Anda di halaman 1dari 2

Kalau ada yang lebih menjengkelkan dari seorang Gafar, jelas Fira akan melambaikan tangan ke kamera.

Ini sudah hari ke tujuh ia dan Gafar berada di kelas yang sama. Tujuh hari sudah cowok itu selalu
membuatnya naik darah. Semua yang dilakukannya tak jauh dari kata menyebalkan. Mulai dari
menendang kursi Fira(entah dengan sengaja atau tidak) membuat goresan di bukunya jadi tak jelas arah,
yang diakhiri dengan teriakan penuh amarah.

Tak jarang Gafar alih profesi sebagai maling. Cowok yang selalu mengambil alat tulis milik Fira tanpa izin
itu, tak pernah mengembalikan barang yang ia pakai sebelum si pemilik berteriak ke sana kemari
mencari barangnya yang hilang. Masih banyaklah pokoknya, tidak perlu disebutkan semuanya. Tapi,
yang paling penting dari semuanya. Entah cowok itu lupa,amnesia,pura-pura tidak tahu atau bagaimana,
ia tak pernah membahas kejadian yang membuat Fira tenar di sekolah. Orang-orang memberinya gelar
‘si cewek yang nyium konblok waktu upacara’. Tentu saja yang paling ditunggu-tunggu adalah
permintaan maaf dari cowok ber-sneakers putih itu. Sayangnya, keduanya saja tidak akan bicara satu
sama lain kalau bukan saling adu mulut dan cari ribut.

Sudahlah Fira, jangan terlalu berharap dengan cowok itu.

Suasana bahagia jelas dirasakan semua siswa begitu terdengar bunyi bel pulang sekolah. Suara
perempuan dengan dua bahasa itu sudah ditunggu-tunggu sedari tadi. Kelas XII IPA 1 sudah tak sanggup
lagi untuk menghadapi cobaan ini. Fisika di jam terakhir sulit untuk dijalani, susahnya untuk memahami,
panasnya cuaca, dan juga guru yang selalu siap memangsa kalau-kalau ada muridnya yang menutup
mata. Benar-benar sengsara.

“Jadi kan?” Tanya Fira menoleh ke belakang sambil memasukkan bukunya ke dalam tas.

Tak ada doa bersama, tak ada salam, guru fisika itu langsung keluar begitu saja dari kelas.

“Ya kalo lo mau ikut, boleh aja,” jawab cowok itu berlalu melewati Fira. Di depan pintu sudah berdiri dua
orang laki-laki. Setelah Gafar menghampiri, mereka berjalan menjauh meninggalkan kelas.

Menyisakan Fira yang mempercepat langkahnya untuk mengejar ketertinggalan.

“Guys, gue duluan yaa. Si Gafar emang nggak ada otak, ninggalin gue seenaknya!” pamit Fira kepada
kedua temannya.

***

Di rumah berwarna putih itu, mobil Gafar berhenti melaju. Keduanya turun dan masuk ke rumah.

Tak ada siapa-siapa di rumah. Rumah Gafar tidak bertingkat, tapi tidak meninggalkan kesan besar dan
mewah. Foto keluarganya dipajang di dinding. Fira tak bisa menahan tawa saat melihat itu. Dibanding
sekarang, Gafar kecil matanya jauh lebih kecil. Sipit sekali.

“Ngeselin lo ya dari tadi,” suara Gafar membuat Fira menoleh. Setelah mengantar kedua temannya ke
rumah masing-masing, Gafar menoleh ke belakang tempat Fira duduk. Menyuruhnya untuk pindah ke
depan. Namun ditolak oleh Fira mentah-mentah. Memangnya Fira pikir Gafar itu supir?
“Lo kira gue supir lo?” tanyanya lalu meletakkan sekantong penuh jajanan yang mereka beli di
minimarket tadi ke atas meja. “Duduk sini lo, gue ganti baju.” Katanya lalu masuk ke dalam kamar
dengan