Anda di halaman 1dari 10

Akuntansi Pajak Penghasilan

A. Akuntansi
Dalam SAK ETAP yang diatur oleh IAI (2009:114-122), pendapatan merupakan penamabahan asset
atau penurunan kewajiban yang mengakibatkan ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi penanam
modal. Adapun ruang lingkup pendapatan yaitu:
1. Penjualan barang
Penjualan barang diakui apabila,:
a. Risiko dan manfaat yang signifikan dari kepemilikan barang telah dialihkan kepada
pembeli.
b. Entitas tidak mempertahankan atau meneruskan baik keterlibatan manajerial sampai kepada
tingkat kepemilikan atau pengendalian efektif barang yang terjual
c. Jumlah pendapatan dapat diukur secara andal
d. Ada kemungkinan manfaat ekonomi mengalir masuk ke dalam entitas
2. Pemberian jasa,
Penyediaan jasa dakui apabila hasil transaksi penyediaan jasa dapat diestimasi secara andal.
Entitas harus mengakui pendapatan sesuai dengan tahap penyelesainya pada akhir periode
pelaporan, sehingga biasanya entitas menggunakan metode penyelesaian.
3. Kontrak kontruksi
Entitas harus mengakui pendaptan kontrak danbiaya kontrak yang berhubungan dengan kontrak
kontruksi masing-masing sebagai pendapatan danbeban yang di sesuaikan dengan tingkat
penyelesaian aktivitas kontrak pada akhir periode pelaporan, biasanya adalah metode persentase
penyelesaian.
4. Pengunaan asset oleh pihak lain yang menghasilkan bunga, royalty atau dividen.
Entitas harus mengakui pendapatan atas dasar berikut:
a. Bunga harus diakui secara akrual
b. Royalti harus diakui dengan menggunakan dasar akrual sesuai dengan substansi dar
perjanjian yang relevan.
c. Dividen harus diakui ketika hak pemegang saham untuk menerima pembayaran telah
terjadi.
B. Perpajakan
Menurut UU PPh Nomor 36 tahun 2008 Pasal 4 ayat (1),penghasilan yaitu setiap tambahan
kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh WP, baik yang berasal dari dalam negeri
maupun luar negeri yang dapat dipakai untuk konsumsi atau menambah kekayaan WP
bersangkutan dengan nama dan dalam bentuk apapun . untuk menentukan kapan penghasilan
diterima atau diperoleh, undang-undang perpajakan menunjuk kepada metode pembukuan yang
diselenggarakan oleh WP, berdsarkan akrual atau kas basis.

C. Penghasilan Objek Pajak


Menurut Pasal 4 ayat (1) UU PPh Nomor 36 Tahun 2008, penghasilan yang merupakan objek pajak
adalah sebagai berikut:
a. Penggantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau diperoleh
termasuk gaji, upah, tunjangan, honorarium, komisi, bonus, gratifikasi, uang pensiun, atau
imbalan dalam bentuk lainnya, kecuali ditentukan lain dalam undang-undang.
b. Hadiah dari undian, pekerjaan, atau kegiatan dan penghargaan:
c. Laba usaha.
d. Keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan harta termasuk:
1. Keuntungan karena pengalihan harta kepada perseroan, persekutuan, dan badan lainnya.
Sebagai pengganti saham atau penyertaan modal.
2. Keuntungan karena likuidasi, penggabungan, peleburan, pemecahan, pengambialn usahah
dengan nama dalam bentuk apapun.
3. Keuntungan karena pengalihan harta kepada pemegang saham, sekutu.
4. Keuntungan karena pengalihan harta berupa hibah, bantuan atau sumbangan. Kecuali yang
diberikan kepada keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat dan badan
keagamaan, badan pendidikan, badan sosial termasuk yayasan, koperasi, atau orang
pribadi, yang menjalankan usaha mikro dan kecil dengan ketentuannya diatur lebih lanjut
dengan PMK-245/PMK.03/2008 sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan,
kepemilikian, penguasaan diantara pihak-pihak yang bersangkutan.
5. Keuntungan karena penjualan atau pengalihan sebagian atau seluruh hak penambangan,
tanda turut serta dalam pembiayaan, atau pemodalan dalam perusahaan tambang.

Contoh:
1. PT. Yesaya mempunyai sebuah mobil yang digunakan untuk kegiatan operasinya diperoleh
pada 6 Januari 2008 dengan harga Rp100.000.000 dan pada 17 Agustus 2011 mobil
tersebut diganti dengan kepemilikan saham yang dihargai sebesar Rp75.000.000 oleh PT
Dimjati, maka selisih harga saham PT Yesaya pada PT Dimjati atas mobil tersebut dinilai
sebesar nilai bukunya Rp19.791.666 yang merupakan Penghasilan Kena Pajak (PhKP) bagi
PT Yesaya.
2. PT Popia melakukan likuidasi dan atas pembayaran utang kepada krediturnya
menggunakan mobil yang nilai bukunya sebesar Rp50.000.000. Atas pembayaran utang
yang menggunakan mobil tersebut oleh kreditur diakui sebesar Rp75.000.000. PT Popia
dianggap mempunyai PhKP atas pelaksanaan likuidasi dengan melakukan pelunasan utang
dengan mobil tersebut sebesar Rp25.000.000
e. Penerimaan kembali pembayaran pajak yarg telah dibebankan sebagai biaya dan pembayaran
tambahan pengembalian pajak.
f. Bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan karena jaminan pengembalian utang.
g. Dividen, dengan nama dan dalam bentuk apapun termasuk dividen dari perusahaan asuransi
kepada pemegang polis dan pembagian sisa hasil usaha koperasi.
h. Royalti atau imbalan atas penggunaan hak.
i. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta.
j. Penerimaan atau perolehan pembayaran berkala.
k. Keuntungan karena pembebasan utang, kecuali sampai dengan jumlah tertentu yang ditetapkan
dengan Peraturan Pemerintah (PP 130 Tahun 2000 jo. SE-542/PJ./2000).
l. Keuntungan karena selisih kurs mata uang asing.
m. Selisih lebih karena penilaian kembali aset (PMK-79/PMK.03/2008 jo. PER-12/PJ/2009 jo. SE-
56/PJ/2009)
n. Premi asuransi, termasuk premi reasuransi
o. Iuran yang diterima atau diperoleh perkumpulan dari anggotanya yang terdiri dari anggota WP
yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas.
p. Tambahan kekayaan neto yang berasal dari penghasilan yang belum dikenakan pajak
q. Imbalan bunga sebagaimana dimaksud dałam undang-undang yang mengatur mengenai ketentuan
umum dan tata cara perpajakan (SE-04/PJ.42/2002).
r. Surplus Bank Indonesia (PP 94 Tahun 2010).

D. Penghasilan Bukan Objek Pajak


Sedangkan penghasilan yang tidak termasuk sebagai objek pajak, menurut pasal 4 ayat (3) UU
PPh Nomor 36 Tahun 2008 adalah:
a. Bantuan atau sumbangan, termasuk zakat dan sumbangan keagamaan yang sifataya wajib bagi
pemeluk agama yang diakui di Indonesia, dikecualikan sebagai objek PPh sepanjang tidak ada
hubungan usaha,pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan di antara pihak yang bersangkutan (PP
18 Tahun 2009).
Harta hibah, bantuan, atau sumbangan yang diterima oleh keluarga sedarah dalam garis
keturunan lurus satu derajat, badan keagamaan (badan keagaman yang kegiatannys semata-mata
mengurus tempat ibadah
b. Warisan
Warisan yang diterima ahli waris bukan merupakan objek PPh, tetapi warisan yang belum terbagi
maka atas warisan tersebut terdapat penghasilan yang masih merupakan objek pajak.
c. Harta termasuk setoran tunai yang diterima oleh badan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat
(1) haruf b sebagai pengganti saham atau penyertaan modal. Harta bakan merupakan objek pajak
sepanjang harta, termasuk setoran tunai yang diterima oleh badan yang mempunyai tambahan
ekonomis bagi badan tersebut. Diterima sebgai pengganti saham atau penyertaan modal.
d. Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau diperoleh
dari WP atau Pemerintah, kecuali yang diberikan oleh bukan WP. WP yang dikenakan pajak
secara final menggunakan norma perhitungan khusus (deemed profit) pasal 15.
e. Pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi seperti asuransi kesehatan, asuransi
kecelakaan, asuransi jiwa,dan asuransi beasiswa.
f. Dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh perseroan terbatas sebagai WP dalam
negeri, koperasi, BUMN/D, penyertaan modal pada badan usaha yang didirikan dan bertempat
tinggal di Indonesia dengan syarat:
 Dividen berasal dari cadangan saldo laba
 Bagi perseroan terbatas, BUMN/D yang menerima dividen kepemilikan saham pada
badan yang memberikan dividen paling rendah 25% dari jumlah modal saham.
g. Penghasilan dari modal yang ditanamkan oelh dana pensiun sebagaimana dimaksudkan pada
huruf g, dalam bidang-bidang tertentu yang ditetapkan dengan PMK-234/PMK.03/2009.
h. Beasiswa yang memenuhi persyaratan tertentu yang ketentuannya diaturlebih lanjut dengan atau
berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. (PMK-246/PMK.03/2008jo. PMK-154/PMK.03/2009).
i. Bantuan atau santunan yang dibayarkan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)
JAmsostek. Taspen, Asabri, Askes dan badan hukum lainnya. (PMK-24/PMK.03/2008)
E. Penghasilan Dikenakan Pajak Penghasilan Final
Pengenaan pajak yang bersifat final berarti babwa jumlah PPh yang telah dibayar sendiri atau
dipotong oleh pihak lain tidak dapat dikreditkan atau digabungkan dengan penghasilan lain yang bersifat
tidak final dalam penghitungan PPh pada akhir tahun dalam SPT tahunan.
Menurut Pasal 4 ayat 2 UU PPh Nomor 36 Tahun 2008 atas:
a. Penghasilan berupa bunga deposit dan tabungan tabungan lainnya, bunga obligasi dan SUN, dan
bunga simpanan yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggota koperasi orang pribadi.
b. Penghasilan berupa hadiah undian
c. Penghasilan dari transaksi saham dan sekuritas lainnya, transaksi derivatif yang diperdagangkan
di bursa.
d. Penghasilan dari transaksi pengalihan harta berupa tanah dan/atau bangunan. usaha jasa
konstruksi, usaha real estate, dan persewaan tanah dan bangunan.
e. Penghasilan tertentu lainnya
Pengenaan pajaknya diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Berikut ini merupakan jenis-jenis penghasilan yang dikenakan PPh yang bersifat final disertai
peraturan perpajakan yang mengaturnya adalah sebagai berikut:
1. Penghasilan dari transaksi bunga deposito dan tabungan serta diskonto Sertifikat Bank Indonesia
(SBI) sesuai dengan PP 131 Tahun 2000 jo. KMK-51/KMK.04/2001 tentang PPh atas bunga
deposito dan tabungan serta diskonto SBI yang mulai berlaku 1 Januari 2001. Besarnya PPh atas
bunga dari deposito dan tabungan serta diskonto SBI adalah
a. 20% dari jumlah bruto, terhadap WP dalam negeri dan BUT
b. 20% dan jumlah bruto atau dengan tarif berdasarkan Perjanjian Penghindaran Pajak
Berganda (P3B) yang berlaku, terhadap WP luar negeri.
Pemotongan pajak tidak dilakukan terhadap:
a) Bunga dari deposito dan tabungan serta diskonto SBI sepanjang jumlah deposito dan tabungan
serta SBI tersebut tidak melebihi Rp.500 000 dan bukan merupakan jumlah yang dipecah-pecah,
b) Bunga data diskonto yang diterima atau diperoleh bank yang didirikan di Indenesia atau cabang
bank luar negeri di Indonesia
c) Bunga deposito dan tabungan serta diskonto SBI yang diterima atau diperoleh Dana Pensiun
yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29
UU Nomor 1I Tahun 1992 tentang Dana Pensiun.
d) Bunga tabungan pada bank yang ditunjuk pemerintah dalam rangka pemilikan rumah sederhana
dan sangat sederhana, rumah susun sederhana sesuai dengan ketentuan yang berlaku untuk dihuni
sendiri.
2. Penghasilan berupa diskonto Surat Perbendaharaan Negara (SPN) sesuai dengan PP 27 Tahun
2008 jo. PMK-63/PMK.03/2008 yang mulai berlaku 4 April 2008. Surat Utang Negara (SUN)
surat berharga yang berupa surat pengakuan utang baik dalam mata uang rupiah maupun valuta
asing yang dijamin pembayaran bunga dan pokoknya oleh Negara RI sesuai dengan masa
berlakunya yang terdiri dari SPN dan Obligasi Negara. SPN berjangka waktu paling lama 12
bulan dengan pembayaran bunga secara diskonto. Diskonto SPN selisih lebih antara: a) nilai
nominal pada saat jaruh tempo dengan harga perolehan di pasar perdana/di pasar sekunder, atau
b) harga jual di pasar sekunder dengan harga perolehan di pasar perdana/di pasar sekunder.
Besarnya PPh adalah 20% dari diskonto SPN bagi WP dalam negeri dan BUT atau sesuai tarif
ketentuan P3B yang berlaku bagi WP luar negeri.

3. Penghasilan dari transaksi bunga obligasi sesuai dengan PP 16 Tahun 2009 jo. PMK-
85/PMK.03/2011 tentang PPh atas penghasilan berupa bunga obligasi yang mulai berlaku 1
Januari 2009. Besarnya PPh adalah sebagai berikut
a. Bunga dari obligasi dengan kupon (interest bearing debt securities) adalah sebesar sebagai
berikut:
1) 15% bagi WP dalam negeri dan BUT
2) 20% atau sesuai dengan tarif P3B bagi WP luar negeri selain BUT dari jumlah bruto
bunga sesuai dengan masa kepemilikan (holding period).
b. Diskonto dari oblgasi dengan kupon (interest bearing debt securities) adalah sebesar sebagai
berikut:
1) 15% bagi WP dalam negeri dan BUT
2) 20% atau sesuai tarif P3B bagi WP luar negeri selain BUT.
dari selisih lebih harga jual atau nilai nominal di atas harga perolehan obligasi tidak
termasuk bunga berjalan (accrued interest).
c. Diskonto obligasi tanpa bunga (non-interest bearing debt securities) adalah sebesar berikut:
1) 15% bagi WP dalam negeri dan BUT.
2) 20% atau sesuai P3B bagi wp lua negeri selain BUT. dari selisih lebih harga jual atau
nilai nominal di atas harga perolehan obligasi.
d. Bunga dan atau diskonto dari obligasi yang diterima atau diperoleh WP reksadana yang
terdaftar pada Bapepam dan Lembaga Keuangan sebesar:
1) 0% untuk tahun 2009 sampai dengan tahun 2010
2) 5% untuk tahun 2011 sampai dengan tahun 2013,
3) 15% untuk tahun 2014 dan seterusnya.

4. Penghasilan dari transaksi bunga simpanan koperasi sesuai dengan PP 15 Tahun 2009 tentang
PPh atas bunga simpanan yang dibayarkan oleh koperasi orang pribadi yang mulai berlaku 1
Januari 2009. Besarnya PPh adalah:
a. 0% untuk penghasilan berupa bunga simpanan sampai dengan Rp240.000 per bulan.
b. 10% dari jumlah bruto bunga untuk penghasilan berupa bunga simpanan lebih dari Rp240.000
per bulan.
Koperasi yang melakukan pembayaran bunga simpanan kepada anggota koperasi orang pribadi, wajib
memotong PPh yang bersifat final pada saat pembayaran.

5. Penghasilan dari transaksi hadiah undian sesuai dengan PP 132 Tahun 2000 jo. Kep-395/PJ/2001
jo. SE-19/PJ.43/2001 tentang PPh atas hadiah undian dengan nama dan dalam bentuk apa pun.
Besarnya PPh yang wajib dipotong atau dipungut adalah 25% dari jumlah bruto hadiah undian.
Penyelenggara undian wajib memotong atau memungut PPh.
Contoh:
Pada tanggal 9 Juni 2012, PT APO mengadakan undian dengan total hadiah Rp500.000.000. Atas
hadiah tersebut, PT APO harus memotong PPh sebesar Rp 125.000.000 dengan memberikan
Bukti Pemotongan/Pemungutan PPh Pasal 4 ayat (2) atas hadiah undian kepada penerima hadiah
undian tersebut. PT APO wajib menyetorkan pajak hadiah undian tersebut dengan menggunakan
SSP paling lambat tanggal 10 Juli 2012. Juga PT APO wajib melaporkan pada KPP
melalui SPT. Masa PPh Final Pasal 4 ayat (2) paling lambat tanggal 20 Juli 2012.

6. Penghasilan dari transaksi saham di bursa efek sesuai dengan PP 14 Tahun 1997 jo. KMK-
282/KMK.04/1997 jo. SE-06/PJ.4/1997 jo. SE-09/PJ.24/1997 jo. SE-15/PJ.42/1997 tentang PPh
atas penghasilan dari transaksi penjualan saham di bursa efek . Atas penghasilan yang diterima
atau diperoleh orang pribadi atau badan dari transaksi penjualan saham dibursa efek dipungut PPh
yang bersifat final sebesar 0,1% dari jumlah bruto nilai transaksi penjualan. Khusus pemilik
saham pendiri dikenakan tambahan PPh sebesar 0,5% dari nilai saham perusahaan pada saat
penutupan bursa di akhir tahun 1996. Dalam hal saham perusahaan diperdagangkan di bursa efek
Contoh:
PT Roket, Tbk. melakukan IPO di BEI dengan harga penawaran Rp10 000 per lembar saham.
Apabila Sdr Arles memiliki 100.000 lembar saham pendiri, maka dia harus menyetor PPh final
Rp6.000.000 paling lambat 1 bulan setelah IPO dilakukan oleh PT Roket, Tbk. Apabila
penyetoran dalam batas waktu tersebut tidak dilakukan maka keuntungan atas penjualan saham
tersebut akan diakui sebagai penghasilan yang dikenakan pajak sesuai dengan Pasal 17 UU PPh.
Apabila BEI berhasil melakukan penjualan saham PT Roket, Tbk. senilai Rp1.000.000.000, maka
PPh final yang harus dipotong atas transaksi saham tersebut adalah Rp 1.000.000.

7. Penghasilan dari transaksi derivatif yang diperdagangkan di bursa sesuai dengan PP 17 Tahun
2009 tentang PPh atas penghasilan dari transaksi derivatif berupa kontrak berjangka yang
diperdagangkan di bursa . Transaksi derivatif adalah transaksi yang didasari pada kontrak atau
perjanjian pembayaran yang nilainya merupakan turunan dari nilal instrumen yang mendasari
seperti suku bunga, nilai tukar, komoditi, ekuitas, dan indeks baik yang dikuti. Atas penghasilan
yang diterima atau diperoleh orang pribadi atau badan dari transaksi derivatif berupa kontrak
berjangka yang diperdagangkan di bursa dikenai PPh final sebesar 2,5% dari margin awal,
dimana margin awal adalah sejumlah uang atau surat berharga yang harus ditempatkan oleh
anggota bursa pada lembaga kliring. Lembaga kliring dan penjamin wajib memungut PPh
tersebut pada saat menerima penyetoran margin awal oleh pialang berjangka atau anggota bursa.

8. Transaksi penjualan saham atau pengalihan penyertaan modal oleh perusahaan modal ventura
diatur dalam PP 4 tahun 1995 jo. KMK-250/KMK.04/1995 jo. SE-33/PJ.4/1995.

9. Penghasilan dari transaksi pengalihan harta berupa tanah atau bangunan sesuai dengan PP 71
Tahun 2008 jo. PMK-243/PMK.03/2008 jo. SE-6/PJ.03/2008. Atas penghasilan yang diterima
atau diperoleh orang pribadi atau badan dari pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan wajib
dibayar PPh. Pengalihan hak atas tanah atau bangunan sebagaimana di atas adalah:
a. penjualan, tukar-menukar, perjanjian pemindahan hak, pelepasan hak penyerahan hak,
lelang, hibah, atau cara lain yang disepakati dengan pihak lain selain pemerintah.
b. penjualan, tukar-menukar, pelepasan hak, penyerahan hak, atau cara lain yang disepakati
dengan pemerintah guna pelaksanaan pembangunan. Termasuk pembangunan untuk
kepentingan umum yang tidak memerlukan persyaratan khusus.
Besarnya PPh adalah 5% dari jumlah bruto nilai pengalihan hak atas tanah atau bangunan, kecuali
atas pengalihan hak atas rumah sederhana dan rumah susun sederhana yang dilakukan WP yang
usaha pokoknya melakukan pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan dikenakan PPh sebesar
1% dari jumlah nilai pengalihan.

10. Penghasilan dari usaha jasa konstruksi sesuai dengan PP 51 Tahun 2008jo.PMK-
187/PMK.03/2008 jo. SE-05/PJ.03/2008 tentang PPh atas penghasilan dari usaha jasa konstruksi.
mulai berłaku 1 Januari 2009. Atas penghasilan dari usaha jasa konstruksi dikenakan PPh yang
bersifat final dengan tarif adalah
a. 2% untuk pelaksanaan konstruksi yang dilakukan oleh penyedia jasa dengan kualifikasi
usaha kecil.
b. 4% untuk pelaksanaan konstruksi yang dilakukan oleh penyedia jasa yang tidak
memiliki kualifikasi usaha
c. 3% untuk pelaksanaan konstruksi yang dilakukan oleh penyedia jasa, selain penyedia
jasa sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan b.
d. 4% untuk perencanaan konstruksi atau pengawasan konstruksi yang dilakukan oleh
penyedia jasa yang memiliki kualifikasi usaha.
e. 6% untuk perencanaan konstruksi atau pengawasan konstruksi yang dilakukan oleh
penyedia jasa yang tidak memiliki kualifikasi usaha.

11. Usaha real estate sesuai dengan P 71 Tahun 2008 jo. PMK-243/PMK.03/2008 jo PER-30/PJ/2009
dikenakan PPh sebesar 5% dari jumlah bruto nilai pengalihan hak atas tanah atau bangunan,
kecuali untuk rumah sederhana dan rumah susun sederhana sebesar 1% dari jumlah bruto nilai
pengalihan. Pajak-pajak tersebut bersifat final.
Contoh:
PT Kuat Propertindo merupakan penguasaha real estate menjual Rumah Susun Sederhana Milik
(Rusunami) dengan harga satu tipe studio sebesar Rp150.000.000 maka PPh atas pengalihan hak
atas tanah rumah sederhana adalah sebesar 1% x Rp. 50.000.000 = Rp1.500.000 yang wajib
dibayar PT Kuat Propertindo.

12. Penghasilan dari transaksi persewaan tanah atau bangunan sesuai dengan PP 5 Tahun 2002 jo.
KMK-120/KMK.03/2002 jo. Kep-227/PJ/2002 tentang pembayaran PPh atas penghasilan dari
persewaan tanah dan/atau bangunan. Besarnya PPh yang wajib dipotong/dibayar sendiri adalah
sebesar 10% dari jumlah bruto nilai persewaan tanah dan/atau bangunan dan bersifat final.
13. Penghasilan dari transaksi dividen yang diterima WP oprang pribadi dalam negeri sesuai dengan
PP 19 tahun 2009 jo. SE-01/PJ.03/2009, dikenakan PPh sebesar 10% dan bersifat final.

14. Penjualan bahan bakar minyak jenis premit, super TT dan gas untuk penyalur agen Pertamina
sebesar 0,3% sesuai dengan PMK-154/PMK.03/2010 jo. PER-57/PJ/2010 jo. SE-92/PJ//2010.

F. Beban yang Berhubungan dengan Pajak Penghasilan Final dan Non-PAjak Penghasilan
1. Biaya yang berhubugan dengan penghasilan yang bersifat final sesuai Pasal 4 ayat (1) UU PPh,
apabila suatu jenis penghasilan dikenakan pajak dengan tarif yang bersifat final, maka
penghasilan tersebut tidak boleh digabungkan dengan penghasilan lain yang dikenakan tarif
umum. Dengan kata lain bahwa biaya yang berhubungan dengan penghasilan yang bersifat final
tidak boleh dibebankan sebagai biaya.
2. Biaya yang berhubungan dengan penghasilan yang bukan merupakan objek pajak. Sesuai Pasal 6
ayat (1) UU PPh bahwa untuk dapat dibebankan sebagai biaya secara fiskal, maka pengeluaran-
pengeluaran tersebut harus mempunyai hubungan langsung dengan usaha atau kegiatan untuk
mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang merupakan objek pajak. Dengan
demikian pengeluaran-pengeluaran untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan
yaug bukan merupakan objek pajak tidak boleh dibebankan sebagai biaya
Contoh:
1. Dana pensiun Alisa yang pendiriannya telah mendapat pengesahan dari Menteri Keuangan
memperoleh penghasilan bruto yang terdiri dari sebagai berikut:
 Penghasilan yang bukan merupakan objek pajak
Sesuai Pasal 4 ayat (3) huruh h sebesar Rp. 100.000.000
 Penghasilan bruto lainnya sebesar Rp. 300.000.000
Jumlah penghasilan bruto Rp. 400.000.000

Apabila seluruh biaya adalah sebesar Rp200.000.000, maka biaya yang boleh dikurangkan
untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan adalalah sebesar
= 3/4 x Rp200.000.000 = Rp150.000.000.
2. Bunga atas pinjaman yang dipergunakan untuk membeli saham tidak dapat dibebankan
sebagai biaya sepanjang dividen yang diterimanya tidak merupakan objek pajak sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf f.