Anda di halaman 1dari 5

Bab 10

Menguji, Menilai, dan Mengevaluasi Bukti Audit

Selain memiliki keterampilan untuk mengevaluasi bukti audit, auditor internal juga
perlu memahami beberapa dasar pengambilan bukti audit. Bab ini juga akan memperkenalkan
beberapa perhitungan sederhana dan prosedur yang dibutuhkan untuk melakukan audit.

10.1 Mengumpulkan Bukti Audit yang Sesuai

Audit sampling mempunyai dua cabang utama, yaitu: statistik dan non-statistik.
Pengambilan sampel audit merupakan metode berbasis matematik untuk memilih sampel-sampel
yang representatif sehingga dapat mencerminkan karakteristik seluruh populasi. Dengan
menggunakan hasil tes audit pada item-item yang dijadikan sampel, auditor internal dapat
menyatakan pendapat mengenai keseluruhan kelompok.

10.2 Penilaian Audit dan Teknik Pengevaluasian

Beberapa hal yang harus dilakukan oleh seorang internal auditor untuk melakukan audit
sampling, yaitu:

 Memahami keseluruhan populasi dan mengembangkn rencana pemilihan sampel


berdasarkan populasi tersebut.
 Mengambil sampel berdasarkan rencana sampling yang telah dibuat.
 Mengevaluasi sampel berdasarkan tujuan audit.
 Mengembangkan kesimpulan berdasarkan hasil pengauditan sampel.

Ada beberapa alasan yang mendukung penggunaan audit sampling dan statistical sampling,
yakni:

 Kesimpulan dapat dibuat berdasarkan keseluruhan populasi data.


 Hasil sampling objektif serta dapat dipertanggungjawabkan.
 Tidak membutuhkan sampel yang banyak untuk melakukan audit sampling.
 Statistical sampling dapat memberikan hasil yang mungkin bahkan lebih akurat daripada
pengujian 100% populasi.
 Audit dapat dilakukan dengan lebih mudah.
 Prosedur sampling mudah diaplikasikan.

10.3 Internal Audit Judgmental Sampling

Meskipun banyak pihak yang lebih mendukung statistik audit sampling, non-statistik audit
sampling juga merupakan prosedur internal audit yang mempuni. Bagi para auditor internal,
metode pemilihan judgemental sample memiliki berbagai bentuk, yaitu:
 Fixed percentage selection.
 Designated attribute selection.
 Large value selection.
 Designated area selection.
 Other selected attribute selection.

Meskipun data yang berguna dapat diperoleh dari judgemental sampling, hasil yang diperoleh
bisa tidak akurat. Auditor internal dapat melihat keakuratan keuangan perusahaan berdasarkan
10% akun terbesar, namun dengan asumsi bahkan akun-akun tersebut merupakan akun yang
paling signifikan.
Ketika melakukan review berdasarkan judgemental sampling, auditor internal harus
membuat tiga keputusan. Pertama, auditor internal harus mengembangkan suatu metode
pemilihan, dan memutuskan item seperti apa yang akan dinilai. Kedua. Auditor internal harus
menentukan besarnya sampel. Terakhir, bagaimana menginterpretasikan dan membuat laporan
berdasarkan judgemental sampling yang terbatas. Meskipun terdapat banyak jenis pendekatan,
seorang auditor internal sukses biasanya menggunakan bentuk pengauditan statistik sampling.

10.4 Audit Sampling Statistik: Pendahuluan

Audit sampling statistik merupakan alta yang sangat bermanfaat yang membantu auditor
internal untuk memproyeksikan hasil atas sampel audit yang benar secara statistik mewakili
keseluruhan populasi dengan tingkat keakuratan yang tinggi. Pemahaman mengenai probabilitas
dan konsep statistik merupakan langkah awal yang penting dalam penggunaan statistical
sampling. Beberapa pengukuran statistik pada data yang paling umum, yaitu: mean, median,
modus, range of data values, varian, standar deviasi, serta skewness of the data.

10.5 Mengembangkan Rencana Statistik Sampling

Sebagai langkah awal audit sampling, auditor internal harus mengembangkan rencana
pengambilan sampel yang memungkinkan seluruh item dalam populasi memiliki kemungkinan
untuk terpilih yang sama besar. Statistical sampling memampukan auditor untuk memperoleh
sampel yang representative dan data ini akan membantu auditor mengambil kesimpulan atas
keseluruhan populasi. Namun, auditor internal harus memahami sifat alami data yang dinilai
ketika mengembangkan strategi pemilihan sampel atau rencana audit, termasuk:

 Populasi yang akan disampel harus jelas.


 Populasi harus dibagi menjadi kelompok-kelompok jika terdapat variasi secara
garis besar.
 Setiap item pada populasi harus memiliki kemungkinan untuk dipilih sebagai
sampel yang sama besar.
 Tidak boleh ada bias dalam pemilihan sampel.

Ada empat cara paling umum dalam pemilihan sampel, yaitu:


1. Pemilihan Jumlah Sampel Audit Secara Acak.
Item harus dipilih secara acak, dimana seluruh item pada populasi memiliki kemungkinan
yang sama untuk dipilih. Biasanya auditor akan meletakkan nama item pada suatu tempat
lalu mengambilnya secara acak. Saat ini, auditor internal dapat menggunakan berbagai
alat komputerisasi untuk melakukan pemilihan secara acak. Cara yang baik untuk
meningkatkan akurasi hasil ketika sampel diambil dari populasi yang buruk, yakni
dengan menambah jumlah sampel. Menurut teori matematika, semakin besar jumlah
sampel, bentuk distribusi sampling juga semakin mendekati distribusi normal.
2. Interval Selection Audit Sample Selection.
Teknik ini memerlukan pemilihan sampel berdasarkan interval yang sama terhadap
populasi secara keseluruhan. Tekni ini sangat berguna dalam melakukan monetary unit
sampling. Pemilihan interval harus berdasarkan jumlah sampel dan total populasi.
3. Stratified Selection Audit Sample Selection.
Pada pendekatan ini, populasi harus dibagi menjadi beberapa sub-grup atau starta, lalu
tiap kelompok dianggap sebagai populasi yang berbeda. Teknik ini merupakan
pengembangan dari teknik random dan interval selection sampling. Stratified sampling
telah lama dikenal dna audit menggunakan stratified selection memberikan pengukuran
statistik yang lebih bermakna dengan sampel yang lebih sedikit.
4. Cluster Selection Audit Sample Selection.
Pada pendekatan ini, sampel dengan membuat sub-grup secara sistemastis dari total
populasi. Cluster selection berguna ketika item diletakkan atau dipisahkan dalam laci-
laci. Secara rasional, item yang berada pada satu laci atau tempat seharusnya memiliki
kesamaan, maka sampel yang diambil juga seharusnya dapat merepresentasikan apa yang
ada pada laci tersebut.

10. 6 Pendekatan-pendekatan Audit Sampling

Auditor internal dapat memilih beberapa pendekatan pengambilan sampel audit tergantung
pada tujuan audit. Tiga pendekatan yang paling umum yaitu:

 Attributes sampling: digunakan untuk mengukur tingkat kemunculan berbagai


kondisi atau atribut. Attributes sampling biasanya mengukur kepatuhan terhadap
kebijakan, prosedur, atau standar yang ditetapkan, dan dapat menjadi ujian yang
kuat untuk pengendalian internal.
 Variables sampling: sampling ini berkaitan dengan ukuran populasi tertentu, seperti
saldo akun atau tes dalam masing-masing item sampel. Tujuan dari pengambilan
sampel variabel adalah untuk memproyeksikan jumlah taksiran total untuk
beberapa akun atau penyesuaian ke akun berdasarkan sampel statistik auditor.
 Discovery sampling: mirip dengan sampling penilaian nonstatistik yang dibahas
sebelumnya. Discovery sampling digunakan ketika auditor internal ingin menarik
sampel dari volume data yang besar tanpa proses statistik yang terkait dengan
variabel dan sampling atribut.
Menjalankan Pengujian Attributes Sampling

Beberapa parameter kunci attributes sampling, yakni:

Maximum tolerable error rate.


Desired confidence level.
Estimated population error rate.
Initial sample size.

10.7 Attributes Sampling Audit Example

Informasi ringkasan tentang hasil dari lima tes atribut ini akan diberikan kepada
manajemen dalam laporan audit formal. Menurut pendapat audit internal, gangguan kontrol
internal atas dua atribut ini cukup untuk menyarankan masalah utama dalam proses penyimpanan
catatan sumber daya manusia. Berdasarkan rekomendasi audit internal ini, manajemen memiliki
tanggung jawab untuk menganalisis seluruh file untuk menentukan tingkat dan frekuensi dari
kesalahan ini dan atribut lainnya di seluruh sistem.

10.8 Keunggulan dan Keterbatasan Attributes Sampling

Beberapa auditor internal merasa teknik ini memiliki beberapa kendala dalam
penggunaannya, termasuk:

1. Attributes sampling computations are complex.


2. Appropriate definitions of attributes may be difficult.
3. Attributes sample results may be subject to misinterpretation.
4. Imperfect data requires corrections.

Terlepas dari masalah ini, attributes sampling melengkapi audit internal dengan alat yang sangat
kuat untuk menilai kontrol internal dalam populasi data yang besar melalui evaluasi sampel
terbatas. Walaupun teknik ini sering terlalu memakan waktu atau kompleks untuk banyak
pendekatan pengambilan sampel audit internal, seorang auditor internal harus memiliki
setidaknya pemahaman dasar CBOK tentang atribut-atribut pengambilan sampel dan
memanfaatkannya jika perlu.

10.9 Monetary Unit Sampling

Atribut sampling mengukur sejauh mana suatu kondisi, dan variabel sampling
memperkirakan nilai suatu akun. Variabel sampel dapat dibagi lagi antara metode pengambilan
sampel bertingkat yang lebih tradisional. Pengambilan sampel unit moneter adalah teknik untuk
menentukan apakah suatu akun keuangan dinyatakan secara adil, dan itu adalah metode yang
baik untuk memperkirakan jumlah overstatements akun apa pun. Mirip dengan atribut sampling,
tes unit moneter mensyaratkan empat hal diketahui tentang akun yang akan diambil sampelnya:
1. Persentase maksimum dari nilai populasi yang dicatat yang akan ditoleransi oleh
auditor atas kesalahan.
2. The expected confidence level.
3. An expected error rate for sampling errors.
4. The total recorded value of the account to be evaluated.

10.10 Teknik Audit Sampling Lainnya

Beberapa teknik audit sampling lainnya, yakni:

Multistage Sampling: Teknik ini melibatkan pengambilan sampel pada beberapa


tingkatan. Sampel acak pertama kali dipilih untuk beberapa kelompok unit dan
kemudian sampel acak lain diambil dari populasi unit yang pertama kali dipilih.
Replicated Sampling: pengambilan sampel yang membutuhkan gambar satu sampel
acak keseluruhan ukuran X, terdiri dari Y sampel acak terpisah ukuran X / Y.
Bayesian Sampling: Teknik yang jarang digunakan atau jarang disebutkan dalam
literatur sampling audit tetapi itu memiliki potensi besar. Bayesian sampling
memungkinkan auditor untuk menyesuaikan asumsi sampel dan faktor probabilitas
berdasarkan hasil audit sebelumnya.

10.11 Membuat Penggunaan Audit Sampling yang Efisien dan Efektif

Auditor internal umumnya dihadapkan dengan keputusan berikut untuk mencapai


kesimpulan audit, yaitu:

 Isolating errors.
 Reporting only on items examined.
 Performing 100% audits.
 Projecting results of sample.

Teknik-teknik berikut juga akan memfasilitasi penggunaan sampling audit untuk banyak
prosedur audit:

 Mengkombinasi langkah-langkah audit.


 Use a preliminary sample.
 Perform interim audits.
 Enlarge the field size.
 Mengaplikasikan audit sampling yang sederhana.
 Mencapai keseimbangan yang efektif antara biaya dan manfaat audit.