Anda di halaman 1dari 18

Makalah Oceanografi Perikanan

Disusun oleh:
1. Ghozi Yoga Prasetya (26030118130060)
2. Cinde Saraswati Saleh (36030118140069)
3. Ayyup Nadhif Atthallah (26030118140077)
4. Yayas Nigita Putri (26030118130078)
5. Siti Munawaroh (26030118130104)

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan


Universitas Diponegoro
2019
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.


Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya,
sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “Keadaan Osenaografi
Perikanan di Selat Malaka” ini dengan baik.
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas dalam mata
kuliah oseanografi perikanan dan juga untuk menambah wawasan tentang kondisi yang ada di
Selat Malaka dalam aspek oseanografi perikanan.
Kami menyadari, makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Maka dari itu, kritik dan
saran sangat kami perlukan untuk kesempurnaan makalah ini.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Semarang, 01 September 2019

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................

DAFTAR ISI .......................................................................................................

BAB I : PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah ..........................................................................

1.2 Rumusan Masalah ....................................................................................

1.3 Tujuan Penulisan .....................................................................................

BAB II : PEMBAHASAN

2.1 Kondisi Gelombang di Selat Malaka ........................................................

2.2 Kondisi Arus di Selat Malaka ..................................................................

2.3 Kondisi Pasang Surut Air Laut di Selat Malaka .......................................

2.4 Ikan dan Alat Tangkap yang Paling Dominan di Selat Malaka ...............

2.5 Keberadaan Ikan Ekonomis di Selat Malaka ............................................

2.6 Hasil Ekspor di Laut Malaka ...................................................................

BAB III : PENUTUP

3.1 Kesimpulan ..............................................................................................

3.2 Penutup ....................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang biasa disingkat dengan NKRI
merupakan salah satu negara kepulauan terbesar di dunia yang terletak di Asia
Tenggara. Negara Indonesia memiliki sekitar 17.504 pulau besar dan kecil, dan sekitar
6000 pulau di antaranya tidak berpenghuni, yang menyebar disekitar garis khatulistiwa.
Indonesia merupakan negara kepulauan oleh karena itu dii wilayah perairan negara
Indonesia banyak terdapat selat. Salah satu selat di Indonesia yang juga merupakan selat
yang terkenal di dunia internasional yaitu Selat Malaka. Selat Malaka termasuk dalam
WPP-NRI 571, yang terletak di antara Semenanjung Malaysia (Thailand, Malaysia,
Singapura) dan Pulau Sumatera, Indonesia (Aceh, Sumatera Utara, Riau dan Kepulauan
Riau). Selat Malaka terletak diantara 95°BT-103°BT. Selat Malaka ini mempunyai luas
kurang lebih 65.000 km².
Selat Malaka adalah jalur penting perdagangan perekonomian dunia, terutama
Jepang. Mulai pada tahun 1971 banyak kapal dagang yang mengalami kesusahan untuk
melewati Selat Malaka ini dikarenakan dangkal serta jalan yang berkelok-kelok serta
permasalahan intervensi dari beberapa negara seperti Rusia, Jepang, dan Amerika yang
menginginkan kebebasan navigasi di Selat Malaka. Selat Malaka membentuk jalur
pelayaran terusan antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik serta menghubungkan
tiga dari negara-negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia: India, Indonesia dan
Republik Rakyat Tiongkok. Sebanyak 50.000 kapal melintasi Selat Malaka setiap
tahunnya, mengangkut antara seperlima dan seperempat perdagangan laut dunia.
Keberadaan Selat Malaka dipandang sangat vital dalam perdagangan dan
akses transportasi dunia. Hampir sebagian besar kapal niaga di dunia pasti akan melalui
jalur Selat Malaka. Hal ini menarik perhatian negara-negara besar dunia untuk
menancapkan pengaruh di Selat Malaka. Motivasi ini melihat penguasaan Selat Malaka
secara tidak langsung menguasai jalur perdagangan dunia. Selain itu potensi sumber
daya yang belum tereksploitasi secara penuh menjadikan keberadaan Selat Malaka
semakin penting dalam distribusi barang produksi alam seperti minyak dan gas alam.
Selat Malaka memiliki potensi perikanan yang cukup besar, hal ini
deisebabkan diperairan Selat Malaka memiliki kandungan mineral yang cukup tinggi.
Status perikanan diperairan Selat Malaka disajikan dengan melihat banyaknya nelayan
modern atau perusahaan perikanan dengan peralatan canggih yang melakukan
penangkapan di Selat Malaka, dengan demikian mereka dapat memperoleh hasil
tangkapan yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Komoditas ikan yang menjadi
andalan untuk ditangkap ialah tuna dan cakalang.

1.2Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas, terdapat beberapa permasalahan yang timbul yaitu
sebagai berikut :
a. Bagaimana kondisi arus di Selat Malaka ?
b. Bagaimana kondisi gelombang air laut di Selat Malaka ?
c. Bagaimana kondisi pasang surut air laut di Selat Malaka ?
d. Apa sajakah ikan yang dominan? Dan apa alat tangkapnya ?
e. Apakah di Selat Malaka Mempunyai ikan ekonomis penting ?
f. Apa sajakah komoditi hasil tangkapan yang dieskpor? Dan diekspor kemana ?

1.3 Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan makalah Kondisi Oseanografi Perikanan di Selat


Malaka, sebagai berikut :
a. Memberikan informasi kepada pembaca agar mengetahui tentang Selat Malaka, baik
dari aspek oseanografi maupun aspek perikanan.
b. Untuk mengetahui tentang kondisi perairan di Selat Malaka.
c. Untuk mengetahui biota alam yang ada di Selat Malaka.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Kondisi Gelombang di Selat Malaka

Gelombang adalah getaran yang merambat. Gelombang biasanya menjalar dari laut
lepas menuju ke pantai. Gelombang dapat menimbulkan energi yang mampu memberi
pengaruh pada pembentukan pantai, karena gelombang dapat menimbulkan arus dalam arah
tegak lurus pantai dan sepanjang pantai sehingga menimbulkan transport sedimen. Bentuk
gelombang laut di alam pada umumnya sangat kompleks dan acak serta sulit digambarkan
secara matematis. Gelombang laut merupakan salah satu komponen laut yang mempunyai
pengaruh besar pada aktivitas kehidupan yang berada di lautan, kebutuhan untuk
memperkirakan gelombang laut sendiri mulai dirasa menjadi salah satu kebutuhan yang
sangat penting, dengan adanya informasi gelombang laut di kemudian hari maka segala
aktivitas kehidupan yang terpengaruh dengan gelombang laut seperti transportasi laut dan
bernavigasi dapat disiapkan dengan baik.

Gelombang laut yang terjadi di Selat Malaka cukup besar, maka dari itu kapal-kapal
yang melewati atau kapal yang melakukan penangkapan ikan di Selat Malaka adalah kapal
yang modern dan juga mempunyai GT yang besar. Gelombang yang terjadi diperairan Selat
Malaka disebabkan oleh beberapa hal seperti angina, aktivitas lempeng bumi, akibat gerakan
kapal-kapal yang sedang berlayar, pasang surut dan arus laut. Bentuk gelombang laut di
alam pada umumnya sangat kompleks dan acak serta sulit digambarkan secara matematis,
namun gelombang masih bisa digambarkan. Menurut Wicaksana et al.,(2015), Gelombang
laut yang terjadi dapat dipicu oleh berbagai hal seperti angina, aktivitas lempeng bumi,
akibat gerakan kapal, pasang surut dan arus laut.

Perairan Kabupaten Batu Bara merupakan bagian dari Selat Malaka yang terletak di
Kabupaten Batu Bara. Karena letaknya tersebut, karakteristik perairan ini dipengaruhi oleh
karakteristik Selat Malaka yang menghubungkan Laut Andaman dengan Paparan Sunda yaitu
bagian selatan Laut Cina Selatan dan Barat Laut Jawa. Perpindahan massa air yang
berlangsung dari kedua laut tersebut mengakibatkan perairan Selat Malaka memiliki
karakteristik yang dinamis. Meskipun memiliki perairan yang dinamis, gelombang dan arus
yang ada di Selat Malaka juga berpengaruh terhadap pembangunan infrastruktur yang ada di
Selat Malaka, jadi saat akan membangun infrastruktur di sekitar Selat Malaka harus
memperhatikan arus dan hempasan gelombang merupakan hal yang penting, sehingga perlu
dilakukan suatu kajian gelombang laut untuk keperluan pengelolaan dan pengembangan
potensi wilayah pesisir secara optimal. Menurut Denestiyanto et al.,(2015), Hempasan dari
gelombang laut dan distribusi energy yang ditimbulkan memberi pengaruh yang besat
terhadap infrastruktur yang akan dibangun.

2.2 Kondisi Arus di Selat Malaka

Air Selat Malaka dikenal cukup hangat dan iklim disekitar Selat Malaka adalah iklim
tropis yang dipengaruhi oleh dua angin musim. Kondisi iklim dan suhu air akan
mempengaruhi hasil tangkapan ikan bagi nelayan di Sekitar Selat Malaka. Selat Malaka
banyak dimanfaatkan oleh nelayan penangkap ikan dikarenakan mempunyai perairan yang
subur. Perairan yang subur ini disebabkan karena adanya faktor-faktor lingkungan sehingga
kelimpahannya sangat bervariasi di suatu perairan. Oleh karena itu, perlu pengetahuan lebih
lanjut mengenai faktor-faktor lingkungan tersebut, salah satunya adalah Suhu permukaan laut
(SPL), karena suhu berpengaruh terhadap kelangsungan hidup organisme air. Salah satu
faktor yang mempengaruhi keberadaan ikan di laut adalah suhu karena sangat berpengaruh
terhadap aktivitas metabolism, selain itu faktor lain yang mempengaruhi keberadaan ikan di
Selat Malaka adalah arus air laut.

Arus air laut adalah pergerakan massa air secara vertical dan horizontal sehingga
menuju keseimbangan. Selat Malaka termasuk perairan mempunyai arus yang cukup besar.
Arus bergerak bolak balik (be-directional) dengan arah arus saat pasang berkebalikan pada
saat surut, adanya perbedaan elevasi muka air laut yang mengakibatkan terjadinya perbedaan
tekanan hidrostatik antara satu tempat dengan tempat yang lainnya. Dimana elevasi yang
tinggi mempunyai tekanan hidrostatik yang lebih besar dibandingkan dengan elevasi yang
lebih rendah. Perbedaan tekanan yang bekerja pada permukaan horizontal ini akan
mengakibatkan gaya yang disebut dengan gaya gradien tekanan, dimana gaya ini akan
mengakibatkan massa air mengalami perpindahan yaitu, bergerak dari tekanan yang lebih
tinggi ke tekanan yang lebih rendah.

Selat Malaka termasuk dalam arus vertical, dimana arus tersebut menyebabkan
permukaan air laut banyak lumpur, hal ini yang menjadi makanan plankton sehingga di
perairan selat malaka adalah perairan yang subur dan banyak ikannya. Peranan arus dalam
hal ini adalah arus membawa nutrient dari daratan dan mempunyai peranan yang sangat besar
terhadap distribusi organisme, arus merupakan transportasi yang baik untuk makanan dan
oksigen bagi organisme. Selat Malaka mempunyai kecepatan arus cukup tinggi, maka
penyebaran makanan dan oksigen dapat merata sehingga organisme dapat tumbuh dengan
baik di Selat Malaka. Menurut Siregar et al.,(2015), arus mempunyai peranan yang sangat
besar terhadap distribusi organisme. Arus merupakan transportasi yang baik untuk makanan
dan oksigen bagi organisme.

2.3 Kondisi Pasang Surut Air Laut di Selat Malaka

Data pasang surut air laut sangat diperlukan dalam penentuan garis pantai dan
pelaksanaan survey bathimetri.Data pasang surut air laut juga sangat memiliki arti penting
dalam mengimplementasikan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 27 tahun 2007
(UU-27/2007) tentang pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil. Fenomena dapat
terjadinya pasang surut diartikan sebagai naik turunnya muka laut secara berkala akibat
adanya gaya tarik benda-benda angkasa terutama matahari dan bulan terhadap massa air di
bumi (Pariwono,1989). Terjadinya gaya tarik antara benda angkasa lainnya dapat diabaikan
karena jaraknya antara benda angkasa tersebut lebih jauh atau ukurannya lebih kecil. Untuk
mengetahui kapan posisi titik pasang surut terendah atau tertinggi di suatu wilayah dapat
dilakukan dengan pengamatan pasang surut yang ideal yaitu dilakukan adalah selama 18,6
tahun (Ramdhan,2015).

Menurut Wyrtki (1961), pasang surut di Indonesia dibagi menjadi 4 tipe yaitu :

1. Pasang surut harian tunggal (Diurnal Tide). Merupakan pasut yang hanya terjadi satu
kali pasang dan satu kali surut dalam satu hari, ini terdapat di Selat Karimata.
2. Pasang surut harian ganda (Semi Diurnal Tide). Merupakan pasut yang terjadi dua kali
pasang dan dua kali surut yang tingginya hampir sama dalam satu hari,ini terdapat di
Selat Malaka hingga Laut Andaman.
3. Pasang surut campuran condong harian tunggal (Mixed Tide, Prevailing Diurnal).
Merupakan pasut yang tiap harinya terjadi satu kali pasang dan satu kali surut tetapi
terkadang dengan dua kali pasang dan dua kali surut yang sangat berbeda dalam tinggi
dan waktu, ini terdapat di Pantai Selatan Kalimantan dan Pantai Utara Jawa Barat.
4. Pasang surut campuran condong harian ganda (Mixed Tide, Prevailing Semi Diurnal)
Merupakan pasut yang terjadi dua kali pasang dan dua kali surut dalam sehari tetapi
terkadang terjadi satu kali pasang dan satu kali. Surut dengan memiliki tinggi dan waktu
yang berbeda, ini terdapat di Pantai Selatan Jawa dan Indonesia Bagian Timur

Jenis pasang surut laut yang terdapat di Selat Malaka adalah semi diurnal. Komponen
utama yang berpengaruh pada pasang surut air laut di selat malaka ialah komponen M2 dan
S2. Pasang surut air laut di daerah tenggara lebih tinggi dibandingkan dengan pasang surut
air laut di barat laut, dimana puncak ketinggian pasang surut air laut terjadi ketika bulan
purnama dan bulan baru. Arus laut di selat malaka secara umum bergerak dari tengggara
menuju barat laut. Kombinasi pengaruh pasang surut bulan dan pasang surut matahari dapat
memperbesar atau memperkecil tinggi pasang surut yang terjadi. Pada bulan baru (new
moon) dan bulan purnama (full moon) dimana bumi, bulan dan matahari berada dalam satu
garis, pasang surut oleh bulan diperkuat oleh pasang surut matahari. Pada waktu-waktu ini
pasang surut yang terjadi mempunyai tinggi yang maksimum, dan disebut ”pasang purnama”
(spring tide). Pada kuartir pertama dan kuartir ketiga dimana posisi bulan, bumi tegak lurus
matahari,pasang surut oleh bulan diperlemah oleh pasang surut matahari. Pada waktuwaktu
ini pasang surut yang terbentuk mempunyai tinggi yang minimum dan disebut ”pasang
perbani” (neap tide). Posisi bumi, bulan dan matahari pada bulan baru, bulan purnama,
kuartir pertama dan kuartir ketiga serta pasang sebagai berikut:
Gambar 1.1 Posisi Bumi Bulan dan Matahari

Pasang surut juga bersifat periodik sehingga dapat diramalkan. Untuk meramalkan
pasang surut, diperlukan data amplitudo dan beda fase dari komponen pembangkit pasang
surut. Komponen-komponen utama pasang surut terdiri dari komponen tengah harian dan
harian. ketinggian pasang surut juga sangat tinggi pada saat bulan purnama. Sedangkan pada
quarter pertama dan quarter ketiga pasang surut mengalami penurunan dibanding pada saat
bulan purnama dan bulan baru. Komponen utama M2 atau komponen yang diakibatkan
pengaruh gaya tarik menarik bulan dan bumi, merupakan komponen yang sangat
berpengaruh pada pasang surut laut di selat Malaka. Hal ini menunjukkan pengaruh M2
sangat dominan di selat Malaka. Nilai Amplitudo komponen M2 terlihat secara umum makin
meningkat makin ke arah tenggara. Untuk arus di selat Malaka baik pada southeast monsoon
maupun northwest monsoon secara umum bergerak ke arah barat laut, hal ini diakibatkan
perbedaan ketinggian pasang surut laut di daerah tenggara mempunyai ketinggian pasang
surut yang lebih tinggi di bandingkan dengan di daerah barat laut. Perbedaannya ketika south
east monsoon arus laut di selat Malaka berasal dari laut Cina Selatan, sedangkan ketika north
west monsoon arus di selat Malakan berasal dari laut Jawa.

Pertemuan antara arus pasang surut dan perbedaan energi yang berasal dari aliran sungai
Kampar dengan energi pasut yang berasal dari Selat Malaka menimbulkan fenomena tidal
bore dan menciptakan gelombang setinggi ±4 m yang disebut Bono. Undular Bore
disebabkan oleh perubahan elevasi pasang surut yang drastis sehingga menyebabkan
perpindahan massa air dari Selat Malaka masuk ke dalam muara Sungai Kampar. Pada
penjalarannya, kecepatan dan tinggi gelombang bore dipengaruhi oleh elevasi pasang,
topografi dasar perairan dan bentuk morfologi dari Sungai Kampar (Rahmawan et al).
2.4 Ikan dan Alat Tangkap yang Paling Dominan di Selat Malaka

Perairan Selat Malaka merupakan adalah sebuah selat yang terletak di antara
Semenanjung Malaysia (Thailand, Malaysia, Singapura) dan Pulau Sumatra, Selat Malaka
terletak di antara 95°BT-103°BT.Selat Malaka juga merupakan bagian dari Wilayah
Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPP-NRI) 571 yang wilayahnya
meliputi Laut Andaman dan Selat Malaka.Berdasarkan data statistik perikanan tangkap
Kementerian Kelautan dan Perikanan tahun 2011 ikan ikan yang tertangkap di wilayah
perairan Selat Malaka adalah jenis ikan karang atau ikan demersal,beberapa ikan pelagis dan
jenis-jenis udang.Pada tahun 2011 produksi ikan karang ekonomis di WPP-RI 571 yang
paling tinggi adalah ikan ekor kuning/pisang-pisang yaitu 5.443 ton (22,5% dari produksi
ikan karang ekonomis yang besarnya 10.996 ton), diikuti oleh ikan kerapu karang 22,5%,
kerapu bebek 12,2%, kerapu balong 9,9%, kerapu lumpur 4,7%, dan beronang lingkis 0,6%.
Namun pada hasil survei yang dilakukan tahun 2008, menunjukkan perbedaan komposisi
jenis ikan demersal dominan yang tertangkap di Selat Malaka. Di bagian selatan dari Selat
Malaka (perairan Bengkalis dan sekitarnya) hasil tangkapannya didominasi oleh family
Sciaenidae (jenis ikan tigawaja/gulamah), Pomadasydae (ikan gerot-gerot), Soleidae (ikan
lidah) dan ikan kurau (Polidactylus sp.). Sementara di bagian utara Selat Malaka (perairan
Belawan sampaidengan Tanjung Balai Asahan) didominasi oleh ikan dari family
Synodontidae (ikan beloso), Mullidae (ikan kuniran/biji nangka), Nemipteridae (ikan kurisi,
coklatan) dan Leiognathidae (ikan petek). Menurut Wedjatmiko (2010) di perairan Selat
Malaka, diperoleh 10 kelompok komoditas, yaitu ikan demersal merupakan komoditas paling
dominan yang diikuti oleh ikan pari, cumi-cumi, ikan pelagis, udang, cucut, kepiting dan
bulu babi, timun laut dan moluska. Ikan demersal diperoleh paling dominan, disebabkan alat
tangkap yang digunakan adalah alat tangkap ikan dasar (demersal).

Udang juga merupakan salah satu hasil tangkapan yang dominan di perairan Selat
Malaka,dari data Kementerian Kelautan dan Perikanan komposisi jenis udang di WPP-RI
571 Selat Malaka dan Laut Andaman pada tahun 2011 didominasi oleh kelompok jenis
udang putih/udang jerbung (Penaeus merguiensis, P. indicus) sebesar 47,3% dari total
produksi udang penaeid yang besarnya 35.130 ton, diikuti oleh kelompok udang lain-lain
(Metapenaeopsis spp.) 27,2%, udang dogol (Metapenaeus spp.) 13,6%, udang windu (P.
monodon, P. japonicus, P. semisulcatus) 11,3% dan udang krosok (Parapenaeopsis spp.)
0,7%.Sedangkan ada beberapa ikan-ikan pelagis yang dominan di perairan Selat Malaka
diantaranya adalah ikan layang biasa (Decapterus russelli) dan ikan layang deles (Decapterus
macrosoma),ikan tongkol komo dan krai,ikan tuna,dan cakalang.

Adapun alat tangkap yang sering dioperasikan di Selat Malaka adalah alat tangkap jenis
rawai dan jaring insang.Jaring insang atau Gill nets adalah alat penangkapan ikan yang
berupa selembar jaring berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran mata jaring (mesh
size) yang sama atau seragam di seluruh bagian jaring. Pada atas bagian jaring, pelampung-
pelampung yang di lalui tali pelampung diikatkan pada tali ris atas, sedangkan pada bagian
bawahnya adalah pemberat yang dilekatkan pada tali ris bawah. Fungsi dari pelampung dan
pemberat ini agar jaring dapat terbentang sempurna di dalam air.Jaring insang adalah salah
satu jaring yang sering dioperasikan di perairan selat dan lepas pantai selain alat tangtkap
rawai.Menurut Kornita et al. (2009) Lepas pantai (Selat Malaka) merupakan daerah operasi
penangkapan jenis alat tangkap yang bersifat semi aktif atau hanyut yang mengikuti arus
perairan seperti alat tankap jaring insang. Daerah penangkapan alat tangkap jaring insang
berada di sekitar perairan selat (± 0,5 mil dari garis pantai), perairan pantai (3 mil dari garis
pantai), dan lepas pantai ( 3 - 6 mil dari garis pantai). Alat tangkap rawai dioperasikan di
sekitar perairan selat, perairan pantai dan lepas pantai dengan menggunakan perahu dayung
atau perahu/kapal motor.

2.5 Keberadaan Ikan Ekonomis di Selat Malaka

Selat Malaka merupakan salah satu wilayah perairan yang dibatasi oleh tiga negara,
yaitu Indonesia di sebelah barat, Malaysia di sebelah timur dan Thailand di sebelah timur
laut. Wilayah tersebut sangat penting bagi lalu lintas berbagai komoditas, termasuk
komoditas perikanan. Sumberdaya ikan yang terdapat di perairan Selat Malaka terdiri atas
sumberdaya udang, demersal, pelagis besar, dan pelagis kecil. Lepas pantai (Selat Malaka)
merupakan daerah operasi penangkapan jenis alat tangkap yang bersifat semi aktif atau
hanyut yang mengikuti arus perairan seperti alat tan^cap jaring insang. Daerah penangkapan
alat tangkap jaring insang berada di sekitar perairan selat (± 0,5 mil dari garis pantai),
perairan pantai (3 mil dari garis pantai), dan lepas pantai ( 3 - 6 mil dari garis pantai).
Pengertian ekonomis penting yang dimaksud adalah mempunyai nilai pasaran yang
tinggi volume produksi macro yang tinggi dan luas, serta mempunyai daya produksi yang
tinggi. Untuk dapat dipahami, bahwa ikan-ikan tersebut tidak hanya dimaksudkan jenis- jenis
ikan yang memang mempunyai kualitas baik dengan nilai harga yang baik pula, seperti ikan
kakap, tenggiri, tongkol, tuna, cakalang, slengseng, kembung, bawal hitam, bawal putih,
bambangan, kerapu, lencam, ekor kuning, beronang, Alu-alu, kuweh dan lainlain. Akan
tetapi juga jenis-jenis ikan yang kualitas rendah dengan harga murah namun disini secara
macro daya produksinya tinggi, misalnya; teri, petek, kerong-kerong, gerotgerot, gulamah,
selar, japuh, tembang, sembulak, lemuru, layang, julung-julung, torani, kurisi, beloso, nomei,
manyung, belanak, cucut, pari dan lain-lain
Jenis – jenis ikan ekonomi penting yang ada di selat Malaka :
1. Layang, Decapterus russelli (Carangidae); hidup diperairan lepas pantai, kadar
garam tinggi, membentuk gerombolan besar, dapat mencapai panjang 30 cm,
umumnya 20-25 cm. termasuk pemakan plankton, penangkapan dengan payang,
jala lompo, jaring insang, purse seine, pukat langgar, pukat banting. Dipasarkan
dalam bentuk segar, asin kering, asin rebus (pindang), harga sedang
2. Bawal hitam, Formio niger (Formionidae); hidup di perairan agak jauh dari pantai
sampai kedalaman 100 m, bergerombol kadang-kadang bersama-sama layang
disekitar rumpon, dapat mencapai panjang 30 cm, umumnya 20 cm. Termasuk ikan
pelagis, makanannya ikan-ikan kecil dan krustasea, penangkapan dengan payang,
pukat banting,pukat langgar, trawl, sero, jaring insang, dipasarkan dalam bentuk
segar, harga agak mahal
3. Kembung lelaki, Rastrelliger kanagurta (Scombridae); hidup diperairan pantai,
lepas pantai, bergerombol besar, pemakan plankton kasar, dapat mencapai panjang
35 cm, umumnya 20-25 cm. Tergolong ikan pelagis kecil, penangkapan dengan
purse seine, jaring insang lingkar, jala lompo dan sejenisnya, sero, dipasarkan
dalam bentuk segar, asin setengah kering (peda), harga agak mahal.
4. Kembung perempuan, Rastrelliger neglectus (Scombridae); hidup lebih mendekati
pantai, membentuk gerombolan besar, pemakan plankton halus, dapat mencapai
panjang 30 cm, umumnya 15-20 cm. Tergolong ikan pelagis kecil, penangkapan
dengan sero, jala lompo dan sejenisnya, kadang-kadang masuk trawl, jaring insang
lingkar, purse seine, dipasarkan dalam bentuk segar, asin setengah kering (peda),
harga agak mahal.
5. Pari totol, Himantura uarnak (Trygonidae), hidup di dasar, perairan pantai, lepas
pantai, makanannya organisme dasar (krustasea, moluska, ikan, cacing), ovo-
vivivar (pertumbuhan embrio dalam telur terjadi didalam badan induknya).
Tergolong ikan dasar, penangkapan dengan trawl dasar, macam-macam pukat tepi,
cantrang dan sejenisnya, dipasarkan dalam bentuk segar, asin-kering, harga murah.
6. Cumi (Decapodiformes) juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi mulai akhir akhir
ini. Adapun alat yang digunakan adalah jaring cumi atau bouke ami dan pancing
cumi serta hasil tangkapan sampingan dari pukat cincin dan pukat.
7. Udang (Caridae), penangkapan jaring udang adalah di sekitar perairan selat dan
perairan pantai dengan menggunakan perahu dayung atau perahu motor. Alat
tangkap rawai dioperasikan di sekitar perairan selat, perairan pantai dan lepas
pantai dengan menggunakan perahu dayung atau perahu/kapal motor.
8. Rajungan (Portunus pelagicus), selat Malaka merupakan salah satu daerah
penangkapan rajungan yang penting di Indonesia

2.6 Hasil Ekspor di Laut Malaka

Selat malaka memiliki peran strategis baik secara nasional maupun internasional,
terutama pada sektor perdagangan dan kegiatan ekonomi Indonesia. Selat Malaka yang
berbentuk corong terdiri atas bagian selatan yang mempakan perairan sempit dan dangkal
(kedalamamya kurang dari 20 m) makin ke utara semakin melebar dan merupakan perairan
dalam. (Hufiadi 2003). Kepala UPT PPI Pusong Lhokseumawe itu mengatakan wilayah
pencarian ikan oleh nelayan Lhokseumawe dilakukan di WPP 571, yakni di wilayah
perairan Selat Malaka. Jumlah kapal penangkap ikan yang beroperasi di perairan Selat
Malaka adalah sebanyak 88 unit mulai dari ukuran mesin 5 GT hingga 104 GT. Berdasarkan
data di Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Kementerian Kelautan dan Perikanan, WPP
571 Berada di perairan Selat Malaka dan Laut Andaman, potensi perikanan sebesar 425,444
ton. Namun, yang boleh ditangkap 340,355 ton. WPP 571 terdapat jenis ikan yang terlalu
banyak ditangkap, seperti udang panaeid, lobster dan kepiting. Hal ini disebabkan oleh
masih banyak terjadinya pencurian ikan di perairan Selat Malaka yang dilakukan oleh
nelayan dari berbagai negara seperti; Malaysia dan Cina.
Menurut Pelabuhan pendaratan Ikan (PPI), hasil ikan di selat malaka didominasi oleh
jenis ikan cakalang, ikan layang dan ikan tongkol. Berdasarkan data Pelabuhan pendaratan
Ikan (PPI), ikan cakalang mendominasi hasil tangkapan sebanyak 259,600 kilogram, ikan
layang 235,280 kilogram, ikan tongkol sebanyak 146,750 Kilogram, ikan teri sebanyak
94,750 kilogram, dan ikan campuran lainnya sebanyak 112,358 kilogram, yang terdiri dari
berbagai jenis ikan. Jumlah total penangkapan ikan di Selat Malaka mencapai 848,738
kilogram.
Besarnya hasil penangkapan ikan pada perairan selat malaka sehingga tidak menutup
kemungkinan peluang ekspor ikan hasil tangkapan nelayan di selat malaka.
Berikut merupakan negara tujuan ekspor ikan hasil selat malaka:
1. Ikan Cakalang
Ikan cakalang sebagai ikan yang mendominasi hasil tangkapan ikan di perairan selat
malaka memiliki potensi terbesar untuk diekspor ke negara di asia. Berdasarkan data dari
Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), negara utama tujuan ekspor ikan cakalang
yaitu jepang. Indonesia tercatat telah berhasil mengekspor 37 ton ikan cakalang ke
jepang setiap bulannya, dengan nilai ekspor sebesar 92.465 dolar AS.
2. Ikan Layang
Ikan layang memiliki potensi ekspor ke berbagai negara di asia khususnya korea selatan.
Perum Perikanan Indonesia (Perum Perindo) untuk pertama kalinya mengekspor ikan
layang ke negara korea selatan pada November 2016. sebesar 20 ton ikan layang telah
berhasil di ekspor ke korea selatan hingga sekarang. Setelah sebelumnya banyak
pencurian ikan jenis ini yang dilakukan oleh asing untuk dijual ke negara Filipina. Perum
Perikanan Indonesia (Perum Perindo) bekerjasama dengan salah satu perusahaan
pelayaran nasional, PT Rahayu Perdana Trans agar dapat memperluas wilayah ekspor ke
negara-negara di asia dan eropa.
3. Ikan Tongkol
Ikan tongkol merupakan ikan dengan urutan ke 3 terdominan dari hasil tangkapan di
perairan selat malaka. Negara utama tujuan ekspor ikan tongkol yaitu negara Thailand.
Negara-negara lainnya yang menjadi tujuan ekspor ikan tongkol yaitu Jepang, Amerika
Serikat, Vietnam dan Singapura. Berdasarkan data dari kepabeanan Ditjen Bea dan
Cukai (PEB dan PIB), ekspor terbesar ikan tongkol/tuna Indonesia dikirim ke Thailand
dengan volume 34,9 ribu ton senilai 48,8 juta USD. Negara tujuan terbesar kedua adalah
Jepang dengan volume 26,2 ribu ton senilai 57,2 juta USD. Kemudian Amerika Serikat
dengan volume 1,5 ribu ton senilai 12,2 juta USD. Vietnam dengan volume 1,2 ribu ton
senilai 2,3 juta USD. Singapura dengan volume 441,2 ton senilai 1,4 juta USD.
BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

SARAN
DAFTAR PUSTAKA

Denestiyanto, R., D.Nugroho dan H. Setiyono. Analisa Karakteristik Gelombang Di Perairan


Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara.2015. Jurnal Oseanografi. 4(2): 400-407.
Genisa, A. S.1999.Pengenalan Jenis Jenis Ikan Laut Ekonomi Penting Di Indonesia. Oseana.
16(1) : 17 - 38
Hufiadi dan E.2003. Nudin.Laju Tangkap Dan Kepadatan Stok Iun Demrsal Di Peaairan Sekitar
Pulau Bemala, Selat Malaka. 70-77
Ilhamdi, Hdan M. F. Yahya.2017.Perikanan Tradisional Cumi-Cumi Oleh Nelayan Labuhan
Deli(Belawan) Di Perairan Selat Malaka.BTL. 15(1) : 1 – 4
Kornita, S. H., Y. Yusuf dan A. Mayes.2009.Analisis Perdagangan Komoditas Perikanan Di
Kecamatan Bantan Kabupaten Bengkalis. Jurnal Ekonomi.17(2) : 132-149
Pane, A. R. P., H. Widiyastuti dan A. Suman.2017.Parameter Populasi Dan Tingkat Pengusahaan
Rajungan (Portunus Pelagicus) Di Perairan Asahan, Selat Malaka Bawal. 9 (2) : 93-102
Rahmawan, G. A., U. J. Wisha , S.Husrin dan Ilham.2016. Analisis Batimetri Dan Pasang Surut
Di Muara Sungai Kampar: Pembangkit Penjalaran Gelombang Pasang Surutundular
Bore.Geomatika 22(2): 57-64
Ramadhan, M.2011.Komparasi Hasil Pengamatan Pasang Surut Di Perairan Pulau Pramuka Dan
Kabupaten Pati Dengan Prediksi Pasang Surut Tide Model Driver. 1 – 19
Siregar, S., T. A. Barus dan Z. A. Harahap. Analisis Konsentrasi Klorofil-A Dan Suhu
Permukaan Laut Menggunakan Data Satelit Aqua Modis Serta Hubungannya Dengan
Hasil Tangkapan Ikan Tongkol (Euthyunus Sp.) Di Selat Malaka.
Wedjatmiko.2010.Komposisi Sumberdaya Ikan Demersal Di Perairan Selat Malaka Biological
Aspects Of Demersal Fish In Malacca Strait. Jurnal Perikanan (J. Fish. Sci.). 12(2) :
101-106
Wicaksana, S., I. Sofian, W. Pranowo, A. R. T. D. Kuswardhani, Saroso dan N. B.
Sukoco.2015.Karakteristik Gelombang Signifikan Di Selat Karimata Dan Laut Jawa
Berdasarkan Rerata Angin.Omniakuatika. 11(2) : 33-40.