Anda di halaman 1dari 7

Plagiarism Checker X Originality

Report
Similarity Found: 28%

Date: Monday, August 05, 2019


Statistics: 381 words Plagiarized / 1365 Total words
Remarks: Medium Plagiarism Detected - Your Document needs Selective
Improvement.
------------------------------------------------------------------------------------------
-

“Aku Generasi Unggul Kebanggaan Bangsa Indonesia” “Membangun Pendidikan


Inklusi Karena mereka bagian dari kita” Oleh Bayu Widyaswara Suwahyo
Pandangan Umum terhadap orang yang memiliki fungsi maupun kemampuan
berbeda disebut dengan disable people atau yang lebih umum disebut dengan
kaum disabilitas, makna kaum disabilitas penggunaannya dianggap kasar.

Sehingga dalam dalam masyarakat sejak tahun 1990 penggunaan kata ini
diaanggap sudah tidak relevan, namun kenyataannya, masyarakat awam yang
kurang memahami ini, masih menggunakan istilah ini sampai saat ini. Disabilitas
merupakan label yang diberikan oleh manusia atau masyarakat untuk menamai
orang yang memiliki kecacatan baik cacat fisik maupun mental, yang keberadaan
mereka dianggap sebagai “beban” oleh sebagian masyarakat.

Padahal, jika kita menemukan metode ataupun cara yang sesuai, mereka dapat
hidup dengan mandiri bahkan dapat berdaya untuk masyarakat. Dalam
kehidupan sehari-hari misal, ada tetangga kita yang memiliki penglihatan kurang
(low Vision) sampai yang buta total. Walaupun mereka memiliki kekurangan,
keahliah mereka dalam pijat baik yang modern maupun tradisional tidak
diragukan.

Penaamaan Disabilitas saat ini sudah bergeser dengan istilah baru, walaupun
mereka memiliki kemampuan fisik maupun mental yang berbeda dengan
manusia pada umumnya sehingga untuk memiliki pekerjaan formal terkadang
mereka kesulitan, namun dengan bekal keahliah yang dimiliki, mereka mampu
bertahan hidup mandiri. Oleh karena itu penggunaaan istilah Dis-
Ability( Ketidakmampuan) menjadi Diferent Ability (kemampuan yang berbeda)
atau disebut difabel.

Sebagai manusia normal yang hidup ditengah-tengah manusia lainnya, kita tentu
sudah memiliki gambaran tentang bagaimana seharusnya manusia normal.
Sebagaimana yang diajarkan pada biologi dalam kelas, manusia adalah makhluk
hidup dengan dua tangan, dua kaki, dua mata, dua telinga, dan memiliki akal
budi serta kepandaian yang membedakan manusia dari binatang.

Gambaran-gambaran ini sudah ada dalam otak kita sejak kecil sehingga ketika
melihat manusia dengan satu tangan atau satu kaki atau bahkan ketika melihat
manusia dengan bentuk kecerdasan yang berbeda, kita akan dengan cepat
mengategorikan manusia tersebut sebagai tidak normal. Pendidikan yang baik
merupakan suatu hal dasar yang harusnya dimiliki manusia, karena dengan ilmu
pengetahuan yang dimiliki manusia memperoleh akal sebagai pembimbing
hidup, sikap, serta keterampilan sehingga manusia dapat hidup sebagaimana
mestinya manusia yang bebrbudi luhur yang memiliki martabat.

Melalui kecakapan yang diperoleh melalui pendidikan kualitas sumber daya


manusia dapat ditingkatkan, sehingga memiliki kecakapan dan keterampilan
untuk membawa bangsa dan negara menuju kearah yang lebih baik. Karena itu
negara ini memiliki kewajiban untuk memberikan pelayanan pendidikan yang
bermutu kepada setiap warganya tanpa terkecuali termasuk mereka yang
memiliki perbedaan dalam kemampuan (difabel). UUD 1945 pasal 31 (1)
mengatakan bahwa “tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran”.

Saat ini pemerintah baik yang di pusat maupun daerah sudah mulai untuk
menaruh perhatian pada pendidikan bagi peserta didik yang memiliki kebutuhan
Khusus. Penyelenggaraan pendidikan yang di tranformasikan secara khusus bagi
anak yang memiliki kelebihan tertentu dan bakat istimewa, termasuk didalamnya
program pembelajaran yang memiliki tujuan untuk menampung pendidikan
khusus merupakan hal yang ideal dari pembangunan Nasional saat ini yakni
pembangunan Insan manusia Indonesia atau sumber daya manusia Indonesia
yang memiliki kualitas yang unggul.

filosofi yang menjadi dasar berkenaan dengan hal tersebut merupakan hal yang
lazim dan harus ada di dalam tujuan pendidikan nasional dan kita harus
bersungguh –sungguh untuk berusaha dengan keras mencapai tujuan
pendidikan tersebut. Saat ini yang menjadi Kelemahan yang terlihat dari
pelaksanaan pendidikan seperti dengan bentuk ini adalah tidak terpenuhinya
kebutuhan individual peserta didik yang berada di luar kelompok peserta didik
normal, dikarenakan oleh fakta keadaan tersebut, saat ini baik di tingkat Nasional
maupun Daerah muncul istilah pendidikan berbasis pendidikan inklusi.

Pendidikan yang memiliki muatan pendidikan inklusi merupakan sebuah


pendekatan yang berusaha mengkolaborasikan kurikulum pendidikan dengan
menghilangkan halangan-halangan yang dapat mengganggu setiap siswa untuk
berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran di dalam kelas, lingkungan
sekolah maupun masyarakat. Dengan kata lain pendidikan berbasis inklusi adalah
pelayanan pendidikan atau pemberian kesempatan yang sama di dalam proses
pembelajaran.

Peserta didik yang berkebutuhan khusus melakukan kegiatan pembelajaran yang


dilakukan bersama-sama dengan anak lainnya (normal) untuk mengoptimalkan
potensi yang dimilikinya. Namun, yang masih dalam catatan pelaksanaan
pendidikan berbasis inklusi, pendidikan pendidikan inklusi ini masih belum
terlaksana dengan baik karena tidak terakomodasinya kebutuhan siswa di luar
kelompok siswa normal.

Saat ini, di baik di tingkat pusat maupun daerah, pemerintah mulai melakukan
penunjukan terhadap sekolah untuk menyelenggarakan pendidikan inklusif.
Terlihat penumbuhan akan kesadaran kolektif untuk memberikan kesempatan
pendidikan yang sama bagi peserta didik difabel. Pemahaman yang perlu
dibangun tentang peserta didik difabel saat ini seharusnya, melihat potensi
mereka untuk berada di bangku sekolah di sekolah umum atau reguler seperti
anak-anak pada umumnya. Bahkan, upaya ini sudah dicanangkan oleh beberapa
Kota maupun Kabupaten dengan mendeklarasikan sebagai kota inklusif.

Indonesia menuju pendidikan inklusi secara formal dideklarasikan pada tanggal


11 agustus 2004 di Bandung, dengan harapan dapat mengakomodasi sekolah
reguler untuk mempersiapkan program pendidikan bagi semua peserta didik
termasuk peserta didik difabel. Setiap Aanak Berkebutuhan Khusus (ABK) berhak
memperolah pendidikan pada semua sektor, jalur, jenis dan jenjang pendidikan.

Anak berkebutuhan Khusus memiliki hak yang sama untuk menggali bakat,
kemampuan dan kehidupan yang sama di dalam kehidupan sosialnya. Gagasan
tentang pendidikan inklusi adalah upaya untuk menciptakan Proses pendidikan
yang melihatnya kekurangan maupun kelebihan dalam setiap diri individu
sebagai hal yang perlu diakomodasi, melalui proses pembelajaran yang berfokus
untuk menemukan keahlian, kelebihan, minat, dan bakat yang dimiliki oleh
masing-masing peserta didik. Seperti yang dikatakan oleh Mike Oliver, pengajar
dan aktivis difabel di Inggris pernah berujar, ide pendidikan inklusi sangatlah
politis.

Inklusi tidak sebatas aturan di atas kertas untuk menempatkan anak difabel dari
sekolah luar biasa (SLB) ke sekolah reguler, melainkan juga terkait proses
tranformasi sekolah untuk memiliki komitmen memberikan pendidikan yang
menghormati dan mempercayai setiap perbedaan individu itu baik, unik, dan
dapat berkembang. Setiap anak dapat bertumbuh dan berkembang dengan baik,
anggapan anak difabel tidak mampu atau tidak kompeten seolah mengizinkan
seorang pendidik untuk meniadakan kesempatan belajar anak.

Artinya, seorang pendidik perlu berfikir dengan jernih bahwa setiap anak memiliki
potensi yang perlu ditemukan, seorang guru atau pendidik yang baik harus
memiliki metode dan cara yang tepat untuk dapat mengakomodasi setiap
peserta didiknya. Sehingga ketika seorang pendidik berpandangan bahwa anak
mampu belajar memungkinkan seorang pendidik untuk dapat menghargai anak
secara horizontal.

Dengan kata lain, memerlukan sebuah sudut pandang yang demokratis, dan
komitmen pada keadilan. Adanya keyakinan bahwa setiap anak mampu belajar
dapat membuat arti pendidikan menjadi hidup dan lebih bermakna. Bahwa
pendidikan khusus atau pendidikan Inklusif merupakan pendidikan yang
diperuntukan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti
proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, sosial, dan/atau
memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa.

Oleh sebab tersebut untuk menyokong kemampuan membelajarkan mereka


dibutuhkan ekosistem belajar yang kondusif, baik tempat belajar, metode belajar,
sistem penilaian yang adil, sarana dan prasarana yang menunjang serta yang
tidak terlupakan ialah tersedianya media atau multimedia pendidikan yang
memadai sesuai dengan kebutuhan para peserta didik.

Seiring peran media pendidikan yang semakin meningkat maka guru dan media
pendidikan harus saling terkait satu sama lain dalam memberikan kemudahan
belajar bagi peserta didik. Dalam arti, bahwa guru sebagai fasilitator diharapkan
mampu untuk memfungsikan media pendidikan seoptimal mungkin sesuai
dengan tujuan yang diharapkan. Perhatian dan bimbingan secara individual
dapat dilaksanakan oleh guru dengan baik sementara media pendidikan dapat
pula disajikan secara jelas, menarik, dan teliti.

Oleh karena itu, menjadi suatu keharusan bagi setiap penyelenggara pendidikan
inklusi untuk menempatkan media pendidikan sebagai komponen yang penting
dari sistem pendidikan yang diselenggarakannya Memang selama ini media
pendidikan telah diperkaya dengan sumber dan media pembelajaran, seperti
buku teks, modul, overhead transparansi, film, vidio, televisi, slide, dan lain
sebagainya.

Tetapi media itu tampaknya belum cukup untuk memotivasi sekaligus


mengembangkan sikap dan kemampuan kepribadian anak, bakat, kemampuan
mental sampai mencapai potensi mereka yang optimal. Di sinilah diperlukan
modifikasi media pendidikan yang sesuai dengan tingkat kebutuhan para peserta
didik. Pengembangan media pendidikan hendaknya diupayakan untuk
memanfaatkan kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh media tersebut dan
berusaha menghindari hambatan-hambatan yang mungkin muncul dalam proses
pembelajaran Banyak hal yang dapat mestinya kita lakukan untuk membantu
saudara-saudara kita yang memiliki keistimewaan, sesuai dengan bidang
keilmuan yang kita miliki.

Saat ini banyak jenis media yang tersedia, namun penggunaannya masih
berpusat kepada peserta didik yang non ABK, pendidikan inklusif, selalu
bersandarkan pada asas keunikan, keberagaman, dan keadilan dengan adanya
akses yang sama untuk semua dalam pendidikan. Sayang, cara pandang
pendidikan saat masih mengabaikan keberagaman, dengan bersandar pada
keunikan peserta didik Penulis, berharap dapat mengembangkan media yang
mampu melihat keberagaman peserta didik khususnya bagi mereka yang
memiliki kebutuhan khusus.

Batu, 29 Juli 2019 Bayu Widyaswara Suwahyo

INTERNET SOURCES:
------------------------------------------------------------------------------------------
-
<1% - https://fiahakim.blogspot.com/
<1% - http://www.fadhilza.com/2012/11/dunia-metafisika/bacaan-dzikir-yang-
sesat-dan-menyesatkan.html
1% - https://www.youtube.com/watch?v=hf_spHCjcaU
<1% -
https://ilmumanajemendanakuntansi.blogspot.com/2016/10/pengembangan-
sumber-daya-manusia-dalam.html
1% - https://rizszkey.blogspot.com/
1% - https://cendikiapendidikan.blogspot.com/2015/06/makalah-pendidikan-
inklusi.html
1% - https://www.academia.edu/6845651/pendidikan_inklusi
<1% - https://alhasyi.blogspot.com/2011/10/skripsi-akuntabilitas-dan-
transparansi.html
1% - https://andhynielovers.blogspot.com/2011/05/pentingnya-
penyellenggaraan-pendidikan.html
<1% - https://thinksomegood.blogspot.com/2017/05/makalah-cara-berfikir-
filosofis.html
<1% - https://dina27nadifah.wordpress.com/2015/06/27/peranan-guru-dalam-
proses-pembelajaran/
2% - https://bidansastra.blogspot.com/2013/06/bagaimana-pendidikan-inklusi-
diterapkan.html
<1% - https://rinitarosalinda.blogspot.com/2015/10/kegiatan-pembelajaran-
penempatan.html
1% - https://sulipan.wordpress.com/2010/05/08/pedoman-penyelenggaraan-
program-akselerasi/
<1% - https://aquuhlizha.blogspot.com/2014/11/peraturan-daerah.html
1% - https://news.detik.com/kolom/4331309/pendidikan-inklusi-bagi-anak-
difabel
2% - https://pgsd.binus.ac.id/2017/04/10/pendidikan-inklusi/
<1% - https://bimbingankonselingsiswasmp.blogspot.com/2017/01/ptkupaya-
peningkatan-prestasi-belajar.html
2% - https://news.detik.com/kolom/d-4331309/pendidikan-inklusi-bagi-anak-
difabel
1% - https://duniamendidikdewi.blogspot.com/2016/10/pendidikan-inklusi.html
1% - https://11006nh.blogspot.com/2012/04/pendidikan-anak-berkebutuhan-
khusus.html
<1% - https://sifrazone.blogspot.com/2009/05/manajemen-sarana-dan-
prasarana.html
7% - https://salimchoiri.blog.uns.ac.id/2010/06/02/media-pembelajaran-abk-
dalam-setting-sekolah-inklusi/
1% - https://sartikahinata.wordpress.com/2013/02/15/alatmedia-pendidikan-
islam/
1% - https://karlina56.blogspot.com/2014/04/jenis-dan-klasifikasi-media.html
<1% - https://mardoto.com/2010/11/26/peranan-mahasiswa-dalam-
menghadapi-kejadian-kejadian-bencana-yang-kerap-terjadi-di-indonesia/
1% -
https://www.kompasiana.com/agilshabib/5d44d02f097f360ec57ce912/berbangga
lah-dengan-keilmuanmu-tapi-jangan-meremehkan-keilmuan-orang-lain
<1% - https://jofipasi.wordpress.com/author/jofipasi/page/3/
<1% -
http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/195405271987031-
MOHAMAD_SUGIARMIN/artikel_untuk_dies_natalis.pdf