Anda di halaman 1dari 9

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang maha penyayang. Kami panjatkan puja dan
puji syukur atas kehadiratnya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, daninayah-Nya
kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang “Pandangan Agama di
Indonesia Terhadap Tindakan-Tindakan Praktik Medis Bayi Tabung dan Euthanasia”.
Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai
pihak sehingga dapat mempelancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan
banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan
makalah ini.

Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan
baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan
terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki
makalah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah tentang “Pandangan Agama di Indonesia
Terhadap Tindakan-Tindakan Praktik Medis Bayi Tabung dan Euthanasia” ini dapat
memberikan manfaat maupun inspirasi terhadap pembaca.

Padang, 3 Agustus 2018

Penyusun

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………………………………………………… 1
DAFTAR ISI…………………………………………………………….. 2
BAB I PENDAHULUAN

a) LatarBelakang…………………………………………………….. 3

b) TujuanPenulis……………………………………………………… 4
i. TujuanUmum……………………………………………… 4
ii. TujuanKhusus……………………………………………… 4

BAB II PEMBAHASAN

1. Konsep Bayi Tabung……………………………………………… 5


a) Pengertian Bayi Tabung………………………………… 5
b) Latar Belakang Bayi Tabung……………………………. 5
c) Asal dan Tempat Penanaman Bibit Serta Hukumnya…... 6
2. Konsep Euthanasia
a) Pengertian Euthanasia………………………………….... 7
b) Ukuran Kematian Menurut Medis……………………….. 7
c) Kedudukan Jiwa dalam Islam……………………………. 8
d) Euthanasia Menurut Hukum Islam:………………………. 8

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. LatarBelakang

Pada dua dekade terakhir ini ilmu pengetahuan kedokteran sangat berkembang pesat
salah satunya yaitu dengan adanya bayi tabung dan euthanasia. Bayi tabung dianggap
sebagai kesuksesan besar dalam kerjasama kedokteran dan farmasi, dimana mereka
menyatukan ovum dan sperma diluar rahim wanita yaitu dalam sebuah tabung. Pada
prinsipnya, program bayi tabung itu bertujuan untuk membantu mengatasi pasangan suami
isteri yang tidak mampu melahirkan keturunan secara alami yang disebabkan karena ada
kelainan pada masing-masing suami isteri, seperti padang pada selapullen dirrahim, sperma
suami kurang baik, dan lain sebagainya.Dengan program bayi tabung ini, diharapkanakan
mampu memberikan kebahagiaan bagi pasangan suami isteri yang telah hidup bertahun-
tahun dalam ikatan perkawinan yang sah tanpa keturunan.
Kemajuan ilmu dan teknologi kedokteran dalam hal memproses kelahiran bayi tabung
dengan cara asimilasi buatan, dari satu sisi dapat dipandang sebagai suatu keberhasilan
untuk mengatasi kesulitan bagi pasangan suami isteri yang telah lama mengharapkan
keturunan. Tetapi dari sisilain, program bayi tabung tersebut diatas, telah banyak
menimbulkan permasalahan dibidang hukum, khusus nya bagi umat Islam.
Euthanasia sebenarnya bukanlah suatu persoalan yang baru. Bahkan euthanasia telah ada
sejak dari zaman Yunani purba. Dari Yunanilah euthanasia bergulir dan
berkembangkebeberapa negara di dunia, baikitu di BenuaEropasendiri, Amerika
maupun di Asia. Di negara-negara barat, seperti Swiss, euthanasia Eko Setiawan
148 Al-Ahwal, Vol. 7, No. 1 April 2015 tu sudah tidak dianggap sebagai suatu
pembunuhan lagi, bahkan euthanasia sudah dilegalisasi dan diatur dalam Hukum Pidana1.
Di dalam Al-Qur’an surat Al Mulk2 ayat 2, diingatkan bahwa hidup dan mati adalah di
tangan tuhan. Karena itu Islam sangat memperhatikan keselamatan hidup dan kehidupan
manusia sejak ia berada di rahim ibunya sampai sepanjang
hidupnya. Dan untuk melindungi keselamatan hidup dan kehidupan manusia itu,
Islam menetapkan berbagai norma hokum pidana dan perdata beserta sanksi-sanksi
hukumannya, baik di dunia berupa hukuman had dan qisas termasuk hukuman mati, diyat
(denda), atauta’zir, ialah hukuman yang ditetapkan oleh lembaga peradilan, maupun
hukuman di akhirat berupa siksaanTuhan di neraka kelak. Karena hidup dan mati
ditanganTuhan, maka Islam melarang orang melakukan pembunuhan, baik terhadap orang
lain maupun terhadap dirinya sendiri.

3
B. TujuanPenulis
Penulisan makalah ini bertujuan untuk menjelaskan pandangan agama di
Indonesia terhadap tindakan- tindakan praktik medis Bayi Tabung dan
Euthanasia.
I. TujuanKhusus
a. Agar mahasiswa mengetahui pandangan islam terhadap bayi tabung
dan Euthanasia
b. Agar mahasiswa dapat mengetahui fungsi dan kerugian bayi tabung
serta Euthanasia.

4
BAB II
PEMBAHASAN

1. KonsepBayiTabung
a. Pengertian Bayi Tabung
Bayi tabung adalah merupakan Indrvidu (bayi) yang di dalam kejadiannya, proses
pembuatannya terjadi di luar tubuh wanlta (in vitro), atau dengan kata lain bayi
yang di dalam proses kejadiannya itu ditempuh dengan cara inseminasi buatan,
yaitu suatu cara memasukkan sperma kedalam kelamin wanita tanpa melalui
senggama. (Tahar, 1987:4) Dalam bahasa Arab, Inseminasi buatan disebut dengan
istilah: At-Taiqihus-Sina'i. (Syatout, TanpaTahun: 325).Proses Bayi tabung adalah
sperma dan ovum yang telah dipertemukan dalam sebuah tabung, dimana setelah
terjadi pembuahan, kemudian disarangkan kedalam rahim wanita, sehingga sampai
pada saatnya lahirlah bayi tersebut. (Tarjih Muhammadiyah, 1980:59). Ali Ghufron
dan Adi Hem Sutomo, menyatakan bahwa yang dimaksud bayi tabung adalah: mani
seorang laki-laki yang tampung lebih dahulu, kemudian dimasukkan kedalam alat
kandungan seorang wanita (Mukti danSutomo, 1993:14). Sedangkan menurut
Anwar dan Raharjo, mereka mendefinisikan bayi tabung, yaitu usaha jalan pintas
untuk mempertemukan sel sperma dan sel telur diluar tubuh yang kemudian
dimasukkan kedalam rahim ibu, sehingga dapat tumbuh menjadi janin sebagaimana
layaknya kehamilan biasa. (Mukti dan Sutomo, 1993:1415).

B. Latar Belakang Bayi Tabung


1) Memperoleh keturunan
2) Menolong untuk memperoleh keturunan

5
3) Menghindarkan kepunahan manusia
4) Memperoleh generasi genius atau orang super
5) Memilih suatu jenis kelamin
6) Mengembangkan teknologi modern

3. Asal dan Tempat Penanaman Bibit Serta Hukumnya

a) Bibit dari suami-isteri dan ditanamkan kepada isteri = hukumnya halal


b) Bibit dari suami-isteri dan ditanamkan kepada orang lain.
 Dari sisi medis tidak masalah karena ibu titipan hanya berfungsi
sebagai tempat perkembangbiakan atau kelangsungan hidup embrio dan
ovum.
 Dari sisi etis, model ini banyak efek samping [mudharat] nya, seperti
munculnya ibu sewaan, wanita tak mau hamil tapi ingin punya anak,
kemungkinan ingkar janji, kurangnya kasih sayang orang tua dan anak
atau sebaliknya dalam kaedah fikih bila mudharat lebih besar dari
manfaat [dar ul-mafasid wa jalbul mashalih] maka manfaat diabaikan.
Jadi hukumnya haram
 Sperma suami yang telah meninggal dan ovum isteri ditanam pada
rahim isteri = hukumnya haram, karena di antara putusnya hubungan
pernikahan adalah salah seorang suami atau isteri wafat.
 Sperma pria lain dibuahkan dengan ovum wanita lain dan ditanam pada
rahim wanita yang tidak bersuami = hukumnya haram
 Sperma suami dibuahkan dengan ovum wanita lain (donor) dan ditanam
pada rahim isteri = hukumnya haram
 Sperma laki-laki lain (donor) dibuahkan dengan ovum isteri dan ditanam
pada rahim isteri = hukumnya haram

6
 Sperma laki-laki lain (donor) dibuahkan dengan ovum wanita lain
(donor) dan ditanam pada rahim isteri = hukumnya haram
 Bibit dari suami-isteri dan dititipkan pada rahim isteri lain (karena
poligami) = hukumnya haram

2. Konsep Euthanasia
a. Pengertian Euthanasia
Euthanasia berasal dari kata Yunani eu berarti baik, dan thanatos artinya mati.
Maksudnya adalah mengakhiri hidup dengan cara yang mudah dan tanpa rasa sakit.
Karenanya disebut juga mercy killing (mati dengan tenang)
Euthanasia ada yang aktif & fasif:
 Euthanasia aktif adalah suatu tindakan mempercepat proses kematian, baik
dengan memberikan suntikan, melepaskan alat-lat bantu medik, padahal pasien
masih ada harapan hidup (baik sadar atau tidak)

 Euthanasia fasif adalah suatu tindakan membiarkan pasien/penderita yang


dalam keadaan tidak sadar (comma), krn berdasarkan ukuran medis tidak ada
harapan hidup (“fase antara”)

b. Ukuran Kematian Menurut Medis


1) tidak bernafas [kemudian berubah]
2) tidak berfungsinya jantung [kemudian berubah]
3) batang otak, jika batang otak betul-betul sudah mati, maka harapan hidup
seseorang sudah putus (ahli kedokteran sepakat). Caranya:
 dengan mengetes refleks kornea mata; atau
 dengan meneteskan 20 cc air es ke telinga kiri atau kanan, kemudian
memeriksa reaksi motorik pada mata

7
c. Kedudukan Jiwa dalam Islam
QS. al-Hijr [14] : 23
‫وإنا لنحن نحيي ونميت ونحن الوارثون‬
“Dan sungguh, kamilah yang menghidupkan dan mematikan dan kami (pulalah)
yang mewarisi”

d. Euthanasia Menurut Hukum Islam:


1. Euthanasia aktif dilarang agama baik permintaan pasien, keluarga, atau
keluarga bekerja sama dengan dokter
2. Euthanasia fasif dibolehkan agama, dengan catatan sepanjang kondisi organ
utama pasien berupa batang otak sudah mengalami kerusakan fatal.

8
DAFTAR PUSTAKA

Zubaidah Syarif . Bayi Tabung, Status Ilukum dan Hubungan Nasabnya dalam Perspektif
hokum islam. Termuat dalam “Journal.uii.ac.id/JHI/article/view/6117/5529”

Darwis Nurlely. Program bayi tabung dalam perspektif sosiologis, hukum islam dan hukum
adat. Termuat dalam www.jurnal.saburai.ac.id

Setiawan Eko. Eksistensi euthanasia dalam perspektif hukum islam. Termuat dalam
“ejournal.Lain-jember.ac. id”