Anda di halaman 1dari 2

Konduktif

Penatalaksanaan tuli akibat bising


Sesuai dengan penyebab ketulian, penderita sebaiknya dipindahkan
kerjanya dari lingkungan bising. Bila tidak mungkin dipindahkan dapat
dipergunakan alat pelindung telinga yaitu berupa sumbat telinga (ear plugs), tutup
telinga (ear muffs) dan pelindung kepala (helmet).
Bila tuli akibat bising menetap dan mengakibatkan kesulitan
berkomunikasi dengan volume percakapan baisa, dapat dicoba pemasangan alat
bantu dengar (ABD). Apabila pendengarannya telah sedemikian buruk, sehingga
dengan memakai ABD pun tidak dapat berkomunikasi dengan adekuat, perlu
dilakukan psikoterapi supaya pasien dapat menerima keadaannya. Latihan
pendengaran (auditory training) juga dapat dilakukan agar pasien dapat
menggunakan sisa pendengaran dengan ABD secara efisien dibantu dengan
membaca ucapan bibir (lip reading), mimik dan gerakan anggota badan serta
bahasa isyarat untuk dapat berkomunikasi.
Untuk mengurangi angka terjadinya Gangguan Pendengaran Akibat Bising
(GPAB), diperlukan usaha-usaha baik promotif, preventif dan rehabilitatif. Dalam
mengupayakan usaha tersebut diperlukan kerjasama yang baik dari masyarakat
dan pemerintahan melalui tenaga kesehatan.
Tindakan pencegahan merupakan hal penting bijak yang dapat kita
lakukan dalam menghadapi masalah GPAB ini. Sejalan dengan ini, Departemen
Tenaga Kerja berdasarkan Keputusan Menteri Tenaga Kerja nomor: KEP-
51/MEN/1999 telah menentukan batas paparan suara bising yang diperkenankan.
Lama Pajanan Intensitas dalam dB
Jam 24 80
16 82
8 85
4 88
2 91
1 94
Menit 30 97
15 100
7,50 103
3,75 106
1,88 109
0,94 112
Detik 28,12 115
14,06 118
7,03 121
3,52 124
1,76 127
0,88 130
0,44 133
0,22 136
0,11 139
Tidak boleh terpajan lebih dari 140 dB, walau sesaat