Anda di halaman 1dari 3

Diah Liri Pramesti

Salah satu Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) unik asal Indonesia adalah gaharu atau resin yang
diperoleh dari tanaman penghasil gaharu. Karakteristik resin gaharu adalah adanya wangi yang
terkandung di bahan tanaman penghasil gaharu, sehingga gaharu sering kali dijadikan sebagai bahan
baku produk industri yang memerlukan zat wangi-wangian dan obat-obatan. Sejalan dengan semakin
berkembangnya teknologi, maka semakin banyak pula pemanfaatan untuk produk turunan gaharu,
sehingga permintaan komoditi gaharu juga semakin meningkat. Tercatat hingga tahun 2010 ekspor
gaharu yang berasal dari alam hanya mampu terpenuhi sebesar kurang dari 300 ton dari kuota ekspor
lebih dari 700 ton. Penigkatan kuota ekspor terus meningkat pada tahun 2013 sebesar lebih dari 800 ton
yang dipenuhi sebanyak lebih dari 90% oleh gaharu alam, sedangkan sisanya oleh gaharu budidaya
(Ditjen PHKA, 2013). Negara-negara tujuan ekspor terbesar antara lain Saudi Arabia, Singapura, dan Cina
(Ditjen PHKA, 2013).

Peningkatan jumlah permintaan pasar internasional akan gaharu menyebabkan keberadaan


pohon penghasil gaharu di hutan alam juga semakin sedikit karena penebangan liar yang berakibat
eksploitasi secara berlebihan. Padahal, gaharu sendiri termasuk bagian dari CITES Apendix II(Konvensi
perdagangan Internasional Tumbuhan dan Satwa liar spesies terancam). Hutan alam Indonesia yang
tidak mampu memenuhi permintaan pasar internasional yang terus meningkat tetap harus diimbangi
dengan cara pemenuhan lain yakni dengan cara menembangkan gaharu budidaya. Pengembangan
gaharu budidaya merupakan salah satu sumber potensi gaharu di Indonesia. Namun, terdapat kendala
yang dihadapi oleh komoditi gaharu budidaya yang kurang mendapatkan perhatian pada kuota ekspor
Indonesia. Hal ini dikarenakan kekhawatiran terhadap kualitas resin gaharu budidaya yang belum
mampu bersaing dengan gaharu alam. Untuk itu, pengembangan gaharu budidaya perlu didukung oleh
faktor rekayasa pembudidayaan jenis-jenis pohon penghasil gaharu berkualitas terbaik dan memiliki nilai
komersial tinggi serta teknologi yang rekayasa gaharu melalui bioinduksi.

Gaharu merupakan suatu resin yang dihasilkan oleh bagian gubal dari pohon bermarga Aquilaria
dan Gyrinops yang menghasilkan gaharu. Terbentuknya gaharu dapat dipicu oleh faktor abiotik dan
biotik. Faktor abiotik dapat dilalui dengan proses perlukaan secara mekanis, penggunaan bahan kimia,
seperti metal jasmonat, oli, dan sebagainya. Akan tetapi, faktor biotik dengan menggunakan mikroba
atau cendawan ternyata memiliki pengaruh yang lebih baik yang dapat dilihat pada produk gaharu yang
dihasilkan. Apabila pembentukan gaharu dilakukan dengan pengaruh abiotik, maka produk yang
dihasilkan tidak menyebar pada bagian lain. Berbeda dengan sebelumnya, faktor biotik dapat
memperbanyak produk gaharu karena adanya perluasan mekanisme pembentukan gaharu. Hal inilah
yang membuat inokulasi dengan menggunakan cendawan menjadi sangat populer pada perdagangan
gaharu. Cendawan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Fusarium spp. (Santoso et al. 2010).
Setelah terinfeksi, maka efektifitas interaksi dapat diketahui melalui gubal yang terbentuk di sekitar
daerah induksi. Ciri lainnya adalah terjadinya perubahan warna batang dan beraroma wangi pada
daerah induksi. Warna yang terbentuk mulai dari coklat sampai hitam, sedangkan aromanya mulai dari
agak wangi sampai wangi sekali (Rahayu et al. 2010).
Di Indonesia sendiri, persediaan pohon ini diperkirakan mencapai 1,87 pohon per ha di
Sumatera, 3,37 pohon per hektar di Kalimantan dan 4,33 pohon per ha di Papua. Padahal kayu ini
tercantum dalam CITES Appendix II.

Minyak gaharu dianggap sebagai produk asli yang paling mahal di dunia kerana komposisi
kimianya yang menghasilkan bau yang sangat harum. Baru-baru ini, harga untuk gaharu dengan
mutu terbaik dinyatakan sebesar kurang-lebih 400/kg dan sebagian besar bahan ini diselundupkan
dan diperdagangkan secara ilegal keluar dari Indonesia (WWF Indonesia, 2008 dalam Gusman,
2008 ), Gaharu merupakan salah satu produk Hasil Hutan Non Kayu yang bernilai tinggi.
Pemanfaatan gaharu masih berfokus pada pemanfaatan batang, getah dan kulitnya yang lebih
sering digunakan karena memiliki aroma yang khas.

oleh karena itu telah banyak dilakukan penelitian untuk memanfaatkan pohon gaharu selain
kayunya yaitu daunnya yang dimanfaatkan sebagai teh. Tinggi rendahnya nilai aroma teh yang
tercium berhubungan dengan kadar ekstrak dalam air teh dan berat teh yang dikandungnya, dimana
semakin banyak ekstrak teh dalam air dan semakin berat teh yang digunakan maka semakin banyak
aroma teh yang tercium oleh panelis. Hal ini sesuai dengan pernyataan Winarno (1993) yang
menyatakan bahwa aroma teh tersusun dari senyawasenyawa minyak atsiri (essential oil) dimana aroma
teh berasal sejak di perkebunan dan sebagian dikembangkan selama proses pembuaan teh. Paling
sedikit 14 senyawa mudah menguap terdapat terdapat dalam minuman teh yang mungkin berpengaruh
pada cita rasa teh diantaranya metil dan etil alkohol. Pada segi rasa, jenis teh daun gaharu cukup disukai
panelis. Hal ini juga dipengaruhi oleh kadar tanin yang sangat rendah. Teh daun gaharu memiliki kadar
tanin sebesar 0,25%. Rasa sepat bahan makanan biasanya disebkan oleh tanin. Misalnya dalam bir,
adanya tanin kemungkinan besar berasal dari malt dan hop, dan menurut hasil penelitian terdahulu
kandungan tanin dalam bir sekitar 25-55 ppm. Kandungan tanin dalam teh dapat digunakan sebagai
pedoman mutu, karena tanin juga memberikan kemantapan rasa

ecara tradisional Cina tanaman gaharu


dipergunakan sebagai obat : penghilang stress,
gangguan
ginjal,
hepatitis,
sirosis,
pembengkakan hati dan ginjal, bahan antibiotic
untuk TBC, reumatik, kanker, malaria dan tukak
lambung.
Secara tradisional Tibet tanaman gaharu
dapat dipergunakan sebagai obat : anti asmatik,
antimikroba, stimulant kerja syaraf, sakit perut,
perangsang nafsu birahi, penghilang rasa sakit,
kanker, diare, ginjal, tumor dan paru-paru.
Kandungan kimia tanaman gaharu antara
lain adalah : noroxo-agarofuran, agarospirol, 3,4-
dihidroxy
dihydroagarufuran,
p-methoxy-
benzylaceton, aquilochin, Jinkohol, jinkohol
ermol, dan kusunol.
Inti gaharu atau gubal gaharu atau
aloeswood
atau
eaglewood
atau
agarwood
yang
merupakan inti gaharu, damarwangi atau resin
ekstrak daun gaharu (
Gyrinops versteegii
)
mengandung senyawa metabolit sekunder
flavonoid,
terpenoid
dan
senyawa
fenol.
Senyawa-senyawa metabolit sekunder inilah
yang diperkirakan mempunyai aktivitas sebagai
antiradikal bebas karena gugus-gugus fungsi
yang ada dalam senyawa tersebut seperti gugus
OH yang dalam pemecahan heterolitiknya akan
menghasilkan