Anda di halaman 1dari 19

REFERAT

NEUROGENIK BLADDER

PRESENTAN
Alvin Gunawan Fauzi (1410070100128)
Suci Gusti Sartika (1410070100124)
OPPONENT
Mila Monika (1410070100125)
Destitiya (1410070100127)
MODERATOR
Wira Hadi Pratama (1410070100162)

PRESEPTOR :

dr. H. Asrizal Asril, Sp.S, M.Biomed

KEPANITERAAN KLINIK

BAGIAN ILMU PENYAKIT SARAF RSUD SOLOK

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BAITURRAHMAH

2018
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikumWr.Wb.

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT atas berkat izin dan ridha-
Nya penulis dapat menyelesaikan Laporan Referat yang berjudul “Neurogenik Bladder”
dan juga shalawat beriring salam semoga selalu tercurahkan kepada Rasulullah
Muhammad SAW.

Penulisan kasus ini merupakan salah satu tugas dalam menjalankan kepanitraan
klinik senior pada bagian neurologi RSUD Solok. Penulis mengucapkan terimakasih
kepada dr. H. Asrizal Asril, Sp.S, M.Biomed selaku pembimbing sehingga kami dapat
menyelesaika npenulisan referat inidemi memenuhi tugas kepaniteraan klinik. Penulis
juga menyadari bahwa penulisan ini tidak terwujud tanpa ada bantuan dan bimbingan
serta dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis
menyampaikan ucapan terimakasih yang tidak terhingga kepada pihak yang telah
membantu penulis.

Penulis telah berusaha melakukan yang terbaik dalam penyusunan kasus ini,
namun penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan dan masih
banyak kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi. Untuk itu kritik dan saran
dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan karya
presentasi laporan ini.

Solok, 8 November 2018

Penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................... Error! Bookmark not defined.

DAFTAR ISI........................................................................... Error! Bookmark not defined.

BAB 1 : PENDAHULUAN ..................................................................................................... 1

1.1 Latar Belakang............................................................................................................... 1

1.3 Tujuan Penulisan ........................................................................................................... 2

1.3.1 Tujuan Umum ........................................................................................................ 2

1.3.2 Tujuan Khusus........................................................................................................ 2

1.4 Manfaat Penulisan ......................................................................................................... 2

BAB 2 : TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................................ 3

2.1 Neurogenik Bladder ....................................................................................................... 3

2.1.1 Definisi ................................................................................................................... 3

2.1.2Etiologi .................................................................................................................... 3

2.1.3 Patofisiologi ........................................................................................................... 5

2.1.4Diagnosis ................................................................................................................. 6

2.1.5 Pemeriksaan Fisik ................................................................................................. 6

2.1. Kriteria Diagnostik ................................................................................................. 11

2.1.9 Pemeriksaan Penunjang........................................................................................ 12

2.1.10Tatalaksana .......................................................................................................... 14

2.1.11 Prognosis ............................................................................................................ 17

BAB 3 : PENUTUP ............................................................................................................... 18

DAFTAR PUSTAKA

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Berkemih (mikturisi) merupakan sebuah proses pengosongan kadung kemih setelah


terisi dengan urin. Proses ini membutuhkan kerjasama dari fungsi sistem kemih, antara
lain kandung kemih (bladder) dan saluran kemih (uretra).
Gangguan pada struktur maupun persarafan yang menginervasi sistem kemih dapat
menghambat terjadi proses fisiologis dari berkemih. Salah satu gangguan yang dapat
terjadi pada sistem kemih adalah neurogenic bladder. Gangguan ini menyebabkan
seseorang tidak dapat mengontrol waktu yang tepat bagi dirinya untuk berkemih. Kondisi
yang disebabkan oleh kerusakan parsial medula spinalis dan batang otak ini memiliki
angka kejadian yang cukup tinggi sehingga diperlukan penanganan dan sistem rujukan
yang tepat apabila diperlukan.

Fungsi normal kandung kemih adalah mengisi dan mengeluarkan urin secara
terkoordinasi dan terkontrol. Aktifitas koordinasi ini diatur oleh sistem saraf pusat dan
perifer. Neurogenik bladder adalah kelainan fungsi kandung kemih akibat gangguan
sistem saraf. Istilah Neurogenic bladder tidak mengacu pada suatu diagnosis spesifik
ataupun menunjukkan etiologinya, melainkan lebih menunjukkan suatu gangguan fungsi
urologi akibat kelainan neurologis.1
Gejala neurogenik bladder berkisar antara kurang berfugsi hingga overaktivitas,
tergantung bagian neurogenik yang terkena. Spincter urinarius mungkin terpengaruhi,
menyebabkan spincter menjadi kurang berfungsi atau overaktivitas dan kehilangan
koordinasi dengan fungsi kandung kemih. Salah satu penelitian pertama mengenai
prevalensi Neurogenic Bladder di Asia adalah sebuah survai yang dilakukan oleh
APCAB (Asia Pacific Continence Advisory Board) yang mencakup 7875 laki-laki dan
perempuan, dimana sekitar 70% adalah perempuan dari 11 negara termasuk 499 dari
Indonesia didapatkan bahwa prevalensi Neurogenic Bladder secara umum di Asia adalah
sekitar 50,6%. Banyak penyebab dapat mendasari timbulnya Neurogenic Bladder
sehingga mutlak dilakukan pemeriksaan yang teliti sebelum diagnosis ditegakkan.
Penyebab tersering adalah gangguan medulla spinalis, Selain itu kondisi lain yang dapat
menyebabkan neurogenic bladder adalah penyakit degenaratif neurologis (multipel

4
sklerosis, dan sklerosis lateral amiotropik), kelainan bawaan tulang belakang (spina
bifida). Neurogenic bladder akan meningkat jumlahnya pada kondisi neurologis tertentu.
Sebagai contoh, di Amerika neurogenic bladder ini telah ditemukan pada 40%- 90%
pasien dengan multiple sclerosis, 37% - 72% pada pasien dengan parkinson dan 15%
pada pasien dengan stroke. Ini memperkirakan bahwa 7084% pasien dengan spinal cord
injury paling tidak mempunyai sedikit gangguan kandung kemih. Terapi yang cocok
ditentukan dari diagnosis yang tepat dengan perawatan medis yang baik dan perawatan
bersama dengan bermacam pemeriksaan klinis, meliputi urodinamik dan pemeriksaan
radiologi terpilih. Banyak penyebab yang mendasari timbulnya Neurogenic bladder
sehingga perlu dilakukan pemeriksaan yang teliti sebelum diagnosis ditegakkan.1,2

1.2 Tujuan Penulisan


1. Melengkapi syarat tugas stase neurologi.
2. Melengkapi syarat Kepaniteraan Klinik Senior (KKS) di Rumah Sakit Umum
Daerah (RSUD) Solok.

1.3 Manfaat
a. Bagi Penulis
Meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dalam mempelajari, mengidentifikasi
dan mengembangkan teori yang telah disampaikan mengenai Neurogenik Bladder.
b. Bagi Institusi Pendidikan
Dapat dijadikan sumber referensi atau bahan perbandingan bagi kegiatan yang
ada kaitannya dengan pelayanan kesehatan khususnya yang berkaitan dengan
Neurogenik Bladder.

5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Neurogenic bladderatau kandung kemih neurogenik merupakan penyakit yang menyerang
kandung kemih yang disebabkan oleh kerusakan ataupun penyakit pada sistem saraf pusat
atau pada sistem saraf perifer dan otonom. Neurogenic bladderadalah suatu disfungsi
kandung kemih akibat kerusakan sistem saraf yang terlibat dalam pengendalian berkemih.
Keadaan ini bisa berupa kandung kemih tidak mampu berkontraksi dengan baik untuk miksi
(underactive bladder) maupun kandung kemih terlalu aktif dan melakukan pengosongan
kandung kemih berdasar refleks yang tak terkendali (overactive bladder). Dengan kata lain,
Neurogenic bladderadalah kelainan fungsi kandung kemih akibat gangguan sistem saraf.1

2.2 Etiologi
Setiap kondisi yang menyebabkan kerusakan atau mengganggu saraf yang mengendalikan
kandung kemih atau saluran keluarnya bisa menyebabkan neurogenic baldder. Beberapa
penyebab dari neurogenic bladder ini antara lain penyakit infeksius yang akut seperti mielitis
transversal, kelainan serebral (stroke, tumor otak, penyakit Parkinson, multiple sklerosis,
demensia), alkoholisme kronis, penyakit kolagen seperti SLE, keracunan logam berat, herpes
zoster, gangguan metabolik, penyakit atau trauma pada medulla spinalis dan penyakit
vaskuler.1

2.3 Fisiologi Mikturisi


Proses berkemih normal memerlukan koordinasi proses fisiologik berurutan yang dibagi
menjadi 2 fase, yaitu fase penyimpanan dan fase pengosongan. Proses ini melibatkan
mekanisme volunter dan involunter karena secara anatomis sistem saluran kemih bagian
bawah mendapatkan innervasi dari serabut saraf aferen yang berasal dari vesica urinaria dan
uretra serta serabut saraf eferen berupa sistem parasimpatik, simpatik, dan somatik. Spincter
urethra external dan .otot dasar panggul berada di bawah kontrol volunter yang diperantarai
oleh N. pudendus, sedangkan m. detrusor vesicae dan spinchter urethra interna berada
dibawah control sistem saraf otonom, yang mungkin dimodulasi oleh korteks otak.
Pada fase pengisian (penyimpanan), akan timbul sensasi berkemih pertama kali yang
biasanya timbul pada saat volume vesica urinaria terisi antara 150-350 ml dari kapasitas
6
normal sekitar 300-600 ml. Pada keadaan ini, serabut aferen dari dinding vesica urinaria
menerima impuls regangan (stretch receptor) yang dibawa oleh N. pelvicus ke corda spinalis
S2-4 (Nucleus intermediolateralis cornu lateralis medulla spinalis/NILCLMS S2-4) dan
diteruskan sampai ke pusat saraf cortikal dan subcortikal (ganglia basalis dan cerebellum)
melalui tractus spinothalamicus. Sinyal ini akan memberikan informasi kepada otak tentang
volume urin dalam vesica urinaria. Pusat subcortikal menyebabkan m. detrusor vesica
urinaria berelaksasi dan m. spinchter uretra interna berkontraksi akibat peningkatan aktivitas
saraf simpatis yang berasal dari NILCLMS Th10-L2 yang dibawa oleh N. hipogastricus
sehingga dapat mengisi tanpa menyebabkan seseorang mengalami desakan berkemih. Ketika
pengisian vesica urinaria berlanjut, rasa pengembangan vesica urinaria disadari, dan pusat
cortical (pada lobus frontalis) bekerja menghambat pengeluaran urin.

Pada saat vesica urinary terisi penuh dan timbul keinginan untuk berkemih, dimulailah
fase pengosongan, timbul stimulasi sistem parasimpatik yang berasal dari NILCLMS S2-4 dan
di bawa oleh N. eregentes, menyebabkan kontraksi otot m. detrusor vesicae. Selain itu terjadi
inhibisi sistem simpatis yang menyebabkan relaksasi spinchter urethra interna. Miksi
kemudian terjadi jika terdapat relaksasi spinchter urethra externa akibat penurunan aktivitas

7
serabut saraf somatik yg dibawa oleh N. pudendus dan tekanan intra vesical melebihi tekanan
intraurethra.3

2.4 Patofisiologi
Pada keadaan normal, otot detrusor, uretra posterior, dan sfingter eksterna bekerja secara
sinergis untuk menampung urin dalam kandung kemih dan mengosongkannya. Pada pasien
dengan neurogenic bladder, terjadi disfungsi dari otot detrusor dan sfingter
eksterna.1Gangguan pada berkemih dapat terjadi akibat dari kerusakan saraf atau lesi yang
terjadi pada sistem saraf manusia. Apabila sistem saraf pusat atau system saraf tepi yang
merupakan jalur persarafan system perkemihan mengalami gangguan maka akan
mengganggu proses berkemih. Otak, pons, medulla spinalis dan saraf perifer merupakan
beberapa bagian dari system saraf yang memungkinkan untuk terlibat. Gejala yang dapat
terjadi apabila terjadi disfungsi kandung kemih / bladder adalah retensi inkontinensia yang
berlebihan, urinasi yang kerapkali hanya sedikit, atau kombinasi dari keduanya.2
Banyak klasifikasi yang telah digunakan untuk mengelompokkan disfungsi neurogenic
bladder. Setiap klasifikasi memiliki manfaat dan kegunaan klinis tersendiri, berdasarkan
lokasinya penyebabsecara garis besar,Neurogenic Bladder dibagi menjadi tiga, antara lain :1
a. Lesi supra pons
Pusat miksi pons merupakan pusat pengaturan refleks-refleks miksi dan seluruh
aktivitasnya diatur kebanyakan oleh input inhibisi dari lobus frontal bagian medial, ganglia
basalis dan tempat lain. Kerusakan pada umumnya akan berakibat hilangnya inhibisi dan
menimbulkan keadaan hiperrefleksi. Pada kerusakan lobus depan, tumor, demyelinisasi
periventrikuler, dilatasi kornu anterior ventrikel lateral pada hidrosefalus atau kelainan
ganglia basalis, dapat menimbulkan kontraksi kandung kemih yang hiperrefleksi. Retensi
urine dapat ditemukan secara jarang yaitu bila terdapat kegagalan dalam memulai proses
miksi secara volunteer.1

b. Lesi antara pusat miksi pons dan sakral medula spinalis


Lesi medula spinalis yang terletak antara pusat miksi pons dan bagian sacral medula
spinalis akan mengganggu jaras yang menginhibisi kontraksi detrusor dan pengaturan fungsi
sfingter detrusor. Beberapa keadaan yang mungkin terjadi antara lain adalah:1

8
1.) Vesica urinaria yang hiperrefleksi
Seperti halnya lesi supra pons, hilangnya mekanisme inhibisi normal akan menimbulkan
suatu keadaan vesica urinaria yang hiperrefleksi yang akan menyebabkan kenaikan tekanan
pada penambahan yang kecil dari volume vesica urinaria.1
2.) Disinergia detrusor-sfingter (DDS)
Pada keadaan normal, relaksasi sfingter akan mendahului kontraksi detrusor. Pada
keadaan DDS, terdapat kontraksi sfingter dan otot detrusor secara bersamaan. Kegagalan
sfingter untuk berelaksasi akan menghambat miksi sehingga dapat terjadi tekanan intravesikal
yang tinggi yang kadang-kadang menyebabkan dilatasi saluran kencing bagian atas.Urine
dapat keluar dari vesica urinaria hanya bila kontraksi detrusor berlangsung lebih lama dari
kontraksi sfingter sehingga aliran urine terputus-putus.1
3.) Kontraksi detrusor yang lemah
Kontraksi hiperrefleksi yang timbul seringkali lemah sehingga pengosongan vesica
urinaria yang terjadi tidak sempurna. Keadaan ini bila dikombinasikan dengan disinergia
akan menimbulkan peningkatan volume residu pasca miksi.1
4.) Peningkatan volume residu paska miksi
Volume residu paska miksi yang banyak pada keadaan vesica urinaria yang hiperrefleksi
menyebabkan diperlukannya sedikit volume tambahan untuk terjadinya kontraksi vesica
urinaria. Penderita mengeluh mengenai seringnya miksi dalam jumlah yang sedikit.1

c. Lesi Lower Motor Neuron (LMN)


Kerusakan pada radiks S2-S4 baik dalam canalis spinalis maupun ekstradural akan
menimbulkan gangguan LMN dari fungsi vesica urinaria dan hilangnya sensibilitas vesica
urinaria. Proses pendahuluan miksi secara volunteer hilang dan karena mekanisme untuk
menimbulkan kontraksi detrusor hilang, vesica urinaria menjadi atonik atau hipotonik bila
kerusakan denervasinya adalah parsial. Compliance vesica urinaria juga hilang karena hal ini
merupakan suatu proses aktif yang tergantung pada utuhnya persyarafan. Sensibilitas dari
peregangan vesica urinaria terganggu namun sensasi nyeri masih didapatkan karena informasi
aferen yang dibawa oleh sistim saraf simpatis melalui n.hipogastrikus ke daerah
thorakolumbal. Denervasi otot sfingter mengganggu mekanisme penutupan namun jaringan
elastik dari leher vesica urinaria memungkinkan terjadinya miksi. Mekanisme untuk
mempertahankan miksi selama kenaikan tekanan intra abdominal yang mendadak hilang,
sehingga stress inkontinens sering timbul pada batuk atau bersin.1
9
Klasifikasi berdasarkan lokasi lesi neurologic dapat membantu mentukan terapi
farmakologis dan terapi bedah. Pada klasifikasi ini, neurogenic bladder terdiri dari:2
1) Lesi yang berada diatas pusat mikturisi pontin (mis: stroke atau tumor otak) menyebabkan
gangguan inhibisi kandung kemih (Uninhibitted bladder)

2) Lesi yang berada diantara pusat mikturisi pontin dan dan tulang belakang bagian sakral
(mis: cidera tulang belakang atau multiple sclerosis yang melibatkan tulang belakang bagian
cervicothoraks) yang mengakibatkan upper motor neuron bladder

3) Lesi korda spinalis yang merusak nukleus detrusor tetapi menyisakan nukleus pudendus
sehingga menyebabkan mixed type A bladder
4) Lesi korda spinalis yang menyisakan nukleus detrusor tapi merusak nukelus pudendus
sehingga menyebabakan mixed B bladder

5) Cidera pada nervus yang berjalan dari sakral kebawah sehingga menyebabkan lower motor
neuron bladder

Neurogenic Bladder juga dikelompokkan dalam 3 besar yaitu:2


1. Neurogenic Bladder Spastik: lesi diatas pusat miksi di sakral medula spinalis
2. Neurogenik Bladder Flassid: Lesi dibawah pusat miksi di sakral medula spinalis
3. Neurogenik Bladder Campuran: Lesi terdapat di atas dan di bawah pusat miksi di sakral
medula spinalis
Berikut klasifikasi neurogenic bladder menurut Carpenitto :4
a. Neurogenic Bladder otonom
Merupakan hasil dari kerusakandaripusatkandung kemih di sumsum tulang belakang
sacralpada atau di bawahT12-L1. Klien merasa ada sensasi sadar untuk membatalkan dan
tidak memiliki refleks berkemih.
b. Neurogenic Bladder reflex
Kerusakan antara sumsum tulang belakang sakral dan korteks serebral, di atas T12 - L1 .
Klien tidak memiliki sensasi untuk membatalkan dan tidak bisa membatalkan atas
keinginannya. The constractions detrusor unhibited mungkin buruk dipertahankan dengan
pengosongan kandung kemih tidak efisien. Jika refles berkemih busur utuh, refleks berkemih
dapat terjadi. Jika ada detrusor - spincter dyssynergy, akan ada peningkatan tekanan kandung
kemih dan urine sisa yang tinggi .

10
c. Neurogenic Bladder kelumpuhan motorik
Terjadi ketika ada kerusakan pada sel-sel tanduk anterior dari akar ventral S2 - S4 dan
kerusakan reflek berkemih. Klien memiliki sensasi utuh, tetapi mengalami hilangnya
sebagian atau seluruh fungsi motorik. Kapasitas kandung kemih dapat meningkat dengan urin
residual yang besar . kemuungkinan ada inkontinensia overflow.
d. Neurogenic Bladder kelumpuhansensorik
Terjadi ketika akar dorsal S2-S4 atau jalur sensorik ke korteks serebral mengalami kerusakan.
Klien kehilangan sensasi, tetapi dapat mengontrol kapasitas kandung kemih.
e. Neurogenic Bladder uninhibitited
hasil dari kerusakan pada kandung kemih pusat di korteks serebral. Klien memiliki sensasi
terbatas terhadap distensi kandung kemih, tetapi tidak memiliki kemampuan untuk
menghambat buang air kecil. Urgensi yang merupakan hasil dari waktu yang singkat antara
sensasi yang terbatas untuk membatalkan dan kandung kemih berkontraksi tanpa hambatan.
Kandung kemihbiasanya dalam kondisi kosong sepenuhnya.

2.5 Diagnosis
Pemeriksaan secara menyeluruh penting untuk menegakkan diagnosis neurogenic bladder.2
a. Anamnesis
Keluhan saat berkemih (disuria, infeksi berulang, nokturia, inkontinensia, urgensi,
frekuensi)

Riwayat berkemih

Riwayat operasi dan penyakit dahulu yang berhubungan dengan genitourinaria

Riwayat pengobatan (obat-obatan sedative, antidepressant, antipsikotik, antihistamin,


antikolinergik, antispasmodik, opiat, calcium channel blocker) dapat mempengaruhi fungsi
perkemihan.

Kebiasaan berkemih (pola berkemih, intake cairan, volume urin saat berkemih)

b. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan neurologis (status mental, refleks, kekuatan, dan sensasi pada dermatom
sakral)  pemeriksaan ini berfungsi untuk mengevaluasi kemungkinan kondisi neurologis
berhubungan dengan gangguan berkemih

11
Kemungkinan ketidaknormalan mekanis seperti pembesaran prostat atau prolaps kandung
kemih harus dinilai dan dieksklusi

Pada pasien dengan cidera tulang belakang, periksa derajat dari lesi pada spinal (komplit
atau inkomplit), tonus ekstremitas, sensasi dan tonus pada rectal, tonus volunter dari rektal,
dan refleks bulbokavernosus.2

c. Pemeriksaan lanjutan
 Urinalisis

 Kultur urin

 Serum kreatinin, BUN (Blood Urea Nitrogen)

 Creatinine clearance

 Evaluasi urodinamik:
1.) Volume urin residual setelah berkemih (volume residu abnormal yakni lebih dari
100cc)

2.) Uroflowmetry  merupakan pemeriksaan non-invasif terhadap laju kemih


(volume urin per unit waktu) beserta penilaian terhadap tekanan kandung kemih dan
rektal. Uroflow yang rendah menunjukan adanya obstruksi uretra, kelemahan otot
detrusor, atau gabungan dari keduanya. Sedangkan uroflow yang tinggi menunjukan
adanya detrusor overactivity.2

Pemeriksaan lainnya seperti :


1. Pemeriksaan urodinamika

Merupakan pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui fungsi kandungan kemih


dengan mengevaluasi kerja kandung kemih untuk penyimpanan urin, pengosongan kandung
kemih dan kecepatan aliran urin keluar darikandung kemih pada saat buang air kecil.
Pemeriksaan urodinamika dapat berupaCystometrography, Postvoid residual urine,
uroflometri, serta elektromielografi sfingter.1

 Cystometrography
Cara pemeriksaannya dengan memasukan kateter berisi transduser untuk mengukur tekanan
ke dalam kandungan kemih dan rektum dan kateter tersebut ddihubungkan dengan komputer.
12
Kemudian memasukan cairan steril ke dalam kandungan kemih. Selama fase pengisian
tersebut komputer akan memberikan informasi mengenai tekanan kandung kemih, dan
rektum, refleks kandungan kemih dan kapasitas kandungan kemih.1

Gambar 1. Cystometrography

 Postvoid residual urine


Adalah sebuah tes diagnostik yang mengukur berapa banyak urin di kandung kemih yang
tersisa setelah buang air kecil. Pemeriksaan residu urine setelah berkemih (PVR) adalah
pemeriksaan dasar untuk inkontinensia urine untuk mengetahui kemampuan vesika urinaria
dalam mengosongkan seluruh isinya. Abnormal : 50-100ml / >20% volume BAK.1

 Uroflometri
Uroflometri adalah pencatatan tentang pancaran urine selama proses miksi secara
elektronik.Pemeriksaan ini ditujukan untuk mendeteksi gejala obstruksi saluran kemih bagian
bawah yang tidak invasive. Hasilbiasanya diberikandalam mililiterper detik(mL / detik).

Gambar 2. Uroflomet
13
 Elektromielografi
Membantu memastikan adanya kegiatan berkemih yang terkoordinasi atau tidak. Kegagalan
relaksasi uretra selama kontraksi kandung kemih menghasilkan disinergia detrusor sfingter
(kegiatan berkemih yang tidak terkoordinasi) yang dapat didiagnosis secara akurat saat terjadi
lesi pada korda spinalis.1

2. Cystoscopy
Membantu memastikan adanya kegiatan berkemih yang terkoordinasi atau tidak.
Kegagalan relaksasi uretra selama kontraksi kandung kemih menghasilkan disinergia detrusor
sfingter (kegiatan berkemih yang tidak terkoordinasi) yang dapat didiagnosis secara akurat
saat terjadi lesi pada korda spinalis. Fungsi sistoskopi dalam pemeriksaan disfungsi kandung
kemih neurogenik memungkinkan adanya penemuan massa kandung kemih seperti kanker
dan batu pada kandung kemih yang tidak dapat terdiagnosa dengan hanya pemeriksaan
urodinamik saja. Pemeriksaan ini diindikasikan untuk pasien yang mengeluhkan gejala
berkemih iritatif persisten atau hematuria. Pemeriksa dapat mendiagnosa berbagai
macampenyebab pasti dari overaktivitas kandung kemih seperti sistitis, batu dan tumor secara
mudah.

Gambar 3. Cystoscopy

3. Pemeriksaan Imaging berupa pemeriksaan X-ray, USG, CT-Scan serta MRI. Untuk
mendeteksi kelainan neurologis dapat dilakukan pemeriksaan ini.1

2.6 Penatalaksanaan

Terapi Non farmakolgis


Salah satu terapi non farmakologis yang efektif adalah bladder training. Bladder trining
adalah latihan yang dilakukan untuk mengembalikan tonus otot kandung kemih agar

14
fungsinya kembali normal.Bladder training adalah salah satu upaya untuk mengembalikan
fungsi kandung kemih yang mengalami gangguan ke keadaan normal atau ke fungsi optimal
neurogenik. Tujuan dari bladder training adalah untuk melatih kandung kemih dan
mengembalikan pola normal perkemihan dengan menghambat atau menstimulasi pengeluaran
air kemih.Terdapat tiga macam metode bladder training, yaitu kegel exercises (latihan
pengencangan atau penguatan otot-otot dasar panggul), Delay urination (menunda berkemih),
dan scheduled bathroom trips (jadwal berkemih). Latihan kegel (kegel execises) merupakan
aktifitas fisik yang tersusun dalam suatu program yang dilakukan secara berulang-ulang guna
meningkatkan kebugaran tubuh. Latihan kegel dapat meningkatkan mobilitas kandung kemih
dan bermanfaat dalam menurunkan gangguan pemenuhan kebutuhan eliminasi urin. Latihan
otot dasar panggul dapat membantu memperkuat otot dasar panggul untuk memperkuat
penutupan uretra dan secara refleks menghambat kontraksi kandung kemih.1 Bladder training
dapat dilakukan dengan latihan menahan kencing (menunda untuk berkemih). Pada pasien
yang terpasang kateter, Bladder training dapat dilakukan dengan mengklem aliran urin ke
urin bag. Bladder training dilakukan sebelum kateterisasi diberhentikan. Tindakan ini dapat
dilakukan dengan menjepit kateter urin dengan klem kemudian jepitannya dilepas setiap
beberapa jam sekali. Kateter di klem selama 20 menit dan kemudian dilepas. Tindakan
menjepit kateter ini memungkinkan kandung kemih. Terapi ini bertujuan memperpanjang
interval berkemih yang normal dengan berbagai teknik distraksi atau teknik relaksasi
sehingga frekuensi berkemih dapat berkurang, hanya 6-7 kali per hari atau 3-4 jam sekali.1

Langkah-langkah bladder training :1


1. Klem selang kateter sesuai dengan program selama 1 jam yang memungkinkan kandung
kemih terisi urin dan otot destrusor berkontraksi, supaya meningkatkan volume urin residual.

2. Anjurkan klien minum (200-250 cc).

3. Tanyakan pada klien apakah terasa ingin berkemih setelah 1 jam.

4. Buka klem dan biarkan urin mengalir keluar.

5. Lihat kemampuan berkemih klien.

15
Terapi farmakologis

1. Anti kolinergik

Anti kolinergik efektif dalam mengobati inkontinensia karena mereka menghambat kontraksi
kandung kemih involunter dan memperbaiki fungsi penampungan air kemih oleh kandung
kemih. Misalnya, Hiosiamin ( Levbid) 0.125 mg,Dicyclomine hydrochloride (Bentyl) 10-20
mg.1

2. Anti spasmodik
Ant spasmodik melepaskan otot polos kandung kemih. Obat antispasmodik telah dilaporkan
untuk meningkatkan kapasitas kandung kemih dan efektif mengurangi atau menghilangkan
inkontinensia.Misalnya Oksibutinin (ditropanXL) 5-15 mg, Tolterodin(detrol) 2 mg.1

3. Obat Betanekol klorida (urecholine)


Adalah suatu obat kolinergik yang bekerja langsung, bekerja pada reseptor muskarinik
(kolonergik) dan terutama di pakai untuk meningkatkan berkemih.1
dan mengobat retensi urin. Merupaka agonis kolinergik yang digunakan untuk meningkatkan
kontraksi detrusor. Obat ini membantu menstimulasi kontraksi bladder pada pasien yang
menyimpan urin. Betanekol klorida 10-50 mg 3-4 kali dalam sehari.1

Terapi operatif
Pembedahan bisa dilakukan pada kasus tertentu yang jarang. Pembedahan dilakukan untuk
membuat jalan lain untuk mengeluarkan urin, memasang alat untuk menstimulasi otot
kandung kemih.1

2.6 Komplikasi
Pada pasien dengan neurogenic bladder juga memungkinkan untuk meningkatkan resiko
terkena infeksi saluran kemih (ISK) dan gangguan saluran keluar kandung kemih (bladder outlet
obstruction). Pada pasien dengan neurogenic bladder, jika mereka tidak diobati secara optimal
maka juga bisa menyebabkan sepsis dan gagal ginjal.1

16
2.7 Prognosis
Nurogenic bladder merupakan keadaan yang dapat ditangani, yakni dengan tujuan
untuk mendapatkan kembali kemampuan berkemihnya secara normal. Apabila neurogenic
bladder tidak ditangani secara optimal, maka dapat terjadi peningkatan resiko terhadap sepsis
dan gagal ginjal yang disebabkan oleh tingginya tekanan otot detrusor.2

17
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Neurogenic bladder atau kandung kemih neurogenik merupakan penyakit yang
menyerang kandung kemih yang disebabkan oleh kerusakan ataupun penyakit pada sistem
saraf pusat atau pada sistem saraf perifer dan otonom. Keadaan ini bisa berupa kandung
kemih tidak mampu berkontraksi dengan baik untuk miksi (underactive bladder) maupun
kandung kemih terlalu aktif dan melakukan pengosongan kandung kemih berdasar refleks
yang tak terkendali (overactive bladder). Dengan kata lain, Neurogenic bladderadalah
kelainan fungsi kandung kemih akibat gangguan sistem saraf. Beberapa penyebab dari
neurogenic bladder ini antara lain penyakit infeksius yang akut seperti mielitis transversal,
kelainan serebral (stroke, tumor otak, penyakit Parkinson, multiple sklerosis, demensia),
alkoholisme kronis, penyakit kolagen seperti SLE, keracunan logam berat, herpes zoster,
gangguan metabolik, penyakit atau trauma pada medulla spinalis dan penyakit vaskuler.Pada
pasien dengan neurogenic bladder juga memungkinkan untuk meningkatkan resiko terkena
infeksi saluran kemih (ISK) dan gangguan saluran keluar kandung kemih (bladder outlet
obstruction).Nurogenic bladder merupakan keadaan yang dapat ditangani, yakni dengan
tujuan untuk mendapatkan kembali kemampuan berkemihnya secara normal. Apabila
neurogenic bladder tidak ditangani secara optimal, maka dapat terjadi peningkatan resiko
terhadap sepsis dan gagal ginjal yang disebabkan oleh tingginya tekanan otot detrusor.

18
DAFTAR PUSTAKA

1. Ginsberg, D. (2013). The Epidemiology and Pathophysiology of Neurogenic Bladder.


The American Journal of Managed Care, Volume 19, pp. 191- 194.
2. Sudoyo , Aru W. dkk. 2006. Ilmu Penyakit Dalam Jilid III Edisi IV. Jakarta : Pusat
Penerbitan Fakultas Ilmu Penyakit Dalam FKUI
3. Guyton, A.C., Hall, J.E. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran: Pembentukan urin oleh
ginjal. pp: 328-31
4. Carpenito, Lynda Juall. (2009). Nursing Care Plan & Documentation edisi 5. China:
Library of Catloging

19