Anda di halaman 1dari 3

MAMAK, GURUKU TERHEBAT

Mamak adalah panggilan kami untuk ibu tersayang. Seorang wanita yang telah berhasil
membesarkan empat orang anaknya, tiga orang perempuan yang telah berkeluarga dan seorang
laki-laki bujang. Sekarang ini mamak memiliki enam orang cucu. Bercerita tentang Mamak tak
akan pernah cukup semua kalimat untuk menuliskannya. Masa kecilku bersama Mamak tak ada
yang dapat kuingat, photo kenanganku waktu kecil pun tak ada, maklumlah keluarga kami tak cukup
uang untuk membeli kamera atau sekedar menyewa tukang photo. Yang aku ingat mulai dari
sekolah dasar aku membantu Mamak di sawah menggembala sapi setiap hari sepulang sekolah.
Mamak seorang petani padi di sawah irigasi dengan beberapa petak sawah yang dimiliki dan
beberapa ekor sapi. Setiap hari Mamak bangun pagi, sholat subuh, membuat sarapan untuk kami
sekeluarga, menyusul Bapak yang berangkat lebih awal ke sawah sambil membawa bekal makanan
untuk sarapan Bapak. Sedangkan anak-anaknya berangkat sekolah, di rumah ada mbah (sebutan
untuk nenek) yang menunggu rumah. Mamak membantu pekerjaan Bapak di sawah hingga siang
hari. Pada waktu Dzhuhur Mamak dan Bapak ulang ke rumah untuk menunaikan sholat. Sore
harinya, kira kira pukul dua siang berangkat lagi ke sawah untuk melanjutkan pekerjaan bersama
Bapak, Aku pun ikut ke sawah untuk menggembala sapi. Adik-adikku yang masih kecil di rumah
bersama Mbah. Kegiatan ini adalah rutinitas di keluarga kami setiap hari.

Mamak seorang wanita hebat, semua kendali rumah tangga terutama pengaturan keuangan
dipegang Mamak. Penghasilan utama dan satu-satunya adalah padi hasil panen sawah kami yang
kadang satu tahun sekali kadang satu tahun dua kali. Di sela-sela tidak menanam padi, sawah kami
biasanya di tanami sayur, kacang, jagung, atau singkong. Hail panen sawah apakah dijual atau
disimpan, semua idenya dari Mamak yang luar biasa. Ide-ide Mamak dalam mengatur rumah tangga
membuat kami sekeluarga merasa tak pernah kekurangan, meski tak setiap hari kami dimasakkan
nasi putih. Ketika panen padi Mamak masak nasi putih setiap hari untuk kami dengan sayur
seadanya dari sawah/kebun. Lauknya? Ikan asin dan tempe goreng tidak pernah absen di meja
makan kami, sampai sekarang. Seiring waktu berjalan persediaan gabah/beras menipis sementara
waktu tanam padi belum dimulai, artinya masih lama lagi kami ketemu padi, maka Mamak tak
memasak nasi putih sepenuhnya. Nasi jagung atau tiwul (nasi dari singkong) menjadi alternatif
pengganti nasi. Nasi putih tetap dimasak tiap hari, terutama untuk Mbah yang sudah lanjut usia,
sisanya dicampur dengan nasi jagung atau nasi tiwul dengan lauk tetap ikan asin dan tempe goreng.
Yang luar biasa adalah kami tak pernah kelaparan, makan selalu tiga kali setiap hari, dan Mamak tak
pernah terjerat hutang.

Hal yang selalu kuingat adalah pada saat menjelang lulus SMA. Prestasi belajarku yang cukup baik
membuat aku berkeinginan kuat untuk kuliah. Selama ini Mamak tidak pernah mengurusi sekolahku
kecuali masalah uang untuk keperluan sekolah. Aku yang ingin mendaftar di Akademi Perawat atau
kuliah di Jawa tak mendapat restu sama sekali. Mamak hanya bilang “Nek arep kuliah, rasah nang
njowo, dadio guru ae” (“kalau mau kuliah, tidak usah di Jawa, jadi guru saja). Guru pada waktu itu
merupakan salah satu jurusan yang tidak diminati lulusan SMA yang akan kuliah. Meski dengan
berat hati akhirnya aku hanya memilih jurusan Matematika pada Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan di Universitas Lampung. Sapi satu-satunya milik kami, Mamak jual untuk keperluan
kuliahku, cincin pun dijual untuk keperluan skripsiku. Jurusan Pertanian yang favorit pada waktu itu
tak boleh aku pilih, pokoknya Guru titik. Mamak, setelah aku menjadi seorang ibu sepertimu, aku
rasakan perjuanganmu yang luar biasa dalam mendidik kami. Kenapa Mamak hanya merestuiku
kuliah di Lampung dan menjadi guru telah menuntunku menjadi seorang guru yang “berhasil”.
Mamak yang hanya sekolah sampai kelas lima sekolah dasar, instingnya begitu hebat, bahwa kuliah
di Jawa tentunya memerlukan lebih banyak biaya, dan rasa khawatir karena di sana tak ada saudara
satu pun. Tetanggaku yang sarjana pertanian dan pengangguran adalah fakta bahwa jurusan itu
susah mencari lowongan pekerjaan. Kuliah di Akademi Perawat memerlukan biaya lebih banyak
perbulannya dibanding kuliah menjadi Guru. Padi dijual untuk biaya kuliah, sementara Mamak di
rumah masak tiwul. Rumah bocor dan mau ambruk diperbaiki menunggu semua aknya selesai
sekolah. Semua itu tidak pernah Mamak ungkapkan, tidak pernah Mamak ceritakan, meski selama
kuliah Mamak hanya datang sekali pada waktu wisudaku, Aku tahu semua yang Mamak lakukan
adalah hal luar biasa yang tidak semua orang bisa lakukan. Anak-anak Mamak sekarang semua
sudah berhasil semua berkat Mamak. Terimakasih Mamak, Engkaulah guruku yang paling hebat.
BIODATA

KARTIYEM, S.Pd seorang ibu rumah tangga dan guru Matematika di SMAN Way Pengubuan
Lampung Tengah, Guru ndeso yang ingin terus belajar untuk menghasilkan sebuah karya dan
menjadi inspirasi bagi siswaku.

MOTTO CINTA

KASIH IBU MEMBAWA KITA KE SYURGA

FOTO BERSAMA IBU