Anda di halaman 1dari 29

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas kesehatan dan
kemampuan yang sudah diberikan. Sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah
ini untuk memenuhi tugas mata kuliah Metodologi Penelitian. Makalah yang berjudul “Metode
Penelitian : Deskriptif, Expost Facto, Eksperimen, Survey, dan Tindakan Kelas.”
diharapkan dapat memberikan manfaat bagi para pembaca yang akan melakukan penelitian,
dan dapat memberikan manfaat lainnya.

Makalah ini masih sangat sederhana dan masih banyak sekali ditemukan kekurangan
baik isi , atau kata yang kurang tepat dalam penyajiannya dan kami sangat mengharap kritik
dan saran untuk menyempurnakan makalah ini.

Tondano, Maret 2019

Kelompok II

Metodologi Penelitian 1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................................... 1

DAFTAR ISI ............................................................................................................................. 2

BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................................... 3

A. Latar Belakang Masalah ................................................................................................. 3

B. Rumusan Masalah .......................................................................................................... 4

C. Tujuan Pembahasan........................................................................................................ 4

BAB II PEMBAHASAN .......................................................................................................... 5

A. Metodologi Penelitian Deskriptif ................................................................................... 5

B. Metodologi Penelitian Expo Facto ................................................................................. 9

C. Metodologi Penelitian Eksperimen .............................................................................. 11

D. Metodologi Penelitian Survey ...................................................................................... 18

E. Metodologi Penelitian Tindakan Kelas ........................................................................ 21

BAB III PENUTUP ................................................................................................................. 27

A. Kesimpulan................................................................................................................... 27

B. Saran ............................................................................................................................. 27

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................. 28

Metodologi Penelitian 2
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Salah satu dari Tri Dharma Perguruan Tinggi adalah penelitian, oleh karena itu,

banyak dosen ataupun mahasiswa yang melakukan penelitian dalam pendidikan. Penelitian

itu ada yang bersifat mandiri maupun yang bersifat proyek. Banyak kita lihat penelitian

para dosen maupun mahasiswa dilaksanakan dilaboraterium, kelas, bahkan terjun langsung

ke lapangan.

Penelitian dipandang sebagai kegiatan yang dilakukan secara sistematik

untukmenguji jawaban – jawaban sementara ( hipotesis) tentang permasalahan yang diteliti

melalui pengukuran yang cermat terhadap fakta-fakta secara empiris konsep penelitian

tersebut lambat laun dapat pula diterima atau diterapkan dalam ilmu- ilmu sosial sekalipun

pengukurannya dalam ilmu – ilmu kealaman.

Penelitian pendidikan hendaknya dilaksanakan secara sitematis, logis, dan secara

berencana. Secara sistematis artinya berdasarkan pola dan teknik tertentu serta sesuai

dengan aturan – aturan ilmiah dalam penelitian pada umumnya. Logis atrinya dilaksanakan

berdasarkan logika berfikir ilmiah dengan menggunakan langkah – langkah pemecahan

masalah dan prinsip- prinsip teori penelitian. Sedangkan secara berencana, yaitu betul-

betul direncanakan secara sengaja tentang apa yang akan diteliti, bagaimana cara meneliti,

kapan diadakan penelitian, siapa yang menelitinya, mengapa hal itu diteliti, dimana tempat

atau lokasinya penelitian, dan sebagainya.

Ruang lingkup metodologi penelitian pendidikan luas sekali karena pendidikan

sendiri merupakan bidang kajian yang terkait erat dengan beberapa disiplin ilmu seperti

psikologi, sosiologi, antropologi, politik, ekonomi dan sebagainya. Banyak sekali konsep

metodologi penelitian pendidikan yang dikembangkan dengan mendapatkan inspirasi atau

berlandaskan pada berbagai bidang ilmu tersebut.

Metodologi Penelitian 3
Metode yang digunakan dalam penelitian pendidikan juga mengacu pada

metodologi yang lazim digunakan di berbagai bidang ilmu tersebut, yakni mengacu pada

pendekatan behavioral science. Metodologi penelitian pendidikan pada mulanya

berorinetasi pada pendekatan behavioristik. Hal ini tampak jelas dari pengaruh disiplin ilmu

psikologi yang digunakan untuk uji – uji pengukuran berbagai aspek belajar mengajar.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Metode Penelitian Deskriptif?
2. Bagaimana Metode Penelitian Expost Facto?
3. Bagaimana Metode Penelitian Eksperimen?
4. Bagaimana Metode Penelitian Survey?
5. Bagaimana Metode Penelitian Tindakan Kelas?

C. Tujuan Pembahasan
1. Untuk mengetahui tentang Metode Penelitian Deskriptif
2. Untuk mengetahui tentang Metode Penelitian Expost Facto
3. Untuk mengetahui tentang Metode Penelitian Eksperimen
4. Untuk mengetahui tentang Metode Penelitian Survey
5. Untuk mengetahui tentang Metode Penelitian Tindakan Kelas

Metodologi Penelitian 4
BAB II
PEMBAHASAN

A. Metode Penelitian Deskriptif

Metode deskriptif merupakan suatu metode penelitian dalam meneliti setatus


dari sekelompok manusia, suatu obyek, suatu sistem pemikiran, suatu set kondisi,
ataupun suatu kelas peristiwa pada masa saat ini. Adapun tujuan dari penelitian
deskriptif ini yaitu untuk membuat gambaran, deskripsi atau lukisan secara sistematis,
faktual dan akurat mengenai fakta, sifat serta hubungan antar fenomena yang sedang
diselidiki.
Menurut Hidayat (2010), penelitian deskriptif merupakan metode penelitian
yang digunakan untuk menemukan pengetahuan yang seluas-luasnya terhadap objek
penelitian pada suatu masa tertentu. Sedangkan menurut Punaji (2010) penelitian
deskriptif adalah penelitian yang tujuannya untuk menjelaskan atau mendeskripsikan
suatu peristiwa, keadaan, objek apakah orang, atau segala sesuatu yang terkait dengan
variabel-variebel yang bisa dijelaskan baik menggunakan angka-angka maupun kata-
kata.
Penelitian deskriptif kebanyakan tidak dimaksudkan untuk menguji hipotesis
tertentu, melainkan lebih untuk menggambarkan apa adanya suatu variabel, gejala, atau
keadaan. Namun demikian, bukan berarti semua penelitian deskriptif tidak
menggunakan hipotesis, ada juga penelitian deskriptif yang memakai hipotesisi.
Penggunaan hipotesis dalam penelitian deskriptif bukan dimaksudkan untuk diuji
melainkan bagaimana berusaha menemukan sesuatu yang berarti sebagai alternatif
dalam mengatasi masalah penelitian melalui prosedur ilmiah.
Whintney (1960) menyatakan metode deskriptif merupakan proses pencarian
fakta dengan interpretasi yang tepat. Penelitian deskriptif mempelajari masalah yang
ada di dalam masyarakat dan tata cara yang berlaku di dalam masyarakat serta situasi
tertentu, termasuk di dalamnya tentang hubungan, pandangan - pandangan, kegiatan -
kegiatan, sikap - sikap, serta proses - proses yang sedang berlangsung dan pengaruh -
pengaruhnya dari suatu fenomena tertentu.
Penelitian deskriptif tidak hanya meliputi pada masalah pengumpulan dan
penyusunan data saja, tetapi juga meliputi analisis dan interpretasi tentang arti data
tersebut. Oleh karena itu, penelitian deskriptif mungkin saja mengambil bentuk
penelitian komparatif, yaitu merupakan suatu penelitian yang membandingkan satu

Metodologi Penelitian 5
fenomena atau gejala dengan fenomena atau gejala lainnya, atau dalam bentuk studi
kuantitatif dengan menetapkan standar, penilaian, mengadakan klasifikasi, dan
hubungan kedudukan satu unsur dengan unsur yang lainnya.

 Ciri-ciri Metode Deskriptif

Metode Penelitian Deskriptif mempunyai ciri-ciri atau karakteristik sebagai berikut :

1. Memusatkan penyelidikan pada pemecahan masalah aktual atau masalah yang


dihadapi pada masa sekarang.
2. Menjelaskan setiap langkah penelitian secara rinci.
3. Data yang telah dikumpulkan disusun dan dijelaskan, kemudian dianalisis dengan
menggunakan teknik analitik.
4. Memberi alasan yang kuat mengapa peneliti menggunakan teknik tertentu dan
bukan teknik lainnya.
5. Menjelaskan prosedur pengumpulan datanya.

Metode Penelitian deskriptif mempunyai keunikan sebagai berikut :

1. Penelitian deskriptif menggunakan kuesioner dan wawancara, seringkali


memperoleh responden yang sangat sedikit, akibatnya bisa dalam membuat
kesimpulan.
2. Penelitian deskriptif juga memerlukan permasalahan yang harus diidentifikasi dan
dirumuskan secara jelas, agar di lapangan peneliti tidak mengalami kesulitan dalam
menjaring data yang diperlukan.
3. Penelitian deskriptif yang menggunakan observasi, kadangkala dalam pengumpulan
data tidak memperoleh data yang memadai.

 Jenis-jenis Penelitian Deskriptif

Ditinjau dari jenis masalah yang diselidiki, teknik dan alat yang digunakan dalam
menliti, serta tempat dan waktu penelitian dilakukan, penelitian desekriptif dapat dibagi
atas beberapa jenis yaitu :

 Metode survey : Metode survei merupakan suatu penyelidikan yang dilakukan untuk
mendapatkan fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan-
keterangan secara faktual, baik itu tentang institusi ekonomi, sosial, atau politik dari
suatu daerah ataupun suatu kelompok. Metode survei membedah dan menguliti serta
mengenal lebih mendalam tentang masalah serta mendapatkan pembenaran terhadap
keadaan dan praktik yang sedang berlangsung.

Metodologi Penelitian 6
 Metode deskriptif berkesinambungan : Metode deskriptif berkesinambungan atau
continuity descriptive research merupakan suatu penelitian secara deskriptif yang
dijalankan secara terus - menerus terhadap suatu objek penelitian tertentu. Sering kali
dijalankan dalam hal meneliti masalah - masalah atau isu-isu sosial.
 Penelitian Studi Kasus : Studi kasus atau case study adalah suatu penelitian tentang
status subjek penelitian yang berkaitan dengan suatu fase spesifik atau khas dari
keselurahan personalitas. Subjek penelitian bisa saja individu, lembaga, kelompok,
maupun masyarakat. Peneliti berkinginan mempelajari secara intensif dan menyeluruh
latar belakang serta interaksi lingkungan dari unit - unit sosial yang menjadi subjek.
 Penelitian Analisis Kerja dan Aktivitas : Analisis Kerja dan Aktivitas atau job and
activity analysis, adalah suatu penelitian dengan memakai metode deskriptif. Penelitian
Analisis kerja dan aktivitas ini ditujukan guna menyelidiki aktivitas dan pekerjaan
manusia secara terperinci. Dan hasil dari penelitian tersebut bisa memberikan
rekomendasi - rekomendasi guna keperluan di masa yang akan datang.
 Studi Waktu Gerakan : Studi Waktu dan gerakan atau time and motion study
merupakan penelitian dengan metode deskriptif yang berusaha untuk menyelidiki
efisien produksi dengan mengadakan studi yang mendetail tentang penggunaan waktu
serta perilaku pekerja dalam proses produksi. Gerak - gerak utama dalam pekerjaan
diamati, dicatat, dilukiskan, serta dianalisis.

 Kriteria Pokok Metode Deskriptif

Kriteria Umum

Kriteria umum dari penelitian dengan metode deskriptif adalah sebagai berikut.

1. Masalah yang dirumuskan harus patut, ada nilai ilmiah serta tidak terlalu luas.
2. Data yang digunakan harus fakta-fakta yang terpercaya dan bukan merupakan opini.
3. Tujuan penelitian harus dinyatakan dengan tegas dan tidak terlalu umum.
4. Harus ada deskripsi yang terang tentang tempat serta waktu penelitian dilakukan.
5. Standar yang digunakan untuk membuat perbandingan harus mempunyai validitas.
6. Hasil penelitian harus berisi secara detail yang digunakan, baik dalam
mengumpulkan data maupun dalam menganalisis data serta studi kepustakaan yang
dilakukan. Deduksi logis harus jelas hubungannya dengan kerangka teoritis yang
digunakan jika kerangka teoritis untuk itu telah dikembangkan.

Metodologi Penelitian 7
Kriteria Khusus

Kriteria khusus dari metode deskriptif adalah sebagai berikut.

1. Fakta-fakta ataupun prinsip-prinsip yang digunakan adalah mengenai masalah


status.
2. Prinsip-prinsip ataupun data yang digunakan dinyatakan dalam nilai (value).
3. Sifat penelitian adalah ex post facto, karena itu, tidak adalah kontrol terhadap
variabel, dan peneliti tidak mengadakan pengaturan atau menipulasi terhadap
variabel. Variabel dilihat sebagaimana adanya.

 Langkah-Langkah Umum dalam Metode Deskriptif

Dalam melaksanakan penelitian deskriptif, maka langkah-langkah umum yang sering


diikuti adalah sebagai berikut.
1. Menentuan tujuan dari penelitian yang akan dikerjakan. Tujuan dari penelitian harus
konsisten dengan rumusan dan definisi dari masalah
2. Memilih dan merumuskan masalah yang menghendaki konsepsi ada kegunaan masalah
tersebut serta dapat diselidiki dengan sumber yang ada.
3. Memberikan limitasi dari area atau scope atau sejauh mana penelitian deskriptif
tersebut akan dilaksanakan. Termasuk didalamnya daerah geografis dimana penelitian
akan dilakukan, batasan-batasan kronologis ukuran tentang dalam dangkal, serta
seberapa utuh daerah penelitian tersebut akan dijangkau.
4. Pada bidang ilmu yang telah mempunyai teori-teori yang kuat, maka perlu dirumuskan
kerangka teori atau kerangka konseptual yang kemudian diturunan dalam bentuk
hipotesis-hipotesis untuk diverifikasikan. Bagi ilmu sosial yang telah berkembang baik,
maka kerangkan analisis dapat dijabarkan dalam bentuk-bentuk model matematika.
5. Merumuskan hipotesis-hipotesis yang diuji, baik secara emplisit maupun secara
implicit.
6. Menulusuri sumber-sumber kepustakaan yang ada hubungannya dengan masalah yang
ingin dipecahkan.
7. Melakukan kerja lapangan untuk megumpulkan data, gunakan teknik pengumpulan data
yang cocok untuk penelitian.

Metodologi Penelitian 8
8. Memberikan interpretasi dari hasil dalam hubungannya dengan kondisi sosial yang
ingin diselidiki serta dari data yang diperoleh serta refrensi khas terhadap masalah yang
ingin dipecahkan.
9. Membuat tabulasi serta analisis statistic dilakukan terhadap data yang telah
dikumpulkan. Kurangi penggunaan statistic sampai kepad batas-batas yang dapat
dikerjakan dengan unit-unit pengukuran yang sepadan.
10. Mengadakan generalisasi serta deduksi dari penemuan serta hipotesis-hipotesis yang
ingin diuji. Berikan rekomendasi-rekomendasi untuk kebijakan-kebijakan yang dapat
ditarik dari penelitian.

B. Metode Penelitian Expost Facto


Secara harfiah, expost facto berarti “sesudah fakta” karena sebab yang akan diteliti
telah mempengaruhi variabel lain. Sedangkan secara umum, expost facto merupakan
penelitian yang dilakukan setelah apa yang akan diteliti itu terjadi. Penelitian ini bertujuan
untuk menemukan penyebab yang memungkinkan perubahan perilaku, gejala atau
fenomena yang disebabkan oleh suatu peristiwa, perilaku atau hal-hal yang menyebabkan
perubahan pada variabel bebas secara keseluruhan sudah terjadi. Dengan kata lain,
penelitian ini untuk menentukan apakah perbedaan yang terjadi antar kelompok subjek
(dalam variabel independen) menyebabkan terjadinya perbedaan pada variabel dependen.

 Jenis-jenis Penelitian Expost Facto


1. Causal Research (Penelitian korelasi)
Causal research adalah suatu penelitian yang melibatkan tindakan pengumpulan
data guna menentukan ada tidaknya hubungan dan tingkatan hubungan antara dua atau
lebih variabel. Penelitian korelasi mempunyai tiga karakteristik penting untuk para peneliti
yang hendak menggunakannya, yaitu:
a) Penelitian korelasi tepat jika variabel kompleks dan penelitian tidak mungkin
melakukan manipulasi dan mengontrol variabel seperti dalam penelitian eksperimen
b) Memungkinkan variabel diukur secara intensif dalam setting (lingkungan) nyata
c) Memungkinkan peneliti mendapatkan derajat asosiasi yang signifikan
2. Causal Comparative Research (Penelitian Kausal Komparatif)
Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki kemungkinan hubungan sebab-akibat
dengan cara berdasar atas pengamatan terhadap akibat yang ada dan mencari kembali
faktor yang mungkin menjadi penyebab melalui data tertentu.

Metodologi Penelitian 9
 Karakteristik Penelitian Expost Facto
1. Data dikumpulkan setelah semua peristiwa terjadi
2. Terlebih dahulu menentukan variabel terikat kemudian menemukan sebab, hubungan
dan maknanya
3. Penelitian deskriptif yaitu menjelaskan penemuannya sebagaimana yang diamati
4. Penelitian korelasional, mencoba menemukan hubungan kausal fenomena yang diteliti
5. Penelitian eksperimental dan expost facto dasar logika yang digunakan dan tujuan yang
ingin dicapai sama yaitu menentukan validitas empiris. Perbedaan antara penelitian
eksperimen dan expost factoadalah tidak ada kontrol langsung variabel bebas dalam
penelitian expost facto
6. Penelitian ex post facto dilakukan jika dalam beberapa hal penelitian eksperimen tidak
dapat dilaksanakan.

 Kelebihan Penelitian Expost Facto


1. Melakukan hal yang tidak dapat dilakukan oleh penelitian eksperimen
2. Memuat informasi mengenai sifat fenomena yang terjadi, pada kondisi apa fenomena
terjadi serta dalam sekuensi dan pola apa fenomena terjadi
3. Desain expost facto lebih bertahan karena kemajuan teknik statistic

 Kelemahan Penelitian Expost Facto


1. Variabel bebas kurang terkontrol
2. Sulit memastikan apakah faktor-faktor penyebab telah dimasukkan dan diidentifikasi
3. Tidak ada faktor tunggal yang menjadi sebab suatu akibat, tetapi beberapa kombinasi
dan interaksi faktor-faktor berjalan bersama di bawah kondisi tertentu menghasilkan
akibat tertentu
4. Suatu fenomena mungkin bukan saja hasil dari sebab yang banyak, tetapi juga dari satu
sebab dalam satu hal dan dari sebab yang lain
5. Jika terdapat hubungan antara dua variabel maka sulit dibedakan antara sebab dan
akibat
6. Tidak harus menyatakan hubungan sebab akibat apabila menemukan kenyataan yang
menunjukkan dua atau lebih faktor berhubungan
7. Mengklasifikasikan subyek ke dalam kelompok dikotomi (misalnya yang berprestasi
dan yang tidak berprestasi) untuk tujuan komparasi penuh dengan masalah, karena
kategori seperti ini adalah samar-samar, dapat bervariasi, dan sementara

Metodologi Penelitian 10
8. Penelitian komparatif dalam situasi yang alami tidak memberikan seleksi subyek yang
terkontrol. Sulit menempatkan kelompok subyek yang sama dalam segala hal kecuali
pemaparan mereka terhadap satu variable

 Langkah-Langkah Penelitian Expost Facto


1. Perumusan Masalah
Rumusan masalah yang ditetapkan harus mengandung sebab bagi munculnya variabel
dependen, yang diketahui berdasarkan hasil-hasil penelitian yang pernah dilakukan atau
penafsiran peneliti terhadap hasil observasi fenomena yang diteliti.
2. Hipotesis
Setelah masalah dirumuskan, peneliti harus mampu mengidentifikasikan tandingan atau
alternatif yang mungkin dapat menerangkan hubungan antar variabel independen dan
dependen.
3. Pengelompokan Data
Penentuan kelompok subjek yang akan dibagi, pertama-tama kelompok yang diplih
harus memiliki karakteristik yang menjadi konsen penelitian. Selanjutnya Peneliti memilih
kelompok yang tidak memiliki karakteristik tersebut atau berbeda tingkatannya
4. Pengumpulan Data
Hanya data yang diperlukan yang kumpulkan, baik yang berhubungan dengan variabel
dependen maupun berkenaan dengan faktor yang dimungkinkan munculnya hipotesis
tandingan.
5. Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan serupa dengan yang digunakan dalam penelitian
diferensial maupun eksperimen. Di mana perbandingan nilai 7 variabel dependen dilakukan
antar kelompok subjek atas dasar faktor yang menjadi konsen.
6. Penafsiran Hasil
Pernyataan sebab akibat dalam penelitian ini perlu dilakukan secara hati-hati. Kualitas
hubungan antar variabel independen dan dependen sangat tergantung pada kemampuan
peneliti untuk memilih kelompok perbandingan yang homogen dan keyakinan bahwa
munculnya hipotesis tandingan dapat dicegah.

C. Metode Penelitian Eksperimen

Penelitian eksperimen merupakan suatu penelitian yang menjawab pertanyaan


“jika kita melakukan sesuatu pada kondisi yang dikontrol secara ketat maka apakah

Metodologi Penelitian 11
yang akan terjadi?”. Untuk mengetahui apakah ada perubahan atau tidak pada suatu
keadaan yang di control secara ketat maka kita memerlukan perlakuan (treatment) pada
kondisi tersebut dan hal inilah yang dilakukan pada penelitian eksperimen. Sehingga
penelitian eksperimen dapat dikatakan sebagai metode penelitian yang digunakan untuk
mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang
terkendalikan (Sugiono : 2010).
Menurut Solso & MacLin (2002), penelitian eksperimen adalah suatu penelitian
yang di dalamnya ditemukan minimal satu variabel yang dimanipulasi untuk
mempelajari hubungan sebab-akibat. Oleh karena itu, penelitian eksperimen erat
kaitanya dalam menguji suatu hipotesis dalam rangka mencari pengaruh, hubungan,
maupun perbedaan perubahan terhadap kelompok yang dikenakan perlakuan.

 Karakteristik Penelitian Eksperimen


Danim (2002) menyebutkan beberapa karakteristik penelitian eksperimen, yaitu :

1. Variabel-veniabel penelitian dan kondisi eksperimen diatur secara tertib ketat (rigorous
management), baik dengan menetapkan kontrol, memanipulasi langsung, maupun
random (acak).
2. Adanya kelompok kontrol sebagai data dasar (base line) untuk dibandingkan dengan
kelompok eksperimen.
3. Penelitian ini memusatkan diri pada pengontrolan variansi, untuk memaksimalkan
variansi variabel yang berkaitan dengan hipotesis penelitian, meminimalkan variansi
variabel pengganggu yang mungkin mempengaruhi hasil eksperimen, tetapi tidak
menjadi tujuan penelitian. Di samping itu, penelitian ini meminimalkan variansi
kekeliruan, termasuk kekeliruan pengukuran. Untuk itu, sebaiknya pemilihan dan
penentuan subjek, serta penempatan subjek dalarn kelompok-kelompok dilakukan
secara acak.
4. Validitas internal (internal validity) mutlak diperlukan pada rancangan penelitian
eksperimen, untuk mengetahui apakah manipulasi eksperimen yang dilakukan pada saat
studi ini memang benar-benar menimbulkan perbedaan.
5. Validitas eksternalnya (external validity) berkaitan dengan bagaimana kerepresentatifan
penemuan penelitian dan berkaitan pula dengan menggeneralisasikan pada kondisi yang
sama.
6. Semua variabel penting diusahakan konstan, kecuali variabel perlakuan yang secara
sengaja dimanipulasikan atau dibiarkan bervariasi.

Metodologi Penelitian 12
Selain itu, dalam penelitian eksperimen ada tiga unsur penting yang harus diperhatikan
dalam melakukan penelitian ini, yaitu kontrol, manipulasi, dan pengamatan. Variabel
kontrol disini adalah inti dari metode eksperimental, karena variabel control inilah yang
akan menjadi standar dalam melihat apakah ada perubahan, maupun perbedaan yan terjadi
akibat perbedaan perlakuan yang diberikan. Sedangkan manipulasi disini adalah operasi
yang sengaja dilakukan dalam penelitian eksperimen. Dalam penelitian ini, yang
dimanipulasi adalah variabel independent dengan melibatkan kelompok-kelompok
perlakuan yang kondisinya berbeda. Setelah peneliti menerapkan perlakuan eksperimen, ia
harus mengamati untuk menentukan apakah hipotesis perubahan telah terjadi (Observasi).

Dari beberapa penjelasan diatas secara garis besar dapat kita simpulkan
karakteristik penelitian eksperimen adalah antara lain :

1. Menggunakan kelompok kontrol sebagai garis dasar untuk dibandingkan dengan


kelompok yang dikenai perlakuan eksperimental.
2. Menggunakan sedikitnya dua kelompok
3. Harus mempertimbangkan kesahihan ke dalam (internal validity).
4. Harus mempertimbangkan kesahihan keluar (external validity).

 Langkah-langkah Penelitian Eksperimen


Menurut Sukardi, (2003) pada umumnya, penelitian eksperirnental dilakukan
dengan menempuh langkah-langkah seperti berikut :

1. Melakukan kajian secara induktif yang berkait erat dengan permasalahan yang hendak
dipecahkan.
2. Mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah.
3. Melakukan studi literatur dan beberapa sumber yang relevan, memformulasikan
hipotesis penelitian, menentukan variabel, dan merumuskan definisi operasional dan
definisi istilah.
4. Membuat rencana penelitian yang didalamnya mencakup kegiatan:

a) Mengidentifikasi variabel luar yang tidak diperlukan, tetapi memungkinkan


terjadinya kontaminasi proses eksperimen.
b) Menentukan cara mengontrol.
c) Memilih rancangan penelitian yang tepat.

Metodologi Penelitian 13
d) Menentukan populasi, memilih sampel (contoh) yang mewakili serta memilih
sejumlah subjek penelitian.
e) Membagi subjek dalam kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen.
f) Membuat instrumen, memvalidasi instrumen dan melakukan studi pendahuluan
agar diperoleh instrumen yang memenuhi persyaratan untuk mengambil data
yang diperlukan.
g) Mengidentifikasi prosedur pengumpulan data. dan menentukan hipotesis.
5. Melaksanakan eksperimen.
6. Mengumpulkan data kasar dan proses eksperimen.
7. Mengorganisasikan dan mendeskripsikan data sesuai dengan variabel yang telah
ditentukan.
8. Menganalisis data dan melakukan tes signifikansi dengan teknik statistika yang relevan
untuk menentukan tahap signifikasi hasilnya.
9. Menginterpretasikan basil, perumusan kesimpulan, pembahasan, dan pembuatan
laporan.

 Validitas

Suatu eksperimen dikatakan valid jika hasil yang diperoleh hanya disebabkan oleh
variabel bebas yang dimanipulasi, dan jika hasil tersebut dapat digeneralisasikan pada
situasi di luar setting eksperimental (Emzir:2009) Sehingga ada dua kondisi yang harus
diterima yakni faktor internal dan eksternal.

1. Validitas Internal
Validitas ini mengacu pada kondisi bahwa perbedaan yang diamati pada variabel bebas
adalah suatu hasil langsung dari variabel beas yang dimanipulasi dan bukan dari variabel
lain. Campbel dan Stanley (dalam Gay:1981) sebagaimana dikutip Emzir (2009)
mengidentifikasi delapan ancaman utama terhadap validitas internal, antara lain:
 Historis, dimana munculnya suatu kejadian yang bukan bagian dari perlakuan dalam
eksperimen yang dilakukan, tetapi mempengaruhi model, karakter, dan penampilan
variabel bebas.
 Maturasi, dimana terjadi perubahan fisik atau mental peneliti atau obyek yang diteliti
yang mungkin muncul selama suatu periode tertentu yang mempengaruhi proses
pengukuran dalam penelitian.
 Testing, dimana sering terjadi ketidak efektifan suatu penelitian yang menggunakan
metode test karena suatu kegiatan test yang dilakukan dengan menggunakan pra test

Metodologi Penelitian 14
dan post test, apalagi dengan rentang waktu yang cukup panjang, dan terkadang nilai
pra test dan post test yang sama.
 Instrumentasi, instrumentasi sering muncul karena kurang konsistensinya instrumen
pengukuran yang mungkin menghasilkan penilaian performansi yang tidak valid.
Dimana jika dua test berbeda digunakan untuk pratest dan postest, dan test-test tersebut
tidak sama tingkat kesulitannya, maka instrumentasi dapat muncul.
 Regresi Statistik, dimana regresi statistik ini sering muncul bila subyek dipilih
berdasarkan skor ekstrem dan mengacu pada kecenderungan subyektif yang memiliki
skor yang paling tinggi pada pratest ke skor yang lebih rendah pada postes, begitupun
sebaliknya.
 Seleksi subyek yang berbeda, dimana biasanya muncul bila kelompok yang ada
digunakan dan mengacu pada fakta bahwa kelompok tersebut mungkin berbeda
sebelum kegiatan penelitian dimulai.
 Mortalitas, dimana sering terjadi bahwa subyek yang terkadang drop out dari lingkup
penelitian dan memiliki karakteristik kuat yang dapat mempengaruhi hasil penelitian.
 Interaksi seleksi Maturasi, dimana satu kelompok akan termaturasi dengan hasil
kelompok lain tanpa melalui perlakuan.

2. Validitas Eksternal
Validitas ini mengacu pada kemampuan generalisasi suatu penelitian. Dimana
dibutuhkan kemampuan suatu sampel populasi yang benar-benar bisa digeneralisasikan
ke populasi yang lain pada waktu dan kondisi yang lain.
Campbell dan Stanley dalam Gay (1981) yang dikutip Emzir (2009) mengidentifikasi
beberapa ancaman terhadap validitas eksternal, diantaranya:
 Interaksi Prates-Perlakuan, dimana biasanya sering muncul bila respons subjek berbeda
pada setiap perlakuan karena mengikuti prates.
 Interaksi Seleksi-Perlakuan, dimana akibat yang muncul bila subjek tidak dipilih secara
acak sehingga seleksi subjek yang berbeda diasosiasikan dengan ketidakvalidan
internal.
 Spesifisitas Variabel, adalah suatu ancaman terhadap yang tidak mengindahkan
generalisabilitas dari desain eksperimental yang digunakan.
 Pengaturan Reaktif, mengacu pada faktor-faktor yang diasosiasikan dengan cara
bagaimana penelitian dilakukan dan perasaan serta sikap subjek yang dilibatkan.
 Interferensi Perlakuan Jamak, biasanya sering muncul bila subjek yang sama menerima
lebih dari satu perlakuan dalam pergantian.

Metodologi Penelitian 15
 Kontaminasi dan Bias Pelaku Eksperimen, sering muncul bila keakraban subjek dan
peneliti mempengaruhi hasil penelitian.

 Beberapa Bentuk Desain Penelitian Eksperimen

Menurut Prof. Dr. Sugiyono dalam bukunya “Metode Penelitian Pendidikan” tahun
2010, beliau membagi desain penelitian ekperimen kedalam 3 bentuk yakni pre-
experimental design, true experimental design, dan quasy experimental design.

1. Pre-experimental design

Desain ini dikatakan sebagai pre-experimental design karena belum merupakan


eksperimen sungguh-sungguh karena masih terdapat variabel luar yang ikut berpengaruh
terhadap terbentuknya variabel dependen. Rancangan ini berguna untuk mendapatkan
informasi awal terhadap pertanyaan yang ada dalam penelitian. Bentuk Pre- Experimental
Designs ini ada beberapa macam antara lain :

a) One – Shoot Case Study (Studi Kasus Satu Tembakan)


Dimana dalam desain penelitian ini terdapat suatu kelompok diberi treatment
(perlakuan) dan selanjutnya diobservasi hasilnya (treatment adalah sebagai variabel
independen dan hasil adalah sebagai variabel dependen). Dalam eksperimen ini subjek
disajikan dengan beberapa jenis perlakuan lalu diukur hasilnya.
b) One – Group Pretest-Posttest Design (Satu Kelompok Prates-Postes)
Kalau pada desain “a” tidak ada pretest, maka pada desain ini terdapat pretest
sebelum diberi perlakuan. Dengan demikian hasil perlakuan dapat diketahui lebih
akurat, karena dapat membandingkan dengan keadaan sebelum diberi perlakuan.
c) Intact-Group Comparison
Pada desain ini terdapat satu kelompok yang digunakan untuk penelitian, tetapi
dibagi dua yaitu; setengah kelompok untuk eksperimen (yang diberi perlakuan) dan
setengah untuk kelompok kontrol (yang tidak diberi perlakuan).

2. True Experimental Design


Dikatakan true experimental (eksperimen yang sebenarnya/betul-betul) karena
dalam desain ini peneliti dapat mengontrol semua variabel luar yang mempengaruhi
jalannya eksperimen. Dengan demikian validitas internal (kualitas pelaksanaan rancangan
penelitian) dapat menjadi tinggi. Ciri utama dari true experimental adalah bahwa, sampel

Metodologi Penelitian 16
yang digunakan untuk eksperimen maupun sebagai kelompok kontrol diambil secara
random (acak) dari populasi tertentu. Jadi cirinya adalah adanya kelompok kontrol dan
sampel yang dipilih secara random. Desain true experimental terbagi atas :

a) Posstest-Only Control Design


Dalam desain ini terdapat dua kelompok yang masing-masing dipilih secara
random (R). Kelompok pertama diberi perlakuan (X) dan kelompok lain tidak.
Kelompok yang diberi perlakuan disebut kelompok eksperimen dan kelompok
yang tidak diberi perlakuan disebut kelompok kontrol.
b) Pretest-Posttest Control Group Design.
Dalam desain ini terdapat dua kelompok yang dipilih secara acak/random,
kemudian diberi pretest untuk mengetahui keadaan awal adakah perbedaan antara
kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
c) The Solomon Four-Group Design.
Dalam desain ini, dimana salah satu dari empat kelompok dipilih secara
random. Dua kelompok diberi pratest dan dua kelompok tidak. Kemudian satu dari
kelompok pratest dan satu dari kelompok nonpratest diberi perlakuan eksperimen,
setelah itu keempat kelompok ini diberi posttest.

3. Quasi Experimental Design

Bentuk desain eksperimen ini merupakan pengembangan dari true experimental


design, yang sulit dilaksanakan. Desain ini mempunyai kelompok kontrol, tetapi tidak
dapat berfungsi sepenuhnya untuk mengontrol variabel-variabel luar yang mempengaruhi
pelaksanaan eksperimen. Quasi Experimental Design digunakan karena pada
kenyataannya sulit medapatkan kelompok kontrol yang digunakan untuk penelitian.
Dalam suatu kegiatan administrasi atau manajemen misalnya, sering tidak mungkin
menggunakan sebagian para karyawannya untuk eksperimen dan sebagian tidak. Sebagian
menggunakan prosedur kerja baru yang lain tidak. Oleh karena itu, untuk mengatasi
kesulitan dalam menentukan kelompok kontrol dalam penelitian, maka dikembangkan
desain Quasi Experimental. Desain eksperimen model ini diantarnya sebagai berikut:

a) Time Series Design


Dalam desain ini kelompok yang digunakan untuk penelitian tidak dapat
dipilih secara random. Sebelum diberi perlakuan, kelompok diberi pretest sampai
empat kali dengan maksud untuk mengetahui kestabilan dan kejelasan keadaan

Metodologi Penelitian 17
kelompok sebelum diberi perlakuan. Bila hasil pretest selama empat kali ternyata
nilainya berbeda-beda, berarti kelompok tersebut keadaannya labil, tidak menentu,
dan tidak konsisten. Setelah kestabilan keadaan kelompok dapay diketahui dengan
jelas, maka baru diberi treatment/perlakuan. Desain penelitian ini hanya
menggunakan satu kelompok saja, sehingga tidak memerlukan kelompok kontrol.
b) Nonequivalent Control Group Design
Desain ini hampir sama dengan pretest-posttest control group design, hanya
pada desain ini kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol tidak dipilih
secara random. Dalam desain ini, baik kelompok eksperimental maupun kelompok
kontrol dibandingkan, kendati kelompok tersebut dipilih dan ditempatkan tanpa
melalui random. Dua kelompok yang ada diberi pretes, kemudian diberikan
perlakuan, dan terakhir diberikan postes.
c) Conterbalanced Design
Desain ini semua kelompok menerima semua perlakuan, hanya dalam
urutan perlakuan yang berbeda-beda, dan dilakukan secara random.

4. Factorial Design
Desain Faktorial selalu melibatkan dua atau lebih variabel bebas (sekurang-
kurangnya satu yang dimanipulasi). Desain faktorial secara mendasar menghasilkan
ketelitian desain true-eksperimental dan membolehkan penyelidikan terhadap dua atau
lebih variabel, secara individual dan dalam interaksi satu sama lain. Tujuan dari desain
ini adalah untuk menentukan apakah efek suatu variabel eksperimental dapat
digeneralisasikan lewat semua level dari suatu variabel kontrol atau apakah efek suatu
variabel eksperimen tersebut khusus untuk level khusus dari variabel kontrol, selain itu
juga dapat digunakan untuk menunjukkan hubungan yang tidak dapat dilakukan oleh
desain eksperimental variabel tunggal.

D. Metode Penelitian Survey

Metode penelitian survey atau secara ringkas biasa disebut metode survey adalah
penelitian yang sumber data dan informasi utamanya diperoleh dari responden sebagai
sampel penelitian dengan menggunakan kuesioner atau angket sebagai instrumen
pengumpulan data.

Pada umumnya, sampel yang digunakan sebagai unit analisis adalah individu.
Namun demikian, unit lain seperti rumah tangga, kelompok, perusahaan, sampai negara

Metodologi Penelitian 18
bisa pula digunakan sebagai unit analisis. Salah satu yang perlu diingat dalam penelitian
survey adalah penggunaan sampel sebagai sumber data primer.

 Tujuan Metode Survey

Penelitian survey antara lain bertujuan untuk :

1. Mencari informasi faktual secara mendetail yang sedang menggejala


2. Mengindentifikasikan masalah-masalah atau untuk mendapat justifikasi keadaan dan
kegiatan-kegiatan yang sedang berjalan
3. Untuk mengetahui hal-hal yang dilakukan oleh orang – orang yang menjadi sasaran
penelitian dalam memecahkan masalah, sebagai bahan penyusunan rencana dan
pengambilan keputusan dimasa mendatang.

 Jenis-jenis metode penelitian survey


 Metode eksplorarif
Metode ini bisa disebut pula metode penjajagan. Artinya, survey dilakukan untuk
mencari informasi awal yang masih samar-samar. Peneliti menerapkan metode survey
eksploratif karena pengetahuan tentang masalah yang hendak diteliti masih dangkal.
Sebagai contoh, penelitian tentang partisipasi politik anak muda. Oleh karena peneliti
belum memiliki cukup informasi untuk melakukan studi secara komprehensif, maka
pertanyaan yang diajukan dalam metode ini seperti: ”menurut Anda, seperti apa tingkat
partisipasi politik anak muda saat ini?”
 Metode deskriptif
Metode ini dilakukan untuk melakukan pengukuran terhadap fenomena sosial
tertentu, kemudian dijelaskan secara deskriptif atau naratif. Misalnya, penelitian tentang
menyebarluasnya berita hoax di media sosial. Peneliti melakukan survey untuk mengetahui
apakah pengguna sosmed yang dijadikan sampel selalu tabayyun atau menguji terlebih
dahulu keberanan setiap berita yang diterimanya melalui sosmed. Penyebarluasan hoax bisa
diukur dengan berapa jumlah berita palsu yang menyebar dalam kurun waktu tertentu,
berapa share dalam satu postingan, dan sebagainya.
 Metode penjelasan atau eksplanatori
Metode ini hampir sama dengan metode deskriptif. Bedanya, metode survey
eksplanatori menekankan pada pencarian hubungan kausalitas atau sebab-akibat antara
variabel-variabel yang diteliti. Ambil contoh yang sama dengan sebelumnya, yaitu
penyebarluasan berita hoax di sosmed. Peneliti menerapkan metode penjelasan ketika ingin

Metodologi Penelitian 19
menguji hipotesisnya yang mengatakan bahwa penyebarluasan berita hoax disebabkan oleh
minimnya upaya untuk menguji kebenaran berita yang diterima melalui sosmed. Di sini
kita bisa membedakan antara metode deskriptif dan metode penjelasan. Metode deskripsi
menekankan pada deskripsi hasil analisis datanya. Sedangkan metode eksplanatori
menekankan pada hubungan kausalitas dari hasil analisis datanya.
 Metode evaluasi
Metode ini digunakan untuk penelitian evaluatif. Umumnya, metode survey
evaluasi diterapkan pada riset untuk evaluasi program. Pertanyaan penelitian yang bisa
dirumuskan misalnya, apakah program yang dilaksanakan sudah mencapai target?
Penelitian survey untuk tujuan evaluasi umumnya adalah rangkaian dari penelitian yang
lebih komprehensif atau bagian dari program tertentu.
 Metode prediksi
Metode ini dilakukan untuk memprediksi tren fenomena sosial ke depan. Contoh
mudah dari metode survey prediksi adalah penelitian yang dilakukan oleh lembaga-
lembaga survey menjelang pemilu atau pilkada. Hasil penelitian metode survey preditif
selalu menunjukkan tren atau gambaran masa depan yang mungkin terjadi. Misalnya,
elektabilitas bakal calon presiden baru lebih tinggi daripada incumbent.
 Metode operasional
Metode survey operasional digunakan untuk mendeteksi variabel-variabel
operasional dari suatu program yang diteliti. Sebagai contoh, mengapa implementasi
program ’satu orang satu suara’ dalam pelaksanaan pilkada serentak berbeda tiap daerah.
Variabel operasional diteliti satu-persatu untuk mendeteksi apa yang mendorong
munculnya perbedaan hasil tersebut. Misalnya, hasilnya adalah di beberapa daerah,
pemimpin informal seperti ketua adat lebih dihormati ketimbang pemimpin formal seperti
pejabat daerah.
 Metode pengembangan
Metode survey untuk pengembangan umumnya dilakukan untuk mengembangkan
indikator-indikator sosial. Contoh penyelenggaraan penelitian menggunakan metode survey
ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Biro Pusat Statistik (BPS). Secara berkala, BPS
melakukan survey tentang angkatan kerja, kondisi sosial ekonomi, bahkan sensus penduduk
untuk mengetahui indikator-indikator sosial yang bisa dikembangakan ke depan.

Metodologi Penelitian 20
 Proses penelitian survey

Penjelasan bahwa penelitian semestinya dimulai dengan niat dan minat adalah
penjelasan untuk memotivasi peneliti agar selalu konsisten dalam penelitiannya. Dari
minat, proses penelitian berkembang ke munculnya gagasan, kemudian teori, memilih
metode atau bagaimana penelitian dilakukan, dan seterusnya. Proses tersebut memang
normatif. Apa yang tidak kalah penting tentu saja proses teknis penelitian ilmiah,
khususnya penelitian survey. Beberapa langkah teknis sederhana namun ideal yang bisa
ditempuh dalam metode penelitian survey, antara lain:

 Merumuskan masalah penelitian dan menuliskan tujuan penelitian survey.


 Menuliskan manfaat penelitian survey secara akademik dan atau secara praktis.
 Menentukan konsep dan hipotesis penelitian jika diperlukan.
 Mengumpulkan informasi dari hasil penelitian-penelitian terkait yang sudah dilakukan
sebelumnya.
 Menentukan sampel penelitian.
 Membuat angket atau kuesioner.
 Mengumpulkan data, termasuk pula memberi penjelasn pada asisten peneliti yang
mengumpulkan data bila punya asisten peneliti.
 Mengolah dan menganalisis data secara manual atau dengan komputer.
 Melaporkan hasil penelitian secara tertulis.

E. Metode Penelitian Tindakan Kelas

Penelitian Tindakan Kelas berasal dari bahasa Inggris, yaitu Classrom Action
Research, diartikan penelitian dengan tindakan yang dilakukan dikelas. Untuk lebih
jelasnya, perhatikan beberapa pengertian PTK berikut ini :

 Menurut Lewin (Tahir 2012:77), PTK merupakan siasat guru dalam mengaplikasikan
pembelajaran dengan berkaca pada pengalamannya sendiri atau dengan perbandingan
dari guru lain.
 Menurut Bahri (2012:8), Penelitian Tindakan Kelas merupakan sebuah kegiatan yang
dilaksanakan untuk mengamati kejadian-kejadian dalam kelas untuk memperbaiki
praktek dalam pembelajaran agar lebih berkualitas dalam proses sehingga hasil
belajarpun menjadi lebih baik.

Metodologi Penelitian 21
 Menurut Suyadi,2012:18, PTK secara lebih sistematis dibagi menjadi tiga kata yaitu
penelitian, tindakan, dan kelas. Penelitian yaitu kegiatan mengamati suatu objek
tertentu dengan menggunakan prosedur tertentu untuk menemukan data dengan tujuan
meningkatkan mutu. Kemudian tindakan yaitu perlakuan yang dilakukan dengan
sengaja dan terencana dengan tujuan tertentu. Dan kelas adalah tempat di mana
sekelompok peserta didik menerima pelajaran dari guru yang sama.
 Menurut Sanjaya,2010:25, Secara bahasa ada tiga istilah yang berkaitan dengan
penelitian tindakan keleas (PTK), yakni penelitian, tindakan, dan kelas. Pertama,
penelitian adalah suatu perlakuan yang menggunakan metologi untuk memecahkan
suatu masalah. Kedua, tindakan dapat diartikan sebagai perlakuan yang dilakukan oleh
guru untuk memperbaiki mutu. Ketiga kelas menunjukkan pada tempat berlangsungnya
tindakan.
 Menurut John Elliot, PTK adalah peristiwa sosial dengan tujuan untuk meningkatkan
kualiatas tindakan di dalamnya. Di mana dalam proses tersebut mencakup kegiatan
yang menimbulkan hubungan antara evaluasi diri dengan peningkatan profesional.
 Menurut Kemmis dan Mc. Taggart (Sanjaya,2010:25), PTK adalah gerakan diri
sepenuhnya yang dilakukan oleh peserta didik untuk meningkatkan pemahaman.
 Menurut Arikunto (Suyadi,2012:18), PTK adalah gabungan pengertian dari kata
“penelitian, tindakan dan kelas”. Penelitian adalah kegiatan mengamati suatu objek,
dengan menggunakan kaidah metodologi tertentu untuk mendapatkan data yang
bermanfaat bagi peneliti dan dan orang lain demi kepentingan bersama. Selanjutnya
tindakan adalah suatu perlakuan yang sengaja diterapkan kepada objek dengan tujuan
tertentu yang dalam penerapannya dirangkai menjadi beberapa periode atau siklus.
Dan kelas adalah tempat di mana sekolompok siswa belajar bersama dari seorang guru
yang sama dalam periode yang sama.

Berdasarkan beberapa pemahaman mengenai PTK diatas dapat disimpulkan bahwa


penelitian tindakan kelas (PTK) adalah suatu pengamatan yang menerapkan tindakan didalam
kelas dengan menggunakan aturan sesuai dengan metodologi penelitian yang dilakukan dalam
beberapa periode atau siklus. Berdasarkan jumlah dan sifat perilaku para anggotanya, PTK
dapat berbentuk individual dan kaloboratif, yang dapat disebut PTK individual dan PTK
kaloboratif. Dalam PTK individual seorang guru melaksanakan PTK di kelasnya sendiri atau
kelas orang lain, sedang dalam PTK kaloboratif beberapa orang guru secara sinergis
melaksanakan PTK di kelas masing-masing dan diantara anggota melakukan kunjungan antar
kelas.
Metodologi Penelitian 22
 Tujuan Penelitian Tindakan Kelas
Tujuan PTK dapat digolongkan atas dua jenis, tujuan utama dan tujuan sertaan. Tujuan-
tujuan tersebut adalah sebagai berikut.
1. Tujuan utama pertama, melakukan perbaikan dan peningkatan layanan
profesional guru dalam menangani proses pembelajaran. Tujuan tersebut dapat
dicapai dengan melakukan refleksi untuk mendiagnosis kondisi, kemudian
mencoba secara sistematis berbagai model pembelajaran alternatif yang diyakini
secara teoretis dan praktis dapat memecahkan masalah pembelajaran. Dengan
kata lain, guru melakukan perencanaan, melaksanakan tindakan, melakukan
evaluasi, dan refleksi.
2. Tujuan utama kedua, melakukan pengembangan keteranpilan guru yang
bertolak dari kebutuhan untuk menanggulangi berbagai persoalan aktual yang
dihadapinya terkait dengan pembelajaran. Tujuan ini dilandasi oleh tiga hal
penting, (1) kebutuhan pelaksanaan tumbuh dari guru sendiri, bukan karena
ditugaskan oleh kepala sekolah, (2) proses latihan terjadi secara hand-on dan
mind-on, tidak dalam situasi artifisial, (3) produknya adalah sebuah nilai, karena
keilmiahan segi pelaksanaan akan didukung oleh lingkungan.
3. Tujuan sertaan, menumbuh kembangkan budaya meneliti di kalangan guru.

 Manfaat Penelitian Tindakan Kelas

Fraenkel, dkk (2012:596) menyebutkan sekurang-kurangnya lima manfaat


penelitian tindakan kelas, yaitu:

1. PTK dapat dilakukan oleh hampir semua ahli di semua tipe sekolah, semua level, guru
kelas baik secara individu maupun berkelompok, ataupun pimpinan sekolah.
2. PTK dapat memperbaiki praktik pendidikan; membantu praktisi pendidikan (guru,
pimpinan sekolah) dalam meningkatkan kompetensi terhadap apa yang mereka lakukan.
3. PTK memberi ruang kepada guru atau praktisi lain untuk mengadakan penelitian
mereka sendiri sehingga dapat mengembangkan cara-cara yang lebih efektif untuk
mempraktikkan keahlian-keahlian mereka sendiri.
4. PTK membantu guru mengidentifkasi masalah-masalah dan isu-isu secara sistematis.
5. PTK dapat membangun sebuah komunitas yang berorientasi penelitian ilmiah di dalam
sekolah itu sendiri

Metodologi Penelitian 23
 Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas
Apabila dirumuskan, karakteristik PTK dapat dijabarkan sebagai berikut (Muslich,
2010:12-13)
1. Masalah PTK berawal dari guru: Masalah yang ditemukan guru di dalam kelas
sebagai pelaku pembelajaran dapat menjadi topik utama dalam melakukan
penelitian
2. Tujuan PTK adalah memperbaiki pembelajaran: Implikasi dari tujuan ini adalah
guru tidak boleh mengorbankan proses pembelajaran karena sedang melakukan
PTK.
3. PTK adalah penelitian yang bersifat kolaboratif: Seorang guru dapat
berkolaborasi dengan dosen tenaga ahli ataupun teman sejawat dalam
melaksanakan PTK, sehingga dapat saling memberikan masukan tentang
prosedur pelaksanaan PTK dengan benar
4. PTK adalah jenis penelitian yang memunculkan adanya tindakan tertentu untuk
memperbaiki proses belajar mengajar di kelas: Tindakan-tindakan ini dapat
berupa penggunaan metode pembelajaran tertentu, penerapan strategi
pembelajaran, pemakaian media/sumber belajar, jenis pendekatan tertentu, atau
hal-hal inovatif lainnya.
5. PTK dapat menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik pendidikan: Hal
ini terjadi karena dengan melakukan PTK berarti seorang guru dapat
membuktikan apakah sebuah teori pembelajaran dapat diterapkan secara efektif
atau tidak di kelasnya, sehingga ia dapat memperoleh balikan yang bagus untuk
perbaikan proses pembelajaran berikutnya.

Sementara itu, Ary (2010:514) menyebutkan tiga karakteristik utama dari Penelitian
tindakan, yaitu:

1. The research is situated in a local context and focused on a local issue. (Penelitian
tindakan digunakan dalam konteks lokal dan difokuskan pada sebuah isu lokal)
2. The research is conducted by and for the practitioner (Penelitian tindakan dilaksanakan
oleh dan untuk praktisi).
3. The research results in an action or a change implemented by the practitioner in the
context (Hasil penelitian tindakan adalah sebuah tindakan atau sebuah perubahan yang
diimplementasikan oleh praktisi dalam konteks tertentu).

 Prinsip-Prinsip Penelitian Tindakan Kelas

Metodologi Penelitian 24
Prinsip-prinsip Penelitian Tindakan Kelas meliputi (Arikunto, S: 2006) :
1. Kegiatan nyata dalam situasi rutin

Penelitian yang dilakukan peneliti tidak boleh mengubah suasana rutin,


penelitian harus dalam situasi yang wajar, sehingga hasil penelitian dapat
dipertanggungjawabkan. Hal ini berkaitan erat dengan profesi guru yaitu
melaksanakan pembelajaran, sehingga tindakan yang cocok dilakukan oleh guru
adalah yang menyangkut pembelajaran.

2. Adanya kesadaran diri untuk memperbaiki kerja

Kegiatan penelitian tindakan kelas dilakukan bukan karena keterpaksaan, akan


tetapi harus berdasarkan keinginan guru, guru menyadari adanya kekurangan pada
dirinya atau pada kinerja yang dilakukannya dan guru ingin melakukan perbaikan.
Guru harus berkeinginan untuk melakukan peningkatan diri untuk hal yanglebih
baik dan dilakukan secara terus menerus sampai tujuannya tercapai

3. SWOT sebagai dasar berpijak

Penelitian tindakan dimulai dengan melakukan analisis SWOT, yang terdiri atas
unsur-unsur S-Strength(kekuatan), W-Weaknesses (kelemahan), O-Opportunity
(kesempatan), T-Threat(ancaman). Empat hal tersebut dilihat dari sudut guru yang
melaksanakan maupun siswa yang dikenai tindakan. Dengan berpijak pada hal-hal
tersebut penelitian tindakan dapat dilaksanakan hanya bila ada kesejalanan antara
kondisi yang ada pada guru dan juga siswa. Kekuatan dan kelemahan yang ada pada
diri peneliti dan subjek tindakan diidentifikasi secara cermat sebelum
mengidentifikasi yang lain.

4. Upaya Empiris dan Sistemik

Dengan telah dilakukannya analisis SWOT, tentu saja apabila guru melakukan
penelitian tindakan, berarti guru sudah mengikuti prinsip empiris (terkait dengan
pengalaman) dan sistemik, berpijak pada unsur-unsur yang terkait dengan
keseluruhan sistem yang terkait dengan objek yang sedang digarap. Pembelajaran
adalah sebuah sistem, yang keterlaksanaannya didukung oleh unsur-unsur yang kait
mengkait. Jika guru mengupayakan cara mengajar baru, harus juga memikirkan
tentang sarana pendukung yang berbeda, mengubah jadwal pelajarandan semua
yang terkait dengan hal-hal yang baru diusulkan tersebut.

5. Ikuti Prinsip SMART dalam Perencanaan

Metodologi Penelitian 25
Kata SMART yang artinya cerdas mempunyai makna dalam proses perencanaan
kegiatan penelitian tindakan. Adapun makna dari masing-masing huruf adalah : S–
specific, khusus, tidak terlalu umum, M–Managable, dapat dikelola, dilaksanakan,
A-Acceptable, dapat diterima lingkungan, atau Achievable, dapat dicapai,
dijangkau, R-Realistic, operasional, tidak di luar jangkauan dan. T-Time-bond,
diikat oleh waktu, terencana.

Ketika guru menyusun rencana tindakan, harus mengingat hal-hal yang


disebutkan dalam SMART. Tindakan yang dipilih peneliti harus

 Khusus specific, masalah yang diteliti tidak terlalu luas, ambil satu aspek
saja sehingga langkah dan hasilnya dapat jelas dan spesifik
 Mudah dilakukan, tidak sulit atau berbelit, misalnya kesulitan dalam
mencari lokasi mengumpulkan hasil, mengoreksi dan lainnya.
 Dapat diterima oleh subjek yang dikenai tindakan, artinya siswa tidak
mengeluh gara-gara guru memberikan tindakan dan juga lingkungan tidak
terganggu karenanya
 Tidak menyimpang dari kenyataan dan jelas bermanfaat bagi dirinya dan
subjek yang dikenai tindakan.

 Metode Penelitian Tindakan Kelas


Secara singkat, metode penelitian berisi hal-hal sebagai berikut :
1. Setting Penelitian
Setting Penelitian mengambarkan lokasi dalam dan kelompok siswa atau subjek
yang dikenai tindakan. Tidak ada sempel populasi dalam PTK. Jadi subjek
penelitian adalah satu isi jelas secara keseluruhan.
2. Sasaran penelitian
Sasaran penelitian merupakan adanya suatu target bahwa akan terjadi perbahan
melalui tindakan yang dilalukan guru. Target disini bukan semata-mata hasil,
tetapi bagian dari proses pembelajaran.
3. Rencana tindakan
Rencana tindakan adalah gambaran riil secara detail mengenai rencana tindakan
yang akan dilakukan peneliti. Perlu diingat, bahwa yang dimaksud rencama
tindakan bukan tahapan atau siklus-siklus dalam PTK sebagaimana
dikemukakan, tetapi benar-benar rencana tindakan secara rill tentang hal-hal
yang akan dilakukan peneliti dari awal hingga akhir.

Metodologi Penelitian 26
4. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data adalahmetode yang digunakan peneliti dalam
merekam data (informasi) yang dibutuhkan. Secara umum, bagian ini
menjelaskan tentang informasi yang menyangkut indicator yang terdapat dalam
tindakan, misalnya hidupnya diskusi siswa, proses keteraturan diskusi,
penggunaan alat peraga dan lain sebagainya.disamping itu, pada bagian ini,
peneliti juga perlu mengemukakan proses refleksi yang akan dilakukan dan cara
mengetahui hasil belajar siswa.
5. Analisis data
Analisis data adalah analisis data yang telah terkumpul guna mengetahui
seberapa besar keberhasilan tindakan dalam penelitian untuk perbaikan belajar
siswa.

Metodologi Penelitian 27
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Metode penelitian deskriptif merupakan metode penelitian yang digunakan untuk
menemukan pengetahuan yang seluas-luasnya terhadap objek penelitian pada suatu masa
tertentu.
Metode penelitian expost facto bertujuan untuk menemukan penyebab yang
memungkinkan perubahan perilaku, gejala atau fenomena yang disebabkan oleh suatu
peristiwa, perilaku atau hal-hal yang menyebabkan perubahan pada variabel bebas secara
keseluruhan sudah terjadi.
Penelitian eksperimen dapat dikatakan sebagai metode penelitian yang digunakan untuk
mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan
Metode penelitian survey atau secara ringkas biasa disebut metode survey adalah
penelitian yang sumber data dan informasi utamanya diperoleh dari responden sebagai sampel
penelitian dengan menggunakan kuesioner atau angket sebagai instrumen pengumpulan data.
Penelitian Tindakan Kelas merupakan sebuah kegiatan yang dilaksanakan untuk
mengamati kejadian-kejadian dalam kelas untuk memperbaiki praktek dalam pembelajaran
agar lebih berkualitas dalam proses sehingga hasil belajarpun menjadi lebih baik.

B. Saran

Mengingat beragamnya masalah dalam bidang pendidikan, terutama pasca ekonomi, untuk
menelitinya pun tidak hanya diperlukan satu teori untuk kita sebagai seorang peneliti,
pahamilah betul masalah yang ada kemudian pilihlah jenis penelitian yang akan anda gunakan
untuk menyelesaikan penelitian tersebut.

Metodologi Penelitian 28
DAFTAR PUSTAKA

http://ayo-nambah-ilmu.blogspot.com/2016/06/metode-penelitian-deskriptif-jenis.html

https://www.eurekapendidikan.com/2015/11/metode-penelitian-eksperimen.html

http://sosiologis.com/metode-survey

http://www.kumpulancontohmakalah.com/2015/11/pengertian-dan-contoh-penelitian-survey.html

http://abibulah.blogspot.com/2015/05/metode-penelitian-tindakan-kelas.html

https://penalaran-unm.org/penelitian-expo-facto/

Metodologi Penelitian 29