Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Autisme atau ASD (autism spectrum disorder) merupakan sebuah gangguan yang
menyerang perkembangan otak manusia, yang mempengaruhi kemampuan sensorik dan
motorik seseorang (Yuwono, 2009:26). Menurut Kementrian Pemberdayaan Perempuan
dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, terhitung terdapat 2,4 juta Penyandang
Autisme dengan pertambahan 500 orang/tahun, dengan presentase sebesar 0.009% dari
jumlah penduduk Indonesia yang memiliki 269 juta jiwa (worldometers, 2019). Melihat
rendahnya presentase jumlah Penyandang Autisme tersebut, menjadikan para Penyandang
Autisme sebagai kaum minoritas, yang secara tidak langsung fasilitas yang mereka
butuhkan cenderung tidak dipertimbangkan, tidak terpenuhi, bahkan tidak terfasilitasi.
Merujuk pada UU Nomor 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas,
Penyandang Autisme masuk kedalam kategori disabilitas mental, kurang sempurnanya
koordinasi fisik dengan saraf, merupakan salah satu faktor yang menyebabkan timbulnya
perbedaan respon antara para Penyandang Autisme dengan para penyandang disabilitas
lainnya terhadap fasilitas yang telah disediakan. Salah satu penulis yang mengidap autisme,
Kamran Nazeer, dalam bukunya yang berjudul Send in the Idiots, telah menegaskan
tentang perbedaan tersebut, yaitu dia menyatakan bahwa fisiknya yang terlihat sempurna
dengan badannya yang tinggi seperti orang Normal, belum tentu berfungsi secara Normal
seperti apa yang terlihat, dikarenakan sulitnya koordinasi antara saraf sensorik dan motorik
yang dia miliki, hal itu juga menyebabkan masih seringnya terjadi kecelakaan kecil seperti
menabrak kusen pintu dan sudut meja. Kemudian dari pernyataan tersebut juga, yang mana
dalam kondisi lingkungan atau kondisi ruang yang dianggap sudah sesuai dengan standar
umum (sesuai dengan Neufert’s Architect Data, Time-saver standart series), belum tentu
sesuai untuk menerima respon perilaku dari para Penyandang Autisme. Maka, dapat
diketahui bahwa Perilaku menjadi faktor utama dalam penyesuaian kembali standar
kebutuhan spasial untuk para Penyandang Autisme.
Menurut DSM IV, terdapat Empat perilaku yang sering dilakukan oleh para
Penyandang Autisme, yaitu : (1) mempertahankan satu minat atau lebih dengan cara yang
sangat khas dan berlebihan; (2) terpaku pada satu kegiatan rutinitas yang tidak ada
gunanya, seperti selalu mencium makanan sebelum dimakan; (3) ada gerakan-gerakan aneh
yang khas dan diulang; dan (4) seringkali sangat terpukau pada benda atau bagian-bagian
benda. Dengan melihat hal tersebut, dapat dikatakan bahwa para Penyandang Autisme
memiliki Perilaku yang cenderung berbeda dari para Penyandang Disabilitas lainnya. Yang
dalam hal ini, tolak ukur penyesuaian kebutuhan para Penyandang Disabilitas lain diukur
dari keterbatasan fisik, yang mana hal ini diketahui dari substansi peraturan pemerintah
dan undang-undang yang mengatur tentang Standar Kebutuhan Penyandang Disabilitas
yang berupa dimensi spasial tentang aksesibilitas hingga sarana dan prasarana (UU no. 28
tahun 2002, PP no. 36 tahun 2005).
Dengan perbandingan tersebut dan berdasarkan apa yang telah diuraikan, dapat
disimpulkan bahwa Perilaku para Penyandang Autisme menjadi poin utama yang bersifat
penting untuk diperhatikan lebih dalam, dan dibutuhkan perhatian khusus terhadap
perilaku Penyandang Autisme didalam ruang sebagai faktor utama yang akan
dipertimbangkan dalam merancang spesifikasi standar kebutuhan spasial. Dan kemudian
dengan spesifikasi tersebut, diharapkan dapat menjadi tolak ukur dalam penyesuaian
kebutuhan para Penyandang Autisme.
Maka dari itu, dilakukan pengamatan langsung untuk dapat mengetahui bagaimana
respon perilaku yang dihasilkan dan bagaimana mengatasi respon tersebut didalam ranah
arsitektur. Yang kemudian akan menghasilkan data yang dapat digunakan sebagai tolak
ukur dalam menciptakan ruang yang tidak hanya sesuai dan dapat memenuhi kebutuhan
para Penyandang Autisme, tapi juga dapat memicu sebuah stimulasi untuk Arsitek, agar
mampu menciptakan desain yang dapat mempengaruhi perkembangan sensorik maupun
motorik para Penyandang Autisme.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang perlu diperhatikan dalam merancang kebutuhan spasial untuk para
Penyandang Autisme?
2. Bagaimana spesifikasi kebutuhan spasial yang dapat menjadi tolak ukur kebutuhan
para Penyandang Autisme?
3. Bagaimana perilaku para Penyandang Autisme didalam Ruang dapat
mempengaruhi standar kebutuhan spasial?
4. Apakah kebutuhan spasial para Penyandang Autisme berbeda dengan standar
kebutuhan spasial para penyandang disabilitas lainnya?

1.3 Tujuan
1. Merumuskan Spesifikasi Kebutuhan Spasial para Penyandang Autisme
2. Mendapatkan tolak ukur kesesuaian kebutuhan spasial untuk Penyandang Autisme
3. Mengidentifikasi perbedaan standar kebutuhan spasial para Penyandang Autisme
dengan penyandang disabilitas lainnya