Anda di halaman 1dari 6

ACARA 1

PRORATA DAN PEMECAHAN UMUR SPARAGUE

I. Latar Belakang

Data kependudukan merupakan salah satu aspek penting di sebuah wilayah


khususnya bagi para perencana dan pengambil kebijaksanaan. Seperti diketahui bahwa
hampir semua rencana pembangunan perlu ditunjang dengan data jumlah penduduk,
persebaran dan susunannya menurut umur penduduk yang relevan dengan rencana
tersebut. Data kependudukan tersebut dapat diperoleh dari sensus penduduk, survei
penduduk dan registrasi penduduk.

Data yang diperoleh dari hasil sensus dan survei biasanya masih mengandung
kesalahan. Kesalahan yang paling sering ditemukan adalah kurang tepatnya pelaporan
umur. Hal ini sering terjadi, antara lain karena banyak penduduk yang tidak
melaporkan umur dengan benar. Penyebabnya adalah penduduk tersebut tidak
mengetahui tanggal kelahirannya atau umurnya, sehingga pelaporan umurnya hanya
berdasarkan perkiraan sendiri atau perkiraan pencacah. Ada pula penduduk yang
mengetahui umurnya secara pasti tetapi karena alasan-alasan tertentu cenderung
melaporkan umurnya menjadi lebih tua atau lebih muda. Oleh karena itu untuk
keperluan perencanaan, data dasar yang mengandung kesalahan-kesalahan tersebut
perlu dievaluasi dan dirapihkan secara cermat dengan tujuan untuk menghapus atau
memperkecil berbagai kesalahan yang ditemukan.

II. Tujuan

Menentukan distribusi umur penduduk.

III. Alat dan Bahan


1. Data penduduk menurut kelompok umur dan umur tunggal provinsi Jawa Timur
tahun 1980, 1990, 2000, dan 2010.
2. Perangkat lunak Ms. Office Excel
3. Perangkat lunak Ms. Office Word

IV. Langkah Kerja


- Data penduduk menurut kelompok umur dan umur
tunggal provinsi Jawa Timur tahun 1980, 1990, 2000,
dan 2010.
- Perangkat lunak Ms. Office Excel
- Perangkat lunak Ms. Office Word

Menyiapkan data penduduk menurut Menyiapkan data penduduk menurut


umur tunggal dan kelompok umur kelompok umur provinsi Jawa Timur
provinsi Jawa Timur tahun 1980 dan tahun 2000 dan 2010
1990
Lanjutan......

Menghitung persentase penduduk Memecah kelompok umur akhir


umur tunggal maupun kelompok menggunakan faktor pengali
umur penduduk Jawa Timur di tahun sparague first end-panel dan end-
1980 dan 1990 panel
Menghitung jumlah penduduk tidak
tahu (TT) yang ditambahkan pada Memecah kelompok umur tengah
umur tunggal maupun kelompok menggunakan faktor pengali
umur (i) Jawa Timur tahun 1980 dan sparague mid-panel
1990

Menghitung jumlah penduduk hasil


Memecah kelompok umur sebelum
prorata pada umur tunggal maupun
dan sesudah kelompok akhir
kelompok umur Jawa Timur tahun
menggunakan faktor pengali
1980 dan 1990
sparague first next to end-panel dan
last next to end-panel

Tabel Tabel
perhitungan perhitungan
prorata menurut prorata menurut Tabel Rumus dan
umur tunggal kelompok umur perhitungan contoh
Jawa Timur Jawa Timur sparague perhitungan
tahun 1980 dan tahun 1980 dan provinsi Jawa sparague
1990 1990 Timur tahun
2000 dan 2010
Keterangan :
Rumus dan Input :
contoh Proses :
perhitungan Output :
prorate

V. HASIL PRAKTIKUM
1. Table perhitungan prorata menurut umur tunggal provinsi Jawa Timur tahun 1980
dan 1990 (terlampir)
2. Table perhitungan prorate menurut kelompok umur provinsi Jawa Timur tahun
1980 dan 1990 (terlampir)
3. Rumus dan contoh perhitungan prorate (terlampir)
4. Tabel perhitungan sparague provinsi Jawa Timur tahun 2000 dan 2010 (terlampir)
5. Rumus dan contoh perhitungan sparague 4 (terlampir)
VI. PEMBAHASAN

Data kependudukan merupakan komponen yang sangat penting dalam sebuah


negara. Data kependudukan memiliki peran yang strategis untuk menentukan
kebijakan, perencanaan pembangunan dan evaluasi hasil-hasil pembangunan, baik bagi
pemerintah maupun pihak lain. Ketersediaan data perkembangan kependudukan
menjadi faktor kunci keberhasilan pelaksanaan program kependudukan. Secara umum
terdapat tiga sumber data kependudukan, yaitu sensus penduduk. Registrasi penduduk
dan survei penduduk (Mantra, 2000).

Usia dan jenis kelamin adalah dua unsur pada basis data kependudukan yang
selalu dikumpulkan, ditabulasi, dianalisis dan disesuaikan dalam semua kajian
demografis (Ramachandran, 1989). Data umur yang akurat merupakan informasi
dasar yang sangat penting. Kesalahan dalam pencatatan data umur akan
berdampak serius dan luas, karena struktur umur menjadi dasar dalam
perhitungan berbagai indikator kependudukan. Oleh karena itu data dasar yang
mengandung kesalahan-kesalahan tersebut perlu dievaluasi kemudian dilakukan
perapihan secara cermat dengan tujuan untuk menghapus atau memperkecil berbagai
kesalahan yang ditemukan.

Kesalahan yang sering terjdi pada sensus maupun survei adalah kesalahan
pengukuran umur. Hal tersebut terjadi karena penduduk tidak mengetahui tanggal
kelahirannya atau umurnya, sehingga pelaporan umurnya hanya berdasarkan perkiraan
sendiri atau perkiraan pencacah. Ada pula penduduk yang mengetahui umurnya secara
pasti tetapi karena alasan-alasan tertentu cenderung melaporkan umurnya menjadi lebih
tua atau lebih muda. Biasanya pengelompokkan umur terjadi di umur yang berakhiran
0 dan 5, yang menyebabkan grafik dari umur ini lebih menonjol dibandingkan umur
yang lain.

Penduduk yang tidak mengetahui tanggal lahir atau umurnya biasanya


dimasukkan dalam kelompok tidak tahu (TT). Keadaan ini dapat dilihat pada data
penduduk provinsi Jawa Timur hasil sensus 1980 dan 1990. Data tersebut menunjukan
bahwa terdapat 4226 penduduk di tahun 1980 dan 1133 penduduk di tahun 1990 yang
tidak mengetahui umurnya. Untuk mengatasi kesalahan itu perlu dilakukan evaluasi
umur. Evaluasi umut dapat dilakukan dengan mendistribusikan penduduk TT secara
prorata ke semua kelompok umur. Cara ini dilakukan agar kelompok penduduk tidak
tau dapat tersebar merata ke semua umur.

Bila membandingkan antara kedua data hasil sensus tersebut dapat diketahui
bahwa jumlah penduduk kelompok TT provinsi Jawa Timur telah mengalami
penurunan dari tahun 1980 ke tahun 1990. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas data
sensus penduduk tahun 1990 lebih baik dibandingkan periode sebelumnya. Artinya
salah satu kesalahan dalam proses sensus dapat diminimalisir.

Penduduk yang mengetahui umurnya secara pasti tetapi karena alasan-alasan


tertentu cenderung melaporkan umurnya menjadi lebih tua atau lebih muda. Wanita
yang sudah dewasa melaporkan usianya lebih rendah dari yang sebenarnya. Sebaliknya,
laki-laki yang sudah dewasa ada kecenderungan melaporkan umurnya lebih tua.
(Mamas, 1992). Selain itu juga ada kebiasaan dari penduduk yang tidak tahu tanggal
lahirnya cenderung melaporkan umurnya pada tahun-tahun dengan akhiran “0” dan
“5”. Sehingga menyebabkan terjadinya penumpukan penduduk pada umur-umur
tersebut. Sebagai contoh adalah data jumlah penduduk Jawa Timur tahun 1980 pada
umur 25 tahun proporsi penduduk mencapai 3,1 persen seedangkan umur di atasnya
sebesar 1,3 persen dan dibawahnya hanya 1,4 persen. Contoh lain pada umur 40 tahun
sebesar 3 persen sedangkan umur di atas dan di bawahnya hanya 0,6 persen. Kondisi
tersebut juga terjadi di tahun 1990. Namun di tahun 1990 lebih baik karena
persentasenya lebih rendah dibanding tahun 1980. Sehingga gap antara umur tunggal
dengan umur berakhiran “0” atau “5” tidak terlalu jauh.

Kesalahan yang diakibatkan oleh kecenderungan untuk melaporkan umur pada


tahun-tahun berakhiran “0” atau “5” dapat diperkecil dengan mengelompokkan
penduduk dalam selang waktu tertentu, misalnya 5 tahun. Hasilnya dapat dilihat pada
data jumlah penduduk menurut kelompok umur Jawa Timur tahun 1980 dan 1990.
Dalam data tersebut proporsi penduduk di tiap kelompok umur tidak jauh berbeda.
Jumlah penduduk paling banyak ialah pada kelompok umur kecil yaitu umur 5-9 tahun
kemudian terus mengerucut ke umur atas. Jumlah penduduk paling sedikit ialah pada
kelompok umur 70-74.

Data perhitungan prorata penduduk Jawa Timur tidak menunjukan hasil yang
signifikan dibandingkan data sebelumnya karena prorata hanya digunakan untuk
mengevaluasi umur dengan mendistribusikan kelompok umur TT ke semua umur.
Sehingga penumpukan umur di tahun dengan akhiran “0” dan “5” masih menonjol.
Untuk mengatasi kesalahan tersebut diperlukan perapihan data lebih lanjut dengan
metode lain. Pola umur yang menumpuk di tahun tertentu tersebut menggambarkan
bahwa pelaporan umur dalam dua periode sensus tersebut masih kurang memuaskan.
Jika pelaporan umur itu baik dan tidak ada peristiwa luar biasa seperti perang atau
wabah pada masa lampau maka jumlah penduduk pada usia tertentu tidak akan jauh
berbeda dengan jumlah penduduk pada usia sekitamya. Penggunaan metode ini dinilai
tepat karena mudah dan kesalahan yang timbul dengan distribusi prorata itu kecil
sehingga dapat diabaikan.

Perencanaan pembangunan sektoral atau pada sektor tertentu seperti bidang


kesehatan, pendidikan, ketenagakerjaan terkadang amembutuhkan jumlah penduduk
dengan pengelompokkan umur tertentu seperti umur 0, 0-2, 1-4, 4-6, 7-12, … , 15-64,
dan 60+. Untuk membentuk pengelompokan umur tertentu diperlukan pemecahan dari
data kelompok umur lima tahunan yang telah dipublikasi menjadi umur satu tahunan,
kemudian dikelompokkan kembali sesuai dengan kebutuhan pengguna pada masing-
masing sektor (BAPPENAS, 2014).

Salah satu metode yang digunakan untuk memecah kelompok umur 5 tahunan
ke dalam umur 1 tahunan adalah Spraque. Metode ini menggunakan koefisien
interpolasi untuk ‘memecah’ penduduk dengan kelompok umur lima tahunan agar
mendapatkan jumlah penduduk menurut kelompok umur satu tahunan. Koefisien
interpolasi sprague terdiri atas lima kolom (G1, G2, G3, G4, dan G5) dan terdiri atas
lima kelompok panel (Samosir dan Rajagukguk, 2015).

Secara umum sistem metode ini adalah dengan mengalikan koefisien interpolas
dengan jumlah penduduk tiap tahun. Setelah dilakukan pemecahan umur data
penduduk Jawa Timur tahun 2000 dan 2010 dapat diketahui bahwa prporsi umur
penduduk lebih banyak di umur produktif, seperti umur 20-an hingga 40-an. Selain itu
hasil pemecahan juga menunjukkan bahwa di dua periode sensus tersebut masih terjadi
penumpukan di umur yang berakhiran angka “0” dan “5”. Hal ini menandakan kualitas
hasil sensus sampai periode tahun 2010 juga masih kurang. Namun dibandingkan dua
periode sebelumnya yaitu tahun 1980 dan 1990 kualitas pengukuran umur di tahun
2000 dan 2010 jauh lebih baik. Hal ini bisa dilihat dari proporsi umur tahun yang
berakhiran “0” dan “5” tidak begitu mencolok dibandingkan dengan umur disekitarnya.

Kondisi data umur penduduk Jawa Timur tahun 2000 dan 2010 sebelum di
pecah dan setelah di pecah bila dibandingkan secara umum memiliki struktur yang
sama. Pada umur awal seperti umur 0-5 tahun-an proporsi penduduk sedikit kemudian
melebar di umur 15-an. Penurunan proporsi penduduk terjadi di umur 20-24 namun
kembali bertambah di umur 30-an kemudian terus menurun hingga umur 70-an. Yang
membedakan adalah di data hasil sprague penumpukan penduduk di umur tertentu
terlihat jelas sedangkan di kelompok umur tidak terlihat. Oleh karena itu metode ini
cukup baik digunakan untuk perapihan umur khususnya untuk pemecahan umur karena
perhitungannya mudah dan keakuratan data mendekati tepat yaitu sebesar 0,0288
(BAPPENAS, 2014).

Ketepatan pelaporan umur erat kaitannya dengan tingkat pendidikan penduduk.


Dengan meningkatnya pendidikan diharapkan pelaporan umur dalam sensus/survai
pada masa yang akan datang akan bertambah baik.Selain itu peranan kemampuan
pencacah untuk memperoleh jawaban yang tepat perlu ditingkatkan melalui pemilihan
petugas yang ketat serta pelatihan yang intensif. Dengan demikian maka kualitas dari
data sensus akan lebih baik dan dapat digunaakn untuk perencanaan yang lebih baik
pula.

VII. KESIMPULAN
Distribusi umur penduduk Jawa Timur cenderung lebih banyak di usia dengan tahun
berakhiran “5” dan “0” yang disebabkan penduduk lupa dengan tanggal lahirnya
maupun alasan tertentu. Hal ini menyebabkan terjadinya penumpukan penduduk di usia
tersebut. Akibatnya data menjadi kurang akurat. Sehingga untuk keperluan
perencanaann, evaluasi dan perapihan umur sangat penting dilakukan.
DAFTAR PUSTAKA

BAPPENAS. Proyeksi Penduduk Indonesia Umur Tertentu dan Umur Satu Tahunan
2010-2025. Jakarta: BAPPENAS.

BPS. 1980. Penduduk Jawa Timur Hasil Sensus Penduduk Tahun 1980. Jakarta: BPS.

BPS. 1990. Penduduk Jawa Timur Hasil Sensus Penduduk Tahun 1990. Jakarta: BPS.

BPS. 2000. Penduduk Jawa Timur Hasil Sensus Penduduk Tahun 2000. Jakarta: BPS.

BPS. 2010. Penduduk Jawa Timur Hasil Sensus Penduduk Tahun 2010. Jakarta: BPS.

Mamas, S. G. Made. 1992. Sensus Penduduk 1990: Beberapa Catatan Tentang


Keunggulan dan kelemahannya. Jurnal Populasi, 2 (3).

Mantra, Ida, Bagus. 2000. Demografi Umum. Yogyakarta: Putera Pelajar.

Ramachandran, R. 1989. Urbanization and Urban Systems in India. Britania Raya:


Oxford University Press.

Samosir, Omas Bulan dan Rajagukguk, Wilson. 2015. Demografi Formal. Jakarta:
UKI Press.