Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tumor otak adalah sekumpulan massa sel-sel otak yang tumbuh


abnormal. Massa ini dapat bersifat jinak (tumor otak) dan ganas (kanker).
Sebagian besar kanker dapat menyebar melalui jaringan otak, tetapi jarang
menyebar ke area lain dari tubuh.1
Tumor disebabkan oleh mutasi DNA didalam sel. Akumulasi dari
mutasi-mutasi tersebut menyebabkan munculnya tumor. Sebenarnya sel kita
memiliki mekanisme perbaikan DNA (DNA repair) dan mekanisme lainnya
yang menyebabkan sel merusak dirinya dengan apoptosis jika kerusakan
DNA sudah terlalu berat. Apoptosis adalah proses aktif kematian sel yang
ditandai dengan pembelahan DNA kromosom, kondensasi kromatin, serta
fragmentasi nukleus dan sel itu sendiri. Mutasi yang menekan gen untuk
mekanisme tersebut biasanya dapat memicu terjadinya kanker.
Komplikasi tumor otak yang paling ditakuti selain kematian adalah
gangguan funsi luhur. Gangguan ini sering disebut gangguan kognitif dan
neurobehavior sehubungan dengan kerusakan fungsi pada area otak yang
ditumbuhi tumor. Neurobehavior adalah keterkaitan perilaku dengan fungsi
kognitif dan lokasi/lesi tertentu di otak. Pengaruh negatif tumor otak adalah
gangguan fisik neurologist, gangguan kognitif, gangguan tidur dan mood,
disfungsiseksual serta fatique.2
Di Amerika Serikat diperkirakan 98.000-170.000 kasus baru tumor
intrakranial didiagnosis setiap tahunnya. Perbandingan insidens tumor
sekunder dengan tumor primer intrakranial adalah sekitar 10:1. Hal ini dapat
dimaklumi karena metastasis tumor kedalam ruang intrakranial terjadi pada
hampir 20%-40% dari seluruh kasus keganasan. Tumor primer sering terjadi
pada pasien anak.

1
Pada tumor sekunder, sumber metastasis adalah karsinoma paru
(50%), karsinoma payudara (15%-20%), melanoma (10%), karsinoma kolon
(5%), dan fokus primer lain (10%-15%). Karsinoma payudara, karsinoma
prostat, dan karsinoma paru-paru adalah urutan tumor primer yang paling
sering bermetastasis ke tulang tengkorak.3

1.2 Tujuan Penulisan


1. Melengkapi syarat tugas stase neurologi.
2. Melengkapi syarat Kepaniteraan Klinik Senior (KKS) di Rumah Sakit
Umum Daerah Muhammad Natsir Solok.

1.3 Manfaat
a. Bagi Penulis
Meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dalam mempelajari,
mengidentifikasi dan mengembangkan teori yang telah disampaikan
mengenai Tumor Intrakranial.
b. Bagi Institusi Pendidikan
Dapat dijadikan sumber referensi atau bahan perbandingan bagi
kegiatan yang ada kaitannya dengan pelayanan kesehatan khususnya
yang berkaitan dengan Tumor Intrakranial.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi
Otak terletak dalam cavum cranii dan bersambung dengan medulla spinalis
melalui foramen magnum, dimana medulla spinalis ini berada dalam canalis
vertebralis. Pembagian otak sebagai berikut:1
a. Cerebrum
 Merupakan bagian otak yang paling besar
 Terdiri atas bagian kiri dan kanan (hemispherium cerebri)
 Berfungsi untuk kontrol terhadap pembicaraan, emosi, inisiasi
gerakan, koordinasi gerakan, temperatur, sentuhan, penglihatan,
pendengaran, penilaian, penalaran, pemecahan masalah, emosi dan
pembelajaran
b. Cerebellum
 Terletak dibawah cerebrum dan dibelakang otak
 Berfungsi untuk mengkoordinasi gerakan otot sukarela dan untuk
mempertahankan postur tubuh, keseimbangan dan equilibrium
c. Batang Otak
 Terletak dalam cavum cranii dan memanjang sampai medulla
spinalis
 Berfungsi untuk pergerakan mata dan mulut, penyampaian pesan
sensorik (panas, nyeri, keras, dll), rasa lapar, respirasi, kesadaran,
fungsi jantung, suhu tubuh, gerakan otot tak sadar, bersin, batuk,
tekanan darah, pernapasan, muntah, dan menelan
 Terdiri dari: diencephalon (bagian batang otak paling atas, terdapat
diantara cerebellum dengan mesencephalon), mesencephalon
(bagian otak tengah), pons (terletak di depan cerebellum diantara
mesencephalon dan medulla oblongata), dan medulla oblongata
(bagian dari batang otak yang paling bawah yang menghubugkan
pons varoli dengan medulla spinalis).

3
2.2 Fisiologi
Otak memiliki kurang lebih 15 miliar neuron yang membangun substansia
alba dan substansia grisea. Otak merupakan organ yang sangat kompleks dan
sensitif. Fungsinya sebagai pengendali dan pengatur seluruh aktivitas, seperti:
grakan motorik, sensasi, berpikir dan emosi. Sel-sel otak bekerja bersama-sama
dan berkomunikasi melalui signal-signal listrik. Kadang-kadang dapat terjadi
cetusan listrik yang berlebihan dan tidak teratur dari sekelompok sel yang
menghasilkan serangan.
Darah merupakan sarana transportasi oksigen, nutrisi, dan bahan-bahan lain
yang sangat diperlukan untuk mempertahankan fungsi penting jaringan otak dan
mengangkat sisa metabolik. Kehilangan kesadaran terjadi bila aliran darah ke otak
berhenti 10 detik atau kurang. Kerusakan jaringan otak yang permanen terjadi bila
aliran darah ke otak berhenti dalam waktu 5 menit.4

4
2.3 Epidemiologi
Tumor otak primer hanya 2-3% dari seluruh jumlah kanker pada orang
dewasa. Kira-kira 18.000 kasus baru pasien tumor otak dengan kematian 14.000.
pada anak-anak tumor otak primer kira-kira 25% dari seluruh tumor.
Tumor otak dapat terjadi pada setiap umur, dari penelitian, tumor otak
sering terdapat pada anak-anak 3-12 tahun dan pada dewasa sekitar 40-70 tahun.1

2.4 Definisi & Manifestasi Klinis


Tumor otak adalah suatu lesi ekspansif yang bersifat jinak (benign) ataupun
ganas (maligna), membentuk massa didalam intrakranial atau di medula spinalis.
Neoplasma pada jaringan otak dan selaputnya berupa tumor primer maupun
metastase. Apabila sel-sel tumor berasal dari jaringan itu sendiri disebut tumor
otak primer, dan bila berasal dari organ-organ lain (metastase) seperti kanker paru,
kanker payudara, kanker prostat maka disebut tumor otak sekunder.5
Manifestasi klinis dari tumor intrakranial ini berbeda dengan gangguan
vaskular yang bersifat akut dan infeksi yang umumnya subakut, pada tumor
intrakranial, perjalanan klinis umumnya bersifat kronis dan progresif. Gejala yang
timbul dapat bersifat umum akibat peningkatan tekanan intrakranial, seperti nyeri
kepala dan muntah, ataupun gejala fokal, bergantung kepada lokasi tumor.
Berikut ini dijelaskan beberapa manifestasi klinis yang dapat muncul dan
bergantung pada lokasi tumor:3
Lokasi Tumor Manifestasi Klinis
 Kelemahan lengan dan tungkai kontralateral
 Perubahan kepribadian: antisosial, kehilangan
Lobus Frontalis kemampuan inhibisi, kehilangan inisiatif,
penurunan tingkat intelektual (misal: demensia
terutama jika korpus kalosum terlibat)
 Afasia sensorik (bila yang terkena lobus
Lobus Temporalis temporalis dominan)
 Gangguan lapangan pandang

5
 Gangguan sensorik (lokalisasi sentuh,
diskriminasi dua titik, gerakan pasif,
astereognosis)
 Gangguan lapang pandang
 Jika tumor pada lobus parietalis hemisfer
Lobus Parietalis
dominan, dapat terjadi kebingungan cara
membedakan kanan dan kiri, agnosia jari,
akalkulia, dan agrafia
 Jika tumor pada lobus parietals hemisfer
nondominan, dapat terjadi apraksia
Lobus Oksipitalis  Gangguan lapang pandang
Korpus Kalosum  Sindrom diskoneksi
Hipotalamus/ Hipofisis  Gangguan endokrin
 Penurunan kesadaran
 Tremor
Batang Otak  Kelainan gerakan bola mata
 Abnormalitas pupil
 Muntah, cegukan (medula)
 Ataksia berjalan
 Tremor intensional
Cerebellum  Dismetria
 Disartria
 Nistagmus

2.5 Klasifikasi
 Pembagian stadium tumor menurut diferensiasi tumor yang tampak
secara makroskopik: 1

6
 Derajat I
Yaitu sifat kurang agresif, tumbuh lambat, gambar sel hampir
normal, bila dilakukan operasi maka merupakan terapi yang
efektif
 Derajat II
Yaitu relatif tumbuh lambat, ada sel yang abnormal dibawah
mikroskop, menginvasi jaringan normal, dapat timbul kembali
bila diangkat
 Derajat III
Yaitu cenderung tumbuh lebih cepat, menginfiltrasi dan dapat
timbul kembali bila diangkat
 Derajat IV
Tumbuh sangat cepat, bersifat agresif, gambaran bizzare pada
mikroskop

 Klasifikasi tumor, terbagi 2 yaitu:


a. Tumor jinak (benign)
 Tidak terdapat sel kanker
 Biasanya dapat diangkat dan tidak berulang
 Batas tegas
 Bersifat tidak menginvasi ke jaringan sekitar tapi dapat
menekan daerah yang sensitif dari otak dan mengakibatkan
gejala
 Bila terletak di daerah vital dari otak dan mengganggu
fungsi vital, maka dapat dipikirkan suatu malignansi
b. Tumor ganas (maligna)
 Mengandung sel kanker
 Mengganggu funsi vital dan mengancam nyawa
 Tumbuh cepat dan menginvasi ke jaringan sekitar otak

7
 Mempunyai akar yang tumbuh ke dalam jaringan otak yang
sehat
 Dapat encapsulated

 Klasifikasi tumor menurut WHO, yaitu:5


I II III IV
Astrocytic Tumor
Subependymal astrocytoma X
Pilocytic astrocytoma X
Pilomyxoid astrocytoma X
Diffuse astrocytoma X
Pleomorphic xanthoastrocytoma X
Anaplastic astrocytoma X
Glioblastoma X
Giant cell glioblastoma X
Gliosarcoma X
Oligodendroglial Tumor
Oligodendroglioma X
Anaplastic oligodendroglioma X
Oligoastrocytic Tumor
Oligoastrocytoma X
Anaplastic oligoastrocytoma X
Ependymal Tumor
Subependymoma X
Myxopapillary ependymoma X
Ependymoma X
Anaplastic ependymoma X
Choroid Plexus Tumor
Choroid plexus papilloma
Atypical choroid plexus papilloma

8
Choroid plexus carsinoma
Other Neuroepithelial Tumor
Angiocentric glioma
Chordoid glioma of the third ventricle
Neuronal an Mixed Neuronal-Glial Tumor
Gangliocytoma
Ganglioglioma
Anaplastic ganglioglioma
Desmoplastic infantile astrocytoma and
ganglioglioma
Disembryoplastic neuropithelial tumor
Central neurocytoma
Cerebellar liponeurocytoma
Paraganglioma of the spinal cord
Papillary glioneuronal tumor
Rosette-forming glioneural tumor of the
fourth ventricle
Pineal Tumor
Pienocytoma
Pineal parenchymal tumor of intermediate
differentiation
Pineoblastoma
Papillary tumor of the pineal region
Embryonal Tumor
Medulloblastoma
CNS primitive neuroectodermal tumor
(PNET)
Atypical teratoid/rhabdoid tumor
Tummors Of The Cranial and Paraspinal
Nerves

9
Schwannoma
Perineurioma
Neurofibroma
Malignant peripheral nerve sheath tumor
(MPNST)
Meningeal Tumor
Meningioma
Atypical meningioma
Anaplastic/malignant meningioma
Hemangiopericytoma
Anaplastic hemangiopericytoma
Hemangioblastoma
Tummors Of The Sellar Region
Craniopharyngioma
Granular cell tumor of the neurohypophysis
Pituicytoma
Spindle cell oncocytoma of the
adenohypophysis

 Klasifikasi tumor menurut lokasi, yaitu:


 Supratentorial, yaitu tumor yanng terletak diatas tentorium
cerebelli
 Infratentorial atau subtentorial, yaitu tumor yang terletak
dibawah tentorium cerebelli dalam fossa cranii posterior

2.6 Etiologi dan Faktor Resiko


Sebenarnya, penyebab tumor intrakranial masih belum diketahui tetapi
masih ada faktor-faktor yang perlu ditinjau yaitu:6
 Herediter
Sindrom herediter seperti von Recklinghausen’s Disease, tuberus
sclerosis, retinoblastoma, multiple endocrine neoplasma bisa

10
meningkatkan resiko tumor intrakranial. Gen yang terlihat bisa
dibagikan pada dua kelas yaitu tumor suppressor gens dan
oncogens.mselain itu, sindroma seperti Turcot dapat menimbulkan
kecenderungan genetik untuk glioma tetapi hanya 2%.
 Radiasi
Radiaso jenis ionizing bisa menyebabkan tumor intrakranial jenis
neuropithelial tumors, meningiomas dan nerve sheath tumors. Selain
itu, paparan terhadap sinar X juga dapat meningkatkan resiko tumor
intrakranial.
 Substansi karsinogenik
Penyelidikan tetntang substansi karsinogenik sudah lama dan luas
dilakukan. Kini telah diakui bahwa ada substansi yang karsinogenik
seperti nitrosamides dan nitrosoureas yang bisa menyebabkan tumor
sistem saraf pusat.
 Virus
Infeksi virus juga dipercayai bisa menyebabkan tumor intrakranial.
Contohnya, virus epseien-barr.
 Gaya hidup
Penelitian telah menunjukan bahwa makanan yang diawetkan, daging
asap atau acar tampaknya berkorelasi dengan peningkatan resiko tumor
intrakranial. Disamping itu, risiko tumor intrakranial menurun ketika
individu makan lebih banyak buah dan sayuran.

2.7 Patofisiologi
Tumor otak terjadi karena adanya proliferasi atau pertumbuhan sel abnormal
secara cepat pada daerah Central Nerve System (CNS). Sel ini akan terus
berkembang mendesak jaringan otak yang sehat disekitarnya, mengakibatkan
terjadinya gangguan neurologis (gangguan fokal akibat tumor dan peningkatan
tekanan ntrakranial). Perubahan suplai darah akibat tekanan yang ditimbulkan
tumor yang tumbuh menyebabkan nekrosis jaringan otak. Akibatnya terjadi
kehilangan fungsi secara akut dan dapat dikacaukan dengan gangguan

11
serebrovaskular primer. Serangan kejang sebagai manifestasi perubahahan
kepekaan neuron akibat kompresi, invasi dan perubahan suplai darah ke dalam
jaringan otak. Peningkatan tekanan intrakranial dapat diakibatkan oleh beberapa
faktor seperti bertambahnya massa dalam tengkorak, edema sekitar tumor dan
perubahan sirkulasi cairan serebrispinal. Tumor ganas menyebabkan edema dalam
jaringan otak yang diduga disebabkan oleh perbedaan tekanan osmosis yang
menyebabkan penyerapan cairan tumor. Obstruksi vena dan edema yang
disebabkan oleh kerusakan blood brain barrier, menimbulkan peningkatan
volume intrakranial dan meningkatkan tekanan intrakranial. Peningkatan tekanan
intrakranial membahayakan jiwa jika terjadi dengan cepat. Mekanisme
komoensasi memerlukan waktu berhari-hari atau berbulan-bulan untuk menjadi
efektif dan oleh karena itu tidak berguna apabila tekanan intrakranial timbul cepat.
Mekanisme kompensasi ini meliputi volume darah intrakranial, voume CSS,
kandungan cairan intrasel, dan mengurangi sel-sel parenkim otak, kenaikan
tekanan yang tidak diatasi dan akan mengakibatkan herniasi unkus serebelum.7

2.8 Diagnosis
Untuk menegakkan diagnosis pada penderita yang dicurigai menderita
tumor otak yaitu melalui anamnesis dan pemeriksaan neurologis, serta
pemeriksaan penunjang yang dapat membantu dalam menegakkan diagnosa.
 Anamnesis
Anamnesis bisa diketahui melalui manifestasi klinis yang ada diatas:
 Biasanya pasien mengeluhkan nyeri kepala, muntah dan papil
edema
 Penurunan kesadaran
 Penurunan penglihatan atau penglihatan ganda
 Ketidakmampuan sensasi (parathesia atau anasthesia)
 Hilangnya ketajaman penglihatan atau diplopia
 Pemeriksaan fisik
 Nadi: bradikardi
 Tekanan darah: meningkat

12
 Penglihatan: penurunan penglihatan, diplopia
 Pendengaran: terganggu bila mengenai lobus temporal
 Penciuman: mengeluh bau yang tidak biasanya, pada lobus frontal
 Pengecapan: ketidakmampuan sensasi
 Afasia
 Ekstremitas: kelemahan atau paralisis genggaman tangan tidak
seimbang, berkurangnya refleks tendon
 GCS: tergantung apakah pasien sadar atau koma
 Pemeriksaan penunjang3
 CT-Scan atau MRI
 Angiografi
 Foto rontgen dada
 Foto rontgen kepala
 Biopsi jaringan tumor
 Pungsi lumbal

2.9 Penatalaksanaan
 Farmakoterapi
 Analgetik
 Anti kejang
 Anti edema
 Non farmakoterapi
 Pembedahan
 Radiosurgery
 Terapi radiasi
 Kemoterapi

2.10 Komplikasi
a. Edema serebral
b. Hidrosefalus

13
c. Herniasi otak
d. Epilepsi
e. Metastase ke tempat lain

2.11 Prognosis3
Rata-rata masa harapan hidup pasien dengan terapi yang adekuat dikatakan
kurang lebih hanya enam bulan. Beberapa data mengatakan 15-30% pasien dapat
hidup selama satu tahun, 5-10% dapat bertahan dalam dua tahun setelah terapi
diberikan.
Beberapa faktor yang mempengaruhi prognosis pada kasus metastasis tumor
intrakranial:
 Lokasi dan jumlah metastasis tumor
 Tingkat dan tipe tumor primernya
 Ada atau tidaknya metastasis ke organ tubuh lainnya
 Usia pasien
 Jumlah metastasis tumor yang dapat diangkat oleh dokter bedah saraf

14
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
1. Tumor otak adalah suatu lesi ekspansif yang bersifat jinak (benign)
ataupun ganas (maligna), membentuk massa didalam intrakranial
atau di medula spinalis.
2. Gejala yang timbul dapat bersifat umum akibat peningkatan tekanan
intrakranial, seperti nyeri kepala dan muntah, ataupun gejala fokal,
bergantung kepada lokasi tumor.
3. Klasifikasi tumor ada dua yaitu: tumor jinak (benign) dan tumor
ganas (malignant)
4. Penyebab tumor belum diketahui, namun bisa diketahui dengan
adanya faktor risiko yaitu: herediter, radiasi, substansi karsinogenik,
virus dan gaya hidup
5. Tumor otak terjadi karena adanya proliferasi atau pertumbuhan sel
abnormal secara cepat pada daerah Central Nerve System (CNS).
6. Tumor intrakranial dapat didiagnosis dengan menentukan
anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang
7. Tumor intrakranial dapat diterapi dengan memberikan analgetik, anti
edema dan anti kejang, serta surgery dan kemoterapi
8. Rata-rata masa harapan hidup pasien dengan terapi yang adekuat
dikatakan kurang lebih hanya enam bulan.

3.2. Saran
Bagi penulis diharapkan dapat:
1. Meningkatkan kemampuan dan keterampilan dalam memberikan
penanganan tumor intrakranial
2. Senantiasa dapat meningkatkan semangat belajar dan berpikir kritis
sehingga dapat mengikuti perkembanan dan pengetahuan serta dapat
menerapkan inovasi dibidang kedokteran

15
Bagi instansi diharapkan dapat:
1. Meningkatkan pelayanan rumah sakit
2. Mendukung pengembangan ilmu pengetahuan sehingga tercipta kualitas
pelayanan yang lebih baik di rumah sakit

16
DAFTAR PUSTAKA

1. https://dokumen.tips/documents/referat-tumor-otak.html. Diakses tanggal 8


Agustus 2015
2. https://yuliasafwati23.wordpress.com/makalah-tumor-intrakranial/. Diakses
tanggal 19 Juni 2013
3. Dewanto, Suwono, Riyanto & Turana. (2009). Panduan Praktis Diagnosis &
Tata Laksana Penyakit Saraf. Jakarta: EGC
4. Anderson, Paul D. 1996. Anatomi Dan Fisiologi Tubuh Manusia. Jakarta:
EGC
5. Wahyuni A, dkk. http://juke.kedokteran.unila.ac.id. Diakses tanggal 7 Juli
2015
6. Satyanegara. 2010. Ilmu Bedah Saraf Edisi IV. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka
Utama
7. Newton, Susan., Hickey, Margaret, And Marris, Joyce. 2009. Malignancy
Quantification. In: Clark, Sandra.E., Ed. Oncology Nursing Advisor: A
Comprehensive Guide To Clinical Practice. Canada: Mosby Elsevier, 29-30

17