Anda di halaman 1dari 1

BAB I

PENDAHULUAN

Gastroesophageal reflux disease (GERD) adalah diagnosis gastrointestinal


yang umum, alasan utama untuk pemeriksaan endoskopi dan penyebab komplikasi yang
berpotensi serius. GERD mengakibatkan beban kesehatan yang luas. Sekitar seperempat
penduduk yang tinggal di negara-negara barat mengalami GERD dengan prevalensi
yang tampaknya terus meningkat. GERD merupakan kelainan motilitas gastrointestinal
yang berhubungan dengan refluks isi lambung ke dalam esofagus. Pasien dengan GERD
dapat menunjukkan berbagai gejala, baik tipikal, atipikal maupun ekstra-esofageal.1,2
Faktor risiko untuk GERD termasuk hiatus hernia, obesitas, diet tinggi lemak,
merokok tembakau, konsumsi alkohol, kehamilan, genetika, dan beberapa obat. GERD
diidentifikasi dengan memperoleh riwayat penyakit yang berpusat pada pasien dan jika
perlu dapat diklasifikasikan dengan pemeriksaan endoskopi. Dengan pemeriksaan
endoskopi, bukti objektif kerusakan esofagus dapat dilihat, termasuk esofagitis. Tes
laboratorium jarang berguna dalam menegakkan diagnosis GERD. Manometri esofagus
dan pemantauan pH dianggap penting sebelum melakukan tindakan operasi. Untuk
menentukan apakah terdapat refluks abnormal dan apakah gejala sebenarnya disebabkan
oleh refluks gastroesofagus adalah melalui pemantauan pH. Penderita GERD dirawat
melalui pendekatan bertahap yang didasarkan pada modifikasi gaya hidup dan kontrol
sekresi lambung melalui perawatan medis atau bedah.2,3
GERD umumnya dikaitkan dengan kualitas hidup yang lebih rendah, kualitas
tidur yang buruk dan penurunan produktivitas kerja. Kemungkinan besar penyedia
layanan kesehatan primer akan menemukan keluhan terkait penyakit refluks cukup
sering dalam praktik sehari-hari. Referat ini akan memberikan gambaran umum tentang
GERD, termasuk pendekatan diagnosis dan manajemen dari penyakit yang sering
dijumpai ini.1,3