Anda di halaman 1dari 23

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Alat Pelindung Diri

1. Definisi Alat Pelindung Diri

Alat Pelindung Diri (APD) adalah seperangkat alat keselamatan

yang digunakan oleh pekerja untuk melindungi seluruh atau sebagian

tubuhnya

dari

kemungkinan

adanya

pemaparan

potensi

bahaya

lingkungan

kerja

terhadap

kecelakaan

dan

penyakit

akibat kerja.

Secara teknis alat pelindung diri tidaklah dapat melindungi tubuh

secara sempurna terhadap potensi paparan bahaya. Namun demikian

alat pelindung diri akan dapat mengurangi tingkat keparahan dari

suatu kemungkinan terjadinya kecelakaan atau penyakit akibat kerja.

Dengan

demikian,

dapat

ditegaskan

bahwa

meskipun

telah

menggunakan

alat

pelindung

diri,

tetapi

upaya

pencegahan

dan

pengendalian risiko kecelakaan secara teknologis merupakan langkah

langkah yang utama dan terus menerus harus selalu diupayakan

sampai tingkat resiko dapat ditekan sekecil mugkin dalam batas yang

di perkenankan (Tarwaka, 2014).

Menurut

Permenaker

dan

Transmigrasi

RI

No.Per-

08/MEN/VII/2010 pada pasal 1, Alat Pelindung Diri (APD) adalah

suatu alat yang mempunyai kemampuan untuk melindungi seseorang

7

8

yang fungsinya mengisolasi sebagian atau seluruh tubuh dari potensi

bahaya di tempat kerja. Pemilihan Alat Pelindung Diri (APD) yang

handal secara cermat adalah merupakan persyaratan mutlak yang

sangat mendasar. Pemakaian Alat Pelindung Diri (APD) yang tidak

tepat dapat mencelakakan tenaga kerja yang memakainya Karena

mereka tidak terlindung dari bahaya potensial yang ada di tempat

kerja serta memahami dasar kerja setiap jenis Alat Pelindung Diri

(APD) yang akan digunakan di tempat kerja dimana bahaya potensial

tersebut ada (Budiono, 2003).

2. Jenis jenis Alat Pelindung Diri

Menurut (Tarwaka, 2014) Jenis-jenis alat pelindung diri yang

ada dipasaran cukup banyak, berdasarkan bagian tubuh yang

dilindungi dari kontak dengan potensi bahaya dapat dijelaskan

sebagai berikut:

a. Alat Pelindung Kepala (Headwear)

Alat pelindung kepala ini digunakan untuk melindungi

rambut terjerat oleh mesin yang berputar dan untuk melindugi

kepala dari bahaya terbentur benda tajam atau keras, bahaya

kejatuhan benda atau terpukul benda yang melayang, percikan

bahaya kimia korosif, panas sinar matahari. Jenis alat pelindung

kepala antara lain:

9

1) Topi pelidung (Safety Helmets)

Alat ini berfungsi untuk melindungi kepala dari benda-

benda yang terjatuh, benturan kepala, terjatuh dan terkena

arus listrik. Topi pelindung harus tahan terhadap pukulan,

tidak mudah terbakar, tahan terhadap perubahan iklim dan

tidak dapat menghantarkan arus listrik. Topi pelindung dapat

terbuat dari plastic (Bakelite), serat gelas (fiberglass) maupun

metal.

2) Tutup kepala

Alat ini berfugsi untuk melindungi kepala dari kebakaran,

korosi, suhu panas atau dingin. Tutup kepala ini biasanya

terbuat dari asbestos, kain tahan api/korosi, kulit dan tahan

air.

3) Topi (Hats/Cap)

Alat ini berfungsi untuk melindungi kepala atau rambut

dari

kotoran/debu

atau

mesin

yang

berputar.

Topi

ini

biasanya terbuat dari kain katun (Tarwaka, 2014).

b. Alat Pelindung Mata (Eyes Protection)

Alat pelindung jenis ini diguakan untuk melindungi mata

dari percikan bahan kimia korosif, debu dan partikel-partikel

kecil

yang

melayang

di

udara,

gas

atau

uap

yang

dapat

menyebabkan iritasi mata, radiasi gelombang elektromagnetik,

10

panas radiasi sinar matahari, pukulan atau benturan benda

keras. Jenis alat pelindung mata antara lain:

1) Kacamata (Spectacles)

Alat ini berfungsi untuk melindungi mata dari partikel-

partikel kecil, debu dan radiasi gelombang elektromagnetik.

2) Goggles

Alat ini berfungsi untuk melindungi mata dari gas, debu,

uap dan percikan larutan bahan kimia. Goggles biasanya

terbuat dari plastik transparan dengan lensa berlapis kobalt

untuk melindungi bahaya radiasi gelombang elektromagnetik

mengion (Tarwaka, 2014).

c. Alat Pelindung Telinga (Ear Protection)

Alat pelindung ini digunakan untuk mengurangi intensitas

suara yang masuk kedalam telinga.

1) Sumbat telinga (Ear plug)

Ukuran dan bentuk saluran telinga tiap-tiap individu dan

bahkan untuk kedua telinga dari orang yang sama adalah

berbeda. Untuk itu ear plug harus di pilih sedemikian rupa

sehingga sesuai dengan ukuran dan bentuk saluran telinga

pemakaiannya.

Pada

umumnya

diameter

saluran

telinga

antara 5-11 mm dan liang telinga pada umumnya berbentik

lonjong dan tidak lurus.

11

2) Tutup telinga (Ear muff)

Alat pelindung telinga jenis ini terdiri dari 2 (dua) buah

tutup telinga dan sebuah headband. Isi dari tutup telinga

dapat

berupa

cairan

atau

busa

yang

berfungsi

untuk

menyerap suara frekuensi tinggi. Pada pemakaian untuk

waktu yang cukup lama, efektivitas ear muff dapat menurun

karna bantalannya menjadi mengeras dan mengerut sebagai

akibat reaksi dari bantalan dengan minyak dan keringat pada

permukaan kulit. Alat ini dapat mengurangi intensitas suara

sampai 30 dB(A) dan juga dapat melindungi bagian luar

telinga dari benturan benda keras atau percikan bahan kimia

(Tarwaka, 2014).

d. Alat Pelindung Pernafasan (Respiratory Protection)

Alat

pelindung

jenis

ini

digunakan

untuk

melindungi

pernafasan dari resiko paparan gas, uap, debu, atau udara

terkontaminasi

atau

beracun,

korosi

atau

yang

bersifat

rangsangan.

Jenis alat pelindung pernafasan yang banyak digunakan

di perusahaan-perusahaan antara lain:

12

1) Masker

Alat ini digunakan untuk mengurangi paparan debu atau

partikel-partikel besar yang dapat masuk kedalam saluran

pernafasan.

2) Respirator

Alat ini digunakan untuk

paparan

debu,

kabut,

uap

berbahaya (Tarwaka, 2014).

melindungi pernafasan dari

logam,

asap

dan

gas-gas

e. Alat Pelindung Tagan (Hand Protection)

Alat

pelindung

jenis

ini

digunakan

untuk

melindungi

tangan dan bagian lainya dari benda tajam atau goresan, bahan

kimia, benda panas dan dingin kontak

(Tarwaka, 2014).

dengan arus listrik

f. Alat Pelindung Kaki (Feet Protection)

Alat pelindung jenis ini digunakan untuk melindungi kaki

dan

bagian

lainya

dari

benda-benda

keras,

benda

tajam,

logam/kaca, larutan kimia, benda panas, kontak dengan arus

listrik (Tarwaka, 2014).

g. Pakaian Pelindung (Body Protection)

Alat

pelindug

jenis

ini

digunakan

untuk

melindungi

seluruh atau sebagian tubuh dari percikan api, suhu panas atau

dingin, cairan bahan kimia. Pakaian pelindung dapat berbrntuk

13

apron yang menutupi sebagian tubuh pemakainya yaitu mulai

dari daerah dada sampai lutut, atau overall yaitu menutupi

seluruh bagian tubuh (Tarwaka, 2014).

h. Sabuk Pegaman Kecelakaan (Safety belt)

Alat pelindung jenis ini diguakan untuk melindungi tubuh

dari

kemungkinan

terjatuh

dari

ketinggian,

seperti

pada

pekerjaan mendaki, memanjat dan pada pekerjaan kontruksi

bangunan (Tarwaka, 2014).

3. Perawatan APD

Anizar (2012) mengungkapkan bahwa setiap alat pelindung diri

(APD)

yang

digunakan

biasanya

berfungsi

untuk

mengindari

penyakit

akibat

kerja

yang

mungkin

diderita

jika

tidak

menggunakanya

alat

memebantu

tetapi

yang

dapat

kotor

menjadi

atau

rusak

bukan

malah

faktor

baru

terciptanya

kecelakaan. Oleh sebab itu, perlu melakukan perawatan terhadap

alat-alat tersebut.

Perawatan

terhadap

peralatan

pelindungan

diri

meliputi

kebenaran tata cara penggunaan alat, kebersihan alat, kebersihan

alat setelah digunakan, kebenaran cara penyimpanan alat serta

perbaikan ringan bagian-bagian alat yang kurang benar. Secara

umum pemeliharaan APD dapat dilakukan atara lain:

14

a. Memncuci dengan air sabun, kemudian dibilas dengan air

secukupnya terutama untuk helm, kaca mata, ear plug sarung

tangan kulit/karet, kain.

b. Menjemur

di

panas

matahari

terutama pada helm.

untuk

menghilangkan

bau,

c. Megganti filter/ cartriged pada respirator.

B. Tujuan dan Manfaat Penggunaan APD

Pemakaian

alat

pelindung

diri

bertujuan

untuk

melindungi

tenaga

kerja

dan

juga

merupakan

salah

satu

upaya

mencegah

terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja bahaya potensial

pada

suatu

perusahaan

yang

dikendalikan (Sumamur, 1996).

1. Manfaat untuk Perusahaan

tidak

dapat

dihilangkan

atau

Meningkatkan keuntungan karena hasil produksi dapat baik jumlah

maupun mutunya.

a. Penghematan

biaya

pengobatan

serta

kesehatanpara tenaga kerja.

pemeliharaan

b. Menghindari terbuangnya jam kerja akibat absentisme akibat

tenaga kerja sehingga dapat tercapai produktivitas yang tinggi

dan efisien yang optimal.

15

2. Manfaat untuk Tenaga Kerja

a. Menghindari diri dari resiko pekerjaan seperti kecelakaan kerja

dan penyakit akibat kerja

b. Memberikan

perbaikan

kesejahteraan

pada

tenaga

kerja

sebagai akibat adanya keuntungan perusahaan

C. Dasar

Hukum

Penggunaan

APD

Menurut

Peraturan

Menteri

Tenaga

Kerja

Dan

Transmigrasi

Republik

Indonesia

Nomor

Per.08/Men/VII/2010 Tentang Alat Pelindung Diri

 

Pasal 1

 

Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan:

 

1.

Pekerja/buruh

adalah

setiap

orang

yang

bekerja

dengan

menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain

 

2.

Pengusaha adalah:

 

a. Orang perseorangan, persekutuan, atau badan hokum yang

menjalankan suatu perusahaan milik sendiri

b. Orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang

secara

berdiri

sendiri

menjalankan

perusahaan

bukan

miliknya

c. Orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang

berada

di

Indonesia

mewakili

perusahaan

sebagaimana

16

dimaksud dalam huruf a dan huruf b yang berkedudukan di

luar wilayah Indonesia

3. Pengurus adalah orang yang mempunyai tugas memimpin

langsung sesuatu tempat kerja atau bagiannya yang berdiri

sendiri

4. Tempat kerja adalah tiap ruangan atau lapangan tertutup atau

terbuka, bergerak atau tetap, dimana tenaga kerja bekerja atau

yang sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha

dan dimana terdapat sumber atau sumber sumber bahaya,

termasuk semua ruangan, lapangan, halaman dan sekelilingya

yang merupakan bagian atau berhubungan dengan tempat kerja

5. Pegawai Pengawas Ketenagakerjaan yang selanjutnya disebut

Pengawas Ketenagakerjaan adalah Pegawai Negeri Sipil yang

diangkat dan ditugaskan dalam Jabatan Fungsional Pengawas

Ketenagakerjaan

sesuai

dengan

perundang undangan

ketentuan

peraturan

6. Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah tenaga teknis

berkeahlian khusus dari luar Kementerian Tenaga Kerja dan

Transmigrasi yang ditunjuk oleh Menteri.

17

Pasal 2

1. Pengusaha wajib menyediakan APD bagi pekerja/buruh di tempat

kerja

2. APD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus sesuai dengan

Standar Nasional Indonesia (SNI) atau standar yang berlaku

3. APD sebagaimana dimaksud pada

pengusaha secara cuma Cuma

Pasal 3

ayat (1) wajib diberikan oleh

1. APD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 meliputi:

a. Pelindung kepala

b. Pelindung mata dan muka

c. Pelindung telinga

d. Pelindung pernapasan beserta perlengkapannya

e. Pelindung tangan, dan/atau

f. Pelindung kaki

2. Selain APD sebagaimana dimaksud pada ayat (1), termasuk APD:

a. Pakaian pelindung

b. Alat pelindung jatuh perorangan, dan/atau

c. Pelampung

18

3. Jenis dan fungsi APD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan

ayat (2) tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri ini

Pasal 4

1. APD wajib digunakan di tempat kerja dimana:

a. Dibuat, dicoba, dipakai atau dipergunakan mesin, pesawat, alat

perkakas, peralatan atau instalasi yang berbahaya yang dapat

menimbulkan kecelakaan, kebakaran atau peledakan

b. Dibuat, diolah, dipakai, dipergunakan, diperdagangkan, diangkut

atau disampan bahan atau barang yang dapat meledak, mudah

terbakar, korosif, beracun, menimbulkan infeksi, bersuhu tinggi

atau bersuhu rendah

c. Dikerjakan pembangunan, perbaikan, perawatan, pembersihan

atau

pembongkaran

rumah,

gedung

atau

bangunan

lainnya

termasuk bangunan perairan, saluran atau terowongan di bawah

tanah

dan

sebagainya

atau

dimana

dilakukan

pekerjaan

persiapan

d. usaha

Dilakukan

pertanian,

perkebunan,

pembukaan

hutan,

pengerjaan hutan, pengolahan kayu atau hasil hutan lainnya,

peternakan, perikanan dan lapangan kesehatan

19

e. Dilakukan usaha pertambangan dan pengolahan batu batuan,

gas,

minyak,

panas

bumi,

atau

mineral

lainnya,

baik

di

permukaan, di dalam bumi maupun di dasar perairan

f. Dilakukan pengangkutan barang, binatang atau manusia, baik di

daratan,

melalui

maupun di udara

terowongan,

di

g. Dikerjakan

bongkat

muat

barang

permukaan

muatan

di

air,

dalam

air

kapal,

perahu,

dermaga, dok, stasiun, Bandar udara dan gudang

h. Dilakukan penyelaman, pengambilan benda dan pekerjaan lain di

dalam air

i. Dilakukan pekerjaan pada ketinggian di atas permukaan tanah

atau perairan

j. Dilakukan pekerjaan di bawah tekanan udara atau suhu yang

tinggi atau rendah

k. Dilakukan pekerjaan yang mengandung bahaya tertimbun tanah,

kejatuhan, terkena pelantingan benda, terjatuh atau terperosok,

hanyut atau terpelanting

l. Dilakukan pekerjaan dalam ruang terbatas tangki, sumur atau

lubang

m. Terdapat atau menyebar suhu, kelembaban, debu, kotoran, api,

asap, gas, hembusan angina, cuaca, sinar atau radiasi, suara

atau getaran

20

n. Dilakukan pembuangan atau pemusnahan sampah atau limbah

o. Dilakukan

pemancaran,

penyiaran

atau

penerimaan

telekomunikasi radio, radar, televisi, atau telepon

p. Dilakukan pendidikan, pembinaan, percobaan, penyelidikan atau

riset yang menggunakan alat teknis

q. Dibangkitkan, dirubah, dikumpulkan, disimpan, dibagi bagikan

atau disalurkan listrik, gas, minyak atau air; dan

r. Diselenggarakan

rekreasi

listrik atau mekanik

yang

memakai

peralatan,

instalasi

2. Pegawai Pengawas Ketenagakerjaan atau Ahli Keselamatan dan

Kesehatan Kerja dapat mewajibkan penggunaan APD di tempat kerja

selain sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

Pasal 5

Pengusaha atau Pengurus wajib mengumumkan secara tertulis dan

memasang rambu rambu mengenai kewajiban penggunaan APD di

tempat kerja.

Pasal 6

1. Pekerja/buruh orang lain yang memasuki tempat kerja wajib memakai

atau menggunakan APD sesuai dengan potensi bahaya dan risiko

21

2. Pekerja/buruh

berhak

menyatakan

keberatan

untuk

melakukan

pekerjaan apabila APD yang disediakan tidak memenuhi ketentuan

dan persyaratan

Pasal 7

1. Pengusaha atau Pengurus wajib melaksanakan manajemen APD di

tempat kerja

2. Manajemen APD sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi:

a. Identifikasi kebutuhan dan syarat APD

b. Pemilihan

APD

yang

sesuai

dengan

jenis

kebutuhan/kenyamanan pekerja/buruh

c. Pelatihan

bahaya

dan

d. Penggunaan, perawatan, dan penyimpanan

e. Penatalaksanaan pembuangan atau pemusnahan

f. Pembinaan

g. Inspeksi, dan

h. Evaluasi dan pelaporan

Pasal 8

1. APD yang rusak, retak atau tidak dapat berfungsi dengan baik

harus dibuang dan /atau dimusnakan

22

2. APD yang habis masa pakainya/kadaluarsa serta mengandung

bahan berbahaya, harus dimusnakan sesuai dengan peraturan

perundang undangan

3. Pemusnahan APD yang mengandung bahan berbahaya harus

dilengkapi dengan berita acara pemusnahan

Pasal 9

Pengusaha atau pengurus yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 2, Pasal 4, dan Pasal 5 dapat dikenakan sanksi

sesuai Undang Undang Nomor 1 Tahun 1970.

Pasal 10

Pengawasan terhadap ditaatinya Peraturan Menteri ini dilakukan oleh

Pengawas Ketenagakerjaan.

Pasal 11

Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Agar setiap

orang

mengetahuinya,

Peraturan

Menteri

ini

diundangkan

dengan

penempatan dalam Berita Negara Republik Indonesia.

23

D. Faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan Penggunaan APD

1. Pengetahuan

Notoatmodjo (2014) mendefinisikan pengetahuan (knowledge)

adalah hasil pengindraan manusia, atau hasil tahu seseorang

terhadap

objek

melalui

indra

yang

dimilikinya

(mata,

hidung,

telinga,

dan

sebagainya).

Dengan

sendirinya

pada

waktu

pengindraan sehingga menghasilkan pengetahuan tersebut sangat

dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek.

Sebagian besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui indra

pendengaran (telinga) dan indra penglihatan (mata). Pengetahuan

seseorang terhadap objek mempunyai intensitas atau tingkat yang

berbeda-beda. Secara garis besar dibagi menjadi 6 tingkatan

pengetahuan, yaitu:

a. Tahu (know)

Tahu diartikan hanya sebagai recall (memanggil) memori

yang telah ada sebelumnya setelah mengamati sesuatu.

b. Memahami (comprehension)

Memahami suatu objek bukan sekedar tahu terhadap

objek tersebut, tidak sekedar dapat menyebutkan, tetapi orang

tersebut

harus

dapat

menginterpretasikan

secara

benar

tentang objek yang diketahui tersebut.

c. Aplikasi (application)

24

Aplikasi diartikan apabila orang yang telah memahami

objek

yang

dimaksud

dapat

menggunakan

atau

mengaplikasikan prinsip yang diketahui tersebut pada situasi

yang lain.

d. Analisis (analysis)

Analisis

adalah

kemampuan

seseorang

untuk

menjabarkan

dana

tau

memisahkan,

kemudian

mencari

hubungan antara komponen-komponen yang terdapat dalam

suatu

masalah

atau objek

yang

diketahui. Indikasi bahwa

pengetahuan seseorang itu sudah sampai pada tingkat analisis

adalah apabila orang tersebut telah dapat membedakan, atau

memisahkan,

mengelompokan,

membuat

diagram

(bagan)

terhadap pengetahuan atau objek tersebut.

e. Sintesis (syntesis)

Sintesis menunjukan suatu kemampuan seseorang untuk

merangkum atau meletakan dalam satu hubungan yang logis

dari komponen-komponen pengetahuan yang dimiliki. Dengan

kata lain sintesis adalah suatu kemapuan untuk menyusun

formulasi

baru

dari

formulasi-formulasi

yang

telah

ada.

Misalnya dapat membuat meringkas dengan kata kata sendiri

25

tentang hal-hal yang telah dibaca, atau didengar dan dapat

memebuat kesimpulan tentang artikel yang sudah dibaca.

f. Evaluasi (evaluation)

Evaluasi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk

melakukan

justifikasi

atau

penilaian

terhadap

suatu

objek

tertentu, penilaian ini dengan sendirinya didasarkan pada suatu

kriteria yang ditentukan sendiri atau norma-norma yang berlaku

di

masyarakat

misalnya

seseorang

menggunakan APD saat bekerja.

2. Sikap (attitude)

dapat

menilai

manfaat

Sikap adalah respon tertutup seseorang terhadap stimulus atau

objek tertentu, yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi

yang bersangkutan contohnya senang-tidak senang, setuju-tidak

setuju, baik-tidak baik, dan sebagainya. Campbell (1950, dalam

Notoatmodjo, 2014) mendefinisikan sangat sederhana, yakni an

individual’s attitude is syndrome of response conconsistensy with

regard to object”. Jadi jelas disini dikatakan bahwa sikap itu suatu

sindrom atau kumpulan gejala dalam merespons stimulus atau

objek. Sehingga sikap itu melibatkan pikiran, perasaan, perhatian,

dan gejala kejiwaan yang lain.

Seperti halnya pengetahuan, sikap juga mempunyai tingkat-tingkat

berdasarkan intensitasnya, sebgai berikut:

a. Menerima (receiving)

Menerima

diartikan

bahwa

orang

atau

subjek

26

mau

menerima stimulus yang diberikan (objek).

b. Menanggapi (responding)

Menanggapi disini diartikan memberikan jawaban atau

tanggapan terhadap pertanyaan atau objek yang dihadapi.

c. Menghargai (valuing)

Menghargai diartikan subjek atau seseorang memberikan

nilai

yang

positif

terhadap

objek

membahasnya

dengan

orang

lain,

atau

stimulus,

dalamarti

bahkan

mengajak

atau

mempengaruhi atau menganjurkan orang lain merespons.

d. Bertanggung jawab (responsible)

Sikap yang paling tinggi tingkatnya adalah bertanggung

jawab terhadap apa yang telah dia yakini. Seseorang yang

telah

mengambil sikap tertentu berdasarkan keyakinannya,

harus

berani

mengambil

resiko

bila

ada

orang

lain

yang

mencemooh atau resiko lain.

3. Ketersediaan APD

Berdasarkan

undang-undang

No.

1

tahun

1970

tentang

Keselamatan

Kerja.

Pasal-pasal

yang

mengatur

tentang

penggunaan alat pelindung diri antara lain:

27

a. Pasal 3 (1:f): dengan peraturan perundangan ditetapkan syarat-

syarat keselamatan kerja untuk memberikan alat-alat pelindung

diri pada pekerja.

b. Pasal

9

(1:c):

menjelaskan

pada

pengurus

diwajibkan

tiap

tenaga

kerja

baru

menunjukan

dan

tentang

alat-alat

pelindung diri bagi tenaga kerja yang bersangkutan.

c. Pasal 12 (b): dengan peraturan perundangan diatur keawajiban

dana tau hak tenaga kerja untuk memakai alat-alat pelindung

diri yang diwajibkan.

d. Pasal 14 (c): pengurus diwajibkan menyediakan secara Cuma-

Cuma, semua alat pelindung diri yang diwajibkan pada tenaga

kerja yang berada dibawah pimpinanya dan menyediakan bagi

setiap orang lain yang memasuki tempat kerja tersebut, disertai

dengan petunjuk-petunjuk yang diperlukan menurut petunjuk

pegawai pengawas atau ahli-ahli keselamatan kerja.

Begitupun menurut permenaker No. 8 tahun 2010 pasal 2 tentang

alat

pelindung

diri

yang

menyebutkan

bahwa

pengusaha

wajib

menyediakan

APD

bagi

pekerja/buruh

di

tempat

kerja

dan

alat

pelindung diri harus sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI)

yang

dibagikan

secara

cuma-Cuma

kepada

pekerja.

Alat-alat

pelindung diri yang dimaksud adalah pelindung kepala, pelindung mata

dan

muka,

pelindung

telinga,

pelindung

pernapasan

beserta

perlengkapannya,

sebagainya.

pelindung

tangan,

pelindung

kaki,

dan

28

lain

Dampak jika ketersediaan APD tidak terpenuhi menjadi masalah

yang

sering

terjadi,

seringkali

karyawan

tidak

menggunakan

alat

pelindung diri secara lengkap. Banyak faktor yang menyebabkan hal

ini terjadi, bisa karena keterbatasan alat yang disediakan oleh instansi

tersebut atau karena ketidaktaatan karyawan sendiri. Namun, ada satu

alasan yang seperti sudah menjadi permakluman bersama, yakni

menggunakan alat pelindung diri seadanya sudah diterima dikalangan

masyarakat luas. Berbagai masalah dapat terjadi ketika karyawan tak

lagi utamakan keselamatannya, khususnya ketika di lapangan. Begitu

banyak peristiwa yang sering disaksikan di media massa mengenai

kecelakaan-kecelakaan dalam sebuah proyek karena hanya sepatu

yang digunakan tidak sesuai dengan standar APD untuk pekerjaanya

(Ahira, 2013).

Ketentuan dalam ketersediaan APD (Tarwaka, 2014):

a. Alat pelindung diri harus disediakan bagi pekerja secara cuma-

cuma dan harusdikenakan saat bekerja.

b. Alat pelindung diri harus disimpan dalam kondisi yang bersih dan

sehat sepertidalam lemari loker khusus atau sejenisnya.

c.

29

Setiap pekerja yang diharuskan mengenakan alat pelindung diri

akan

diberikan

APD

dalam

ukuran

dan

model

yang sesuai

sehingga dapat dikenakan dengan baik.