Anda di halaman 1dari 22

Nama Uyun Nailatul Mafaz

NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

BAB II
IDENTIFIKASI ALDEHID DAN KETON

TUJUAN :
 Membedakan senyawa aldehid dan keton dengan menggunakan uji Tollens dan Fehling
 Memahami reaksi yang terjadi selama uji Tollens dan Fehling

A. Pre-lab
1. Jelaskan perbedaan mendasar antara aldehid dan keton!
Perbedaan antara aldehid dan keton antara lain adalah
 Senyawa aldehid adalah senyawa organik yang mempunyai sebuah atom hidrogen yang
terikat pada gugus karbonil (ikatan rangkap C=O). Sementara itu, keton adalah senyawa
organik yang mempunyai sebuah gugus karbonil terikat pada dua gugus alkil dengan rumus R-
CO-R’, dimana R adalah alkil dan -CO- adalah gugus fungsi keton (karbonil) (Saraswati,
2016).
 Keberadaan atom hidrogen pada aldehid menyebabkan aldehid merupakan pereduksi yang
kuat. Aldehid sangat mudah teroksidasi sekalipun dengan oksidator yang sangat lemah.
Sementara itu, keton sukar teroksidasi (Saraswati, 2016).
 Aldehid lebih reaktif terhadap adisi nukleofilik jika dibandingkan keton yang kurang reaktif
(Saraswati, 2016).
2. Jelaskan prinsip uji Tollens !
Prinsip uji Tollens yaitu membedakan senyawa aldehid dan keton berdasarkan sifat
kemudahannya dalam mengalami oksidasi dengan cara menambahkan reagen Tollens
(AgNO3). Pada uji Tollens, akan terjadi reaksi oksidasi dan reduksi. Aldehid akan dioksidasi
menjadi anion karboksilat. Reaksi dengan reagen Tollens mampu mengubah ikatan C-H pada
aldehid menjadi ikatan C-OH. Ion Ag+ yang terdapat pada reagen Tollens direduksi menjadi
logam Ag sehingga uji positif dari uji Tollens ditandai dengan terbentuknya cermin perak pada
dinding dalam tabung reaksi. Alkohol sekunder dapat dioksidasi menjadi keton tetapi keton
tidak dapat dioksidasi lagi dengan menggunakan pereaksi Tollens (Bettelheim, 2010).
3. Apa fungsi pereaksi fehling pada uji fehling?
Pereaksi Fehling terdiri dari dua bagian, yaitu Fehling A dan Fehling B. Fehling A merupakan
larutan CuSO4, sedangkan Fehling B merupakan campuran larutan NaOH dengan NaK-tartrat
yang berfungsi mencegah Cu2+ mengendap dalam suasana alkalis. Pada uji fehling, pereaksi
digunakan untuk mengidentifikasi senyawa aldehid sekaligus untuk membedakan dengan
keton. Berfungsi sebagai oksidator lemah yang merupakan pereaksi khusus untuk mengenali
aldehid. Pereaksi Fehling mampu mengoksidasi senyawa golongan aldehid sedangkan
senyawa golongan keton tidak dapat dioksidasi oleh Pereaksi Fehling. Aldehid dengan
pereaksi Fehling dapat bereaksi menghasilkan endapan Cu2O yang berwarna merah bata.
Dalam pereaksi ini, ion Cu2+ direduksi menjadi ion Cu+ yang dalam suasana basa akan
diendapkan sebagai Cu2O (Chawla, 2014).
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

4. Sebut dan jelaskan reaksi apa saja yang menerapkan aldehid ataupun keton!
- Reaksi yang terjadi pada aldehida
 Adisi
Reeaksi adisi adalah rekasi pemutusan ikatan rangkap (reaksi penjenuhan). Jika pereaksi yang
mengadisi bersifat polar, maka gugus yang leih positif terikat pada atom oksigen dan gugus
negative terikat pada atom karbon (Marzuki dkk, 2010).
• Oksidasi
Aldehida adalah reduktor kuat sehingga dapat mereduksi oksidator lemah. Perekasi Tollens
dan pereaksi Fehling adalah dua contoh oksidator lemah yang merupakan pereaksi khusus
untuk aldehida. Oksidasi aldehida menghasilkan asam karboksilat. Pereaksi Tollens adalah
larutan perak nitrat dalam amonia. Pereaksi Tollens dianggap sebagai larutan perak oksida
(Ag2O). Aldehida dapat mereduksi pereaksi Tollens sehingga membebaskan unsur perak (Ag).
Reaksi aldehida dengan pereaksi Tollens dapat ditulis sebagai berikut :
O O

R- C - H + Ag2O (aq)  R – C - O + 2Ag (s)


(Marzuki dkk, 2010).
Pereaksi Fehling terdiri dari dua bagian, yaitu Fehling A dan Fehling B. fehling A adalah
larutan CuSO4, sedangkan Fehling B merupakan campuran larutan NaOH dan kalium natrium
tartrat. Pereksi Fehling dibuat dengan mencampurkan kedua larutan tersebut, sehingga
diperoleh suatu larutan yang berwarna biru tua. Dalam pereaksi Fehling, ion Cu2+ terdapat
sebagai ion kompleks. Pereaksi Fehling dapat dianggap sebagai larutan CuO. Reaksi Aldehida
dengan pereaksi Fehling menghasilkan endapan merah bata dari Cu2O.
O O

R-C-H + 2CuO (aq)  R-C-OH + Cu2O


(Marzuki dkk, 2010).

- Reaksi yang terjadi pada keton


 Reduksi keton oleh hidrogen akan menghasilkan alkohol sekunder
O OH

R – C – R’ + H – H  R – C – R’

H
(Marzuki dkk, 2010).
 Oksidasi
Keton merupakan reduktor yang lebih lemah daripada aldehid. Zat-zat pengoksidasi lemah
seperti pereaksi tollens dan pereaksi Fehling tidak dapat mengoksidasi keton. Oksidator kuat
dapat mengoksidasi keton membentuk campuran-campuran asam karboksilat. Oleh karena itu,
aldehid dan keton dapat dibedakan dengan menggunakan pereaksi-pereaksi tersebut.
Aldehid + pereaksi Tollens  cermin perak
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

Keton + pereaksi Tollens  tidak ada reaksi


Aldehid + pereaksi Fehling  endapan merah bata
Keton + pereaksi Fehling  tidak ada reaksi (Marzuki dkk, 2010).
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

B. Tinjauan Pustaka
1. Pengertian Aldehid
Aldehid adalah senyawa organik yang mempunyai sebuah atom hidrogen yang terikat pada
gugus karbonil (ikatan rangkap C=O). Aldehid memiliki rumus molekul R-CHO, dimana R
adalah alkil dan –CHO adalah gugus fungsi aldehid. Aldehid dengan 1-2 atom karbon pada
suhu kamar berwujud gas dan berbau tidak sedap. Aldehid dengan 3-12 atom karbon pada suhu
kamar berwujud cair dan berbau sedap. Sementara itu, aldehid dengan atom karbon lebih dari
12 pada suhu kamar berwujud padat. Aldehid memiliki sifat lebih reaktif daripada alkohol,
dapat mengalami reaksi adisi, dapat mengalami reaksi oksidasi menjadi asam, dapat mengalami
reaksi polimerisasi, memiliki titik didih yang tinggi, dan tidak berwarna. Beberapa aldehid yang
termasuk dalam suku rendah (formaldehid dan asetaldehid) dapat larut dalam air, sedangkan
aldehid suku tinggi tidak larut dalam air. Aldehid apabila dioksidasi oleh kalium bikromat dan
asam sulfat maka akan menghasilkan asam karboksilat dan dapat direduksi dengan gas H2
membentuk lakohol primernya. Aldehid umumnya digunakan sebagai desinfektan (Saraswati,
2016).

2. Pengertian Keton
Keton adalah senyawa organik yang mempunyai sebuah gugus karbonil terikat pada dua gugus
alkil dengan rumus R-CO-R’, dimana R adalah alkil dan -CO- adalah gugus fungsi keton
(karbonil). Karakteristik dari keton ini adalah berupa cairan tak berwarna, umumnya larut dalam
air, bersifat polar karena gugus karbonilnya polar, lebih mudah menguap daripada alkohol dan
asam karboksilat, mempunyai titik didih yang relatif lebih tinggi daripada senyawa non polar
dan dapat direduksi oleh gas H2 menghasilkan alkohol sekundernya. Keton memiliki sifat yang
sulit teroksidasi dan kurang reaktif terhadap adisi nukleofilik. Keton dapat digunakan sebagai
pelarut (Saraswati, 2016).

3. Tinjauan Bahan
a. Aseton
Aseton merupakan senyawa yang memiliki rumus molekul C3H6O, titik didih 56,2oC dan titik
beku -95,35oC, berat molekul 58,08 gram/mol, berbau menyengat, berwujud cair pada suhu
kamar, mudah menguap, mudah terbakar, dan dapat larut dalam pelarut polar. Pembuatan
aseton dilakukan dengan cara oksidasi dengan bahan dasar isopropil. Aseton biasanya
digunakan dalam pembuatan senyawa kloroform dan iodoform (Rifai, 2017).
b. Glukosa
Glukosa (dektrosa/gula anggur) merupakan monosakarida yang mempunyai rumus
molekul C6H12O6, titik didih 146ᵒC, mudah larut dalam air, tidak berwarna, berbentuk serbuk
butiran putih, tidak berbau dan rasanya manis. Hidrolisis sempurna dari selulosa, maltosa,
amilum, glikogen, sakarosa, dan laktosa dapat menghasilkan glukosa. Glukosa umumnya
berfungsi sebagai sumber energi (Sumardjo, 2009).
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

c. Fruktosa
Fruktosa (levulosa/gula buah) merupakan isomer gula monosakarida yang merupakan
salah satu dari gula darah. Kadar kemanisannya 120-180% dari gula sukrosa sehingga memiliki
rasa yang lebih manis. Fruktosa dapat diperoleh dari hidrolisis inulin dan sakarosa. Kristal padat
fruktosa dapat terurai pada suhu 103ᵒ-105ᵒC, berwarna putih, rasanya manis, dan larut dalam
air (Sumardjo, 2009).
d. Formalin
Formalin merupakan larutan formaldehida dalam air dengan kadar 10% hingga 40%.
Formalin memiliki titik didih -19oC, tidak berwarna, berbau menyengat, beracun, dan larut
dalam air dan etanol. Formalin digunaan sebagai disinfektan, pengawet biologis dan juga untuk
pembuatan resin sintetis (Apituley, 2009).
e. Tollens (AgNO3)
AgNO3 atau perak nitrat merupakan kristal putih yang memiliki titik didih 444oC, berat
molekul 169,87 gram/mol, tidak berbau, merupakan oksidator kuat, gelap jika terkena cahaya,
beracun, korosif, dan dapat larut dalam air, aseton, ammonia, eter dan glikol. Perak nitrat sangat
berbahaya apabila bereaksi dengan etanol (Bettelheim, 2010).
f. NH4OH
NH4OH atau amonium hidroksida merupakan senyawa cair yang memiliki titik didih
o
28 C, berbau menyengat, korosif, tidak stabil, dan mudah larut dalam air, alkohol, dan eter.
Senyawa ini berfungsi sebagai pembentuk suasana basa (Sarastina, 2014).
g. NaOH
NaOH atau natrium hidroksida merupakan senyawa ionik basa kuat yang berwujud
serbuk putih, memiliki titik didih 1388oC, sangat mudah larut dalam air yang kelarutannya
bersifat eksotermis, dan biasa disebut sebagai soda kaustik/soda api karena sifatnya yang terasa
panas. NaOH banyak digunakan di dalam laboratorium sebagai reagen sumber ion hidroksida
(OH-) (Sarastina, 2014).
h. Fehling A
Fehling A merupakan tembaga sulfat (CuSO4.5H2O) di dalam air. Tembaga sulfat
bentuk kristal, berwarna biru, berbau, dan larut dalam air (Chawla, 2014).
i. Fehling B
Fehling B merupakan campuran NaOH dan kalium-natrium tartrat di dalam air. Fehling
B berbentuk cair, bertekanan tinggi, dan mudah larut dalam air (Chawla, 2014).
j. Aquades
Aquades (air murni) adalah air hasil destilasi atau penyulingan yang tidak mengandung
mineral lain dan/atau mikroorganisme yang memiliki rumus molekul H2O, titik didih 100oC
dan titik beku 0oC, tidak berwarna, tidak memiliki rasa, tidak berbau, serta memiliki pH netral
(pH 7). Aquades biasa digunakan sebagai pelarut yang baik (Fatimah, 2010).
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

C. DIAGRAM ALIR
1. Uji Tollens
1 ml larutan AgNO3 5%

Dimasukkan ke dalam tabung reaksi

5-10 tetes NH4OH 6 M


Ditambahkan sampai endapan hilang

1 ml sampel
Ditambahkan pada tabung reaksi

Dipanaskan ± 2 menit

Diamati perubahan yang terjadi

Hasil

2. Uji Fehling
5 tetes Fehling A

Dimasukkan ke dalam tabung reaksi

5 tetes NaOH
Dimasukkan ke dalam tabung reaksi

10 tetes Fehling B
Dimasukkan ke dalam tabung reaksi
1 ml sampel

Dipanaskan ± 2 menit di dalam water bath

Diamati perubahan yang terjadi

Hasil
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

C. Hasil Percobaan Dan Pengamatan :


1. Uji Tollens
No. Nama Reagen Sampel + Reagen Sampel + Reagen Hasil
Sampel Tollens + Tollens (tanpa Tollens (setelah uji
NH4OH pemanasan) pemanasan) (+)/(-)
1. Aseton Bening Keruh Hitam keruh dan -
tidak terdapat cermin
2. Fruktosa Bening Bening Hitam keruh terdapat +
cermin
3. Glukosa Bening Bening Terdapat cermin +
perak
4. Sukrosa Bening Bening Tetap bening -

5. Formaldehid Bening Terdapat adanya Hitam keruh dan +


perak terdapat cermin perak

2. Uji Fehling
No. Nama Reagen Sampel + Reagen Sampel + Reagen Hasil
Sampel Fehling + Fehling (tanpa Fehling (setelah uji
NH4OH pemanasan) pemanasan) (+)/(-)
1. Aseton Biru bening Hijau kekuningan Terdapat 2 lapisan, -
lapisan atas kuning
dan lapisan bawah
biru
2. Fruktosa Biru bening Biru tua Merah bata adanya +
endapan merah

3. Glukosa Biru bening Biru tua Merah adanya +


endapan warna
merah
4. Sukrosa Biru bening Biru tua Biru -

5. Formaldehid Biru bening Bening Merah dengan +


endapan
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

D. PEMBAHASAN

1. Uji Tollens
a. Prinsip
Prinsip dari uji Tollens adalah membedakan antara gugus aldehid dan keton dengan
menambahkan reagen Tollens (AgNO3) dimana akan terjadi reaksi reduksi oksidasi. Pada uji
Tollens, aldehid akan teroksidasi menjadi asam karboksilat sedangkan ion Ag+ dari reagen
AgNO3 akan tereduksi menjadi logam Ag. Uji positif pada uji Tollens ditandai dengan
terbentuknya cermin perak atau endapan perak pada dinding-dinding tabung reaksi yang
menyatakan bahwa sampel yang diuji mengandung gugus aldehid.
b. Analisa Prosedur
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk membedakan senyawa aldehid dan keton dengan
menggunakan uji Tollens dan Fehling serta untuk memahami reaksi yang terjadi selama uji
Tollens dan Fehling.
Sebelum memulai percobaan, hal pertama yang harus dilakukan adalah menyiapkan alat
dan bahan. Alat-alat yang digunakan pada praktikum uji Tollens ini adalah 5 buah tabung
reaksi, 5 buah label, 1 buah rak tabung reaksi, 1 buah pipet tetes, 5 buah pipet ukur 1 ml, 1 buah
pipet ukur 10 ml, 1 buah bulb, 1 buah bunsen (pembakar spirtus), 1 buah penjepit kayu, dan
tisu. Tabung reaksi digunakan sebagai wadah sampel yang akan diuji. Label digunakan untuk
memberi tanda atau nama pada tabung reaksi sesuai nama sampel yang terletak pada tabung
reaksi agar data tidak tertukar antara sampel yang satu dengan sampel yang lain selama
percobaan dan pengamatan berlangsung. Rak tabung reaksi digunakan sebagai wadah utuk
meletakkan tabung reaksi agar lebih tertata. Pipet tetes digunakan untuk mengambil sampel dan
reagen yang tidak memerlukan ukuran yang pasti/akurat (hanya diperlukan dalam ukuran
tetesan). Pipet ukur 1 ml digunakan untuk mengambil sampel sebanyak 1 ml dengan lebih
akurat apabila dibandingkan dengan mengambil sampel dengan menggunakan pipet tetes. Pipet
ukur 10 ml digunakan untuk mengambil 1 ml reagen yang digunakan sebanyak 5 kali. Bulb
digunakan sebagai alat bantu untuk mengambil sampel menggunakan pipet ukur. Bunsen
digunakan sebagai sumber panas. Penjepit kayu digunakan sebagai alat bantu untuk mengambil,
memegang, dan meletakkan tabung reaksi agar lebih aman terutama saat dan setelah melakukan
pemanasan pada tabung reaksi. Tisu digunakan sebagai alat untuk mengeringkan peralatan
setelah digunakan dan dibersihkan.
Sementara itu, bahan-bahan yang dibutuhkan dalam percobaan ini adalah aseton,
fruktosa, glukosa, sukrosa, formaldehid, reagen Tollens (AgNO3), dan NH4OH. Aseton,
fruktosa, glukosa, sukrosa, dan formaldehid digunakan sebagai sampel untuk kemudian akan
diidentifikasi apakah sampel tersebut mengandung gugus aldehid atau tidak. Reagen Tollens
(AgNO3) digunakan untuk mengidentifikasi adanya gugus aldehid pada sampel yang dapat
membentuk cermin perak apabila bereaksi dengan gugus aldehid. NH4OH digunakan untuk
mencegah pengendapan ion perak pada reagen dan membentuk suasana basa.
Setelah menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan, langkah selanjutnya adalah memberikan
nama pada 5 tabung reaksi sesuai dengan nama sampel yang akan dimasukkan pada tabung
reaksi tersebut dengan menggunakan label. Label bertuliskan aseton untuk tabung yang akan
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

diisi dengan aseton, label bertuliskan fruktosa untuk tabung yang akan diisi dengan fruktosa,
label bertuliskan glukosa untuk tabung yang akan diisi dengan glukosa, label bertuliskan
sukrosa untuk tabung yang akan diisi dengan sukrosa, dan label bertuliskan formaldehid untuk
tabung yang akan diisi dengan formaldehid. Setelah itu, masukkan masing-masing 1 ml reagen
Tollens (AgNO3) 5% ke dalam 5 tabung reaksi dengan menggunakan pipet ukur 10 ml dan
bulb. Cara menggunakan bulb adalah pertama-tama bulb dikempeskan dengan menekan tombol
A sambil mengempeskan bola bulb. Setelah itu, pasang bulb pada pipet ukur dan masukkan
pipet pada wadah berisi sampel. Hisap sampel dengan menekan tombol S pada bulb hingga
mencapai 1 ml dengan memperhatikan meniskus bawah sampel. Hindari menghisap sampel
melebihi batas pada pipet atau hingga masuk ke dalam bulb untuk mencegah kerusakan bulb.
Pandangan mata harus tegak lurus dengan garis-garis batas pada pipet ukur. Setelah itu,
masukkan reagen di dalam pipet ke dalam tabung reaksi dengan menekan tombol E pada bulb
dan tekan lubang yang terdapat di sebelah tombol E untuk mengeluarkan sisa-sisa sampel yang
masih terdapat pada ujung pipet. Kemudian, tambahkan masing-masing beberapa tetes (5-15
tetes) NH4OH ke dalam 5 tabung reaksi. Di awal penambahan NH4OH akan terbentuk seperti
endapan berwarna coklat keruh. Tambahkan tetesan NH4OH sambil menggoyangkan tabung
reaksi hingga endapan coklat keruh tersebut menghilang. Setelah itu, masukkan masing-masing
1 ml sampel ke dalam 5 tabung reaksi dengan menggunakan pipet ukur 1 ml dan bulb.
Masukkan sampel ke dalam tabung berlabel yang sesuai dengan nama sampel yang diambil.
Homogenkan seluruh senyawa pada tabung reaksi dengan menggoyang-goyangkan tabung
reaksi. Amati dan catat kondisi (warna) pada masing-masing tabung reaksi. Kemudian,
panaskan masing-masing tabung reaksi di atas api bunsen dengan bantuan penjepit kayu selama
beberapa saat. Caranya adalah nyalakan api bunsen dengan menggunakan korek api. Kemudian,
jepit tabung reaksi dengan menggunakan penjepit kayu. Panaskan tabung reaksi ke api bunsen
dengan melewati tabung tersebut ke api secara bolak-balik selama beberapa saat. Lakukan hal
tersebut hingga terjadi reaksi atau hingga sampel mendidih. Lakukan pemanasan tersebut untuk
seluruh tabung reaksi. Letakkan tabung reaksi di rak tabung reaksi dan tunggu beberapa saat.
Amati dan catat kondisi pada masing-masing sampel di dalam tabung reaksi tersebut. Setelah
itu, buang sampel ke tempat yang telah disediakan. Cuci semua peralatan yang telah digunakan
hingga bersih dan keringkan dengan menggunakan tisu.
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

c. Analisa Hasil
 Aseton
Pada praktikum ini kami melakukan percobaan duplo agar hasilnya lebih akurat. Sampel
yang pertama adalah aseton (C3H6O). Kondisi tabung reaksi yang berisi AgNO3 dan NH4OH
adalah bening. Saat aseton dimasukkan ke dalam tabung reaksi berisi AgNO3 dan NH4OH
tersebut dan dihomogenkan, kondisi tabung reaksi berubah menjadi keruh. Setelah tabung
reaksi tersebut dipanaskan beberapa saat, kondisi tabung reaksi menjadi hitam keruh dan tidak
terdapat cermin. Keadaan ini menandakan bahwa uji Tollens pada sampel aseton menghasilkan
hasil uji yang negatif karena tidak ada reaksi antara sampel dengan reagen Tollens. Hal ini
sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa pada aseton tidak mengandung gugus aldehid,
karena aseton merupakan senyawa keton, sehingga senyawa tidak akan bereaksi dengan reagen
Tollens dan tidak akan membentuk cincin perak pada dinding tabung reaksi sebagai indikator
adanya gugus aldehid. Pada percobaan pertama dan kedua menghasilkan hasil yang sama
(Shankara, 2008).
 Fruktosa
Pada praktikum ini kami melakukan percobaan duplo agar hasilnya lebih akurat .
Sampel yang kedua adalah fruktosa (C6H12O6). Kondisi tabung reaksi yang berisi AgNO3 dan
NH4OH adalah bening. Saat fruktosa dimasukkan ke dalam tabung reaksi berisi AgNO3 dan
NH4OH tersebut dan dihomogenkan, kondisi tabung reaksi tetap bening. Setelah tabung reaksi
tersebut dipanaskan beberapa saat, kondisi tabung reaksi mengalami perubahan yaitu senyawa
berubah warna menjadi hitam keruh serta terbentuk cermin perak pada dinding tabung reaksi.
Keadaan ini menandakan bahwa uji Tollens pada sampel fruktosa menghasilkan hasil uji yang
positif karena terjadi reaksi antara sampel dengan reagen Tollens. Hal ini sesuai dengan literatur
yang menyatakan bahwa pada fruktosa mengandung gugus aldehid sehingga senyawa akan
bereaksi dengan reagen Tollens membentuk cincin perak pada dinding tabung reaksi sebagai
indikator adanya gugus aldehid. . Pada percobaan pertama dan kedua menghasilkan hasil yang
berbeda. Kesalahan ini dikarenakan praktikan kurang focus dan teliti dalam meletakkan sampel
ke tabung reaksi yang sudah diberi label, sehingga terjadi kesalahan (Julianto, 2015).
 Glukosa
Pada praktikum ini kami melakukan percobaan duplo agar hasilnya lebih akurat. Sampel
yang ketiga adalah glukosa (C6H12O6). Kondisi tabung reaksi yang berisi AgNO3 dan NH4OH
adalah bening. Saat glukosa dimasukkan ke dalam tabung reaksi berisi AgNO3 dan NH4OH
tersebut dan dihomogenkan, kondisi tabung reaksi tetap bening. Setelah tabung reaksi tersebut
dipanaskan beberapa saat, kondisi tabung reaksi mengalami perubahan yaitu terbentuk cermin
perak pada dinding tabung reaksi. Keadaan ini menandakan bahwa uji Tollens pada sampel
glukosa menghasilkan hasil uji yang positif karena terjadi reaksi antara sampel dengan reagen
Tollens. Hal ini sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa pada glukosa mengandung
gugus aldehid sehingga senyawa akan bereaksi dengan reagen Tollens membentuk cincin perak
pada dinding tabung reaksi sebagai indikator adanya gugus aldehid. Pada percobaan pertama
dan kedua menghasilkan hasil yang sama (Julianto, 2015).
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

 Sukrosa
Pada praktikum ini kami melakukan percobaan duplo agar hasilnya lebih akurat. Sampel
yang keempat adalah sukrosa (C12H22O11). Kondisi tabung reaksi yang berisi AgNO3 dan
NH4OH adalah bening. Saat sukrosa dimasukkan ke dalam tabung reaksi berisi AgNO3 dan
NH4OH tersebut dan dihomogenkan, kondisi tabung reaksi tetap bening. Setelah tabung reaksi
tersebut dipanaskan beberapa saat, kondisi tabung reaksi tetap bewarna bening Keadaan ini
menandakan bahwa uji Tollens pada sampel sukrosa menghasilkan hasil uji yang negatif karena
tidak ada reaksi antara sampel dengan reagen Tollens. Hal ini sesuai dengan literatur yang
menyatakan bahwa pada sukrosa tidak mengandung gugus aldehid. Walaupun sukrosa terdiri
dari glukosa dan fruktosa, dimana keduanya menghasilkan uji positif saat diuji dengan reagen
Tollens, sukrosa tidak menghasilkan uji positif saat diuji dengan reagen Tollens. Hal ini
dikarenakan gugus hidroksil (-OH) pada glukosa dan fruktosa saling berikatan melepas H2O
(reaksi dehidrasi) dan ada ikatan oleh oksigen yang menghubungkan kedua senyawa
membentuk sukrosa. Hal tersebut menyebabkan sukrosa tidak mempunyai gugus pereduksi
untuk mereduksi reagen sehingga sukrosa tidak akan bereaksi dengan reagen Tollens dan tidak
akan membentuk cincin perak pada dinding tabung reaksi sebagai indikator adanya gugus
aldehid. Pada percobaan pertama dan kedua menghasilkan hasil yang sama (Shankara, 2008).
 Formaldehid
Pada praktikum ini kami melakukan percobaan duplo agar hasilnya lebih akurat. Sampel
yang kelima adalah formaldehid (CH2O). Kondisi tabung reaksi yang berisi AgNO3 dan
NH4OH adalah bening. Saat formaldehid dimasukkan ke dalam tabung reaksi berisi AgNO3
dan NH4OH tersebut dan dihomogenkan, kondisi tabung reaksi mengalami perubahan yaitu
terbentuk sedikit cermin perak pada tabung reaksi (terlihat samar). Setelah tabung reaksi
tersebut dipanaskan beberapa saat, kondisi cermin/endapan perak pada tabung reaksi semakin
banyak dan semakin jelas terlihat. Keadaan ini menandakan bahwa uji Tollens pada sampel
formaldehid menghasilkan hasil uji yang positif karena terjadi reaksi antara sampel dengan
reagen Tollens. Hal ini sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa pada formaldehid
mengandung gugus aldehid sehingga senyawa akan bereaksi dengan reagen Tollens
membentuk cincin perak pada dinding tabung reaksi sebagai indikator adanya gugus aldehid.
Pada percobaan pertama dan kedua menghasilkan hasil yang sama (Julianto, 2015).
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

d. Reaksi tiap Sampel


 Aseton (Marzuki, 2010).
O

CH3 — C — CH3 + Ag2O (tidak ada reaksi)

 Fruktosa (Marzuki, 2010).

+ Ag2O + 2Ag↓

 Glukosa (Marzuki, 2010).

CH2OH(CHOH)4CHO + Ag2O CH2OH(CHOH)4COOH + 2Ag↓

 Sukrosa (Marzuki, 2010).

+ Ag2O (tidak ada reaksi)

 Formaldehid (Marzuki, 2010).


O O

H — C — H + Ag2O H — C — OH + 2Ag↓
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

2. Uji Fehling
a. Prinsip
Prinsip dari uji Fehling adalah membedakan antara gugus aldehid dan keton dengan
menambahkan reagen Fehling A dan Fehling B dimana akan terjadi reaksi reduksi oksidasi.
Pada uji Fehling, aldehid akan teroksidasi menjadi asam karboksilat sedangkan ion Cu2+ dari
reagen CuSO4 akan tereduksi menjadi Cu+. Uji positif pada uji Fehling ditandai dengan
terbentuknya endapan merah bata pada tabung reaksi yang menyatakan bahwa sampel yang
diuji mengandung gugus aldehid.
b. Analisa Prosedur
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk membedakan senyawa aldehid dan keton dengan
menggunakan uji Tollens dan Fehling serta untuk memahami reaksi yang terjadi selama uji
Tollens dan Fehling.
Sebelum memulai percobaan, hal pertama yang harus dilakukan adalah menyiapkan alat
dan bahan. Alat-alat yang digunakan pada praktikum uji Tollens ini adalah 5 buah tabung
reaksi, 5 buah label, 1 buah rak tabung reaksi, 3 buah pipet tetes, 5 buah pipet ukur 1 ml, 1 buah
bulb, 1 buah bunsen (pembakar spirtus), 1 buah penjepit kayu, dan tisu. Tabung reaksi
digunakan sebagai wadah sampel yang akan diuji. Label digunakan untuk memberi tanda atau
nama pada tabung reaksi sesuai nama sampel yang terletak pada tabung reaksi agar data tidak
tertukar antara sampel yang satu dengan sampel yang lain selama percobaan dan pengamatan
berlangsung. Rak tabung reaksi digunakan sebagai wadah utuk meletakkan tabung reaksi agar
lebih tertata. Pipet tetes digunakan untuk mengambil sampel dan reagen yang tidak memerlukan
ukuran yang pasti/akurat (hanya diperlukan dalam ukuran tetesan). Pipet ukur 1 ml digunakan
untuk mengambil sampel sebanyak 1 ml dengan lebih akurat apabila dibandingkan dengan
mengambil sampel dengan menggunakan pipet tetes. Bulb digunakan sebagai alat bantu untuk
mengambil sampel menggunakan pipet ukur. Bunsen digunakan sebagai sumber panas.
Penjepit kayu digunakan sebagai alat bantu untuk mengambil, memegang, dan meletakkan
tabung reaksi agar lebih aman terutama saat dan setelah melakukan pemanasan pada tabung
reaksi. Tisu digunakan sebagai alat untuk mengeringkan peralatan setelah digunakan dan
dibersihkan.
Sementara itu, bahan-bahan yang dibutuhkan dalam percobaan ini adalah aseton,
fruktosa, glukosa, sukrosa, formaldehid, reagen Fehling A, reagen Fehling B, dan NaOH.
Aseton, fruktosa, glukosa, sukrosa, dan formaldehid digunakan sebagai sampel untuk kemudian
akan diidentifikasi apakah sampel tersebut mengandung gugus aldehid atau tidak. Reagen
Fehling A dan Fehling B digunakan sebagai oksidator yang akan bereaksi dengan sampel
bergugus aldehid membentuk endapan merah bata. NaOH digunakan untuk membuat Fehling
B (bersama dengan kalium natrium tartrat).
Setelah menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan, langkah selanjutnya adalah memberikan
nama pada 5 tabung reaksi sesuai dengan nama sampel yang akan dimasukkan pada tabung
reaksi tersebut dengan menggunakan label. Label bertuliskan aseton untuk tabung yang akan
diisi dengan aseton, label bertuliskan fruktosa untuk tabung yang akan diisi dengan fruktosa,
label bertuliskan glukosa untuk tabung yang akan diisi dengan glukosa, label bertuliskan
sukrosa untuk tabung yang akan diisi dengan sukrosa, dan label bertuliskan formaldehid untuk
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

tabung yang akan diisi dengan formaldehid. Kemudian, masukkan masing-masing 5 tetes
Fehling A ke dalam 5 tabung reaksi. Setelah itu, masukkan masing-masing 5 tetes NaOH ke
dalam 5 tabung reaksi. Kemudian, masukkan masing-masing 10 tetes Fehling B ke dalam 5
tabung reaksi. Setelah itu, masukkan masing-masing 1 ml sampel ke dalam tabung reaksi
dengan menggunakan pipet ukur 1 ml dan bulb. Cara menggunakan bulb adalah pertama-tama
bulb dikempeskan dengan menekan tombol A sambil mengempeskan bola bulb. Setelah itu,
pasang bulb pada pipet ukur dan masukkan pipet pada wadah berisi sampel. Hisap sampel
dengan menekan tombol S pada bulb hingga mencapai 1 ml dengan memperhatikan meniskus
bawah sampel. Hindari menghisap sampel melebihi batas pada pipet atau hingga masuk ke
dalam bulb untuk mencegah kerusakan bulb. Pandangan mata harus tegak lurus dengan garis-
garis batas pada pipet ukur. Setelah itu, masukkan reagen di dalam pipet ke dalam tabung reaksi
dengan menekan tombol E pada bulb dan tekan lubang yang terdapat di sebelah tombol E untuk
mengeluarkan sisa-sisa sampel yang masih terdapat pada ujung pipet. Masukkan sampel ke
dalam tabung berlabel yang sesuai dengan nama sampel yang diambil. Homogenkan seluruh
senyawa pada tabung reaksi dengan menggoyang-goyangkan tabung reaksi. Amati dan catat
kondisi (warna) pada masing-masing tabung reaksi. Kemudian, panaskan masing-masing
tabung reaksi di atas api bunsen dengan bantuan penjepit kayu selama beberapa saat. Caranya
adalah nyalakan api bunsen dengan menggunakan korek api. Kemudian, jepit tabung reaksi
dengan menggunakan penjepit kayu. Panaskan tabung reaksi ke api bunsen dengan melewati
tabung tersebut ke api secara bolak-balik selama beberapa saat. Lakukan hal tersebut hingga
terjadi reaksi atau hingga sampel mendidih. Lakukan pemanasan tersebut untuk seluruh tabung
reaksi. Letakkan tabung reaksi di rak tabung reaksi dan tunggu beberapa saat. Amati dan catat
kondisi pada masing-masing sampel di dalam tabung reaksi tersebut. Setelah itu, buang sampel
ke tempat yang telah disediakan. Cuci semua peralatan yang telah digunakan hingga bersih dan
keringkan dengan menggunakan tisu.
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

c. Analisa Hasil
 Aseton
Pada praktikum ini kami melakukan percobaan duplo agar hasilnya lebih akurat. Sampel
yang pertama adalah aseton (C3H6O). Kondisi tabung reaksi yang berisi reagen Fehling A,
NaOH, dan Fehling B adalah biru bening. Saat aseton dimasukkan ke dalam tabung reaksi berisi
ketiga senyawa tersebut dan dihomogenkan, kondisi tabung berubah menjadi hijau kekuningan.
Setelah tabung reaksi tersebut dipanaskan beberapa saat, kondisi tabung reaksi mengalami
perubahan yaitu terdapat 2 lapisan dimana lapisan atas berwarna kuning dan lapisan bawah
berwarna biru. Keadaan ini menandakan bahwa uji Fehling pada sampel aseton menghasilkan
hasil uji yang negatif karena tidak ada reaksi antara sampel dengan reagen Fehling. Hal ini
sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa pada aseton tidak mengandung gugus aldehid,
karena aseton merupakan senyawa keton, sehingga senyawa tidak akan bereaksi dengan reagen
Fehling dan tidak akan membentuk endapan merah bata pada tabung reaksi sebagai indikator
adanya gugus aldehid. Pada percobaan pertama dan kedua menghasilkan hasil yang sama
(Shankara, 2008).
 Fruktosa
Pada praktikum ini kami melakukan percobaan duplo agar hasilnya lebih akurat. Sampel
yang kedua adalah fruktosa (C6H12O6). Kondisi tabung reaksi yang berisi reagen Fehling A,
NaOH, dan Fehling B adalah biru bening. Saat fruktosa dimasukkan ke dalam tabung reaksi
berisi ketiga senyawa tersebut dan dihomogenkan, kondisi tabung berubah menjadi biru tua.
Setelah tabung reaksi tersebut dipanaskan beberapa saat, kondisi tabung reaksi mengalami
perubahan yaitu senyawa berubah warna menjadi merah bata (terbentuk endapan merah bata).
Keadaan ini menandakan bahwa uji Fehling pada sampel fruktosa menghasilkan hasil uji yang
positif karena terjadi reaksi antara sampel dengan reagen Fehling. Hal ini sesuai dengan literatur
yang menyatakan bahwa pada fruktosa mengandung gugus aldehid sehingga senyawa akan
bereaksi dengan reagen Fehling membentuk endapan merah bata pada tabung reaksi sebagai
indikator adanya gugus aldehid. Pada percobaan pertama dan kedua menghasilkan hasil yang
sama (Chawla, 2014).
 Glukosa
Pada praktikum ini kami melakukan percobaan duplo agar hasilnya lebih akurat. Sampel
yang ketiga adalah glukosa (C6H12O6). Kondisi tabung reaksi yang berisi reagen Fehling A,
NaOH, dan Fehling B adalah biru bening. Saat glukosa dimasukkan ke dalam tabung reaksi
berisi ketiga senyawa tersebut dan dihomogenkan, kondisi tabung berubah menjadi berwarna
biru tua. Setelah tabung reaksi tersebut dipanaskan beberapa saat, kondisi tabung reaksi
mengalami perubahan yaitu senyawa berubah warna menjadi merah (terbentuk endapan
merah). Keadaan ini menandakan bahwa uji Fehling pada sampel glukosa menghasilkan hasil
uji yang positif karena terjadi reaksi antara sampel dengan reagen Fehling. Hal ini sesuai dengan
literatur yang menyatakan bahwa pada glukosa mengandung gugus aldehid sehingga senyawa
akan bereaksi dengan reagen Fehling membentuk endapan merah bata pada tabung reaksi
sebagai indikator adanya gugus aldehid. Pada percobaan pertama dan kedua menghasilkan
hasil yang sama (Chawla, 2014).
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

 Sukrosa
Pada praktikum ini kami melakukan percobaan duplo agar hasilnya lebih akurat. Sampel
yang keempat adalah sukrosa (C12H22O11). Kondisi tabung reaksi yang berisi reagen Fehling A,
NaOH, dan Fehling B adalah biru bening. Saat sukrosa dimasukkan ke dalam tabung reaksi
berisi ketiga senyawa tersebut dan dihomogenkan, kondisi tabung berubah warna menjadi biru
tua. Setelah tabung reaksi tersebut dipanaskan beberapa saat, kondisi tabung reaksi mengalami
perubahan yaitu senyawa berubah warna menjadi biru. Keadaan ini menandakan bahwa uji
Fehling pada sampel sukrosa menghasilkan hasil uji yang negatif karena tidak ada reaksi antara
sampel dengan reagen Fehling. Hal ini sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa pada
sukrosa tidak mengandung gugus aldehid. Walaupun sukrosa terdiri dari glukosa dan fruktosa,
dimana keduanya menghasilkan uji positif saat diuji dengan reagen Fehling, sukrosa tidak
menghasilkan uji positif saat diuji dengan reagen Fehling. Hal ini dikarenakan gugus hidroksil
(-OH) pada glukosa dan fruktosa saling berikatan melepas H2O (reaksi dehidrasi) dan ada ikatan
oleh oksigen yang menghubungkan kedua senyawa membentuk sukrosa. Hal tersebut
menyebabkan sukrosa tidak mempunyai gugus pereduksi untuk mereduksi reagen sehingga
sukrosa tidak akan bereaksi dengan reagen Fehling dan tidak akan membentuk endapan merah
bata pada tabung reaksi sebagai indikator adanya gugus aldehid. Pada percobaan pertama dan
kedua menghasilkan hasil yang sama (Shankara, 2008).
 Formaldehid
Pada praktikum ini kami melakukan percobaan duplo agar hasilnya lebih akurat. Sampel
yang kelima adalah formaldehid (CH2O). Kondisi tabung reaksi yang berisi reagen Fehling A,
NaOH, dan Fehling B adalah biru bening. Saat sukrosa dimasukkan ke dalam tabung reaksi
berisi ketiga senyawa tersebut dan dihomogenkan, kondisi tabung berubah warna menjadi
bening. Setelah tabung reaksi tersebut dipanaskan beberapa saat, kondisi tabung reaksi
mengalami perubahan yaitu senyawa berubah warna menjadi merah bata (terbentuk endapan
merah bata). Keadaan ini menandakan bahwa uji Fehling pada sampel formaldehid
menghasilkan hasil uji yang positif karena terjadi reaksi antara sampel dengan reagen Fehling.
Hal ini sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa pada formaldehid mengandung gugus
aldehid sehingga senyawa akan bereaksi dengan reagen Fehling membentuk endapan merah
bata pada tabung reaksi sebagai indikator adanya gugus aldehid. Pada percobaan pertama dan
kedua menghasilkan hasil yang berbeda. Kesalahan ini dikarenakan praktikan kurang fokus
dan teliti dalam meletakkan sampel ke tabung reaksi yang sudah diberi label, sehingga terjadi
kesalahan. (Chawla, 2014).
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

d. Reaksi tiap Sampel


 Aseton (Marzuki, 2010).
O

CH3 — C — CH3 + 2CuO (tidak ada reaksi)

 Fruktosa (Marzuki, 2010).

+ 2CuO + Cu2O↓

 Glukosa (Marzuki, 2010).

CH2OH(CHOH)4CHO + 2CuO CH2OH(CHOH)4COOH + Cu2O↓

 Sukrosa (Marzuki, 2010).

+ 2CuO (tidak ada reaksi)

 Formaldehid (Marzuki, 2010).


O O

H — C — H + 2CuO H — C — OH + Cu2O↓
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

E. PERTANYAAN
1. Apa fungsi penambahan larutan AgNO3 5% dalam percobaan uji Tollens?
Larutan AgNO3 merupakan oksidator lemah. Penambahan larutan AgNO3 5% dilakukan
sebagai reagen dalam uji Tollens yang akan mengoksidasi gugus aldehid menjadi asam
karboksilat dan membentuk cermin perak akibat ion Ag+ yang tereduksi menjadi perak.
Uji positif ditandai dengan terbentuknya cermin perak yang menjadi indikator adanya
gugus aldehid pada sampel yang diuji (Ammar, 2014).
2. Apa fungsi penambahan larutan NH4OH 6 M dalam percobaan uji Tollens?
Fungsi dari penambahan larutan NH4OH 6 M dalam uji Tollens adalah untuk mencegah
endapan ion perak sebagai oksida pada suhu tinggi (untuk mencegah terbentuknya
endapan awal dan melepas Ag) serta untuk membuat suasana basa agar sampel tidak
mudah cepat teroksidasi (Ammar, 2014).
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

F. KESIMPULAN
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk membedakan senyawa aldehid dan keton dengan
menggunakan uji Tollens dan Fehling serta untuk memahami reaksi yang terjadi selama uji
Tollens dan Fehling.
Prinsip dari uji Tollens adalah membedakan antara gugus aldehid dan keton dengan
menambahkan reagen Tollens (AgNO3) dimana akan terjadi reaksi reduksi oksidasi. Pada uji
Tollens, aldehid akan teroksidasi menjadi asam karboksilat sedangkan ion Ag+ dari reagen
AgNO3 akan tereduksi menjadi logam Ag. Uji positif pada uji Tollens ditandai dengan
terbentuknya cermin perak atau endapan perak pada dinding-dinding tabung reaksi yang
menyatakan bahwa sampel yang diuji mengandung gugus aldehid. Sementara itu, prinsip dari
uji Fehling adalah membedakan antara gugus aldehid dan keton dengan menambahkan reagen
Fehling A dan Fehling B dimana akan terjadi reaksi reduksi oksidasi. Pada uji Fehling, aldehid
akan teroksidasi menjadi asam karboksilat sedangkan ion Cu2+ dari reagen CuSO4 akan
tereduksi menjadi Cu+. Uji positif pada uji Fehling ditandai dengan terbentuknya endapan
merah bata pada tabung reaksi yang menyatakan bahwa sampel yang diuji mengandung gugus
aldehid.
Berdasarkan data hasil pengamatan pada uji Tollens, sampel aseton berwarna hitam
keruh dan tidak terdapat endapan saat bercampur dengan reagen Tollens serta setelah
dipanaskan. Hal ini menunjukkan bahwa aseton tidak mengandung gugus aldehid karena aseton
merupakan senyawa keton. Sampel fruktosa dan glukosa terbentuk cermin perak pada dinding
tabung reaksi setelah dipanaskan. Hal ini menunjukkan bahwa fruktosa dan glukosa
mengandung gugus aldehid. Sampel sukrosa tidak berwarna (bening) saat bercampur dengan
reagen Tollens serta setelah dipanaskan. Hal ini menunjukkan bahwa sukrosa tidak
mengandung gugus aldehid karena sukrosa tidak mempunyai gugus pereduksi untuk mereduksi
reagen. Sampel formaldehid berwarna hitam keruh serta terbentuk cermin perak pada dinding
tabung reaksi saat bercampur dengan reagen Tollens serta setelah dipanaskan. Hal ini
menunjukkan bahwa formaldehid mengandung gugus aldehid.
Berdasarkan data hasil pengamatan pada uji Fehling, sampel aseton mengandung 2
lapisan yaitu lapisan kuning dan biru saat bercampur dengan reagen Fehling serta setelah
dipanaskan. Hal ini menunjukkan bahwa aseton tidak mengandung gugus aldehid karena aseton
merupakan senyawa keton. Sampel fruktosa dan glukosa saat bercampur dengan reagen Fehling
serta setelah dipanaskan berubah warna menjadi merah bata dan terdapat endapan. Hal ini
menunjukkan bahwa fruktosa dan glukosa mengandung gugus aldehid. Sampel sukrosa
berwarna biru saat bercampur dengan reagen Fehling serta setelah dipanaskan. Hal ini
menunjukkan bahwa sukrosa tidak mengandung gugus aldehid karena sukrosa tidak
mempunyai gugus pereduksi untuk mereduksi reagen. Sampel formaldehid berwarna merah dan
terdapat endapan saat bercampur dengan reagen Fehling serta dipanaskan. Hal ini menunjukkan
bahwa formaldehid mengandung gugus aldehid.
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

DAFTAR PUSTAKA
Apituley, Daniel A.N. 2009. Pengaruh Penggunaan Formalin Terhadap Kerusakan Protein
Daging Ikan Tuna (Thunus Sp). Jurnal Agritech 29(1): 23
Bettelheim, Frederick. 2010. Laboratory Experiments for Introduction to General, Organic,
and Biochemistry. Belmont: Cengage Learning
Chawla, Ranjna. 2014. Practical Clinical Biochemistry Methods and Interpretations. New
Delhi: Jaypee Brothers Medical Publishers
Fatimah, Siti. 2010. Sifat Kimia dan Sifat Fisik Air. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia
Marzuki, dkk. 2010. Kimia Dalam Keperawatan. Makassar: Pustaka As-Salam
Rifai, Endah Fajriani. 2017. Sintesis 4-(4ꞌ-Hidroksi-3ꞌ-Metoksifenil)-3,4-Dihidroksibutan- 2-
On Melalui Reaksi Oksidasi Senyawa Hasil Sintesis Antara Vanilin Dan Aseton. Yogyakarta:
Universitas Negri Yogyakarta
Sarastina, Puji. 2014. Produksi Biodiesel Melalui Proses Transesterifikasi Minyak Curah
Dengan Metode Distilasi Reaktif Berdasarkan Ratio Umpan. Semarang: Universitas
Diponegoro
Saraswati, Indah. 2016. Panduan Praktikum Kimia. Yogyakarta: Deepublish
Sumardjo, Damin. 2009. Pengantar Kimia: Buku Panduan Kuliah Mahasiswa Kedokteran dan
Program Strata I Fakultas Bioeksakta. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

DAFTAR PUSTAKA TAMBAHAN


Ammar, Ganjar. 2014. Sifat dan Reaksi Kimia. Bandung: Institut Teknologi Bandung
Chawla, Ranjna. 2014. Practical Clinical Biochemistry: Methods and Interpretations. New
Delhi: Jaypee Brothers Medical Publishers
Julianto, Tatang. 2015. BIOKIMIA: Biomolekul dalam Perspektif Al-Qur’an. Yogyakarta:
Deepublish
Marzuki, dkk. 2010. Kimia Dalam Keperawatan. Makassar: Pustaka As-Salam
Shankara, Shivaraja. 2008. Laboratory Manual for Practical Biochemistry. New Delhi: Jaypee
Brothers Medical Publishers
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

LAMPIRAN

(Uji Fehling setelah


pemanasan)

(Uji Tollens setelah


pemanasan)