Anda di halaman 1dari 12

TUGAS INTERNSHIP

LAPORAN KASUS
FRAKTUR GREENSTICK 1/3 DISTAL RADIUS SINISTRA

OLEH
Try Widianto Putra Nugraha

PEMBIMBING INTERNSHIP
dr. Ita Patriani, MARS

PROGRAM INTERNSHIP KEMENTRIAN KESEHATAN RI


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH MATARAM
KOTA MATARAM
2019
LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS
• Nama : An. M
• Usia : 11 tahun
• Jenis Kelamin : Laki-laki
• Alamat : Pagutan - Mataram
• No. RM : 330459
• Tanggal Masuk : 16 Mei 2019

B. ANAMNESIS
• Keluhan utama : Nyeri Tangan Kiri
• Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang dengan Keluhan Nyeri tangan kiri post terjatuh dari sepeda pukul
07.00 WITA. Pasien terjatuh kekiri dan tangan kirinya terbentur aspal. Pasien
mengatakan tangan kirinya nyeri saat digerakkan. Riwayat nyeri kepala (-), mual
(-), muntah (-).
 Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat Keluhan Serupa (-), Riwayat Kejang (-), Asma (-)
 Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat Asma (-), Riwayat Kejang (-)
 Riwayat Pengobatan
Pada saat dirumah sakit pasien sudah terpasang bidai yang dipasangkan oleh
pamannya,

C. PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis
- Keadaan Umum : Sedang
- Kesadaran : Compos mentis
- GCS : E4V5M6
- Vital Sign

2
 Tekanan darah : 100/60 mmHg
 Nadi : 94 x/ menit, regular dan kuat angkat
 Nafas : 20 x/ menit
 Suhu : 36,6 C
 Saturasi : 100%
 BB: 32 kg

KEPALA – LEHER
- Bentuk : Normocepali
- Mata : Anemis -/-, Ikterik -/-, Edema Palpebra -/-
- Mulut : Bibir sianosis (-), faring dan tonsil dalam batas normal
- Hidung : Napas cuping hidung (-), Rhinorhea (-)
- Leher : Kaku kuduk(-)
-
THORAKS
- Inspeksi : Retraksi (-), pergerakan dinding dada simetris, deformitas (-)
- Palpasi : Vokal fremitus simetris kiri dan kanan
- Perkusi : Sonor pada kedua lapangan paru
- Auskultasi :
 Pulmo : Vesikuler +/+, rhonki -/-, wheezing -/-
 Cor : S1S2 tunggal regular, murmur (-), gallop (-)

ABDOMEN
- Inspeksi : distensi (+), massa (-)
- Auskultasi : Peristaltik (+) kesan normal
- Palpasi : Nyeri tekan (+) regio suprasimfisis , organomegali(-)
- Perkusi : Timpani (+) seluruh lapangan abdomen, CVA -/-

EKSTREMITAS
- Ektremitas atas : hangat +/+, edema -/-
- Ektremitas bawah : hangat +/+, edema -/-

3
- CRT < 2 detik,
- Terpasang bidai pada tangan kiri.

Status Lokalis
 Look : edema (+)
 Feel : nyeri tekan (+), krepitasi (-)
 Movement : ROM terbatas

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Rontgen Radioulnar Sinistra

ASSESSMENT
• Fraktur Greenstick 1/3 Distal Radius Sinistra

TATALAKSANA
• Ibuprofen syr 3 x 2 cth
• Immobilisasi menggunakan elastic bandage dan arm sling
• KIE

4
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Fraktur greenstick adalah fraktur dimana salah satu sisi patah dan sisi lainnya
melengkung. Disebut fraktur greenstick karena bentuk patahannya sama dengan patahan
dahan hijau (pohon muda segar), dimana jika dahan hijau patah maka hanya satu sisi saja
yang patah sedangkan sisi yang lainnya melengkung tetapi masih intak. Fraktur greenstick
terjadi apabila ada robekan periosteum dan kortex pada daerah konveks dari
deformitas.Pada fraktur greenstick, ada bagian korteks yang masih intak. Jadi pada fraktur
greenstick, fraktur terjadi pada korteks yang terdapat pada sisi yang berlawanan dari arah
energi sedangkan korteks yang langsung mendapat energi masih intak. Fraktur greenstick
merupakan fraktur yang stabil karena sebagian dari tulang tetap utuh dan tak terputus.1,2,3
Bentuk fraktur pada anak-anak yaitu plastic deformation, fraktur buckle atau
torus, fraktur greenstick, fraktur komplit, dan kerusakan pada lempeng pertumbuhan.
Fraktur greenstick termasuk dalam fraktur incomplete pada anak-anak.4,5

2.2 Insiden
Fraktur pada lengan bawah merupakan fraktur yang paling sering (lebih dari
50%) terjadi pada anak-anak. Fraktur pada anak-anak lebih sering terjadi pada
metafisis.Fraktur dapat mengenai salah satu tulang baik radius atau ulna saja, tapi
kebanyakan pada kedua tulang. Dimana 75% fraktur pada radius dan ulna terjadi pada
sepertiga distal. Puncak umur terjadinya fraktur pada anak-anak adalah antara 5-12 tahun
dengan rata-rata umur 8 tahun.4,5

2.3 Patofisiologi
Bentuk fraktur yang unik pada anak-anak adalah hasil dari perbedaan biologis
antara anak-anak dengan dewasa. Secara spesifik, keberadaan lempeng pertumbuhan
(growth plate), periosteum yang tebal, serta kemampuan tulang anak-anak yang elastis
seperti plastik, dan kemampuan mengalami remodelling adalah dasar dari gambaran fraktur
yang khas pada anak-anak.Tulang pada anak-anak lebih lembut dan lebih elastis daripada
tulang dewasa, sehingga lebih tahan terhadap tekanan. Kepadatan tulang pada anak-anak
lebih rendah daripada tulang dewasa, tetapi periosteumnya lebih tebal. Karena tulang pada

5
anak-anak mempunyai elastisitas yang tinggi dan periosteum yang tebal maka jarang
didapatkan fraktur komplit pada anak-anak.6,7
Fraktur greenstick merupakan fraktur inkomplit pada anak-anak. Fraktur
greenstick terjadi karena adanya kompresi longitudinal dan torsional. Ada dua jenis fraktur
greenstick yaitu angulasi ke volar (sering ditemukan) dan angulasi ke dorsal (jarang
ditemukan).6,8

Pola fraktur greenstick terjadi sebagai akibat dari elastisitas tulang. Fraktur pada
anak-anak paling sering disebabkan jatuh karena bermain atau sedang berolahraga. Faktor
resiko terjadinya fraktur greenstick adalah aktivitas dengan resiko jatuh atau dapat juga
karena adanya pukulan (kompresi) pada lengan bawah.8

2.4 Gambaran klinis


2.4.1 Anamnesa
Sering kali pasien datang sudah dengan keluhan bahwa tulangnya patah karena
jelasnya keadaan patah tulang tersebut bagi pasien. Sebaliknya juga mungkin, fraktur tidak
disadari oleh penderita dan mereka datang dengan keluhan keseleo, terutama patah yang
disertai dislokasi fragmen yang minimal.9
Riwayat trauma tertentu, seperti jatuh, terputar, tertumbuk, dan berapa kuatnya
trauma tersebut. Pada pasien dengan riwayat trauma yang perlu ditanyakan adalah waktu
terjadinya, cara terjadinya, posisi penderita dan lokasi trauma. Pada fraktur greenstick
dapat terjadi karena jatuh (kompresi longitudinal) atau adanya pukulan pada lengan
bawah.9,10
Dapat juga didapatkan keluhan nyeri meskipun fraktur yang fragmen patahannya
stabil, kadang tidak menimbulkan keluhan nyeri. Pada anak-anak yang lebih kecil akan
menghindari gerakan pada lengannya sehingga terjadi ”pseudoparalisis”. Pada fraktur
greenstick juga terdapat nyeri di daerah fraktur.9,10
Perlu diperhatikan lokasi keluhannya. Anak-anak dengan fraktur pada lengan
bawah akan terjadi nyeri, bengkak dan krepitasi yang merupakan diagnosa pasti. Fraktur
greenstick dapat menunjukkan deformitas lebih jelas yang menjelaskan bahwa terjadi
kerusakan yang lebih berat.11

6
2.4.2 Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan untuk menentukan ada atau tidaknya fraktur terdiri atas tiga langkah
yaitu lihat (inspeksi/look), raba (palpasi/feel), dan gerakan (move).11
a. Inspeksi / look
Terlihat adanya asimetris pada kontur atau postur, pembengkakan, dan perubahan
warna local. Pasien merasa kesakitan, mencoba melindungi anggota badannya
yang patah, terdapat pembengkakan, perubahan bentuk berupa bengkok, terputar,
pemendekan, dan juga terdapat gerakan yang tidak normal. Pasien diinstruksikan
untuk menggerakkan bagian distal lesi, bandingkan dengan sisi yang sehat.
b. Palpasi / feel
Nyeri yang secara subyektif dinyatakan dalam anamnesis, didapatkan juga secara
objektif pada palpasi. Nyeri itu berupa nyeri tekan yang sifatnya sirkuler dan
nyeri tekan sumbu pada waktu menekan atau menarik dengan hati-hati anggota
badan yang patah searah dengan sumbunya.
Status neurologis dan vaskuler di bagian distalnya perlu diperiksa. Lakukan
palpasi pada daerah ekstremitas tempat fraktur tersebut, meliputi persendian di
atas dan di bawah cedera, status vaskuler di bagian distal lesi. Keadaan vaskuler
ini dapat diperoleh dengan memeriksa warna kulit dan suhu di distal fraktur.
Neurovaskularisasi yang perlu diperhatikan pada bagian distal fraktur
diantaranya, pulsasi arteri, warna kulit, pengembalian cairan kapiler (capillary
refill test), dan sensibilitas.
c. Gerakan / move
Pemeriksaan gerak persendian secara aktif termasuk dalam pemeriksaan rutin
fraktur. Adanya keterbatasan gerakan disertai nyeri dan deformitas menunjukkan
adanya fraktur.

2.5 Pemeriksaan penunjang


Sebagai penunjang, pemeriksaan yang penting adalah pemeriksan Radiologi.
Untuk melengkapi deskripsi fraktur dan dasar untuk tindakan selanjutnya. Foto rontgen
minimal harus dua proyeksi yaitu anteroposterior (AP) dan lateral. Foto rontgen X-ray
dapat menunjukkan fraktur greenstick. Tetapi dalam beberapa kasus, pada foto rontgen X-

7
ray susah dilihat adanya fraktur greenstick, hal ini disebabkan karena tulang pada anak-
anak masih lunak sehingga gambaran pada foto rontgen X-ray kurang jelas. Dalam kasus
ini, ultrasound atau computerized tomography (CT) scan dapat menunjukkan gambaran
yang lebih baik.7,8

Gambar 6 foto rontgen X-ray fraktur greenstick.3

Gambar 7 CT-scan 3D fraktur greenstick.3


2.6 Diagnosa
Diagnosa ditegakkan atas dasar anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang yaitu radiologis.4
Pada anamnesa didapatkan adanya riwayat trauma (jatuh/kompresi longitudinal
atau terpukul pada lengan bawah), nyeri, pembengkakan, perubahan bentuk pada lengan
bawah.7,11
Pada pemeriksaan fisik pada lengan bawah didapatkan deformitas (angulasi dan
rotasi), bengkak atau kebiruan, fungsio laesa, nyeri tekan, krepitasi serta nyeri bila
digerakkan, baik gerak aktif maupun pasif.7,11
Sebagai penunjang, pemeriksaan yang penting adalah pemeriksan radiologi.
Untuk melengkapi deskripsi fraktur dan dasar untuk tindakan selanjutnya. Foto rontgen

8
minimal harus dua proyeksi yaitu AP dan lateral. Ultrasound atau computerized
tomography (CT) scan dapat juga digunakan untuk menunjukkan gambaran yang lebih
baik.11

2.7 Penatalaksanaan
Pedoman terapi fraktur berdasarkan umur dari anak, lokasi fraktur dan derajat
displacement dan angulasi. Terapi yang digunakan adalah dengan reposisi tertutup dan
immobilisasi dengan gips. Reposisi fraktur dapat menggunakan semua teknik anestesi
secara umum, termasuk intramuscular, sedasi intravena, blok axilla atau anestesi umum.
Fraktur pada anak-anak jarang dibutuhkan tindakan bedah dibandingkan fraktur pada
dewasa. Fraktur sepertiga distal sampai sepertiga tengah dari lengan bawah dapat diterapi
dengan short-arm cast, long-arm cast dapat juga digunakan untuk mencegah terjadinya
late displacement atau angulasi. Displacement yang signifikan pada fraktur lengan bawah
dapat digunakan long-arm cast untuk mengontrol rotasi dan angulasi. Karena pada fraktur
greenstick terdapat rotasi dan angulasi maka sebaiknya menggunakan long-arm cast
dengan siku difleksikan 90 derajat. Angulasi pada fraktur greenstick dapat direposisi
dengan traksi dan kontertraksi. Pada fraktur greenstick sering dilakukan pematahan pada
korteks yang berlawanan untuk mencegah angulasi berulang selama di dalam gips.2,10
Derajat angulasi yang dapat diterima pada fraktur sepertiga tengah radius dan
ulna yaitu hingga 30 derajat pada bayi, sedangkan pada anak-anak hingga 15 derajat
tergantung umur. Pada anak-anak, jika angulasi kurang dari 10 derajat dengan umur kurang
dari 10 tahun maka tidak memerlukan koreksi angulasi. Sedangkan angulasi yang dapat
diterima pada fraktur sepertiga distal radius dan ulna yaitu hingga 30 derajat pada bayi dan
15 derajat pada anak-anak.10
Pemasangan gips untuk immobilisasi bervariasi tergantung umur :11
0 – 2 tahun 2 – 3 minggu
2 – 5 tahun 3 – 4 minggu
6 – 10 tahun 5 – 6 minggu
> 10 tahun 6 – 8 minggu

9
Fraktur greenstick bisa memerlukan waktu lama untuk menyembuhkan karena
mereka cenderung terjadi di tengah, bagian tulang tumbuh lebih lambat.11
Reposisi pada fraktur greenstick dengan angulasi ke volar adalah dengan
memposisikan lengan bawah dalam posisi pronasi, sedangkan jika angulasi ke dorsal maka
lengan bawah dalam posisi supinasi. Selama reposisi perlu untuk menjaga tekanan pada
sendi periosteal tetap utuh. Long-arm cast dapat digunakan setelah lengan bawah
diposisikan supinasi atau pronasi.11
Evaluasi terapi dilakukan setiap minggu selama 3 minggu untuk mengetahui
adanya re-angulasi pada fraktur setelah swelling menghilang. Jika re-angulasi terjadi
kurang dari 2 minggu maka dapat dilakukan koreksi manual, tetapi jika sudah lebih dari 2
minggu angulasi dapat menjadi permanen karena proses penyembuhan berjalan cepat.
Selama dan sesudah pemasangan gips, pada umumnya pasien tidak memerlukan latihan
fisioterapi secara khusus.11

2.8 Komplikasi
Dapat terjadi penjeratan neurovascular pada daerah lengan bawah. Selain itu
dapat terjadi deformitas berulang, re-angulasi lebih banyak terjadi pada fraktur greenstick
dengan angulasi ke ventral daripada dorsal. Dan banyak juga terjadi pada fraktur greenstick
pada radius sedangkan ulna masih intak.10

10
KESIMPULAN

Karakteristik tulang pada anak-anak berbeda dengan tulang pada dewasa, tulang
pada anak mempunyai elastisitas yang lebih tinggi. Hal ini menyebabkan terjadinya fraktur
yang khas pada anak-anak, salah satunya yaitu fraktur greenstick. Lokasi fraktur pada
anak-anak paling sering pada lengan bawah dikarenakan saat anak bermain dan terjatuh.
Terapi pada fraktur greenstick umumnya tidak memerlukan tindakan pembedahan, hanya
menggunakan reposisi tertutup dan diimobilisasi menggunakan gips selama jangka waktu
tertentu tergantung umur. Komplikasi yang paling sering terjadi adalah adanya deformitas
berulang, namun hal ini dapat dicegah dengan evaluasi selama pemasangan gips.

11
DAFTAR PUSTAKA

1. Luqmany Raashid. Textbook of orthopaedics, trauma and rheumatology. Mosby


Elsevier New York. 2008
2. Pizzutilo D Peter. Pediatric orthopaedics in primary practice international edition.
McGraw-Hill New York.1997
3. Carter MA, Anatomi dan Fisiologi Tulang dan Sendi dalam Price SA, Wilson LM,
Patofisiologi Konsep-konsep Klinis Proses- proses Penyakit, Buku II, edisi 4, EGC,
Jakarta, 1994
4. Rasjad Chairuddin. Pengantar ilmu bedah ortopedi. PT yarsif Watampone. Jakarta.
2007
5. Wienstein L Stuart. Turek’s orthopaedics sixth edition. Lippincott Wilkins. New
York. 2005
6. Greene B Walter. Netter’s Orthopaedics. Saunder Elsevier. New York. 2007
7. Rasjad C, Trauma dalam Pengantar Ilmu Bedah Orthopaedi, Bintang Lamumpatue
Ujung Pandang, 1998
8. Dorland. Kamus saku kedokteran edisi 25.Penerbit buku kedokteran EGC.
Jakarta.1998
9. Skinner B Harry. Current diagnosis and treatment in orthopaedics third edition
international edition.Lange medical book. North America. 2003
10. Mercier R Lonnie. Practical orthopaedics sixth edition. Mosby Elsevier. Nebraska.
2008
11. Sjamsuhidajat R, Sistem Muskuloskeletal dalam Syamsuhidajat R, de Jong W,
Buku Ajar Ilmu Bedah, EGC, Jakarta, 1997

12