Anda di halaman 1dari 44

Perancangan dan Pelaksanaan Terowongan pada

Media Campuran Tanah Batuan

Fahmi Aldiamar
Desyanti

Balai Geoteknik Jalan, Puslitbang Jalan dan Jembatan


STUDI RUTE
Supply and demand
HAMBATAN FISIK

KETERBATASAN LAHAN DI
SUNGAI atau LAUT PEGUNUNGAN atau PERBUKITAN
PERKOTAAN

Terowongan di bawah air Terowongan Perisai Terowongan pegunungan Lintas bawah


(immersed tunnel) (shield tunnel) (mountain tunnel) (underpass)

Catatan: Catatan: Catatan: Catatan:


· Tebal lapisan penutup > 1,5 kali · Tebal lapisan penutup > 1,5 kali · Tebal lapisan penutup > 1,5 kali · Tebal lapisan penutup umumnya
diameter terowongan diameter terowongan diameter terowongan < 15m
· Penampang efektif untuk 2 lajur · Penampang efektif untuk 2 lajur · Penampang efektif hingga 3 lajur · Penampang efektif hingga 4 lajur
kendaraan atau untuk multi purpose kendaraan atau untuk multi purpose kendaraan kendaraan
tunnel tunnel

BATUAN CAMPURAN TANAH DAN TANAH LUNAK


KLASIFIKASI TANAH/BATUAN (ROCK) BATUAN (MIX FACE) (SOFT GROUND)
Supply and demand
1

7
2

Penentuan rute dan


alinemen
Evaluasi kondisi geologi, geoteknik dan hidrogeologi
Evaluasi pengaruh pada daerah sekitar

3 6

Perencanaan portal

Fasilitas terowongan

4 5

Penentuan metode penggalian dan sistem perkuatan

Dinding terowongan

Picture source: FHWA (2009), JSCE (2007) and Awaji (2013)


Supply and demand

Jalan menyusuri
kontur pegunungan

VS

Terowongan

Opsi teknologi untuk jalan di pegunungan


KONTRADIKSI PERENCANAAN GALIAN DALAM DAN TEROWONGAN
GALIAN DALAM TEROWONGAN
• Berusaha menghindari semaksimal • Berusaha diletakkan pada ruang yang
mungkin tanah keras atau batuan bertanah keras/batuan keras
• Alinemen horizontal menyesuaikan • Alinemen horizontal diusahakan
kontur permukaan (berkelok kelok selurus mungkin dengan capaian
mengitari bukit) selisih elevasi yang kecil dari satu titik
ke titik yang lain (menembus bukit)
Penentuan rute dan alinemen
Persyaratan geometeri terowongan jalan (Permen PU no 19 tahun 2011):

• Tipikal potongan melintang jalan tidak banyak berbeda untuk semua persyaratan
dimensi pada jalan biasa yang berada di bawah struktur lain.
• Ruang bebas vertikal pada semua lajur yang dilewati lalulintas harus 5,10 meter
• Jumlah lajur dalam 1 jalur adalah 2 lajur dilengkapi bahu dalam dan bahu luar
sebagaimana disyaratkan. Perbedaan adalah adanya semacam sidewalk atau akses
darurat di kedua sisi yang tidak terdapat pada jalan bukan terowongan
• Bentuk terowongan diintegrasikan dengan kebutuhan dimensi kebutuhan jalur
lalullintas  berbentuk oval-bulat-ellipsoid sesuai kestabilan struktur terowongan
tetapi memenuhi dimensi kebutuhan jalur lalulintas.
• Satu superelevasi: diharapkan satu kemiringan dan satu superelevasi sepanjang
terowongan. Kemiringan ke dalam atau ke luar untuk efisiensi drainase dan
kemudahan pelaksanaan.
• Standar kelandaian memanjang jalan normal antara 2-4 persen. Dan pada keadaan
tertentu dapat mencapai 5-6 persen. Angka 3 persen merupakan angka tertinggi
untuk standar geometrik terowongan (standar Jepang menerapkan hal ini).
• Secara teknis penerapan kelandaian memanjang sampai 5-6 persen dimungkinkan
tetapi kelandaian ini akan menuntut adanya climbing lane yang artinya pelebaran
terowongan dari 2 lajur menjadi 3 lajur  biaya jadi sangat tinggi.
• Di luar daripada ini, kelandaian yang tinggi pada terowongan “terbalik” dengan
konsep dasar terowongan yang justru dibuat untuk mengatasi kelandaian yang
berlebihan.
Supply and demand

INTERGRASI
SUBWAY, JALAN DAN
INFRASTRUKTUR
GEDUNG

Mengatasi permasalahan keterbatasan lahan dan pembebasan


lahan serta kemacetan lalu lintas di permukaan
Sustainability demand

Opsi teknologi untuk melewati sungai/laut

Perumusan garis besar rencana kegiatan serta perumusan tiap alternatif


konstruksi didasarkan pada pertimbangan teknis dan ekonomi, dan
kelayakan lingkungan melalui proses kajian-awal lingkungan.
Supply and demand
Evaluasi alternatif masing-masing tipe terowongan

Aspek-aspek yang harus diperhatikan:


1. Studi rute  Peningkatan waktu dan jarak tempuh
2. Studi finansial  Analisis biaya siklus umur rencana
3. Tipe konstruksi  Kemampuan untuk dilaksanakan
4. Penyelidikan geoteknik  Identifikasi potensi masalah dan
penentuan tipe konstruksi
5. Aspek lingkungan dan kemasyarakatan  meningkatkan kualitas
udara, mengurangi kebisingan dan dampak terhadap peningkatan
ekonomi
6. Pengoperasian  Pengendalian lalu lintas, ventilasi,
pencahayaan, sistem penunjang keselamatan pengguna jalan,
peralatan pemeliharaan, pembersihan rutin, dll.
7. Keberlanjutan (sustainabilily)  Peluang untuk pengembangan
tanah dan perumahan, fasilitas komersil atau hiburan di sekitar
dan sepanjang trase jalan.

MULTI DISIPLIN BIDANG KEAHLIAN DIPERLUKAN


Standar dan Pedoman Teknis yang
Tersedia
Standar dan Pedoman Teknis yang
Tersedia
Evaluasi kondisi geologi, geoteknik dan hidrogeologi

Permasalahan ketidakstabilan pada terowongan


MEDIA CAMPURAN TANAH-BATUAN
Media:
jenis material yang dilalui oleh
terowongan

Tanah

MEDIA CAMPURAN
Batuan keberadaan dua atau lebih jenis media pada
permukaan galian terowongan secara bersamaan
dengan sifat yang berbeda secara signifikan &
mempengaruhi pekerjaan penggalian
Campuran Tanah-Batuan

Media campuran dapat berupa:


• Permukaan tanah berlapis atau terikat yang
terbentuk dari perlapisan batuan, intrusi vertikal ( dyke), patahan
atau daerah pergeserannya,
• Bidang kontak (interface) tanah dan batuan, biasanya material
lapuk di atas batuan dasar,

• Media campuran dengan bongkahan bulat yang tertanam pada


lapisan batuan (corestones) yang bercampur dengan tanah.
PERMASALAHAN PEMBANGUNAN TEROWONGAN
PADA MEDIA CAMPURAN TANAH-BATUAN
Masalah ketidakstabilan yang disebabkan
oleh kurangnya stand-up time
Ketidakstabilan terjadi pada:
Pada muka bidang galian terowongan Di sekitar lubang terowongan

Ground loss yang mengakibatkan kerusakan


pada sistem perkuatan

Jatuhnya material di sekitar lubang


Jatuhnya material pada muka bidang
Adanya aliran air karena adanya perbedaan terowongan
galian terowongan
sifat permeabilitas material
Spalling

Tekanan tanah bekerja di sekitar


Tekanan lateral mendorong muka
lubang terowongan
bidang galian

Keruntuhan muka bidang galian


Keruntuhan di sekitar lubang
terowongan
terowongan
PERENCANAAN
METODE PENGGALIAN &
PERKUATAN TEROWONGAN
PENYELIDIKAN LAPANGAN & LABORATORIUM
 TUJUAN
Profil bawah permukaan (perlapisan, struktur
geologi dan tipe batuan/tanah)
Sifat-sifat material tanah dan batuan serta Pengeboran
karakteristik massa tanah dan batuan

Anomali geologi dan zona patahan

Kondisi hidrogeologi (muka air tanah, akuifer,


tekanan hidrostatis, dll.) Pengujian
Lapangan
(insitu)
Potensi risiko konstruksi

Uji Geofisika
CARA & Metode Penyelidikan harus konsisten dengan:
 Ruang Lingkup Proyek, yaitu: lokasi, ukuran, &
anggaran;
 Tujuan Proyek, yaitu: toleransi risiko, kinerja jangka
panjang; Uji
 Kendala Proyek, yaitu: geometri, kemampuan untuk Laboratorium

dilaksanakan (constructability), dampak pada pihak ketiga,


estetika, dan dampak lingkungan
PENYELIDIKAN LAPANGAN & LABORATORIUM
 PENDEKATAN EMPIRIS
Parameter yang
Jenis pengujian Standar pengujian
didapatkan
· Uji kuat tekan bebas tanah Kuat tekan bebas · SNI 3638:2012
· Uji kuat tekan bebas batuan batuan/tanah, qu (kN/m2) · SNI 2825:2008

Uji berat isi tanah Berat isi,  (kN/m3) · SNI 03-3637-1994

Penyelidikan geofisika: Kecepatan gelombang


· Uji seismik refraksi elastis batuan/tanah, Vp · ASTM D5777 - 2011
· Uji crosshole (km/detik) · ASTM D4428 / D4428M-14
· Uji downhole · ASTM D7400 - 08
· Uji seismik refleksi · ASTM D7128 – 05(2010)

Uji laboratorium cepat rambat Kecepatan gelombang · SNI 06-2485-1991


ultrasonik dan konstanta elastik ultrasonik contoh uji, up
(km/detik)

Pengambilan contoh batuan inti dan


Penamaan Mutu Batu, PMB (Rock PMB/RQD SNI 2436:2008
Quality Designation, RQD)
PENYELIDIKAN LAPANGAN & LABORATORIUM
 PENDEKATAN ANALITIS

Metode Tipe tanah yang sesuai Parameter yang didapatkan Standar pengujian
Electric cone Lanau, pasir, lempung dan gambut · Pendugaan tipe tanah dan perlapisan tanah SNI 2827:2008
penetrometer (CPT)
· Pasir: ’, Dr, ho’
· Lempung: su, p’
Piezocone Lanau, pasir, lempung dan gambut · Pendugaan tipe tanah dan perlapisan tanah ASTM D5778-12
penetrometer (CPTu)
· Pasir: ’, Dr, ho’, u0 dan muka air tanah
· Lempung: su, p’, ch, kh, OCR
Flat Plate Lanau, pasir, lempung dan gambut · Pendugaan tipe tanah dan perlapisan tanah, ASTM D6635- 1(2007)
Dilatometer (DMT)
berat isi tanah
· Pasir: ’, E, Dr, mv
· Lempung: su, p’, Ko, mv, E, ch, kh
Pre-bored Lempung, lanau, gambut, beberapa E, G, mv, su ASTM D4719 – 07
pressuremeter (PMT) jenis pasir dan kerikil
Catatan:
’ : sudut geser efektif Gmax : modulus geser regangan kecil
Dr : densitas relatif G : modulus geser
ho’ : tekanan efektif horisontal insitu Emax : modulus young regangan kecil
Su : kuat geser niralir E : modulus young
p’ : tekansan pre-konsolidasi tot : total densitas
ch : koefisien konsolidasi horisontal eo : rasio rongga insitu
kh : konduktivitas hidrolik horisontal mv : koefisien kompresibilitas volumetrik
OCR : rasio konsolidasi berlebih Ko : koefisien tekanan tanah saat diam
Vs : kecepatan gelombang geser St : sensivitas
Sumber: FHWA (2009)
PENYELIDIKAN LAPANGAN & LABORATORIUM
 PENDEKATAN ANALITIS

Metode pengujian Parameter yang didapatkan Standar pengujian


Hydraulic fracturing SNI 13-4180-1996
Overcoring Tegangan lapangan (in situ stress) ASTM D4623 – 08
Flat Jack test ASTM D4729 – 08
Plate bearing test ASTM D1195 / D1195M – 09
Borehole dilatometer test SNI 13-6664-2002
Flat Jack test ASTM D4729 – 08
Radial jacking test Modulus deformasi ASTM D4506 - 13e1
Pressuremeter Pd T-03.2-2005-A
ASTM D4395 – 08
Dynamic measurement
ASTM D4971 – 08
ASTM D5753 - 05(2010)
Acoustic televiewing Pencitraan dan ketidakseragaman
ASTM D6167 – 11
(discontinuities)
Borehole video televiewing ASTM D5753 - 05(2010)
Slug test ASTM D4044 - 96(2008)
Packer test Permeabilitas SNI 2411:2008
Pumping test SNI 03-6453-2000
Sumber: FHWA (2009)
PENYELIDIKAN LAPANGAN & LABORATORIUM
 PENDEKATAN ANALITIS

Metode pengujian Informasi yang didapatkan Standar pengujian


Seismik refraksi · Perlapisan tanah atau batuan ASTM D5777 - 2011
· Kedalaman batuan dasar
· Kedalaman muka air tanah
· Topografi batuan dasar
· Perubahan litologi lateral tanah atau batuan

· Resistiviti elektrik dengan · Kedalaman batuan dasar SNI 2528:2012


metode Wenner · Kedalaman muka air tanah
· Resistiviti elektrik dengan · Lokasi batuan dengan rekahan tinggi atau zona patahan SNI 2818:2012
metode Schlumberger · Rongga
· Sisipan pasir, bongkah atau material organik
· Batuan dan tanah yang memiliki kelulusan air (permeable rock)
· Perubahan litologi lateral tanah atau batuan
Ground penetrating radar · Kedalaman batuan dasar ASTM D6432 – 11
· Kedalaman muka air tanah
· Rongga
Propagasi gelombang seismik · Perlapisan tanah atau batuan Pd T-03.2-2005-A
(Seismic wave propagation): cross- · Kedalaman batuan dasar
hole, up-hole atau down-hole dan · Sisipan pasir, bongkah atau material organik
parallel seismic. · Batuan dan tanah yang memiliki kelulusan air (permeable rock)

Sumber: FHWA (2009)


PENYELIDIKAN LAPANGAN & LABORATORIUM
 PENDEKATAN ANALITIS

Parameter yang Parameter yang


Metode pengujian Standar pengujian Metode pengujian Standar pengujian
didapatkan didapatkan
Densitas Modulus elastisitas
a. Tanah a. SNI 03-3637-1994 a. SNI 03-2455-1991, SNI 03-
a. Tanah
b. Batuan b. SNI 03-2437-1991 4813-1998
b. Batuan
Porositas SNI 03-2437-1991 Kemampuan b. SNI 2826:2008
Kadar air SNI 1965:2008 berdeformasi
Rasio Poisson
Slake durability SNI 3406:2011 a. SNI 03-2455-1991, SNI 03-
a. Tanah
Swelling index 4813-1998
Sifat-sifat indeks SNI 6424:2008 b. Batuan
Point load index SNI 03-2814-1992 b. SNI 2826:2008
Konsistensi (hardness) Permeabilitas Koefisien
a. SNI 1966:2008, SNI
a. Tanah a. Tanah permeabilitas atau a. SNI 2435:2008
1967:2008, SNI 3422:2008
b. Batuan b. Batuan kelulusan air b. ASTM D4525 - 13e1
b. SNI 13-6581-2001
ASTM D7625 – 10 Analisis petrografi (thin-
Abrasivity SNI 7573:2010
SNI 2417:2008 sections analysis)
Kuat tekan uniaksial Differential thermal Mineralogi dan
a. Tanah a. SNI 3638:2012 analysis ukuran butir ASTM E794-06(2012)
b. Batuan b. SNI 2825:2008 X-ray diffraction SNI 13-6584-2001
Kuat tekan triaksial Sumber: FHWA (2009)
a. SNI 03-2455-1991, SNI 03-
a. Tanah
Kekuatan 4813-1998
b. Batuan
b. SNI 2815:2011
Kuat tarik SNI 2486:2011
Kuat geser
Kuat geser
a. SNI 03-3420-1994, SNI
a. Tanah
2813:2008
b. Batuan
b. SNI 2824:2011
Penentuan kategori tanah/batuan
Penentuan kategori tanah/batuan
Penentuan kategori tanah/batuan
PEMILIHAN METODE PENGGALIAN & SISTEM PERKUATAN
 PENDEKATAN EMPIRIS
PEMILIHAN METODE PENGGALIAN & SISTEM PERKUATAN
 PENDEKATAN EMPIRIS

Penampang Melintang Tipikal Penampang Memanjang Tipikal


Pola Perkuatan & Dinding Terowongan Pola Perkuatan & Dinding Terowongan

SKEMA TIPIKAL POLA PERKUATAN DAN DINDING SERTA DEFORMASI IZIN


METODE PENGGALIAN & SISTEM PERKUATAN

BENTUK & METODE DAMPAK PADA


METODE KONDISI
UKURAN PENEROWONG STRUKTUR &
TANAH/
PENGGALIAN BATUAN
PENAMPANG AN YANG LINGKUNGAN
PENGGALIAN DIGUNAKAN SEKITAR

SKEMA METODE PENGGALIAN


METODE PENGGALIAN & SISTEM PERKUATAN
 CONTOH & ILLUSTRASI PELAKSANAAN PENGGALIAN

Bagian mahkota/atap
terowongan

Bagian Bagian
bawah bawah mahkota
Jalan
akses

Bagian
bawah

Lantai
Metode penggalian terowongan
Road header

Roadheader dapat digunakan pada media batuan sedang dan batuan dengan
retakan/kekar dengan Rock Mass Rating (RMR) antara 30-60.
Metode penggalian terowongan
Metode penggalian mekanis lainnya

Ripper

Excavator dapat digunakan pada terowongan di media batuan lunak


atau batuan dengan retakan/kekar (RMR <30) atau tanah.
Evaluasi numerik

Full face method with auxiliary bench cut Multiple bench cut method
PEMILIHAN METODE PENGGALIAN & SISTEM PERKUATAN
 PENDEKATAN EMPIRIS
PEMILIHAN METODE PENGGALIAN & SISTEM PERKUATAN
 METODE TAMBAHAN (JSCE, 2007)
PEMILIHAN METODE PENGGALIAN & SISTEM PERKUATAN
 METODE TAMBAHAN (JSCE, 2007)
PEMILIHAN METODE PENGGALIAN & SISTEM PERKUATAN
 METODE TAMBAHAN (JSCE, 2007)
PEMILIHAN METODE PENGGALIAN & SISTEM PERKUATAN
 METODE TAMBAHAN (JSCE, 2007)
Mekanisme keruntuhan
• Untuk kondisi media campuran tanah-batuan, pemodelan
menggunakan pendekatan persamaan sederhana tidak dapat
mengakomodasi kompleksitas kondisi geologi dan geoteknik.
• Diperlukan model numerik, untuk melihat mekanisme
ketidakstabilan akibat besarnya deformasi yang terjadi pada
muka bidang galian.

Mekanisme tegangan yang bekerja


saat terjadi penggalian terowongan

Ilustrasi perilaku deformasi pada


penggalian terowongan
Mekanisme ketidakstabilan muka bidang galian

1. Desakan pada muka bidang 2. Gerakan dan keruntuhan pada


galian muka galian

Steel pipe
forepiling

Steel pipe
forepiling
+
Bolting to face
Contoh model numerik
A) Perkuatan muka bidang galian
Mencegah terjadinya keruntuhan pada kondisi batuan/tanah yang
tidak stabil
・Long forepiling untuk kestabilan atap terowongan Long forepiling(dolIing)
・long facebolts kestabilan muka galian

Long forepiling

Long
forepiling Long facebolts (dolIing)

Long facebolts

Long
facebolts
B) Perkuatan kaki galian
Mencegah terjadinya penyempitan akibat desakan pada bagian kaki
・Penggunaan invert dan mini bench cut method untuk stabilisasi bagian kaki

Long forepiling
Bench L=3m
Long facebolts
SL Upper section

Bottom section

Invert Backfill

Supports of Invert (Shotcrete + Steel support)

Bench L=3m

Upper section
SL Upper section

Bottom section Bottom section


Support of Invert
Invert
Invert
Support of Invert
Contoh waktu siklus penggalian terowongan menggunakan
metode tambahan
Steel pipe forepilling(L=12.5m)

Face Bolting (L=12.5m)

Konstruksi metode tambahan


dengan overlap tiap 9m

Steel pipe forepiling 9m 9m


& face bolting (12.5m)

a. Pemasangan forepiling
1.75m/ hari
Metode tambahan
/ 1 siklus
b. Injeksi mortar/grouting
setelah 9 siklus (= 2.25 hari) 9 m/
4 hari
a. Penggalian

Penggalian b. Pembuangan material galian 0.25m/ hari


terowongan / 1 siklus
c. Pemasangan penyangga

Laju penggalian = 2.25 m / hari ≒ 50 m /bulan