Anda di halaman 1dari 18

Nama : Novety Hanna Kurniawati

Nim : P27820118033

TUGAS RESUME KEPERAWATAN PROFESIONAL


KONSEP STANDART KEPERAWATAN DAN SISTEM LEGALISASI DALAM
KEPERAWATAN
A. KONSEP STANDART KEPERAWATAN
1. Pengertian
Standar menurut Wiyono D, 1999, adalah suatu spesifikasi teknis atau sesuatu
yang dilakukan, disusun berdasarkan konsensus semua pihak yang terkait dengan
memperhatikan syarat-syarat: kesehatan, keteladanan, perkembangan ilmu
pengtahuan dan teknologi, pengalaman serta perkembangan masa kini dan masa
yang akan datang guna memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya. Standar
menurut Potter dan Perry, 2005, adalah pengkuran atau pedoman yang berfungsi
sebagai dasar untuk perbandingan ketika mengevaluasi fenomena.
Beberapa pengertian tentang standar keperawatan disampaikan oleh beberapa
sumber sebagai berikut :
1. Standar keperawatan merupakan bimbingan dalam melaksanakan asuhan
keperawatan, sehingga dapat menjamin kualitas pelayanan dan konsisten.
Dengan mengikuti standar, perawat dapat terhindar dari kesalahan dalam
melakukan asuhan keperawatan, karena standar paling efektif dalam
mempertanggung jawabkan pekerjaan (Schweiger, 1980).
2. Standar keperawatan adalah sesuatu pernyataan yang absah dan sangat efektif
untuk menilai asuhan keperawatan yang diberikan, karena berisi ;’Pkriteria-
kriteria keberhasilan yang dapat dievaluasi (Mason, 1984).
3. Standar keperawatan adalah pernyataan atau kelompok pernyataan yang
menentukan tanggung jawab dan akontabilitas keperawatan (Marker, 1988).
4. Standar keperawatan berisi kriteria-kriteria yang perlu dilaksanakan dalam
menyelenggarakan praktik keperawatan, sehingga asuhan keperawatan yang
dihasilkan mempunyai mutu, efektifitas serta efisiensi sesuai dengan harapan
(Dep Kes RI, 1994).
5. Standar praktik keperawatan menurut Gillies, 1996 adalah pernyataan
deskriptif dari penampilan yang diinginkan sehingga kualitas struktur, proses
dan hasilnya dapat dinilai.
6. Standar praktik keperawatan memberikan arahan dan bimbingan langsung
terhadap perawat yang ingin melakukan praktik keperawatan (Mc Closkey &
Grace, 1990).
7. Standar asuhan keperawatan menurut Potter dan Perry, 2005, adalah tingkat
minimal asuhan yang diterima untuk memastikan diberikannya asuhan
berkualitas tinggi pada klien. Standar asuhan mendefinisikan jenis-jenis terapi
yang biasanya diberikan pada klien dengan masalah atau kebutuhan tertentu.
2. Tujuan Dan Kepentingan Standart Dalam Praktek Keperawatan.
Tujuan umum standar praktek keperawatan
meningkatkan asuhan atau pelayanan keperawatan dengan cara memfokuskan
kegiatan atau proses pada usaha pelayanan untuk memenuhi kriteria pelayanan
yang diharapkan. Berguna bagi :
1. Perawat
Pedoman membimbing perawat dalam penentuan tindakan keperawatan yang
dilakukan teradap kien.
2. Rumah sakit
Meningkatkan efisiensi dan efektifitas pelayanan keperawatan di rumah sakit.
3. Klien
Perawatan yang tidak lama, biaya yang ditanggung keluarga menjadi ringan.
4. Profesi
Alat perencanaan mencapai target dan sebagai ukuran evaluasi.
5. Tenaga kesehatan lain
Mengetahui batas kewenangan dengan profesi lain sehingga dapat saling
menghormati dan bekerja sama secara baik.
3. Macam Standart keperawatan
Berdasarkan surat keputusan DPP PPNI No.03/DPP/SK/1995, maka standar
keperawatan di Indonesia di kategorikan menjadi empat jenis standar, yaitu:
standar pelayanan keperawatan, standar praktik keperawatan, standar pendidikan
keperawatan, dan standar pendidikan berkelanjutan bagi perawat.
1. Standar Pelayanan Keperawatan
a. Standar 1
Divisi keperawatan mempunyai falsafah dan struktur yang menjamin
pemberian asuhan keperawatan yang bermutu tinggi dan merupakan sarana
untuk menyelesaikan berbagai persoalan praktek keperawatan di seluruh
institusi asuhan/pelayanan keperawatan.
b. Standar 2
Divisi keperawatan dipimpin oleh seorang perawat eksekutif yang
memenuhi persyaratan dan anggota direksi.
c. Standar 3
Kebijaksanaan dan praktek divisi keperawatan menjamin pelayanan
keperawatan merata dan berkesinambungan yang mengakui perbedaan
agama, sosial budaya, dan ekonomi di antara klien/pasien di institusi
pelayanan kesehatan.
d. Standar 4
Divisi keperawatan menjamin bahwa proses keperawatan digunakan untuk
merancang dan memberikan asuhan untuk memenuhi kebutuhan individu
klien/pasien dalam konteks keluarga.
e. Standar 5
Divisi keperawatan menciptakan lingkungan yang menjamin efektivitas
praktik keperawatan.
f. Standar 6
Divisi keperawatan menjamin pengembangan berbagai program
pendidikan untuk menunjang pelaksanaan asuhan keperawatan yang
bermutu tinggi.
g. Standar 7
Divisi keperawatan memprakarsai, memanfaatkan, dan berperan serta
dalam berbagai proyek penelitian untuk peningkatan asuhan klien/pasien.
2. Standar Praktik Keperawatan
Standar asuhan meliputi prosedur, standar asuhan genetik, dan rencana
asuhan (care plans). Mereka merupakan alat untuk memastikan perawatan
pasien yang aman dan memastikan hasil yang berasal dari pasien ini.Prosedur
adalah urain tahap pertahap tentang bagaimana melakukan keterampilan
psikomotor dan bersifat orientasi tugas. Protokol meliputi lima kategori utama:
manajemen pasien dengan peralatan invasi, manajemen pasien dengan
peralatan non invatif; manajemen status fisiologis dan psikologis; dan diagnosa
keperawatan tertentu. Standar asuhan genetik menguraikan harapan asuhan
minimal yang disediakan bagi semua pasien diamanapun pasien
dirawat.Rencana asuhan dibuat dan biasanya mempunyai hubungan dengan
diagnosa medis pasien dan diagnosa keperawatan pasien.
a. Standar 1
Pengumpulan data tentang status kesehatan klien/pasien dilakukan secara
sistematis dan berkesinambungan.Data yang diperoleh dikomunikasikan
dan dicatat.
b. Standar 2
Diagnosis keperawatan dirumuskan berdasarkan data status kesehatan.
c. Standar 3
Rencana asuhan keperawatan meliputi tujuan yang dibuat berdasarkan
diagnosis keperawatan.
d. Standar 4
Rencana asuhan keperawatan meliputi prioritas dan pendekatan tindakan
keperawatan yang ditetapkan untuk mencapai tujuan yang disusun
berdasarkan diagnosisi \keperawatan
e. Standar 5
Tindakan keperawatan member kesempatan klien/pasien untuk
berpartisipasi dalam peningkatan, pemeliharaan, dan pemulihan kesehatan.
f. Standar 6
Tindakan keperawatan membantui klien/pasien untuk mengoptimalkan
kemampuannya untuk hidup sehat
g. Standar 7
Ada tidaknya kemajuan dalam mencapai tujuan ditentukan oleh
klien/pasien dan perawat.
h. Standar 8
Ada tidaknya kemajuan dalam pencapaian tujuan memberi arah untuk
melakukan pengkajian ulang, pengaturan kembali urutan priorijtas,
penetapan tujuan baru, dan perbaikan rencana asuhan keperawatan.
3. Standar Pendidikan Keperawatan
a. Standar 1
Lembaga keperawatan berada dalam suatu institusi pendidikan tinggi
b. Standar 2
Lembaga pendidikan keperawatan mempunyai falsafah yang
mencerminkan misi dan institusi induk dan dinyatakan dalam kurikulum
c. Standar 3
Lembaga pendidikan keperawatan konsisten dengan struktur administrative
dari institusi induk dfan secara jelas menggambarkan jalur-jalur hubungan
keorganisasian, tanggung jawab dan komunikasi
d. Standar 4
Sumber daya menusia, financial, dan material dari lembaga pendidikan
keperawatan memenuhi persyaratan dalam kualitas maupun kuantitas untuk
memperlancar proses pendidikan.
e. Standar 5
Kebijaksanaan lembaga pendidikan keperawatan yang mengatur
penerimaan seleksi dan kemajuan mahasiswa mencerminkan falsafah dan
standar institusi, dengan tetap berpedoman pada aturan yang berlaku bagi
suatu lembaga pendidikan tinggi.
f. Standar 6
Lingkungan lembaga pendidikan keperawatan menjamin terselenggaranya
Tri Dharma Penguruan Tinggi, keterlibatan keprofesian, dan
perkembangan kepemimpinan dari tenaga pengajar dan mahasiswa, serta
member kesempatan pengembangan bakat dan minat mahasiswa.
g. Standar 7
Penyelenggaraan pendidikan keperawatan menggunakan kurikulum
nasional yang dikeluarkan oleh lembaga berwenang dan dikembangkan
sesuai dengan falsafah dan misi dari lembaga pendidikan yang
bersangkutan.
h. Standar 8
Tujuan dan desain kurikulum pendidikan keperawatan professional
mencermikan falsafah pendidikan keperawatan.Mempersiapkan
perkembangan sikap, dan kompetensi khusus bagi para lulusannya.
i. Standar 9
Lembaga pendidikan keperawatan ikut serta dalam program evaluasi
internal dan eksternal yang sistematis.
j. Standar 10
Lulusan program pendidikan keperawatan professional mengemban
tanggungjawab professional sesuai dengan persiapan tingkat pendidikan.

4. Standar Pendidikan Keperawatan Berkelanjutan


a. Standar 1
Seluruh organisasi dan administrasi dari unit penyelenggara pendidikan
berkelanjutan konsisten dengan falsafah, maksdud dan tujuan lembaga
penyelenggara, dan standar pendidikan keperawatan, praktek keperawatan,
dan pendidikan yang bertkelanjutan yang dikeluarka oleh organnisasi
profesi keperawatan nasional.
b. Standar 2
Pemimpin tenaga pengajar, narasumber, dan staf penunjang yang
berkualitas diikut sertakan dalam pencapaian tujuan unit penyelenggara
pendidikan berkelanjutan.
c. Standar 3
Peserta didik berpartisipasi didalam identifikasi kebutuhan belajar mereka
dan dalam merencanakan kegiuatan pendidikan berkelanjutan untuk
memenuhi kebutuhan tersebut
d. Standar 4
Desain pendidikan berkelanjutan untuk setiap program terdiri atas
pengalaman belajar yang terencana, organisasi, dan dievaluasi berdasarkan
prinsip pendidikan orang dewasa.
e. Standar 5
Sumber daya material dan fasilitas memadai untuk mencapai tujuan dan
melaksanakan fungsi seluruh unit penyelenggara pendidikan berkelanjutan.
f. Standar 6
Penyelenggaraan pendidikan berkelanjutan menetapkan dan memelihara
system penyampaian pencatatan, dan pelaporan.
g. Standar 7
Evaluasi merupakan proses kendali mutu yang integral, konstitusi, system
pada unit penyelenggaraan pendidikan berkelanjutan setiap program.
Evaluasi meliputi pengukuran dampak dan bila mungkin pada organisasi
pelayanan kesehatan.

4. Sumber Standart keperawatan


1. Organisasi profesional, misalnya PPNI, AIPNI, dll.
2. Badan yang memiliki ijin, misalnya badan hukum.
3. Institusi / lembaga kesehatan, misalnya Rumah Sakit, Pusat Kesehatan.
4. Pemerintah, misalnya departemen kesehatan pusat atau pemerintah daerah.

Berdasarkan SK.No.03/DPP/SK/I996 standar profesi keperawatan terdiri dari :

1. Standar pelayanan keperawatan


2. Standar praktek keperawatan
3. Standar pendidikan keperawatan
4. Standar pendidikan berkelanjutan
B. SISTEM LEGALISASI DALAM KEPERAWATAN

Ketetapan hukum yang mengatur hak dan kewajiban seseorang yang


berhubunganerat dengan tindakan keperawatan

1. Tujuan
a. Melindungi masyarakat dan perawat
b. Mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan keperawatan
c. Melidungi masyarakat atas tindakan yang dilakukan
d. Menetapkan standar pelayanan keperawatan
e. Menapis IPTEK keperawatan
f. Menilai boleh tidakya praktik
g. Menilai kesalahan dan kelalaian
C. CREDENTIAL DALAM KEPERAWATAN

A. Definisi Credential

Credentialing adalah review dari kualifikasi individu atau organisasi.Jadi,


kredensial dapat diartikan sebagai bukti tertulis dari organisasi profesi dalam upaya
mempertahankan standar praktik dan akuntabilitas anggotanya.Credentialing
merupakan suatu bentuk keberhasilan seseorang untuk memperoleh nilai dari suatu
badan kredensial. Credentialing merupakan keseragaman proses yang telah
disetujui oleh semua anggota. Hal ini berarti badan tersebut dapat menerapkan
standar yang sama pada setiap aplikasi kredensial.

a. Menurut Kozier Erb (2004), credentialing merupakan salah satu cara


profesi keperawatan mempertahankan standar praktik dan akuntabilitas
persiapan pendidikan anggotanya.
b. Definisi lain menurut (Guido, 2006) adalah suatu bukti pengakuan yang
biasanya dalam bentuk tertulis yang menyatakan bahwa individu atau
organisasi mempunyai standar praktek yang spesifik.
B. Credensial Dalam Keperawatan

a. Kozier Erb (2004) menjelaskan bahwa credentialing merupakan salah satu


cara profesi keperawatan mempertahankan standar praktik dan
akuntabilitas persiapan pendidikan anggotanya. Kredensial merupakan
proses untuk menentukan dan mempertahankan kompetensi keperawatan.
Proses kredensial merupakan salah satu cara profesi keperawatan
mempertahankan standar praktik dan akuntabilitas persiapan pendidikan
anggotanya.
b. Kredensial meliputi pemberian izin praktik (lisensi), registrasi
(pendaftaran), pemberian sertifikat (sertifikasi) dan akreditasi.
Di lingkungan Oxford dan United Health Care, kredensial diberikan
dengan beberapa kriteria, antara lain:
a. Secara umum mempunyai izin sah dari pemerintah;
b. Secara umum mempunyai DEA atau sejenisnya;
c. Lulus Pendidikan Keperawatan dan mempunyi sertifikat keperawatan;
d. Mempunyai izin dari instansi rumah sakit;
e. Mempunyai asuransi malpraktik
f. Mempunyai persetujuan kolaboratif dengan tenaga spesialis lainnya;
g. Mempunyi protokoler praktik
h. Mempunyi pengalaman
Dari hal diatas, dapat disimpulkan bahwa kredensial itu diperlukan untuk
menjaminkualitas standar pelayanan praktik seseorang sehingga baik
praktisi atau komsumenmempunyi jaminan yang secara legal dapat
dipertanggung jawabkan oleh instansi atauorganisasi.
C. Registrasi
Registrasi merupakan pencantuman nama seseorang dan informasi lain pada
badanresmi baik milik pemerintah maupun non pemerintah. Perawat yang telah
terdaftar diizinkanmemakai sebutan registered nurse. Untuk dapat terdaftar, perawat
harus telah menyelesaikanpendidikan keperawatan dan lulus ujian dari badan
pendaftaran dengan nilai yang diterima.Izin praktik maupun registrasi harus
diperbaharui setiap satu atau dua tahun.Dalam masa transisi professional
keperawatan di Indonesia, sistem pemberian izin praktikdan registrasi sudah
saatnya segera diwujudkan untuk semua perawat baik bagi lulusan SPK,akademi,
sarjana keperawatan maupun program master keperawatan dengan lingkup
praktiksesuai dengan kompetensi masing-masing.
D. Sertifikasi
Sertifikasi merupakan proses pengabsahan bahwa seorang perawat telah
memenuhistandar minimal kompetensi praktik pada area spesialisasi tertentu seperti
kesehatan ibu dananak, pediatrik , kesehatan mental, gerontology dan kesehatan
sekolah. Sertifikasi telahditerapkan di Amerika Serikat.Di Indonesia sertifikasi belum
diatur, namun demikian tidakmenutup kemungkinan dimasa mendatang hal ini
dilaksanakan.
E. Akreditasi
Akreditasi merupakan suatu proses pengukuran dan pemberian status akreditasikepada
institusi, program atau pelayanan yang dilakukan oleh organisasi atau badan
pemerintah tertentu.Izin & Penyelenggaraan Praktik Perawat Di Indonesia Bagi setiap
profesi atau pekerjaan untuk mendapatkan hak izin praktik bagianggotanya, biasanya
harus memenuhi tiga kriteria :
1. Ada kebutuhan untuk melindungi keamanan atau kesejahteraan masyarakat.
2. Pekerjaan secara jelas merupakan area kerja yang tersendiri dan terpisah.
3. Ada suatu organisasi yang melaksanakan tanggung jawab proses pemberian
izin.(Kozier Erb, 1990).Dalam Undang-Undang RI Nomor 36 tentang Kesehatan
Tahun 2009 dijelaskanbahwa Pengendalian, pengobatan, dan/atau perawatan dapat
dilakukan berdasarkan ilmukedokteran dan ilmu keperawatan atau cara lain yang
dapat dipertanggungjawabkankemanfaatan dan keamanannya.Berdasarkan
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
NomorHK.02.02/Menkes/148/I/2010 tentang izin dan penyelenggaraan praktik
perawat, bahwaperawat dapat melakukan praktik pada fasilita pelayanan kesehatan
yang untukmenyelenggarakan upaya kesehatan promotif, preventif, kuratif, dan
rehabilitatif. Dalamperaturan ini registrasi dan legislasi tenaga keperawatan mulai
dilakukan. STR atau SuratTanda Registrasi adalah bukti tertulis yang diberikan
oleh pemerintah kepada tenagaperawat yang telah memiliki sertifikat
kompetensi.Dengan adanya Peraturan Menteri Kesehatan ini setidak-tidaknya
merupakan peluangbagi perawat untuk melakukan praktik keperawatan sesuai
dengan standar untuk dapatmenerapkan ilmu keperawatan yang telah
didapatkannya.
1. UNDANG UNDANG YANG BERHUBUNGAN DENGAN LISENSI
Pemberian izin melakukan praktek keperawatan
1. LISENSI /LEGISLASI : Pasal 4 : 2 SIP diterbitkasn oleh kadinkes
Propinsi atasnama Menkes, dalamwaktu selambat-lambatnya bulan
sejak permohonan diterima dan berlaku secara nasionalPasal2 :
Kelengkapan : Pc. Pendidikan perawat, ket sehat, pas photo 4×6 2 lmb
2. PPNI ( Bab VI ayat 4 ) : Organisasi profesi mempunyai kewajiban
membimbing dan mendorong paraanggotanya untuk dapat mencapai
angka kredit yang telah ditentukan.
3. SIP ( Babab II pasal 7 ) SIP : Berlaku 5 tahu dan dapat diperbaharui
serta merupakan dasar untuk memperoleh SIK dan atau SIPP
4. Ayat 2 : Pembaharuan SIP dilakukan pd Dinas kes prov., dimana
perawat melaksanakan asuhankeperawatan dengan melampirkan :
a. SIP yang telah habis masa berlaku
b. Surat keterangan Sehat dari dokter
c. Poto 4 x 6 2 lembar
5. Peran organic : ( Bab IV pasal 15 ): Berwewenang untuk :
a. Melaksanakan Asuhan keperawatan yang meliputi pengkajian
penetapan diagnosa keperawatan perencanaan,
melaksanakantindakan keperawatan dan evalusi
b. Tindakan keperawatan : Interverensi keperawatan observasi
keperawatan, pendidikan dan konseling kesehatan
c. Dalam melaksanakan asuhan keperawatan sesuai dengan standar
profesi yg ditetapkan oleh organisasi profesi
6. Pelayanan medik hanya dapat dilakukan berdasarkan tindakan tertulis
dari dokter
PERIZINAN : Bab III
Pasal (8)
1) Perawat dapat melaksanakan praktek keperawatan pada
sarana pelayanan kesehatan,praktek perorangan dan atau kelompok
2) Perawat yang melaksanakan praktek harus mempunyai Sip
3) Perawat yang melakukan praktek keperawatan perorangan/kelompok
harus mempnyai SIPP
Pasal (9)
SIK : Diperoleh dengan mengajukan permohonan kepada kepala
Dinkes kab/kota setempat
Pasal(10)
SIK : hanya berlaku 1 saran pelayanan kesehatan
PEJABAT YG BERWENANG ( bab V )
(pasal 24 ) Pejabat yang berwenang mengeluarkan SIPP/mencabut-
>kadinkes kota/kabupaten(pasal 24 ayat 2) : Kadinkes propinsi dapat
menunjuk pejabat lain.
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN (Bab VI )
Pasal 27:1 Perawat wajib mengumpulkan angkredit 27:4 Profesi wajib
membimbing anggotanya untuk mencapai angkredit yg ditentukan
29:Ka. Dinakes kota/PPNI melakukan pembinaan dalam menjalankan
praktek keperawatan Majelis kode etik keperawatan: pasal 33: Sebelum
mencabut izin SIP/SIK harus mendengarkan pertimbangan dari MDTK
(majelis disiplin tenaga kesehatan)
Pasal 34 : Pencabutan izin
Pasal 36 : dalam keadaan luar biasa untuk kepentingan nasional mentri
kesehatan dan atau atasrekomendasi orang profesi mencabut untuk
sementara SIK/SIP perawat yang melanggra ketentuan dan peraturan
yang berlaku
Sertifikasi : Pengakuan kompetensi sebagai professional untuk dapat
diberikan kewewnanganmelaksanakan askep profesionaldalam benmtuk
praktek keperawatan professional.
Standar praktek keperawatan :
- Pendidikan keperawatan berkelanjutan
- Peran PPNI
- Dasar hokum perawat sebagai profes
CARA UNTUK MENDAPATKAN PERIZINAN
Pemberian Lisensi Keperawatan
1. Pemberian Lisensi D III Keperawatan
Akreditasi merupakan suatu proses dan pemberian status
akreditasi kepada institusi, program atau pelayanan yang dilakukan
oleh organisasi atau badan pemerintah tertentu. Hal – hal yang
diukur meliputi struktur, proses dan kriteria, hasil. Pendidikan
keperawatan pada waktu tertentu dilakukan penilaian atau
pengukuran untuk pendidikan D3 keperawatan.
2. Pemberian Lisensi SI Keperawatan
SPK dikoordinator oleh Pusat Diknakes sedangkan untuk
jenjang S1 oleh Dikti.Pengukuran Rumah Sakit dilakukan dengan
suatu sistem akreditasi rumah sakit yang sampai saat ini terus
dikembangkan (Yohanatan, 2014).
Izin praktek keperawatan diperlukan oleh profesi dalam upaya
mengingatkan dan menjamin professional anggotanya. Bagi
masyarakat izin praktek keperawatan merupakan perlindungan bagi
mereka untuk mendapat pelayanan dari perawat professional yang
benar-benar mampu dan mendapat pelayanan keperawatan dengan
mutu tinggi.
Tidak adanya izin keperawatan menempatkan profesi
keperawatan pada posisi yang sulit untuk menetukan mutu
keperawatan. Kita ketahui bahwa di Indonesia terdapat berbagai
jenjang pendidikan keperawatan dengan standar atau mutu antar
institusi pendidikan yang tidak sama. Secara sederhana dapat
dinyatakan bahwa seseorang yang telah lulus dan pendidikan
keperawatan belum tentu cukup menguasai kompetensinya sebagai
perawat. Situasi inilah yang membuat para pemimpin keperawatan
cukup prihatin.Pihak pasien tidak tahu apakah pendidikan perawat
atau justru diperburuk oleh kualitas keperawatan yang diberikan
oleh perawat (Setiani, 2013).
Perkembangan pemberian izin praktek keperawatan cukup
bervariasi di setiap Negara.Di Amerika Serikat misalnya, izin
praktek keperawatan diberikan pada perawat professional mulai
pada tahun 1903 tepatnya di Negara bagian North Carolina.Pada
tahun 1923 semua Negara bagian telah mempunyai izin praktik bagi
para perawat.
Untuk mendapatkan izin praktek maka seorang lulusan dari
pendidikan professional keperawatan harus mendaftarrkan diri pada
dewan keperawatan yang ada di setiap provinsi untuk mengikuti
ujian (Setiani, 2013).

LISENSI (IZIN PRAKTEK) KEPERAWATAN


Izin praktek keperawatan pada dasarnya bukan merupakan topik
baru bagi para perawat Indonesia. PPNI dalam berbagai kesempatan
telah mendiskusikan topik ini. Para ahli yang antusias dalam
mengembangkan kualitas dan praktek keperawatan telah pula
memberikan sumbangan pikiran. Namun, izin praktek keperawatan
sampai saat ini masih tetap merupakan perjuangan keperawatan.
Bagi setiap profesi atau pekerjaan untuk mendapatkan hak izin
praktek bagi anggotanya, biasanya harus memenuhi tiga kriteria :
a. Ada kebutuhan untuk melindungi keamanan atau
kesejahteraan masyarakat.
b. Pekerjaan secara jelas merupakan area kerja yang tersendiri
dan terpisah.
c. Ada suatu organisasi yang melaksanakan tanggung jawab
proses pemberian izin.
d. Izin praktek keperawatan diperlukan oleh profesi dalam
upaya meningkatkan dan menjamin professional
anggotanya. Bagi masyarakat izin praktek keperawatan
merupakan perangkat perlindungan bagi mereka untuk
mendapat pelayanan dari perawat professional yang benar-
benar mampu dan mendapat pelayanan keperawatan dengan
mutu tinggi.
e. Tidak adanya izin keperawatan menempatkan profesi
keperawatan pada posisi yang sulit untuk menentukan mutu
keperawatan. Kita ketahui bahwa di Indonesiaterdapat
berbagai jenjang pendidikan keperawatan dengan standar
atau mutu antar institusi pendidikan yang tidak sama. Secara
sederhana dapat dinyatakan bahwa seseorang yang telah
lulus dari pendidikan keperawatan belum tentu cukup
menguasai kompetensinya sebagai perawat. Situasi inilah
yang membuat para pemimpin keperawatan cukup prihatin.
Pihak pasien tidak tahu apakah pendidikan perawat atau
justru diperburuk oleh kualitas keperawatan yang diberikan
oleh para perawat yang dipersiapkan dengan tidak mantap.
f. Perkembangan pemberian izin praktek keperawatan cukup
bervariasi di setiap Negara. Di Amerika Serikat misalnya,
izin praktek keperawatan diberikan pada perawat
professional mulai pada tahun 1903 tepatnya di Negara
bagian North Carolina. Pada tahun 1923 semua Negara
bagian telah mempunyai izin praktik bagi
g. para perawatUntuk mendapatkan izin praktek maka seorang
lulusan dari pendidikan professional keperawatan harus
mendaftarkan diri pada dewan keperawatan yang ada di
setiap provinsi untuk mengikuti ujian. Di Amerika Dewan
ini bernama State Board of Nursing, atau Board of
Registered Nursing, atau Board of Nurse Examinors. Biaya
h. ujian cukup bervariasi antara US25-100.Bagi para perawat
yang telah menyelesaikan pendidikan spesialisasi
keperawatan (Master Degree) maka kepada mereka
diperbolehkan mengikuti ujian untuk mendapatkan izin
advanced nursing practice. Ujian yang diselenggarakan
sesuai dengan spesialisasi misalnya perawat spesialis
anestesi, perawat spesialis kebidanan, perawat spesialis
klinik, perawat spesialis anak, perawat spesialis kesehatan
keluarga, perawat spesialis kesehatan sekolah, perawat
spesialis jiwa dan lain-lain. Setelah lulus ujian maka kepada
mereka diberi sebutan keprofesian sesuai spesialisasi yang
diambil.
2. UNDANG UNDANG YANG BERHUBUNGAN DENGAN
REGISTRASI
Registrasi adalah pencatatan resmi terhadap perawat yang telah
memiliki Sertifikat Kompetensi atau Sertifikat Profesi dan telah mempunyai
kualifikasi tertentu lainnya serta telah diakui secara hukum untuk menjalankan
Praktik Keperawatan.
Surat Tanda Registrasi disingkat STR adalah bukti tertulis yang
diberikan oleh Konsil Keperawatan kepada Perawat yang telah diregistrasi.
Perawat yang menjalankan Praktik Keperawatan wajib memiliki STR
yang diberikan oleh Konsil Keperawatan setelah memenuhi persyaratan,
berikut:
a. memiliki ijazah pendidikan tinggi Keperawatan;
b. memiliki Sertifikat Kompetensi atau Sertifikat Profesi;
c. memiliki surat keterangan sehat fisik dan mental;
d. memiliki surat pernyataan telah mengucapkan sumpah/janji profesi; dan
e. membuat pernyataan mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika profesi.
STR berlaku selama 5 (lima) tahun dan dapat diregistrasi ulang setiap 5 (lima)
tahun.
Persyaratan untuk Registrasi ulang, meliputi:
a. memiliki STR lama
b. memiliki Sertifikat Kompetensi atau Sertifikat Profesi
c. memiliki surat keterangan sehat fisik dan mental
d. membuat pernyataan mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika profesi
e. telah mengabdikan diri sebagai tenaga profesi atau vokasi di bidangnya
f. memenuhi kecukupan dalam kegiatan pelayanan, pendidikan, pelatihan,
dan/atau kegiatan ilmiah lainnya.
Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan registrasi ulang poin (e)
dan (f) diatur oleh Konsil Keperawatan.
Ketentuan tata cara Registrasi dan Registrasi ulang diatur dalam
peraturan konsil keperawatan.
Perawat Warga Negara Asing yang sudah mengikuti proses evaluasi
kompetensi dan yang akan melakukan praktik di Indonesia harus memiliki
STR Sementara dan SIPP,STR sementara bagi Perawat Warga Negara Asing
berlaku selama 1 (satu) tahun dan dapat diperpanjang hanya untuk 1 (satu)
tahun berikutnya.
Perawat warga negara Indonesia lulusan luar negeri yang telah lulus Uji
Kompetensi dan akan melakukan Praktik Keperawatan di Indonesia harus
memperoleh STR, yang diberikan oleh Konsil Keperawatan sesuai dengan
ketentuan Peraturan Perundang-undangan.
Konsil Keperawatan merupakan bagian dari Konsil Tenaga Kesehatan
Indonesia.Yang dibentuk untuk meningkatkan mutu Praktik Keperawatan dan
untuk memberikan pelindungan serta kepastian hukum kepada Perawat dan
masyarakat.Dan berkedudukan di ibukota negara Republik Indonesia.
Konsil Keperawatan mempunyai fungsi pengaturan, penetapan, dan
pembinaan Perawat dalam menjalankan Praktik Keperawatan. Dalam
menjalankan fungsinya,Konsil Keperawatan memiliki tugas:
a. melakukan Registrasi Perawat;
b. melakukan pembinaan Perawat dalam menjalankan Praktik
Keperawatan
c. menyusun standar pendidikan tinggi Keperawatan;
d. menyusun standar praktik dan standar kompetensi Perawat; dan
e. menegakkan disiplin Praktik Keperawatan.
Dalam menjalankan tuganya, Konsil Keperawatan mempunyai wewenang:
a. menyetujui atau menolak permohonan Registrasi Perawat, termasuk
Perawat Warga Negara Asing;
b.menerbitkan atau mencabut STR;
c. menyelidiki dan menangani masalah yang berkaitan dengan
pelanggaran disiplin profesi Perawat.
d.menetapkan dan memberikan sanksi disiplin profesi Perawat.
e. memberikan pertimbangan pendirian atau penutupan Institusi
Pendidikan Keperawatan.
Syarat pengurusan SIP:
1. Ijazah dari PT
2. Memiluki Sertifikat Kompetensi
3. Memiliki surat keterangan sehat
4. Salinan STR
5. Surat recomendasi PPNI
3. UNDANG UNDANG YANG BERHUBUNGAN DENGAN
SERTIFIKASI

Bab I
ketentuan umum

Pasal 1

Sertifikat Kompetensi adalah surat tanda pengakuan terhadap kompetensi


Perawat yang telah lulus Uji Kompetensi untuk melakukan Praktik
Keperawatan.

Sertifikat Profesi adalah surat tanda pengakuan untuk melakukan praktik


Keperawatan yang diperoleh lulusan pendidikan profesi.

Bab III

Pendidikan tinggi keperawatan

Pasal 16
1. Mahasiswa Keperawatan pada akhir masa pendidikan vokasi dan
profesi harus mengikuti Uji Kompetensi secara nasional.
2. Uji Kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan
oleh perguruan tinggi bekerja sama dengan Organisasi Profesi Perawat,
lembaga pelatihan, atau lembaga sertifikasi yang terakreditasi.
3. Uji Kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditujukan untuk
mencapai standar kompetensi lulusan yang memenuhi standar
kompetensi kerja.
4. Standar kompetensi kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (3) disusun
oleh Organisasi Profesi Perawat dan Konsil Keperawatan dan
ditetapkan oleh Menteri.
5. Mahasiswa pendidikan vokasi Keperawatan yang lulus Uji Kompetensi
diberi Sertifikat Kompetensi yang diterbitkan oleh perguruan tinggi.
6. Mahasiswa pendidikan profesi Keperawatan yang lulus Uji
Kompetensi diberi Sertifikat Profesi yang diterbitkan oleh perguruan
tinggi.
7. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pelaksanaan Uji Kompetensi
diatur dengan Peraturan Menteri yang menyelenggarakan urusan
pemerintahan di bidang pendidikan.
CARA MENDAPATKAN SERTIFIKASI

1. Dengan mengikuti pelatihan-pelatihan dan seminar-seminar nasional.


Seperti Sertifikasi BTCLS, PPGD, BTLS, GELS, Ke-Gawat-Darurat-
an. Sertifikasi ini digunakan bagi perawat dan caregiver serta tenaga
medis lainnya dalam menangani pasien yang rujukannya di rumah sakit,
khususnya di Unit Gawat Darurat (UGD), Perusahaan, Puskesmas dan
Klinik.
2. Seluruh tenaga medis yang memiliki sertifikat ini tentunya telah
mampu menangani kasus ke-gawat-darurat-an kardiovaskuler, termasuk
di dalamnya serangan jantung (Acute Miocard infark) dan arythmia
lethal. Tenaga medis yang memegang sertifikat ini telah dipercaya
menggunakan alat Automatic External defibrillator yang merupakan
alat basic standar internasional. Selain itu, memiliki juga kemampuan
untuk menangani berbagai kasus ke-gawat-darurat-an trauma,
khususnya pada kasus-kasus kecelakaan lalu lintas, kecelakaan di
perusahaan atau tempat kerja. Pemilik sertifikat ini mampu melakukan
triage, baik di lokasi bencana maupun di Unit Gawat Darurat.
3. Sertifikat Hyperkes Keperawatan Higiene Perusahaan dan Kesehatan
Kerja. Sertifikasi ini digunakan bagi perawat dan caregiver serta tenaga
medis lainnya dalam menangani pasien di perusahaan atau industri
bahkan sekolah internasional.
4. Basic Sea Survival, Sertifikasi ini digunakan bagi perawat dan
caregiver serta tenaga medis lainnya dalam menangani pasien di
perairan. Sederhananya, para perawat dibekali ilmu yang meliputi
pengenalan perangkat keamanan dan keselamatan di laut atau air.
5. Sertifikasi Perawat Penerbangan, Serupa dengan pemilik sertifikasi
Basic Sea Survival, pemilik sertifikasi perawat penerbangan memiliki
tanggungjawab di bidangnya yang spesifik. Mulai dari perusahaan
pesawat penerbangan domestik dan international, bandara, Lembaga
Kesehatan Penerbangan dan Ruang Angkasa (LAKESPRA) di seluruh
Indonesia atau sejenisnya.
6. Sertifikasi Haemodialisa, Setiap perawat dan caregiver serta tenaga
medis unit Haemodialisa di rumah sakit dan klinik di seluruh Indonesia,
wajib memiliki sertifikat ini. Pemilik sertifikat memiliki tanggungjawab
dengan kemampuan tekhnik Haemodialisa atau cuci darah, penanganan
shock, reused atau pencucian dializer pada Haemodialisa, dan lainnya.
7. Keperawatan Intensive Care Unit (ICU). Sertifikasi ini digunakan bagi
perawat dan caregiver serta tenaga medis lainnya dalam menangani
pasien di ruang ICU, HCU, ICU Rumah Sakit, Klinik, Home care atau
sejenisnya.