Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penggabungan usaha adalah penyatuan yang dilakukan oleh beberapa


entititas bisnis (perusahaan) yang sebelumnya bergerak sendiri-sendiri. Seperti
yang kita ketahui salah satu cara dalam meningkatkan profitabilitas dengan cara
melakukan penggabungan usaha namun banyak perusahan yang melakukan
konglemerasi dengan tujuan untuk membuat perusahaan lebih efisien dengan
mengintegrasikan segala operasinya secara horizontal maupun vertikal dengan
melakukan diversifikasi risko usah yang mungkin akan dihadapi. yang
dimaksudkan dengan integrasi horizontal merupakan penggabungan usaha yang
dilakukan entitas dalam bidang operasi (kegiatan usaha) yang sama, sedangkan
integrasi vertikal dimaksudkan dengan penggabungan usah ayang dilakukan oleh
entitas dengan kegiatan usaha yang berbeda ataupun distribusinya yang berbeda.
Konglemerasi sendiri adlah penggabungan beberapa perusahaan dengan fungsi
produk ataupun jasa yang sangat berbeda dan tidak saling berhubungan dan
beragam.

Dalam proses penggabungan usaha akan menimbulkan struktur afiliasi.


Dalam pembagiannya , struktur afiliasi dapat dibedakan menjadi 3 yaitu :
Kepemilikan langsung (direct holding), kepemilikan tidak langsung (indirect
holding), mutual holding.

PT. Austindo Nusantara Jaya, Tbk, PT. Daharma Satya Nusantara, Tbk
merupakan du perusahaan yang melakukan penggabungan usaha dengan tujuan
mengembangkan perusahaannya. PT. Austindo Nusantara, Tbk adalah salah satu
perusahaan induk yang bergerak dalam bidang produksi penjualan minyak kelapa
sawit dan juga inti sawit baik dengan kepemilikan secara langsung maupun tidak
langsung melalui anak perusahaanya. PT. Dharma Satya Nusantara, Tbk

1
merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang industri kelapa sawit serta
bidang pengolahan industri kayu.

1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang dapat saya angkat pada makalah kali ini yaitu:

1. Bagaimana bentuk (model) kepemilikan pada ke 8 perusahaan yang telah dicari


?
2. Bagaimana hak kendali yang dimiliki menurut jenis kepemilikan di masing-
masing perusahaan ?
1.3 Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :

1. Mengetahui model kepemilikan dari masing- masing perusahaan yang ada,


2. Memahami hak kendali yang dimiliki menurut jenis kepemilikan di masing-
masing perusahaan tersebut.
1.4 Manfaat Penulisan

Adapun manfaat dari penulisan makalah ini :

1. Bagi Perusahaan

Dalam hal ini makalah ini diharapkan mampu memberikan manfaat bagi PT
dalam memberikan pertimbangan mengenai penggabungan usaha guna
menyusun strategi kedepannya dalam proses pengemabangan usaha.

2. Bagi Pembaca

Bagi pembaca diharapkan makalh ini memiliki manfaat dalam halnya


menambah ilmu mengenai penggabungan usaha dan struktur afiliasi yang
dimiliki oleh perusahaan.

3. Bagi Penulis

2
Adapun bagi penulis makalah ini bermanfaat dalam memenuhi syarat
menempuh Ujian Akhir Semester Akuntansi Lanjutan I dan menambah
wawasan tentang penggabungan usaha dan struktur afiliasi pada masing-
masing perusahaan.

3
BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Penggabungan Usaha

Pada Accounting Principle Board (APB) Opinion No.16, tentang


“Penggabungan Usaha”, yang berlaku efektif sejak 11 November 1970
merupakan konsep akuntansi yang digunakan untuk penggabungan usaha,
mennurut APB :

Penggabungan usaha ( business combination ) terjadi apabila suatu


perusahaan digabungkan dengan satu atau lebih perusahaan lain dalam
satu entitas akuntansi. Entitas tunggal tersebut tetap melanjutkan aktivitas
perusahaan yang sebelumnya terpisah secara independen.

Financial Accounting Standards Board (FASB) menegaskan kembali


konsep tersebut pada bulan Juni 2001, dengan mengeluarkan FASB Statement
No.141. Menurut FASB :

Untuk tujuan penerapan statement ini, penggabungan usaha terjadi


apabila satun entitas memperoleh aktiva bersih yang membentuk suatu
bisnis atau mengakuisisi kepemilikan ekuitas dari satu atau lebih entitas
lain dan memperoleh kendali atas entitas tersebut.

Menurut Pernyataan Standar Akuntansi (PSAK) No. 22 paragraf 08


tahun 1999 ”Penggabungan usaha (business combination) adalah pernyataan
dua atau lebih perusahaan yang terpisah menjadi satu entitas ekonomi karena
satu perusahaan menyatu dengan (uniting wiith) perusahaan lain atau
memperoleh kendali (control) atas aktiva dan operasi perusahaan lain”.

Secara umum penggabungan usaha merupakan suatu usaha yang


dilakukan oleh entitas dalam halnya melakukan pengembangan atau perluasan
dengan cara menyatukan perusahaan yang sebelumnya terpisah menjadi satu

4
kesatuan ekonomi. Banyak perusahaan yang menganggap bahwa dengan
mengintegrasikan operasinya secara horizontal maupun vertikal ataupun
mendiversifikasikan risiko usaha melalui operasi konglemerasi membuat
kegiatan usahanya menjadi lebih efesien. Perusahaan yang sebelumnya terpisah
secara bersama- sama membentuk suatu entitas yang sumber daya dan juga
operasi bisnisnya berada dibawah kendali manajemen tunggal (induk
perusahaan). Pengendalian semacam itu akan terbentuk dalam suatu entitas
bisnis terbentuk dalam penggabungan usaha dimana:

a. Satu ataulebih perusahan menjadi anak perusahaan


b. Satu perusahaan mentransfer aktiva bersihnya ke perusahaan lain
c. Setiap perusaah mentransfer aktiva bersihnya ke perusahaan baru
yang dibentuk.

Adapun bentuk hukum dalam system penggabungan usaha yaitu :

a. Akuisisi, dimana penggabungan usaha disebut akuisisi ketika suatu


perusahaan memperoleh aktiva produktif dari entitas bisnis lain dan
mengintegrasikan aktiva-aktiva tersebut ke dalam operasinya.
Penggabungan usaha juga disebut akuisisi ketika suatu perusahaan
memperoleh pengendalian operasi atas fasilitas produksi entitas lain dengan
memiliki mayoritas saham berhak suara yang beredar.
b. Marger, hal ini terjadi ketika sebuah perusahaan baru dibentuk untuk
mengambil alih semua operasi dari entitas bisnis lainnya dan entitas itu
yang dibubarkan. Dimana perusahaan yang me-merger
mengambil/membeli semua harta dan kewajiban perusahaan yang di-
merger dengan begitu perusahaan yang me-merger memiliki paling tidak
50% saham dan perusahaan yang di-merger berhenti beroperasi dan
pemegang sahamnya menerima sejumlah uang tunai atau saham di
perusahaan yang baru. Jadi, istilah merger akan digunakan secara teknis jika
sebuah penggabungan usaha terjadi saat semua, kecuali satu, perusahaan
yang digabung dibubarkan.

5
c. Konsolidasi, terjadi ketika sebuah perusahaan baru dibentuk untuk
mengambil alih aktiva dan operasi dari dua atau lebih entitas bisnis yang
terpisah dan entitas yang sebelumnya terpisah tersebut dibubarkan.
Misalnya, Perusahaan A, sebuah perusahaan yang baru dibentuk, dapat
memperoleh aktiva bersih Perusahaan B dan C dengan mengeluarkan
saham secara langsung kepada Perusahaan B dan C. sehingga dalam hal
ini, Perusahaan B dan C dapat terus mempertahankan saham Perusahaan
Auntuk memberikan manfaat kepada para pemegang sahamnya
(akuisisinya), atau Perusahaan B dan C dapat mendistribusikan saham
Perusahaan A kepada para pemegang saham dan Perusahaan B serta C
dibubarkan (konsolidasi).
2.2 Struktur Afiliasi

Dari mekanisme kepemilikan saham di dalam perusahaan kita dapat


mengetahui bagaiman struktur afiliasi yang ada di dalam perusahaan tersebut.
Struktur afiliasi dapat dikelompokan menjadi 3 bagian yaitu :

2.2.1 Kepemilikan Langsung (Direct Holding)

Kepemilikan langsung (direct holding) merupakan kepemilakan yang


diperoleh dari investasi langsung yang dilakukan oleh suatu entitas dalam
saham berhak suara dari satu atau lebih investee.Dalam struktur afiliasi ini
terdiri dari hubungan antara perusahaan anak tunggal dan hubungan beberapa
perusahaan anak. Struktur afiliasi untuk kepemilikan langsung dapat
digambarkan sebagai berikut:
a. Perusahaan Anak Tunggal

Perusahaan Induk

80%

Perusahaan Anak
A

6
b. Beberapa Perusahaan Anak

Perusahaan Induk

80% 70%
90%

Perusahaan Anak Perusahaan Anak Perusahaan Anak


A B C

2.2.2 Kepemilikan Tidak Langsung (Indirect Holding)

Kepemilikan tidak langsung (indirect holding) adalah investasi yang


memungkinkan investor mengendalikan atau mempengaruhi secara signifikan
keputusan investee yang tidak dimiliki secara langsung melalui investee yang
dimiliki secara langsung.Dalam struktur afiliasi kepemilikan tidak langsung
dapat dibedakan menjadi 2 yaitu hubungan ayah-anak-cucu (father-son-
grandsonrelationship) dan hubungan afiliasi terkait (connecting affiliates
relationship).Terdapat masalah utama yang dihadapi oleh struktur afiliasi
kepemilikan tidak langsung dalam kaitannya dengan situasi pengendalian tidak
langsung meliputi penentuan pendapatan dan ekuitas perusahaan afiliasi
disesuaikan dengan dasar ekuitas, prosedur konsolidasi tetap sama, baik untuk
kepemilikan langsung maupun tidak langsung. Struktur afiliasi kepemilikan
tidak langsung dapat digambarkan sebagai berikut, yaitu :
a. Ayah-Anak-Cucu
Perusahaan Induk

90%

Perusahaan Anak
A

80%
7
Perusahaan Anak
B

b. Afiliasi Terkait

Perusahaan Induk

90%
10%

40%
Perusahaan Anak Perusahaan Anak
A C

2.2.3 Mutual Holding

Apabila perusahaan afiliasi memiliki kepentingan satu sama lain,


tmaka hal ini dapat dikatakan situasi mutual holding. Saham perusahaan induk
yang dimiliki oleh perusahaan anak tidak beredar jika dilihat dari sudut
pandang konsolidasi dan tidak boleh dilaporkan sebagai saham yang beredar
dalam neraca konsolidasi.Ada dua metode akuntansi yang diterima umum
untuk perusahaan induk yang sahamnya dimiliki oleh perusahaan anak-
pendekatan saham treasuri (treasury stock approach) dan pendekatan
konvensional (conventional approach).Pendekatan saham treasuri
mempertimbangkan saham perusahaan induk yang dimiliki oleh perusahaan
anak sebagai saham treasuri entitas konsolidasi. Sedangkan pendekatan
konvensional memperhitungkan investasi perusahaan anak dalam saham
perusahaan induk atas dasar ekuitas dan mengeliminasi akun investasi
perusahaan anak terhadap ekuitas perusahaan induk dengan cara biasa.
Sehingga adapun struktur afiliasi mutual holding dapat digambarkan
sebagai berikut, yaitu:
a. Perusahaan yang dimiliki secara mutual

Perusahaan Induk

8
90% 10%

Perusahaan Anak
A

b. Afiliasi terkait yang dimiliki secara mutual

Perusahaan Induk

80% 20%

10%
Perusahaan Anak Perusahaan Anak
A C

40%

9
BAB III

Gambaran Umum Perusahaan

3.1 Gambaran Umum Perusahaan PT Nippon Indosari Corpindo Tbk

Perusahaan ini didirikan pada tahun 1995 dengan penanaman modal asing dengan
nama PT.Nippon Indosari Corporation dan perusahaan ini baru mulai beroperasi secara
komersil pada tahun 1996 dengan memproduksi produk roti “Sari Roti” dengan
mengoerasikan pabrik pertamnaya di Cikarang (Jawa Barat). Pada tahun 2003
perseroan mengubah namanya yang dahulu PT. Indosari Corporation menjadi PT.
Indosari Corpindo, dan pada tahun 2016 Nippon Indosari melakukan penandatangan
perjanjian patungan dengan Monde Nissin Corporation untuk mendirikan usaha
patungan yang bergerak dalam bidang industry makanan di Fhilipina dengan nama
Sarimonde Foodss Corporation. Di tahun 2017 PT. Nippon Indosari Corpindo kembali
melakukan penandatanganan perjanjian pembelian dengan para pemegang saham dari
PT. Prima Top Boga terkait saham baru yang dikeluarkan oleh Prima Top Boga.
Perseroan baru mulai tercatat di Bursa Efek Indonesia pada tanggal 28 Juni 2010
dengan kode emiten ROTI.

Dalam menjalannkan usahanya Nippon Indosari memiliki Visi dan juga Misi
tersendiri. Visi dari perusahaan ini adalah “Senantiasa tumbuh dan mempertahankan
posisi sebagai perusahaan roti terbesar di Indonesia melalui pentrasi pasar yang lebih
luas dan dalam dengan menggunakan jaringan distribusi luas untuk menjangkau
konsumen di seluruh Indonesia” selain itu Misi dari perusahaan ini adalah
“Memproduksi dan juga mendistribusikan beragam produk yang halal, berkualitas
tinggi, higenis dan terjangkau bagi seluruh konsumen di Indonesia. Saat ini yang
berkedudukan sebagai Presiden Direktur adalah Wendy Yap. Perusahaan pada tahun
2017 telah beberapa kali mendapatkan penghargaan dan juga Prestasi diantaranya :

 100 Fates Growing Companies Award 2017 from Infobank


 Indonesia Most Innovative Business Award 2017 from Warta Ekonomi

10
3.2 Gambaran Umum Perusahaan PT. Pertamina Internasional Ekplorasi
dan Produksi

PT. Pertamina Internasional Ekplorasi dan Produksi merupakan salh satu


perusahaan milik Badan Usaha Milik Negara yang bergerak dibidang miyak, gas bumi
dan energy lainnya. Perusahaan ini berdiri pada tanggal 18 November 2013 an
berkedudukan di Jakarta. Perseroan ini didirikan krena untuk memenuhi kebutuhan
pengelolaan asset-aset PT. Pertamina (Persero) di luar negeri. Perseroan ini memiliki
wilayah operasi hingga tahun 2017 sebanyak di 12 negara yakini : Irak, Algeria,
Malaysia, Kanada, Kolombia, Perancis, Gabon, Italia, Myanmar, Namibia, Nigeria,
dan juga Tanzania. Hingga per 31 Desember 2017 produk-produk yang telah dihasilkan
oleh PT. Pertamina Internasional Ekplorasi dan Produksi sebagian besar diserap dan
dibaw pulan ke Indonesia untuk memenuhi kebutuhan domestic dan sebagian lagi
dipasarkan ke luar negeri.

Perseroan ini memiliki Visi dan juga Misi dalam menjalankan perusahannya, Visi
dari perusahaan ini “Menjadi Perusahaan Energi Nasional Kelas Dunia “ dan Misi dari
perusahaan ini “Mengembangkan Potensi miyak, gas bumi dan energi di luar negeri
secara terintegrasi, berdasarkan prinsip-prinsip komersial yang kuat dalam rangka
mendukung ketahanan dan kemandirian energi nasional”. Saat ini yang menjabat
menjadi Prisident Director adalah Slamet Riadhy.

3.3 Gambaran Umum Perusahaan PT Anugerah Kagum Karya Utama Tbk

Anugerah Kagum Karya Utama Tbk (dahulu bernama Alam Karya Unggul
Tbk) (AKKU) didirikan tanggal 5 April 2001 dengan nama PT Aneka Kemasindo
Utama dan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 2001. Kantor pusat
AKKU beralamat di Plaza Indosurya Penthouse (Lantai 13), Jalan M.H. Thamrin
Kav 8 – 9, Jakarta Pusat 10230 – Indonesia.Pemegang saham yang memiliki 5%
atau lebih saham Alam Karya Unggul Tbk adalah PT Eka Mandiri Anugerah
Sejahtera (74,19%).Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup

11
kegiatan usaha AKKU adalah perdagangan dan jasa meliputi jasa konsultasi bidang
bisnis, manajemen dan administrasi; jasa penunjang kegiatan pertambangan; jasa
bidang manajemen pertambangan umum; dan jasa pengelolaan hotel (melalui anak
usaha PT Permata Nusantara Hotelindo).Sebelumnya AKKU menjalankan usaha
di bidang industri kemasan plastik dan industri bahan baku kemasan plastik, serta
menjalankan usaha bidang perdagangan, sedangkan kegiatan usaha penunjang yang
dapat dijalankannya adalah usaha jasa pada umumnya.

Pada tanggal 18 Oktober 2004, AKKU memperoleh pernyataan efektif dari


BAPEPAM-LK untuk melakukan Penawaran Umum Saham Perdana AKKU kepada
masyarakat sebanyak 80.000.000 saham dengan nilai nominal Rp100,- per saham dan
Harga Penawaran Rp220,- per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa
Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 01 Nopember 2004.

3.4 Gambaran Umum Perusahaan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk

Semen Indonesia (Persero) Tbk (dahulu bernama Semen Gresik (Persero) Tbk)
(SMGR) didirikan 25 Maret 1953 dengan nama “NV Pabrik Semen Gresik” dan mulai
beroperasi secara komersial pada tanggal 07 Agustus 1957. Kantor pusat SMGR
berlokasi di Jl. Veteran, Gresik 61122, Jawa Timur dan kantor perwakilan di Gedung
The East, Lantai 18, Jl. DR Ide Anak Agung Gde Agung Kuningan, Jakarta 12950 –
Indonesia. Pabrik semen SMGR dan anak usaha berada di Jawa Timur (Gresik dan
Tuban), Indarung di Sumatera Barat, Pangkep di Sulawesi Selatan an Quang Ninh di
Vietnam.Pemegang saham pengendali Semen Indonesia (Persero) Tbk adalah
Pemerintah Republik Indonesia, dengan persentase kepemilikan sebesar 51,01%.

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan SMGR meliputi


berbagai kegiatan industri. Jenis semen yang hasilkan oleh SMGR, antara lain: Semen
Portland (Tipe I, II, III dan V), Special Blended Cement, Portland Pozzolan Cement,
Portland Composite Cement, Super Masonry Cement dan Oil Well Cement Class G
HRC

12
Saat ini, kegiatan utama Perusahaan adalah bergerak di industri semen. Hasil
produksi Perusahaan dan anak usaha dipasarkan didalam dan diluar negeri.

Pada tanggal 04 Juli 1991, SMGR memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-
LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham SMGR (IPO) kepada
masyarakat sebanyak 40.000.000 dengan nilai nominal Rp1.000,- per saham dengan
harga penawaran Rp7.000,- per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa
Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 08 Juli 1991.

3.5 Gambaran Umum Perusahaan PT Mayora Indah Tbk

Mayora Indah Tbk (MYOR) didirikan 17 Februari 1977 dan mulai beroperasi
secara komersial pada bulan Mei 1978. Kantor pusat Mayora berlokasi di Gedung
Mayora, Jl.Tomang Raya No. 21-23, Jakarta 11440 – Indonesia, dan pabrik terletak di
Tangerang dan Bekasi.Pemegang saham yang memiliki 5% atau lebih saham Mayora
Indah Tbk, yaitu PT Unita Branindo (32,93%), PT Mayora Dhana Utama (26,14%) dan
Jogi Hendra Atmadja (25,22%).

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan Mayora adalah


menjalankan usaha dalam bidang industri, perdagangan serta agen/perwakilan. Saat ini,
Mayora menjalankan bidang usaha industri biskuit (Roma, Danisa, Royal Choice,
Better, Muuch Better, Slai O Lai, Sari Gandum, Sari Gandum Sandwich, Coffeejoy,
Chees’kress.), kembang gula (Kopiko, KIS, Tamarin dan Juizy Milk), wafer (beng
beng, Astor, Roma), coklat (Choki-choki), kopi (Torabika dan Kopiko) dan makanan
kesehatan (Energen) serta menjual produknya di pasar lokal dan luar negeri.

Pada tanggal 25 Mei 1990, MYOR memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-
LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham MYOR (IPO) kepada
masyarakat sebanyak 3.000.000 dengan nilai nominal Rp1.000,- per saham dengan
harga penawaran Rp9.300,- per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa
Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 04 Juli 1990.

13
3.6 Gambaran Umum Perusahaan PT Satria Mega Kencana Tbk

Satria Mega Kencana (“SMK”) merupakan entitas perseroan terbatas yang


didirikan berdasarkan dan tunduk pada peraturan perundang-undagan yang berlaku di
Republik Indonesia sejak 16 Juni 2004. SMK, lewat entitas anak perusahaan-
perusahaanya maupun sendiri menitikberatkan kegiatan usahanya di bidang investasi
yang meliputi di antara lain sektor properti, perhotelan, dan kawasan pariwisata.

Bergerak langsung dibawah arahan dari pendirinya selaku Dewan Komisaris,


Herman Herry Adranacus, diantara tahun 2011 dan 2013 SMK berhasil melakukan
proses restructuring dan asset consolidation dimana pada akhirnya SMK melahirkan
dua anak perusahaan baru yaitu PT Tanjung Karoso Permai dan PT Dwimukti Mitra
Wisata. SMK kini bergerak sebagai perusahaan holding yang mempunyai fokus untuk
meningkatkan kekuatan dan kemampuan dalam mencari peluang investasi,
meningkatkan nilai investasi, dan menumbuhkan nilai investasi bagi para pemegang
sahamnya lewat anak-anak usahanya.
PT Dwimukti Mitra Wisata merupakan anak perusahaan milik SMK yang
berperan sebagai owner dari beberapa properti jenis hotel di beberapa daerah
terkemuka di Indonesia seperti Jakarta, Bali, dan Nusa Tenggara Timur. Hotel-hotel
yang dimiliki oleh PT Dwimukti Mitra Wisata bergerak di pasar hotel bintang 3 dan
bintang 4 yang di operasikan oleh hotel operator terkemuka, Sotis Hospitality
Management.
Sesuai dengan misi SMK yaitu untuk membangun industri kawasan pariwisata
di Indonesia khususnya Indonesia bagian Timur, pada tahun 2013 SMK membentuk
sebuah entitas anak perusahaan yaitu PT Tanjung Karoso Permai. Anak perusahaan
tersebut akan menjadi entitas yang digunakan untuk mengembangkan land bank yang
dimiliki SMK agar menjadi kawasan pariwisata terpadu yang terletak di desa Tanjung
Karoso, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT) kedepanya.
Untuk meningkatkan bentuk komitmen dan harapan untuk mencapai visi dan misi dari
SMK, pada Desember 2018 SMK memasuki pasar modal Indonesia, dan berhasil
mencatatkan diri di Bursa Efek Indonesia. Ke depan, SMK akan terus menjalankan

14
misinya untuk membangun kawasan industri pariwisata terpadu di Indonesia, dan terus
berusaha untuk meningkatkan dan menumbuhkan nilai investasi bagi para pemegang
sahamnya.

3.7 Gambaran Umum Perusahaan PT Bank Bukopin Tbk

Bank Bukopin Tbk (BBKP) didirikan di lndonesia pada tanggal 10 Juli 1970
dengan nama Bank Umum Koperasi Indonesia (disingkat Bukopin) dan mulai
melakukan usaha komersial sebagai bank umum koperasi di Indonesia sejak tanggal
16 Maret 1971. Kantor pusat BBKP beralamat di Gedung Bank Bukopin, Jalan M.T.
Haryono Kav. 50-51, Jakarta 12770 – Indonesia. Saat ini, Bank Bukopin memiliki 41
kantor cabang, 129 kantor cabang pembantu, 75 kantor fungsional, 152 kantor kas, dan
35 payment points.

Dalam perkembangannya, Bank Bukopin telah melakukan penggabungan usaha


dengan beberapa bank umum koperasi. Kemudian pada 02 Januari 1990 dalam Rapat
Anggota Bank Umum Korporasi Indonesia memutuskan menganti nama Bank menjadi
Bank Bukopin.

Pemegang saham yang memiliki 5% atau lebih saham Bank Bukopin Tbk, antara
lain: PT Bosowa Corporindo (pengendali) (30%), Koperasi Pegawai Bulog Seluruh
Indonesia (KOPELINDO) (18,09%) dan Negara Republik Indonesia (11,43%).

Berdasarkan Anggaran Dasar Bank, usaha BBKP mencakup segala kegiatan bank
umum dengan tujuan utama memperhatikan dan melayani kepentingan gerakan
koperasi di Indonesia.

Pada tanggal 30 Juni 2006, BBKP memperoleh pernyataan efektif BAPEPAM-LK


untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham BBKP (IPO) kepada masyarakat
sejumlah 843.765.500 saham dengan nilai nominal Rp100,- per saham dan harga

15
penawaran sebesar Rp350,- per saham. Saham-saham tersebut telah dicatatkan di Bursa
Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 10 Juli 2006.

3.8 Gambaran Umum Perusahaan PT Adhi Karya (Persero) Tbk

Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) didirikan tanggal 1 Juni 1974 dan memulai
usaha secara komersial pada tahun 1960. Kantor pusat ADHI berkedudukan di Jl. Raya
Pasar Minggu KM.18, Jakarta 12510 – Indonesia.

Nama Adhi Karya untuk pertama kalinya tercantum dalam SK Menteri Pekerjaan
Umum dan Tenaga Kerja tanggal 11 Maret 1960. Kemudian berdasarkan PP No. 65
tahun 1961 Adhi Karya ditetapkan menjadi Perusahaan Negara Adhi Karya. Pada tahun
itu juga, berdasarkan PP yang sama Perusahaan Bangunan bekas milik Belanda yang
telah dinasionalisasikan, yaitu Associate NV, dilebur ke dalam Adhi Karya.

Pemegang saham pengendali Adhi Karya (Persero) Tbk adalah Negara Republik
Indonesia, dengan persentase kepemilikan sebesar 51%.Berdasarkan Anggaran Dasar
Perusahaan, Ruang lingkup bidang usaha ADHI meliputi:

 Konstruksi,
 Konsultasi manajemen dan rekayasa industri (Engineering Procurement and
Construction/EPC),
 Perdagangan umum, jasa pengadaan barang, industri pabrikasi, jasa dalam
bidang teknologi informasi, real estat dan agro industri.
Saat ini kegiatan utama ADHI dalam bidang konstruksi, engineering, Procurement
and Construction (EPC), perkeretaapian, pariwisata, perdagangan, properti, real sstate
dan investasi infrastruktur.

Pada tanggal 8 Maret 2004, ADHI memperoleh pernyataan efektif dari


Bapepam-LK untuk melakukan penawaran umum kepada masyarakat atas 441.320.000
saham biasa dengan nilai nominal Rp100,- per saham dan harga penawaran Rp150,-
per saham. Dari jumlah saham yang ditawarkan dalam penawaran umum kepada

16
masyarakat tersebut sebesar 10% atau sebanyak 44.132.000 saham biasa atas nama
baru dijatahkan secara khusus kepada manajemen (Employee Management Buy Out /
EMBO) dan karyawan Perusahaan melalui program penjatahan saham untuk pegawai
Perusahaan (Employee Stock Allocation/ESA). Kemudian pada tanggal 18 Maret 2004
seluruh saham ADHI telah tercatat pada Bursa Efek Jakarta (sekarang menjadi Bursa
Efek Indonesia).

17
BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Prosedur Kepemilikan Secara Langsung dan Tidak Langsung Berdasarkan


Struktur Afiliasi pada maisng-masing 8 Perusahaan

4.1.1 PT Nippon Indosari Corpindo

A. Entitas Anak Kepemilikan Langsung

1. Sarimonde Foods Corporation


PT Nippon Indosari Corpindo

55%

Sarimonde Foods Corporation

Sarimonde Foods Corporation merupakan anak perusahaan dari PT Nippon


Indosari Corpindo karena perusahaan ini dimiliki 55% oleh perusahaan induk yang
meurupakan kepemilikan langsung, sebagai anak perusahaan dari PT Nippon Indosari
Corpindo kegiatan usaha dari Sarimonde antara lain dalam pembuatan, impor, ekspor
dan atau distribusi roti di Fhilipina.

B. Entitas Anak Kepemilikan tidak Langsung (Ayah-Anak-Cucu)

1. All Fit & Popular Foods, Inc

PT Nippon Indosari Corpindo

55%

Sarimonde Foods Corporation


18
100%

All Fit& Populat Foods, Inc

4.1.2 PT Pertamina International Eksplorasi Produksi


A. Entitas Kepemilikan Langsung (Beberapa Perusahaan Anak)
1. PT Pertamina Malaysia Eksplorasi Produksi
PT Pertamina International EP

99,95 %

PT Pertamina Malaysia EP

PT Pertamina Malaysia EP merupakan anak perusahaan PT Pertamina


International EP dengan kepemilikan langsung sebesar 99,95%, PT Pertamina
Malaysia EP sebagai anak perusahaan bergerak dibidang usaha energy yang
berlokasi di Patra Jasa Office Tower, Lantai 12 Jl. Gatot Subroto kav. 32-34 Jakarta
Selatan, Indonesia

1. PT Pertamina Irak Eksplorasi Produksi

PT Pertamina International
Eksplorasi Produksi

99,76%

PT Pertamina Irak Eksplorasi


Produksi

19
PT Pertamina Irak EP merupakan anak perusahaan PT Pertamina International
EP dengan kepemilikan langsung sebesar 99,76 %, PT Pertamina Algeria EP
sebagai anak perusahaan bergerak dibidang usaha energy yang berlokasi di Patra
Jasa Office Tower, Lantai 12 Jl. Gatot Subroto kav. 32-34 Jakarta Selatan,
Indonesia

2. PT Pertamina Algeria Eksplorasi Produksi

PT Pertamina International
Eksplorasi Produksi

99,93 %

Pertamina Algeria Eksplorasi


Produksi

PT Pertamina Algeria EP merupakan anak perusahaan PT Pertamina


International EP dengan kepemilikan langsung sebesar 99,93 %, PT Pertamina
Algeria EP sebagai anak perusahaan bergerak dibidang usaha energy yang
berlokasi di Patra Jasa Office Tower, Lantai 12 Jl. Gatot Subroto kav. 32-34 Jakarta
Selatan, Indonesia

3. Maurel Et Prom S.A

PT Pertamina International
Eksplorasi Produksi

72,65%

Maurel Et Prom S.A

20
Maurel Et Prom S.A merupakan anak perusahaan PT Pertamina
International EP dengan kepemilikan langsung sebesar 72,65 %, Maurel Et
Prom S.A sebagai anak perusahaan bergerak dibidang usaha Manajemen,
Portofolio, dan juga Energy yang berlokasi di 51, reu d’Anjou- 75008 Paris,
France.
4.1.3 PT Anugerah Kagum karya Utama Tbk
A. Kepemilikan Secara Langsung
1. PT Permata Nusantara Hotelindo (PNH)

PT Anugerah Kagum Karya


Utama Tbk

99,89%

PT Permata Nusantara
Hotelindo (PNH)
h

Berdasarkan struktur afiliasi diatas menunjukkan adanya hubungan induk-anak


(kepemilikan langsung) antara PT Anugerah Kagum Karya Utama Tbk dengan PT
Permata Nusantara Hotelindo. Kepemilikan saham perusahaan PT Anugerah Kagum
Karya Utama Tbk terhadap perusahan PT Permata Nusantara Hotelindo sebesar
99,99%. Karena kepemilikan langsung induk terhadap perusahaan anak lebih dari 50%
maka dapat dikatakan bahwa perusahaan PT Anugerah Kagum Karya Utama Tbk
memiliki hak kendali terhadap perusahaan PT Permata Nusantara Hotelindo.
2. PT Kagum Maha Karya Jaya (KMKJ)

PT Anugerah Kagum
Karya Utama Tbk

21
99,99995%
PT Kagum Maha
Karya Jaya (KMKJ)

Berdasarkan struktur afiliasi diatas menunjukkan adanya hubungan induk-anak


(kepemilikan langsung) antara PT Anugerah Kagum Karya Utama Tbk dengan PT
Kagum Maha Karya Jaya. Kepemilikan saham perusahaan PT Anugerah Kagum Karya
Utama Tbk terhadap perusahan PT Kagum Maha Karya Jaya sebesar 99,99995%.
Karena kepemilikan langsung induk terhadap perusahaan anak lebih dari 50% maka
dapat dikatakan bahwa perusahaan PT Anugerah Kagum Karya Utama Tbk memiliki
hak kendali terhadap perusahaan PT Kagum Maha Karya Jaya.

B. Kepemilikan Tidak Langsung (Ayah-anak-cucu)


1. PT Lembur Maha Karya Pasundan (LMKP)
PT Anugerah
Kagum Karya
Utama Tbk

PT Kagum Maha
Karya Jaya

99,99983%

PT Lembur Maha
Karya Pasundan

22
PT Kagum Maha Karya Jaya mengakuisisi PT Lembur Maha Karya Pasundran
sebesar 99,99983%. Jika dilihat dari struktur kepemilikannya, maka PT Anugerah
Kagum Karya Utama Tbk, PT Kagum Maha Karya Jaya dan PT Lembur Maha Karya
Pasundran memiliki hubungan Ayah-Anak-Cucu. Sehingga, PT Anugerah Kagum
Karya Utama Tbk memiliki kepemilikan tidak langsung terhadap PT Lembur Maha
Karya Pasundan.
2. PT Kagum Lokasi Emas (KLE)

PT Anugerah
Kagum Karya
Utama Tbk

PT Kagum Maha
Karya Jaya

99,99%
PT Kagum Lokasi
Emas

PT Kagum Maha Karya Jaya mengakuisisi PT Kagum Lokasi Emas sebesar


99,99%. Jika dilihat dari struktur kepemilikannya, maka PT Anugerah Kagum Karya
Utama Tbk, PT Kagum Maha Karya Jaya dan PT Kagum Lokasi Emas memiliki
hubungan Ayah- Anak-Cucu. Sehingga, PT Anugerah Kagum Karya Utama Tbk
memiliki kepemilikan tidak langsung terhadap PT Kagum Lokasi Emas.

23
4.1.4 PT Semen Indonesia (Persero) Tbk
A. Kepemilikan Secara Langsung (Beberapa Perusahaan Anak)
1. PT Semen Padang

PT Semen Indonesia
(Persero) Tbk

99,99%

PT Semen Padang

Berdasarkan struktur afiliasi diatas menunjukkan adanya hubungan induk-anak


(kepemilikan langsung) antara PT Semen Indonesia (Persero) Tbk dengan PT Semen
Padang. Kepemilikan saham perusahaan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk terhadap
perusahan PT Semen Padang sebesar 99,99%. Karena kepemilikan langsung induk
terhadap perusahaan anak lebih dari 50% maka dapat dikatakan bahwa perusahaan PT
Semen Indonesia (Persero) Tbk memiliki hak kendali terhadap perusahaan PT Semen
Padang.

2. PT Semen Tonasa

PT Semen Indonesia
(Persero) Tbk

99,99%

PT Semen Tonasa

24
Berdasarkan struktur afiliasi diatas menunjukkan adanya hubungan induk-anak
(kepemilikan langsung) antara PT Semen Indonesia (Persero) Tbk dengan PT Semen
Tanosa. Kepemilikan saham perusahaan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk terhadap
perusahan PT Semen Tanosa sebesar 99,99%. Karena kepemilikan langsung induk
terhadap perusahaan anak lebih dari 50% maka dapat dikatakan bahwa perusahaan PT
Semen Indonesia (Persero) Tbk memiliki hak kendali terhadap perusahaan PT Semen
Tanosa.
4.1.5 PT Mayora Indah Tbk
A. Kepemilikan Secara Langsung (Beberapa Perusahaan Anak)
1. PT Sinar Pangan Timur

PT Mayora Indah TBK

99,99%

PT Sinar Pangan Timur

PT Sinar Pangan Timur merupakan anak perusahaan dari PT Mayora Indah


Tbk. Kepemilikan saham perusahaan PT Myora Indah Tbk terhadap perusahaan PT
Sinar Pangan Timur sebesar 99,99% karena kepemilikan langsung induk terhadap
perusahaan anak lebih dari 50% maka dapat dikatakan bahwa perusahaan PT Mayora
Indah Tbk memiliki hak kendali terhadap perusahaan PT Sinar Pangan Timur.

25
2. PT Torabika Eka Semesta

PT Mayora Indah TBK

96,23%

PT Torabika Eka Semesta TBK

PT Torabika Eka Semesta merupakan anak perusahaan dari PT Mayora Indah Tbk.
Kepemilikan saham perusahaan PT Mayora Indah Tbk terhadap perusahaan PT
Torabika Eka Semesta sebesar 96,23% karena kepemilikan langsung induk terhadap
perusahaan anak lebih dari 50% maka dapat dikatakan bahwa perusahaan PT Mayora
Indah Tbk memiliki hak kendali terhadap perusahaan PT Torabika Eka Semesta.

B. Kepemilikan Tidak Langsung (Ayah-anak-cucu)


1. PT Kakao Emas Gemilang

PT Mayora Indah TBK

96,23%

PT Torabika Eka Semesta TBK

96,00%

PT Kakao Emas Gemilang TBK

PT Torabika Eka Semesta mengakuisisi PT Kakao Mas Gemilang sebesar 96,00


%. Jika dilihat dari strukturnya kepemilikannya, maka PT Mayora Indah Tbk, PT
Torabika Eka Semesta dan PT Kakao Mas Gemilang memiliki hubungan Ayah-Anak-

26
Cucu. Sehingga PT Mayora Indah Tbk memiliki kepemilikan tidak langsung terhadap
PT Kakao Mas Gemilang.

4.1.6 PT Satria Mega Kencana


A. Kepemilikan Langsung (Beberapa Perusahaan Anak)
1. PT Adhi Dwi Mukti Mirta Wisata
PT Satria Mega Kencana

99,00%

PT Adhi Dwi Mukti Mirta Wisata

Berdasarkan struktur afiliasi diatas menunjukkan adanya hubungan induk-anak


(kepemilikan langsung) antara PT Satria Mega Kencana dengan PT Adhi Dwi Mukti
Mirta Wisata. Kepemilikan saham perusahaan PT Satria Mega Kencana terhadap
perusahan PT Adhi Dwi Mukti Mirta Wisata sebesar 99,00%. Karena kepemilikan
langsung induk terhadap perusahaan anak lebih dari 50% maka dapat dikatakan bahwa
perusahaan PT Satria Mega Kencana memiliki hak kendali terhadap perusahaan PT
Adhi Dwi Mukti mirta Wisata.

2. PT Tanjung Karoso Permai

PT Satria Mega Kencana

90,00%

PT Tanjung Karoso Permai

27
Berdasarkan struktur afiliasi diatas menunjukkan adanya hubungan induk-anak
(kepemilikan langsung) antara PT Satria Mega Kencana dengan PT Tanjung Karoso
Permai. Kepemilikan saham perusahaan PT Satria Mega Kencana terhadap perusahan
PT Tanjung Karoso Permai sebesar 90,00%. Karena kepemilikan langsung induk
terhadap perusahaan anak lebih dari 50% maka dapat dikatakan bahwa perusahaan PT
Satria Mega Kencana memiliki hak kendali terhadap perusahaan PT Tanjung Karoso
Permai.

4.1.7 PT Bank Bukopin Tbk


A. Kepemilikan Langsung (Beberapa Perusahaan Anak)
1. PT Bukopin Finance

PT Bank Bukopin Tbk

97,03%

PT Bukopin Finance Tbk

Berdasarkan struktur afiliasi diatas menunjukkan adanya hubungan induk-anak


(kepemilikan langsung) antara PT Bank Bukopin Tbk dengan PT Bukopin Finance
Tbk. Kepemilikan saham perusahaan PT Bank Bukopin Tbk terhadap perusahan PT
Bukopin Finance sebesar 97,03%. Karena kepemilikan langsung induk terhadap
perusahaan anak lebih dari 50% maka dapat dikatakan bahwa perusahaan PT Bank
Bukopin Tbk memiliki hak kendali terhadap perusahaan PT Bukopin Finance Tbk.

2. PT Bank Syariah Bukopin

PT Bank Bukopin Tbk

92,78%

PT Bank Syariah Bukopin Tbk

28
Berdasarkan struktur afiliasi diatas menunjukkan adanya hubungan induk-anak
(kepemilikan langsung) antara PT Bank Bukopin Tbk dengan PT Bank Syariah
Bukopin Tbk. Kepemilikan saham perusahaan PT Bank Bukopin Tbk terhadap
perusahan PT Bank Bukopin Syariah sebesar 92,78%. Karena kepemilikan langsung
induk terhadap perusahaan anak lebih dari 50% maka dapat dikatakan bahwa
perusahaan PT Bank Bukopin Tbk memiliki hak kendali terhadap perusahaan PT Bank
Bukopin Syariah.

4.1.8 PT Adhi Karya (Persero) Tbk


A. Kepemilikan Langsung (Beberapa Perusahaan Anak)
1. PT Adhi Persada Properti

PT Adhi Karya (Persero) Tbk

99,70%

PT Adhi Persada Properti Tbk

Berdasarkan struktur afiliasi diatas menunjukkan adanya hubungan induk-anak


(kepemilikan langsung) antara PT Adhi Karya (Persero) Tbk dengan PT Adhi Persada
Properti Tbk. Kepemilikan saham perusahaan PT Adhi Karya (Persero) Tbk terhadap
perusahan PT Adhi Persada Properti sebesar 99,70%. Karena kepemilikan langsung
induk terhadap perusahaan anak lebih dari 50% maka dapat dikatakan bahwa
perusahaan PT Adhi Karya (Persero) Tbk memiliki hak kendali terhadap perusahaan
PT Adhi Persada Properti Tbk.

29
2. PT Adhi Persada Gedung

PT Adhi Persada Properti Tbk

99,00%

PT Adhi Persada Gedung Tbk

Berdasarkan struktur afiliasi diatas menunjukkan adanya hubungan induk-anak


(kepemilikan langsung) antara PT Adhi Karya (Persero) Tbk dengan PT Adhi Persada
Gedung Tbk. Kepemilikan saham perusahaan PT Adhi Karya (Persero) Tbk terhadap
perusahan PT Adhi Persada Gedung sebesar 99,00%. Karena kepemilikan langsung
induk terhadap perusahaan anak lebih dari 50% maka dapat dikatakan bahwa
perusahaan PT Adhi Karya (Persero) Tbk memiliki hak kendali terhadap perusahaan
PT Adhi Persada Gedung Tbk.

3. PT Adhi Karya Beton

PT Adhi Persada Properti Tbk

99,00%

PT Adhi Karya BetonTbk

Berdasarkan struktur afiliasi diatas menunjukkan adanya hubungan induk-anak


(kepemilikan langsung) antara PT Adhi Karya (Persero) Tbk dengan PT Adhi Karya
Beton Tbk. Kepemilikan saham perusahaan PT Adhi Karya (Persero) Tbk terhadap
perusahan PT Adhi Karya Beton Tbk sebesar 99,00%. Karena kepemilikan langsung
induk terhadap perusahaan anak lebih dari 50% maka dapat dikatakan bahwa

30
perusahaan PT Adhi Karya (Persero) Tbk memiliki hak kendali terhadap perusahaan
PT Adhi Karya Beton Tbk.

BAB V

KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan

Dari analisis di atas dapat dikatakan bahwa Kepemilikan langsung (direct


holding) merupakan kepemilakan yang diperoleh dari investasi langsung yang
dilakukan oleh suatu entitas dalam saham berhak suara dari satu atau lebih investee.
Dalam struktur afiliasi ini terdiri dari hubungan antara perusahaan anak tunggal dan
hubungan beberapa perusahaan anak. Sedangkan Kepemilikan tidak langsung (indirect
holding) adalah investasi yang memungkinkan investor mengendalikan atau
mempengaruhi secara signifikan keputusan investee yang tidak dimiliki secara
langsung melalui investee yang dimiliki secara langsung.Dalam struktur afiliasi
kepemilikan tidak langsung dapat dibedakan menjadi 2 yaitu hubungan ayah-anak-
cucu (father-son-grandsonrelationship) dan hubungan afiliasi terkait (connecting
affiliates relationship).Terdapat masalah utama yang dihadapi oleh struktur afiliasi
kepemilikan tidak langsung dalam kaitannya dengan situasi pengendalian tidak
langsung meliputi penentuan pendapatan dan ekuitas perusahaan afiliasi disesuaikan
dengan dasar ekuitas, prosedur konsolidasi tetap sama, baik untuk kepemilikan
langsung maupun tidak langsung.

31
32