Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Obat tradisional sudah dikenal dan digunakan di seluruh dunia sejak beribu
tahun yang lalu. Obat tradisional dan tanaman obat banyak digunakan
masyarakat menengah ke bawah terutama dalam upaya preventif, promotif, dan
rehabilitatif. Penggunaan obat tradisional sebagai jamu telah meluas sejak
zaman nenek moyang dan hingga kini terus dilestarikan sebagai warisan
budaya (Duryatmo, 2005).

Indonesia memiliki kekayaan alam yang cukup melimpah. Beraneka ragam


tanaman obat tumbuh subur di alam Indonesia. Kekayaan alam ini bermanfaat
besar bagi kesehatan penduduknya, bahkan bagi penduduk dunia. Beberapa
penelitian membuktikan kepada dunia bahwa Indonesia sangat berpotensi sebagai
tempat tumbuh dan berkembangnya bahan obat untuk masyarakat dunia (Fahey,
2005).

Kemampuan masyarakat terbatas untuk memperoleh obat-obat modern,


sehingga menjadikan obat tradisional mempunyai makna yang sangat penting bagi
masyarkat karena lebih mudah diperoleh tanpa menggunakan resep dokter
(Pudjarwoto et al., 1992).

Salah satu tumbuhan yang dapat dimanfaatkan baik sebagai bahan makanan
maupun obat-obatan ialah tanaman kelor (Moringa oleifera L.). Kelor termasuk ke
dalam familia Moringaceae dan memiliki banyak sebutan, seperti kelor, kerol,
marangghi, moltong, kelo, keloro, kawano, dan ongge. Tanaman kelor tumbuh di
dataran rendah maupun dataran tinggi. Tanaman ini memiliki ketinggian batang 7-
11 meter. Daun kelor berbentuk bulat telur dengan ukuran kecil-kecil bersusun
majemuk dalam satu tangkai, dapat dibuat sayur atau obat. Bunganya berwarna
putih kekuning-kuningan dan tudung pelepah bunganya berwarna hijau, bunga ini
keluar sepanjang tahun. Kelor diketahui mengandung lebih dari 90 jenis nutrisi
berupa vitamin esensial, mineral, asam amino, antipenuaan dan antiinflamasi.
Kelor mangandung 539 senyawa yang dikenal dalam pengobatan tradisional Afrika
dan India serta telah digunakan dalam pengobatan tradisional untuk mencegah
lebih dari 300 penyakit. Berbagai bagian dari tanaman kelor bertindak sebagai

1
stimulan jantung dan peredaran darah, memiliki antitumor, antipiretik, antiepilepsi,
antiinflamasi, antiulser, diuretik, antihipertensi, menurunkan kolesterol,
antioksidan, antidiabetik, antibakteri dan anti-jamur (Toripah et al., 2014).
Seluruh bagian dari tanaman kelor telah dimanfaatkan sebagai bahan pangan
maupun obat-obatan. Bagian tanaman ini yang sering digunakan sebagai obat
adalah biji, daun, dan kulit kayu, dan berkhasiat sebagai anti diabetes dan
antioksidan (Jaiswal et al., 2009; Pari et al., 2007). Jus dari akar tanaman kelor
dapat digunakan untuk pengobatan iritasi eksternal. Suspensi dari biji kering
diketahui sebagai koagulan. Beberapa manfaat lain dari tanaman kelor (Moringa
oleifera L.) diantaranya kulit dari pohon kelor sebagai obat radang usus besar, daun
kelor sebagai anti anemia (Oduro et al., 2008), daun dan batang kelor dapat
digunakan sebagai penurun tekanan darah tinggi dan obat diabetes (Giridhari et al.,
2011).

Agar penggunaannya optimal, perlu diketahui informasi yang memadai


tentang golongan senyawa kimia yang terkandung dalam tanaman obat tersebut.
Bagian dari tumbuhan ini yang sering digunakan sebagai obat yaitu biji dan
daunnya. Data mengenai kandungan senyawa aktif pada daun kelor masih sangat
jarang, beberapa literatur menyebutkan pada daun kelor terdapat kandungan
flavonoid, saponin, alkaloid, tanin, dan fenol (Pandey et al., 2012).

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana Monografi Kelor ?


2. Metoda apa yang digunakan dalam Ekstraksi daun Kelor?
3. Bagaimana Skrining Fitokimia suatu Ekstrak?
4. Apa yang dimaksud Fraksinasi dan bagaimana cara melakukannya?
5. Apa yang dimaksud dengan Kromatografi Lapis Tipis?
6. Apa yang dimaksud dengan Kromatografi Kolom ?

1.3 Tujuan Laporan

1. Untuk mengetahui prinsip-prinsip ekstraksi dan sekaligus untuk


mengekstrak kandungan senyawa kimia yang terdapat dalam sampel
tumbuhan.
2. Mengetahui prinsip-prinsip pemisahan dengan pemurunan tekanan dan
sekaligus untuk mengentalkan ekstrak cair sampel hasil proses ekstraksi.

2
3. Memahami prinsip-prinsip dalam pelaksanaan proses fraksinasi ekstrak
kental yang bertujuan untuk menyederhanakan komponen-komponen
senyawa kimia yang terdapat dalam ekstrak berdasarkan tingkat kepolaran
pelarut.
4. Mampu mempelajari dan memahami metode pemisahan dengan metode
kromatografi lapis tipis dan juga mampu menentukan nilai Rf pada
masing-masing sampel yang dipisahkan.
5. Mempersiapkan kolom, memisahkan dan mengidentifikasi senyawa kimia
dari fraksi yang memberikan pola KLT yang bagus pada percobaan
sebelumnya dengan kromatografi kolom.
6. Mampu memahami dan mendeteksi hasil pemisahan dari teknik
kromatografi kolom yang didsarkan pada perbedaan kepolaran pelarut.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
3
2.1 Tanaman Kelor

2.1.1 Klasifikasi Tanaman Kelor (Moringa oleifera L)


Menurut Tilong(2012) dalam Hazani (2014) klasifikasi dari tanaman kelor
(Moringa oleifera L) adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliopsida
Kelas : Magnoliopsida
Bangsa : Brassicales
Suku : Moringaceae
Marga : Moringa
Jenis : Moringa oleifera, L

2.1.2 Sinonim
Moringa oleifera Lam (latin), Subhanjana (Sanskrit), Saguna, Sainja
(Hindi), Suragavo (Gujarati), Morigkai (Tamil), Mulaga, Munaga (Telugu),
Murinna, Sigru (Malayalam), Soanjna (Punjabi), Sahaja (Unani). Moringa
oleifera L di Indonesia dikenal dengan berbagai nama. Masyarakat Sulawesi
menyebutnya kero, wori, kelo atau keloro. Orang Madura menyebutnya
4
maronggih. Di Sunda dan Melayu disebut kelor. Di Aceh disebut murong. Di
Ternate dikenal sebagai kelo. Di Sumbawa disebut kawona. Sedangkan
orang-orang Minang mengenalnya dengan namamunggai (Hardiyanthi,
2015).

2.1.3 Deskripsi Tanaman Kelor


Moringa oleifera Lamk atau biasa dikenal dengan sebutan daun kelor
merupakan tanaman perdu dengan tinggi batang 7-11 meter. Batang berkayu
getas (mudah patah), cabang jarang, tetapi mempunyai akar yang kuat. Bunga
berbau semerbak, berwarna putih kekuningan, dan tudung pelepah bunganya
berwarna hijau, sedangkan, buahnya berbentuk segitiga (Widowati, 2014).

Tanaman kelor (Moringa oleifera) merupakan salah satu jenis tanaman


tropis yang mudah tumbuh di daerah tropis seperti Indonesia. Kelor dapat
tumbuh pada daerah tropis dan subtropis pada semua jenis tanah dan tahan
terhadap musim kering dengan toleransi terhadap kekeringan sampai 6 bulan
(Thomas, 2007).

Daun Moringa oleifera L mempunyai 8-10 pasang anak daun dengan arah
yang berlawanan terhadap sumbu utama. Anak daun memiliki warna hijau dan
berbentuk elips (tumpul pada apex dan runcing pada pangkal). Bunga kelor
merupakan bunga biseksual (memiliki benang sari dan putik), berwarna putih
dan terletak pada ketiak daun dengan panjang 10-25 cm dan lebar 4 cm. Bunga
kelor berwarna cokelat ketika matang dan memiliki tiga lobus dengan panjang
20-60 cm setiap buah berisi 12-35 biji (Rahman, 2015).

Moringa oleifera L di Indonesia dikenal dengan berbagai nama.


Masyarakat Sulawesi menyebutnya kero, wori, kelo atau keloro. Orang Madura
menyebutnya maronggih. Di Sunda dan Melayu disebut kelor. Di Aceh disebut
murong. Di Ternate dikenal sebagai kelo. Di Sumbawa disebut kawona.
Sedangkan orang-orang Minang mengenalnya dengan namamunggai
(Hardiyanthi, 2015).

5
Menurut Simbolan (2007) dalam Hardiyanthi (2015)budidaya Moringa
oleifera L di dunia Internasional merupakan program yang sedang digalakan.
Terdapat beberapa julukan untuk pohon kelor, diantaranya The Miracle Tree,
Tree for Life, dan Amazing Tree. Julukan tersebut muncul karena bagian pohon
kelor mulai dari daun, buah, biji, bunga, kulit batang, hingga akar memiliki
mafaat yang luar biasa. Tanaman kelor tidak memerlukan perawatan yang
intensif, tahan terhadap musim kemarau dan mudah dikembangbiakkan.

2.1.4 Kandungan dan Khasiat Daun Moringa oleifera L (Kelor)


Kelor dikenal diseluruh dunia sebagai tanaman bergizi dan World Health
Organization (WHO) telah memperkenalkan kelor sebagai salah satu pangan
alternatif untuk mengatasi masalah gizi (malnutrisi). Di Afrika dan Asia daun
kelor direkomendasikan sebagai suplemen yang kaya zat gizi untuk ibu
menyusui dan anak pada masa pertumbuhan (Masdiana et al., 2015).

Berbagai bagian dari tanaman kelor seperti daun, akar, biji, kulit kayu,
buah dan bunga bertindak sebagai stimulan jantung dan peredaran darah,
memiliki anti tumor, anti hipertensi, menurunkan kolesterol, antioksidan, anti
diabetik, anti bakteri dan anti jamur (Krisnadi, 2015).

Daun kelor merupakan salah satu bagian dari tanaman kelor yang telah
banyak diteliti kandungan gizi dan kegunaannya. Daun kelor sangat kaya akan
nutrisi, diantaranya kalsium, zat besi, fosfor, kalium, zinc, protein, vitamin A,
vitamin B, vitamin C, vitamin D, vitamin E, vitamin K, asam folat dan biotin
(Syarifah et al., 2015).

Zat-zat yang terkandung dalam daun Moringa oleifera L sangat berguna


bagi tubuh manusia. Menurut hasil penelitian, daun kelor ternyata mengandung
vitamin A, vitamin C, vitamin B, kalsium, kalium, besi dan protein dalam
jumlah sangat tinggi yang mudah dicerna dan diasimilasi oleh tubuh manusia
(Radiyanthi, 2015). Daun Moringa oleifera L memiliki kandungan kalsium
yang lebih banyak daripada susu, lebih banyak zat besi daripada bayam, lebih
banyak protein daripada telur dan lebih banyak kalium daripada pisang. Zat lain
yang sudah diidentifikasi dalam daun kelor antara lain: senyawa polifenol
6
(asam galat, asam klorogenat, asam elegat, asam ferulat, kuersetin, kaempferol,
proantosianidin dan vanilin), vitamin E, β-karoten, zink dan selenium (Rahman,
2015).

Daun kelor juga mengandung berbagai macam asam amino, antara lain
asam amino yang berbentuk asam aspartat, asam glutamat, alanin, valin, leusin,
isoleusin, histidin, lisin, arginin, venilalanin, triftopan, sistein dan metionin
(Syarifah et al., 2015).
Tabel 1. Kandungan nilai gizi daun kelor (Krisnadi, 2015)
Komponen gizi Daun segar Daun kering
Kadar air (%) 75,0 7,50
Protein (gram) 6,7 27,1
Lemak (gram) 1,7 2,3
Karbohidrat (gram) 13,4 38,2
Serat (gram) 0,9 19,2
Kalsium (mg) 440,0 2003,0
Magnesium (mg) 24,0 368,0
Fosfor (mg) 70,0 204,0
Vitamin A (mg) 6,80 16,3
Vitamin B (mg) 0,21 2,6
Vitamin C (mg) 220,00 17,3

Daun Moringa oleifera L mengandung sejumlah asama amino. Asam


amino yang terkandung diduga mampu meningkatkan sistem imun. Asam
amino dalam tubuh akan mengalami biosintesa protein, dari 20 macam asam
amino yang ada yakni 19 asam amino α-L-amino dan satu asam L-iminodapat
disintesa menjadi 50.000 lebih protein yang bersamadengan enzim berperan
dalam mengontrol aktivitas kimia antibodi untuk mencegah berbagai macam
penyakit (Hardiyanthi, 2015). Daun Moringa oleifera L juga mengandung
flavonoid yang berfungsi sebagai antioksidan yang mampu menjaga terjadinya
oksidasi sel tubuh. Selain itu, kandungan minyak atsiri dan flavonoid yang
terdapat pada daun dapat mencegah peroksidasi lemak (Widowati, 2014).

Daun kelor mengandung fenol dalam jumlah yang banyak yang dikenal
sebagai penangkal senyawa radikal bebas. Kandungan fenol dalam daun kelor
segar sebesar 3,4% sedangkan pada daun kelor yang telah diekstrak sebesar
1,6% (Syarifah et al., 2015).

7
Penelitian lain menyatakan bahwa daun kelor mengandung vitamin A, 10
kali lebih banyak dibanding wortel, vitamin B 50 kali lebih banyak dibanding
sardines dan kacang, vitamin E 4 kali lebih banyak dibanding minyak jagung,
beta karoten 4 kali lebih banyak dibanding wortel, zat besi 25 kali lebih banyak
dibanding bayam, zinc 6 kali lebih banyak dibanding almond, kalium 15 kali
lebih banyak dibanding pisang, kalsium 17 kali lebih banyak dibanding susu,
dan protein 9 kali lebih banyak dibanding yoghurt. (Krisnadi, 2015).

Struktur Vitamin C

Struktur kimia β-karoten

Kelor kaya akan senyawa yang mengandung gula sederhana, rhamnosa dan
suatu group senyawa yang unik disebut glukosinolat dan isotiosianat (Toma &
Deyno, 2014). Daun kelor mengandung polifenol, gula sederhana, tannin,
vitamin, rhamnose, karotenoid, phytates, asam fenolik, flavonoid,alkaloid,
saponinoksalat dan triterpenoid (Konmy et al, 2016). Asam amino seperti Arg,
His, Lys, Trp, Phe, Thr, Leu, Met, Ile, Val juga ditemukan pada daun kelor
(Gopalakrishan et al, 2016). Kandungan fitokimia seperti vanilin, karotenin,
askorbat, tokoferol, beta-sitosterol, moringin, kaemferol, dan quarcetin
dilaporkan terdapat dalam daun, akar, buang, buah dan biji kelor (Dafaala et al,
2015).

2.2 Simpilisia dan Ekstrak


2.2.1 Simplisia

Dalam buku “Materia Medika Indonesia” ditetapkan bahwa definisi dari


simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang belum
8
mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali dikatakan lain, berupa bahan
yang telah dikeringkan. Golongan simplisia ada tiga, meliputi simplisia hewani,
simplisia nabati dan simplisia pelikan (mineral) (Depkes RI, 2000). Simplisia
nabati menurut Depkes RI (2000) adalah simplisia yang dapat berupa tanaman
utuh, bagian tanaman, eksudat tanaman atau gabungan antara ketiganya.

2.2.2 Ekstrak

Dalam buku FI IV, disebutkan bahwa ekstrak adalah sediaan kental yang
diperoleh dengan mengekstraksi senyawa aktif dari simplisia nabati atau
simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau
hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa
diperlakukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah ditetapkan
(Depkes RI, 2000). Ekstrak cair adalah sediaan dari simplisia nabati yang
mengandung etanol sebagai pelarut atau sebagai pengawet. Jika tidak
dinyatakan lain pada masing-masing monografi tiap ml ekstrak mengandung
senyawa aktif dari 1 g simplisia yang memenuhi syarat.

2.3 Ekstraksi

2.3.1 Definisi

Ekstraksi merupakan proses pemisahan bahan dari campurannya dengan


menggunakan pelarut yang sesuai (Mukhriani, 2014). Menurut Harbone (1987)
ekstraksi merupakan proses penyarian zat-zat berkhasiat atau zat-zat aktif dari
bagian tanaman obat, hewan dan beberapa jenis ikan termasuk biota laut.
Ekstraksi (dalam hal yang digunakan dalam bidang farmasi) merupakan suatu
metode pemisahan bahan aktif sebagai obat dari jaringan tumbuhan ataupun
hewan menggunakan pelarut yang sesuai melalui prosedur standar yang telah
ditetapkan (Tiwari et al., 2011).

Simplisia seperti rimpang dan daun yang bersifat lunak akan mudah
diserap oleh pelarut, karena itu saat proses ekstraksi tidak memerlukan serbuk

9
yang halus. Simplisia yang keras seperti biji, kulit kayu dan kulit akar susah
diserap oleh pelarut, oleh sebab itu perlu diserbuk hingga halus (Departemen
Kesehatan RI, 2000).

2.3.2 Tujuan ekstraksi

Ekstraksi bahan alam bertujuan untuk menarik komponen kimia yang


terdapat pada bahan alam yang didasarkan pada prinsip perpindahan massa
komponen zat ke dalam pelarut. Proses perpindahan yang terjadi bermula pada
lapisan antar muka kemudian berdifusi masuk ke dalam pelarut (Harbone,
1987; Dirjen POM, 1986).

2.3.3 Jenis-Jenis Ekstraksi

Menurut Dirjen POM (1986), jenis ekstraksi bahan alam yang sering
dilakukan adalah ekstraksi secara panas dengan metoda refluks dan
penyulingan uap air dan ekstraksi secara dingin dengan metoda maserasi,
perkolasi dan sokhletasi.

2.3.4 Metode Ekstraksi

1. Ekstraksi Cara Dingin

a. Maserasi

Maserasi merupakan metode sederhana yang paling banyak


digunakan. Cara ini sesuai, baik untuk skala kecil maupun skala
industri. Kelemahan dari metode maserasi ini adalah memakan banyak
waktu, pelarut yang digunakan cukup banyak dan besar kemungkinan
beberapa senyawa dapat hilang. Selain itu, beberapa senyawa sulit
diekstraksi pada suhu kamar. Namun disisi lain, metode maserasi dapat
menghindari rusaknya senyawa-senyawa yang bersifat termolabil
(Mukhriani, 2014).

Cara melakukan maserasi yaitu dengan memasukkan 10 bagian


simplisia dengan derajat yang cocok ke dalam bejana gelap, kemudian

10
dituangi dengan penyari 75 bagian, ditutup dan dibiarkan selama 5 hari
sambil diaduk sekali-kali setiap hari lalu diperas dan ampasnya
dimaserasi kembali dengan cairan penyari. Pengulangan penambahan
pelarut setelah dilakukan penyaringan maserat pertama dan seterusnya
disebut dengan remaserasi. Penyarian dapat diakhiri jika pelarut tidak
berwarna lagi, kemudian dipindahkan ke dalam bejana tertutup,
dibiarkan pada tempat yang tidak bercahaya (Harbone, 1987; Dirjen
POM, 1986).

b. Perkolasi

Perkolasi merupakan metoda ekstraksi dengan pelarut yang selalu


baru hingga penyarian sempurna (exhaustive extraction). Pada
umumnya, perkolasi dilakukan pada suhu kamar. Proses terdiri dari
beberapa tahapan pengembangan bahan, tahap maserasi antara, tahap
perkolasi sebenarnya (penampungan/penetesan ekstrak), terus hingga
diperoleh ekstrak (perkolat) yang jumlahnya 1-5 kali dari bahan
(Depkes RI, 2000).

Keuntungan dari metode ini adalah sampel senantiasa dialiri oleh


pelarut baru. Sedangkan kerugiannya adalah jika sampel dalam
perkolator tidak homogen maka pelarut akan sulit menjangkau seluruh
area. Selain itu, metode ini juga membutuhkan banyak pelarut dan
memakan banyak waktu (Mukhriani, 2014).

2. Ekstrasi Cara Panas

a. Sokletasi

Pada dasarnya, ekstraksi dengan cara ini dilakukan dengan pelarut


yang selalu baru menggunakan alat soklet secara kontinu. Cairan
penyari dipanaskan hingga mendidih. Uap penyari akan naik melalui
pipa samping, lalu diembunkan lagi oleh pendingin tegak. Cairan
11
penyari yang turun akan menyari zat aktif dalam simplisia. Selanjutnya
bila cairan penyari mencapai sifon, maka seluruh cairan akan turun ke
labu alas bulat dan terjadi proses sirkulasi. Demikian seterusnya sampai
zat aktif yang terdapat dalam simplisia tersari seluruhnya yang ditandai
jernihnya cairan yang lewat pada tabung sifon (Harbone, 1987; Dirjen
POM, 1986).

Kelebihan dari metode ini adalah proses ekstraksi yang kontinu,


sampel terekstraksi oleh pelarut murni hasil kondensasi sehingga tidak
membutuhkan banyak pelarut dan tidak memakan banyak waktu.
Adapun kelemahannya adalah senyawa yang bersifat termolabil dapat
terdegradasi karena ekstrak yang diperoleh terus-menerus berada pada
titik didih (Mukhriani, 2014).

b. Refluks

Ekstraksi dengan metode refluks dilakukan dengan menggunakan


pelarut pada temperatur titik didih pelarut, selama waktu tertentu dan
jumlah pelarut yang terbatas dengan adanya pendingin balik dan relatif
konstan. Bahan yang akan diekstraksi direndam dengan cairan penyari
dalam labu alas bulat yang dilengkapi dengan alat pendingin tegak, lalu
dipanaskan sampai mendidih. Cairan penyari akan menguap, uap
tersebut akan diembunkan dengan pendingin tegak dan akan kembali
menyari zat aktif dalam simplisia tersebut, demikian seterusnya.
Umumnya dilakukan pengulangan proses pada residu pertama 3-5 kali
sampai diperoleh ekstraksi yang sempurna (Depkes RI, 2000).

c. Infusa

Menurut Departemen Kesehatan RI (2000), infusa adalah ekstraksi


dengan pelarut air pada temperatur 90oC selama 15 menit. Infusa adalah
ekstraksi menggunakan pelarut air pada temperatur penangas air
dimana bejana infus tercelup dalam penangas air yang mendidih,

12
temperatur yang digunakan (96-980C) selama waktu tertentu (15-20
menit).

d. Dekokta

Dekokta adalah infus pada waktu yang lebih lama (≥30 menit) dan
temperatur sampai titik didih air (Depkes RI, 2000).

e. Digesti

Digesti merupakan maserasi kinetik (dengan pengadukan terus-


menerus) pada temperatur yang lebih tinggi dari temperatur kamar,
yaitu secara umum dilakukan pada temperatur 40-500C (Depkes RI,
2000).

3. Destilasi Uap

Destilasi uap adalah ekstraksi senyawa kandungan yang mudah


menguap (volatil) seperti minyak atsiri dari bahan (segar atau simplisia)
dengan uap air berdasarkan peristiwa tekanan parsial senyawa kandungan
menguap dengan fase uap air dari ketel secara kontinu hingga sempurna dan
diakhiri dengan kondensasi fase uap campuran (senyawa kandungan
menguap ikut terdestilasi) menjadi destilat air bersama senyawa kandungan
yang memisah sempurna atau memisah sebagian (Depkes RI, 2000).

2.4 Skrinning Fitokimia

Skrinning fitokimia merupakan cara mengidentifikasi bioaktif yang belum


tampak melalui suatu tes atau pemeriksaan yang dapat dengan cepat
memisahkan anatara bahan alam yang tidak memiliki kandungan fitokimia
dengan yang tidak. Skrinning fitokimia merupakan tahap pendahuluan dalam
suuatu penelitian fitokimia yang bertujuan untuk memberikan gambaran

13
tentang golongan senyawa yang terkandung dalam tanaman yang sedang
diteliti. Metode skrinning fitokimia dilakukan dengan melihat reaksi pengujian
warna dengan mengggunakan suatu pereaksi warna. Hal penting yang berperan
penting dalam skrinning fitokimia adalah pemilihan pelarut dan metode
ekstraksi (Kristanti dkk, 2008).

2.5 Metabolit Sekunder

Metabolit sekunder merupakan produk metabolisme yang khas pada suatu


tanaman yang dihasilkan oleh suatu organ tapi tidak dimanfaatkan secra
langsung sebagai sumber energi bagi tanaman tersebut (Taiz dan Zeiger, 1998).

Metabolit sekunder merupakan senyawa yang disintesis tanaman dan


digolongkan menjadi glikosida, triterpenoid, fenol, flavonoid, dan alkaloid
(Vickery, 1981)

2.6 Fraksinasi

a. Fraksinasi Kering (Winterization)

Fraksinasi kering adalah suatu proses fraksinasi yang didasarkan pada


berat molekul dan komposisi dari suatu material. Proses ini lebih murah
dibandingkan dengan proses yang lain, namun hasil kemurnian fraksinasinya
rendah.

b. Fraksinasi Basah ( Wet Fractination)

Fraksinasi basah adalah suatu proses fraksinasi dengan menggunakan zat


pembasah (Wetting Agent) atau disebut juga proses Hydrophilization atau
detergent proses. Hasil fraksi dari proses ini sama dengan proses fraksinasi
kering.
c. Proses Fraksinasi dengan menggunakan Solvent (pelarut)/ Solvent
Fractionation
14
Ini adalah suatu proses fraksinasi dengan menggunakan pelarut. Dimana
pelarut yang digunakan adalah aseton. Proses fraksinasi ini lebih mahal
dibandingkan dengan proses fraksinasi lainnya karena menggunakan bahan
pelarut.

d. Proses Fraksinasi dengan Pengembunan (Fractional Condentation)


Proses fraksinasi ini merupakan suatu proses fraksinasi yang didasarkan
pada titik didih dari suatu zat / bahan sehingga dihasilkan suatu produk
dengan kemurnian yang tinggi. Fraksinasi pengembunan ini membutuhkan
biaya yang cukup tinggi namun proses produksi lebih cepat dan
kemurniannya lebih tinggi.

2.7 Kromatografi Lapis Tipis (KLT)


Kromatografi di gunakan untuk memisahkan substansi campuran menjadi
komponen-komponen. Seluruh bentuk kromatografi bekerja berdasarkan
prinsip ini. Kromatografi lapis tipis merupakan salah satu analisis kualitatif dari
suatu sampel yang ingin di deteksi dengan memisahkan komponen-komponen
sampel berdasarkan perbedaan kepolaran. Kromatografi lapis tipis adalah
metode pemisahan fisika-kimia dengan fase gerak (larutan pengembang yang
cocok), dan fase diam (bahan berbutir) yang diletakkan pada penyangga
berupa plat gelas atau lapisan yang cocok. Pemisahan terjadi selama
perambatan kapiler (pengembangan) lalu hasil pengembangan di deteksi. Zat
yang memiliki kepolaran yang sama dengan fase diam akan cenderung tertahan
dan nilai Rf-nya paling kecil.

Pada proses pemisahan dengan kromatografi lapis tipis, terjadi hubungan


kesetimbangan antara fase diam dan fase gerak, dimana ada interaksi antara
permukaan fase diam dengan gugus fungsi senyawa elativ yang akan
diidentifikasi yang telah berinteraksi dengan fasa geraknya. Kesetimbangan ini
dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu : kepolaran fase diam, kepolaran fase gerak,
serta kepolaran dan ukuran molekul. Pada kromatografi lapis tipis, eluent
adalah fase gerak yang berperan penting pada proses elusi bagi larutan umpan
(feed) untuk melewati fase diam (adsorbent).

15
Interaksi antara adsorbent dengan eluent sangat menentukan terjadinya
pemisahan komponen. Oleh sebab itu pemisahan komponen secara
kromatografi dipengaruhi oleh laju alir eluent dan jumlah umpan. Eluent dapat
digolongkan menurut ukuran kekuatan teradsorpsinya pelarut atau campuran
pelarut tersebut pada adsorben dan dalam hal ini yang banyak digunakan adalah
jenis adsorben alumina atau sebuah lapis tipis elati. Suatu pelarut yang
bersifat larutan elative polar, dapat mengusir pelarut yang tak polar dari
ikatannya dengan alumina (gel elati). Semakin dekat kepolaran antara senyawa
dengan eluen maka senyawa akan semakin terbawa oleh fase gerak tersebut.
Hal ini berdasarkan prinsip “like dissolved like”.

Pada kromatografi, komponen-komponennya akan dipisahkan antara dua


buah fase yaitu fase diam dan fase gerak. Fase diam akan menahan komponen
campuran sedangkan fase gerak akan melarutkan zat komponen campuran.
Komponen yang mudah tertahan pada fase diam akan tertinggal. Sedangkan
komponen yang mudah larut dalam fase gerak akan bergerak lebih cepat.
Semua kromatografi memiliki fase diam (dapat berupa padatan, atau kombinasi
cairan-padatan) dan fase gerak (berupa cairan atau gas). Fase gerak mengalir
melalui fase diam dan membawa komponen-komponen yang terdapat dalam
campuran. Komponen-komponen yang berbeda bergerak pada laju yang
berbeda.

2.8 Kromatografi Kolom


Kromatografi kolom merupakan kromatografi serapan atau elativ.
Kromatografi kolom digolongkan kedalam kromatografi cair – padat (KCP)
kolom terbuka. Pemisahan kromatografi kolom adsorpsi didasarkan pada
adsorpsi komponen-komponen campuran dengan afinitas berbeda-beda
terhadap permukaan fase diam. Kromatografi kolom adsorpsi termasuk pada
cara pemisahan cair-padat. Substrat padat (adsorben) bertindak sebagai fase
diam yang sifatnya tidak larut dalam fase cair. Fase bergeraknya adalah cairan
(pelarut) yang mengalir membawa komponen campuran sepanjang kolom.

Prinsip yang mendasari kromatografi kolom adsorpsi ialah bahwa


komponen – komponen dalam zat contoh yang harus diperiksa mempunyai
16
afinitas yang berbeda-beda terhadap adsorben dalam kolom. Pemisahan
tergantung pada kesetimbangan yang terbentuk pada bidang antarmuka di
antara butiran-butiran adsorben dan fase bergerak serta kelarutan elative
komponen pada fase bergeraknya. Antara molekul-molekul komponen dan
pelarut terjadi kompetisi untuk teradsorpsi pada permukaan adsorben sehingga
menimbulkan proses diamis. Keduanya secara bergantian tertahan beberapa
saat di permukaan adsorben dan masuk kembali pada fase bergerak. Pada saat
teradsorpsi komponen dipaksa untuk berpindah oleh aliran fase bergerak yang
ditambahkan secara kontinyu. Akibatnya hanya komponen yang mempunyai
afinitas lebih besar terhadap adsorben akan secara selektif tertahan. Komponen
dengan afinitas paling kecil akan bergerak lebih cepat mengikuti aliran pelarut.

17
BAB III

METODE PRAKTIKUM

3.1 Alat dan Bahan


 Alat

- Gelas Ukur - Statip+klem


- Beker Gelas - Plat KLT
- Pisau Cutter - Chamber
- Corong - Corong Pisah
- Timbangan Analitik - Lampu UV
- Lampu Spiritus - Pensil
- Pipet tetes - Pinset
- Gunting - Alumunium Foil
- Benang Jagung - Sendok
- Spatel - Plastik wrap
- Vial - Lumpang+Stanfer
- Perkamen - Penjepit Buaya
- Batang Pengaduk - Waterbath
- Rotary Evaporator - Pipet kapiler
- Kertas Saring - Penggaris
- Botol Reagen - Plat tetes
- Kolom - Tabung Reaksi
- Sudip - Kapas

 Bahan

- Daun Kelor - Etil Asetat


- Metanol - Silika
- Aquadest - H2SO4
- Hexana - Pereaksi Mayer
- HCl - Chloroform
18
- FeCL3 - Norit
- Pasir - Asam Asetat Anhidrat
- Amoniak

3.2 Tempat dan Waktu

Praktikum dilakukan bertempat di Laboratorium Farmasi Bahan Alam.


Praktikum dilakukan setiap hri Sabtu, pukul 14.00 – 17.00 WIB

3.3 Prosedur Kerja


1. Pengumpulan Bahan
- Daun kelor dipetik dan dikumpulkan
- Masing masing sampel dirajang dengan cara digunting atau dipotong
dengan pisau cutter hingga dalam ukuran lebih kecil
- Lalu masing masing sampel di keringkan pada suhu ruangan.
2. Skrining Fitokimia
 Uji Kandungan Alkaloid
- Sampel yang telah dirajang (2gram) gerus halus dalam lumpang,
dengan menambah 10ml Chloroform.
- Tambahkan 10 ml (Choloroform:Amoniak 0,05N), gerus perlahan.
- Saring larutan dengan meletakkan kapas dalam lumpang
- Masukkan hasil saringan kedalam tabung reaksi
- Tambah 10 tetes H2SO4 2N, kocok perlahan. Ambil lapisan asam
(atas), masukkan ke tabung reaksi lain, tambah pereaksi Mayer (1-2
tetes).
- Hasil positif bila ada kabut putih hingga gumpalan putih atau
endapan putih
 Uji Kandungan Steroid dan Terpenoid
- Dari larutan tadi, ambil lapisan Chloroform (bawah), masukkan
kedalam pipet tetes yang telah dilapisi Norit.
- Lewatkan lapisan chloroform didalam pipet tersebut, tampung dan
teteskan kedalam 2 lobang plat tetes yang sudah disediakan.
- lapisan jernih yang didapat, tambahkan dengan H2SO4, dan Asam
Asetat Anhidrat masing masingnya, amati perubahan warna yang
terbentuk
- Hasil positif Terpenoid bila ada warna merah. Hasil positif Steroid
bila ada warna hijau/biru.
 Uji Kandungan Flavonoid

19
- Ambil lapisan air (atas), letakkan di plat tetes, tambahkan sedikit
logam Mg, dan satu tetes HCL pekat, perhatikan perubahan warna
yang terjadi.
- Hasil positif Flavonoid bila ada warna jingga-merah.
 Uji Kandungan Fenolik
- Ambil lapisan air (atas) letakkan pada plat tetes lalu tambahkan
beberapa tetes FeCl3, amati perubahan warna yang terjadi
- Hasil positif Fenolik jika ada warna ungu-biru kehitaman
 Uji Kandungan Saponin
- Ambil lapisan air (atas) masukkan ke tabung reaksi, lalu kocok
beberapa saat, didiamkan lalu perhatikan busa yang terbentuk
- Hasil positif Saponin jika busa yang terbentuk bertahan lama
1. Ekstraksi (Soxhletasi)
- Daun kelor dikeringkan pada suhu ruangan
- Bungkus sampel dengan kertas saring ( selongsong ), ikat dengan
benang,masukkan ke dalam alat soklet
- Masukkan pelarut sebanyak 1,5 x volume ekstraktor soklet
- Lakukan sokletasi sampai pelarut tidak berwarna
- Keluarkan sampel, panaskan untuk memisahkan pelarut dari
senyawa hasil ekstraksi
2. Evaporasi
Sampel atau ekstrak cair yang akan diuapkan dimasukkan ke dalam
labu alas bulat dengan volume 2/3 bagian dari volume labu alas bulat
yang digunakan, kemudian waterbath dipanaskan sesuai dengan suhu
pelarut yang digunakan. Setelah suhu tercapai, labu alas bulat yang telah
berisi sampel atau ekstrak cair dipasang dengan kuat pada ujung rotor
yang menghubungkan kondensor. Aliran air pendingin dan pompa vakum
dijalankan, kemudian tombol rotor diputar dengan kecepatan tertentu
3. Fraksinasi
- Timbang 10 gram ekstrak daun pandan yang telah dipekatkan,
larutkan dengan aquadest 50ml dalam beker, lalu masukkan
kedalam corong pisah
- Tambah 50ml N-Hexane. Kocok searah/membentuk angka 8 (sambil
dibuka tutup penyumbatnya)
- Diamkan hingga terbentuk 2 lapisan
- Pisahkan lapisan N-Hexane (atas) dan lapisan air (bawah)
- Masukkan kembali lapisan air kedalam corong pisah, lalu
fraksinasikan kembali dengan menambahkan N-Hexane 50ml,
dengan cara kerja yang sama.
- Lapisan N-Hexane yang diperoleh dikumpulkan dengan rotary
evaporator, hitung berat Fraksi N-hexane yang diperoleh.

20
- Masukkan kembali lapisan air kedalam corong pisah, Fraksinasikan
dengan Etil Asetat 50 ml dengan cara kerja yang sama hingga
diperoleh fraksi Etil Asetat (Lakukan 2x), pekatkan dengan rotary
evaporator
- Uji KLT fraksi N-Hexane dan fraksi Etil Asetat, hitung nilai RF nya
masing-masing
4. Kromatografi Lapis Tipis
- Siapkan Eluen dalam chamber, yaitu N-Hexane:Etil Asetat (1:1),
tutup dan jenuhkan
- Siapkan plat KLT dengan panjang 5 cm dan lebar 2,5 cm, dengan
batas garis bawah 0,5 cm dan batas garis atas 0,5 cm. Lalu beri
tanda untuk tempat menotolkan sampel.
- Larutkan ekstrak fraksi N-hexane maupun Etil Asetat menggunakan
pelarut yang sesuai
- Ambil larutan mengggunakan pipet kapiler, totolkan pada garis
bawah pada bagian yang telah ditandai
- Plat KLT yang telah di totolkan dimasukkan kedalam chamber
dengan posisi tegak, dan pastikan noda yang telah ditotolkan tidak
terendam eluen
- Tutup chamber, biarkan eluen naik mencapai tanda batas atas
- Angkat plat KLT menggunakan pinset, lalu keringkan. Amati
bercak(noda) dibawah lampu UV 254 dan 366nm. Lalu tandai
bercak menggunakan pensil.
- Ukur jarak yang ditempuh eluen dan jarak yang ditempuh noda
(sampel)
- Hitung nilai Rf masing-masing noda.
5. Kromatografi Kolom
- Siapkan kolom kaca, statip dan klem.
- Masukkan sedikit kapas pada bagian bawah
- Buat bubur silika dengan campuran 10 gram silika gel dan 50ml n-
hexana. Masukkan bubur silika kedalam kolom, lalu padatkan
- Siapkan Eluen dengan berbagai perbandingan

Hexana : Etil Asetat Etil Asetat : Metanol


20 ml : 0 ml (Hexana 100%) 16 ml : 4 ml (8:2)
16 ml : 4 ml (8:2) 12 ml : 8 ml (6:4)
12 ml : 8 ml (6:4) 8 ml : 12 ml (4:6)
8 ml : 12 ml (4:6) 4 ml : 16 ml (2:8)
4 ml : 16 ml (2:8) 0 ml : 20 ml ( Metanol 100%)
0 ml : 20 ml (100%)
- Larutkan sampel pada pelarut yang sesuai. Masukkan sampel
kedalam kolom, elusi dengan eluen yang telah disiapkan

21
- Tampung hasil Kolom dengan vial yang sudah diberi nomor

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
1. Hasil Skrining Fitokimia
Daun kelor mengandung : Saponin (Terbentuk busa)
2. Hasil Ekstraksi
Berat simplisia kering: 170 gram
Ekstrak kental etanol daun kelor: 25,57 gram
3. Hasil Fraksinasi
Berat Fraksi Etil Asetat di rotary: 2,38 gram
2,38
%Rendemen fraksi etil asetat : ×100 =9,307
25,57
4. Hasil Uji KLT
1) Hasil uji KLT ekstrak etanol
a = 4,1 cm
b = 4,3 cm
a 4,1 cm
Rf = = =0,95
b 4,3 cm
2) Hasil uji KLT Fraksi Etil Asetat
a = 4,2 cm
b = 4,3 cm
a 4,2 cm
Rf = = = =0,97
b 4,3 cm
3) Hasil uji KLT fraksi n-hexana
a = 4,1 cm
b = 4,3 cm
a 4,1 cm
Rf = = = =0,95
b 4,3 cm

22
5. Hasil Uji Kromatografi Kolom
Hasil kromatografi kolom didapatkan 24 vial

4.2 Pembahasan
Pada praktikum Fitokimia, kami melakukan beberapa pengujian.
Diantaranya adalah skrining fitokimia, skrining fitokimia bertujuan untuk
mengidentifikasi senyawa kimia yang terdapat pada tumbuhan. Sampel
tumbuhan yang kami gunakan adalah daun kelor. Pada praktikum ini metabolit
sekunder yang akan di harapkan adalah Alkaloid, Terpenoid, Steroid, Flavonoid,
Fenolik dan Saponin, dengan cara identifikasi senyawa masing-masing.

Pada sampel daun kelor yang telah dirajang, didapatkan hasil bahwa
daun kelor mengandung hanya mengandung. Hal ini ditandai dengan ada nya
busa pada uji saponin. Berdasarkan literatur, daun kelor seharusnya
mengandung metabolit sekunder: flavonoid, alkaloid dan steroid. Jika dilihat
dari hasil yang didapatkan, daun kelor seharusnya juga mengandung alkaloid
flavonoid dan steroid, namun yang kami dapatkan tidak.

Adanya perbedaan antara hasil yang didapatkan dengan literatur yang


ada, mungkin dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti:

- Ketidaktelitian praktikan saat mengamati perubahan warna


- Ketidaktelitian praktikan saat melakukan pengujian
- Kondisi fisik setiap sampel yang kami gunakan berbeda dengan kondisi
sampel yang digunakan dari literatur.

Setelah melakukan uji skrining fitokimia, kami melakukan tahap


ekstraksi sampel. Pada tahap ini daun kelor yang kami gunakan adalah daun
yang sudah dalam keadaan kering, dengan berat total simplisia kering 170 gram.
Ekstraksi daun kelor dilakukan dengan metode Soxhletasi dimana pelarut yang
kami gunakan untuk soxhletasi adalah Etanol. Proses ekstraksi dilakukan
dengan meggunakan alat soxhletasi yang tersedia di Laboratorium. Proses
ekstraksi ini berlangsung cepat yakni memakan waktu kurang lebih 3-4 jam.
Setelah itu hasil ekstraksi dimasukkan kedalam beker gelas, sehingga
didapatkan ekstrak cair etanol 124,06 gram.Ekstrak cair tersebut kemudian

23
dipekatkan dengan metode Evaporasi dan menggunakan alat Rotary Evaporator.
Setelah dipekatkan, maka didapatlah Ekstrak Kental Etanol Daun Kelor
sebanyak 25,57 gram.

Setelah didapatkan ekstrak kental etanol, maka masih perlu dilakukan


pengentalan dengan cara menguapkan pelarut yang ada, sehingga ekstrak yang
didapatkan benar-benar kental. 13 hari setelah itu, didapatlah ekstrak kental
etanol. Hal yang selanjutnya dilakukan adalah Fraksinasi. Fraksinasi ini
dilakukan dengan dua pelarut, yaitu N-hexana dan Etil Asetat, dengan tujuan
akhir didapatkan fraksi etil asetat. Fraksinasi ekstrak kental etanol dilakukan
dalam corong pisah, yang pengerjaannya dilakukan berulang. Hasil
yangdiperoleh nantinya adalah fraksi hexana dan fraksi etil asetat. Fraksi etil
asetat dipekatkan kembali menggunakan rotary evaporator, dan setelah
ditimbang beratnya adalah 2,3 gram, sehingga nilai %Rendemen fraksi Etil
Asetat adalah 9,307%.

Setelah didapatkan 3 bagian, yaitu Ekstrak kental etanol, Fraksi n-


hexane dan fraksi etil asetat, maka ketiganya dilakukan pengujian Profil KLT.
Untuk KLT, fase gerak (eluen) nya yang digunakan adalah campuran n-hexan :
etil asetat (5:5). Masing-masing cairan tadi ditotolkan pada plat KLT yang telah
di tandai. Lalu plat KLT dimasukkan kedalam chamber yang berisi eluen, lalu
larutan di elusi-kan. Setelah mencapai batas atas, maka didapatkan noda
(bercak) dari masing-masing sampel. Noda tersebut diamati dibawah lampu UV
254 dan ditandai, serta diukur jarak masing-masing noda, sehingga didapatkan
nilai Rf masing-masingnya. Nilai Rf ekstrak metanol yaitu 0,95, nilai Rf fraksi
hexana yaitu 0,97, nilai Rf fraksi etil asetat yaitu 0,95.

Selanjutnya, kami melakukan melakukan kromatografi kolom.


Kromatografi kolom bertujuan untuk melihat profil masing-masing noda, serta
mencari pelarut yang sesuai. Kromatografi ini memerlukan alat seperti kolom
kaca, statip, dan klem. Sebelum pengujian, semua bahan dan alat perlu

24
disiapkan. Pada kolom, perlu diberi adsorben (kapas) pada bagian bawah nya.
Setelah itu perlu disiapkan bubur silika, dengan mencampurkan 10gram silika
dan 50ml n-hexane. Bubur silika dimasukkan kedalam kolom secara hati hati,
agar menghindari gelembung udara. Untuk meng-homogenkan nya, dinding
kolom dapat dipukul-pukul dari luar. Setelah bubur silika dimasukkan, perlu
dimasukkan pelarut sekitar 1cm diatas silika, agar silika tidak kering dan
akhirnya pecah. Setelah itu barulah kami menyiapkan sampel. Sampel
dimasukkan kedalam kolom dengan cara melarutkan ekstrak kental dengan n-
hexana, kemudian dimasukkan kedalam kolom dan di elusikan menggunakan
pelarut sesuai yang di-intruksikan. Tampung hasil kolom didalam vial.
Kelompok kami menggunakan 2 vial di setiap perbandingan pelarut. Sehingga
total vial hasil kolom yang kami gunakan adalah 24 vial. Pelarut yang kami
gunakan adalah Hexana, Etil Asetat, dan Metanol, dengan total 20 ml dengan
berbagai perbandingan seperti yang tertera di prosedur kerja. Pelarut yang
pertama kami gunakan adalah hexana 100%, dan dilanjutkan campuran
hexana:etil asetat (8:2), dan begitu seterusnya seperti yang tertera di prosedur
kerja hingga Metanol 100%.

25
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dari hasil skrining fitokimia, hasil yang kami dapatkan metabolit
sekunder untuk daun kelor hanya mengandung satu metabolit sekunder saja. Hal
ini ditandai dengan adanya busa ketika dilakukan pengujian. Namun hal ini
tidak sesuai dengan literatur. Mungkin disebabkan oleh beberapa faktor yakni:

- Ketidaktelitian praktikan saat mengamati perubahan warna


- Ketidaktelitian praktikan saat melakukan pengujian
- Kondisi fisik setiap sampel yang kami gunakan berbeda dengan kondisi
sampel yang digunakan dari literatur.

Selanjutnya dilakukan proses ekstraksi, yakni dengan cara soxhletasi.


Pada proses ini dilakukan dengan menggunakan alat soxhlet yang telah tersedia.
Dengan bantuan batu didih untuk mengurangi tekanan dalam labu. Hasil ekstrak
cair yang diperoleh adalah 124,06 gram. Lalu ekstrak cair tadi di lakukan
penguapan dengan menggunakan alat yang bernama rotary evaporator untuk
mendapatkan ekstrak kental. Hasil ekstrak yang didapatkan adalah 25,57 gram.

Lalu dilakukan fraksinasi menggunakan hexana dan etil asetat. Sehingga


didapatkan berat fraksi etil asetat 2,38 gram, dan %Rendemen fraksi etil sebesar
9,307%. Ekstrak kental metanol, fraksi hexana, fraksi etil asetat masing-masing
dilihat profil KLT nya dengan nilai Rf berturut-turut 0,95 ; 0,97 ; dan 0,95.

Kemudian senyawa di isolasi menggunakan kromatografi kolom,


dengan berbagai perbandingan pelarut, dan didapatkan isolat sebanyak 24 vial
(12 perbandingan pelarut dengan 2 vial masing-masingnya).

DAFTAR PUSTAKA
- Departemen Kesehatan RI. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak
Tumbuhan. Jakarta: Direktorat Jendral POM-Depkes RI. Hal 1-68
- Duryatmo S. 2005. Dulu Hiasan Kini Obat. Trubus, 427:37
- Fahey JW. 2005. Moringaoleifera: A Review of the medical evidence for its
26
nutritional. therapeutic and prophylactic properties.Part 1. Trees for Life
Journal, 1:5
- Giridhari VVA, Malathi D, Geetha K. 2011. Anti Diabetic Property of
Drumstick (Moringaoleifera) leaf tablets. International Journal of Health
and Nutrition, 2(1):1-5.

- Harborne, J.B., (1987), Metode Fitokimia, Edisi ke dua, ITB, Bandung.


- Hardiyanthi, F. 2015. Pemanfaatan Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun
Kelor (Moringa oleifera) Dalam Sediaan Hand And Body Cream. Skripsi,
Program Studi Kimia, Fakultas Sains Dan Teknologi, Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta.
- Hazani, K, F., 2014. Pengaruh Pemberian Ekstrak EtanolDaun Kelor
(Moringa oleifera L) Terhadap Kadar Malondialdehide (MDA) dan Kualitas
Spermatozoa Epididimis Mencit (Mus musculus L) yang Dipapar Timbal
(Pb) Asetat. Skripsi, Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi,
Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, Malang.
- Jaiswal D, Rai PK, Kumar A, Mehta S, Watal G. 2009. Effect of
Moringaoleifera Lam. Leaves aqueous extract therapy in hyperglycemic
rats. Journal of Ethnopharmacol, 123:392-296.
- Krisnadi, A Dudi. 2015. Kelor Super Nutrisi. Blora: Pusat Informasi dan
Pengembangan Tanaman Kelor Indonesia.

- Mukhriani. 2014. Ekstraksi, Pemisahan Senyawa, Dan Identifikasi Senaywa


Aktif. Jurnal Kesehatan, Volume VII No.2/2014 hal: 361-367

- Oduro I, Ellis WO, Owusu D. 2008. Nutritional potential of two leafy


vegetables: Moringaoleifera and Ipomoea batatas leaves. Scientific Research
and Essay 3(2) :57-60.
- Pandey A, Pandey RD, Tripathi P, Gupta PP, Haider J, Bhatt S, Singh AV.
2012. Moringaoleifera Lam. (Sahijan) – a plant with a plethora of diverse
therapeutic benefits: an update retrospection. Medicinal and Aromatic
Plants 1(1) :2-8.
- Pari L, Karamac M, Kosinska A, Rybarczyk A, Amarowicz R. 2007.
Antioxidant activity of the crude extracts of drumstick tree (Moringaoleifera
Lam.) and sweet brommweed (SopariaducistL) leaves. Polish Journal Of
Food And Nutrition Sciences 57(2) :201-208.
- Pudjarwoto T, Simanjuntak CH, Nur Indah P. 1992. Daya Antimikroba Obat
Tradisional Diare Terhadap Beberapa Jenis Bakteri Enteropatogen. Cermin
Dunia Kedokteran 76(1): 45-47
27
- Rahman, F. 2015. Efek Nefroprotektor Ekstrak Etanol Daun Kelor (Moringa
oleifera) Terhadapa Kerusakan Histologis Nefron Mencit (Mus musculus L.)
yang Diinduksi Parasetamol. Skripsi, Fakultas Kedokteran, Universitas
Sebelas Maret, Surakarta.
- Simbolan, J, M., Simbolan, N., Katharina, N. 2007. Cegah Malnutrisi
Dengan Kelor. Yogyakarta: Kanisius.
- Syarifah , Aminah. 2015. “Kandungan Nutrisi dan Sifat Fungsional Tanaman
Kelor (Moringa oleifera)”. Buletin Pertanian Perkotaan. Volume 5. Nomor 2.
- Tilong A.D. 2012. Kitab Herbal Khusus Terapi Stroke. Yogyakarta : D-
Medika

- Tiwari, P. Kumar, B. Kaur, M. Kaur, G. Kaur, H. 2011. Phytochemical


screening and Extraction: A Review. Internationale Pharmaceutica
Sciencia. Vol.1.Issue. 1 pp: 98-106.

- Toripah SS, Abidjulu J, Wehantouw F. 2014. aktivitas antioksidan dan


kandungan total fenolik ekstrak daun kelor (Moringa oleifera Lam).
Pharmacon 3(4): 37-43.
- Widowati, I., Efiyati, S., Wahyuningtyas, S. 2014. Uji Akativitas Antibakteri
Ekstrak Daun Kelor (Moringa oleifera) Terhadap Bakteri Pembusuk Ikan
Segar (Pseudomonas aeruginosa). PELITA, Universitas Negeri Yogyakarta,
No. 1 Vol. 9 April 2014

DAFTAR ISI

Table of Contents
BAB I....................................................................................................................................1
PENDAHULUAN.................................................................................................................1
1.1 Latar Belakang....................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah...............................................................................................2
1.3 Tujuan Laporan...................................................................................................2
BAB II..................................................................................................................................4
TINJAUAN PUSTAKA......................................................................................................4
2.1 Tanaman Kelor....................................................................................................4
2.1.1 Klasifikasi Tanaman Kelor (Moringa oleifera L).............................................4
2.1.2 Sinonim...............................................................................................................4
2.1.3 Deskripsi Tanaman Kelor…..............................................................................5
2.1.4 Kandungan dan Khasiat Daun Moringa oleifera L (Kelor)............................6

28
2.2 Simpilisia dan Ekstrak........................................................................................9
2.2.1 Simplisia………………………..........................................................................9
2.2.2 Ekstrak………………………............................................................................9
2.3 Ekstraksi..............................................................................................................9
2.3.1 Definisi………………………............................................................................9
2.3.2 Tujuan ekstraksi…………….. …………………………………………………………………….10
2.3.3 Jenis-Jenis Ekstraksi………...........................................................................10
2.3.4 Metode Ekstraksi…………............................................................................10
2.4 Skrinning Fitokimia..........................................................................................13
2.5 Metabolit Sekunder...........................................................................................14
2.6 Fraksinasi...........................................................................................................14
2.7 Kromatografi Lapis Tipis (KLT)......................................................................15
2.8 Kromatografi Kolom.........................................................................................16
BAB III.................................................................................................................................18
METODE PRAKTIKUM.........................................................................................................18
3.1 Alat dan Bahan..................................................................................................18
3.2 Tempat dan Waktu............................................................................................18
3.3 Prosedur Kerja..................................................................................................19
BAB IV...............................................................................................................................23
HASIL DAN PEMBAHASAN..........................................................................................23
4.1 Hasil....................................................................................................................23
4.2 Pembahasan.......................................................................................................23
BAB V................................................................................................................................27
PENUTUP...........................................................................................................................27
5.1 Kesimpulan........................................................................................................27
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................................28

29

Anda mungkin juga menyukai