Anda di halaman 1dari 9

PEMBELAJARAN EMOSIONAL DAN KAITANNYA DENGAN KEPRIBADIAN

Nindya Ayu Pristanti, S.Pd., M. Pd.

CRITICAL BOOK REPORT

Oleh :

Safira Try Puspita

4191141001

Reguler A

Mata Kuliah : Perkembangan Peserta Didik

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2019
Judul buku : Orientasi Baru Dalam Psikologi Pembelajaran

Nama Pengarang : Dr. Hamzah B. Uno, M.Pd.

Penerbit/Thn Terbit/Jlh hlm : Bumi Aksara/2012/244

ISBN : 979-526-242-4

Nama Mahasiswa : Safira Try Puspita

NIM/Prodi : 4191141001/Pendidikan Biologi


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Adapun latar belakang penulis dalam mengkritik buku Orientasi Baru Dalam Psikologi
Pembelajaran ini, ialah untuk memenuhi tugas kuliah perkembangan peserta didik, dan juga
sebagian acuan untuk menambah wawasan tentang bagaimana mengulas atau mengkritik
sebuah buku dengan benar dan tepat.

B. Tujuan
Tujuan pengkritikan buku ini adalah untuk mengetahuin dimana kelebihan dan
kekurangan dari buku ini demi perbaikan dimasa yang akan datang. Tujuan lain yaitu
memberikan kepada penulis berupa kritik dan saran terhadap isi, substansi, dan penulisan
buku, serta menguji kualitas buku ini.

C. Manfaat
Pengkritikan buku ini secara tidak langsung melatih mahasiswa untuk menanggapi
masalah yang terjadi disuatu bidang dengan tanggap,memahami perkembangan masa
remaja, memahami perubahan yang dialami pada masa remaja, dan bermanfaat untuk
membangun jiwa yang kritis bagi penulis dan pembaca serta untuk menjadikan buku ini
semakin baik dan semakin mudah untuk di pelajarin dan di pahami oleh semua orang.
BAB II

RINGKASAN ISI BUKU

A. PEMBELAJARAN EMOSIONAL

Dalam pembelajaran yang menggunakan pendekatan emosional, perhatian akan


perkembangan intelektual anak dianggap penting, hal ini sejalan dengan pandangan
Semiawan bahwa “stimulasi intelektual sangat dipengaruhi oleh keterlibatan emosional,
bahkan emosi juga amat menentukan perkembangan intelektualan anak secara bertahap”
artinya secara timbal balik faktor kognitif juga terlibat dalam perkembangan emosional.
Dengan demikian, antara IQ dengan EQ tidak dapat dipisahkan perannya satu sama lain.
Keberadaan IQ sangat menunjang berfungsinya EQ, demikian pula selanjutnya. Kaphin &
Sadock (1992), mengemukakan bahwa emosi sebagai keadaan perasaan yang kompleks
yang mengandung komponen kejiwaan, badan dan perilaku,yang berkaitan dengan afek
(affect) dan suasana perasaan/suasana hati (mood). Goleman (1995), mendefinisikan emosi
adalah perasaan dan pikiran khas; suatu keadaan biologis dan psikologis; suatu rentang
kecenderungan-kecenderungan untuk bertindak. Silvermen (1986), menyatakan bahwa
emosi adalah perilaku yang terutama dipengaruhi oleh tanggapan mendalam yang
terkondisikan. Berdasarkan pandangan beberapa para ahli di atas, bahwa emosi sebagai
suatu keadaan efektif yang disadari dimana dialami perasaan seperti kegembiraan (joy),
sedih, takut, benci, dan cinta (dibedakan dari keadaan kognitif keinginan yang disadari). Dan
umumnya mengandung komponen fisiologikal dan kognitif.

Pada saat terjadi emosi, menurut Patton (1997) akan terjadi aktivitas dalam diri yang
meluas dan dapat mempengaruhi keseluruhan proses dan perilaku yang diamati. Perilaku
emosional tersebut ditentukan oleh adanya pengaruh kompleksnya masalah yang dihadapi
dan keturunan (heredity) serta pengkondisian (conditioning). Goleman (1996) mnemukan
bahwa akal (mind) manusia pada hakikatnya dapat dibagi menjadi dua jenis kehidupan
mental, yaitu terutama ditandai oleh aspek rasio, yang bersumber dari kepala (head) dan
diukur oleh IQ, dan emosi yang bersumber dari hati (heart). Lowrence mengemukakan
bahwa emosi dibentuk oleh adanya korteks, talamus, amigdala, dan hippocampus yang
memiliki fungsi masing-masing.

Dalam psikoanalatik, Sigmund Freud mengemukakan bagian-bagian kepribadian yang


muncul dalam emosi yaitu rasa cinta, marah, terharu, heran dan lain sebagainya. Sedangkan
Atkinson dkk. (1995) mengemukakan beberapa tipe emosi yang muncul dari sistem limbik
itu antara lain :

1. Emosi yang digolongkan ke dalam senang dan tidak senang memiliki rentang (span)
yang panjang dalam intensitas
2. Senang (joy)
3. Sedih (sorrow)
4. Marah (anger)
5. Takut (fear)
6. Tanggapan mengejutkan (startle response)
7. Cinta (love)
8. Benci (hate)
9. Mood
10. Tempramen

Perkembangan emosi, menurut Lawrence dipengaruhi oleh dua faktor, yakni :


1. Keturunan (heredity)
2. Kematangan (maturation)
3. Kesukacitaan (excitement)
4. Stimulus dari luar

B. PENGARUH PERKEMBANGAN MORAL TERHADAP PEMBELAJARAN


EMOSIONAL

Perkembangan emosional pada anak, juga akan berjalan dengan perkembangan


moral. Perkembangan moral menurut Durkheim (dalam Djuretna, 1994) berkembang karena
hidup dalam masyarakat, dan moral pun dapat berubah karena kondisi sosial. Menurut
Hurlock perilaku moral dapat dipilah dalam tiga bagian, yakni (a) perilaku moral yang
sesuai dengan kelompok sosial, (b) perilaku tak moral merupakan perilaku yang tidak sesuai
dengan harapan sosial, (c) perilaku amoral adalah perilaku yang disebabkan ketidak acuhan
terhadap harapan kelompok soaial daripada pelenggaran sengaja terhadap standar
kelompoknya. Tiga aspek kepribadian manusia diklasifikasi Freud, yakni Das Es, Das Ich,
dan Ueber Ich.
Menurut Driyarkarya (1996), pengaruh krisis moral adalah kesadaran tentang diri kita
sendiri, di mana kita melihat diri kita sendiri sedang berhadapan dengan sesuatu yang baik
dan sesuatu yang buruk.
Moral merupakan suatu norma yang sifatnya kesadaran atau keinsyafan terhadap
suatu kewajiban melakukan sesuatu yang dinilai masyarakat melanggar norma-norma moral.
Nilai-nilai intelektualitas merupakan sumber pertimbangan terhadap sesuatu yang benar dan
yang salah, sedangkan nilai-nilai moral merupakan sumber pertimbangan suaru hati tentang
kebaikan dan keburukan.

C. PENGARUH PERKEMBANGAN SOSIAL TERHADAP PEMBELAJARAN


EMOSIONAL

Disamping perkembangan moral, emosional pada anak juga dipengaruhi oleh


perkembangan sosialnya. Menurut Hurlock (1978) bahwa keberadaan anak dalam kehidupan
soaial dapat dilihat dari dua hal (1) anak yang memiliki sifat introvert adalah anak yang
banyak memikirkan tentang dirinya, dan (2) anak yang bersifat ekstrovert yang selalu
mengarahkan perhatiannya di luar dirinya. Dari kedua sifat ini, sifat pertama bersifat
individualisti, dan sifat kedua cenderung bersifat sosial. Manusiafat yang yang memiliki
sifat individualistik sering berusaha untuk mengejar posisi dirinya menjadi terpenuhi segala
keperluannya.Untuk terpenuhinya keinginan tersebut berbagai cara dilakukan manusia, dan
biasanya jika upaya mengejar keperluan tersebut tidak dapat dikejar dengan baik, maka
berbagai cara akan ditempuhnya tanpa memikirkan aspek hukum dan kepentingan orang
lain. Hal ini merupakan sifat kecenderungan mereka yang memiliki sifat introvert. Dengan
demikian, sifat introvert seperti ini berpotensi untuk melakukan hal-hal yang meresahkan
masyarakat berupa kenakalan remaja bagi anak muda, pencurian, pemerkosaan,
perampokan, dan lainnya yang berbasis kriminal bagi orang dewasa.
Tinggi-rendahnya angka kejahatan mempunyai hubungan erat dengan bentuk dari
organisasi sosial; artinya kuantitas kejahatan di dalam masyarakat mempunyai hubungan
erat dengan kondisi yang bertentangan dengan kebudayaan, yang terdiri atas proses beberapa
aspek kehidupan manusia di dalam masyarakat, yaitu antara lain (a) mobilitas sosial, (b)
persaingan dan pertentangan kebudayaan, (c) ideologi politik, (d) ekonomi, (e) kuantitas
penduduk, (f) agama, dan (g) pendapat dan pekerjaan. Semua faktor yang disebutkan ini
merupakan faktor eksternal. Faktor intern dibagi menjadi dua bagian, yakni faktor intern
yang bersifat khusus dan faktor intern yang bersifat umum.
Sifat khusus ini adalah keadaan psikologis diri individu. Ada beberapa sifat khusus yang
dapat menimbulkan kejahatan, antara lain sebagai berikut.
a. Sakit jiwa
b. Perkembangan emosional
c. Perkembangan mental
d. Anomi
BAB III

PEMBAHASAN

A. Kelebihan
1. Memaparkan secara jelas dan mudah dimengerti
2. Melampirkan pendapat-pendapat para ahli
3. Memberikan solusi perkembangan anak
4. Terdapat daftar isi sehingga mempermudsh pembaca mencari materi
5. Kajian dalam buku ini berpijak pada definisi pembelajaran

B. Kekurangan
1. Dari aspek isi ada beberapa kalimat yang membuat pembaca bingung, karena
kata-kata tersebut sedikit asing dan tidak ada penjelasan dari kata-kata itu.
2. Pengunaan font ada beberapa kata yang masih salah
3. Menurut saya cover buku kurang menarik
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan
Penjelasan proses emosi yang secara umum dan ringkas tersebut dapat dipetik sebuah
implikasi bahwa dengan diketahuinnya emosi dan sebab-sebabnya, maka akan dapat
diambil manfaat atau kegunaan, baik untuk keperluan penelitian dan pengembangan ilmu
maupun keperluan praktis.

B. Saran
Saya sadar, bahwa laporan yang saya buat ini belum sempurna oleh karena itu saya
mengharapkan saran dan kritikan oleh pembaca terutama dosen pengampu demi
kelengkapan isi laporan yang saya buat ini. Dan mungkin didalam kritikan didalam
kritikan saya tersebut ada salah kata, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada
seluruhnya.