Anda di halaman 1dari 128

AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH I

“RANGKUMAN”

Dosen : Ibu Sri Wahyu Agustiningsih, S.E., M.Si.

Nama Anggota Kelompok 5:

Fakih Setyawan (F1316051)

Fendhi Pramuda (F1316052)

Dinda Orieama Yoga P (F1316044)


BAB I

PELAPORAN KEUANGAN DAN STANDAR AKUNTANSI

A. Pasar Global
I. Laporan Keuangan dan Pelaporan Keuangan
Karakteristik akuntansi meliputi kegiatan mengidentifikasi, mengukur, dan
mengkomunikasikan informasi keuangan mengenai entitas ekonomi kepada
pihak-pihak yang berkepentingan.
Laporan keuangan terdiri dari laporan posisi keuangan, laporan rugi-laba
komprehensif, laporan arus kas, laporan perubahan ekuitas, dan catatan atas
laporan keuangan.
II. Akuntansi dan Alokasi Modal
Efisiensi seringkali menentukan apakah suatu entitas berkembang baik atau tidak
terkait dengan keterbatasan sumber daya, sehingga memerlukan pengalokasian
modal kerja yang baik. Berikut proses alokasi modal kerja.

Pelaporan Keuangan Alokasi Modal


Informasi keuangan yang Proses penentuan
disediakan perusahaan yang bagaimana dan dengan
bertujuan membantu pihak- biaya berapa uang
pihak yang berkentingan dialokasikan ke dalam
dalam membuat keputusan kepentingan-kepentingan
alokasi modal perusahaan. yang bersaing.

Pemakai
Investor dan kreditor
menggunakan laporan
keuangan untuk membuat
keputusan alokasi modal
perusahaan.

B. Tujuan Pelaporan Keuangan


Tujuan pelaporan keuangan yaitu menyediakan informasi keuangan mengenai
pelaporan entitas yang berguna bagi pihak berkepentingan (external users) seperti
investor, pemberi pinjaman atau kreditor dalam membuat keputusan mengenai
kapasitas mereka sebagai penyedia modal.
C. Standar Organisasi
Di Amerika Serikat, terdapat 2 organisasi utama yaitu:
1. International Accounting Standards Board (IASB), menetapkan International
Financial Reporting Standards (IFRS)
2. Financial Accounting Standards Board (FASB), Statements of Financial
Acconting Standards (SFAS) kemudian General Accepted Accounting Principal
(GAAP).

Sementara di Indonesia terdapat Dewan Standar Akuntansi Keuangan yang


menetapkan Pernyataan Standar Akuntansi (PSAK).

D. Tantangan Pelaporan Keuangan


1. Kesenjangan Ekspektasi
Terkait dengan apa yang menurut masyarakat/public harus dilakukan dan apa
yang menurut akuntan bisa dilakukan.
2. Masalah Pelaporan Keuangan yang Signifikan
Terkait dengan pengukuran non-keuangan, wawasan mengenai infromasi ke
depannya, asset-aset sejenis, dan aktualitas/ketepatan waktu.
3. Etika dalam Lingkungan Akuntansi Keuangan
Dalam bidang akuntansi seringkali terjadi dilema etika, adanya tekanan untuk
membelokkan peraturan membuat para akuntan harus mampu menjaga etika
bekerjanya.
4. Penetapan Standar dalam Lingkungan Politik
Standar akuntansi yang ada merupakan sebuah produk dari adanya tindakan
politik, sehingga penerapan standar akuntansi tidak bisa dilepaskan dari masalah
politik.
5. Standar Akuntansi Internasional
Saat ini, IFRS telah digunakan oleh kurang lebih 90 negara di dunia sebagai
standar akuntansinya. Hal ini tentunya diperlukan penyesuaian dengan kondisi di
masing-masing Negara. Hingga nantinya, standar akuntansi yang digunakan oleh
semua perusahaan di semua Negara bisa disamakan guna memudahkan pengguna
laporan keuangan itu sendiri.

BAB II
KERANGKA KONSEPTUAL DALAM PELAPORAN KEUANGAN
A. Kebutuhan akan Kerangka Kerja Konseptual
Kerangka kerja konseptual diperlukan dalam:
1. Membangun serta menghubungkan antara badan pembuat konsep dan
tujuan.
2. Pemecahan masalah-masalah yang praktis baru dan yang muncul.
3. Peningkatan pemahaman serta keyakinan dari pengguna laporan
keuangan mengenai laporan keuangan itu sendiri.
4. Menaikkan komparabilitas laporan keuangan antarperusahaan.
B. Tingkatan dalam Kerangka Kerja Konseptual
Ada tiga tingkatan yang menampilkan kerangka kerja konseptual, yakni:
1. Tingkat pertama : Tujuan dasar
Standar akuntansi seharusnya dikembangkan sesuai dengan kerangka
kerja konseptual sehingga menghasilkan laporan akuntansi yang
bermanfaat. Pada mulanya, informasi keuangan / non keuangan
digunakan oleh investor dan kreditor untuk pengambilan keputusan 
kepentingan investor dan kreditor dalam penanaman modal di perusahaan
tersebut  pelaporan keuangan yang berguna bagi investor, salah satunya
arus kas yang merupakan harapan dari investor dan kreditor. Pendekatan
ini dikenal dengan kegunaan keputusan (decision usefulness).
2. Tingkat kedua : Karakteristik kualitatif dan unsur-unsur dasar laporan
keuangan
a. Karakteristik Kualitatif
 Kualitas Fundamental
 Kualitas Primer, meliputi relevansi dan reliabilitas
 Kualitas Sekunder, meliputi komparabilitas dan konsistensi

b. Unsur-unsur Dasar
 Aktiva
 Kewajiban
 Ekuitas
 Investasi oleh Pemilik
 Distribusi kepada Pemilik
 Laba Komprehensif
 Pendapatan
 Beban
 Keuntungan
 Kerugian
3. Tingkat ketiga : Konsep-konsep pengakuan dan pengukuran
a. Asumsi-Asumsi Dasar
 Asumsi Entitas Ekonomi
Asumsi ini mengandung arti bahwa aktivitas ekonimi dapat
diidentifikasi dengan unit pertanggungjawaban tertentu.
 Asumsi Kelangsungan Hidup
Sebagian besar metode akuntansi didasarkan atas asumsi ini, yaitu
perusahaan bisnis akan memiliki umur yang panjang.
 Asumsi Unit Moneter
Asumsi ini mengandung arti bahwa uang adalah denominator
umum dari aktivitas ekonomi dan merupakan dasar yang tepat
bagi pengukuran dan analisis akuntansi.
 Asumsi Periodisitas
Asumsi ini menyiratkan bahwa aktivitas ekonomi sebuah
perusahaan dapat dipisahkan ke dalam periode waktu artifisial.
b. Prinsip-Prinsip Dasar Akuntansi
 Prinsip Biaya Historis
Artinya, sebagian besar aktiva dan kewajiban diperlakukan dan
dilaporkan berdasarkan harga akuisisi.
 Prinsip Pengakuan Pendapatan
Pendapatan umumnya diakui jika telah direalisasi dan telah
dihasilkan. Telah direalisasi artinya, jika produk telah
dipertukarkan dengan kas atau klaim atas kas. Sementara, telah
dihasilkan artinyaapabila suatu entitas telah melakukan apa yang
harus dilakukan untuk mendapat hak atas manfaat yang
direpresentasikan oleh pendapatan.
 Prinsip Penandingan
Prinsip ini menyatakan bahwa usaha (beban) ditandingkan dengan
pencapaian (pendapatan) sepanjang hal ini rasional dan dapt
diterapkan.
 Prinsip Pengungkapan Penuh
Prinsip ini mengakui bahwa, sifat dan jumlah informasi yang
dimasukkan dalam laporan keuangan mencerminkan serangkaian
trade-off penilaian.
c. Kendala
 Hubungan Biaya-Manfaat
Kendala ini harus diperhitungkan, karena biaya penyediaan
informasi harus ditimbang terhadap manfaat yang bisa diperoleh
dari pemakaian informasi tersebut.
 Materialitas
Kendala ini berhubungan dengan dampak suatu item terhadap
operasi keuangan perusahaan secara keseluruhan. Item dianggap
material jika pencantuman atau pengabaiannya mempengaruhi
penilaian seorang pemakai laporan keuangan.
 Praktik Industri
 Konservatisme
Kendala ini berarti, jika ragu, maka pilihlah solusi yang sangat
kecil kemungkinannya akan menghasilkan penetapan yang terlalu
tinggi bagi aktiva dan laba.
BAB II
SISTEM INFORMASI AKUNTANSI

A. Pengertian
Sistem informasi akuntansi merupakan sistem pengumpulan dan pemrosesan data
transaksi serta penyebaran informasi keuangan kepada pihak-pihak yang
berkepentingan.
Sistem informasi akuntansi yang baik dan efektif memampukan manajemen perusahaan
dan para pihak yang berkepentingan mendapatkan informasi secara cepat dan akurat
mengenai perusahaan, seperti dalam hal:
a. Aspek likuiditas perusahaan:
- Besarnya kas yang dimiliki perusahaan
- Besar saldo utang yang harus dilunasi perusahaan
b. Utilisasi dan probabilitas perusahaan:
- Banyaknya asset yang dimiliki perusahaan
- Besarnya laba yang dihasilkan perusahaan
c. Besarnya dividen yang bisa dibagikan kepada perusahaan
d. Kinerja operasional perusahaan
B. Terminology Dasar
Terminologi dasar diperlukan dalam mengumpulkan data akuntansi, diantaranya:
a. Kejadian (event)  peristiwa yang berpengaruh
b. Transaksi (transaction)  kejadian eksternal yang melibatkan transfer atau
pertukaran antara dua entitas atau lebih.
c. Akun (account)  catatan sistematis yang memperlihatkan pengaruh dari transaksi
dan kejadian lainnya terhadap unsur tertentu.
d. Akun riil dan nominal  akun riil (permanen) adalah akun-akun asset, kewajiban,
dan ekuitas, yang muncul pada neraca sementara akun nominal (temporer) adalah
akun-akun pendapatan, beban, dan dividen yang muncul pada laporan rugi/laba.
e. Buku besar (ledger)  buku yang mengandung akun-akun. Buku besar umum berisi
akun-akun asset, kewajiban, ekuitas pemilik, pendapatan, dan beban. Buku besar
pembantu berisi rincian yang berhubungan dengan akun buku besar tertentu.
f. Jurnal  buku pencatatan awal dimana transaksi dan kejadian-kejadian lainnya
dicatat pertama kali.
g. Pemindahbukuan (posting)  proses pemindahan fakta-fakta dan angka-angka
penting dari jurnal kea kun buku besar.
h. Neraca saldo (trial balance)  daftar semua akun terbuka dalam buku besar beserta
saldonya. Neraca saldo setelah penyesuaian tercipta setelah semua penyesuaian
dipindahkan ke buku besar. Neraca saldo setelah penutupan tercipta setelah semua
ayat jurnal penutup dipindahkan ke buku besar.
i. Ayat jurnal penyesuaian (adjusting entries)  ayat jurnal yang dibuat pada akhir
periode akuntansi untuk memperbaharui semua akun menurut akuntansi akrual.
j. Laporan keuangan  neraca, laporan rugi/laba, laporan perubahan ekuitas, laporan
arus kas, catatan atas laporan keuangan.
k. Ayat jurnal penutup  proses formal yang dipakai untuk mengurangi semua akun
nominal menjadi nol dan menentukan serta mentranfer rugi/laba bersih kea kun
ekuitas pemilik.
C. Persamaan Dasar Akuntansi
Klasifikasi akun-akun yang terdapat dalam laporan keuangan antara lain:
- Asset
- Liabilitas
- Ekuitas
- Pendapatan
- Beban
Sistem pecatatan akuntansi yang digunakan secara umum oleh perusahaan adalah
sistem [embukuan ganda (double-entry system), yaitu apabila ada suatu pencatatan
yang dibuat perusahaan, akan ada dampak ganda yaitu minimal satu pencatatan di
sisi debit dan satu pencatatan di sisi kredit.
Debit (D) Kredit (K)
Akun Aset Meningkat (+) Menurun (-)
Akun Liabilitas Menurun (-) Meningkat (+)
Akun Ekuitas Menurun (-) Meningkat (+)
Akun Pendapatan Menurun (-) Meningkat (+)
Akun Beban Meningkat (+) Menurun (-)

Keterkaitan antara akun-akun tersebut dijelaskan dalam persamaan dasar akuntansi


sebagai berikut.
Aset (D) = Liabilitas (K) + Ekuitas (K)
NB:
Pendapatan dan Beban masuk dalam ekuitas
D. Laporan Keuangan
Menurut PSAK 1, perusahaan menerbitkan minimal lima jenis laporan keuangan,
yaitu:
1. Laporan Posisi Keuangan
Atau sering disebut sebagai potret perusahaan merupakan laporan akuntansi yang
menunjukkan posisi asset, liabilitas, dan ekuitas perusahaan pada akhir suatu
periode.
2. Laporan Rugi/Laba Komprehensif
Merupakan laporan akuntansi yang menunjukkan kinerja operasional perusahaan
selama satu periode.
3. Laporan Perubahan Ekuitas
Menunjukkan detai perubahan yang terjadi, seperti setoran modal atau perolehan
laba / rugi neto.
4. Laporan Arus Kas
Memperlihatkan sumber arus kas masuk dan penggunaan arus kas keluar
perusahaan yang terpusat pada aktivitas utama yaitu operasional, investasi, dan
pendanaan.
5. Catatan atas Laporan Keuangan
Merupakan pengungkapan (disclosure) baik yang bersifat keuangan maupun non
keuangan yang terkandung dalam laporan keuangan.
E. Siklus Akuntansi
Siklus akuntansi merupakan keseluruhan proses yang dilakukan oleh entitas untuk
mengolah data-data keuangan hingga menjadi informasi yang bermanfaat bagi pengguna
untuk pengambilan keputusan.
Indentifikasi peristiwa &
pencatatan transaksi

Jurnal Pembalik
Referensi: Jurnal

Intermediate Accounting: IFRS Edition Volume I oleh Donald E Kieso dan Jerry
J W.
Neraca saldo setelah Posting ke Buku Besar
penutupan
Akuntansi Keuangan Menengah I oleh Hessy Erlisa Frasti.

Jurnal penutup Neraca Saldo

Laporan Keuangan Kertas Jurnal Penyesuaian


Kerja

Neraca Saldo Disesuaikan


LAPORAN LABA RUGI & INFORMASI YANG BERHUBUNGAN

Rerangka Bab

Dalam bab ini, materi yang akan dibahas yaitu :

Laporan Laba/Rugi & Informasi Yang


Berhubungan

Laporan Format Laporan Pelaporan Pos- Masalah


Laba/Rugi Laba/Rugi pos Tidak Biasa Pelaporan Khusus

 Kegunaan  Unsur-unsur  Operasi yang  Alokasi pajak


 Keterbatasan  Langsung dihentikan interperiode
 Kualitas Laba  Bertahap  Pos-pos luar biasa  Laba per saham
 Laporan laba/rugi  Keuntungan &  Laporan laba
ringkas kerugian tidak ditahan
biasa  Laba komprehensif
 Perubahan prinsip
akuntansi
 Koreksi kesalahan

Bagan 1. Rerangka Bab

A. Laporan Laba/Rugi

 Pengertian
Laporan laba/rugi (income statement) adalah laporan yang mengukur keberhasilan
operasi perusahaan selama periode waktu tertentu. Laporan ini menyediakan
informasi yang diperlukan oleh investor dan kreditor dalam memprediksi jumlah,
penetapan waktu, dan ketidakpastian dari arus kas masa depan.
 Kegunaan Laporan Laba/Rugi
Kegunaan Laporan Laba-rugi bagi pengguna laporan keuangan :
1. Mengevaluasi kinerja masa lalu perusahaan untuk memprediksi kinerja masa
depan
 Investor menggunakan informasi ini untuk memprediksi laba dan arus kas
masa depan yang kemudian dijadikan dasar untuk memprediksi harga saham
dan dividen perusahaan di masa depan. mengetahui kinerja perusahaan dan
membandingkannya dengan pesaing.
 Kreditor menggunakan informasi ini untuk mengetahui kemampuan calon
debitor dalam menghasilkan arus kas masa depan yang diperlukan untuk
membayar beban bunga dan membayar pokok pinjaman.
 Manajemen menggunakan informasi ini untuk memprediksi pencapaian
target laba yang berpengaruh terhadap bonus yang diberikan kepada para
manajer.
2. Membantu menilai risiko atau ketidakpastian pencapaian arus kas masa depan 
dalam rangka menentukan profitabilitas, nilai investasi, dan kelayakan kredit.
 Keterbatasan Laporan Laba/Rugi
Laba bersih merupakan suatu estimasi dan mencerminkan sejumlah asumsi, sehingga
memiliki keterbatasan, diantaranya:
1. Pos-pos yang tidak dapat diukur secara akurat tidak dilaporkan dalam laporan
laba-rugi. Misalnya keuntungan dan kerugian yang belum terealisasi atas
sekuritas investasi tertentu.
2. Laba yang dilaporkan dipengaruhi oleh metode akuntansi yang digunakan. Jika
dua perusahaan menggunakan metode penyusutan yang berbeda, laba yang
dihasilkan juga akan berbeda.
3. Pengukuran laba (penghasilan dan biaya) melibatkan pertimbangan (judgement)
manajemen. Misalnya pertimbangan dalam mengestimasi kewajiban atas klaim
garansi dan pengakuan penghapusan piutang tak tertagih, ada yang
melakukannya dengan optimistis, sehingga menyebabkan biaya yang lebih
rendah dan laba yang lebih tinggi.
 Kualitas Laba
Setiap perusahaan pasti menginginkan agar harga saham dan nilai opsi saham
manajemen meningkat, sehingga perusahaan memiliki insentif/dorongan untuk
mengelola laba (manajemen laba) guna memenuhi target laba dengan kata lain
membuat laba terlihat kurang berisiko. Manajemen laba merupakan tindakan
mengatur waktu pengakuan pendapatan, biaya, keuntungan atau kerugian agar
mencapai informasi laba tertentu yang diinginkan tanpa melanggar ketentuan dalam
standar akuntansi.
Misalnya, manajemen laba dilakukan dengan mengakui pendapatan lebih awal, laba
perusahaan periode berjalan akan meningkat dan target laba akan tercapai. Atau bisa
juga dengan mengakui pendapatan periode berjalan pada periode berikutnya untuk
menaikkan laba periode mendatang.

B. Format Laporan Laba/Rugi

 Dalam melakukan pengukuran laba, dikenal dua metode/pendekatan, yaitu:


1. Pendekatan transaksi  berfokus pada aktivitas yang berhubungan dengan
laba yang telah dicapai selama periode akuntansi.
2. Pendekatan pemeliharaan modal  laba suatu periode ditentukan
berdasarkan perubahan ekuitas, setelah disesuaikan dengan modal (investasi
pemilik) atau distribusi modal (dividen).
 Unsur-unsur utama (pos-pos) laporan laba-rugi antara lain:
1. Pendapatan  arus masuk aktiva atau peningkatan lainnya dalam aktiva
entitas atau pelunasan kewajibannya selama suatu periode, yan ditimbulkan
oleh pengiriman atau produksi barang, penyediaan jasa, atau aktivitas lainnya
yang merupakan bagian dari operasi utama perusahaan. Misalnya, penjualan,
honor, bunga, dividen, dan sewa.
2. Beban  arus keluar atau penurunan lainnya dalam aktiva sebuat entitas atau
penambahan kewajibannya selama suatu periode, yang ditimbulkan oleh
pengiriman dan produksi barang, penyediaan jasa, atau aktivitas lainnya yang
merupakan bagian dari operasi utama perusahaan. Misalnya, harga pokok
penjualan, penyusutan, bunga, sewa, gaji dan upah, serta pajak.
3. Keuntungan  kenaikan ekuitas ( aktiva bersih) perusahaan dari transaksi
sampingan atau insidentil kecuali yang dihasilkan dari pendapatan atau
investasi oleh pemilik. Misalnya dari penjualan investasi, penjualan aktiva
pabrik, dan lain sebagainya.
4. Kerugian  penurunan ekuitas (aktiva bersih) perusahaan dari transaksi
sampingan atau insidentil kecuali yang berasal dari biaya atau distribusi kepada
pemilik. Misalnya, pelunasan kewajiban, penghaspusan aktiva akibat
keusangan atau bencana, dan pencurian.

 Laporan Laba-Rugi Bentuk Langsung


Dalam laporan laba-rugi bentuk langsung, hanya ada dua pengelompokan
yaitu pendapatan dan beban. Perhitungan laba bersih dalam laporan laba-rugi
bentuk langsung hanya memerlukan satu pengurangan. Untuk pajak penghasilan
bisa dilaporkan menyatu dengan beban atau juga dilaporkan sebagai pos terpisah
sebelum laba bersih untuk mengetahui hubungannya dengan laba sebelum pajak.

PT PENENGAH
Laporan Laba-Rugi
Untuk Tahun yang Berakhir pada 31 Desember 2015
(dalam ribuan Rupiah)

Pendapatan
Penjualan bersih 3.000.000
Pendapatan dividen 100.000
Pendapatan sewa 70.000
Total pendapatan 3.170.000
Beban
Harga pokok penjualan 1.900.000
Beban penjualan 450.000
Beban administrasi 350.000
Beban bunga 125.000
Total beban selain pajak (2.825.000)
Laba sebelum pajak 345.000
Pajak penghasilan (65.000)
Laba tahun berjalan 280.000
Laba per saham biasa 2.8
Tampilan 1. Laporan Laba-Rugi Bentuk Langsung

 Laporan Laba-Rugi Bertahap


Klasifikasi dari pos-pos yang ada dalam laporan laba-rugi bertahap meliputi:
1. Pemisahan aktivitas operasi dan non-operasi perusahaan.
2. Klasifikasi beban ada dua yaitu klasifikasi beban alami dan klasifikasi beban
fungsional.
Dengan demikian, laporan laba-rugi bertahap memisahkan transaksi operasi dari
transaksi non-operasi serta menandingkan beban dan biaya dengan pendapatan yang
berhubungan, sehingga dapat menampilkan berbagai komponen laba yang
digunakan untuk menghitung rasio dalam menilai kinerja perusahaan.

Komponen laporan laba-rugi bertahap meliputi:


1. Bagian Operasi: bagian yang melaporkan pendapatan dan beban dari operasi
utama perusahaan.

a. Bagian penjualan atau pendapatan. Subbagian yang menyajikan


penjualan, diskon, penurunan harga, retur penjualan, dan informasi lain yang
berhubungan. Tujuannya untuk memperoleh jumlah bersih pendapatan
penjualan.
b. Bagian harga pokok penjualan. Subbagian yang memperlihatkan harga
pokok barang yang dijual untuk mendapatkan penjualan.
c. Beban penjualan. Subbagian yang mencantumkan daftar beban-beban yang
berasal dari upaya perusahaan untuk melakukan penjualan.
d. Beban administrasi dan umum. Seubbagian yang melaporkan beban-beban
administrasi umum.
2. Bagian non-operasi: laporan pendapatan dan beban yang berasal dari aktivitas
sekunder/tambahan dari perusahaan.
a. Pendapatan dan keuntungan lain. Daftar pendapatan/keuntungan yang
dihasilkan dari transaksi non-operasi, yang umumnya berupa nilai bersih
dari beban yang terkait.
b. Beban dan kerugian lain. Daftar beban/kerugian yang terjadi dari transaksi
non-operasi, yang umumnya berupa nilai bersih dari setiap pendapatan yang
berhubungan.
3. Pajak penghasilan: bagian pendek yang melaporkan pajak penghasilan federal
dan Negara bagian yang dikenakan atas laba dari operasi berlanjut.
4. Operasi yang dihentikan: keuntungan/kerugian material yang berasal dari
disposisi segmen bisnis.
5. Pos-pos luar biasa: keuntungan dan kerugian material yang bersifat tidak biasa
dan jarang terjadi.
6. Laba per saham.

Tiga subtotal yang harus ada ketika menghitung laba bersih metode ini adalah:
1. Pendapatan penjualan bersih
2. Laba kotor atas penjualan
3. Laba operasi (laba setelah pajak)
PT PENENGAH
Laporan Laba-Rugi
Untuk Tahun yang Berakhir pada 31 Desember 2015
(dalam ribuan Rupiah)
Pendapatan Penjualan
Penjualan 3.080.000
Dikurangi: Diskon Penjualan 25.000
Retur penjualan & penurunan harga 55.000 (80.000)

Pendapatan penjualan bersih 3.000.000

Harga Pokok Penjualan


Persediaan barang dagang, 1 Januari 2015 450.000
Pembelian 1.950.000
Dikurangi: Diskon pembelian (20.000)
Pembelian bersih 1.930.000
Biaya angkut & transportasi-masuk 40.500 1.970.500
Total barang dagang tersedia untuk dijual 2.420.500
Dikurangi: Persediaan barang dagang, 31 Des 2015 (520.500)
Harga pokok penjualan 1.900.000
Laba kotor atas penjualan 1.100.000

Beban Operasi

Beban Penjualan
Gaji & komisi penjualan 210.000
Gaji kantor-penjualan 60.000
Travel & hiburan 45.000
Beban iklan 40.000
Beban angkut & transportasi-keluar 40.000
Beban perlengkapan pengiriman 25.000
Beban telepon & internet 15.000
Penyusutan peralatan penjualan 15.000 450.000

Beban Administrasi
Gaji pimpinan 180.000
Gaji kantor 70.000
Beban jasa hukum & professional 25.000
Beban utilitas 25.000
Beban asuransi 15.000
Penyusutan bangunan 18.000
Penyusutan peralatan kantor 12.000
Beban kantor rupa-rupa 5.000 350.000 800.000
Laba dari operasi 300.000
Pendapatan dan Keuntungan Lainnya
Pendapatan dividen 100.000
Pendapatan sewa 70.000 170.000
470.000
Beban dan Kerugian Lainnya
Beban bunga obligasi (125.000)
Laba sebelum pajak penghasilan 345.000
Pajak penghasilan (65.000)
Laba bersih 280.000
Laba per saham biasa 2.8
Tampilan 2. Laporan Laba-Rugi Bertahap

 Laporan Laba-Rugi Ringkas


Laporan laba-rugi ringkas ini sebagai alternatif jika tidak memungkinkan untuk
merinci setiap pos-posnya, akan tetapi diperlukan adanya catatan pendukung.
PT PENENGAH
Laporan Laba-Rugi
Untuk Tahun yang Berakhir pada 31 Desember 2015
(dalam ribuan Rupiah)
Penjualan bersih 3.000.000
Harga pokok penjualan (1.900.000)
Laba Kotor 1.100.000
Beban penjualan (lihat Catatan D) 450.000
Beban Administrasi 350.000 (800.000)
Laba dari operasi 300.000
Pendapatan dan keuntungan lainnya 170.000
470.000
Beban dan kerugian lainnya (125.000)
Laba sebelum pajak penghasilan 345.000
Pajak penghasilan (65.000)
Laba bersih 280.000
Laba per saham biasa 2.8
Tampilan 3. Laporan Laba-Rugi Ringkas

C. Pelaporan Pos-Pos Tidak Biasa

1. Operasi yang dihentikan

Operasi yang dihentikan terjadi apabila :


a. Perusahaan mengeliminasi hasil operasi dan arus kas komponen dari operasi
yang sedang berjalan
b. Tidak ada lagi aktivitas yang dilakukan komponen itu setelah transaksi pelepasan
2. Pos-Pos Luar Biasa

Pos-pos luar biasa didefinisikan sebagai pos-pos material yang jarang muncul, yang
secara signifikan berbeda dengan aktivitas bisnis utama perusahaan. Kriteria pos-pos
luar biasa adalah sebagai berikut :

a. Bersifat tidak biasa.

Kejadian atau transaksi yang mendasari harus memiliki tingkat abnormalitas


yang tinggi dan merupakan jenis yang secara jelas tidak berhubungan dengan,
atau hanya bersifat insidentil berkaitan dengan aktivitas normal dan umum
perusahaan, dengan memperhitungkan lingkungan dimana perusahaan
beroperasi.
b. Kejarangan terjadinya

Kejadian atau transaksi yang mendasari harus merupakan jenis yang tidak
diharapkan akan terjadi kembali dimasa mendatang dengan memperhitungkan
lingkungan dimana perusahaan beroperasi.

Keuntungan dan kerugian dibawah ini tidak termasuk dalam pos luar biasa :

a. Penurunan atau penghapusan piutang, persediaan, peralatan, yang dilease


kepada pihak lain, biaya riset dan pengembangan yang ditangguhkan serta aktiva
tak berwujud lainnya.

b. Keuntungan atau kerugian dari pertukaran atau tranlasi valuta asing, termasuk
yang berhubungan dengan devaluasi dan revaluasi berskala besar.

c. Keuntungan atau kerugian atas pelepasan komponen bisnis (dilaporkan sebagai


operasi yang dihentikan).

d. Keuntungan atau kerugian lain dari penjualan atau pembebasan property, pabrik,
atau peralatan yang dipakai dalam operasi.

e. Pengaruh pemogokan termasuk yang dialami oleh pesaing dan pemasok penting.

f. Penyesuaian akrual atas kontrak jangka panjang.

Hal diatas tidak termasuk dalam pos luar biasa karena bersifat biasa dan diperkirakan
akan terjadi sebagai akibat dari aktivitas bisnis yang normal atau berlanjut.

3. Keuntungan dan kerugian tidak biasa

Para pemakai laporan keuangan harus memperhatikan secara seksama pos-pos


laporan keuangan yang tidak biasa atau jarang terjadi. Pos-pos seperti penghaupusan
persediaan serta keuntungan dan kerugian dari fluktuasi valuta asing ada kalanya
disajikan bersama dengan pendapatan dan beban normal yang berulang. Jika
jumlahnya tidak material, maka pos-pos ini digabungkan dengan pos-pos lainnya
dalam laporan laba-rugi. Jika jumlahnya material, maka pos-pos ini harus
diungkapkan secara terpisah, tapi disajikan diatas “laba (rugi) sebelum pos luar
biasa”.

4. Perubahan prinsip akuntansi

Sebuah perusahaan mengakui perubahan prinsip akuntansi dengan melakukan


penyesuaian retrospektif terhadap laporan keuangan. Penyesuaian tersebut membuat
laporan keuangan tahun lalu konsisten dengan prinsip yang baru diadopsi.
Perusahaan mencatat pengaruh kumulatif dari perubahan periode lalusebagai
penyesuaian terhadap laba ditahan pada awal tahun yang disajikan.

5. Perubahan estimasi

Perubahan estimasi tidak dipandang sebagai kesalahan atau pos-pos luar biasa.
Estimasi selalu melekat pada proses akuntansi. Misalnya, perusahaan mengestimasi
umur manfaat dan nilai sisa aktiva yang dapat disusutkan, piutang tak tertagih,
keusangan persediaan, dan jumlah periode yang diharapkan atas manfaat dari
pengeluaran tertentu. Karena berlalunya waktu, perubahan kondisi, atau informasi
baru yang diperoleh, bahkan estimasi yang pada awalnya dibuat dengan niat baik
harus diubah. Perubahan estimasi seperti ini disajikan dalam periode terjadinya
perubahan itu jika hanya mempengaruhi periode bersangkutan, atau dalam periode
terjadinya perubahan serta periode dimasa depan jika perubahan itu mempengaruhi
keduanya.

6. Koreksi kesalahan

Kesalahan dapat terjadi akibat dari kesalahan matematis, kesalahan dalam


mengaplikasikan prinsip akuntansi, atau salah menggunakan fakta-fakta yang ada
pada waktu laporan keuangan disusun. Banyak perusahaan yang telah mengoreksi
laporan keuangannya terkait dengan pelaporan pendapatan yang tidak tepat,
akuntansi untuk opsi saham, penyisihan piutang, persediaan, restrukturisasi, dan
kerugian kontinjensi. Perusahaan harus mengoreksi kesalahan tersebut dengan
membuat ayat jurnal yang tepat. Koreksi penyesuaian diperlakukan sebagai
penyesuaian periode sebelumnya, yang serupa dengan perubahan prinsip akuntansi.
Perusahaan mencatat koreksi kesalahan pada tahun dimana kesalahan tersebut
ditemukan. Jika perusahaan membuat laporan keuangan komparatif, perusahaan
harus menyatakan kembali laporan sebelumnya untuk mengetahui pengaruh
kesalahan itu.

D. Masalah Pelaporan Khusus

1. Alokasi Pajak Intra-Periode


a. Keuntungan luar biasa
Asumsikan, Schindler Co. memiliki laba sebelum PPh dan pos luar biasa sebesar
$250.000 serta keuntungan luar biasa sebesar $100.000, dengan tarif PPh 30%.
Berikut tabel ilustrasinya:

Laba sebelum PPh dan pos luar biasa $250.000


Pajak Penghasilan 75.000
Laba sebelum pos luar biasa 175.000
Tampilan 4. Keuntungan Luar Biasa
b. Kerugian luar biasa
Asumsikan, Schindler Co. memiliki laba sebelum PPh dan pos luar biasa sebesar
$250.000 serta kerugian luar biasa sebesar $100.000, dengan tarif PPh 30%.
Berikut tabel ilustrasinya:

Laba sebelum PPh dan pos luar biasa $250.000


Pajak Penghasilan 75.000
Laba sebelum pos luar biasa 175.000
Kerugian luar biasa – bencana alam $100.000
Dikurangi: pajak penghasilan yang berlaku 30.000 70.000
Laba bersih $105.000

Tampilan 5. Kerugian Luar Biasa

2. Laba per Saham


Laba per saham adalah rasio yang umumnya digunakan dalam prospektus, bahan
penyajian, dan laporan yahunan kepada pemegang saham. Karena begitu pentingnya,
laba per saham harus diungkapkan pada bagian muka laporan laba rugi. Berikut
rumus perhitungan laba per saham:

𝐿𝑎𝑏𝑎 𝐵𝑒𝑟𝑠𝑖ℎ − 𝐷𝑖𝑣𝑖𝑑𝑒𝑛 𝑆𝑎ℎ𝑎𝑚 𝑃𝑟𝑒𝑓𝑒𝑟𝑒𝑛


𝑅𝑎𝑡𝑎 𝑅𝑎𝑡𝑎 𝑇𝑒𝑟𝑡𝑖𝑚𝑏𝑎𝑛𝑔 𝑆𝑎ℎ𝑎𝑚 𝐵𝑖𝑎𝑠𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝐵𝑒𝑟𝑒𝑑𝑎𝑟

Tampilan 6. Rasio Laba per Saham

3. Laporan Laba Ditahan


a. Ilustrasi Laba Ditahan
Perubahan prinsip akuntansi dan penyesuaian periode sebelumnya bisa menaikkan
atau menurunkan laba diitahan. Penyesuaian periode sebeumny setelah pajak,
harus dibebankan ke saldo awal laba ditahan, sehingga tidak masuk dalam
penentuan laba bersih periode berjalan. Berikut ilustrasi laporan laba ditahan:

TIGER WOODS INC.


Laporan Laba Ditahan
Untuk Tahun yang Berakhir 31 Desember 2007

Laba ditahan, 1 Januari, seperti yang dilaporkan $1.050.000


Koreksi atas penetapan yang terlalu rendah laba bersih pada
Periode sebelumnya (kesalahan persediaan) $50.000
b. Pembatasan Laba Ditahan
Laba ditahan, sering dibatasi dengan persyaratan kontraktual, kebijakan dewan
direksi, atau kebutuhan saat ini. laba ditahan yang dibatasi, biasanya dipindahkan
ke akun Laba Ditahan yang Diapropriasi. Karena itu, laba ditahan dapat
melaporkan 2 jumlah terpisah, yaitu laba ditahan yang bebas dan laba ditahan
yang diapropriasi.
4. Laba Komprehensif
Laba komprehensif meliputi semua perubahan ekuitas selama suatu periode kecuali
perubahan akibat investasi oleh pemilik dandistribusi kepada pemilik. FASB
memutuskan bahwa laba komprehensif lainnya harus disajikan dengan salah satu dari
3 cara berikut ini:
a. Laporan laba rugi kedua yang terpisah
Laporan laba komprehensif dalam laporan yang terpisah mengindikasikan bahwa
keuntungan dan kerugian yang diidentifikasikan sebagai laba komprehensif
lainnya memiliki status yang sama dengan keuntungan dan kerugian tradisional.
b. Laporan laba rugi dan laba komprehensif gabungan
Dalam pendekatan ini, laba bersih tradisional adalah subtotal, sementara total laba
komprehensif ditunjukkan sebagai total akhir.

V. GILL INC.
Laporan Laba Rugi
Untuk Tahun yang Berakhir 31 Desember 2007

Pendapatan Penjualan $800.000


Harga Pokok Penjualan 600.000
Laba Kotor 200.000
Beban Operasi 90.000
Laba Bersih $110.000

V. GILL INC.
Laporan Laba Rugi Komprehensif
Untuk Tahun yang Berakhir 31 Desember 2007

Laba Bersih $110.000


Laba Komprehensif Lainnya
Tampilan
c. Laporan ekuitas 8. Format
pemegang Dua-Laporan: Laba Komprehensif
saham
Laporan ini melaporkan perubahan dalam setiap akun entitas pemegang saham dan
total ekuitas pemegang saham selama tahun berjalan. Berikut merupakan ilustrasi
penyajian pos-pos laba komprehensif dalam laporan ekuitas pemegang saham:

V. GILL INC.
Laporan Ekuitas Pemegang Saham
Untuk Tahun yang Berakhir 31 Desember 2007

Akumulasi Laba
Laba Laba Komprehensif Saham
Total komprehensif Ditahan Lainnya Biasa

Saldo Awal $410.000 $50.000 $60.000 $300.000


Laba Komprehensif
Laba Bersih 110.000 $110.000 110.000
Laba Komprehensif Lainnya
Keuntungan Penahanan
Yang belum terealisasi
setelah pajak 30.000 30.000 30.000
laba Komprehensif $140.000
Saldo Akhir $550.000 $160.000 $90.000 $300.000

Tampilan 9. Ekuitas Pemegang Saham


NERACA DAN LAPORAN ARUS KAS

RERANGKA

Laporan Posisi Keuangan & Laporan Arus Kas

Laporan Posisi Keuangan Laporan Arus Kas

Elemen Klasifikasi

Klasifikasi Penyusutan

Format Pengungkapan

Pengungkapan

Bagan 2. Rerangka Bab

LAPORAN POSISI KEUANGAN


A. Kegunaan
Tujuan pengguna Laporan Posisi Keuangan adalah sebagai berikut.
1. Mengevaluasi Struktur Pendanaan
Yang dilihat adalah informasi mengenai perbandingan sumber pendanaan melalui
utang dibandingkan dengan ekuitas.
2. Menganalisis Likuiditas
Likuiditas adalah seberapa cepat waktu yang diperlukan sampai suatu asset dapat
terealisasi atau terkonversi menjadi kas atau sampai suatu liabilitas dapat terbayar.
Pihak kreditur biasanya sangat tertarik dengan informasi rasio likuiditas jangka
pendek untuk menilai kemampuan entitas membayar bunga tepat waktu.
3. Menilai Solvabilitas
Solvabilitas adalah kemampuan entitas membayar utangnya pada saat jatuh tempo.
Biasanya hal ini dapat diukur dengan tingkat utang jangka panjang yang dimiliki
entitas. Entitas yang memiliki rasio utang yang tinggi berarti memiliki solvabilitas
yang rendah dibanding entitas dengan rasio utang yang rendah. Entitas yang
solvabilitasnya rendah lebih berisiko karena memerlukan lebih banyak asset untuk
membayar utangnya, baik pokok maupun beban bunga.
4. Menilai Fleksibilitas Keuangan
Likuiditas dan solvabilitas akan menentukan fleksibilitas keuangan entitas dengan
mengukur kemampuan entitas mengambil tindakan tertentu sebagai respon
terhadap kebutuhan dan peluan yang ada. Entitas dengan tingkat utang yang tinggi
lebih tidak fleksibel debansing entitas dengan tingkat utang rendah. Mereka
terkadang tidak mudah untuk mengalokasikan arus kasnya untuk merespon
peluang tertentu misalnya peluang berinvestasi, karena arus kas tersebut harus
dialokasikan untuk pembayaran utang.
B. Keterbatasan
Beberapa kritik terhadap laporan posisi keuangan adalah sebagai berikut.
1. Pilihan pengukuran beberapa asset tertentu berdasarkan biaya perolehan atau
biaya perolehan terdepresiasi, bukan pada nilai kininya sehingga kurang
mencerminkan nilai wajar suatu asset.
2. Tidak diperkenankan mengakui asset tak berwujud yang mangandung nilai
manfaat namun sulit diukur nilainya secara objektif karena dihasilkan secara
internal.
3. Rekayasa keuangan yang seringkali memungkinkan dilakukan untuk
menghasilkan pembiayaan off-balance sheet.
4. Beberapa pengukuran nilai untuk beberapa unsur dinlaporan posisi keuangan
melibatkan pertimbangan dan estimasi, misalnya penentuan masa manfaat asset
tetap.

Kelompok pos yang umum terdapat dalam laporan posisi keuangan antara lain:
1. Asset. Merupakan manfaat ekonomi yang mungkin diperoleh di masa depan atau
dikendalikan oleh entitas tertentu sebagai hasil dari transaksi atau kejadian masa
lalu.
2. Liabilitas. Pengorbanan manfaat ekonomi yang mungkin terjadi di masa depan
yang berasal dari liabilitas berjalan entitas tertentu untuk mentransfer asset atau
menyediakan jasa kepada entitas lainnya di masa depan sebagai hasil dari transaksi
atau kejadian masa lalu.
3. Ekuitas. Kepentingan residu dalam asset sebuah entitas setelah dikurangi dengan
kewajiban-kewajbannya.

C. Klasifikasi
Dari elemen/pos utama di atas, dapat diklasifikasikan lagi menjadi beberapa
subklasifikasi, antara lain:
1. Aset lancar
Asset lancar adalah kas dan asset lainnya yang diharapkan akan dapat dikonversi
menjadi kas, dijual, atau dikonsumsi dalam satu tahun atau dalam satu siklus
operasi, tergantung mana yang paling lama. Siklus operasi adalah waktu rata-rata
antara akuisisi bahan dan perlengkapan dengan realisasi kas melalui penjualan
produk. Asset lancar disajikan dalam laporan posisi keuangan menurut urutan
likuiditas, yaitu:
Pos-pos Dasar Penilaian
Kas dan ekuivalen kas Nilai wajar
Investasi jangka pendek Nilai wajar (pada umumnya)
Piutang Estimasi jumlah yang tertagih
Persediaan Harga perolehan atau pasar yang lebih
Beban dibayar di muka rendah
Harga perolehan

a. Kas
Kas pada umumnya terdiri dari mata uang atau demand deposit. Ekuivalen kas
adalah investasi jangka pendek yang sangat likuid dan akan jatuh tempo dalam
jangka waktu kurang dari sama dengan tiga bulan.
Namun, tidak semua pos-pos di atas dapat dikatakan likuid, tergantung dengan
berapa lama dapat terealisasi. Misalnya, kas yang dibatasi untuk tujuan di luar
pembayaran kewajiban lancar, maka tidak dilaporkan dalam asset lancar.
Sebagai contoh kas yang dibatasi untuk pembayaran kewajiban lancar dengan
yang selain untuk pelunasan kewajiban lancar:
Tampilan 1. Kas yang dibatasi – bagian lancar di Neraca
Asset lancar
Kas Rp 20.000.000
Kas dan investasi yang dibatasi Rp 5.000.000

Tampilan 2. Kas yang dibatasi-bukan bagian lancar di Neraca


Aset lancar
Kas dan ekuivalen kas Rp 20.000.000
Sekuritas yang dibatasi-bagian lancar Rp 5.000.000
Asset lain
Sekuritas yang dibatasi Rp 2.500.000

b. Investasi Jangka Pendek


Investasi dalam sekuritas utang dan ekuitas dikelompokkan ke dalam tiga
portofolio terpisah untuk tujuan pelaporan. Ketiga portofolio itu dikategorikan
sebagai berikut:
 Sekuritas yang dipegang-hingga-jatuh-tempo (held to maturity
securities)
Sekuritas utang perusahaan yang memiliki nilai positif dan kemampuan
untuk dipegang hingga jatuh tempo.
 Sekuritas perdagangan (trading securities)
Sekuritas utang dan ekuitas yang terutama dibeli dan dipegang untuk dijual
dalam waktu dekat untuk mendapatkan laba atas selisih harga jangka
pendek.
 Sekuritas yang tersedia-untuk-dijual (available for sale securities)
Sekuritas utang dan ekuitas yang tidak diklasifikasikan sebagai sekuritas
yang dipegang-hingga-jatuh-tempo dan sekuritas perdagangan.

Tampilan 3. Investasi dalam Sekuritas di Neraca


Aset
Kas dan ekuivalen kas Rp 20.000.000
Investasi jangka pendek Rp 25.000.000

c. Piutang
Setiap kerugian yang diantisipasi akibat piutang tak tertagih, jumlah, san sifat
dari setiap piutang non-dagang serta setiap piutang yang digunakans ebagai
jaminan harus diidentifikasikan secara jelas. Kategori utama piutang harus
disajikan dalam neraca atau catatan terkait. Untuk piutang yang berasal dari
transaksi tidak biasa seperti penjualan property atau pinjaman kepada afiliasi
atau karyawan, perusahaan harus mengklasifikasikannya secara terpisah
sebagai piutang jangka panjang, kecuali diperkirakan akan diterima dalam
waktu setahun.

Tampilan 4. Piutang dalam Neraca


Aset lancer
Piutang Dagang
Piutang usaha Rp 10.000.000
Perusahaan afiliasi Rp 5.000.000
Wesel dan kontrak angsuran Rp 3.000.000
Total Rp 18.000.000
Dikurangi: Penyisihan piutang tak tertagih (Rp 2.000.000)
Piutang dagang-bersih Rp 16.000.000
Piutang dari cabang keuangan yang tidak- Rp 8.000.000
dikonsolidasi

d. Persediaan
Untuk menyajikan persediaan secara tepat, dasar penilaian (mana yang
terendah antara biaya atau harga pasar) dan metode penetapan harga (FIFO atau
LIFO) harus diungkapkan.

Tampilan 5. Persediaan di Neraca, dengan memperlihatkan tahap


penyelesaian
Aset lancar
Persediaan
Barang Jadi Rp 20.000.000
Barang dalam proses Rp 10.000.000
Bahan baku Rp 12.000.000
Total persediaan Rp 42.000.000
Catatan 1 (parsial): Persediaan
Persediaan disajikan berdasarkan harga perolehan (dengan basis FIFO)
atau nilai pasar, mana yang lebih rendah.
e. Beban Dibayar di Muka
Beban dibayar di muka yang termasuk dalam asset lancar adalah pengeluaran
yang telah dilakukan untuk manfaat (biasanya jasa) yang akan diterima dalam
satu tahun atau satu siklus operasi, tergantung mana yang lebih panjang. Contoh
yang umum adalah pembayaran di muka untuk polis asuransi. Pengeluaran ini
diklasifikasikan sebagai beban dibayar di muka pada saat dikeluarkan karena
pembayaran ini mendahului penerimaan manfaat dari cakupan asuransi. Beban
dibayar di muka umum lainnya adalah sewa dibayar di muka, iklan, pajak, dan
perlengkapan kantor atau operasi.
Tampilan 6. Beban Dibayar di Muka di Neraca

Aset lancar
Kas termasuk investasi jangka pendek Rp Rp 45.000.000
25.000.000 Rp 16.000.000
Piutang usaha, dikurangi penyisihan Rp 2.000.000 Rp 42.000.000
Persediaan Rp 30.000.000
Beban dibayar di muka Rp 15.000.000
Aset lancar lainnya

2. Aset tak lancar


Asset tak lancar adala asset yang tidak memenuhi definisi asset lancar.
a. Investasi Jangka Panjang
Terdiri dari satu dari empat jenis investasi berikut:
 Investasi dalam sekuritas, seperti obligasi, saham biasa, atau wesel jangka
panjang.
 Investasi dalam asset tetap berwujud, yang saat ini tidak digunakan dalam
operasi, seperti tanah yang ditahan untuk spekulasi.
 Untuk yang disisihkan dalam dana khusus, seperti dana pelunasan, dana
pensiun, atau dana ekspansi pabrik. Nilai penyerahan tunai dari asuransi jiwa
termasuk kategori ini.
 Investasi dalam anak perusahaan atau afiliasi yang tidak dikonsolidasi.

Tampilan 7. Investasi Jangka Panjang di Neraca

Investasi
Investasi ekuitas Rp 10.000.000
Investasi lainnya Rp 15.000.000
Rp 10.000.000
Penyesuaian nilai wajar sekuritas yg tersedia-untuk- Rp 35.000.000
dijual
Total

b. Properti Pabrik, dan Peralatan


Properti, pabrik, dan peralatan adalah kekayaan yang bersifat tahan lama yang
digunakan dalam operasi regular perusahaan. Asset ini terdiri dari property atau
kekayaan fisik seperti tanah, bangunan, mesin, perabotan, perkakas, dan
sumber daya yang tidak dapat diperbaharui kecuali tanah yang sebagian bisa
disusutkan (bangunan) atau dideplesikan (hutan dan cadangan minyak).

Tampilan 8. Properti, Pabrik, dan Peralatan di Neraca


Properti, Pabrik, dan Peralatan
Tanah Rp 30.000.000
Bangunan Rp 20.000.000
Mesin dan Peralatan Rp 30.000.000
Lease yang dikapitalisasi Rp 15.000.000
Perbaikan leasehold Rp 5.000.000
Rp 100.000.000
Dikurangi: Akumulasi penyusutan (Rp 45.000.000)
Rp 55.000.000
Perkakas, potongan dan cetakan bersih Rp 15.000.000
Properti, pabrik dan peralatan, bersih Rp 70.000.000

c. Aset Tak Berwujud


Aset tak berwujud tidak memiliki substansi fisik dan bukan merupakan
instrument keuangan. Asset ini meliputi paten hak cipta, waralaba, goodwill,
merek dagang, nama dagang, dan daftar pelanggan. Pada umumnya, semua
asset tak berwujud ini diamortisasi selama masa manfaatnya terbatas.
Perusahaan secara periodic menilai umur asset tak berwujud berdasarkan
penurunan nilai (impairment) yang terjadi.
Tampilan 9. Aset tak Berwujud di Neraca

Aset tak berwujud


Goodwill Rp 8.000.000
Merek dagang Rp 5.000.000
Aset tak berwujud lainnya Rp 3.000.000
Total asset tak berwujud Rp 16.000.000

d. Aset lainnya
Umumnya pos-pos ini meliputi beban dibayar di muka jangka panjang, biaya
pensiun dibayar di muka, piutang tidak lancar, asset dalam dana khusus, pajak
penghasilan yang ditangguhkan, property yang dipegang-untuk-dijual, dan kas
atau sekuritas yang dibatasi.

3. Kewajiban
a. Kewajiban Lancar
Kewajiban lancar adalah kewajiban yang diperkirakan secara memadai akan
dilikuidasi melalui penggunaan asset lancar atau penciptaan kewajiban lancar
lainnya. Konsep ini meliputi:
 Utang yang berasal dari akuisisi barang dan jasa: utang usaha, utang gaji,
utang pajak, dll.
 Penagihan yang diterima di muka sebelum barang dikirimkan atau jasa
diberikan seperti pendapatan sewa yang belum dihasilkan atau pendapatan
langganan yang belum dihasilkan.
 Kewajiban lain yang likuidasinya akan dilakukan dalam siklus operasi
seperti bagian obligasi jangka panjang yang harus dibayarkan dalam periode
berjalan, atau kewajiban jangka pendek yang berasal dari pembelian
peralatan
Tampilan 100. Kewajiban Lancar di Neraca

Kewajiban lancar
Wesel bayar jangka pendek Rp 5.000.000
Utang usaha Rp 10.000.000
Kompensasi karyawan Rp 2.000.000
Pendapatan yang belum dihasilkan Rp 8.000.000
Utang pajak penghasilan Rp 3.000.000
Beban khusus-akrual Rp 3.000.000
Bagian lancar utang jangka panjang Rp 4.000.000
Kewajiban lancar lainnya Rp 2.000.000
Total kewajiban lancar Rp 32.000.000

b. Kewajiban Jangka Panjang


Kewajiban jangka panjang adalah kewajiban yang diperkirakan secara
memadai tidak akan dilikuidasi dalam siklus operasi yang normal, melainkan
akan dibayar pada suatu tanggal di luar waktu itu. Sebagai contoh antara lain
utang obligasi, wesel bayar, sebagian pajak penghasilan yang ditangguhkan,
kewajiban lease, dan kewajiban pensiun. Sementara kewajiban jangka panjang
yang akan jatuh tempo dalam siklus operasi berjalan diklasifikasikan sebagai
kewajiban lancar jika likuidasinya membutuhkan penggunaan asset lancar.
Secara umum, kewajiban jangka panjang terdiri dari tiga jenis, yaitu:
 Kewajiban yang berasal dari situasi pembiayaan khusus, seperti penerbitan
obligasi kewajiba lease jangka panjang, dan wesel bayar jangka panjang.
 Kewajiban yang berasal dari operasi normal perusahaan, seperti kewajiban
pensiun dan kewajiban pajak penghasilan yang ditangguhkan.
 Kewajiban yang tergantung pada terjadi atau tidaknya satu kejadian atau
lebih di masa depan untuk mengkonfirmasi jumlah yang harus dibayar, atau
pihak yang dibayar, atau tanggal pembayaran seperti jaminan jasa atau
produk dan kontinjensi lainnya.
Tampilan 11. Utang Jangka Panjang di Neraca

Total kewajiban lancar Rp 32.000.000


Utang jangka panjang Rp 50.000.000
Pajak penghasilan yang ditangguhkan Rp 5.000.000
Kewajiban tidak lancar lainnya Rp 10.000.000

Format Neraca
Bentuk susunan yang sering digunakan dalam penyajian neraca berklasifikasi adalah
format akun. Format akun, asset dicantumkan di sisi kiri dan kelompok liabilitas dan
ekuitas pemegang saham di sisi kanan. Kelemahan format ini adalah diperlukannya satu
halaman yang cukup lebar untuk menyajikan pos-pos tersebut saling berdampingan.
Untuk menghindari kelemahan tersebut maka disajikan format laporan posisi keuangan
dimana posisi liabilitas dan ekuitas berada tepat dibawah asset pada halaman yang sama.

Scintific Product, Inc


Neraca
31 Desember 2015
ASSET
Asset Lancar
Kas Rp50.000.000
Piutang Rp20.000.000
Persediaan Rp80.000.00
Perlengkapan Rp 15.000.000
Total Asset Lancar Rp 165.000.000
Asset Tetap
Tanah Rp 150.000.000
Bangunan Rp 100.000.000
Mesin Rp 15.000.000
Kendaraan Rp 90.000.000
Total Asset Tetap Rp 355.000.000
Asset Tak Berwujud
Goodwill Rp 30.000.000
TOTAL ASSET Rp 550.000.000
LIABILITAS dan EKUITAS PEMEGANG SAHAM
LIABILITAS
Liabilitas Jangka Pendek
Utang Usaha Rp 60.000.000
Utang Pajak Penghasilan Rp 15.000.000
Utang Gaji Rp 25.000.000
Total Liabilitas Jangka Pendek Rp 100.000.000
Liabilitas Jangka Panjang
Utang Bank Rp 120.000.000
Surat Utang Rp 15.000.000
Total Liabilitas Jangka Panjang Rp 135.000.000
Total LIABILITAS Rp 235.000.000
EKUITAS
Modal Saham Rp 300.000.000
Laba Ditahan Rp 15.000.000
Total EKUITAS Rp 315.000.000
TOTAL LIABILITAS dan EKUITAS Rp 550.000.000

D. Informasi Tambahan yang Dilaporkan


Informasi Neraca masih belum dianggap lengkap meskipun akun asset, liabilitas, dan
ekuitas telah dicantumkan. Informasi tambahan yang dilaporkan biasanya berupa :
1. Kontinjensi
Kejadian-kejadian material yang memiliki akibat tidak pasti.
2. Kebijakan Akuntansi
Penjelasan mengenai metode penilaian yang digunakan atau asumsi dasar yang
dibuat dalam kaitannya dengan penilaian persediaan, metode penyusutan,
investasi dalam anak perusahaan, dan sebagainya.
3. Situasi Kontraktual
Penjelasan mengenai restriksi atau ketentuan tertentu yang menyertai asset
tertentu, atau lebih mungkin, kewajiban.
4. Nilai Wajar
Pengungkapan nilai wajar, terutama untuk instrument keuangan.
E. Teknik Pengungkapan
Pengaruh dari berbagai kontijensi terhadap kondisi keuangan, metode penilaian,
asset, liabilitas, dan kontrak perjanjian perusahaan harus diungkapkan secara lengkap
dan sesederhana mungkin. Perusahaan dapat menggunakan metode berikut :
1. Penjelasan dalam tanda kurung
Ford Motor Company
Ekuitas Pemegang Saham (juta)
Saham biasa , nilai pari Rp0,01 /saham (1,837 juta saham diterbitkan) Rp18

Cara ini lebih unggul daripada catatan karena menampilkan informasi tambahan
dalam bagian muka laporan keuangan, sehingga kecil kemungkinannya untuk
diabaikan.

2. Catatan
Catatan akan digunakan jika penjelasan tambahan tidak dapat ditampilkan secara
bebas dalam tanda kurung. Contoh, metode kalkulasi persediaan dilaporkan dalam
catatan yang menyertai laporan keuangan :
International Paper Company
(Catatan 11)
Kategori utama persediaan adalah (dalam juta) :
Bahan baku Rp371
Barang jadi bubur kertas, kertas, dan pengemasan 1796
Barang jadi kayu dan papan 184
Perlengkapan operasi 351
Lain-lain 16
Total Persediaan Rp2.718
Metode persediaan LIFO digunakan untuk menilai sebagian barang persediaan
International Paper Company. Sekitar 70% dari total bahan baku dan barang jadi telah
dinilai dengan menggunakan metode ini. Apabila metode FIFO digunakan, maka saldo
total persediaan akan meningkat sekitar Rp170 juta.

Catatan umumnya digunakan untuk mengungkapkan eksistensi dan jumlah setiap


deviden saham preferen yang tertunggak, persyaratan atau kewajiban yang
ditetapkan oleh komitmen pembelian, pengaturan dan instrument keuangan
khusus, kebijakan penyusutan, setiap perubahan prinsip aplikasi prinsip akuntansi,
dan adanya kontijensi. Karena itu, catatan harus menyajikan semua fakta penting
selengkap, seringkas mungkin, menambah total informasi yang telah tersedia
dalam laporan keuangan, dan bukan memunculkan pertanyaan baru yang tidak
terjawab.
3. Referensi silang dan pos-pos kontra
Hubungan langsung antara asset dengan kewajiban “direferensi silang” dalam
neraca. Contoh :
Asset Lancar (parsial)
Kas yang didepositokan pada trustee dengan dana Rp800.000
pelunasan untuk penebusan utang obligasi-lihat liabilitas
lancar

Liabilitas Lancar (parsial)


Utang obligasi yang akan ditebus tahun 2007-lihat asset lancar Rp2.300.000

Referensi silang ini menunjukkan bahwa utang obligasi sebesar Rp2.300.000 akan
ditebus dalam waktu dekat, dimana hanya kas sebesar Rp800.000 yang disisihkan.
Prosedur lain adalahmembuat akun kontra atau pembantu. Akun kontra adalah
pos neraca yang mengurangi baik akun asset, liabilitas, dan ekuitas. Contoh,
akumulasi penyusutan dan diskonto atas utang obligasi. Akun pembantu disisi
lain menaikkan baik akun asset. Liabilitas, dan ekuitas. Contoh, premi atas utang
obligasi, yang jika ditambahkan pada akun utang obligasi, akan memperlihatkan
total kewajiban obligasi perusahaan.
4. Skedul pendukung
Sering kali suatu skedul yang terpisah diperlukan untuk menyajikan informasi
yang lebih terinci mengenai asset atau kewajiban terentu, seperti berikut :
Properti, pabrik, dan peralatan
Tahan, bangunan, peralatan, dan asset tetap lainnya-bersih (skedul 3) Rp643.300
Skedul 3
TANAH, BANGUNAN, PERALATAN, & ASSET TETAP LAINNYA
Total Tanah Bangunan Peralatan Asset Tetap
Lainnya
Saldo, 1 Jan 2007 Rp740.000 Rp46.000 Rp358.000 Rp260.000 Rp76.000
Penambahan th 2007 161.200 120.000 38.000 3.200
901.200 46.000 478.000 298.000 79.200
Asset yg ditarik/dijual 31.700 27.000 4.700
Saldo, 31 Des 2007 869.500 46.000 478.000 271.000 74.500
Depr. Hingga 1 Jan 2007 196.000 102.000 78.000 16.000
Depr. tahun 2007 56.000 28.000 24.000 4.000
252.000 130.000 102.000 20.000
Depr. Atas Asset yg ditarik 25.800 22.000 3.800
Akum. Depr 31 Des 2007 226.200 130.000 80.000 16.200
Nilai Buku Asset Rp643.300 46.000 348.000 191.000 58.300

LAPORAN ARUS KAS


A. Tujuan Laporan Arus Kas
Tujuan utama laporan arus kas adalah menyediakan informasi yang relevan mengenai
penerimaan dan pembayaran kas sebuah perusahaan selama suatu periode. Untuk
meraih tujuan ini, laporan arus kas aharus melaporkan:
1. Kas yang mempengaruhi operasi selama suatu periode
2. Transaksi investasi
3. Transaksi pembiayaan
4. Kenaikan atau penurunan bersih kas selama suatu periode

B. Isi dan Format Laporan Arus Kas


Penerimaan kas dan pembayaran kas selama suatu periode diklasifikasikan sebagai
berikut:
1. Aktivitas operasi, meliputi pengaruh kas dari transaksi yang digunakan untuk
menentukan laba bersih.
2. Aktivitas investasi, meliputi pemberian dan penagihan pinjaman serta perolehan
dan pelepasan investasi.
3. Aktivitas pembiayaan, melibatkan pos-pos kewajiban dan ekuitas pemilik.
Aktivitas ini meliputi perolehan sumber daya dan peminjaman uang dari kreditor
serta pelunasannya.
C. Pembuatan Laporan Arus Kas
Informasi untuk membuat laporan arus kas berasal dari neraca komparatif, laporan
laba rugi periode berjalan, dan data transaksi terpilih. Pembuatan laporan arus kas ini
melibatkan langkah-langkah berikut:
1. Penentuan kas yang disediakan oleh aktivitas atau digunakan dalam operasi.
2. Penentuan kas yang disediakan oleh atau digunakan dalam aktivitas investasi dan
pembiayaan.
3. Penentuan perubahan kas selama periode berjalan.
4. Rekonsiliasi perubahan kas dengan saldo kas awal dan saldo kas akhir.
D. Kegunaan Laporan Arus Kas
Melaporkan penerimaan kas, pembayaran kas, dan perubahan bersih pada kas yang
dihasilkan dari aktivitas operasi, investasi dan pendanaan selama satu periode.
Informasinya dapat membantu investor, kreditor dan lainnya untuk :
1. Kemampuan entitas dalam memperoleh arus kas di masa depan
2. Kemampuan entitas untuk membayar dividen dan memenuhi kewajiban
3. Alasan atas perbedaan antara angka laba bersih dan kas bersih yang dihasilkan
(digunakan) oleh aktivitas operasi
4. Transaksi-transaksi investasi dan pendanaan kas selama periode tersebut
A. Konsep Nilai Waktu Dasar
Nilai waktu dari uang menunjukkan hubungan antara waktu dan uang, bahwa satu
satuan mata uang yang diterima hari ini lebih berharga dari satu satuan mata uang yang
akan diterima di masa depan. Hal ini dikarenakan adanya kesempatan untuk
menginvestasikan uang tersebut hari ini dan menerima bunga atas investasi tersebut.
Namun apabila mempertimbangkan berbagai alternative investasi atau pinjaman, maka
penting untuk membandingkan uang tersebut hari ini dengan uang tersebut di masa depan
atas dasar yang sama, yang biasanya dilakukan dengan konsep nilai sekarang (present
value).

1. Aplikasi Konsep Nilai Waktu


Pelaporan keuangan menggunakan berbagai pengukuran dalam situasi yang
berbeda-biaya historis untuk peralatan, nilai realisasi bersih untuk beberapa
persediaan, nilai wajar untuk investasi. Menurut standar FASB terbaru mengenai
pengukuran nilai wajar, ukuran nilai wajar yang paling berguna didasarkan pada
harga yang ditetapkan dalam pasar yang aktif. Namun, untuk banyak aktiva dan
kewajiban, informasi nilai wajar berdasarkan pasar tidak tersedia, sehingga nilai
wajar tersebut dapat diestimasi berdasarkan arus kas masa depan yang diharapkan
yang terkait dengan aktiva dan kewajiban. Dengan menggunakan teknik nilai
sekarang (PV), arus kas masa depan dapat dikonversi menjadi nilai sekarang.
Pengukuran akuntansi berdasarkan nilai sekarang:
a. Wesel. Penilaian piutang dan utang tidak lancar yang tidak mengandung suku
bunga ditetapkan atau yang lebih rendah dari suku bunga pasar.
b. Lease. Penilaian aktiva dan kewajiban yang harus dikapitalisasi menurut lease
jangka panjang dan pengukuran jumlah pembayaran lease serta amortisasi
leasehold tahunan
c. Pensiun dan Tunjangan Pasca-Pensiun Lainnya. Pengukuran komponen biaya
jasa dari beban tunjangan pasca-pensiun dan kewajiban tunjangan pasca-pensiun.
d. Aktiva Jangka Panjang. Pengevaluasian investasi jangka panjang alternative
dengan mendiskontokan arus kas masa depan. Penentuan nilai aktiva yang
diakuisisi melalui kontrak pembayaran ditangguhkan. Pengukuran penurunan
nilai aktiva.
e. Dana Pelunasan. Penentuan kontribusi yang dibutuhkan untuk mengakumulasi
dana bagi tujuan penarikan hutang.
f. Penggabungan Bisnis. Penentuan nilai piutang, utang, kewajiban, akrual, dan
komitmen yang diakuisisi atau diterima dalam suatu pembelian.
g. Pengungkapan. Pengukuran nilai arus kas masa depan dari cadangan minyak dan
gas untuk diungkapkan sebagai informasi tambahan.
h. Kontrak Angsuran. Pengukuran pembayaran periodik atas kontrak pembelian
jangka panjang.

2. Sifat Bunga
Bunga adalah pembayaran untuk pemakaian uang. Bunga merupakan kelebihan
kas yang diterima atau dibayarkan kembali untuk dan diatas jumlah yang dipinjam
(pokok). Jumlah bunga yang harus dibayar umumnya dinyatakan sebagai suatu tariff
sepanjang periode waktu tertentu. Sebagai contoh, jika Tuan Ali meminjamkan
$10.000 sepanjang satu tahun sebelum membayar kembali $11.500, maka suku
bunganya adalah 15% per tahun (($11.500-$10.000)/$10.000). Salah satu faktor yang
paling penting dalam menentukan suku bunga adalah tingkat risiko kredit (risiko
tidak membayar). Jika faktor-faktor lainnya tidak berubah, maka semakin tingga
risiko kredit, semakin tinggi suku bunga.
Variabel-variabel dalam perhitungan bunga:
a. Pokok Bunga (Principal). Jumlah yang dipinjam atau diinvestasikan.
b. Suku Bunga (Interest Rate). Persentase dari pokok utang yang beredar.
c. Waktu (Time). Jumlah tahun atau bagian fraksional dari tahun ketika jumlah
pokok utang itu beredar.
Sehingga, hubungan ketiga variabel tersebut adalah sebagai berikut:
 Semakin besar jumlah pokok utang, semakin besar jumlah bunga.
 Semakin tinggi suku bunga, semakin besar jumlah bunga.
 Semakin lama periode waktu, semakin besar jumlah bunga.

3. Bunga Sederhana
Bunga sederhana hanya dihitung pada jumlah pokoknya yang merupakan
pengembalian atas (atau pertumbuhan dari) pokok sepanjang satu periode waktu.
Bunga = p x i x n , di mana, p = pokok, i= suku bunga satu periode, n=jumlah
periode
Sebagai contoh, jika Tuan Ali meminjam $20.000 untuk jangka waktu 5 tahun dengan
suku bunga sederhana 8% per tahun, maka total bunga yang harus dibayar yaitu :
Bunga = p x i x n
= $20.000 x 8% x 5
= $8.000
Namun, jika Tuan Ali meminjam $20.000 untuk jangka waktu 3 bulan pada suku
bunga 8%, maka bunganya adalah :
Bunga = $20.000 x 8% x 3/12
= $400

4. Bunga Majemuk
Bunga majemuk dihitung atas pokok dan atas setiap bunga yang dihasilkan
tetapi belum dibayarkan atau ditarik. Bunga majemuk merupakan pengembalian atas
(atau pertumbuhan dari) pokok selama dua periode waktu atau lebih. Pemajemukkan
tidak hanya menghitung bunga atas pokok hutang tetapi juga atas bunga yang
dihasilkan sampai tanggal dari pokok itu, dengan mengasumsikan bunga ini disimpan
dalam deposito.
Sebagai contoh, Tuan Ali mendepositokan $20.000 pada bank A yang akan
membayar Bungan sederhana 9% per tahun dan tuan Ali mendepositokan lagi
$20.000 pada bank W yang akan membayar Bungan majemuk 9% per tahun yang
dimajemukkan secara tahunan. Dengan asumsi, tuan Ali tidak menarik setiap bunga
sampai 3 tahun sejak tanggal deposito dilakukan.
Bank A
Perhitungan bunga Bunga Akumulasi saldo Dari contoh di atas diketahui
sederhana Sederhana akhir tahun bahwa saldo akun bunga majemuk
Tahun 1 $20.000 x $ 1.800 $21.800 lebih besar daripada saldo akun bunga
9% $ 1.800 $23.600 sederhana karena pada bunga
Tahun 2 $20.000 x $ 1.800 $25.400 majemuk untuk menghitung bunga
9% $ 5.400 pada tahun berikutnya menggunakan
Tahun 3 $20.000 x akumulasi saldo yaitu pokok
9% ditambah bunga sampai tanggal itu
pada setiap akhir-tahun. Bank A
5. Variabel Fundamental Akumulasi
Perhitungan bunga Bunga
saldo akhir
Empat variabel berikut merupakan majemuk Majemuk
tahun
variabel fundamental bagi seluruh Tahun 1 $20.000 x $ 1.800 $21.800
masalah bunga majemuk: 9% $ 1.962 $23.762
1. Suku Bunga. Suku bunga ini, Tahun 2 $21.800 x $ 2.138 $25.900
kecuali dinyatakan lain, 9% $ 5.900
merupakan suku bunga Tahun 3 $23.762 x
tahunan yang harus 9%
disesuaikan untuk
mencerminkan lamanya periode pemajemukan jika kurang dari setahun.
2. Jumlah Periode Waktu. Ini adalah jumlah periode pemajemukan (satu periode
bisa sama atau kurang dari setahun).
3. Nilai Masa Depan. Nilai pada tanggal di masa depan dari jumlah tertentu atau
jumlah yang diinvestasikan dengan menggunakan bunga majemuk.
4. Nilai Sekarang. Nilai saat ini (sekarang) dari jumlah masa depan atau jumlah
yang didiskontokan dengan menggunakan bunga majemuk.
Hubungan antara keempat variabel fundamental tersebut diperlihatkan dalam
diagram waktu :

Nilai Nilai Masa


Sekarang Bunga Depan

0 1 2 3 4 5
Jumlah Periode
B. Masalah Jumlah-Tunggal
Masalah-masalah jumlah tunggal dapat diklasifikasikan menjadi dua kategori, yaitu:
1. Menghitung nilai masa depan yang tidak diketahui dari jumlah uang tunggal
tertentu yang diinvestasikan sekarang sepanjang sejumlah periode tertentu pada
suku bunga tertentu.
2. Menghitung nilai sekarang yang tidak diketahui dari jumlah uang tunggal
tertentu di masa depan yang didiskontokan sepanjang sejumlah periode tertentu
pada suku bunga tertentu.
Perlakuan terhadap dua situasi:
1. Jika itu merupakan masalah nilai masa depan, maka semua arus kas harus
diakumulasi ke suatu titik di masa depan. Dalam hal ini, pengaruh bunga adalah
menaikkan jumlah atau nilai uang dari waktu ke waktu sehingga nilai masa depan
lebih besar dari nilai sekarang.
2. Jika itu merupakan masalah nilai sekarang, maka semua arus kas harus
didiskontokan dari masa depan ke masa kini. Dalam hal ini, pendiskontoan
mengurangi jumlah atau nilai uang sehingga nilai sekarang lebih kecil daripada
nilai masa depan.
1. Nilai Masa Depan dari Jumlah Tunggal
Untuk menentukan nilai masa depan dari suatu jumlah tunggal, kalikan faktor
nilai masa depan dengan nilai sekarang (pokok).
FV = PV(FVFn,i )
di mana
FV = Nilai masa depan
PV = Nilai sekarang (pokok atau jumlah tunggal)
FVFn,i = Faktor nilai masa depan untuk n periode pada suku bunga i
Sebagai contoh, berapa nilai masa depan dari $75.000 yang diinvestasikan Tuan Ali
selama 5 tahun dan dimajemukkan secara tahunan pada suku bunga 12%?

Nilai Sekarang Bunga Nilai Masa Depan


PV = $75.000 i = 12% FV = ?

0 1 2 3 4 5
Jumlah Periode
n=5
FV = PV(FVFn,i )
= $75.000 (FVF5,12% )
= $75.000 (1 + 0,12)5
= $75.000 (1,76234)
= $132.176

Untuk menentukan faktor nilai masa depan (1,76234) di atas, dapat menggunakan
kalkulator atau tabel bunga majemuk yaitu Tabel 6-1 (kolom 12% dan baris 5
periode).

2. Nilai Sekarang dari Jumlah Tunggal


Nilai sekarang adalah jumlah yang harus diinvestasikan saat ini untuk menghasilkan
nilai masa depan yang diketahui. Nilai sekarang selalu lebih kecil jumlahnya dari
nilai masa depan yang diketahui karena bunga akan terakumulasi atas nilai
sekarang sampai suatu tanggal di masa depan.
Nilai sekarang dari 1 (faktor nilai sekarang) dapat dinyatakan dalam rumus
berikut:
FV = 1 / (1 + i)n
di mana
PVFn,i = Faktor nilai sekarang untuk n periode pada suku bunga i

Nilai sekarang dari setiap jumlah tunggal (nilai masa depan) adalah sebagai
berikut:
PV = FV(PVFn,i )
di mana
PV = Nilai sekarang
FV = Nilai masa depan
PVFn,i = Faktor nilai sekarang untuk n periode pada suku bunga i

Sebagai contoh, berapa nilai sekarang dari $132.176 yang akan diterima atau
dibayarkan dalam 5 tahun jika didiskontokan pada 12% yang dimajemukkan secara
tahunan?

Nilai Sekarang Bunga Nilai Masa Depan


PV = ? i = 12% FV = $132.176

0 1 2 3 4 5
Jumlah Periode
n=5
PV = FV(PVFn,i )
= $132.176 (FVF5,12% )
= $132.176 (1/ (1 + 0,12)5)
= $132.176 (0,5674)
= $75.000

3. Mencari Variabel yang Tidak Diketahui Lainnya dalam Masalah Jumlah


Tunggal

Jika tiga dari empat variabel (FV, PV, n, dan i ) diketahui, maka variabel tersisa yang
tidak diketahui bisa dihitung.
Contoh-Perhitungan Jumlah Periode (n)
Tuan Ali ingin mengumpulkan $75.000 untuk membuat taman bermain. Jika pada
awal tahun berjalan Tuan Ali mendepositokan $44.500 dalam sebuah bank yang
menyediakan bunga 11% yang dimajemukkan secara tahunan, berapa tahun yang
akan dibutuhkan sampai dana tersebut terakumulasi menjadi $75.000 ?
Diketahui:
PV = $44.500
FV = $75.000
i = 11%
n =?
Pendekatan Nilai Masa Depan Pendekatan Nilai Sekarang
FV = PV(FVFn ,11% ) PV = FV(PVFn ,11% )
$75.000 = $45.000 (FVFn, 11%) $44.500 = $75.000 (PVFn, 11%)
$75.000 $44.500
(FVFn, 11%) = (PVFn, 11%) =
$44.500 $75.000
(FVFn, 11%) = 1,68539 (PVFn, 11%) = 0,59333

Dengan menggunakan faktor nilai masa depan sebesar 1,68639 diperoleh jumlah
periode 5 tahun dengan melihat pada Tabel 6-1 kolom 11% dan jumlah sebesar
1,86839 ada di baris periode 5 tahun. Begitu halnya dengan pendekatan nilai sekarang
yang akan diperoleh jumlah periode 5 tahun dengan melihat Tabel 6-2.

C. Anuitas
Anuitas mengharuskan bahwa,
a. Pembayaran atau penerimaan periodeik – yang (disebut sewa) selalu berupa
jumlah yang sama
b. Interval waktu diantara sewa dan pembayaran tersebut selalu sama
c. Bunga dimajemukkan sekali setiap interval

1. Nilai Masa Depan dari Anuitas Biasa


Menghitung nilai masa depan anuitas biasa dari 1 dapat dihitung dengan
penjumlahan dari masing-masing pembayaran ditambah bunga majemuk.
(𝟏+𝒊)𝒏
FV-OAn, i =
𝒊
di mana
FV-OAn, i = Faktor nilai masa depan dari suatu anuitas biasa
i = Suku bunga per periode

n = Jumlah periode pemajemukan

Nilai masa depan dari anuitas biasa = R (FV-OAn, i )


di mana
= Faktor nilai masa depan dari suatu anuitas biasa untuk n
FV-OAn, i
periode pada suku bunga i
R = Pembayaran periodik

2. Nilai Masa Depan dari Anuitas Jatuh Tempo


Anuitas jatuh tempo mengasumsikan pembayaran periodik terjadi setiap awal
periode.
Perbedaan Anuitas Biasa dengan Anuitas Jatuh Tempo
Karena arus kas dari anuitas jatuh tempo muncul tepat satu periode sebelumnya
daripada anuitas biasa, maka factor nilai masa depan dari anuitas jatuh tempo
adalah tepat 12% lebih tinggi daripada factor anuitas biasa. Jadi, factor nilai masa
depan dari anuitas jatuh tempo dapat dihitung dengan mengalikan factor nilai
masa depan dari anuitas biasa dengan 1 ditambah suku bunga. Missal, nilai dari
factor anuitas biasa pada akhir periode satu pada 12% adalah 1,00000, sementara
untuk anuitas jatuh tempo nilainya adalah 1,12000.

3. Contoh Soal Nilai Masa Depan dari Anuitas


a. Perhitungan sewa (jumlah pembayaran)
Misal, Fendy ingin mengumpulkan $14,000 untuk uang muka apartemen 5
tahun dari sekarang, selam 5 tahun kedepan Fendy bisa mendapatkan
pengembalian tahunan sebesar 8% yang dimajemukkan secara
setengahtahunan. Berapakah Fendy harus mendepositokan pada akhir setiap
periode 6 bulan?

Nilai masa depan dari anuitas biasa = R (FVF-OAn,i)


$14,000 = R (12,00611)
R = $1,1667.07
Jadi, Fendy harus melakukan 10 kali deposito setengahtahunan masing-
masing sebesar $1,166.07 agar bisa tumbuh menjadi $14,000 untuk uang
muka apartemen.
b. Perhitungan Jumlah Sewa Periodik (banyaknya pembayaran tersebut)
Misal, sebuah perusahaan ingin mengumpulkan $117,332 dengan melakukan
deposito periodik sebesar $20,000 pada akhir setiap tahun yang akan
menghasilkan 8% yang dimajemukkan secara tahunan. Berapa kali deposito
yang harus perusahaan lakukan?

Nilai masa depan dari anuitas biasa = R (FVF-OAn,i)


$117,332 = $20,000 (FVF-OAn,8%)
FVF-OAn,8% = $117,332/$20,000
= 5,86660
Dengan menggunakan table yang tersedia dan membaca ke bawah kolom 8%,
kita akan menemukan 5,86660 pada periode 5. Jadi jumlah deposito ($20,000)
yang harus dilakukan adalah 5 kali.
c. Perhitungan Nilai Masa Depan (nilai masa depan dari anuitas jatuh
tempo)
Bapak Bejo mendepositokan $2,500 hari ini untuk dana pension dalam sebuah
rekening tabungan yang menghasilkan bunga 9 %. Dia berencana
mendepositokan $2,500 setiap tahun selama 30 tahun. Berapa banyak kas
yang terkumpul dalam dana pension 30 tahun dari sekarang?
Berikut ilustrasi diagram :

Dengan menggunakan table “nilai masa depan dari anuitas biasa sebesar 1,
diperoleh penyelesaian sebagai berikut :
4. Nilai Sekarang dari Anuitas Biasa
Nilai sekarang dari anuitas adalah jumlah tunggal (single sum) yang, jika
diinvestasikan pada bunga majemuk sekarang, akan menyediakan suatu anuitas
(serangkaian penarikan) selama sejumlah periode tertentu di masa depan.

Rumus umum untuk nilai sekarang dari setiap anuitas biasa adalah :
Nilai Sekarang dari anuitas biasa = R (PVF-OAn,i)
dimana R = sewa/pembayaran periodik (anuitas biasa)
PVF-OAn,i = nilai sekarang dari anuitas biasa sebesar 1untuk n periode pada bunga
i

5. Nilai Sekarang dari Anuitas Jatuh Tempo


Dalam penentuan nilai sekarang dari anuitas jatuh tempo, selalu ada periode
diskonto yang kurang dari satu.
Perbandingan Nilai sekarang dari Anuitas Biasa dan Anuitas Jatuh Tempo

Karena setiap arus kas muncul tepat satu periode lebih cepat dalam nilai sekarang
dari anuitas jatuh tempo, maka nilai sekarang dari arus kas ini adalah tepat 12%
lebih tinggi daripada nilai sekarang anuitas biasa. Jadi, factor nilai sekarang dari
anuitas jatuh tempo dapat dihitung dengan mengalikan factor nilai sekarang dari
anuitas biasa dengan 1 ditambah suku bunga (y + i).
6. Contoh Soal Nilai Sekarang dari Anuitas
a. Perhitungan nilai sekarang dari anuitas biasa
Misal, Dinda baru saja memenangkan undian yang bernilai total $4,000,000
dan mengetahui bahwa Dinda akan dibayar dengan cek yang berjumlah
$200,000 pada akhir tahun selama 20 tahun mendatang. Berapa jumlah
sebenarnya yang Dinda menangkan? Yaitu, berapa nilai sekarang dari cek
bernilai $200,000 yang akan Dinda terima selama 20 tahun?

Nilai sekarangnya dihitung sebagai berikut :


Nilai Sekarang dari anuitas biasa = R (PVF-OAn,i)
= $200,000 (PVF-OA20,10%)
= $200,000 (8,513356)
= $1,702,712
Dampaknya, jika pemberi hadiah mendepositokan $1,702,712 sekarang dan
menghasilkan bunga 10%, maka pemberi hadiah dapat menarik $200,000
setahun selama 20 tahun untuk membayar Dinda sebesar $4,000,000
b. Perhitungan suku bunga
Misal, jika Pramu menerima faktur dari MasterCard dengan saldo utang
sebesar $528,77 dan dapat melunasinya melalui 12 kali pembayaran bulanan
bernilai masing-masing $50, dengan pembayaran pertama jatuh tempo 1
bulan dari sekarang, berapa suku bunga yang akan Pramu tanggung?

Suku bunga ditentukan sebagai berikut :


Nilai Sekarang dari anuitas biasa = R (PVF-OAn,i)
$528,77 = $50 (PVF-OA12,i)
(PVF-OA12,i) = $528,77/$50
= 10,57540
Dengan table yang ada, diperoleh 10,57540 pada kolom 2%. Karena 2%
merupakan suku bunga bulanan, maka bunga tahunan nominal adlaah 24%,
dan suku bunga efektif tahunannya adalah 26,82413% [(1+0,02)1 -1)]. Jadi
lebih baik Pramu melunasi seluruh tagihannya sekarang jika mampu.
c. Perhitungan pembayaran/sewa periodik
Jessica telah menabung $36,000 untuk membiaya kuliah anak perempuannya,
Mirna. Uang tersebut telah didepositokan pada Bank Olivier dan
menghasilkan bunga 4% yang dimajemukkan secara setengah tahunan.
Berapa jumlah yang dapat ditarik Mirna pada akhir setiap periode 6-bulan
selama 4 tahun mendatang ketika dia mulai kuliah tanpa kehabisan dana?
Berikut ilustrasi diagram :

Nilai Sekarang dari anuitas biasa = R (PVF-OAn,i)


$36,000 = R (PVF-OA8,25%)
$36,000 = R (7,32548)
R = $4,914.35
D. SITUASI YANG LEBIH KOMPLEKS
1. Anuitas yang Ditangguhkan
Anuitas yang Ditangguhkan adalah anuitas dimana sewa/ pembayaran dimulai
setelah beberapa periode tertentu
a. Nilai Masa Depan dari Anuitas yang Ditangguhkan
Nicely Corporation berencana membeli sebidang tanah dalam 6 tahun untuk
membangun kantor pusatnya yang baru. Karena masalah arus kas, Nicely
mampu menganggarkan deposito sebesar $80.000 yang diharapkan akan
menghasilkan 5% per tahun pada akhir periode keempat, kelima, dan keenam.
Maka, niali masa depan yang akan terakumulasi pada akhir tahun keenam
adalah :
Nilai Masa Depan dari Anuitas Biasa = R (FVF-OAn.i)
= $80.000 (FVF-OA3.5%)
= $80.000 (3,15250) Tabel 6-3
= $252.200
Nilai Masa Depan
Bunga FV-OA = ?
i = 5% R = $80.000 $80.000 $80.000

0 1 2 3 4 5 6
Jumlah Periode
n=3
(3 periode pertama diabaikan)
b. Nilai Sekarang dari Anuitas yang Ditangguhkan
Joko telah mengembangkan dan mempatenkan program perangkat lunak
komputer yang dapat membantu proses belajar mahasiswa. Dia setuju menual
hak-cipta tersebut kepada Awesome Micro System dengan enam pembayaran
tahunan yang bernilai masing-masing $5.000. Pembayaran dimulai 5 tahun dari
sekarang dengan suku bunga tahunan 8%, maka nilai sekarang dari keenam
pembayaran tersebut adalah:

i = 8%
PV = ? R=$5.000 $5.000 $5.000 $5.000 $5.000 $5.000

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
n=4 n=6

1. Setiap Sewa Periodik $5.000


2. Nilai sekarang dari
anuitas biasa sebesar 1
untuk total periode 6,71008
3. Dikurangi: Nilai sekarang
dari anuitas biasa sebesar 1
untuk periode ditangguhkan (3,31213)
4. Selisih 3,39795
5. Nilai sekarang $16.989,75

Selain itu, masalah seperti ini juga dapat dihitung dengan tabel 6-2 dan tabel 6-
4 dengan terlebih dahulu mendiskontokan anuitas 6 periode. Karena anuitas
ditangguhkan 4 periode, maka nilai sekarang anuitas itu harus diperlakukan
sebagai jumlah masa depan yang akan didiskontokan selama 4 periode lagi.
Berikut penyelesaiannya:

PV = ? PV-OA = ? $5.000 $5.000 $5.000 $5.000 $5.000 $5.000

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
FV (PVFn.i) R (PVF-OAn.i)

Langkah 1 = R (PVF-OAn.i)
= $5.000 (PVF-OA6.8%)
= $5.000 (4,62288) Tabel 6-4
= $23.114,40
Langkah 2 = FV (PVFn.i)
= $23.114,40 (PVF4.8%)
= $23.114,40 (0,73503) Tabel 6-2
= $16.989,78

2. Penilaian Obligasi Jangka Panjang


Obligasi jangka panjang menghasilkan dua arus kas, yaitu
a. Pembayaran bunga periodik selama umur obligasi
b. Pokok yang harus dibayar pada saat jatuh tempo
Pembayaran bunga periodik merupakan suatu anuitas, dan pokoknya merupakan
jumlah tunggal. Nilai pasar berjalan obligasi adalah gabungan antara nilai
sekarang dari anuitas bunga dan jumlah pokok
Dimisalkan, pada 1 Januari 2007 SoundsGood Corporation menerbitkan obligasi
bernilai $100.000, dengan bunga 9% yang akan jatuh tempo dalam 5 tahun dan
bunganya dibayarkan secara tahunan pada akhir tahun. Suku bunga pasar berjalan
untuk obligasi yang memiliki risiko sreupa adalah 11%. Jadi, pembeli harus
membyar terbitan obligasi sebesar:
Nilai sekarang dari pokok
FV (PVF5.11%) = $100.000 (0,59345) Tabel 6-2
$59.345,00
Nilai sekarang dari pembayaran bunga
R (PVF-OA5.11%) = $9.000 (3,69590) Tabel 6-4
$33.263,10
Nilai sekarang gabungan (harga pasar)-nilai buku obligai
$92.608,10

3. Metode Bunga Efektif untuk Menghitung Amortisasi Premi/ Diskonto


Obligasi
Prosedur amortisasi diskonto atau premi obligasi yang dianjurkan oleh profesi
adalah metode bunga efektif. Menurut metode bunga efektif:
a. Beban bunga obligasi terlebih dahulu dihitung dengan mengalikan nilai buku
obligasi pada awal periode dengan suku bunga efektif
b. Amortisasi diskonto atau premi obligasi kemudian dihitung dengan
membandingkan beban bunga obligasi dengan bunga yang harus dibayarkan.
Dalam kasus SoundGood Corporation, obligasi diterbitkan pada diskonto yang
dihitung sebagai berikut:

Nilai jatuh tempo (nominal) obligasi $100.000


Nilai sekarang dari pokok $59.345,00
Nilai sekarang dari bunga $33.263,10
Nilai sekarang dan kas yang diterima
$92.608,10
Diskonto atas penerbitan obligasi
$7.391,90
Selanjutnya, perhitungan amortisasi digambarakn pada tabel berikut ini:
SKEDUL AMORTISASI DISKONTO OBLIGASI
Obligasi 9%, 5 Tahun, yang Dijual dengan Hasil 11 %
Tgl Bunga Kas Beban Amortisasi Nilai buku
Yg Dibayarkan bunga Diskonto Obligasi obligasi
1/1/2007 $92.608,10
31/12/2007 (a) $9.000 (b) $10.186,89 (c) $1.186,89 (d) $93.608,10
31/12/2008 $9.000 $10.317,45 $1.317,45 $95.112,44
31/12/2009 $9.000 $10.462,37 $1.462,37 $96.574,81
31/12/2010 $9.000 $10.623,23 $1.623,23 $98.198,04
31/12/2011 $9.000 $10.801,96 $1.801,96 $100.000,00
$45.000 $52.391,90 $7.391,90
Dengan catatan :

a. Nilai awal obligasi x suku bunga efektif


b. Nilai buku obligasi x suku bunga pasar
c. Beban bungga – bunga kas yang dibayarkan
d. Nilai buku obligasi + amortisasi diskonto obligasi
E. MASALAH JUMLAH TUNGGAL
1. Pemilihan Suku Bunga yang Tepat
Setelah menentukan arus kas yang diharapkan, perusahaan harus menggunakan
suku bunga yang tepat untuk mendiskontokan arus kas tersebut. Komponen dari
suku bunga yang digunakan, yaitu:
a. Suku bunga murni (2%-4%)
Jumlah yang akan dikenakan pemberi pinjaman jika tidak ada kemungkinan
tidak bisa membayar dan tidak ada ekspektasi inflasi.
b. Suku bunga inflasi yang diharapkan (0%-?)
Pemberi pinjaman menyadari mereka akan menerima kembali jumlah rupiah
yang lebih rendah di masa depan. Akibatnya, mereka menaikkan suku bunga.
Jika laju inflasi tinggi, suku bunga juga tinggi.
c. Suku bunga risiko kredit (0%-5%)
Pemerintah memiliki sedikit atau tidak memiliki risiko kkredit sama sekali,
sedangkan perusahaan bisnis memiliki risiko kredit yang rendah atau tinggi,
tergantung stabilitas keuangan profitabilitas, dsb.
2. Contoh Arus Kas yang Diharapkan
Asumsikan bahwa YY Appliance Outlet menawarkan garansi 2 tahun atas smua
produk yang terjual. Tahun 2007, YY Appliance menjual pengering pakaian
senilai $250.000. YY Appliance mengadakan perjanjian dengan PA Repair untuk
memberikan jasa garansi atas pengering pakaian yang terjual. Untuk menentukan
beban garansi dan jumlah kewajiban garansi, YY Appliance harus mengukur nilai
wajar perjanjian tersebut. Karena tidak ada pasar untuk montrak ini, YY Appliace
menggunakan teknik arus kas yang diharapkan untuk menilai kewajiban garansi.
Berikut perhitungannya:
Tahun Estimasi Probabilitas Arus Kas yang
Arus Kas Diharapkan
2007 $3.800 20% $760
$6.300 50% $3.150
$7.500 30% $2.250
TOTAL $6.160
2008 $5.400 30% $1.620
$7.200 50% $3.600
$8.400 20% $1.680
TOTAL $6.900

Dengan menerapkan konsep arus kas yang diharapkan ke data tersebut, YY


Appliance mengestimasi arus kas keluar dari garansi sebesar $6.160 di tahun 2008
dan $6.900 di tahun 2009.
Ilustrasi selanjutnya menunjukkan nilai sekarang dari arus kas tersebut dengan
asumsi suku bunga bebas risiko sebesar 5% dan arus kas yang terjadi pada akhir
tahun:
Tahun Arus Kas yang Faktor Nilai Nilai Sekarang
Diharapkan Sekarang (5%)
2007 $6.160 0,95238 $5.866,66
2008 $6.900 0,90703 $6.258,51
TOTAL $12.125,17
KAS (CASH)

A. Pengertian

Kas adalah aktiva yang paling likuid, merupakan media pertukaran standard dan
dasar pengukuran serta akuntansi untuk semua pos-pos lainnya. Kas memiliki, memiliki 2
kriteria, yaitu:

1. Tersedia; berarti kas harus ada dan dimiliki serta dapat digunakan sehari-hari sebagai
alat pembayaran untuk kepentingan perusahaan

2. Bebas; setiap item dapat diklasifikasikan sebagai kas, jika diterima umum sebagai
alat pembayaran sebesar nilai nominalnya.

B. Sifat/Karakteristik kas:

Kas meliputi: Uang tunai (kertas/logam) baik yang ada ditangan perusahaan (Cash in
hand) atau ada di bank (bank), Cek, demand deposit, money order dll.

 Aktif tapi tidak produktif; untuk memperoleh rentabilitas, kas tidak boleh dibiarkan
menganggur (idle cash). Untuk memperoleh pendapatan, kas harus diubah terlebih
dahulu menjadi persediaan, piutang dst. Tetapi juga tdk diperkenankan seluruh kas
diubah bentuknya, karena perusahaan akan kesulitan beroperasi apbl tidak disediakan
kas yang memadai. Dari kondisi ini maka manajemen harus mampu menciptakan
adanya keseimbangan antara kedua kepentingan tersebut.

 Tidak memiliki identitas kepemilikan, sehingga mudah dipindah tangankan. Dengan


kondisi ini maka manajemen harus yakin bahwa:

- Setiap pengeluaran kas harus sesuai dengan tujuan


- Semua uang yang seharusnya diterima, benar2 diterima
- Tidak ada penyalahgunaan terhadap uang milik perusahaan

C. Manajemen Kas

Kas adalah aktiva yang paling mudah untuk disalahgunakan. Permasalahan akuntansi
yang biasanya dihadapi oleh manajemen dalam transaksi kas adalah:

a. Pengendalian yang tepat harus ditetapkan untuk menjamin bahwa tidak ada
transaksi yang tidak diotorisasi dicatat oleh pejabat atau karyawan.
b. Informasi yang diperlukan untuk manajemen kas yang ada ditangan dan transaksi
kas harus tersedia.

Untuk melindungi kas dan menjamin keakuratan catatan akuntansi untu kas,
pengendalian internal (internal contro) yang efektif atas kas merupakan keharusan.

Sistem Pengendalian Internal terhadap Kas

Adalah semua sarana, alat, mekanisme yang digunakan oleh perusahaan untuk:

1. Mengamankan, mencegah pemborosan dan penyalah gunaan kas


2. Menjamin ketelitian dan dapat dipercaya/tidaknya data akuntansi tentang kas
3. Mendorong dicapainya efisiensi, serta
4. Dipatuhinya kebijakan manajemen tentang kas.

D. Pengawasan Internal

Pengawasan akuntansi; berkaitan dengan mengamankan kekayaan perusahaan,


menjamin ketelitian & dapat dipercaya/tidaknya data akuntansi

Pengawasan administrasi; berkaitan dengan efisiensi operasi & kepatuhan terhadap


kebijakan manajemen .

E. Prinsip yang berkaitan dengan pengawasan akuntansi:

Karyawan yang jujur dan kompeten, serta memiliki tanggung jawab

Tanggung jawab yang terkait harus dilaksanakan oleh fungsi-fungsi yang terpisah

Fungsi akuntansi harus dipisahkan dari fungsi pelaksana

Catatan akuntansi yang memadai harus terselenggara setiap saat

Melaksanakan rotasi tugas untuk karyawan yang melaksanakan kegiatan klerikal

Adanya sistem otorisasi


Adanya kebiasaan yang baik dalam perusahaan

Pengawasan internal thd kas didesain untuk menjamin bahwa:

1. Adanya pemisahan antara bagian-bagian yang menangani kas


2. Semua kas yang diterima harus segera disetor ke bank
3. Pengeluaran kas harus ada otorisasi dan sesuai tujuan
4. Semua pengeluaran kas harus menggunakan cek, kecuali pengeluaran yang jumlahnya
kecil menggunakan petty cash

F. Pelaporan Kas

Walaupun pelaporan kas secara relative bersifat langsung, namun terdapat sejumlah
masalah yang perlu mendapat perhatian khusus. Masalah-masalah ini berhubungan
dengan palaporan, yakni:

a. Kas yang dibatasi atau restriktif

- Saldo Kompensasi, adalah saldo kas minimum yang harus tersedia dalam rekening
giro atau tabungan, bagi para nasabah yang meminjam uang kepada bank yang
bersangkutan.

- Kas kecil, penggajian dan dana deviden, juga merupakan contoh kas yang
disisihkan untuk tujuan tertentu,

- Sertifikat deposito (certificates deposit / CDs), sertifikat deposito harus


diklasifikasikan sebagai investasi jangka pendek dan bukan kas. Sebab CDs dapat
dicairkan apbl telah jatuh tempo, hal ini berarti ada batasan penggunaan kas

- Cek Mundur (Postdated Checks), cek yang dapat diuangkan pada tanggal yang
tercantum dalam cek tersebut. Cek mundur dapat diklasifikasikan sbg kas setelah
tanggal cek tsb dapat diuangkan

- Cek kosong (Not sufficient funds), terjadi karena rekening koran perusahaan yang
mengeluarkan cek tidak mempunyai dana, cek dalam keadaan rusak atau kesalahan
informasi yang tercantum dlam cek. Item ini lebih tepat dilaporkan sebagai piutang
daripada kas

- Biaya yang dibayar dimuka, item seperti perangko, uang muka karyawan, asuransi
dibayar dimuka, sewa dibayar dimuka, lebih tepat dilaporkan sebagai biaya dibayar
dimuka drpd kas
- Cek yang belum dikirimkan (undelivered checks), cek yang telah dibuat tetapi
belum diserahkan kepada pihak yang berhak menerima. Jika pada tanggal neraca
terdapat item seperti ini, maka dapat diklasifikasikan sebagai kas.
- Kas yang dibatasi (restricted cash) diklasifikasi dalam kelompak Aktiva Lancar
atau Aktiva Jangka Panjang, tergantung pada tanggal ketersediaan atau
pengeluaran.

b. Overdraft Bank
Terjadi apabila suatu cek ditulis dalam jumlah yang melebihi rekening kas.
Hal itu harus dilaporkan dalam kelompok kewajiban lancar dan biasanya
ditambahkan ke dalam jumlah yang dilaporkan sebagai hutang usaha.

c. Ekuivalen kas
Merupakan investasi jangka pendek yang sangat likuid, yang:

- Segera bisa dikonversi menjadi sejumlah kas yang diketahui, dan

- Begitu dekat dengan jatuh temponya sehingga risiko perubahan suku bunga
tidak signifikan.

G. Akuntansi Terhadap Kas

Untuk menampung transaksi yang menyangkut kas dalam perusahaan, diselenggarakan


akun/rekening berikut:

Kas atau Bank, digunakan untuk menampung transaksi penerimaan dan pengeluaran kas
melalui kasir (di dalam perusahaan), termasuk penerimaan dari dan pengeluaran
(setoran tunai ke bank).

Kas Kecil, Merupakan sejumlah dana yang dibentuk khusus untuk pengeluaran yang
bersifat rutin dan relatif kecil jumlahnya. Kas kecil yang jumlahnya dibatasi itu, secara
periodik atau setiap uang kas kecil hampir habis diisi kembali.

Selisih kas, digunakan untuk menampung perbedaan jumlah fisik kas berdasarkan cash
opname dengan jumlah kas menurut catatan pembukuannya. Hal ini bersifat sementara
saja, sebelum sebab terjadinya selisih ditemukan

1. Kas Kecil (Petty Cash)


Adalah dana yang dibentuk untuk membiayai pengeluaran rutin perusahaan dan
jumlahnya relatif kecil

a. Metode pencatatan Kas kecil


1. Sistem dana tetap (imprest fund system)
Sistem dana tetap bekerja sebagai berikut:

1) Seseorang yang ditugasi untuk mengawasi kas kecil diberikan sejumlah kecil uang
untuk melakukan pembayaran bernilai kecil.

Transfer dana ke kas kecil dicatat sbb;

Kas Kecil 300.000 -

Kas - 300.000

2) Ketika pengeluaran di lakukan, pengawas kas kecil mendapatkan tanda terima yang
telah ditanda-tangani dari setiap individu yang menerima pembayaran kas tersebut.
Petugas ini tidak melakukan pencatatan sampai dana diisi kembali.

Ayat jurnal terkait dicatat oleh orang yang berbeda, bukan oleh pengawas kas kecil.

3) Ketika kas kecil mulai menipis, pengawas dapat meminta tambahan kas dari kasir
umum untuk pengisian kembali yang didukung oleh tanda terima kas kecil dan bukti
pengeluaran lain.

Pencatatan transaksi dilakukan berdasarkan penerimaan kas kecil:


Misal:

Beban perlengkapan kantor 42.000 -

Beban perangko 53.000 -

Beban Hiburan 76.000 -

Selisis Kas 2.000 -

Kas 173.000

(“selisih kas” istilah lain dr akun “kelebihan dan kekurangan kas”)


4) Jika diputuskan bahwa jumlah jas yang terdapat dalam dana kas kecil berlebihan,
penyesuaian dibuat sebagai berikut.

Misal untuk penurunan dana kas kecil dari 300.000 menjadi 250.000.

Kas 50.000 -

Kas Kecil - 50.000

2. Sistem dana berfluktuasi

Pada sistem ini akun kas kecil dipakai untuk mencatat transaksi yang mempengaruhi
jumlah kas kecil, diantaranya:

(1) Pembentukan dana kas kecil,


(2) Penggunaan/pengeluaran dana kas kecil,
(3) Pengisian dana kas kecil,

(4) penambahan dana kas kecil, maupun


(5) pengurangan/penarikan kembali dana kas kecil.

Pencatatan dilakukan segera setelah terjadi pengeluaran kas kecil, tidak ditangguhkan s.d.
saat pengisian kembali dana kas kecil (spt pada sisitem dana tetap). Akun kas kecil pada
dasarya harus menunjukkan saldo pada setiap saat sebesar jumlah dana kas kecil yang ada
di kasir kas kecil.

Oleh karena itu maka pada sistem ini harus diselenggarakan buku jurnal khusus (tersendiri)

Contoh kasus:

Pada tanggal 31 Desember 2005, PT. Shifa membentuk dana kas kecil sebesar Rp.
250.000. Berikut transaksi yang berhubungan dengan kas kecil selama bulan Desember
2005:

5 Desember membayar rekening air & listrik Rp. 47.500

7 Desember membayar rekening telpon & Fax Rp. 125.250

9 Desember dibeli supplies kantor Rp. 17.500


12 Desember Biaya rapat dan pertemuan Rp. 31.250

19 Desember dibayar biaya makan/minum karyawan Rp. 25.000

20 Desember pengisian kembali dana kas kecil, cek sebesar Rp. 196.500 diserahkan
kepada kasir kas kecil

23 Desember Dibayar biaya langganan koran Rp. 12.500

27 Desember dibeli Perangko sebesar Rp. 5.000

Jurnal yang dibuat:

Tgl Rincian Debit Kredit

1/12 Kas Kecil Rp. 250.000

Kas (Bank) Rp. 250.000

5/12 Biaya Air & Listrik Rp. 47.500

Kas Kecil Rp. 47.500

7/12 Biaya Telp & Fax Rp. 125.250

Kas Kecil Rp. 125.250

9/12 Supplies Kantor Rp. 17.500

Kas Kecil Rp. 17.500

12/12 Biaya Rapat & Pertemuan Rp. 31.250

Kas Kecil Rp. 31.250

19/12 Biaya Makan & Minum Karyawan Rp. 25.000

Kas Kecil Rp. 25.000

20/12 Kas Kecil Rp. 196.500

Kas (Bank) Rp. 196.500


23/12 Biaya langganan Koran Rp. 12.500

Kas Kecil Rp. 12.500

27/12 Biaya Pos (Perangko) Rp 5.000

Kas Kecil Rp 5.000

Tgl Rincian Debit Kredit Saldo

1/12 Pembentukan Kas Kecil Rp. 250.000 Rp.250.000

5/12 Air & Listrik 47.500 202.500

7/12 Telepon & Fax 125.250 77.250

9/12 Supplies Kantor 17.500 59.750

12/12 Rapat & Pertemuan 31.250 28.500

19/12 Makan/Minum kary. 25.000 3.500

20/12 Pengisian kas kecil 196.500 200.000

23/12 Langganan Koran 12.500 187.500

27/12 Pos (Perangko) 5.000 182.500


Pada sistem dana berfluktuasi ini, pada akhir periode tetap harus dilakukan kas opname. Apabila
dari hasil kas opname ternyata jumlah dana kas kecil berbeda dengan saldo menurut
pembukuan, maka perlu dibuat jurnal penyesuaian (adjustment).

Contoh:

Pada tgl. 31/12 dilakukan kas opname dan ditemukan:

1. kas bon perjalanan dinas Direktur Utama Rp. 150.000 tertgl. 29/12
2. Uang kertas Rp. 24.750
3. Uang logam Rp. 6.250
4. Perangko yang belum terpakai Rp. 3.750

Karena dalam neraca, kas (termasuk kas kecil) harus disajikan sebesar jumlah uang yang benar-
benar ada, maka berdasar kas opname tadi perlu dibuat jurnal penyesuaian sbb: Jurnal
penyesuaian:

Tgl Rincian Debit Kredit

31/12 Persediaan Perangko Rp. 3.750

Uang muka perjalanan dinas 150.000

Selisih kas*) 1.500

Biaya Pos Rp. 3.750

Kas Kecil 151.500

*) selisih kas: 182.500 – (150.000+31.000)


Dengan adanya jurnal ini, maka saldo akun kas kecil yang harus disajikan di neraca per 31
Desember 2005 adalah sebesar Rp. 31.000, sesuai dengan dana kas kecil yang ada (uang logam
+ uang kertas)

D. REKONSILIASI BANK

Dalam pengelolaan kas perusahaan, setiap penerimaan perusahaan sebaiknya harus disetorkan
ke bank dan sebaliknya pengeluaran perusahaan harus menggunakan cek. Praktek tersebut
sering menyebabkan timbulnya perbedaan antara: saldo kas menurut catatan perusahaan dan
saldo kas menurut catatan bank. Pada waktu akan menyusun laporan keuangan, perusahaan
harus tahu saldo kas (termasuk kas kecil) yang tepat untuk dilaporkan di Neraca.

Rekonsiliasi bank adalah skedul yang menjelaskan setiap perbedaan antara catatan kas bank
dengan catatan kas perusahaan.

Apabila perbedaan ini hanya berasal dari transaksi yang belum dicatat oleh bank, maka catatan
kas perusahaan dianggap yang benar.

Namun apabila beberapa bagian dari perbedaan itu berasal dari pos-pos lain, maka catatan bank
atau catatan perusahaan harus disesuaikan.

Berikut di bawah ini ikhtisar yang menyebabkan adanya perbedaan saldo menurut catatan
perusahaan dan bank:

Halaman 6 dari

No Keterangan Buku Perusahaan Buku Bank

1. Deposit in transit Sudah menambah saldo Belum menambah saldo


(Setoran dalam perjalanan) Kas Kas

2. Out standing check Sudah mengurangi Belum mengurangi

(Cek yang sudah saldo Kas saldo Kas

dikeluarkan oleh perusahaan

tetapi belum dicairkan)

3. Kesalahan pencatatan Pengaruhnya tergantung jenis kesalahan

pencatatannya

4. Tagihan wesel & Bunga Belum menambah saldo Sudah menambah saldo

langsung ditagihkan bank Kas Kas

5. Bunga giro bank Belum menambah saldo Sudah menambah saldo

Kas Kas

6. Biaya administrasi bank Belum mengurangi Sudah mengurangi

saldo Kas saldo Kas

7. Not Sufficient Fund (NSF Sudah menambah saldo Tidak mempengaruhi

Check); Cek kosong kas, harus dikurangi

8. Kekeliruan memasukkan Sudah menambah saldo Belum menambah saldo

setoran rekening giro oleh kas kas

bank
Jenis dan tujuan rekonsiliasi bank

Jenis Rekonsiliasi Tujuan

Rekonsiliasi dua kolom Mencari saldo yang tepat/benar

Rekonsiliasi empat kolom Mencari saldo awal, penerimaan satu periode,

pengeluaran satu periode & saldo akhir yang

sesuai dengan catatan perusahaan

Rekonsiliasi Delapan Mencari saldo awal, penerimaan,

kolom pengeluaran dan saldo akhir yang tepat/

benar

Catatan: Rekonsiliasi dua kolom pada umumnya dibuat oleh perusahaan, sedangkan
rekonsiliasi empat dan delapan kolom dibuat oleh akuntan pemeriksa (auditor)

CONTOH

PT. “VAN PERSIE” mempunyai kas dan menerima laporan bank untuk bulan Januari

2003 sebagai berikut:

Laporan Bank:

Saldo 1 Januari Rp. 29.477.100


Penerimaan bulan Januari Rp. 106.062.000 (termasuk setoran 30 Desember 2002 yang
diterima pada 2 Januari 2003 Rp. 2.577.000 dan wesel ditagihkan oleh bank Rp. 2.492.500)

Pengeluaran bulan Januari Rp. 120.640.500 (termasuk cek beredar bulan desember 2002 yang
baru dicairkan pada bulan Januari 2003 Rp. 4.052.500, Biaya bank Rp. 15.800 dan biaya
penagihan wesel Rp. 62.500, Serta Cek Kosong Rp. 594.700)

Saldo akhir bulan Januari 14.898.600

Catatan Perusahaan:

Saldo bulan Januari 28.001.600

Penerimaan bulan Januari Rp. 104.285.000 (termasuk setoran 31 Januari diterima bank 1
Februari 2003 Rp. 3.292.500)

Pengeluaran bulan Januari Rp. 119.524.150 (termasuk cek beredar bulan Januari belum
dicairkan sampai akhir Januari Rp. 3.519.150)

Saldo Akhir Rp. 12.762.450

Perusahaan salah mencatat pengeluaran Rp. 230.000, dicatat Rp. 320.000 dalam buku
perusahaan (cek sudah ditulis dengan benar)

REKONSILIASI DUA KOLOM

Catatan Perusahaan Catatan Bank

Saldo sebelum disesuaikan Rp xxx,- Saldo sebelum disesuaikan Rp xxx,-


Ditambah: Ditambah:

Bank sudah menambah, Rp xxx,- Perusahaan sudah Rp xxx,-

perusahaan belum menambah, bank belum

Kesalahan yg Kesalahan yg

menyebabkan Rp xxx,- menyebabkan Rp xxx,-

penambahan penambahan

Jumlah penambahan Rp xxx,- Jumlah penambahan Rp xxx,-

Dikurangi: Dikurangi:

Bank sudah mengurangi, Rp xxx,- • Perusahaan sudah Rp xxx,-

perusahaan belum mengurangi, bank belum

Kesalahan yg • Kesalahan yg

menyebabkan Rp xxx,- menyebabkan Rp xxx,-

pengurangan pengurangan

Jumlah pengurangan Rp xxx,- Jumlah pengurangan Rp xxx,-

Saldo yang benar Rp xxx,- Saldo yang benar Rp xxx,-


laman 8 dari 55

PT “VAN PERSIE”
Rekonsiliasi Mencari Saldo Yang Benar
Per 31 Januari 2003
Saldo (akhir) per Rp. 12.762.450 Saldo (akhir) per Rp. 14.898.600

perusahaan bank

Ditambah: Ditambah:

Wesel ditagihkan 2.492.500 Setoran dalam 3.292.500

bank perjalanan

Koreksi kesalahan 90.000

Dikurangi: Dikurangi:

Biaya Bank (15.800) Cek beredar (3.519.150)

Biaya penagihan (62.500)

wesel

Cek kosong (594.700)

Saldi yang benar Rp. 14.671.950 Saldo yang benar Rp. 14.671.950
REKONSILIASI EMPAT KOLOM

PT “VAN PERSIE”

Rekonsiliasi Dari Saldo Bank ke


Saldo Buku (Saldo awal, penerimaan,
pengeluaran dan saldo akhir)

Periode bulan Januari 2003

Saldo awal Penerimaan Pengeluaran


Uraian periode satu satu Saldo akhir
periode periode

Saldo menurut Rp. 120. 640.


bank Rp. 29.477.100 Rp. 106. 062.000 500 Rp. 14.898.600

Setoran dlm
perjalanan:

1/1/2003 2.577.000 (2.577.000) - -

31/1/198
8 3.292.500 - 3.292.500

Cek yang
beredar
sampai:

1/1/2003 (4.052.500) - (4.052.500)

31/1/198
8 - - 3.519.150 (3.519.150)

Wesel
ditagihkan bank - (2.492.500) - (2.492.500)

Biaya Penagihan - - (62.500) 62.500


Biaya Adm Bank - - (15.800) 15.800

Cek kosong - - (594.700) 594.700

Kesalahan catat - - 90.000 (90.000)

Saldo per
Perush. Rp. 28.001.600 Rp. 104. 285.000 Rp. 119.524.150 Rp. 12.762.450

REKONSILIASI DELAPAN KOLOM

PT “VAN PERSIE”

Rekonsiliasi Dari Saldo Bank ke Saldo Buku (Saldo awal,


penerimaan, pengeluaran dan saldo akhir)

Periode bulan Januari 2003

Saldo awal Saldo


Uraian periode Penerimaan satu Pengeluaran satu akhir
periode periode

Saldo menurut
bank Rp. 29.477.100 Rp. 106. 062.000 Rp. 120. 640. 500 Rp. 14.898.600

Setoran dlm
perjalanan:

1/1/2003 2.577.000 (2.577.000) - -

31/1/1988 3.292.500 - 3.292.500

Cek yang beredar


sampai:

1/1/2003 (4.052.500) - (4.052.500)

31/1/1988 - - 3.519.150 (3.519.150)


Saldo yg benar Rp. 28.001.600 Rp. 106.777.500 Rp. 120.107.150 Rp. 14.671.950

Saldo menurut Rp. 28.001.600 Rp. 104.285.000 Rp. 119.524.150 Rp. 12.762.450
perusahaan

Wesel ditagihkan
bank - 2.492.500 - 2.492.500

Biaya Pengihan - - 62.500 (62.500)

Biaya Adm Bank - - 15.800 (15.800)

Cek kosong - - 594.700 (594.700)

Kesalahan catat - - (90.000) 90.000

Saldo per Perush. Rp. 28.001.600 Rp. 106.777.500 Rp. 120.107.150 Rp. 14.671.950
A. KLASIFIKASI DAN PENGENDALIAN PERSEDIAAN
a. Klasifikasi
Persediaan (Inventory) adalah pos-pos aktiva yang dimiliki oleh perusahaan untuk dijual
dalam operasi bisnis normal, atau barang yang akan digunakan atau dikonsumsi dalam membuat
barang yang akan dijual. Pada perusahaan dagang, biasanya hanya ada satu akun persediaan, yaitu
akun Persediaan Barang Dagang yang muncul dalam laporan keuangan. Sementara pada
perusahaan manufaktur, biasanya memiliki tiga akun persediaan yaitu akun Persediaan Bahan
Baku, Persediaan Barang Dalam Proses, dan Persediaan Barang Jadi.
Persediaan bahan baku (raw materials inventory) mencakup biaya yang dibebankan ke
barang dan bahan baku yan ada di tangan tetapi belum dialihkan ke produksi, yang dapat ditelusur
secara langsung ke produk akhir. Persediaan barang dalam proses (work in process inventory)
mencakup biaya bahan baku untuk produk yang telah dibuat tetapi belum selesai, ditambah biaya
tenaga kerja langsung yang diaplikasikan secara khusus ke bahan baku ini, dan biaya overhead
yang dialokasikan. Sedangkan persediaan barang jadi (finished goods inventory) mencakup biaya
yang berkaitan dengan produk yang telah selesai tetapi belum terjual pada akhir periode.
Tabel 1. Tampilan Persediaan pada Neraca

Perusahaan Dagang Perusahaan Manufaktur


Neraca Neraca
Aktiva Lancar Aktiva Lancar
Kas dan ekuivalen kas Kas
Piutang Piutang usaha
Persediaan Persediaan:
Beban dibayar di muka Bahan Baku
Total Aktiva Lancar Barang dalam proses
Barang Jadi
Perlengkapan
Total Persediaan
Aset lancar lain
Total Aktiva Lancar
Tampilan 11. Arus Biaya Perusahaan Dagang dan Manufaktur

b. Pengendalian
Terdapat dua sistem pengendalian perusahaan, yaitu:

1. Sistem Perpetual
Sistem perpetual secara terus-menerus melacak perubahan akun Persediaan yaitu
semua pembelian dan penjualan (pengeluaran) barang dicatat secara langsung ke
akun Persediaan pada saat terjadi. Kerakteristik akuntansi dari sistem persediaan
perpetual adalah:

a. Pembelian barang dagang untuk dijual atau pembelian bahan baku untuk
produksi didebet ke Persediaan dan bukan ke Pembelian.

b. Biaya transportasi masuk, retur pembelian dan pengurangan harga serta diskon
pembelian didebet ke Persediaan dan bukan ke akun terpisah.

c. Harga pokok penjualan diakui untuk setiap penjualan dengan mendebet akun
Harga Pokok Penjualan dan mengkredit Persediaan.
d. Persediaan merupakan akun pengendali yang didukung oleh buku besar
pembantu yang berisi catatan persediaan individual. Buku besar pembantu
memperlihatkan kuantitas dan biaya dari setiap jenis persediaan yang ada di
tangan.

2. Sistem Periodik
Pada sistem periodik, kuantitas persediaan di tangan ditentukan. Semua pembelian
persediaan selama periode akntansi dicatat dengan mendebet akun Pembelian. Total
akun Pembelian di akhir periode akuntansi ditambahkan ke biaya persediaan di
tangan pada awal periode untuk menetukan total biaya barang yang ersedia dijual
selama periode berjalan. Kemudian total biaya barang yang tersedia dijual dikurangi
dengan persediaan akhir untuk menentukan harga pokok penjualan. Sehingga dalam
sistem periodik, harga pokok penjualan adalah jumlah residu yang tergantung pada
hasil perhitungan persediaan akhir secara fisik. Di luar dari kedua sistem tersebut,
beberapa perusahaan menerapkan sistem perpetual yang dimodifikasi, dimana
hanya penurunan dan kenaikan kuantitas, bukan jumlah dollar yang disimpan dalam
catatan persediaan yang terinci.
Sementara jika terdapat perbedaan saldo persediaan perpetual dengan hasil
perhitungan fisik, diperlukan suatu ayat jurnal terpisah untuk menyesuaikan akun
persediaan perpetual sebesar selisihnya.
Jika perhitungan fisik < saldo perpetual
Kekurangan Persediaan xxx
Persediaan xxx

Jika perhitungan fisik > saldo perpetual


Persediaan xxx
Kelebihan Persediaan xxx
c. Isu Dasar Mengenai Penilaian Persediaan
Penilaian persediaan bisa menjadi proses yang kompleks yang memerlukan penentuan atas:

1. Barang fisik yang dimasukkan dalam persediaan


2. Biaya-biaya yang dimasukkan dalam persediaan
3. Asumsi-asumsi biaya yang harus diadopsi

B. BARANG-BARANG FISIK YANG DIMASUKKAN DALAM PERSEDIAAN

a. Barang Dalam Perjalanan


Persediaan barang dalam perjalanan meliputi pihak yang berhak menerima persediaan.
Kadang-kadang, barang dagang yang dibeli asih berada dalam perjalanan (belum diterima oleh
pembeli) pada akhir periode. Akuntansi untuk pengiriman barang ini tergantung pada siapa yang
memiliki barang. Ada dua aturan perpindahan kepemilikan (syarat penjualan) , yaitu:

1. FOB (Free on Board) shipping point. Kepemilikan barang menjadi milik pembeli
pada saat diserahkan oleh penjual kepada penyelenggara transportasi atau pihak
perusahaan pengirim barang yang independen.

2. FOB (Free on Board) destination point. Kepemilikan barang masih berada di penjual
sampai barang tersebut diterima oleh pembeli.
b. Barang Konsinyasi
Konsinyasi merupakan salah satu metode pemasaran khusus untuk produk-produk tertentu.
Dalam hal ini ada dua pihak yang terlibat, yaitu cosignor yang merupakan pihak/agen yang
menjuala barang konsinyasi kepada consignee yang merupakan pihak/agen yang menerima barang
konsinyasi. Consignee setuju untuk menerima barang tanpa kewajiban apapun, kecuali menjaga
dan melindunginya dari kerusakan atau kehilangan sampai barang tersebut terjual kepada pihak
ketiga. Ketika consignee menjual barang, pendapatan dikurangi komisi penjualan dan beban
penjualan diserahkan kepada consignor. Barang yang telah diserahkan kepada consignee tetap
merupakan properti consignor (sampai barang tersebut terjual) dan dimasukkan dalam persediaan
consignor pada harga beli atau biaya produksi.

c. Perjanjian-Perjanjian Khusus
Tiga situasi penjualan khusus untuk mengindikasikan jenis-jenis masalah yang dapat
ditemukan dalam praktik yaitu:

1. Penjualan dengan Perjanjian Beli Kembali


Pada perjanjian pembiayaan produk, perusahaan membiayai persediaan tanpa
melaporkan kewajiban ataupn persediaan dalam neraca, biasanya melibatkan
“penjualan” dengan “perjanjian beli kembali” yang implisit atau eksplisit. Perjanjian
ini seringkali disebut sebagai “parking transaction”, karena penjual hanya memarkir
persediaan pada neraca perusahaan lain untuk beberapa lama. Jika perjanjian beli
kembali terjadi pada harga tertentu dan harga ini mampu menutupi seluruh biaya
persediaan ditambah biaya penanganannya, maka persediaan dan kewajiban terkait
harus dilaporkan dalam pembukuan penjual.
Dalam hal ini, mengakui pendapatan pada saat persediaan diparkir di suatu tempat
melanggar prinsip pengakuan pendapatan. Prinsip ini meminta proses menghasilkan
laba diselesaikan secara substansial, dalam kasus ini, manfaat ekonominya masih
berada di bawah kendali penjual.

2. Penjualan dengan Tingkat Retur yang Tinggi


Pada beberapa industri seperti industri penerbitan, mainan, musik, dan lain
sebagainya yang biasanya memiliki perjanjian formal atau informal yang
memungkinkan persediaan dikembalikan dengan menerima seluruh atau sebagian
uang yang telah dibayarkan. Untuk transaksi yang terjadi selama perjanjian, terdapat
dua cara yaitu:

a. Mencatat penjualan dengan nilai penuh dan kemudian membuat estimasi retur
penjualan dan pengurangan harga.

b. Tidak mencatat penjualan sampai kondisinya menunjukkan jumlah persediaan


yang akan dikembalikan oleh pembeli.
Barang dikatakan telah terjual yakni ketika jumlah retur dapat diestimasi secara
memadai, sebaliknya jika jumlah retur tidak dapat diramalkan, maka penghapusan
barang dari persediaan penjual tidaklah tepat.

3. Penjualan Cicilan
“Barang yang dijual secara cicilan: menjelaskan setiap jenis penjualan yang
pembayarannya dicicil secara periodik sepanjang periode waktu tertentu. Karena
risiko kerugian dari piutang tak tertagih lebih besar dalam penjualan cicilan
dibandingkan dengan transaksi penjualan yang lain, maka biasanya penjual menahan
hak legal atas barang sampai seluruh pembayaran dilakukan. Dalam hal ini,
persediaan dapat dikatakan telah terjual dan barang tersebut harus dihapuskan dari
persediaan penjual yakni jika presentase piutang tak tertagih dapat diestimasi secara
memadai.

d. Kesalahan Persediaan
Pos-pos yang dimasukkan atau dikeluarkan secara tidak benar dalam penentuan harga
pokok penjualan akibat salah saji persediaan akan menyebabkan laporan keuangan menjadi tidak
tepat.
A. NILAI TERENDAH ANTARA BIAYA DAN HARGA PASAR (LCM)

Prosedur dasar untuk mengalokasikan total biaya barang yang tersedia untuk dijual ke
persediaan akhir dan harga pokok penjualan telahNdijelaskan pada topik sebelumnya. Pada
beberapa kasus, prosedur alokasi biaya ini menghasilkan biaya persediaan yang melebihi
nilai pasar sekarang dari persediaan. Salah satu konsep tradisional akuntansi adalah konservatisme,
terkadang dikatakan sebagai “dalam kondisi keragu-raguan, akui semua kerugian yang belum
direalisasi, tetapi jangan akui semua keuntungan yang belum direalisasi”. Aturan umumnya adalah
bahwa prinsip biaya historis tidak dapat diterapkan apabila manfaat (kemampuan menghasilkan
pendapatan) masa depan dari aktiva itu tidak lagi sebesar biaya awalnya. Penerapan konsep ini
pada aktiva menghasilkan aturan “mana yang lebih rendah antara biaya dan nilai pasar (lower of
cost or market---LCM), yang berarti bahwa aktivadicatat pada nilai yang lebih rendah antara biaya
atau nilai pasarnya. LCM memiliki pengaruh terhadap pengakuan atas penurunan yang belum
direalisasi dalam nilai aktiva, tetapi tidak atas peningkatan yang belum direalisasi.
 Nilai Pasar

Istilah nilai pasar (market) dalam LCM diinterpretasikan sebagai biaya penggantian
(replacement), dengan penyesuaian yang potensial terhadap nilai tertinggi dan nilai
terendah. Biaya penggantian, terkadang disebut biaya masuk (entry cost) mencakup harga
pembelian barang atau bahan baku ditambah semua biaya lainnya yang timbul dalam
perolehan atau produksi barang. Biaya penggantian pada umumnya merupakan ukuran
yang baik atas nilai keuntungan ekonomi di masa depen yang dimiliki oleh persediaan
karena penurunan biaya (biaya masuk) biasanya mengindikasikan penurunan harga jual (biaya
keluar/exit value). Bagaimanapun, harga jual tidak selalu bereaksi langsung dan
proporsional terhadap biaya penggantian. Oleh karena itu, batas tertinggi dan terendah
ditempatkan dalam penggunaan biaya penggantian senagai ukuran nilai pasar persediaan.
 Batas Tertinggi

Nilai pasar persediaan tidak lebih besar dari pada nilai realisasi bersih (net Realizable
Value --- NRV) dari persediaan. NRVsama dengan estimasi dari harga jual persediaan
dikurangi dengan biaya penjualan normal. Alasan di belakang batas tertinggi ini adalah
bahwa nilai pasar persediaan tidak mungkin melebihi nilai bersih yang dapat diperoleh
saat persediaan dijual.
 Batas Terendah

Nilai pasar persediaan tidak lebih rendah dari NRV dikurangi dengan margin laba
normal. Jika persediaan dicatat dibawah batas terendah ini, maka dimasa mendatang
persediaan dapat dijual dengan menghasilakan keuntungan yang melebihi margin laba
normal. Singkatnya, nilai pasar persediaan tidak pernah kurang dari batas terendah, dan juga
tidak pernah lebih dari batas tertinggi dan sama dengan biaya penggantian bila biaya
penggantian berada diantara batas terendah dan tertinggi.
 Penerapan LCM

Penerapan aturan LCM untuk menentukan penilaian persediaan yang tepat dapat
dirangkum dalam beberapa tahap berikut :
1. Terapkan nilai-nilai yang berkaitan : biaya histories, batas terendah (NRV – laba
normal), biaya penggantian, batas tertinggi (NRV).
2. Tentukan nilai pasar (Biaya penggantian yang dibatasi dengan batas tertinggi dan
terendah).
3. Bandingkan biaya dengan nilai pasar (seperti yang ditetapkan pada tahap 2 di atas), dan
pilih nilai yang lebih rendah.
Untuk mengilustrasikan tahap-tahap tersebut, asumsikan FARRAS Company
menjual enam barang. Untuk masing-masing barang, mempunyai harga jual per unit $1, beban
penjualan normal $0.20 per unit, dan laba normal sebesar 25% dari penjualan atau $0.25 per
unit. Biaya historis dan biaya penggantian saat ini berbeda untuk masing-masing barang.
Perhitungan yang lebih rendah antara biaya dan nilai pasar untuk masing-masing barang
dihitung sebagai berikut :
I. Nilai pasar yang terpilih sama dengan biaya penggantian dan biaya perolehan lebih kecil
dari nilai pasar
II. Nilai pasar yang dipilih sama dengan biaya penggantian dan nilai pasar lebih kecil dari
biaya perolehan
III. Nilai pasar yang dipilih sama dengan batas terendah dan nilai pasar lebih kecil dari biaya
perolehan
IV. Nilai pasar yang dipilih sama dengan batas terendah dan biaya perolehan lebih kecil dari
nilai pasar
V. Nilai pasar sama dengan batas tertinggi dan biaya perolehan lebih kecil dari nilai
pasar
VI. Nilai pasar sama dengan batas tertinggi dan nilai pasar lebih kecil dari biaya
perolehan
Dalam contoh di atas, metode LCM diterapkan ke tiap jenis persediaan. Metode
LCM dapat juga diterapkan ke kelompok atau kategoriutama dari jenis-jenis persediaan atau
juga secara keseluruhan persediaan. Penerapan LCM ke masing-masing jenis persediaan
akan menghasilkan nilai persediaan yang lebih rendah karena kenaikan nilai pasar pada
beberapa jenis persediaan tidak boleh menutupi penurunan nilai jenis persediaan lainnya.
Untuk mengilustrasikan perbedaan dalam penerapan penilaian, asumsikan
persediaan FARRAS Co mencakup barang I sampai VI masing-masing sebanyak 1.000 unit.
Bila metode produk individual digunakan, maka aturan LCM diterapkan secara terpisah
ke barang I sampai VI, sehingga mengahsilkan penilaian persediaan berdasarkan LCM sebesar
$3,850. Jika aturan LCM diterapkan padapersediaan secara keseluruhan, maka nilai pasar
keseluruhan sebesar $4,000 dibandingkan dengan biaya perolehan keseluruhan $4,100 ,
maka persediaan dicatat pada nilai sebesar $4,000.
Ayat jurnal untuk mencatat pengurangan nilai persediaan dengan dasar jenis
individual :
Kerugian dari penurunan nilai persediaan 250
Persediaan 250
(4,100 – 3,850)
Begitu persediaan telah diturunkan ke nilai pasar yang lebih rendah, maka nilai
pasar yang baru dianggap sebagai biaya perolehan persediaan guna perhitungan persediaan
di masa yang akan dating. Penurunan biaya yang terjadi tidak dipulihkan. Dengan
demikian, catatan persediaan harus disesuaikan untuk mencerminkan nilai yang baru.
Dari pada mengurangi nilai persediaan secara langsung, perkiraan persediaan dapat
dipertahankan sebesar nilai biaya perolehan, dan perkiraan penyisihan untuk penurunan
persediaan dapat digunakan guna mencatat penurunan nilai. Metode ini dapat digunakan
secara umum pada saat persediaan dinilai berdasarkan kategori atau secara keseluruhan. Jurnal
yang diperlukan untuk mencatat penurunan nilai untuk persediaan secara keseluruhan
dengan menggunakan perkiraan penyisihan adalah :
Kerugian dari penurunan nilai persediaan 100
Penyisihan untuk penurunan nilai persediaan 100
(4.100 – 4.000)
Perkiraan penyisihan akan dilaporkan sebagai pengurang dari perkiraan persediaan di
neraca. Pertanyaan selanjutnya adalah apa yang harus dilakukan terhadap penyisihan di tahun
berikutnya ?. Asumsikan di tahun berikutnya FARRAS Co menjual seluruh persediaan
yang ada, sehingga penyisihan tidak lagi diperlukan, maka jurnal untuk penyisihan adalah
:
Penyisihan untuk penurunan nilai persediaan 100
Harga Pokok Penjualan 100

B. DASAR PENILAIAN

e. Penilaian Menurut Nilai Realisasi Bersih


Secara umum, persediaan dicatat pada biayanya atau menurut aturan LCM. Akan tetapi,
banyak pihak yang percaya bahwa harga pasar harus selalu didefinisikan sebagai nilai
realisasi bersih (harga jual dikurangi estimasi biaya penyelesaian dan penjualan), bukan
biaya oengganti, untuk tujuan pengaplikasian LCM.
Alasan pemakaian mentode penilaian ini:
1. Terdapat pasar-terkendali dengan harga-kuota yang berlaku bagi semua kuantitas.
2. Tidak ada biaya penjualan yang signifikan.
3. Terkadang angka biaya terlalu sulit dihitung.
f. Penilaian Menggunakan Nilai Penjualan Relatif
Suatu masalah khusus muncul ketika sekelompok unit yang berbeda dibeli dengan satu
harga lump sum yang juga disebut basket purchase. Ketika menghadapi situasi semacam itu,
yang tidak jarang ditemui, praktek yang paling umum dan paling logis adalah
mengalokasikan total biaya di antara berbagai unit atas dasar nilai penjualan relatifnya.
g. Komitmen Pembelian
Dalam banyak lini bisnis, kelangsungan hidup dan profitabilitas perusahaan tergantung pada
tersedianya persediaan barang dagang yang mencukupi untuk memenuhi semua permintaan
pelanggan. Akibatnya, sangat wajar bagi sebuah perusahaan untuk membuat komitmen
pembelian, yang setuju untuk membeli persediaan beberapa minggu, bulan, atau bahkan
beberapa tahun di muka. Umumnya, hak atas barang dagang atau bahan baku yang terkait
dengan komitmen pembelian ini belum berpindah ke pembeli.

C. METODE LABA KOTOR

Teknik estimasi persediaan digunakan untuk menghasilkan nilai persediaan pada saat
perhitungan fisik persediaan tidak dapat dilakukan, serta untuk menyediakan pengecekan
independen atas validitas nilai persediaan yang dihasilkan oleh system akuntansi. Teknik
estimasi persediaan yang paling sederhana adalah metode laba kotor. Metode laba kotor
didasarkan pada observasi bahwa hubungan antara penjualan dan harga pokok penjualan
biasanya relative stabil.
Asumsi yang mendasai metode laba kotor:
1. Persediaan awal ditambah pembelian sama dengan total barang yang diperhitungkan.
2. Barang yang belum terjual harus berada di tangan.
3. Jika penjualan dikurangi biaya, dikurangkan dari jumlah persediaan awal ditambah
pembelian maka hasilnya adalah persediaan akhir.
Persentase laba kotor (penjualan – harga pokok penjualan) diterapkan pada penjualan
guna mengestimasikan harga pokok penjualan, kemudian estimasi harga pokok penjualan
dikurangkan pada harga pokok barang yang tersedia untuk dijual guna memperoleh estimasi atas
saldo persediaan.
Untuk mengilustrasikan penerapan metode laba kotor,perhatikan informasi berikut :
Persediaan awal, 1 Januari ..................................$ 25,000
Penjualan, 1 januari – 31 Januari.............................50,000
Pembelian, 1 Januari – 31 Januari............................40,000
Persentase laba kotor histories :
Tahun lalu 40%
Dua tahun lalu 37%
Tiga tahun lalu 42%
Perusahaan ingin menyiapkan laporan keuangan per 31 Januari dan ingin menggunakan
estimasi persediaan akhir daripada melakukan perhitungan fisik atas persediaan. Persentase
laba kotor tahun lalu sebesar 40% dianggap sebagai estimasi yang baik atas persentase laba kotor
saat ini.
Estimasi persediaan merupakan proses dengan dua tahap yaitu :
 Suatu asumsi mengenai laba kotor digunakan untuk menentukan estimasi atas laba
kotor, kemudian memungkinkan untuk melakukan perhitungan estimasi harga pokok
penjualan.

 Angka tersebut (harga pokok penjualan) digunakan untuk mengestimasi persediaan akhir.

Estimasi atas persediaan akhir ini dapat digunakan dalam laporan keuangan tanggal 31
Januari atau dapat dibandingkan dengan pencatatan persediaan perpetual apabila ada, atau
dapat digunakan sebagai dasar pembayaran asuransi jika persediaan tanggal 31 Januari rusak
karena suatu kecelakaan. Proses dua tahap akan dijelaskan sebagai berikut :
Anggaplah perusahaan juga melakukan perhitungan secara fisik pada tanggal 31
Januari yang mengindikasikan bahwa pada tanggal tersebut jumlah persediaan tersisa $32,000
tidak seperti jumlah hasil estimasi $35,000. Apakah ini perbedaan yang masuk akal, atau adakah
alas an untuk melakukan pemerikasaan lebih jauh ?. Suatu cara untuk menentukannya adalah
dengan mempertimbangkan perbedaan dalam persentase laba kotor historis seperti berikut :

Rentang estimasi untuk persediaan tanggal 31 Januari adalah $33,500 sampai $36,000.
Nilai $32,000 yang diperoleh dari perhitungan secara fisik berada di luar kisaran ini.
Penjelasan yang mungkin diberikan adalah :
 Persentase laba kotor tahun ini berada di luar kisaran laba histories yang telah diamati,
memperlihatkan adanya perubahan signifikan dalam strategi penetapan harga atau bauran
penjualan.
 Telah terjadi kehilangan persediaan.
 Penjualan dilaporkan lebih rendah.
Terkadang bagian tersulit dalam menetapkan metode laba kotor adalah menjelaskan
hubungan antara penjualan dan harga pokok penjualan. Dalam contoh di atas, hubungan penjualan
dengan harga poko penjualan dirangkum dengan mengatakan bahwa laba kotor 40%. Hubungan
yang sama dapat digambarkan sedikitnya dengan dua cara lainnya yaitu :
 Penjualan dibuat dengan mark up sebesar 40% dari harga jual.
 Penjualan dibuat dengan mark up sebesara 66 2/3 dari biaya perolehan (laba kotor
/biaya perolehan = 66 2/3).

D. METODE PERSEDIAAN ECERAN

Akuntansi untuk persediaan dalam bisnis eceran memberikan sejumlah tantangan. Retailer
yang memiliki jenis persediaan tertentu bisa memakai metode identifikasi khusus untuk menilai
persediaannya. Pendekatan seperti ini dapatditerima jika setiap unit persediaan adalah signifikan,
seperti mobil, piano, atau jas bulu. Akan tetapi, jika penggunaan pendekatan semacam ini di
Kmart, True-value, Hardware atau Bloomingdales-retailer bervolume tinggi yang meiliki
banyak jenis persediaan yang berbeda. Akan sangat sulit untuk menentukan biaya setiap penjualan,
mencatat biaya kode pada kartu, mengubah kode untuk mencerminkan penurunan nilai barang
dagang, mengalokasikan biaya seperti transportasi, dsb. Alternatif yang bisa dilakukan adalah
menyusun persediaan menurut harga eceran. Dalam sebagian besar perusahaan eceran, terdapat
pola yang dapat diamati antara biaya dengan harga. Kerena itu, harga eceran dapat dikonversikan
menjadi biaya dengan suatu rumus. Metode ini yang dinamakan metode persediaan eceran ,
mensyaratkan bahwa pencatatan dilakukan atas:
1. Total biaya dan nilai eceran dari barang yang dibeli.
2. Total biaya dan nilai eceran barang yang tersedia dijual.
3. Penjualan periode berjalan.
AKUISISI DAN DISPOSISI PROPERTI, PABRIK, DAN PERALATAN

A. ASET TETAP (PROPERTI, PABRIK, PERALATAN)


Aset tetap adalah aset berwujud yang:
1. Dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa, untuk
direntalkan kepada pihak lain, atau untuk tujuan administratif,
2. Diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode.

Karakteristik utama dari properti, pabrik, dan peralatan:

1. Aktiva tersebut diperoleh untuk digunakan dalam operasi dan bukan untuk dijual kembali.
2. Aktiva tersebut bersifat jangka panjang dan merupakan subjek penyusutan.
3. Aktiva tersebut memiliki substansi fisik.
Pengakuan
Biaya perolehan aset tetap harus diakui sebagai aset jika dan hanya jika:
1. Besar kemungkinan manfaat ekonomis di masa depan berkenaan dengan aset tersebut akan
mengalir ke entitas, dan
2. Biaya perolehan aset dapat diukur secara andal.
Hal tersebut merupakan prinsip pengakuan umum untuk aset tetap yang diterapkan pada saat
pengakuan awal, pada saat ada bagian tertentu dari aset yang diganti, dan jika ada pengeluaran
tertentu yang terjadi terkait dengan aset tersebut selama masa manfaatnya. Jika pengeluaran
tersebut menimbulkan manfaat ekonomis di masa depan, maka dapat diakui sebagai aset.
Pengukuran awal
Suatu aset tetap yang memenuhi kualifikasi untuk diakui sebagai aset pada awalnya harus
diukur sebesar biaya perolehan. Biaya perolehan aset tetap meliputi:
1. Harga perolehannya, termasuk bea impor dan pajak pembelian yang tidak boleh
dkreditkan setelah dikurangi diskon pembelian dan potongan lain.
2. Biaya-biaya yang dapat diatribusikan secara langsung untuk membawa aset ke lokasi dan
kondisi yang diinginkan agar aset siap digunakan sesuai dengan keinginan dan maksud
manajemen.
Contoh biaya yang dapat diatribusikan secara langsung :
1. Biaya imbalan kerja (PSAK 24: Imbalan Kerja) yang timbul secara langsung dari
pembangunan atau akuisisi aset tetap.
2. Biaya penyiapan lahan untuk pabrik
3. Biaya penanganan dan penyerahan awal
4. Biaya perakitan dan instalasi
5. Biaya pengujian aset apakah aset berfungsi dengan baik, setelah dikurangi hasil neto
penjualan produk yang dihasilkan sehubungan dengan pengujian tersebut.
6. Komisi penjualan.

B. AKUISISI
Kebanyakan perusahaan menggunakan biaya historis sebagai dasar untuk menilai
properti, pabrik, dan peralatan. Biaya historis diukur oleh kas atau harga ekuivalen kas untuk
memperoleh aktiva dan membawanya ke lokasi serta kondisi yang diperlukan untuk tujuan
penggunaannya. Ketidaksepakatan setelah akuisisi berkenaan dengan perbedaan antara biaya
historis dengan metode penilaian lainnya akan selalu terjadi. Alasan utama bahwa biaya
historis jarang terjadi adalah:
1. Pada tanggal akuisisi, biaya merefleksikan nilai wajar
2. Biaya historis melibatkan biaya aktual, bukan transaksi hipotesis, sehingga merupakan
hal yang paling dapat diandalkan
3. Keuntungan serta kerugian sebaiknya tidak diantisipasi tetapi harus diakui ketika aktiva
dijual.

Biaya Akuisisi:
Biaya Tanah
Biaya tanah mencakup :
a. harga beli,
b. biaya penutupan,
c. biaya yang dikeluarkan untuk mempersiapkan tanah hingga siap digunakan,
d. asumsi mengenai hak gadai beban atau hipotik,
e. setiap perbaikan tanah lainnya yang memiliki umur tidak terbatas.
Biaya Bangunan
Biaya bangunan meliputi :
a. biaya bahan, tenaga kerja, dan overhead yang terjadi selama konstruksi,
b. honor profesional serta ijin mendirikan bangunan, serta
c. semua biaya yang dikeluarkan mulai dari penggalian hingga penyelesaian.
Biaya Peralatan
Biaya peralatan meliputi: harga beli, biaya pengangkutan dan penanganan, asuransi
peralatan ketika masih dalam perjalanan, biaya fondasi khusus jika diperlukan, biaya
pemasangan dan perakitan, serta biaya untuk menjalankan uji coba.
Aktiva yang Dibuat Sendiri
Biaya tidak langsung (ovehead) terdiri dari biaya listrik, pemanas, lampu, asuransi,
pajak kekayaan atas bangunan pabrik dan peralatan, tenaga pengawas pabrik, penyusutan
aktiva tetap, dan perlengkapan. Penanganan terhadap biaya tidak langsung ada dua cara, yaitu:
(1) tidak membebankan overhead tetap ke biaya pembuatan aktiva, dan (2) membebankan
bagian dari total overhead ke proses konstruksi (pendekatan full costing).
Biaya Bunga Selama Konstruksi
Pendekatan untuk perlakuan biaya bunga:
1. Tidak mengkapitalisasi beban bunga selama periode konstruksi
2. Membebankan ke konstruksi atas semua biaya dana yang digunakan, baik yang dapat
diidentifikasi maupun yang tidak
3. Hanya mengkapitalisasi biaya bunga aktual yang terjadi selama konstruksi.
Diantara tiga pendekatan tersebut, pengkapitalisasian bunga aktual (dengan
modifikasi) adalah pendekatan yang disarankan dalam prinsip-prinsip akuntansi yang diterima
umum (GAAP).
Kenaikan Biaya Aktiva
$0 $?

Tidak Mengkapitalisasi
mengkapitalisasi Mengkapitalisasi biaya aktual semua biaya dan
bunga selama yang muncul selama konstruksi
konstruksi

Prinsip-prinsip Akuntansi yang Diterima Umum (GAAP)


Ilustrasi 1. Kapitalisasi Biaya Bunga

Tiga item yang harus dipertimbangkan dalam penerapan pendekatan ini adalah:
1. Aktiva yang memenuhi kualifikasi
Aktiva ini mencakup aktiva yang dibuat untuk digunakan sendiri, serta aktiva yang
ditujukan untuk dijual atau dilease yang dibuat atau diproduksi sebagai proses diskrit.
Sedangkan aktiva yang tidak memenuhi kualifikasi antara lain :
a. aktiva yang sedang digunakan atau siap digunakan,
b. aktiva yang tidak digunakan dalam aktivitas perusahaan untuk menghasilkan laba dan
tidak digunakan dalam aktivitas yang diperlukan untuk membuatnya siap digunakan.
2. Periode kapitalisasi
Periode kapitalisasi adalan periode waktu dimana bunga harus dikapitalisasi, yang dimulai
apabiya ketiga kondisi berikut terjadi:
a. Pengeluaran untuk aktiva telah dilakukan
b. Aktivitas yang diperlukan untuk mempersiapkan aktiva agar dapat digunakan sedang
berjalan
c. Biaya bunga telah terjadi
3. Jumlah yang dikapitalisasi
Jumlah biaya bunga yang akan dikapitalisasi dibatasi hingga biaya bunga aktual terendah
yang terjadi selama periode berjalan atau bunga yang dapat dihindarkan. Bunga yang dapat
dihindarkan adalah jumlah biaya bunga selama periode berjalan yang secara teoritis dapat
dihindari jika pengeluaran untuk membeli aktiva tidak dilakukan.
Jumlah bunga potensial yang dapat dikapitalisasi yaitu dengan mengalikan suku bunga
dengan akumulasi pengeluaran rata-rata tertimbang dari aktiva yang memenuhi
kualifikasi selama periode berjalan.

Akumulasi Pengeluaran Rata-Rata Tertimbang


Untuk menghitung akumulasi pengeluaran rata-rata tertimbang yakni dengan menimbang
pengeluaran dengan jumlah waktu dimana biaya bunga muncul.
Untuk mengilustrasikannya, asumsikan sebuah proyek konstruksi jembatan berjangka
waktu 17 bulan dengan membayaran tahun berjalan kepada pihak kontraktor sebesar
$240.000 dilakukan pada tanggal 1 Maret, sebesar $480.000 pada tanggal 1 Juli, dan
sebesar $360.000 pada tanggal 1 November.
Akumulasi pengeluaran rata-rata tertimbang untuk tahun yang berakhir 31 Desember
dihitung sebagai berikut :
Pengeluaran Periode Akumulasi Pengeluaran Rata-
x =
Tanggal Jumlah kapitalisasi* rata Tertimbang
1 Maret $ 240.000 10/12 $ 200.000
1 Juli 480.000 6/12 240.000
1 360.000 2/12 60.000
November
$
1.080.000 $ 500.000
*Bulan di antara tanggal pengeluaran dan tanggal kapitalisasi bunga berhenti atau
akhir tahun, mana yang lebih dahulu (dalam hal ini 31 Desember)
Ilustrasi 2. Perhitungan Akumulasi Pengeluaran Rata-rata Tertimbang
Suku Bunga
Prinsip yang digunakan dalam memilih suku bunga yang tepat untuk diaplikasikan pada
akumulasi pengeluaran rata-rata tertimbang adalah:
1. Menggunakan suku bunga yang terjadi atas pinjaman khusus, untuk bagian
akumulasi pengaluaran rata-rata tertimbang yang kurang dari atau sama dengan jumlah
yang secara khusus dipinjam untuk membiayai pembuatan aktiva.
2. Menggunakan suku bunga rata-rata tertimbang yang terjadi atas semua hutang
lainnya yang beredar selama perode berjalan, untuk bagian akumulasi pengeluaran
rata-rata tertimbang yang lebih besar dari setiap hutang yang dipinjam khusus untuk
membiayai pembuatan aktiva.

Pokok Bunga
Wesel 2 tahun, bunga 12% $ 600.000 $ 72.000
Obligasi 10 tahun, bunga 9% 2.000.000 180.000
Obligasi 20 tahun, bunga 7,5% 5.000.000 375.000
$ 7.600.000 $ 627.000

Suku bunga rata-rata Total bunga 627.000


= = = 8,25%
tertimbang Pokok bunga 7.600.000
Ilustrasi 3 menunjukkan perhitungan suku bunga rata-rata tertimbang untuk hutang
yang lebih besar dari jumlah pengeluaran yang digunakan khusus untuk membiayai
pembuatan aktiva.

Ilustrasi 3. Perhitungan Suku Bunga Rata-rata Tertimbang

Contoh Komprehensif mengenai Kapitalisasi Bunga


Untuk mengilustrasikan masalah yang berkaitan dengan kapitalisasi bunga, asumsikan
bahwa pada tanggal 1 November 2006, Shalla Co. menandatangani kontrak dengan Shilla Co.,
untuk membangun sebuah bangunan senilai $1.400.000 di atas tanah yang berharga pokok
$100.000 (dibeli dari kontraktor dan dimasukkan dalam pembayaran pertama). Shalla telah
melakukan pembayaran berikut kepada perusahaan konstruksi selama tahun 2007:
1 Januari 1 Maret 1 Mei 31 Desember Total
$210.000 $300.000 $40.000 $450.000 $1.500.000

Konstruksi telah selesai dilakuka dan bangunan siap untuk digunakan pada tanggal 31 Desember
2007. Shalla Co., memiliki hutang yang beredar berikut pada tanggal 31 Desember 2007:
Hutang Konstruksi Khusus
1. Wesel 3 tahun, bunga 15% untuk membiayai pembelian tanah
dan pembuatan bangunan, tertanggal 31 Desember 2006, dan
bunga dibayar secara tahunan setiap tanggal 31 Desember. $750.000
Hutang Lainnya
2. Wesel bayar 5 tahun, bunga 10% tertanggal 31 Desember
2003, dan bunga dibayar secara tahunan setiap tanggal 31
Desember. $550.000
3. Obligasi 10 tahun, bunga 12%, dikeluarkan tanggal 31
Desember 2002, dan bunga dibayar tahunan setiap tanggal 31
Desember $600.000

Shalla menghitung akumulasi pengeluaran rata-rata tertimbang selama tahun 2003 seperti yang
ditunjukkan dalam ilustrasi 4:
Pengeluaran Periode Akumulasi Pengeluaran
x =
Tanggal Jumlah kapitalisasi* Rata-rata Tertimbang
1 Januari $ 210.000 12/12 $ 210.000
1 Maret 300.000 10/12 250.000
1 Mei 540.000 8/12 360.000
31 Desember 450.000 0 0
$ 1.500.000 $ 820.000
*Bulan di antara tanggal pengeluaran dan tanggal kapitalisasi bunga berhenti atau
akhir tahun, mana yang lebih dahulu (dalam hal ini 31 Desember)
Ilustrasi 4. Perhitungan Akumulasi Pengeluaran Rata-rata Tertimbang

Perhatikan bahwa pengeluaran dilakukan pada tanggal 31 Desember, yaitu hari terakhir tahun
berjalan, tidak memiliki biaya bunga.
Shalla menghitung bunga yang dapat dihindarkan sebagai berikut:
Bunga yang
Akumulasi Pengeluaran
x Suku Bunga = dapat
Rata-rata Tertimbang
Dihindarkan
$750.000 0,15 (wesel konstruksi) $ 112.500
a
70.000 0,1104 (rata-rata 7.728
$820.000 tertimbang hutang $120.228
lainnya)b
a
Jumlah dimana akumulasi pengeluaran rata-rata tertimbang melebihi pinjaman
konstruksi khusus.
b
Perhitungan suku bunga rata-rata tertimbang:

Pokok Bunga
$550.000 $55.000
Wesel 5 tahun, bunga 10% 600.000 72.000
Obligasi 10 tahun, bunga 12% $1.150.000 $127.000

Suku bunga rata-rata Total bunga $127.000


= = = 11,04%
tertimbang Total pokok $1.150.000
Ilustrasi 5. Perhitungan Bunga yang dapat Dihindarkan

Perusahaan menghitung biaya bunga aktual, yang merupakan jumlah bunga maksimun yang dapat
dikapitalisasi selama tahun 2007, seperti yang ditunjukkan dalam ilustrasi-6:
Wesel konstruksi $750.000 x 0,15 = $112.500
Wesel 5 tahun $550.000 x 0,10 = 55.000
Obligasi 10 tahun $600.000 x 0,12 = 72.000
Bunga Aktual $239.500
Ilustrasi 6. Perhitungan Biaya Bunga Aktual

Biaya bunga yang akan dikapitalisasi Shalla adalah jumlah yang paling kecil dari $120.228 (bunga
yang dapat dihindari) dan $239.500 (bunga aktual), atau $120.228.
Ayat jurnal yang dibuat oleh Shalla Co., selama tahun 2007 adalah sebagai berikut:
1 Januari
Tanah 100.000 -
Bangunan (atau Konstruksi dalam Proses) 110.000 -
Kas - 210.000
1 Maret
Bangunan 300.000 -
Kas - 300.000
1 Mei
Bangunan 540.000 -
Kas - 540.000
31 Desember
Bangunan 450.000 -
Kas - 450.000

Bangunan (Bunga yang dikapitalisasi) 120.228 -


Beban bunga ($239.500 - $120.228) 119.272 -
Kas ($112.500 + $55.000 + $72.000) - 239.500

Biaya bunga yang dikapitalisasi harus dihapus Shalla sebagai bagian dari penyusutan selama umur
manfaat aktiva yang terlibat dan bukan selama umur hutang. Total biaya bunga yang dikeluarkan
selama periode berjalan harus diungkapkan, dengan menunjukkan bagian mana yang dibebankan
ke beban dan mana yang dikapitalisasi.

Pada tanggal 31 Desember 2007, Shalla akan mengungkapkan jumlah bunga yang dikapitalisasi
baik sebagai bagian dari kelompok non-operasi dari laporan laba-rugi atau dalam catatan yang
menyertai laporan keuangan. Kedua bentuk pengungkapan tersebut diilustrasikan dalam ilustrasi
7 berikut ini:
Laba dari operasi xxx
Beban dan rugi lainnya:
Beban bunga $239.500
(-) Bunga yang dikapitalisasi 120.228 119.272
Laba sebelum pajak penghasilan xxx
Pajak Penghasilan xxx
Laba bersih xxx

Catatan 1: Kebijakan Akuntansi. Bunga yang Dikapitalisasi. Selama tahun


2007 total biaya bunga adalah $239.500, dimana sebesar $120.228
dikapitalisasi dan sebesar $119.272 dibebankan ke beban.
Ilustrasi 7. Bunga yang Dikapitalisasi Dilaporkan dalam Laporan Laba-Rugi dan
Diungkapkan dalam Catatan.
Masalah Khusus yang Berhubungan dengan Kapitalisasi Bunga
Dua masalah yang berhubungan dengan kapitalisasi bunga yang memerlukan perhatian khusus
adalah:
1. Pengeluaran untuk tanah
Syarat:
a. Jika tanah dibeli untuk dijadikan lokasi suatu bangunan atau pabrik, maka biaya
bunga yang dikapitalisasi selama periode konstruksi merupakan bagian dari biaya
pabrik, bukan tanah.
b. Jika tanah akan dikembangkan untuk dijual, maka setiap biaya bunga yang
dikapitalisasi harus menjadi bagian dari biaya akuisisi tanah yang sedang
dikembangkan tersebut.
c. Jika tanah dibeli untuk tujuan spekulasi, maka biaya bunga tidak perlu
dikapitalisasi karena aktiva tersebut telah siap digunakan.
2. Pendapatan bunga
Selama tahap awal konstruksi, pendapatan bunga yang dihasilkan dapat melebihi biaya
bunga atas dana pinjaman. Secara umum, pendapatan bunga tidak boleh dioffset
dengan biaya bunga. Bunga atas aktiva yang memenuhi kualifikasi harus
dikapitalisasi, baik apakah kelebihan dana pinjaman tersebut diinvestasikan secara
temporer dalam sekuritas jangka pendek atau tidak.
Observasi
Persyaratan kapitalisasi bunga, meski telah diberlakukan secara meluas di seluruh dunia
sekarang, masih diperdebatkan. Dari sudut pandang konseptual, banyak yang meyakini
bahwa karena alasan-alasan yang telah disebutkan sebelumnya, perusahaan seharusnya
tidak mengkapitalisasi biaya bunga atau seluruh biaya bunga, aktual maupun tertangguh.

C. PENILAIAN
1. Pembelian Tunai (Diskon Tunai)
Apabila aktiva tetap yang dibeli mendapat diskon tunai karena pembeli membayar
lebih cepat, maka bagaimana diskon tersebut dilaporkan? Jika diskon diambil, maka hal
tersebut harus dipertimbangkan sebagai pengurang harga beli aktiva. Akan tetapi, hal lain
yang masih belum jelas adalah apakah pengurang biaya atau harga pokok aktiva itu harus
terjadi meskipun diskon tidak diambil.
Terdapat sudut pandang yang berbeda. Menurut pendekatan pertama, diskon-baik diambil
atau tidak-dianggap sebagai pengurang biaya aktiva. Pendukung pendekatan lainnya
bahwa diskon tunai tidak selalu harus dianggap sebagai kerugian karena syaratnya
mungkin tidak menguntungkan atau mungkin tidak bijaksana bagi perusahaan untuk
mengambil diskon itu.
Contoh:
Shalla membeli sebuah truk dengan informasi sebagai berikut:
Harga tunai 12.000.000 Biaya balik nama 1.200.000
PPN 1.200.000 Pajak kendaraan 250.000
Pengecatan & Merek 500.000 Asuransi dibayar dimuka 600.000

Harga Perolehan Truk


Harga tunai 12.000.000
PPN 1.200.000
Pengecatan & Merek 500.000
Biaya balik nama 1.200.000
14.900.000

Jurnal:
Truk 14.900.000 -
Pajak kendaraan 250.000 -
Asuransi dibayar dimuka 600.000 -
Kas - 15.750.000

2. Kontrak yang ditangguhkan


Aktiva tetap sering dibeli atas dasar kontrak kredit jangka panjang dengan
menggunakan wesel, hipotik, obligasi, atau kewajiban peralatan. Agar dapat
merefleksikan biaya secara tepat, aktiva yang dibeli dengan kontrak kredit jangka panjang
harus diperhitungkan pada nilai sekarang dari pertimbangan yang dipertukarkan antara
pihak-pihak yang melakukan kontrak pada tanggal transaksi.
Contoh:
Shalla membeli robot penyemprot cat dengan menerbitkan surat utang wesel yang bernilai
nominal 100.000, 5 tahun, tingkat bunga 10%. Pembayaran angsuran per tahun 20.000.
Nilai pasar wajar robot tidak dapat ditentukan, sehingga ditentukan dengan nilai wajar
wesel tersebut.
*Nilai sekarang wesel = 20.000 (PVF-OA5,10%)
= 20.000 (3,79079); tabel 6-4
= 75.816

Tanggal Pembelian
Peralatan 75.816 -
Diskonto atas wesel bayar (selisih) 24.184 -
Wesel bayar - 100.000

Akhir Tahun Pertama


Beban Bunga (10%*75.816) 7.582 -
Wesel Bayar 20.000 -
Kas - 20.000
Diskonto atas wesel bayar - 7.582

Akhir Tahun Kedua


Beban Bunga {10%*(75.816-(20.000-7.582)} 7.582 -
Wesel Bayar 20.000 -
Kas - 20.000
Diskonto atas wesel bayar - 7.582

3. Lump sum
Permasalahan khusus sering muncul pada saat penentuan harga aktiva tetap ketika
perusahaan membeli sekelompok aktiva tetap pada harga lump sum tunggal. Apabila
situasi seperti ini terjadi, perusahaan harus mengalokasikan total biaya di antara berbagai
aktiva berdasarkan nilai psar wajar relatifnya. Asumsinya bahwa biaya-biaya ini akan
bervariasi dalam proporsi langsung terhadap nilai wajar.
Contoh:
Metode Proporsional
Metode ini digunakan jika semua isi paket diketahui nilai pasarnya. Misalnya Shalla
memutuskan untuk membeli beberapa aktiva berupa pemanas kecil dari Flo seharga
$80.000. Flo sedang dalam proses likuidasi dan aktiva yang dijual adalah:

Nilai Buku Nilai Pasar


Persediaan 30.000 25.000
Tanah 20.000 25.000
Bangunan 35.000 50.000
85.000 100.000

Harga beli sebesar $80.000 akan dialokasikan Shalla atas dasar nilai pasar wajar relatif
(asumsi identifikasi khusus terhadap biaya adalah tidak praktis) dengan cara berikut:
25.000
Persediaan x 80.000 = 20.000
100.000

25.000
Tanah x 80.000 = 20.000
100.000

50.000
Bangunan x 80.000 = 40.000
100.000
Ilustrasi 8. Alokasi Harga Beli Dasar Nilai Pasar Wajar Relatif

Metode Incremental
Metode ini digunakan jika hanya salah satu (beberapa) paket yang diketahui nilai
pasarnya. Misalnya: diketahui satu paket (seharga 80.000) berisi tanah dan bangunan,
nilai pasar tanah sebesar 25.00, nilai pasar bangunan tidak diketahui.
Alokasi ke tanah  25.000
Sisanya ke bangunan  55.00
Jurnal:
Tanah 25.000 -
Bangunan 55.000 -
Kas - 80.000

4. Penerbitan Saham
Apabila property diperoleh oleh perusahaan melalui penerbitan sekuritas seperti
saham biasa, maka biaya property itu tidak dapat diukur secara tepat dengan nilai pari
atau nilai diterapkan saham tersebut. Jika saham itu sedang diperdagangkan secara aktif,
maka nilai pasar saham yang diterbitkan merupakan indikasi yang wajar atas biaya
property yang diperoleh. Saham merupakan ukuran yang baik atas harga ekuivalen kas
berjalan.
Sebagai ilustrasi, Shalla memutuskan untuk membeli beberapa tanah yang
berdekatan untuk memperluas operasi karpet dan lemarinya. Sebagai pengganti
pembayaran tunai atas tanah tersebut, perusahaan menerbitkan 5.000 lembar saham biasa
kepada Ed (nilai pari $10) yang memiliki nilai pasar wajar $12 per saham. Shalla akan
membuat ayat jurnal:
Tanah (5.000 x $12) 60.000 -
Saham Biasa - 50.000
Tambahan modal disetor (agio modal saham) - 10.000

5. Pertukaran Aktiva NonMoneter


Akuntansi yang tepat untuk pertukaran aktiva moneter, seperti property, pabrik, dan
peralatan masih diperdebatkan atau masih kontroversial. Sebagian akuntan berpendapat
bahwa akuntansi untuk jenis pertukaran ini harus didasarkan atas nilai wajar aktiva yang
diberikan atau nilai wajar aktiva yang diterima, dengan mengakui suatu keuntungan atau
kerugian. Sebagian lain berpendapat bahwa akuntansi harus didasarkan atas jumlah yang
tercatat (nilai buku) dari aktiva yang diberikan, tanpa mengakui keuntungan atau
kerugian. Sementara yang lainnya lagi memilih pendekatan yang akan mengakui kerugian
dalam semua kasus, tetapi menangguhkan keuntungan dalam situasi khusus.
Akuntansi yang biasa untuk pertukaran aktiva nonmoneter harus didasarkan atas
nilai wajar aktiva yang diberikan atau nilai wajar aktiva yang diterima, mana yang
memiliki bukti lebih jelas. Jadi, setiap keuntungan atau kerugian dari pertukaran harus
segera diakui.
Sebuah pertukaran mempunyai substansi komersial jika arus kas masa depan berubah
sebagai akibat dari transaksi tersebut.

Jenis Pertukaran Pedoman Akuntansi


Pertukaran ini mempunyai substansi Mengakui keuntungan dan kerugian
komersial. dengan segera.

Pertukaran ini tidak mempunyai Menangguhkan keuntungan,


substansi komersial-tidak ada kas mengakui kerugian dengan segera.
yang diterima.

Pertukaran ini tidak mempunyai Mengakui sebagian keuntungan,


substansi komersial-ada kas yang mengakui kerugian dengan segera.
diterima.

*jika kas adalah 25% atau lebih daripada nilai wajar pertukaran, akuilah seluruh keuntungan
karena proses pencarian laba telah selesai.
Ilustrasi 9. Akuntansi untuk Pertukaran

Pertukaran – Situasi Kerugian


Apabila aktiva nonmoneter yang sama dipertukarkan dan menghasilkan kerugian,
kerugian itu harus diakui dengan segera. Sebagai contoh, Shalla menukarkan mesin
bekasnya dengan model yang lebih baru dari Ed yang memiliki nilai buku sebesar $8.000
(biaya awal $12.000 dikurangi akumulasi penyusutan $4.000) dan nilai wajar sebesar
$16.000. ed memberikan Shalla tombokan sebesar $9.000 untuk mesin bekas.
Biaya aktiva yang baru:
Harga katalog mesin baru 16.000
(-) Tombokan untuk mesin bekas 9.000
Pembayaran tunai 7.000
Nilai wajar mesin bekas 6.000
Biaya mesin baru 13.000

Shalla mencatat transaksi tersebut:


Peralatan 13.000 -
Akumulasi Penyusutan—Peralatan 4.000 -
Kerugian atas pelepasan peralatan 2.000 -
Peralatan - 12.000
Kas - 7.000

Kerugian atas pelepasan mesin dapat diverifikasi sebagai berikut:


Nilai wajar mesin bekas 6.000
Nilai buku mesin bekas 8.000
Kerugian atas pelepasan peralatan 2.000
Pertukaran—Situasi Keuntungan
a. Mempunyai substansi komersial
Dalam hal ini, perusahaan biasanya mencatat biaya aktiva nonmoneter yang
diterima untuk ditukar dengan aktiva nonmoneter yang lain pada nilai wajar dari
aktiva yang diberikan dan dengan segera mengakui keuntungan. Sebagai ilustrasi,
Shalla menukarkan sejumlah truk bekas ditambah kas dengan semi-truk. Truk
bekas tersebut nilai buku gabungan sebesar $42.000 (biaya sebesar $64.000
dikurangi akumulasi penyusutan $22.000). Agen pembelian Lou menyatakan
bahwa truk bekas itu bernilai wajar $49.000. selain itu, Lou harus membayar
$17.000 tunai untuk semi-truk. Lou menghitung biaya semi-truk sebagai berikut:
Nilai wajar truk yang ditukar 49.000
Kas yang dibayarkan 17.000
Biaya tanah semi-truk 66.000

Lou mencatat transaksi pertukaran ini:


Semi-truk 66.000 -
Akumulasi penyusutan—Truk 22.000 -
Truk - 64.000
Keuntungan dari pelepasan truk - 7.000
Kas - 17.000

b. Tidak ada substansi komersial—tidak ada kas yang diterima


Jika pertukaran yang dilakukan oleh Shalla tidak mempunyai substansi komersial
maka posisi ekonomi Shalla tidak berubah signifikan akibat pertukaran ini. Dalam
hal ini, Shalla menangguhkan keuntungan sebesar $7.000 dan mengurangi dasar
dari semi-truk.
Nilai wajar semi truk 66.000 Nilai buku truk bekas 42.000
(-) Keuntungan ditangguhkan 7.000 (+) Kas yg dibayarkan 17.000
Dasar semi-truk 59.000 59.000

Jurnalnya adalah:
Semi-truk 59.000 -
Akumulasi penyusutan—Truk 22.000 -
Truk - 64.000
Kas - 17.000

c. Tidak ada substansi komersial—sejumlah kas diterima


Ketika sebuah perusahaan menerima kas (tombokan/boot) dalam sebuah pertukaran
yang tidak mempunyai substansi komersial, perusahaan dapat dengan segera
mengakui sebagian dari keuntungan.
Rumus untuk pengakuan keuntungan, sejumlah kas diterima:
Kas yg diterima (tombokan) Keuntungan Keuntungan
x =
Tombokan + Nilai wajar aset lain yg diterima Total yg diakui

Asumsikan bahwa Shalla menukarkan mesin bekas yang mempunyai nilai buku
$60.000 (biaya 110.000 – akumulasi penyusutan 50.000) dan nilai wajar $100.000.
dalam pertukaran tersebut, Shalla menerima sebuah mesin dengan nilai wajar
$90.000 + kas sebesar $10.000.
Perhitungan keuntungan total dari pertukaran:
Nilai wajar mesin yg ditukarkan 100.000
Nilai buku mesin yg ditukarkan 60.000
Keuntungan total 40.000

Bagian keuntungan yang diakui perusahaan adalah rasio aktiva moneter (dalam hal
ini adalah kas) dibandingkan dengan nilai total yang diterima, perhitungannya:
$10.000
x $40.000 = $40.000
$10.000 + $90.000

Karena shalla hanya mengakui keuntungan $4.000, perusahaan menangguhkan


sisanya sebesar $36.000 (40.000-4.000) dan mengurangi dasar (biaya yang dicatat)
mesin baru sebagai berikut:
Nilai wajar mesin baru 90.000 Nilai buku mesin lama 60.000
(-) Keuntungan ditangguhkan 36.000 (+) Kas yg dibayarkan 6.000*
Dasar semi-truk 54.000 54.000
*(10.000/100.000)x40.000 = 6.000
Ayat jurnal:
Kas
59.000 -
Mesin
22.000 -
Akumulasi penyusutan – Mesin
- 64.000
Mesin
- 17.000
Keuntungan dari pelepasan mesin

Pertukaran Sejenis
Misalnya, Shalla menukarkan truk A dengan Truk B. Harga perolehan truk A sebesar
$50.000 dan akumulasi depresiainya $20.000. Harga pasar (nilai wajar) truk B $35.000
dan Shalla menerima uang $5.000.
Jurnalnya:
Truk B 25.000 -
Akumulasi depresiasi Truk A 20.000 -
Kas 5.000 -
Truk A - 50.000

Pertukaran Tidak Sejenis


Misalnya, Shalla menukarkan truk dengan harga perolehan $64.000 dan telah didepresiasi
$22.000, ditukar dengan mesin. Pada saat itu nilai pasar tru sebesar $49.000. Untuk
memperoleh mesin, Shalla masih harus membayar sebesar $17.000. Asumsikan harga
pasar truk 40.000.
Jurnalnya:
Mesin 66.000 -
Akumulasi depresiasi mesin 22.000 -
Truk - 64.000
Kas - 17.000
Laba penjualan truk 7.000

6. Akuntansi untuk Kontribusi


Kontribusi harus dicatat pada nilai wajar aktiva yang diterima dan kredit yang
berhubungan harus dibuat untuk pendapatan dalam jumlah yang sama. Nilai wajar aktiva
harus digunakan untuk menentukan nilainya dalam pembukuan. Standar IFRS telah
menyatakan sikap bahwa, secara umum kontribusi yang diterima harus diakui sebagai
pendapatan dalam periode penerimaannya. Kontribusi akan diukur pada nilai wajar aktiva
yang diterima. Sebagai ilustrasi, Shalla baru-baru ini menerima donasi tanah dengan nilai
wajar sebesar $150.000 dari Money sebagai balasan atas janji untuk membangun pabrik
pengepakan di Money. Ayat jurnal yang dibuat oleh Shalla adalah sebagai berikut:
Tanah 150.000 -
Pendapatan - 150.000

Apabila aktiva nonmoneter dikontribusikan, jumlah donasi itu harus dicatat sebagai
beban pada nilai wajar aktiva dan nilai bukunya, maka keuntungan/kerugian harus diakui.
Sebagai contoh, Dhalla mendonasikan tanah berharga pokok $80.000 dan memiliki nilai
wajar $110.000 kepada Max untuk lahan parkir. Shalla mencatatnya:
Beban Kontribusi 110.000 -
Tanah 80.000
Keuntungan atas pelepasan tanah 30.000

7. Metode Penilaian Lainnya


Pengecualian dari prinsip biaya historis untuk akuisisi aktiva tetap melalui donasi
adalah didasarkan atas nilai wajar. Pengecualian lainnya adalah konsep biaya
penghematan. Konsep ini mengatakan bahwa jika karena beberapa alasan perusahaan
mengabaikan harga tertentu dan pada awalnya membayar terlalu banyak untuk suatu
aktiva, maka secara teoritis lebih baik segera membebankan suatu kerugian.
D. BIAYA SETELAH AKUISISI
Secara umum, biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh manfaat masa depan yang lebih
besar harus dikapitalisasi, sementara pengeluaran yang hanya ditujukan untuk
mempertahankan tingkat pelayanan tertentu harus dianggap sebagai beban. Agar biaya-biaya
ini dapat dikapitalisasi, harus ada tiga kondisi berikut:
1. Umur manfaat aktiva harus meningkat
2. Kuantitas unit yang diproduksi oleh aktiva harus meningkat
3. Kualitas unit yang diproduksi harus ditingkatkan

1. Penambahan
Penambahan pada umumnya tidak menimbulkan masalah akuntansi yang besar.
Setiap penambahan yang terjadi pada aktiva tetap akan dikapitalisasi karena aktiva baru
telah diciptakan. Namun masalah yang sering timbul dalam hal penambahan adalah
akuntansi untuk setiap perubahan yang berhubungan dengan struktur yang ada akibat
penambahan tersebut.
2. Perbaikan dan penggantian
Perbaikan adalah penggantian aktiva yang sekarang sedang digunakan dengan
aktiva lain yang lebih baik. Sedangkan penggantian adalah substitusi dari aktiva yang
sama. seringnya perbaikan dan penggantian timbul dari kebijakan umum untuk
memodernisasi atau merehabilitasi seperangkat peralatan. Masalahnya disini adalah
membedakan jenis pengeluaran ini apakah meningkatkan potensi jasa masa depan atau
hanya mempertahankan tingkat pelayanan yang ada.
Jika ditentukan bahwa pengeluaran ini meningkatkan potensi pelayanan masa
depan dari aktiva, pengeluaran tersebut harus dikapitalisasi. Maka akuntansi yang
diberlakukan adalah dengan salah satu dari tiga cara berikut tergantung pada situasinya.
1. Menggunakan pendekatan substitusi. Pendekatan ini merupakan prosedur yang benar
jika jumlah tercatat dari aktiva lama tersedia. Jika nilai tercatat aktiva lama tidak dapat
ditentukan, maka cukup dengan menghapus biaya aktiva lama dan menggantikannya
dengan biaya aktiva baru.
Sebagai contoh, Shalla memutuskan untuk mengganti pipa-ppa dari sistem pipa
ledengnya. Mavin menyarankan agar pipa besi dan tube baja diganti dengan tube
plastik yang baru dikembangkan. Pipa dan tube lama memiliki nilai buku $15.000
(biaya 150.000 – akumulasi penyusutan 135.000) dan nilai sisa $1.000. sistem tube
plastik memiliki biaya atau harga pokok $125.000. Dengan mengasumsikan bahwa
Shalla harus membayar sebesar $124.000 untuk tube baru, maka jurnalnya:

Sistem ledeng 125.000 -


Akumulasi penyusutan 135.000 -
Kerugian pelepasan aktiva tetap 14.000 -
Sistem ledeng - 150.000
Kas (125.000 – 1.000) - 124.000

2. Mengkapitalisasi biaya baru. Pendekatan ini mengkapitalisasi perbaikan dan


mencatat jumlah aktiva lama dalam nilai buku. Justifikasi untuk mengkapitalisasi
biaya perbaikan atau penggantian adalah bahwa walaupun nilai tercatat aktiva lama
tidak dikeluarkan dari akun, namun penyusutan yang mencukupi telah diperhitungkan
atas pos tersebut untuk mengurangi nilai tercatat menjadi hampir nol.
3. Membebankan ke Akumulasi Penyusutan. Penggantian akan memperpanjang umur
manfaat aktiva dan oleh karena itu mengumpulkan kembali sejumlah atau semua
penyusutan di masa lalu.

3. Penyusunan dan pemasangan kembali


Biaya penyusutan kembali dan pemasangan kembali merupakan pengeluaran yang
ditujukan untuk memberikan manfaat di periode masa depan. Contohnya, penyusunan
kembali dan pemasangan kembali sekelompok mesin untuk memudahkan produksi di
masa depan.
4. Reparasi
Reparasi biasa adalah pengeluaran yang dilakukan untuk mempertahankan aktiva
tetap berada dalam kondisi siap operasi. biaya ini dapat dibebankan ke akun beban selama
periode terjadinya, atas dasar bahwa periode tersebut merupakan periode yang paling
banyak menerima manfaat. Sebagai ilustrasi, Shalla mengestimasi bahwa total beban
reparasi selama tahun berjalan adalah $720.000. Shalla memutuskan untuk membebankan
sebagian biaya reparasi selama tahun berjalan akan terjadi hanya pada dua kuartal.

Akhir Kuartal Pertama (biaya reparasi yang terjasi nol)


Beban Reparasi 180.000 180.000
Penyisihan untuk Reparasi (1/4*720.000) - -
Akhir Kuartal Kedua (biaya reparasi yg terjadi 344.000)
Penyisihan untuk Reparasi 344.000 -
Kas, Hutang Gaji, Persediaan, dll - 344.000
Beban Reparasi 180.000 -
Penyisihan untuk reparasi (1/4*720.000) - 180.000
Akhir Kuartal Ketiga (biaya reparasi yang terjadi nol)
Beban Reparasi 180.000 180.000
Penyisihan untuk Reparasi (1/4*720.000) - -
Akhir Kuartal Keempat (biaya reparasi yg terjadi 380.800)
Penyisihan untuk Reparasi 380.800 -
Kas, Hutang Gaji, Persediaan, dll - 380.800
Beban Reparasi 184.800 -
Penyisihan untuk reparasi - 184.800
(344.000 + 380.000 - 180.000 - 180.000 - 180.000)

E. DISPOSISI AKTIVA TETAP


Keuntungan dan kerugian sebenarnya merupakan koreksi laba bersih untuk tahun-tahun
selama aktiva tetap digunakan. Setiap keuntungan atau kerugian dari pelepasan segmen
perusahaan harus dilaporkan bersama dengan hasil yang berkaitan dari operasi yang
dihentikan.
1. Penjualan Aktiva Tetap
Penyusutan harus dicatat selama periode waktu antara tanggal ayat jurnal
penyusutan berakhir dibuat dan tanggal penjualan. Untuk mengilustrasikannya, asumsikan
bahwa B company mencatat penyusutan mesin yang berbiaya $18,000 selama 9 tahun
sebesar $1,200 per tahun. Jika mesin itu dijual pada pertengahan tahun kesepuluh seharga
$7,000, maka B Company mencatat penyusutan pada tanggal penjualan adalah sebagai
berikut :
Beban Penyusutan 600 -
Akumulasi penyusutan – Mesin - 600

Ayat jurnal untuk penjualan aktiva adalah sebagai berikut :


Kas 7.000 -
Akumulasi Penyusutan – Mesin {(1.200*9)+600} 11.400 -
Mesin - 18.000
Keuntungan atas pelepasan mesin - 400

Nilai buku mesin pada saat penjualan adalah $6,600 ($18,000-$11,400), karena mesin
dijual seharga $7,000, maka jumlah keuntungan dari penjualan adalah $400

2. Konversi secara paksa


Kadang pelayanan suatu aktiva berakhir karena konversi terpaksa seperti
kebakaran, banjir, pencurian, atau pembebasan. Selisih antara jumlah yang dipulihkan dan
nilai buku aktiva tersebut jika ada, dilaporkan sebagai keuntungan atau kerugian.
Keuntungan atau kerugian akan diperlakukan dengan cara yang tidak berbeda dengan jenis
disposisi lainnya.
Sebagai ilustrasi, asumsikan bahwa Shalla terpaksa menjual pabriknya yang
berlokasi di tanah perusahaan yang berdiri tepat pada jalur jalan raya antar negara bagian.
Selama beberapa tahun negara bagian bersangkutan telah berusaha untuk membeli tanah
tempat pabrik tersebut berdiri, tetapi Shalla menolak. Negara bagian itu akhirnya
menggunakan haknya atas wilayah dan mengajukannya ke pengadilan. Dalam
penyelesaian perkara ini, Shalla menerima $500.000, yang jauh lebih besar dari nilai buku
pabrik dan tanah sebesar $200.000 (biaya 400.000 – akumulasi penyusutan 200.000).
Shalla membuat jurnal:
Kas 500.000 -
Akumulasi penyusutan – Aktiva Pabrik 200.000 -
Aktiva Pabrik - 400.000
Keuntungan atas pelepasan aktiva tetap - 300.000

3. Masalah lainnya
Jika suatu aktiva dibesituakan atau dibuang tanpa ada pemulihan kas, maka kerugian harus
diakui dalam jumlah yang sama dengan nilai buku aktiva. Jika terdapat nilai sisa, maka
keuntungan atau kerugian yang terjadi merupakan selisih antara nilai sisa aktiva dan nilai
bukunya. Jika suatu aktiva masih dapat dicapai dalam pembukuan pada biaya historis
dikurangi penyusutan.
F. PENYUSUTAN

Penyusutan didefinisikan sebagai proses akuntansi dalam mengalokasikan biaya aktiva berwujud
ke beban dengan cara yang sistematis dan rasional selama periode yang diharapkan mendapatn
manfaat dari penggunaan aktiva tersebut.
I. Faktor-faktor yang terlibat dalam proses penyusutan
a. Dasar penyusutan aktiva
Dasar yang ditetapkan untuk penyusutan merupakan fungsi dari dua faktor yaitu biaya
awal (historical costs) dan nilai sisa atau pelepasan (salvage value). Biaya historis
merupakan biaya untuk memperoleh suatu aktiva. Nilai sisa adalah estimasi jumlah yang
akan diterima pada saat aktiva itu dijual atau ditarik dari penggunaannya. Nilai sisa
merupakan jumlah dimana aktiva harus diturunkan nilainya atau disusutkan selama masa
manfaatnya. Sebagai gambaran, jika suatu aktiva memiliki biaya $10.000 dan nilai sisa
$1.000, dasar penyusutannya adalah $9.000, yaitu biaya awal dikurangi dengan nilai sisa.
b. Estimasi umur pelayanan atau jasa
Aktiva ditarik dari penggunaannya karena dua alasan yaitu faktor-faktor fisik (seperti
kerusakan atau habisnya umur fisik) dan faktor-faktor ekonomi (keusangan). Faktor-
faktor fisik adalah keausan, dekomposisi, dan kerusakan yang membuat aktiva tersebut
sulit untuk bekerja tanpa batas. Faktor-faktor fisik ini menetapkan batas luar untuk umur
pelayanan aktiva. Faktor-faktor ekonomi atau fungsional dapat diklasifikasikan menjadi
tiga kategori:
1. Ketidaklayakan (inadequency)
Hal ini terjadi apabila suatu aktiva tidak berguna lagi bagi perusahaan tertentu karena
permintaan akan produk perusahaan itu telah meningkat. Contoh: kebutuhan akan
bangunan yang lebih besar untuk mengatasi kenaikan produksi. Walaupun bangunan
lama mungkin masih baik, namun bangunan itu sudah tidak layak lagi untuk tujuan
perusahaan.
2. Penggantian (supersession)
Yakni penggantian suatu aktiva dengan aktiva lainnya yang lebih efisien dan
ekonomis. Contoh: penggantian mainframe komputer dengan jaringan PC.
3. Keusangan (obsolescence)
Merupakan tempat pembuangan untuk situasi yang melibatkan ketidaklayakan dan
penggantian.
c. Metode penyusutan
Faktor ketiga yang terlibat dalam proses penyusutan adalah metode pembagian biaya
secara adil. Perusahaan menggunakan sejumlah metode penyusutan sebagai berikut:
1. Metode aktivitas (unit penggunaan atau produksi)
2. Metode garis lurus
3. Metode beban menurun
a. Jumlah angka tahun
b. Metode saldo menurun
4. Metode penyusutan khusus
a. Metode kelompok dan gabungan (komposit)
b. Metode campuran atau kombinasi
II. Metode penyusutan
a. Metode Aktivitas
Metode aktivitas juga disebut pendekatan beban variabel atau pendekatan unit
produksi, mengasumsikan bahwa penyusutan adalah fungsi dari penggunaan atau
produktivitas dan bukan dari berlalunya waktu. Umur aktiva ini dinyatakan dalam istilah
keluaran (output) yang disediakan (unit-unit yang diproduksi) atau masukan (input)
seperti jumlah jam kerja. Sebagai gambaran, penentuan umur mesin derek tidak
memiliki masalah tertentu karena penggunaan (jam) relatif mudah untuk diukur. Biaya
mesin derek $500.000, estimasi masa manfaat 5 tahun, estimasi nilai sisa $50.000, umur
produktif dalam jam adalah 30.000 jam. Jika Fro menggunakan mesin derek itu selama
4.000 jam pada tahun pertama, beban penyusutannya adalah:
(Biaya – Nilai Sisa) x jam tahun ini
= Beban Penyusutan
Total estmasi jam

($500.000 - $50.000) x 4.000


= $60.000
30.000
Ilustrasi 10. Perhitungan Penyusutan Metode Aktivitas Contoh: Mesin Derek

Keterbatasan utama metode ini adalah bahwa metode itu tidak tepat untuk digunakan
pada situasi dimana penyusutan merupakan fungsi dari waktu dan bukan aktivitas.
Masalah lain dalam menggunakan metode ini adalah bahwa estimasi unit output atau
jam pelayanan yang diterima sering kali sulit ditentukan. Apabila hilangnya pelayanan
merupakan hasil dari aktivitas atau produktivitas, metode aktivitas merupakan metode
paling baik untuk menandingkan biaya dan pendapatan.
b. Metode Garis Lurus
Metode ini mempertimbangkan penyusutan sebagai fungsi waktu, bukan fungsi dari
penggunaan. Apabila keusangan bertahap merupakan alasan utama atas terbatasnya
umur pelayanan, penurunan kegunaannya akan konstan dari periode ke periode. Fro
menghitung beban penyusutan untuk mesing derek sebagai berikut:
(Biaya – Nilai Sisa)
= Beban Penyusutan
Estimasi umur pelayanan

($500.000 - $50.000)
= $90.000
5 tahun
Ilustrasi 11. Perhitungan Penyusutan Metode Garis Lurus Contih: Mesin Derek

Kelemahan utama terhadap metode ini adalah bahwa metode ini didasarkan atas dua
asumsi yang tidak realistis yaitu kegunaan ekonomi aktiva itu sama setiap tahun dan
beban reparasi dan pemeliharaan pada dasarnya sama setiap periode. Masalah lain dari
metode ini serta beberapa metode lainnya adalah berkembangnya distorsi dalam analisis
tingkat pengembalian meningkat, dengan arus pendapatan yang konstan, karena nilai
buku aktiva menurun.
Ilustrasi 12. Penyusutan dan Analisis Tingkat Pengembalian, Contoh: Mesin Derek

Saldo aktiva yang Laba (setelah Tingkat


Beban
Tahun belum disusutkan beban pengembalian
penyusutan
(Nilai buku) penyusutan) (laba/aktiva)
0 $500.000
1 $90.000 410.000 $100.000 24,4%
2 90.000 320.000 100.000 31,2%
3 90.000 230.000 100.000 43,5%
4 90.000 140.000 100.000 71,4%
5 90.000 50.000 100.000 200,0%

c. Metode Beban Menurun


Metode beban menurun menyediakan biaya penyusutan yang lebih tinggi pada tahun-
tahun awal dan lebih rendah pada periode mendatang, sehingga disebut juga metode
penyusutan dipercepat.
1. Metode Jumlah Angka Tahun

Metode ini menghasilkan beban penyusutan yang menurun berdasarkan pecahan


yang menurun dari biaya yang dapat disusutkan (biaya awal – nilai sisa). Setiap
pecaha menggunakan jumlah angka tahun sebagai penyebut (5+4+3+2+1 = 15) dan
jumlah tahun estimasi umur yang tersisa pada awal tahun sebagai pembilang.
Dengan metode ini, pembilang menurun tahun demi tahun dan penyebut tetap
konstan (5/15, 4/15, 3/15, 2/15, 1/15). Pada akhir masa manfaat aktiva, saldo yang
tersisa harus sama dengan nilai sisa.
Ilustrasi 13. Skedul Penyusutan Jumlah Angka Tahun - Contoh Mesin Derek

Umur yang
Dasar Pecahan Beban Nilai Buku
Tahun tersisa (dlm
penyusutan penyusutan Penyusutan Akhir Tahun
th)
1 $450.000 5 5/15 $150.000 $350.000
2 450.000 4 4/15 120.000 230.000
3 450.000 3 3/15 90.000 140.000
4 450.000 2 2/15 60.000 80.000
5 450.000 1 1/15 30.000 50.000a
15 15/15 $450.000
a
Nilai Sisa

2. Metode Saldo Menurun

Metode ini menggunakan tarif penyusutan (%) berupa beberapa kelipatan dari
metode garis lurus. Tidak seperti metode lainnya, dalam metode ini nilai sisa tidak
dikurangkan dalam menghitung dasar penyusutan. Tarif saldo menurun dikalikan
dengan nilai buku aktiva pada awal setiap periode. Karena nilai buku aktiva
dikurangi setiap periode dengan beban penyusutan, tarif saldo menurun yang
konstan diaplikasikan pada nilai buku yang terus menurun yang menghasilkan beban
penyusutan yang semakin rendah setiap tahunnya. Sebagai gambaran, Fro
menggunakan pendekatan saldo menurun berganda (dua kali tarif garis lurus) dalam
menyusutkan mesin derek.
Ilustrasi 14. Skedul Penyusutan Saldo Menurun Berganda – Contoh Mesin Derek

Tarif Saldo
NB Tahun Beban Nilai Buku
Tahun Saldo Akumulasi
Pertama Penyusutan Akhir Tahun
Menuruna Penyusutan
1 $500.000 40% $200.000 $200.000 $300.000
2 300.000 40% 120.000 320.000 180.000
3 180.000 40% 72.000 392.000 108.000
4 108.000 40% 43.200 435.200 64.800
5 64.800 40% 14.800b 450.000 50.000
a
Berdasarkan dua kali tarif garis lurus sebesar 20% ($90.000/$450.000) = 10%,
sehingga 20% x 2 = 40%
b
Terbatas pada $14.800 karena nilai buku tidak boleh lebih rendah dari nilai sisa.

III. Metode Penyusutan Khusus


Terkadang perusahaan menggunakan penyusutan khusus karena aktiva yang terlibat
memiliki karakteristik yang unik, atau sifat industrinya mengharuskan penerapan metode
penyusutan khusus.
1. Metode Kelompok dan Gabungan

Metode kelompok sering digunakan apabila aktiva bersangkutan cukup homogen


dan memiliki masa manfaat yang hampir sama. Metode kelompok lebih mendekati
prosedur biaya unit tunggal karena penyimpangan dari rata-rata tidak besar.
Sedangkan metode gabungan digunakan apabila aktiva bersifat heterogen dan
memiliki umur manfaat berbeda. Metode perhitungan untuk kelompok atau
gabungan pada dasarnya sama yaitu menemukan rata-rata dan menyusutkannya atas
dasar rata-rata tersebut. Sebagai gambaran, Fro menentukan tarif penyusutan
gabungan dengan membagi penyusutan per tahun dengan total biaya aktiva. Aktiva
yang disusutkan antara lain armada mobil, truk, dan mobil van.
Ilustrasi 15. Perhitungan Penyusutan – Dasar Gabungan

Estimasi Penyusutan
Nilai Biaya yg dpt
Aktiva Biaya Awal Umur per tahun
Sisa disusutkan
(tahun) (garis lurus)
Mobil $145.000 $25.000 $120.000 3 $40.000
Truk 44.000 4.000 40.000 4 10.000
Mobil Van 35.000 5.000 30.000 5 6.000
$224,000 $34.000 $190.000 $56.000
$56.000
Tarif Penyusutan Gabungan = = 25%
$224.000
Umur Gabungan = 3.39 tahun ($190.000/$56.000)

Jika tidak terdapat perubahan dalam akun aktiva, kelompok aktiva akan disusutkan
hingga ke nilai sisa atau nilai residu sebesar $56.000 ($224.000 x 25%) per tahun.
Sebagai akibatnya, Fro akan memerlukan waktu selama 3,39 tahun untuk
menyusutkan aktiva-aktiva ini. Waktu yang diperlukan oleh perusahaan untuk
menyusutkan aktivanya menurut metode komposit disebut sebagai umur komposit.
Perbedaan antara metode gabungan dan kelompok dengan metode penyusutan unit
tunggal menjadi jelas ketika membahas penarikan aktiva. Jika suatu aktiva ditarik
sebelum atau sesudah rata-rata masa manfaat kelompok aktiva dicapai, kerugian
atau ekuntungan yang timbul dicatat dalam akun Akumulasi Penyusutan. Hal ini
dibenarkan karena beberapa aktiva akan ditarik sebelum masa manfaat rata-rata dan
lainnya setelah masa manfaat rata-rata. Karena alasan ini, debet ke akun Akumulasi
Penyusutan adalah perbedaan antara biaya awal dan kas yang diterima. Tidak ada
keuntungan atau kerugian atas disposisi yang dicatat.

Untuk mengilustrasikannya, anggaplah bahwa satu mobil van yang memiliki harga
pokok $5.000 dijual seharga $2.600 pada akhir tahun ketiga. Ayat jurnalnya adalah
sebagai berikut:
Akumulasi Penyusutan 2.400 -
Kas 2.600 -
Mobil, Truk, dan Mobil Van - 5.000

2. Metode Campuran atau Kombinasi

Prinsip-prinsip akuntansi yang diterima umum hanya mensyaratkan bahwa metode


penyusutan yang digunakan menghasilkan pengalokasian biaya aktiva selama umur
aktiva dengan cara yang sistematis dan rasional. Sebagai contoh, metode penyusutan
campuran digunakan secara luas pada industri baja yang merupakan kombinasi dari
pendekatan garis lurus/aktivitas dan sering disebut metode produksi variabel.
Perusahaan menggunakan metode penyusutan unit produksi yang dimodifikasi yang
mengakui bahwa penyusutan mesin pembuat baja dihubungkan dengan penggunaan
fisik peralatan adalah faktor waktu. Metode unit produksi yang dimodifikasi ini
menyediakan beban penyusutan garis lurus yang dimodifikasi dengan tingkat
produksi baja mentah. Pada tahun sebelumnya penyusutan dengan metode unit
produksi yang dimodofikasi adalah $21,6 juta atau 40% lebih kecil dari penyusutan
garis lurus, pada tahun berjalan adalah $1,1 juta atau 2% lebih besar dari penyusutan
garis lurus.
IV. Masalah khusus
a. Penyusutan dan Periode Parsial atau Sebagian
Dalam menghitung beban penyusutan periode parsial, perusahaan harus menentukan
beban penyusutan untuk setahun penuh dan kemudian merata-ratakan beban penysutan
ini pada dua periode yang terlibat. Sebagai contoh, asumsikan bahwa suatu mesin bor
otomatis dengan umur 5 tahun dibeli Shalla seharga Rp45.000 tanpa nilai sisa pada
tanggal 10 Juni 2006. Tahun fiskal perusahaan berakhir tanggal 31 Desember.
Penyusutan dibebankan untuk 6 2/3 bulan selama tahun tersebut. Total penyusutan untuk
setahun penuh dengan penyusutan garis lurus adalah $9.000 ($45.000/5 tahun), dan
penyusutan untuk tahun parsial pertama adalah:
62⁄3
x $9.000 = $5.000
12
Perhitungan periode parsial relatif sederhana jika Fro menggunakan penyusutan garis
lurus. Penyusutan periode parsial dengan metode jumlah angka tahun atau saldo
menurun berganda jika diasumsikan Fro membeli aktiva dengan harga $10.000 pada
tanggal 1 Juli 2009 dengan estimasi masa manfaat 5 tahun dan tidak ada nilai sisa.
Ilustrasi 16. Perhitungan Penyusutan Periode Parsial – Dua Metode

Berikut ini ditunjukkan penyusutan yang dialokasikan menurut lima kebijakan pecahan
tahunan yang berbeda dengan menggunakan metode garis lurus atas mesin bor otomatis
seharga $45.000 yang dibeli pada tanggal 10 Juni 2009 oleh Fro.

b. Penyusutan dan Penggantian Aset Tetap


Ilustrasi 17. Kebijakan Penyusutan Tahun Pecahan

Suatu konsepsi yang salah tentang penyusutan adalah bahwa penyusutan menyediakan
dana bagi penggantian aktiva tetap. Penyusutan sama dengan beban lain yang
mengurangi laba bersih. Perbedaannya adalah penyusutan tidak melibatkan arus kas
keluar periode berjalan. Sebagai gambaran, asumsikan bahwa Fro memulai operasinya
dengan aktiva tetap senilai $500.000, yang memiliki masa manfaat selama 5 tahun.
Neraca perusahaan pada awal periode menunjukkan akun Aktiva Tetap $500.000 dan
Ekuitas Pemilik $500.000. Jika diasumsikan bahwa perusahaan tidak memiliki
pendapatan selama 5 tahun, maka laporan laba ruginya adalah:

Total penyusutan aktiva tetap selama 5 tahun adalah $500.000, sehingga neraca pada
akhir dari 5 tahun menunjukkan Aktiva Tetap $0 dan Ekuitas Pemilik $0. Contoh ekstrim
ini mengilustrasikan bahwa penyusutan tidak menyediakan dana bagi penggantian
aktiva. Dana untuk penggantian aktiva berasal dari pendapatan (yang dihasilkan melalui
penggunaan aktiva). Tanpa pendapatan, tidak ada laba yang diwujudkan dan tidak ada
arus kas masuk yang dihasilkan.
c. Revisi Tarif Penyusutan
Ketika aktiva tetap dibeli, tarif penyusutan ditentukan dengan hati-hati berdasarkan
pengalaman masa lalu dengan aktiva sejenis dan informasi lainnya yang berkaitan. Akan
tetapi, provisi untuk penyusutan hanya merupakan estimasi dan mungkin perlu untuk
merevisinya selama umur aktiva. Kemunduran fisik yang tidak diharapkan atau
keusangan yang tidak terduga dapat membuat masa manfaat aktiva lebih pendek
daripada yang diestimasikan semula. Prosedur pemeliharaan yang ditingkatkan, revisi
prosedur operasi atau pengembangan sejenis dapat memperpanjang umur aktiva
melebihi periode yang diharapkan.
Sebagai contoh, asumsikan bahwa Fro membeli mesin dengan harga pokok awal $90.000
diestimasi memiliki masa manfaat 20 tahun tanpa nilai sisa. Akan tetapi, selama tahun
11 diestimasi bahwa mesin itu akan dapat digunakan selama 20 tahun lagi. Oleh karena
itu, total umurnya adalah 30 tahun, bukan 20 tahun. Penyusutan telah dicatat pada tarif
1/20 dari $90.000 aau $4.500 per tahun dengan metode garis lurus. Dengan dasar umur
30 tahun, penyusutan harus diubah menjadi 1/30 dari $90.000 atau $3.000 per tahun.
Oleh karena itu, penyusutan telah diestimasi terlalu tinggi dan laba bersih dinyatakan
terlalu rendah sebesar $1.500 untuk setiap tahun dari 10 tahun yang lalu atau berjumlah
total $15.000. perbedaan jumlah ini dapat dihitung sebagai berikut:
Ilustrasi 18. Perhitungan Akumulasi Perbedaan Akibat Revisi

Fro seharusnya mencatat perubahan estimasi dala perubahan berjalan dan periode
mendatang. Tidak ada perubahan yang harus dibuat atas hasil-hasil yang dilaporkan
sebelumnya. Saldo awal tidak disesuaikan, dan tidak ada upaya untuk mengejar periode
sebelumnya. Alasannya bahwa perubahan estimasi bersifat terus-menerus dan
merupakan bagian yang melekat dari setiap proses estimasi. Penyajian kembali yang
terus-menerus dari periode lalu akan muncul untuk revisi estimasi kecuali jika hal itu
ditangani secara prospektif. Oleh karena itu, tidak ada ayat jurnal yang dibuat pada saat
perubahan estimasi terjadi. Beban penyusutan periode selanjutnya didasarkan atas
pembagian nilai buku yang tersisa dikurangi setiap nilai sisa dengan estimasi umur yang
tersisa.
Mesin $90.000
(-) Akumulasi Penyusutan (45.000)
Nilai buku mesin pada akhir tahun ke-10 $45.000

Penyusutan (periode masa depan) = nilai buku $45.000 : sisa umur 20 tahun = $2.250
Ayat jurnal untuk mencatat penyusutan atas setiap 20 tahun yang tersisa adalah:
Beban Penyusutan 2.250 -
Akumulasi penyusutan – Mesin - 2.250
G. PENURUNAN
Standar akuntansi umum mengenai nilai terendah antara biaya atau harga pasar untuk
persediaan tidak dapat diaplikasikan pada property, pabrik dan peralatan. Bahkan ketika
property, pabrik dan peralatan telah mengalami keusangan sebagian, akuntan merasa enggan
mengurangi jumlah tercatat aktiva tersebut. Mengapa? Keengganan ini terjadi karena, tidak
seperti persediaan, sulit untuk mendapatkan nilai wajar property, pabrik dan peralatan yang
tidak subjektif dan arbitrer.
1. Pengakuan Penurunan Nilai
Penurunan nilai terjadi apabila jumlah tercatat aktiva tidak dapat dipulihkan dan, oleh
karena itu, perlu dihapuskan. Berbagai kejadian dan perubahan situasi mungkin akan
mengarah pada suatu penurunan nilai. Contohnya :
a. Suatu penurunan nilai yang signifikan dalam nilai pasar aktiva.
b. Suatu perubahan yang signifikan dalam jangka waktu atau cara aktiva itu digunakan.
c. Suatu perubahan terbaik yang signifikan dalam factor-faktor hokum atau iklim usaha
yang mempengaruhi nilai aktiva.
d. Suatu akumulasi biaya yang secara signifikan melebihi jumlah biaya awal yang
diperkirakan untuk mengakuisisi atau membuat aktiva.
e. Suatu proyeksi atau peramalan yang menunjukan kerugian terus-menerus yang
berhubungan dengan aktiva.

2. Pengukuran Penurunan Nilai


Kerugian penurunan nilai adalah jumlah dimana jumlah tercatat aktiva melebihi nilai
wajarnya. Singkatnya, proses penentuan kerugian penurunan nilai adalah sebagai berikut
:
a. Menelaah kejadian atau perubahan situasi atas kemungkinan terjadinya penurunan
nilai.
b. Jika hasil penelaah menunjukkan penuruna nilai, maka pengujian tentang kemampuan
pemulihan akan diterapkan. Jika jumlah arus kas bersih masa depan yang diharapkan
dari aktiva jangka panjang lebih kecil dari tercatat aktiva, maka suatu penurunan nilai
telah terjadi.
c. Dengan mengasumsikan terjadi penurunan nilai, kerugian penurunan nilai adalah
jumlah dimana jumlah tercatat aktiva lebih besar daripada nilai wajar aktiva. Nilai
wajar adalah nilai pasar aau nilai sekarang dari arus kas bersih masa depan yang
diharapkan.

3. Restorasi Kerugian Penurunan Nilai


Setelah kerugian penurunan nilai dicatat, maka penurunan nilai tercatat aktiva yang
ditahan untuk digunakan akan menjadi dasar biaya yang baru. Akibatnya, dasar biaya baru
ini tidak berubah kecuali untuk penyusutan atau amortisasi di periode masa depan atau
penurunan nilai tambah.
Untuk mengilustrasikan, asumsikan bahwa D Company pada tanggal 31 Desember
2015 memiliki peralatan dengan nilai tercatat sebesar $500,000 yang telah diturunkan dan
dikurangkan nilai wajarnya menjadi sebesar $400,000. Pada akhir tahun 2007, D
Company menentukan bahwa nilai wajar aktiva ini adalah $480,000. Nilai tercatat aktiva
itu tidak berubah pada tahun 2007. Kerugian penurunan nilai tidak dapat direstorasi atas
aktiva yang ditahan untuk digunakan. Dasar pemikiran untuk tidak menulis nilai aktiva
adalah bahwa dasar biaya baru menyebabkan aktiva yang diturunkan atas dasar yang sama
dengan aktiva lainnya yang tidak menurun.

4. Aktiva yang Akan Dilepaskan


Aktiva yang ditahan untuk dilepaskan tidak akan disusutkan atau diamortisasi
selama periode aktiva itu dimiliki. Dasar pemikirannya adalah bahwa penyusutan tidak
konsisten dengan pendapat tentang aktiva yang akan dilepaskan dan penggunaan mana
yang terendah antara biaya atau nilai realisasi bersih. Dengan kata lain, aktiva yang ditahan
untuk dilepaskan seperti persediaan, harus dilaporkan pada mana yang terendah antara
biaya atau nilai realisasi bersih.
Suatu aktiva yang ditahan untuk dilepaskan dapat dicatat pada periode mendatang,
selama pencatatan itu tidak pernah lebih besar dari nilai tercatat aktiva sebelum penurunan
nilai. Kerugian atau keuntungan yang berhubungan dengan aktiva yang diturunkan ini
harus dilaporkan sebagai bagian dari laba operasi berlanjut.
Grafik Akuntansi untuk penurunan nilai.

H. DEPLESI

Deplesi merupakan penyusutan atas sumber daya alam, yang seringkali disebut aktiva yang
dapat habis, mencakup minyak, mineral, dan kayu. Aktiva ini dikarakteristikan dengan fitur utama:
1. Pengambilan atau peggunaan sepenuhnya aktiva itu.
2. Penggantian aktiva ini hanya dapat dilakukan oleh tindakan alam.

Penetapan Dasar Deplesi

Perhitungan dasar deplesi melibatkan empat faktor:


1. Biaya akuisisi adalah harga yang dibayarkan guna memperoleh hak properti untuk mencari dan
menemukan sumber daya alam yang belum ditemukan atau harga yang harus dibayar untuk
sumber daya yang telah ditemukan.
2. Biaya eksplorasi, segera setalah perusahaan memiliki hak untuk menggunakan propeti itu, biaya
eksplorasi seringkali diperlukan untuk menemukan sumber daya alam.
3. Biaya pengembangan, dibagi menjadi:
a. Peralatan berwujud, biaya peralatan berwujud biasanya tidak diperhitungkan sebagai dasar
deplesi.
b. Biaya pengembangan tidak berwujud, biaya pengembangan tidak berwujud disisi lain
dapat dianggap sebagai bagian dari dasar deplesi.
4. Biaya restorasi, perusahaan kadang-kadang mengeluarkan biaya yang substansial untuk
merestorasi properti kembali seperti kondisi semula setelah dilakukan pengeboran. Biaya
restorasi ini harus ditambahkan ke dasar deplesi untuk tujuan perhitungan biaya per unit.
Penghapusan Biaya Sumber Daya

Biasanya deplesi dihitung dengan metode unit produksi (pendekatan aktivitas), yang berarti
bahwa deplesi merupakan fungsi dari jumlah unit yang ditarik selama periode berjalan. Dalam
menerapkan pendekatan ini, total biaya sumber daya alam dikurangi nilai sisa dibagi dengan
estimasi jumlah unit yang berada dalam deposit sumber daya alam, untuk memperoleh biaya per
unit produk.

Masalah Khusus dalam Akuntansi Deplesi

Masalah akuntansi untuk sumber daya alam dibagi menjadi empat kategori:
1. Kesulitan mengestimasi cadangan yang dapat dipulihkan
2. Masalah nilai penemuan
3. Aspek pajak dari sumber daya alam
4. Akuntansi untuk dividen likuidasi

I. PENYAJIAN DAN ANALISIS

Penyajian Properti, Pabrik, Peralatan, dan Sumber Daya Alam

Dasar penilaian biasanya biaya historis, untuk properti, pabrik, peralatan, dan sumber daya
alam harus diungkapkan bersama dengan penyajian, hak gadai, dan komitmen lainnya yang
berhubungan dengan aktiva ini. Karena dampak yang signifikan dari metode penyusutan yang
digunakan terhadap laporan keuangan, maka pengungkapan berikut harus dibuat:
1. Beban penyusutan untuk periode berjalan
2. Saldo kelas utama dari aktiva yang dapat disusutkan, menurut sifat dan fungsi
3. Akumulasi penyusutan, baik menurut kelas utama aktiva yang dapat disusutkan maupun dalam
jumlah total
4. Suatu uraian umum tentang metode yang digunakan dalam menghitung penyusutan berkaitan
dengan kelas utama aktiva yang dapat disusutkan.

Analisis Properti, Pabrik, Peralatan dan Sumber Daya Alam

Aktiva dapat dianalisis secara relatif dengan aktivitas (perputaran) dan profitabilitas. Seberapa
efisisen perusahaan menggunakan aktiva untuk menghasilkan penjualan diukur dengan rasio
perputaran aktiva (asset turnoffer ratio). Rasio ini ditentukan dengan membagi penjualan bersih
dengan rata-rata total aktiva selama periode berjalan.
A. MASALAH AKTIVA TAK BERWUJUD
I. Karakteristik
Aktiva tak berwujud memiliki dua karakteristik utama yaitu:
1. Kurang memiliki eksistensi fisik
Tidak seperti aktiva berwujud seperti properti, pabrik, dan peralatan, aktiva tak
berwujud memperoleh nilai dari hak dan keistimewaan atau previlage yang diberikan
kepada perusahaan yang menggunakannya.
2. Bukan merupakan instrumen keuangan
Aktiva seperti deposito bank, piutang usaha, dan investasi jangka panjang dalam
obligasi serta saham tidak memiliki substansi fisik, tetapi tidak diklasifikasikan
sebagai aktiva tak berwujud. Aktiva ini merpakan instrumen keuangan dan
menghasilkan nilainya dari hak (klaim) untuk menerima kas atau ekuivalen kas di
masa depan.
II. Penilaian
d. Aktiva Tak Berwujud yang Dibeli
Aktiva tak berwujud yang dibeli dari pihak lain dicatat pada biaya. Biaya ini termasuk
semua biaya akuisisi dan pengeluaran yang diperlukan (seperti harga beli, biaya hukum,
dan beban insidental lainnya) untuk membuat aktiva tak berwujud tersebut siap
digunakan sebagaimana dimaksudkan.
Jika aktiva tak berwujud diperoleh dengan saham atau ditukarkan dengan aktiva lain,
maka biaya aktiva tak berwujud itu adalah nilai pasar wajar dari pertimbangan yang
diberikan atau nilai pasar wajar aktiva tak berwujud yang diterima, mana yang memiliki
bukti lebih jelas.
Apabila beberapa aktiva tak berwujud atau gabungan dari aktiva tak berwujud dan aktiva
berwujud, dibeli dala suatu “pembelian sekeranjang (basket purchase)”, maka biayanya
harus dialokasikan berdasarkan nilai pasar wajar atau nilai jual relatif. Pada dasarnya
perlakuan akuntansi untuk aktiva tak berwujud yang dibeli berkaitan erat dengan
pembelian aktiva tak berwujud.
e. Aktiva Tak Berwujud yang Dibuat secara Internal
Biaya yang terjadi secara internal untuk menciptakan aktiva tak berwujud biasanya
dibebankan pada saat biaya itu dikeluarkan. Jadi, walaupun sebuah perusahaan mungkin
mengeluarkan biaya penelitian dan pengembangan yang substansial untuk menciptakan
aktiva tak berwujud, namun biaya ini dibebankan. Akan tetapi, biaya ini tidak tepat jika
dibebankan, dan juga sulit untuk menghubungkan biaya ini dengan aktiva tak berwujud
tertentu. Namun, pendapat lain menyebutkan bahwa karena subjektivitas yang mendasari
berhubungan dengan aktiva tak berwujud, maka pendekatan konservatif harus digunakan
yaitu dibebankan ketika terjadi. Akibatnya, hanya biaya internal yang dikapitalisasi yang
merupakan biaya langsung yang dikeluarkan dalam memperoleh aktiva tak berwujud
seperti biaya hukum.
III. Amortisasi
f. Aktiva Tak Berwujud yang Mempunyai Umur Manfaat Terbatas
Alokasi biaya aktiva tak berwujud dengan cara yang sistematis disebut amortisasi.
amortisasi dilakukan pada aktiva tak berwujud yang mempunyai umur manfaat terbatas
dengan pembebanan sistematis selama umur manfaatnya. Umur manfaat ini harus
mencerminkan periode-periode di mana aktiva-aktiva ini berkontribusi pada arus kas.
Faktor-faktor yang dipertimbangkan untuk menentukan umur manfaat:
1. Perkiraan penggunaan suatu aktiva oleh perusahaan

2. Perkiraan umur manfaat aktiva yang lain yang terkait dengan umur manfaat
aktiva tak berwujud tersebut.

3. Persyaratan hukum, undang-undang atau kontrak yang aka membatasi umur


manfaat.

4. Persyaratan hukum, undang-undang atau kontrak yang dapat memperbarui atau


memperpanjang umur hukum atau umur kontrak aktiva tersebut tanpa biaya
besar.

5. Dampak dari keusangan, permintaan, persaingan, dan faktor-faktor ekonomi


yang lain.

6. Tingkat beban pemeliharaan yang diperlukan untuk mendapatkan arus kas yang
diharapkan dari aktiva tersebut.

Jumlah aktiva tak berwujud yang akan diamortisasikan adalah biayanya dikurangi nilai
sisa. Nilai sisanya diasumsikan berjumlah nol kecuali pada akhir umur manfaatnya, aktiva
tak berwujud itu mempunyai nilai pada perusahaan lain. Jika terdapat perubahan dalam
umur manfaatnya, jumlah yang tersisa harus diamortisasikan sepanjang sisa umur
manfaat yang diperbarui.
g. Aktiva Tak Berwujud yang Mempunyai Umur Manfaat Tak Terbatas
Tak terbatas berarti bahwa tidak ada batas yang dapat diperkirakan dalam periode waktu
dimana aktiva tersebut dapat memberikan arus kas. Aktiva dengan umur manfaat yang
tak terbatas tidak diamortisasi. Pengujian penurunan untuk aktiva tak berwujud dengan
umur tak terbatas berbeda dengan yang dipakai untuk aktiva berwujud dengan umur
terbatas, dalam hal bahwa hanya pengujian nilai wajar saja yang dilakukan. Tidak ada
pengujian pemulihan yang terkait dengan aktiva tak berwujud dengan umur tak terbatas
karena aktiva tak berwujud dengan umur tak terbatas tidak akan pernah gagal dalam
pengujian pemulihan arus kas tak berdiskonto karena arus kas dapat diperpanjang ke
masa depan secara tidak terbatas.
Ilustrasi 19. Perlakuan Akuntansi untuk Aktiva Tak Berwujud

Tindakan yang dilakukan


Jenis Aktiva
Dibuat secara Pengujian
Tak Dibeli Amortisasi
Internal Penurunan
Berwujud

Aktiva tak Dikapitalisasi Dibebankan* Di Pengujian


berwujud sepanjang pemulihan &
dengan umur umur kemudian
terbatas manfaat pengujian nilai
wajar

Aktiva tak Dikapitalisasi Dibebankan* Jangan Pengujian nilai


berwujud diamortisasi wajar
dengan umur
tak terbatas

*Kecuali untuk biaya langsung seperti biaya hukum.

B. JENIS-JENIS AKTIVA TAK BERWUJUD


I. Aktiva Tak Berwujud yang terkait dengan Pemasaran
Aktiva tak berwujud yang terkait dengan pemasaran terutama digunakan di dalam pemasaran
atau promosi produk atau jas misalnya merek dagang. Hak untuk menggunakan merek
dagang, baik terdaftar maupun tidak, secara eksklusif berada pada pengguna awal selama
mereka terus menggunakannya. Jika suatu perusahaan memperoleh merek dagang atau nama
dagang, maka biaya yang dapat dikapitalisasi adalah harga beli. Jika suatu merek dagang
dikembangkan oleh perusahaan itu sendiri, maka biaya yang dapat dikapitalisasi termasuk
biaya pengacara, biaya pendaftaran, biaya perancangan, biaya konsultasi, biaya perkara
hukum yang berhasil, dan pengeluaran lain yang berhubungan untuk mengamankannya
(kecuali biaya penelitian dan pengembangan). Jika total biaya merek dagang tdak signifikan,
maka biaya itu dapat dibebankan. Nilai suatu aktiva tak berwujud yang berhubungan dengan
pemasaran dapat menjadi sangat substansial. Nama perusahaan itu sendri mengidentifikasikan
kualitas dan karakteristik bahwa perusahaan telah bekerja keras dan menghabiskan banyak
waktu untuk mengembangkannya.
II. Aktiva Tak Berwujud yang terkait dengan Pelanggan
Aktiva tak berwujud yang terkait dengan pelanggan dihasilkan dari interaksi dengan pihak
luar misalnya daftar pelanggan, catatan pesanan/produksi. Sebagai ilustrasi, asumsikan
bahwa Ours memperoleh daftar pelanggan sebuah surat kabar besar seharga $6.000.000 pada
1 Januari 2007. Database pelanggan ini meliputi nama, informasi kontak, sejarah pemesanan,
dan informasi demografis. Ours berharap untuk mendapatkan manfaat secara merata selama
periode tiga tahun dari informasi tersebut. Dalam hal ini, daftar pelanggan adalah aktiva tak
berwujud dengan umur manfaat yang terbatas, sehingga Ours harus mengamortisasinya
menurut metode garis lurus selama periode tiga tahun. Ours mencatat pembelian daftar
pelanggan dan amortisasi daftar pelanggan itu pada setiap akhir tahun sebagai berikut:
1 Januari 2007
Daftar Pelanggan
6.000.000 -
Kas
- 6.000.000
(untuk mencatat pembelian daftar pelanggan)
31 Desember 2007, 2008, 2009
Beban Amortisasi Daftar Pelanggan 2.000.000 -
Daftar Pelanggan (akum. Amortisasi daftar pelanggan) - 2.000.000
(untuk mencatat beban amortisasi)

Ilustrasi tersebut mengasumsikan bahwa tidak terdapat nilai sisa dari daftar pelanggan itu.
Namun jika Ours memutuskan untuk menjual daftar itu ke perusahaan lain seharga $60.000
pada akhir tahun ketiga, Ours harus mengurangkan nilai sisa ini dari biaya untuk menentukan
beban amortisasi yang tepat untuk setiap tahun. Dalam hal ini, perusahaan harus
mengasumsikan nilai sisa sebesar nol kecuali jika umur manfaat aktiva tersebut lebih pendek
daripada umur ekonomis dan tersedia bukti yang jelas mengenai nilai sisa itu.
Biaya $6.000.000
Nilai Sisa 60.000
Dasar Amortisasi $5.940.000

Beban amortisasi per periode: $1.980.000 ($5.940.000/3 th)

III. Aktiva Tak Berwujud yang terkait dengan Seni


Aktiva tak berwujud yang terkait dengan seni termasuk hak kepemilikan dan hak cipta
melindungi hak kepemilikan ini. Suatu hak cipta merupakan hak yang diberikan pemerintah
kepada suatu pihak atas kreasi dan ekspresi mereka. Hak cipta diberikan selama umur
penciptanya ditambah 70 tahun dan diberikan kepada pemilik atau pewarisnya, hak eksklusif
untuk memproduksi ulang dan menjual suatu pekerjaan artistik atau yang dipublikasikan. Hak
cipta tidak dapat diperbarui. Biaya untuk memperoleh dan mempertahankan suatu hak cipta
dapat dikapitalisasi, tetapi biaya penelitian dan pengembangan yang terlibat harus dibebankan
pada saat terjadinya.
Secara umum, masa manfaat hak cipta lebih pendek dari umur hukumnya. Oleh karena itu,
suatu perusahaan seharusnya mengalokasikan biaya hak cipta ke tahun-tahun dimana manfaat
diharapkan akan diterima. Kemudian dalam menentukan jumlah tahun yang akan menerima
manfaat biasanya mendorong perusahaan untuk menghapus biaya ini selama periode waktu
yang cukup pendek.
IV. Aktiva Tak Berwujud yang terkait dengan Kontrak
Aktiva tak berwujud yang terkait dengan kontrak merupakan nilai dari hak yang muncul dari
perjanjian kontrak, misalnya perjanjian lisensi, ijin bangunan, hak siaran, dan kontrak jasa
atau pasokan. Bentuk umum dari aktiva tak berwujud ini adalah waralaba (franchise).
Waralaba adalah perjanjian kontraktual dimana pemilik waralaba (franchisor) memberikan
hak kepada pemegang waralaba (franchisee) untuk menjual produk atau jasa tertentu, untuk
menggunakan merek dagang atau nama dagang tertentu atau melakukan fungsi-fungsi
tertentu, biasanya di daerah geografis yang telah ditentukan.
Franchisor yang telah mengembangkan suatu konsep atau produk yang unik melindungi
konsep atau produknya dengan paten, hak cipta, merek dagang atau nama dagang. Franchisee
memperoleh hak untuk memanfaatkan ide-ide atau produk franchisor dengan menandatangani
perjanjian waralaba. Jenis waralaba lainnya adalah perjanjian yang biasa dilakukan oleh
pemerintah kota dan penggunaan properti publik oleh suatu perusahaan bisnis, misalnya
penggunaan jalan air minum untuk jasa kapal feri, penggunaan tanah publik untuk kabel
telepon atau listrik, dll. Hak pengoperasian seperti itu diperoleh melalui perjanjian dengan
unit atau lembaga pemerintah yang sering kali disebut sebagai lisensi atau ijin. Biaya
waralaba atau lisensi dengan umur yang terbatas harus diamortisasi sebagai beban operasi
selama umur waralaba, sedangkan untuk lisensi dengan umur tak terbatas seharusnya tidak
diamortisasi dan langsung dicatat pada biaya.
V. Aktiva Tak Berwujud yang terkait dengan Teknologi
Aktiva tak berwujud yang terkait dengan teknologi berhubungan dengan inovasi atau
kemajuan teknologi, misalnya teknologi yang dipatenkan dan rahasia dagang yang diberikan.
Paten memberikan kepada pemegangnya hak eksklusif untuk menggunakan, membuat, dan
menjual suatu produk atau proses selama periode 20 tahun tanpa campur tangan atau
pelanggaran dari pihak lain. Perubahan permintaan, penemuan baru yang menggantikan
penemuan lama, ketidaklayakan, dan faktor-faktor lain sering kali membatasi masa manfaat
paten yang lebih pendek daripada umur hukumnya. Perusahaan dapat mengkredit amortisasi
paten secara langsung ke akun Paten atau ke akun Akumulasi Amortisasi Paten.
Untuk mengilustrasikannya, asumsikan bahwa Ours mengeluarkan biaya hukum sebesar
$180.000 pada tanggal 1 Januari 2007, untuk mempertahankan paten. Paten itu memiliki masa
manfaat 20 tahun, dan diamortisasi atas dasar garis-lurus. Ours mencatat biaya hukum dan
amortisasi pada akhir tahun 2007 sebagai berikut:
1 Januari 2007
Paten
180.000 -
Kas
- 180.000
(untuk mencatat biaya hukum)
31 Desember 2007
Beban Amortisasi Paten 9.000 -
Paten (akumulasi amortisasi paten) - 9.000
(untuk mencatat beban amortisasi)
DAFTAR PUSTAKA
Baridwan, Zaki. 2004. Intermediate Accounting. Edisi Kedelapan. BPFE-Yogyakarta.
Ikatan Akuntan Indonesia. 2008. Standar Akuntansi Keuangan. Salemba Empat. Jakarta.
Kieso, E Donald. Weygandt, J Terry dan Warfield, D Terry. 2002. Akuntansi Intermediate.
Edisi kesepuluh. Jilid 1. Erlangga, Jakarta.
Kieso, E Donald. Weygandt, J Terry dan Warfield, D Terry. 2007. Akuntansi Intermediate.
Edisi keduabelas. Jilid 2. Erlangga, Jakarta.