Anda di halaman 1dari 3

Nama : Abidah Noor Azizah

Nim : 151910113028

Fakultas : Vokasi

Garuda :7

Ksatria : 14

Tema : Diplomasi Maritim Dianggap Kurang Berperan Dalam Mewujudkan


Indonesia Sebagai Poros Maritim Dunia

Roleplay : LSM (PRO)

Diplomasi adalah seni dan praktik bernegosiasi oleh seseorang atau yang biasa disebut
diplomat. Yang biasanya mewakili sebuah Negara atau organisasi. Diplomasi sendiri
biasanya terkait dengan diplomasi internasional, yang biasanya mengurus berbagai
aspek. Yaitu dalam hal budaya, ekonomi, pertahanan dan perdagangan.

Negara Indonesia adalah sebuah Negara maritim. Yang artinya bahwa Negara Indonesia
dikelilingi oleh banyak lautan dan menjadikan lautnya sebagai bagian dari sumber
penghidupan bagi masyarakatnya. Sehingga, diplomasi maritim merupakan negosiasi
atau perundingan yang dilakukan oleh dua Negara atau lebih mengenai batas laut, kerja
sama maritime serta pertahanan.

Berdasarkan UNCLOS 1982, zona – zona maritim yang berada dibawah yurisdiksi
nasional dibagi lagi kedalam dua zona. Zona – zona maritim yang berada dibawah
kedaulatan penuh adalah perairan pedalaman (internal water), perairan kepulauan
(archipelagic water) bagi negara kepulauan, dan laut territorial (territorial sea). Zona-
zona maritim yang berada dibawah wewenang dan hak khusus negara pantai adalah
jalur tambahan (contiguous zone), Zona Ekonomi Eksklusiif (ZEE) dan landas kontinen.

Zona-zona maritim yang berada di luar yurisdiksi nasional adalah laut lepas (high seas)
dan kawasan dasar laut internasional. Mengingat fungsi laut sebagai sumber daya yang
dapat dikonversi menjadi nilai ekonomi, maka aktivitas manusia dalam kaitan
kepentingan pemanfaatan sumber daya laut, terkadang memperlihatkan kecenderungan
tidak memperhatikan fungsi laut lainnya.

Tanpa peraturan tegas dalam pemanfaatan laut, maka akan menimbulkan terjadinya
konflik pemanfaatan ruang di laut. Salah satu persoalan yang dapat memicu
persengketaan antar negara, adalah masalah perbatasan. Anggapan bahwa situasi
regional kawasan Asia Pasifik dalam tiga dekade ke depan tetap aman dan damai, tidak
sepenuhnya benar. Kawasan ini bertabur potensi konflik yang diakibatkan oleh berbagai
persoalan, antara lain ketidak sepahaman mengenai garis batas antar negara yang belum
terselesaikan, peningkatan perlombaan persenjataan dan eskalasi kekuatan militer baik
oleh negara kawasan maupun negara dari luar kawasan serta eskalasi aksi terorisme
lintas negara dan gerakan sparatis bersenjata, yang dapat mengundang kesalah pahaman
antar negara tetangga dan lain-lain.

Faktor-faktor potensial di kawasan yang dapat menyulut persengketaan terbuka tersebut


antara lain adalah persaingan antara negara besar di kawasan (Amerika Serikat dan
Tiongkok), serta situasi sengketa perbatasan Laut Tiongkok Selatan yang makin
memanas, yang melibatkan berbagai negara pengklaim (Claimant States), yang juga
menyangkut perbatasan nasional Indonesia di ZEE dan landas kontinental di utara
Kepulauan Natuna.

Mengingat kerawanan perbatasan antar negara sering menjadi penyebab sengketa maka
diplomasi maritim perlu ditujukan untuk mencapai kepentingan nasional, yakni
mewujudkan Indonesia yang berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi,
berkepribadian dalam kebudayaan, berdaulat di bidang pertahanan, dengan latar
belakang geostrategi sebagai negara maritim. Diplomasi maritim tetap dijalankan
berdasarkan politik luar negeri yang bebas dan aktif.

Dari penjelasan yang ada diatas tentang diplomasi maritim di Indonesia, menurut saya
Negara Indonesia tidak akan dapat menjadi poros maritim dunia jika hanya menangani
dalam hal diplomasi saja. Laut di Indonesia begitu luas, dan sektor yang dapat
dimanfaatkan juga sangat banyak. Jika melihat para penduduk Indonesia saat ini,
terutama yang memiliki sumber penghasilan dari laut, mereka belum sepenuhnya
terfasilitasi dengan baik. Dibanding dengan Negara – Negara lain seperti Jepang.
Padahal jika dilihat, Indonesia memiliki lautan yang lebih luas daripada Jepang. Jika
Indonesia ingin menjadi poros maritim dunia, Indonesia harus mau untuk
menyejahterakan nelayan – nelayannya.

Banyak hal yang dapat dilakukan Indonesia untuk dapat lebih menyejahterkan dan
memajukan dalam sektor tersebut. Salah satunya yaitu dengan memberikan pelatihan –
pelatihan pada nelayan agar dapat menigkatkan kualitas dari sumber daya manusianya.
Kemudian tentu tidak ada salahnya jika Indonesia memperketat ketahanan dan
keamanan wilayah maritimnya terutama di wilayah perbatasan – perbatasan Indonesia
dengan Negara – Negara tetangga. Sehingga tidak sampai ada warga Negara asing yang
mengambil sumber daya alam yang ada di Indonesia. Dan juga membantu para nelayan
agar mereka dapat meningkatkan hasil tangkapan mereka sehingga meningkatkan
kualitas kehidupan mereka.

Selain itu, hal yang tidak kalah penting lainnya yaitu aspek yang memudahkan
transportasi di jalur kelautan. Hal ini penting karena Indonesia yang terdiri dari banyak
pulau sehingga diperlukan sarana agar mempermudah masyarakatnya dalam hal
bepergian misalnya. Dan pasti akan lebih bermanfaat juga dalam bidang ekonomi.
Karena dengan adanya fasilitas – fasilitas tersebut maka dapat membuat kegiatan
perekonomian menjadi lebih cepat, mudah dan efektif. Sehingga dapat membuat laju
ekonomi rakyat menjadi lebih baik. Jika roda perekonomian suatu Negara bagus maka
sumber daya manusia di Negara tersebut pun ikut berkembang menjadi lebih baik lagi.
Dengan adanya fasilitas – fasilitas yang mempermudahkan perekonomian, mungkin
bahkan tidak hanya akan ada kegiatan perekonomian antar pulau saja. Karena jika
fasilitas tersebut terpenuhi maka akan membuat kegiatan perekonomian antar Negara
pun akan lebih mudah.

Sehingga jika Indonesia ingin menjadi poros maritim dunia, hal yang perlu dibenahi
terlebih dahulu ialah sumber daya masyarakatnya serta sarana dan prasarana yang
mendukung agar sumber daya manusianya menjadi lebih bagus lagi. Jika hal tersebut
terpenuhi maka dapat dipungkiri jika Indonesia kelak dapat menjadi poros maritim
dunia.