Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH GEOGRAFI PARIWISATA

“Konsep Dan Defenisi Geografi Pariwisata”

Dosen pengampu :

Dr. SUGIHARTO, M.Si.

M. FAROUQ GHAZALI MATONDANG, S.Pd., M.Sc

Di Susun Oleh

Kelompok I:

Fahrizal Adi Kurniawan

Makmur F Pane

Yuni Sahara

Kelas B 2017

JURUSAN PENDIDIKAN GEOGRAFI

FAKULTAS ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan dan Rahmat_-
NYA sehingga kami mampu menyelesaikan tugas Makalah Geografi Pariwisata dalam
bentuk makalah dan isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan
sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca .

Harapan kami semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan


pengalaman bagi para pembaca, sehingga kami dapat memperbaiki bentuk maupun isi
makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.

Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang kami
miliki sangat kurang. Oleh kerena itu kami harapkan kepada para pembaca untuk
memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.

Medan, September 2019

Kelompok I
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Geografi Pariwisata merupakan bidang Ilmu terapan yang berusaha mengkaji unsur -
unsur geografis suatu daerah untuk kepentingan kepariwisataan. Unsur - unsur geografis
suatu daerah memiliki potensi dan karakteristik yang berbeda-beda. Bentang alam
pegunungan yang beriklim sejuk, pantai landai yang berpasir putih, hutan dengan beraneka
ragam tumbuhan yang langka, danau dengan air yang bersih, merupakan potensi suatu daerah
yang dapat dikembangkan untuk usaha industri pariwisata. Unsur geografis yang lain seperti
lokasi/letak, kondisi morfologi, penduduk, berpengaruh terhadap kemungkinan
pengembangan potensi obyek wisata.
Dengan adanya Undang-undang No. 32 tahun 2003 tentang Otonomi Daerah, setiap
daerah di Indonesia berupaya memperoleh Pendapatan Asli Daerah Setempat (PADS). Salah
satu upaya untuk memperoleh pemasukan pendapatan tersebut dengan menggalakkan
kegiatan pariwisata yang ada di daerah.
Pengembangan pariwisata sangat ditentukan oleh seberapa besar potensi supply dan
demand. Potensi supply memberikan gambaran seberapa besar daya tarik obyek wisata yang
dimiliki oleh suatu Daerah Tujuan Wisata (DTW). Sedangkan potensi demand memberikan
gambaran seberapa besar potensi wisatawan yang datang dari Daerah Asal Wisatawan
(DAW).

1.2 Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas, maka dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut :
a. Bagaimana Konsep Geografi Pariwisata?
b. Apa hubungan geografi dengan pariwisata?
c. Apa masalah yang ditimbulkan pariwisata?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah:
a. Untuk memahami konsep geografi pariwisata.
b. Untuk memahami Keterkaitan geografi dan pariwisata.
c. Untuk mengetahui masalah yang ditimbulkan kegiatan pariwisata.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Pariwisata Menurut Para Ahli.
Secara etimologis pariwisata berasal dari bahasa sansekerta, yang terdiri dari dua suku
kata Pari yang berarti banyak, berkali-kali, berputar-putar, lengkap. Dan kata wisata yang
berarti perjalanan, bepergian yang bersinonim dengan kata travel dalam bahasa Inggris, maka
dapat di artikan bahwa pariwisata adalah perjalanan yang dilakukan berkali-kali atau
berputar-putar dari satu tempat ke tempat lain (Yoeti 1996:112)
Menurut UU No.9 tahun 1990 Bab 1 Pasal 1:
Wisata adalah kegiatan perjalanan atau sebagian dari kegiatan tersebut yang dilakukan
secara sukarela serta bersifat sementara untuk menikmati obyek dan daya tarik wisata.
Pariwisata adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan wisata, termasuk pengusahaan
objek dan daya tarik wisata serta usaha-usaha yang terkait di bidang tersebut. Kepariwisataan
adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan penyelenggaraan pariwisata. Artinya semua
kegiatan dan urusan yang ada kaitannya dengan perencanaan, pengaturan, pelaksanaan,
pengawasan, pariwisata baik yang dilakukan oleh pemerintah, pihak swasta dan masyarakat
disebut Kepariwisataan.

Menurut James J. Spillance


Pariwisata adalah perjalanan dari satu tempat ke tempat lain yang bersifat sementara,
dilakukan perorangan atau kelompok sebagai usaha mencari keseimbangan, keserasian dalam
dimensi sosial budaya dan ilmu.

Menurut Mc. Intosh dan Goelder


Pariwisata adalah ilmu atau seni dan bisnis yang dapat menarik dan menghimpun
pengunjung, termasuk didalamnya bebagai akomoditasi dan catering yang dibutuhkan dan
diminati oleh pengunjung.

Menurut Gluckmann
Keseluruhan hubungan antar manusia yang hanya berada sementara waktu dalam suatu
tempat dengan manusia yang tinggal di tempat itu
Menurut Oka A Yoeti
Suatu perjalanan yang dilakukan untuk sementara waktu yang diselenggarakan dari suatu
tempat ke tempat lain dengan maksud bukan mencari nafkah ditempat yang dikunjunginya
tetapi semata-mata untuk menikmati perjalanan tersebut guna bertamasya memenuhi
keinginan yang beragam.

IAN M. MATLEY dari Michigan University mengatakan bahwa “Geografi pariwisata


merupakan cabang dari geografi ekonomi yang mempelajari mengenai faktor-faktor wilayah
yang dapat mempengaruhi pergerakan wisatawan, baik wisatawan yang melakukan
perjalanan dalam jarak dekat (short haul) maupun perjalanan jarak jauh (long haul)”.
Geografi pariwisata adalah perjalanan dari suatu tempat ke tempat lain dengan tujuan
bersenang-senang untuk melihat atraksi wisata ditinjau dari lingkungan (alam/fisik dan
budaya) dan unsur-unsur geografi mis : tanah, iklim, batu-batuan dsb.
Dalam menganalisa mengenai geografi pariwisata ini masing-masing mempunyai
penekanan sendiri-sendiri. Michail Peter dalam bukunya International Tour lebih
menekankan pada faktor atraksi budaya yang mempengaruhi kunjungan wisatawan.
Sedangkan/Gustaf S. dalam bukunya “Foreign Toursm”, lebih menekankan/memperhatikan
lingkungan fisik.

2.2 Pariwisata Dalam Kajian Geografi


Setiap ilmu pasti tidak ada yang dapat berdiri sendiri. Setiap ilmu saling berhubungan
satu sama lainnya. Begitupun dengan ilmu pariwisata tidak dapat dilepaskan hubungannya
dengan geografi.
Seperti yang dikemukakan oleh Robinson (1976) yang dikutip oleh Maryani (2000:67)
pariwisata menjadi bidang kajian geografi, dengan beberapa alasan dibawah ini:
1. Geografi berhubungan dengan lingkungan baik alam maupun manusia. Ilmu geografi
selalu berhubungan dengan lokasi suatu fenomena, hubungan antara fenomena dan distribusi
keruangan. Pariwisata erat kaitannya pada pemanfaatan ruang, lokasi-lokasi daerah tujuan
wisata, lokasi dimana wisatawan bergerak dari satu daerah ke daerah lain. Dengan demikian
geografi mempunyai peranan yang sangat penting dalam menyediakan ruang sebagai daerah
tujuan wisata yang sesuai dengan permintaan wisatawan dan memberikan kepuasan
wisatawan yang berbeda karakternya.
2. Pariwisata erat kaitannya dengan struktur, bentuk, penggunaan lahan dan perlindungan
bentang alam (landscape). Di satu sisi pariwisata menyebabkan berubahnya bentang alam
menjadi kawasan budaya. Geografi sebagai ilmu tata guna lahan dapat memberikan solusi
bagaimana ruang dapat dimanfaatkan sesuai dengan daya dukung dengan meminimalkan
resiko kerusakan.
3. Pariwisata adalah aktivitas ekonomi komersial, berbagai aktivitas ekonomi di
permukaan bumi secara khusus dikaji oleh geografi ekonomi. Pariwisata mendorong
timbulnya berbagai aktivitas baik yang secara langsung memanfaatkan alam maupun tidak.
4. Geografi selalu tertarik pada pergerakan barang dan orang, dalam bentuk transportasi
dan perdagangan. Pariwisata telah memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap
adanya perdagangan secara regional, nasional dan internasional. Distribusi orang, barang, dan
uang antara satu tempat ke tempat lain sangat diperlukan untuk mendukung berlangsungnya
usaha pariwisata.
5. Antar hubungan (relationship) dan pengaruh (effect) suatu fenomena terhadap
fenomena lain, baik di dalam suatu tempat maupun ke tempat lain selalu menjadi kajian
geografi. Pariwisata memberikan dampak yang luas baik secara ekonomi, budaya, sosial,
maupun alam. Lingkup dampaknya pun secara lokal, regional, nasional maupun
internasional. Hal ini menunjukkan bahwa pariwisata sangat relevan menjadi kajian
geografi.
2.3 Sumberdaya Geografi untuk Pengembangan Pariwisata
Sumberdaya adalah segala sesuatu yang bernilai apabila diproduksi, diolah dan
digunakan. Pengertian bernilai disini sangat subyektif, tergantung pada pandangan individu,
kemajuan teknologi dalam masyarakat dan waktu. Sumberdaya geografi untuk pariwisata
adalah segala sesuatu baik yang berupa alam maupun hasil budaya manusia yang menarik
dan unik bagi wisatawan. Ada beberapa ciri sumberdaya geografi menurut Abdurrahman dan
Maryani (1997:77) bagi pariwisata:
1. Sumberdaya tersebut dapat berupa kenampakan dalam dan budaya yang bernilai
ekonomis untuk diolah dalam industri pariwisata.
2. Sumberdaya yang dipasarkan tidak berdiri sendiri, artinya harus selalu ditunjang
oleh pengelolaan, penataan, dan ditunjang fasilitas yang terkait dengan
kepariwisataan.
3. Sumberdaya pada umumnya mempunyai fungsi ganda, jadi tidak hanya sebagai
objek wisata yang dapat dilihat saja, tapi harus ada sesuatu yang dapat dikerjakan dan
dibeli sebagai oleh-oleh. Ruang untuk kawasan wisata pun berfungsi ganda, seperti
kawasan pertanian, perkebunan, perikanan, kehutanan, cagar alam, konservasi dan
sebagainya.
Sumberdaya geografi untuk pariwisata menunjukkan adanya keterkaitan satu sama lain,
contoh iklim dengan morfologi, morfologi dengan penggunaan lahan dan aktivitas penduduk.
Sumberdaya geografis yang dijadikan objek wisata menurut Abdurrahman dan Maryani
(1997:77-78) antara lain:
1. Iklim
Unsur-unsur iklim yang erat kaitannya dengan pariwisata adalah suhu, angin,
curah hujan, dan awan (kecerahan). Rekreasi di luar rumah, selain dipengaruhi oleh
waktu libur, juga ditentukan oleh iklim. Permintaan rekreasi di luar rumah meningkat
tatkala cuaca sedang baik. Kondisi cuaca pun akan menentukan jenis aktivitas yang
dilakukan dan perlengkapan yang harus dibawa selama berwisata. Misalnya berwisata di
daerah dingin berbeda dengan daerah panas, baik dalam hal jenis pakaian, makanan
maupun kegiatan-kegiatan yang dilakukan selama berpariwisata.

2. Morfologi
Dipermukaan bumi terdapat bermacam-macam bentuk lahan. Tapi pada umunya
dapat dibedakan atas pegunungan, perbukitan, dataran tinggi (plato) dan dataran (plan).
Morfologi ini akan berkaitan erat dengan cuaca. Di daerah pengunungan banyak
dikembangkan objek wisata berupa cagar alam dan taman nasional, dengan segala
keanekaragaman flora dan faunanya. Objek wisata lain yang erat kaitannya dengan
pegunungan adalah fenomena gunung api, berupa kawah dan sumber air panas.
3. Tata air
Air permukaan bumi menduduki persentase terbesar. Air ini dapat berupa laut,
sungai, danau, dan air dalam tanah. Laut menjadi objek wisata yang menarik sepanjang
zaman.
4. Flora dan Fauna
Flora dan fauna suatu tempat mempunyai kaitan erat dengan iklim baik secara
horizontal maupun vertikal. Setiap daerah umumnya mempunyai flora dan fauna khas
yang menjadi unggulan daya tarik wisata.[4]

Adapun beberapa sumberdaya yang dapat dijadikan daya tarik bagi wisatawan untuk datang
ke suatu daerah tujuan wisata, yaitu:
1. Sumberdaya yang bersifat alamiah (Natural Amenities) meliputi:
a. Iklim: cuaca cerah, banyak cahaya matahari, sejuk, kering, panas, hujan dan lain-lain
b. Bentuk tanah dan pemandangan: tanah yang datar, lembah pegunungan, danau, sungai,
pantai, air terjun, gunung berapi dan pemandangan yang menarik.
c. Hutan belukar
d. Flora dan fauna, seperti tumbuhan yang aneh, burung-burung, ikan, binatang buas,
cagar alam, daerah perburuan dan lain-lain.
e. Pusat kesehatan, yang termasuk kelompok ini adalah: sumber air mineral, mandi
lumpur, sumber air panas.
2. Sumberdaya buatan manusia (man made supply) seperti:
a. Monumen bersejarah dan sisa peradaban masa lampau.
b. Museum, art galery, perpustakaan, kesenian rakyat.
c. Acara tradisional, pameran, festival, upaca perkawinan, khitanan.
d. Rumah-rumah beribadah, seperti masjid, gereja, pura, kuil, candi.
3. Tata cara hidup masyarakat (way of life). Seperti: tarian, sandiwara, drama, upacara-
upacara keagamaan. (Oka A. Yoeti, 1996: 172-176).[5]

2.4 Pariwisata dan Masalah Lingkungan


Pada dasarnya kegiatan pariwisata adalah kegiatan “menjual lingkungan”. Orang
yang bepergian dari suatu daerah ke daerah tujuan wisata adalah ingin menikmati lingkungan,
seperti pemandangan alam, atraksi budaya, arsitektur, makanan dan minuman, benda seni,
dan lainnya yang berbeda dengan lingkungan tempat tinggalnya.
Sektor wisata sebagai industri jasa merupakan sektor yang sangat peka terhadap
lingkungan. Kerusakan lingkungan seperti : pencemaran limbah domestik, kumuh daerah ,
adanya gangguan kesemerawutan lalu-lintas, kriminalitas, dll, akan dapat mengurangi jumlah
wisatawan yang berkunjung ke suatu daerah wisata. Oleh karena itu pengembangan
pariwisata harus menjaga ‘kualitas lingkungan’.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengembalian dan kepariwisataan, berkaitan
dengan aspek lingkungan yaitu :
1.Daya dukung lingkungan
Setiap daerah tujuan wisata mempunyai kemampuan yang berbeda dalam menerima jumlah
wisatawan. Kemampuan ini yang disebut sebagai daya dukung lingkungan. Daya dukung
lingkungan dinyatakan dalam jumlah wisatawan pesatuan luas daerah tujuan wisata ( lokasi ),
persatuan waktu. Daya dukungan lingkungan tersebut berbeda-beda, sesuai dengan faktor
psikologis tujuan kegiatan pariwisata. Misalnya orang yang pergi ke Plaza, merasa senang
untuk berdesak-desakan : kalau tidak bersenggolan, sepertnya tidak merasa ke Plaza.
Sebaliknya orang yang pergi ke Museum atau pantai yang romantis, tidak menginginkan
jumlah orang banyak, ramai dan bising. Antara Plaza, Pasar Malam, Pantai dan Museum,
mempunyai tujuan yang terkait dengan faktor psikologis, sehingga daya dukungnya berbeda.
Faktor lain yang menentukan daya dukung lingkungan yaitu lingkungan biofisik , yang bisa
menentukan kuat atau rapuhnya suatu ekosistem. Ekosistem yang kuat mempunyai daya
dukung lingkungan yang tinggi, akan lebih banyak dapat menerima sejumlah wisatawan.
Daya dukung lingkungan yang kuat, tidak akan mudah rusak karena gangguan wisatawan.
Jikalaupun rusak, maka pengembalian atau pemulihannya lebih cepat. Ekosistem puncak
gunung atau kawah, misalnya gunung Bromo, dengan suhu yang rendah, tanah yang asam
kurang subur, adanya gas beracun seperti uap belerang, merupakan ekosistem yang rapuh.
Jika terjadi kerusakan, seperti pengambilan edelweis yang berlebihan, maka untuk “
pulih kembali” memerlukan waktu yang cukup lama. Sebaliknya Plaza atau Mall atau tempat
tujuan wisata buatan, seperti taman dan pemandian, mempunyai lingkungan biofisik yang
kuat. Artinya dapat menampung lebih banyak wisatawan. Kerusakan ekosistem dengan
mudah untuk dapat dikembalikan lagi (kalau rusak gedungnya maka akan mudah untuk
dibangun kembali).
Daerah tujuan wisata atau tempat wisata mempunyai daya dukung lingkungan yang
rendah, haruslah hati-hati dalam pengembangannya. Jumlah wisatawan yang masuk harus
dibatasi, serta diawasi dengan baik/ketat. Hal ini untuk mengurangi resiko kerusakan
lingkungan, antara lain pembuangan sampah, sebab sampah lambat membusuk pada daerah
yang dingin, terlebih sampah plasik yang tidak dapat didaur ulang oleh alam.
Salah satu contoh daerah tujuan wisata yang memperhatikan daya dukung lingkungan
yaitu Tanah Lot. Jumlah wisatawan yang boleh masuk sampai bagian luar dan tengah (
bagian utama tidak untuk wisatawan). Jumlah wisawan yang masuk, sejumlah selendang
yang tersedia, karena setiap wisatawan yang masuk diharuskan memakainya. Wisatawan lain
boleh masuk apabila selendang sudah dikembalikan, artinya ada wisatawan yang
sudah keluar.
2.Keanekargaman.
Wisatawan yang berkunjung ke suatu daerah tujuan wisata dengan minat, tujuan, umur, jenis
kelamin, kondisi sosial ekonomi dan budaya yang beranekaragam. Dalam pengembangan
kepariwisataan harus diusahakan adanya suatu keanekaragaman/macam-macam obyek
sebagai daya tarik wisata serta faktor penunjangnya.
Usaha penganekaragaman didasarkan pada faktor tujuan, umur, dan mode wisatawan.
Misalnya pada obyek wisata Candi peninggalan sejarah penganekaragaman, disesuaikan
dengan kelompok umur wisatawan yang akan menikmati atraksi atau penggunakan fasilitas
penunjangnya. Penganekaragaman disesuaikan dengan mode kepariwisataan yang sesuai
dengan perkembangan sosial, ekonomi dan budaya saat ini. Contoh mode wisata
sambil berolah raga daerah tujuan wisata, kegiatan pariwisata yang dikaitkan dengan daerah
tujuan wisata sebagai tempat dilangsungkan suatu pertemuan atau konferensi, baik tingkat
nasional, regional maupun internasional.
3 .Keindahan Alam
Keindahan bentang alam harus tetap dijaga keasliannya, sebab merupakan aset
kepariwisataan yang tinggi. Dalam pembangunan pariwisata sering diubah bentang alam
(natural landscpae) dengan alasan untuk tujuan wisata. Contoh (1) jalan berkelok di
pegunungan dengan lembah yang indah, ditutup oleh papan reklame yang sangat besar,
warung-warung di pinggir jalan yang tidak teratur dan kumuh, (2) danau atau telaga yang
alami pada pinggirnya dibuat atau dibangun rumah peristiratan, restoran dan hotel yang dekat
dengan danau, sehingga danau berubah menjadi kolam tercemar oleh limbah cair dari
berbagai aktivitas dari bangunan yang ada disekitarnya.

4.Vandalisme Grafiti
Vandalisme adalah kegiatan yang merusak, vandalisme obyek-obyek wisata, seperti
candi, tebing, tanda lalulintas, tembok bangunan, telepon umum dan lainnya. Vandalisme
dalam bentuk yang lain yaitu merusak benda-benda tertentu atau memotong pohon pada saat
berkemah, memetik bunga mengambil tanaman dan lainnya.
Kegiatan yang merusak/vandalisme ini, aktivitasnya semakin meningkat, terlihat
dari banyaknya benda-benda yang dirusak. Hal ini terutama dilakukan oleh wisatawan
domestik remaja, serta berkaitan masa libur sekolah. Vandalisme sangat merugikan
pariwisata, seperti perusakan dan coretan dengan cat pada candi. Hal ini pernah diungkapkan
oleh Menparpostel( Jove Ave) pada Konferensi Nasional Pusat Studi Lingkungan di
Denpasar pada oktober 1996. Semakin berkembangannya kegiatan pariwisata, maka
vandalisme ini harus dicegah sedini mungkin dengan berbagai cara, salah satunya adalah
melalui jalur pendidikan di sekolah atau luar sekolah.
5. Pencemaran
Pencemaran merupakan musuh utama industri pariwisata. Pada sisi lain kegiatan pariwisata
merupakan pencemaran yang besar pula. Semakin sukses kepariwisataan pada suatu daerah,
semakin besar pula pencemarannya. Salah satu pencemaran adalah limbah padat berupa
sampah yang dihasilkan oleh kegiatan wisatawan maupun limbah padat dan cair dari hotel-
hotel.
Masalah pencemaran ini terjadi akibat kurang sadarnya wisatawan, terutama domestik dalam
membuang limbah dari hasil kegiatannya selama berwisata. Umumnya wisatawan domestik
yang melakukan perjalanan dengan keluarga atau rombongan, melakukan kegiatan “ pindah
makan dan minum “. Masalah pencemaran menjadi lebih meningkat, apabila tempat wisata
tidak ada atau kurang sekali penyediaan tempat sampah. Jika tersedia tempat sampah, maka
penempatannya yang sering kurang representatif.
6. Dampak Sosial Budaya
Adanya wisatawan ke suatu daerah tujuan wisata, maka telah terjadi antara wisatawan dan
penduduk setempat. Wisatawan yang datang punya latar belakang geogrfis, sosial, ekonomi,
budaya yang berbeda dengan penduduk setempat, penduduk setempat akan menyerap budaya
wisatawan, sebaliknya wisatawan menyerap budaya lokal. Dampak interaksi terebut ada
yang positif dan ada yang negatif.
Wisatawan terutama manca negara/internasional untuk kalangan menengah dan atas,
memerlukan fasilitas sesuai dengan standarnya. Hal ini kemudian merupakan suatu “enklave
“ atau pulau di tengah masyarakat yang masih terbelakang dengan kondisi ekonomi yang
sangat berbeda. Perkembangan kegiatan kepariwisataan semakin meningkat, maka perlu
diantipasi dampak negatif yang ditimbulkan yang akan merugikan kelangsungan pariwisata
dan penduduk setempat/lokal.
7. Mintakat ( Zona )
Dalam pembangunan kepariwisataan timbul berbagai konflik berkaitan dengan tata ruang.
Pada satu sisi ingin satu hal yang bersifat alami, tetapi sisi lain menghendaki membangun
fasilitas atau hotel dekat pantai. Wisatawan tertarik dengan pantai yang indah, tetapi jumlah
wisatawan yang banyak justru bisa menyebabkan kawasan pantai menjadi rusak. Konflik
kepentingan dapat dikurangi atau diatasi dengan perencanaan tata ruang yang disesuaikan
dengan potensi sumberdaya yang ada. Hal ini kemudian akan menimbulkan peningkatan
dalam keruangan (Zonasi). Masing-masing mintakat (zona) diberi ijin pariwisata berdasarkan
potensi geografis, sehingga fungsi utama obyek wisata dan penunjangnya tidak tumpang
tindih dan berbagai kepentingan umum tidak terganggu atau dikorbankan hanya semata-mata
untuk kepentingan pariwisata saja.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Geografi pariwisata adalah perjalanan dari suatu tempat ke tempat lain dengan tujuan
bersenang-senang untuk melihat atraksi wisata ditinjau dari lingkungan (alam/fisik dan
budaya) dan unsur-unsur geografi mis : tanah, iklim, batu-batuan dsb. Pariwisata erat
kaitannya pada pemanfaatan ruang, lokasi-lokasi daerah tujuan wisata, lokasi dimana
wisatawan bergerak dari satu daerah ke daerah lain. Dengan demikian geografi mempunyai
peranan yang sangat penting dalam menyediakan ruang sebagai daerah tujuan wisata yang
sesuai dengan permintaan wisatawan dan memberikan kepuasan wisatawan yang berbeda
karakternya.

3.2 Saran
Hendaknya kita lebih dapat memanfaatkan, menikmati, dan mengolah alam maupun
lingkungan dengan baik dan benar tanpa harus menyebabkan kerusakan. Sebab kita sendirilah
nantinya yang akan merugi. Dan semoga pemerintah lebih memperhatika lagi pemeliharaan
dan perawatan fasilitas – fasilitas yang ada di tempat wisata.

DAFTAR PUSTAKA

http://fitry-santay.blogspot.com/2015/06/materi-kuliah-geografi-pariwisata.html/ 2Sept.22:33

https://konsepblackbook.blogspot.com/2013/04/geografi-pariwisata.html/2Sept/22:33