Anda di halaman 1dari 6

Alat dan bahan yang digunakan pada perawatan apeksogenesis

Bahan
Telah dipakai berbagai macam material yang berhasil merangsang apeksogenesis. Kalsium
hidroksida (Ca(OH)2) merupakan bahan yang masih popular digunakan sampai saat ini untuk
apeksogenesis karena kemampuannya menstimulasi jaringan keras disekitar.
Torabinejad memperkenalkan suatu bahan penutup apeks yaitu Mineral Trioxide
Aggregate (MTA). MTA merupakan terobosan baru dalam teknik apeksogenesis. Teknik ini
tetap menggunakan kalsium hidroksida untuk disinfeksi saluran akar sebelum penempatan
MTA pada ujung apeks.
Apeksogenesis umumnya dilakukan dengan menggunakan kalsium hidroksida
(Ca(OH)2). Namun seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran gigi,
apeksifikasi juga dapat dilakukan dengan MTA, Tricalcium phosphate (TCP), dan gel
kolagen kalsium fosfat.

1. Kalsium hidroksida (Ca(OH)2)


Pada tahun 1838 Nygren memperkenalkan penggunaan kalsium hidroksida dalam
perawatan endodontik. Kalsium hidroksida adalah garam dasar putih, berkristal, mudah larut
yang terpisah menjadi ion kalsium dan ion hidroksil dalam larutan dan kandungan alkali yang
tinggi (pH 11). Bahan ini digunakan dalam bentuk setting dan non-setting pada kedokteran
gigi. Ion hidroksil diketahui dapat memberikan efek antimikroba dan mampu melarutkan
jaringan.
Mekanisme pembentukan jaringan keras oleh kalsium hidroksida belum diketahui
secara pasti. Tornstad dkk memperkirakan sifat basa kuat dari kalsium hidroksida dan
pelepasan ion kalsium membuat jaringan yang berkontak menjadi alkalis. Dalam suasana
basa, resorpsi atau aktifitas osteoklas akan terhenti dan osteoblas menjadi aktif mendeposisi
jaringan terkalsifikasi. Asam yang dihasilkan oleh osteoklas akan dinetralisir oleh kalsium
hidroksida dan kemudian terbentuk komplek kalsium fosfat. Kalsium hidroksida juga dapat
mengaktifkan ATP, yang mempercepat mineralisasi tulang dandentin, dan TGF-ß yang
berperan penting pada biomineralisasi.
Perawatan kalsium hidroksi juga telah menunjukkan penurunan efek bakteri
dihubungkan dengan lipopolisakarida (LPS). Hal ini dapat menghidrolisis lipid dari bakteri
LPS dan dapat mengeliminasi kemampuan LPS menstimulasi produksi nekrosis tumor faktor
alpha pada monosit darah perifer. Aksi ini menurunkan kemampuan bakteri merusak jaringan.
Kemampuan untuk mencegah penetrasi bakteri ke dalam pulpa mempengaruhi pertahanan
pulpa secara signifikan.
Untuk efek antimikroba dari kalsium hidroksida berhubungan dengan kemampuan
bahan membunuh bakteri yang ada dan mencegah bakteri masuk lagi dari rongga mulut ke
dalam pulpa. Sifat antimikroba dari kalsium hidroksida berasal dari beberapa faktor. pH yang
tinggi menghasilkan lingkungan yang tidak baik untuk pertumbuhan bakteri. Ada tiga
mekanisme kalsium hidroksida merangsang lisis bakteri, ion hidroksil menghancurkan
phospholipid sehingga membran sel dihancurkan, adanya kadar alkali yang tinggi merusak
ikatan ion sehingga protein bakteri dirubah, dan ion hidroksil bereaksi dengan DNA bakteri,
menghambat replikasi.

o Kelebihan dan kekurangan


Kalsium hidroksida (Ca(OH)2) merupakan bahan yang sering digunakan dalam
perawatan resorbsi dan perforasi akar. Kelebihan pasta kalsium hidroksida yang berhubungan
dengan kerapatan penutupan apeks adalah mudahnya cara penggunaan dan baik adaptasinya.
Penggunaan pasta dengan bahan dasar kalsium hidroksida dapat beradaptasi dengan baik
pada dentin maupun permukaan guttap point. Selain itu, kalsium hidroksida dapat
merangsang penutupan biologis pada daerah apikal sehingga menghasilkan penutupan apeks
yang lebih rapat dan meningkatkan keberhasilan perawatan. Kelebihan lain dari kalsium
hidroksida adalah dapat merangsang pembentukan jaringan keras.
Menurut penelitian, penggunaan bahan kalsium hidroksida dalam proses pengisian
saluran akar dapat mengurangi kebocoran foramen apikal. pH-nya yang tinggi dapat
meningkatkan aktifitas alkali fosfatase yang meningkatkan mineralisasi selain itu juga karena
dapat membuhuh mikroba yang merusak jaringan apikal sehingga mempermudah
pembentukan cementum reparatif. Lingkungan alkali akan menghambat aktivitas osteoklas
sehingga proses reabsorbsi akan dihambat dan proses perbaikan jaringan akan terus berjalan.
Kemampuan kalsium hidroksida dalam penyembuhan lesi periapeks dengan membentuk
barier kalsifik pada apeks. Kalsium hidroksida diaplikasikan ke dalam saluran akar untuk
jangka waktu yang lama, yaitu antara 6-24 bulan, sampai terbentuk barier apikal yang cukup
kuat untuk dilakukan obturasi saluran akar.
Namun selain memiliki kelebihan, kalsium hidroksida juga memiliki beberapa
kelemahan yaitu:
1. Dapat terlarut setelah setahun
2. Dapat berkurang selama pengetsaan
3. Kegagalan marginal pada kondensasi amalgam
4. Tidak berikatan dengan dentin atau restorasi resin

o Komposisi
Kalsium hidroksida tersedia dalam 4 sediaan yaitu:
1. Dalam 2 jenis pasta yaitu base dan katalis
2. Sistem light cured
3. Single pasta dalam bentuk suntikan
4. Dalam bentuk bubuk
Akhir-akhir ini, kalsium hidroksida light cured base material dan kalsium hidroksida
pelindung saluran akar berbentuk pasta. Komposisi kalsium hidroksida pasta dan katalis
adalah sebagai berikut:
1. Base Paste
 Glikol Salisilat 40%, Bereaksi dengan (Ca(OH)2) dan ZnO
 Kalsium sulfat
 Titanium dioksida, sebagai inert filler, pigmen
 Kalsium tungstate atau barium sulfat, provides radiopacity
2. Catalyst Paste
 Kalsium hidroksida 50%
 Zink oksida 10%
 Zink stearate 0.5%, sebagai akselerator
 Ethylene toluene
 Sulfonamide 39.5%, senyawa berminyak; bertindak sebagai carrier

2. Mineral Trioxide Aggregate (MTA)


MTA merupakan material untuk pembentukan plug apikal pada ujung akar dan
membantu untuk mencegah ekstrusi dari bahan pengisi. Material MTA terdiri dari partikel
hidrofilik halus trikalsium silikat, oksida silikat dan oksida trikalsium. Penelitian histologis
pada MTA menunjukkan sifat osteoconductive dan osteoinductive dalam regenerasi jaringan
periradikular, seperti ligamen periodontal, tulang, dan sementum, biokompatibilitas dengan
jaringan periodontal, kemampuan pelapisan sangat baik terhadap kelembaban dan sifat
mekanik yang tepat sebagai bahan pelapis apikal.

o Komposisi
MTA terdiri dari partikel halus hidrofilik seperti trikalsium silikat, trikalsium
aluminat, trikalsium oksida, oksida silikat, dan bismut oksida. MTA juga mengandung 5%
calcium sulphatedehydrate dan tetracalcium alumino ferrite. Kekurangan formula
tetracalcium alumino ferrite akan memberikan warna putih dan kekurangan zat besi ini akan
memberikan senyawa dengan tampilan berwarna putih.

o Sifat fisik, kimia, biologi dan histologis


1. pH awal 10,2 kemudian meningkat menjadi 12,5 setelah 3 jam dan setelah itu tetap
konstan.
2. Radiopasitas untuk MTA adalah 7 - 17 mm dengan ketebalan setara aluminium, karena
itu lebih radiopak dari gutta - percha konvensional dan dentin, harus dapat dibedakan
pada radiografi bila digunakan sebagai material pengisi akar.
3. Waktu setting: keuntungannya yaitu waktu setting MTA yang lama dimana semakin
cepat material setting maka material lebih menyusut.
4. Kekuatan tekan: dalam 24 jam MTA memiliki kekuatan tekan terendah (40 Mpa) dan
meningkat setelah 21 hari menjadi 67 Mpa.
5. Kelarutan: MTA tidak menunjukkan tanda-tanda kelarutan dalam air, hal ini merupakan
faktor utama penilaian bahan restorasi yang sesuai dalam kedokteran gigi, karena
kurangnya kelarutan dinyatakan sebagai sifat yang ideal untuk material pengisi ujung
akar.
6. Biokompatibilitas: Penerapan MTA sebagai material pengisi ujung akar merangsang
regenerasi jaringan gigi dan tulang, dan dapat menginduksi sementoblas untuk
pembentukan sementum di sekitar MTA.
7. MTA memiliki efek antibakteri.
MTA merupakan salah satu bahan pilihan yang telah disarankan untuk digunakan dalam
perawatan pulpotomi vital, dengan mekanisme reparasi mirip dengan kalsium hidroksida.
Bila dibandingkan dengan kalsium hidroksida, MTA menghasilkan jembatan dentin lebih
signifikan dalam waktu yang lebih singkat dengan peradangan kurang dan juga menyediakan
hard setting, permukaan non-resorbable tanpa celah di dentin barrier. Banyak studi in vivo
dan studi histologis yang telah melaporkan sifat fisik dan biologis unggul MTA dalam tindak
lanjut waktu singkat. Dalam kasus-kasus yang disajikan di sini, setelah periode tindak lanjut
jangka panjang, cedera gigi diobati dengan MTA menunjukkan hasil klinis dan radiografi
yang sukses. Hasil ini harus dikaitkan dengan kemampuan penutupan/penyegelan yang
sangat baik dari MTA untuk mencegah kebocoran mikro bakteri dan produk bakteri. Setelah
pengaplikasian, MTA segera membentuk apikal barrier sehingga dapat segera dilakukan
obturasi saluran akar. Oleh karena itu, MTA dapat mengatasi beberapa kekurangan kalsium
hidroksida yang sedang dialami saat ini dalam prosedur apeksogenesis.
o Keuntungan
a. Biokompatibel
b. Hidrofilik (dapat berinteraksi dalam permukaan yang lembab)
c. Radiopak
d. pH basa (bateriostatik)
e. Kemampuan pelapisan yang baik (tingkat kebocoran tepi rendah)
f. Kelarutan rendah

o Kerugian
a. Berpotensi diskolorasi Gray Mineral Trioxide Aggregat (GMTA)
b. Sulit digunakan saat obturasi saluran akar yang bengkok
c. Mahal

Alat
1. Round bur: mengebur enamel untuk menyingkirkn karies di dentin dan
menyingkirkan dentin karies di daerah cingulum.
2. Excavator: membuang sisa sia akhir dari debris, membuang jaringan lunak atau
karies.
3. Pinset berkerat: menjepit cotton pelet, tampon, cotton roll.
4. Plastic filling instrument (PFI): memasukkan, memanipulasi dan membentuk bahan
tumpatan plastis untuk pengaplikasian dari semen dan mengurangi dari bahan yang
berlebih.
5. Alat pengaduk semen: untuk memanipulasi bahan tumpatan.
6. Stopper semen: untuk menempatkan atau memampatkan bahan basis.

DAPUS:
Andreasen, J.O., dkk., Comparation of Fracture Resistence in Root Canals of Immature
Sheep Teeth After Filling with Calcium Hydroxide or MTA., 2006

Audina, F. 2014. Perawatan Apeksogenesis Dengan Minteral Trioxide Aggregate (MTA) Pada
Gigi Permanen Muda. Jurnal Universitas Sumatera Utara

Budiyanti A. Perawatan Endodontik pada Anak. Jakarta: EGC, 2006: 50-55.

Camilien, J. Ford, T.RF.,Mineral Triodixe Aggregate: a Review of the Constituents and


Biologicaly Properties of the Mineral Trioxide Aggregate., 2006
Camp, J.H. 2001. Pediatric endodontic treatment dalam Cohen S., Burns R.C., eds.
Pathways of the pulp, 6th ed, Mosby co., St Louis, USA Vol.4,No.5:633-671.

Cohen, S , Hargreaves, K.M., Pathways of the Pulp., 2006

Duggal, Monthy S. 2013. Pediatric Dentistry at a Glance. UK: Wiley-Blackwell Publishing,


p: 67

Grossman LI. Ilmu Endodontik Dalam Praktek. Alih bahasa. Abyono R. Jakarta: EGC, 1995:
250-251.

Kennedy DB, Eds 3. Konservasi gigi anak. JakArta;EGC, 1992, 248.