengan
dipakai untuk mengangkat sesuatu benda. Pembengkakan pada tumor
mungkin teraba hangat dan agak memerah. Tanda awl dari penyakit ini
bisa merupakan patah tulang ditempat tumbuhnya tumor disebut fraktur
patologis dan seringkali terjadi setelah suatu gerakan rutin.
3

1.3.3 Fibrosarkoma & histiosarkoma fibrosa maligna


Fibrosarkoma dan histiosarkoma fibrosa maligna mirip dengan
osteosarkoma dalam bentuk, lokasi dan gejala-gejalanya.

1.3.4 Kondrasarkoma
Gejala yang paling sering adalah massa tanpa nyeri yang berlangsung
lama. Contoh, lesi perifer sering kali tidak menimbulkan gejala- gejala
tertentu untuk jangka waktu yang lamaan hanya berupa pembesaran
perupa pembesaran yang dapat diraba dan hampir tidak menimbulkan
gangguan. Tetapi mungkin akan disusul dengan suatu pertumbuhan yang
cepat dan agresif.

1.3.5 Tumor ewing


Tanda dan gejala yang paling khas adalah nyeri, benjolan nyeri tekan,
demam (38-40 C) dan leukositosis (20.000 samapai 40.000 leukosit
/mm3

1.3.6 Limfoma tulang maligna


Biasanya tumor ini menimbulkan nyeri dan pembengkakan, dan tulang
yang rusak lebih mudah patah. ( Saferi Wijaya, Meriza Putri 2013).

1.4 Patofisiologi
Adanya tumor ditulang yang menyebabkan reaksi tulang normal dengan respon
osteolitik ( destruksi tulang) atau respons osteoblastik ( pembentukan tulang).
Beberapa tumor tulang ada yang sering terjadi ada lainnya sangat jarang terjadi.
Beberapa tidak menimbulkan masalah, sementara lainnya ada yang segera
mengancam jiwa.

Kanker adalah kelas penyakit beragam yang sangat berbeda dalam hal penyebab
dan biologisnya. Setiap organisme, bahkan tumbuhan, bisa terkena kanker.
Hampir semua kanker yang dikenal muncul secara bertahap, saat kecatatan
bertumpuk didalam sel kanker dan sel anak- anaknya.

Setiap hal yang bereplikasi memiliki kemungkinan cacat (mutasi). Kecuali jika
pencegahan dan perbaikan kecatatan ditangani dengan baik, kecatatan itu akan
tetap ada, dan mungkin diwariskan ke sel anak (daugher cell). Biasanya, tubuh
melakukan penjagaan terhadap kanker dengan berbagai metode, seperti
apoptosis, molekul pembantu ( beberapa polimerase DNA), penuaan
(senescense), dan lain-lain.

Namun, metode koreksi kecatatan ini sering kali gagal, terutama di dalam
lingkungan yang membuat kecatatan lebih mungkin untuk muncul dan
menyebar. Sebagai contohnya, lingkunagan tersebut mengandung bahan-bahan
yang merusak, disebut dengan bahan karsinogen, cedera berkala ( fisik, panas,
4

dan lain-lain), atau lingkungan yang membuat sel tidak mungkin bertahan,
seperti hipoksia. Karena itu, kanker adalah penyakit progresif, dan berbagai
kecatatan progresif ini berlahan berakumulasi hingga sel mulai bertindak
berkebalikan dengan fungsi seharusnya di dalam organisme.

Kecatatan sel, sebagai penyebab kanker, biasanya bisa memperkuat dirinya


sendiri (self- amplifying), pada akhirnya akan berlipat ganda secara
eksponensial. Sebagai contohnya:

Mutasi dalam perlengkapan perbaikan-kecacatan bisa menyebabkan sel dan sel


anakannya mengakumulasikan kecacatan dengan lebih cepat.
Mutasi dalam perlengkapan pembuat sinyal (endokrin) bisa mengirimkan sinyal
penyebab kecacatan kepada sel di sekitarnya.

Mutasi bisa menyebabkan sel menjadi neoplastik, membuat sel bermigrasi dan
merusak sel yang lebih sehat. Mutasi bisa menyebabkan sel menjadi kekal(
immortal), lihat telomeres, membuat sel rusak bisa membuat sel rusak
selamanya . ( Saferi Wijaya, Meriza Putri 2013).

1.5 Pemeriksaan Penunjang


Diagnosis didasrkan pada riwayat, pemeriksaan fisik, dan penunjang diagnosis
seperti CT, bopsi, dan pemeriksaan biokimia darah dan urine. Pemeriksaan foto
toraks dilakukan sebagai prosedur rutin serta untuk follow- up adanya statis pada
paru-paru. Hiperkalsemia terjadi pada kanker tulang metastasis dari payudara,
paru, dan ginjal. Gejala hiperkalsemia meliputi kelemahan otot, keletihan,
anoreksia, mual, muntah, poliuria, kejang, koma. Hiperkalsemia harus
diidentifikasi dan ditangani segera. Biopsi bedang dilakukan untuk identifikasi
histologik. Biopsi harus dilakukan untuk mencegah terjadinya penyebaran dan
kekambuhan yang terjadi setelah eksisi tumor. ( Saferi Wijaya, Meriza Putri
2013).

1.6 Komplikasi
Risiko- risiko utama yang berhubungan dengan operasi termasuk infeksi,
kekambuhan dari kanker, dan luka pada jaringan- jaringan yang
mengelilinginya. Dalam rangka untuk mengakat seluruh kanker dan mengurangi
risiko kekambuhan, beberapa jaringan normal yang mengelilinginya harus juga
diangkat. Tergantung pada lokasi dari kanker, ini mungkin memerlukan
pengangkatan dari porsi-porsi dari tulang , otot, syaraf- syaraf, atau pembuluh-
pembuluh darah. Ini dapat menyebabkan kelemahan, kehilangan sensasi , dan
risiko dari patah tulang atau patah tulang dari tulang yang tersisa.
1.6.1 Efek proses kemoterapi
Kemoterapi menggunakan obat-obat yang sangat kuat untuk mencoba
membunuh sel-sel kanker. Tetapi sebagai akibatnya beberapa sel-sel
normal juga terbunuh dalam prosesnya. Obat- obat dirancang untuk
5

membunuh sel-sel yang membelah atau tumbuh secara cepat. Sel-sel


normal yang terpengaruh seringkali termasuk rambut, sel-sel sampingan
termasuk mual dan muntah, kehilangan rambut, infeksi, dan kelelahan.
Untungnya efek-efek sampingan ini biasanya hilang setelah kemoterapi
selesai. Nutrisi yang baik adalah penting untuk tubuh untuk melawan
kanker. Mungkin dirujuk pada ahli nutrisi untuk membantu dengan ini,
terutama jika mengalami mual dan kehilangan nafsu makan.

Efek-efek sampingan utama dari terapi radiasi termasuk kelelehan,


kehilangan nafsu makan, dan kerusakan pada kulit dan jaringan-jaringan
lunak sekelilingnya. Terapi operasi pada area yang sama

1.6.2 Kecacatan
Apabila dilakukan proses pengangkatan kanker melalui penghilangan
organ, maka kecacatan pasien tidak akan bisa dihindari. Kanker tulang
bisanya juga dapat menimbulkan patah tulang yang disebut fraktur
patologis.

1.6.3 Kematian
Fakta yang penyebab kematiaan akibat kanker:
1.6.3.1 Kesulitan diagnosis oleh dokter patologi tulang, minimnya
peralatan diagnosis yag tersedia dan sulitnya mendeteksi sel-sel
kanker yang diderita pasien apakah tergoong jinak atau ganas.
1.6.3.2 Umumnya pasien datang ketika penyakit sudah berada pada
stadium akhir. Pengobatanya akan menjadi sulit, dan angka
harapan hidup semakin kecil.
1.6.3.3 Masalah sosial ekonomi. Penyakit kanker memang tergolong
masih sulit diobati, belum lagi biaya pengobatan sangat mahal.
Masalahnya biaya sering menjadi alasan pasien untuk tidak
berobat. Bahkan, banyak pasien yang menolak diopersi karena
tidak memiliki biaya.
1.6.3.4 Pengobatan dengan kemoterapi memiliki efek samping yang
menyakitkan, sehingga membuat pasien menyerah dan
menghentikan terapi
1.6.3.5 Kurangnya pengetahuan tentang kanker dan pengobatanya,
membuat banyak orang memutuskan untuk memilih pengobatan
alternatif yang biayanya relatif lebih murah, meskipun
kenyataaanyaiyu mahal membahayakankehidupan pasien ( Saferi
Wijaya, Meriza Putri 2013).
6

1.7 Penatalaksanaan
Pengobatan seringkali merupakan kombinasi dari:
1.7.1 Kemoterapi (siklofosfamid, vinkristin, daktinomisin, daktinomisin,
doksorubisin, ifosfamid, eposid).
Kemoterapi; harapannya adalah kombinasi kemoterapi mempunyai efek
yang lebih tinngi dengan tingkat toksisitas yang rendah sambil
menurunkan kemungkinan resistensi terhadap obat

1.7.2 Terapi penyinaran tumor


Radiasi apabila tumor bersifat radio sensitive dan kemoterapi
(preoperative, pasca operative dan ajuran untuk mencegah
mikrometastasis). Sasaran utama dapat dilakukan dengan sksisi luas
dengan teknik grafting restorative. Ketahanan dan kualitas hidup
merupakan pertimbangan penting pada prosedur yang mengupayakan
mempertahankan ekstermitas yang sakit.

1.7.3 Terapi pembedahan untuk mengangkat tumor


Sasaran penatalaksanaan adalah menghancurkan atau pengangkatan
tumor. Ini dapat dilakukan dengan bedah( berkisar dari eksisi local
sampai amputasi dan disartikulasi).

Pengangkatan tumor secara bedah sering memerlukan amputasi


ekstremitas yang sakit, dengan tinggi amputasi diatas tumor agar dapat
mengontrol local lesi primer. Prognosis tergantung kepada lokasi dan
penyebaran tumor.

1.7.3.1 Penanganan kanker tulang metastasis adalah peliatif dan sasaran


teraupetiknya adalah mengurangi nyeri dan ketidak nyamanan
pasien sebanyak mungkin. Terapi tambahan disesuaikan dengan
metode yang diganakan untuk menangani kanker asal fiksasi
interna fraktur patologik dapat mengurangi kecacatan dan nyeri
yang timbul.
1.7.3.2 Bila terdapat hiperkalsemia, penanganan meliputi hidrasi dengan
pemberian cairan salin normal intravena, diuretika, mobilisasi dan
obat-obatan seperti fosfat, mitramisin, kalsitonin, atau
kartikosteroid. ( Saferi Wijaya, Meriza Putri 2013).
7

1.8 Patways

Saferi Wijaya, Meriza Putri 2013

II. Rencana asuhan keperawatan dengan gangguan Osteosarcoma


2.1 Pengkajian
2.1.1 Riwayat Kesehatan
2.1.1.1 Keluhan utama
Biasanya pasien datang ke RS dengan keluhan nyeri di daerah kaki
atau tangan yang mengalami pembengkakan, terjadi pembengkakan
biasanya di daerah tulang panjang.

2.1.1.2 Riwayat kesehatan dahulu


Untuk tumor metastatik dapat berupa menderita tumor primer
diorgan lain sebelumnya misalnya payudara, prostate, paru dan
ginjal.

2.1.1.3 Riwayat kesehatan sekarang


Biasanya pasien mengalami adanya masa / pembengkakan pada
tulang, demam, nyeri progresif, kelemahan, parestesia, paraplegia,
retensi urine, anemia, tumor tungkai menyebabkan penderita
berjalan timpang, sedangkan tumor dilengan meninbulkan nyeri
8

ketika lengan dipakai untuk mengangkat sesuatu benda.


Pembengkakan pada tumor mungkin teraba hangat dan agak
memerah, patah tulang(fraktur patologis), leukositosis, malaise,
anoreksia, vomiting, menderita penyakit infeksi tertentu( seperti flu,
streptococcus aureus, dll)

2.1.1.4 Riwayat kesehatan keluarga


Biasanya adanya keluarga ( keturunan sebelumnya) yang menderita
kanker tulang tumor lainnya.

2.1.2 Pemeriksaan Fisik : Data Fokus


a. Keadaan umum klien
 Tingkat kesadaran : compos metis
 Tanda- tanda vital
 Tekanan darah : biasanya lebih dari 130/90 mmHg
 Nadi : biasanya lebih dari 80x/i
 Pernafasan : biasanya lebih 24x/i
 Suhu : biasanya normal 35,5- 37
 Biasanya keadaan kulit kepala bersih, tidak ada ketombe, rambutnya
rontok, tidak ada lesi,warna rambut hitam, tidak bau dan tidak ada
edema
b. Wajah
Biasanya tidak ada edema/hematome, tidak ada bekas luka dan tidak ada
lesi
c. Mata
Biasanya mata simetris kiri dan kanan, reflek cahaya normal yaitu pupil
mengecil, konjungtiva anemis, sclera tidak ikterik
d. Hidung
Biasanya simetris kiri dan kanan, tidak menggunakan cupping hidung,
tidak ada polip, dan tidak ada lesi
e. Telinga
Biasanya simetris kiri dan kanan, fungsi pendengaran baik.
f. Mulut
Biasanya berwarna pucat dengan sianosis bibir, tidak terjadi stomatitis,
tidak terdapat pembesaran tongsil, lidah putih.
g. Leher
Biasanya tidak ada pembesaran pada kelenjer tiroid, tidak ada gangguan
fungsi menelan, tidak ada pembesaran JVP
h. Dada dan Thorax :
Inspeksi : Biasanya dada simetris kiri dan kanan, pergerakan dada
simetris,
Palpasi : Biasanya getaran dada kiri dan kanan sama (vocal premitus).
Perkusi : Biasanya bunyi suaranya sonor.
Auskultasi : Bunyi pernapasnya vesikuler.
9

i. Kardiovaskuler :
Inspeksi : ictus cordis terlihat
Palpasi : ictus cordis teraba 1 jari
Perkusi : di intercosta V media klavikularis sinistra bunyinya pekak
Auskultasi : irama denyut jantung normal tidak ada bunyi tambahan
j. Abdomen :
Inspeksi : Biasanya bentuk perut tidak membuncit dan dinding perut
sirkulasi kolateral.
Auskultasi : Biasanya tidak ada bising usus.
Palpasi : Biasanya tidak ada pembesaran pada abdomen,tidak kram
padaabdomen.
Perkusi : Biasanya tympani
k. Genitaurinaria :
Biasanya adanya terdapat lecet pada area sekitar anus. Feses berwarna
kehijauan karena bercampur dengan empedu dan bersifat banyak asam
laktat yang berasal dari laktosa yang tidak dapat diserat oleh usus.
l. Lengan-Lengan Tungkai :
Ekstemitas atas dan bawah : Biasanya kekuatan otot berkurang. Rentang
gerak pada ekstremitas pasien menjadi terbatas karena adanya
masa,nyeri, atau fraktur patologis, biasanya terabanya benjolan atau masa
pada daerah sekitar tulang.
m. Sistem Persyarapan :
Biasanya kelemahan otot dan penurunan kekuatan

2.1.3 Pemeriksaan Penunjang


2.1.3.1 Rontgen tulang yang terkena
2.1.3.2 Pemeriksaan radiogram untuk melihat aktifitas osteoblas dan
osteoklas pada kanker tulang terjadi peningkatan osteoklas atau
osteoblas
2.1.3.3 Ct scan tulang yang terkena
2.1.3.4 Ct scan dada untuk melihat adanya penyebaran ke paru-paru
2.1.3.5 Biopsi terbuka dilakukan untuk identifikasi histologik, biopsi harus
dilakukan dengan hati-hati untuk mencegah terjadinya penyebaran
dan kekambuhan yang terjadi setelah eksisi tumor
2.1.3.6 Skening tulang untuk melihat penyebaran tumor
2.1.3.7 Labor pemeriksaan darah (termasuk kimia serum)

2.2 Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul


Diagnosa 1: Nyeri akut (00132)
2.2.1 Definisi
Pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan yang muncul
akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial atau yang
digambarkan sebagai kerusakan; awitan yang tiba-tiba atau lambat
10

dari intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat


diantisipasi atau diprediksi.

2.2.2 Batasan Karakteristik


 Bukti nyeri dengan menggunakan standar daftar periksa nyeri
untuk pasien yang tidak dapat mengungkapkannya (mis. Neonatal
infant pain scale, pain assesment checklist for senior with limited
ability to communicate).
 Diaforesis
 Dilatasi pupil
 Ekspresi wajah nyeri (mis. Mata kurang bercahaya, tampak kacau,
gerakan mata berpencar, atau tetap pada satu fokus, meringis)
 Fokus pada diri sendiri
 Laporan tentang perilaku nyeri/perubahan aktivitas (mis.anggota
keluarga, pemberi asuhan)
 Perilaku distraksi
 Mengekspresikan perilaku (mis. gelisah, merengek, menangis,
waspada).
 Perubahan selera makan
 Putus asa
 Sikap melindngi area nyeri
 Sikap tubuh melindungi
 Perubahan pada parameter fisiologis (mis, tekanan darah,
frekuensi jantung, frekuensi pernapasan, saturasi oksigenasi, end
tidal karbon dioksida).

2.2.3 Faktor yang berhubungan


 Agen cedera biologis (mis. Infeksi, iskemia, neoplasma).
 Agen cedera fisik ( mis. Abses, luka bakar, amputasi, terpotong,
mengangkat berat, prosedur bedah, trauma olahraga yang
berlebihan)
 Agen cedera kimiawi (mis. Luka bakar, kapsaisin, metilen
klorida, agens mustard).

Diagnosa 2: Intoleransi aktivitas (00092)


2.2.4 Definisi
Ketidakcukupan energy psikologis atau fisiologis untuk
mempertahankan atau menyelesaikan aktivitas kehidupan sehari-hari
yang harus atau yang ingin dilakukan.

2.2.5 Batasan Karakteristik.


Keletihan
Ketidaknyamanan setelah beraktivitas
11

Perubahan EKG mis.aritmia, iskemia


Dispnea setelah beraktivitas

2.2.6 Faktor yang berhubungan


Gaya hidup kurang gerak
Imobilitas
Tirah baring
Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen

2.3 Perencanaan
Diagnosa 1: Nyeri Akut ( 00132)
2.3.1 Tujuan dan Kriteria Hasil (NOC)
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama
.......x24 jam,diharapakan nyeri berkurang dengan kriteria :
1. Tingkat Kenyamanan :
Tingkat persepsi positif terhadap kemudahan fisik dan psikologis
2. Pengendalian diri :
Tindakan individu untuk mengendalikan nyeri
3. Tingkat nyeri :
Keparahan nyeri yang dapat diamati atau dilaporkan
 Memperlihatkan pengendalian nyeri yang dibuktikan oleh indicator
sebagai berikut (sebutkan 1-5:tidak pernah, jarang,kadang-
kadang,sering, atau selalu)
 Menunjukkan tingkat nyeri , yang dibuktikan oleh indicator sebagai
berikut ( sangat berat, berat, sedang, ringan atau tidak ada):
Ekspresi nyeri pada wajah, gelisah atau ketegangan otot, durasi
nyeri, merintih dan menangis, gelisah.

2.3.2 Intervensi dan rasional


a. Manajemen Nyeri: (Meringankan atau mengurangi nyeri sampai
pada tingkat kenyamanan yang dapat diterima oleh pasien)
b. Pemberian Analgesik : (Menggunakan agens-agens farmakologi
untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri)
c. Manajemen Medikasi : Memfasilitasi penggunaan obat resep atau
obat bebas secara aman dan efektif
d. Bantuan Analgesia : Memudahkan pengendalian pemberian dan
pengaturan analgesic oleh pasien
e. Manajemen Sedasi : Memberikan sedatif, memantau respons
pasien, dan memberikan dukungan fisiologis yang dibutuhkan
selama prosedur diagnostik atau terapeutik
12

Pengkajian
- Gunakan laporan dari pasien sendiri sebagai pilihan pertama untuk
mengumpulkan informasi pengkajian
- Minta pasien untuk menilai nyeri atau ketidaknyamanan pada skala 0
sampai 10 (0= tidak ada nyeri atau ketidaknyamanan, 10 = nyeri
hebat)
- Gunakan bagan alir nyeri untuk memantau peredaan nyeri oleh
analgesic dan kemungkinan efek sampingnya
- Kaji dampak agama, budaya, kepercayaan, dan lingkungan terhadap
nyeri dan respons pasien
- Dalam mengkaji nyeri pasien, gunakan kata-kata yang sesuai usia
dan tingkat perkembangan pasien
- Manajemen Nyeri (NIC)
Lakukan pengkajian nyeri yang komprehensif meliputi lokasi,
karakteristik, awitan dan durasi, frekuensi, kualitas , intensitas atau
keparahan nyerim dan faktor presipitasinya
Observasi isyarat nonverbal ketidaknyamanan, khususnya pada
mereka yang tidak mampu berkomunikasi efektif

Penyuluhan untuk Pasien/Keluarga


- Sertakan dalam instruksi pemulangan pasien obat khusus yang harus
diminum , frekuensi pemberian, kemungkinan efek samping,
kemungkinan interaksi obat, kewaspadaan khusus saat mengonsumsi
obat tersebut (misalnya , pembatasan aktivitas fisik , pembatasan
diet) dan nama orang yang harus dihubungi bila mengalami nyeri
membandel
- Instruksikan pasien untuk menginformasikan kepada perawat jika
peredaan nyeri tidak dapat dicapai
- Informasikan kepada pasien tentang prosedur yang dapat
meningkatkan nyeri dan tawarkan strategi koping yang disarankan
- Perbaiki kesalahan persepsi tentang analgesik narkotik atau opioid
(misalnya, risiko ketergantungan atau overdosis)
- Manajemen Nyeri (NIC) : berikan informasi tentang nyeri, seperti
penyebab nyeri, berapa lama akan berlangsung dan antisipasi
ketidaknyamanan akibat prosedur
- Manajemen Nyeri (NIC) :
Ajarkan penggunaan teknik nonfarmakologis (misalnya, umpan-
balik biologis, transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS),
hypnosis, relaksasi, atau kompres hangat atau dingin, dan masase)
sebelum, setelah, dan jika memungkinkan, selama aktivitas yang
menimbulkan nyeri; sebelum nyeri terjadi atau meningkat; dan
bersama penggunaan tindakan peredaan nyeri yang lain.
13

Diagnosa 2: Intoleransi Aktifitas (00092)


2.3.3 Tujuan dan Kriteria Hasil (NOC)
Hasil NOC
- Toleransi Aktifitas : Respons fisiologis terhadap gerakan yang
memakan energi dalam aktifitas sehari-hari
- Ketahanan : ketahanan untuk menyelesaikan aktifitas
- Penghematan Energi : Tindakan individu dalam mengelola energi
untuk memulai dan menyelesaikan aktifitas
- Kebugaran Fisik: Pelaksanaan aktifitas fisik yang penuh vitalitas
- Energi Psikomotorik : Dorongan dan energi individu untuk
mempertahankan aktifitas hidup sehari-hari, nutrisi dan keamanan
personal
- Perawatan diri: Aktifitas Kehidupan Sehari-hari (AKSI) :
Kemampuan untuk melakukan tugas-tugas fisik yang paling dasar
dan aktifitas perawatan pribadi secara mandiri dengan atau tanpa alat
bantu
- Perawatan diri: Aktifitas Kehidupan Sehari-hari Instrumental
(AKSI): Kemampuan untuk melakukan aktifitas yang dibutuhkan
dalam melakukan fungsi dirumah atau komunitas secara mandiri
dengan atau tanpa alat bantu

Tujuan dan Kriteria Hasil


- Toleransi Aktifitas
a. Gangguan ekstrem
b. Berat
c. Sedang
d. Ringan
e. Tidak ada gangguan

Indikator 1 2 3 4 5
Saturasi oksigen saat beraktifitas
Frekuensi pernafasan saat beraktifitas
Kemampuan untuk berbicara saat
beraktifitas fisik

- Penghematan Energi
a. Tidak pernah
b. Jarang
c. Kadang-kadang
d. Sering
e. Selalu ditampilkan
14

Indikator 1 2 3 4 5
Menyadari keterbatasan energi
Menyeimbangkan aktifitas dan istirahat
Mengatur jadwal aktifitas untuk menghemat
energi

Contoh Lain, Pasien Akan:


- Mengidentifikasi aktifitas atau situasi yang menimbulkan kecemasan
yang dapat mengakibatkan intoleransi aktifitas
- Berpartisipasi dalam aktifitas fisik yang dibutuhkan dengan
peningkatan normal denyut jantung, frekuensi pernafasan, dan
tekanan darah serta memantau pola dalam batas normal
- Mengungkapkan secara verbal pemahaman tentang kebutuhan
oksigen, obat, dan/ peralatan yang dapat meningkatkan toleransi
terhadap aktifitas
- Menampilkan aktifitas kehidupan sehari-hari (AKSI) dengan
beberapa bantuan (misalnya eliminasi dengan bantuan ambulasi
untuk kekamar mandi)
- Menampilkan manajemen pemeliharaan rumah dengan beberapa
bantuan ( misalnya membutuhkan bantuan untuk kebersihan setiap
minggu )

2.3.4 Intervensi Keperawatan dan Rasional


Intervensi NIC
- Kaji tingkat kemampuan pasien untuk berpindah dari tempat
tidur, berdiri, ambulasi, dan melakukan ADL
- Kaji respon emosi, sosial dan spiritual terhadap aktivitas
- Evaluasi motivasi dan keinginan pasien untuk meningkatkan
aktivitas
- Manajemen energy (NIC):
- Tentukan penyebab keletihan
- Pantau respon kardiorespiratori terhadap aktivitas
- Pantau respon oksigen pasien terhadap aktivitas
- Pantau respon nutrisi untuk memastikan sumber-sumber energy
yang adekuat
- Pantau dan dokumentasikan pola tidur pasien dan lamanya waktu
tidur dalam jam

Penyuluhan untuk pasien dan keluarga


Instruksikan pada pasien dan keluarga untuk:
- Penggunaan teknik napas terkontrol selama aktivitas, jika perlu
- Mengenali tanda dan gejala intoleransi aktivitas, termasuk
kondisi yang perlu dilaporkan ke dokter
- Pentingnya nutrisi yang baik
- Penggunaan peralatan seperti oksigen saat aktivitas
15

- Penggunaan tehnik relaksasi selama aktivitas


- Dampak intoleransi aktivitas terhadap tanggung jawab peran
dalam keluarga
- Tindakan untuk menghemat energy
- Manajemen energy (NIC):
- Ajarkan pada pasien dan orang terdekat tentang teknik perawatan
diri yang akan meminimakan konsumsi oksigen
- Ajarkan tentang pengaturan aktivitas dan teknik manajemen
waktu untuk mencegah kelelahan

Aktivitas kolaboratif
- Berikan pengobatan nyeri sebelum aktivitas, apabila nyeri
merupakan salah satu penyebab
- Kolaborasikan dengan ahli terapi okupasi, fisik atau rekreasi
untuk merencanakan dan memantau program aktivitas, jika perlu.
- Untuk pasien yang mengalami sakit jiwa, rujuk kelayanan
kesehatan jiwa dirumah
- Rujuk pasien kepelayanan kesehatan rumah untuk mendapatkan
pelayanan bantuan perawtan rumah, jika perlu
- Rujuk pasien keahli gizi untuk perencanaan diet
- Rujuk pasien kepusat rehabilitasi jantung jika keletihan
berhubungan dengan penyakit jantung

Aktivitas lain
- Hindari menjadwalkan pelaksanaan aktivitas perawatan selama
periode istirahat
- Bantu pasien untuk mengubah posisi secara berkala, jika perlu
- Pantau tanda-tanda vital sebelum, selama dan sesudah aktivitas
- Rencanakan aktivitas bersama pasien secara terjadwal antar
istirahat dan latihan
- Manajemen energy (NIC);
- Bantu pasien untuk mengidentifikasi pilihan aktivitas
- Rencanakan aktivitas pada periode saat pasien memiliki energy
paling banyak
- Bantu pasien untuk aktivitas fisik teratur
- Bantu rangsangan lingkungan untuk relaksasi
- Bantu pasien untuk melakukan pemantauan mandiri dengan
membuat dan menggunakan dokumentasi tertulis untuk mencatat
asupan kalori dan energy
16

Perawatan dirumah
- Evaluasi kondisi rumah yang dapat menyebabkan intoleransi
aktivitas
- Kaji kebutuhan terhadap alat bantu, oksigen dan lain sebagainga
dirumah

Untuk bayi dan anak-anak


- Rencanakan asuhan untuk bayi atau anak-anak guna
meminimakan kebutuhan tubuh terhadap oksigen:
- Antisipasi kebutuhan terhadap makanan, air, rasa nyaman,
gendongan dan stimulasi, untuk mencegah tangisan yang tidak
perlu
- Hindari lingkungan dengan konsentrasi oksigen yang rendah
- Minimakan kecemasan dan stress
- Cegah hipertermi dan hipotermi
- Cegah infeksi
- Beri periode istirahat yang adekuat

Untuk lansia Untuk lansia


- Berikan waktu tambahan untuk mengobatan dan ADL
- Pantau hipotensi ortostatik, limbung dan rasa ingin pingsan
selama aktivitas

2.4 Evaluasi
2.4.1 Diagnosa 1 : Nyeri (Akut/Kronis)
S : klien mengatakan nyeri berkurang atau tidan nyeri lagi
O : klien tampak rileks, tenang, TD normal, frekuensi jantung normal,
frekuensi pernapasan normal
A : masalah teratasi
P : intervensi dihentikan

2.4.2 Diagnosa 2 : intoleransi aktivitas


S : klien mengatakan dapat beraktivitas secara mandiri, atau tanpa alat
bantu
O : klien tampak beraktivitas sendiri
A : masalah teratasi
P : intervensi dihentikan
17

DAFTAR PUSTAKA

Nurarif Amin Huda, Kusuma Hardhi,2013. Panduan penyusunan asuhan keperawatan


profesional. Jakarta: EGC

Pearce. C Evelyn, 2009. Anatomi dan fisiologi untuk paramedis. Jakarta: Gramedia

Wijaya Andra Saferi, Putri Yessie Mariza, 2013. Keperawatan Medikal Bedah 2
(Keperawatan Dewasa). Yokyakarta: Nuha Medika

Wilkinson Judith M, 2007. Buku saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta: EGC

Banjarmasin, Juli 2018


Preseptor Akademik

( )

Anda mungkin juga menyukai