Anda di halaman 1dari 6

Peningkatan Hasil Belajar ….

(Wanda Tri Utami) 231

PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS 4 MELALUI


MODEL GRUP INVESTIGASI
THE IMPROVEMENT OF MATHEMATIC LEARNING ACHIEVEMENT THROUGH
INVESTIGATION GROUP MODEL

Oleh: Wanda Tri Utami, Universitas Negeri Yogyakarta, wandatriutami@gmail.com

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika melalui
penerapan model Grup Investigasi (GI) pada siswa kelas IV SD Negeri 1 Sudorogo. Jenis penelitian yang
digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas dengan model spiral berdasarkan Kemmis & Mc Taggrat. Teknik
pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dokumentasi, dan catatan lapangan. Teknik analisis data
berdasarkan refleksi di setiap siklus tindakan. Subjek penelitian adalah 8 siswa. Hasil penelitian menunjukan bahwa
adanya peningkatan hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri 1 Sudorogo, Kaligesing. Peningkatan hasil belajar
matematika ditunjukan oleh hasil tes. Pada pratindakan dan hasil siklus 1 terdapat 0% yang mencapai KKM.
Setelah itu, siklus 2 terdapat 62,5% masih dibawah indikator keberhasilan, sedangkan pada siklus 3 diperoleh hasil
rata-rata 87,5% dari jumlah siswa yang mencapai KKM. Nilai rata-rata prasiklus sebesar 25,63, pada akhir siklus 1
sebesar 36,25, sedangkan pada akhir siklus 2 sebesar 58,75, dan akhir siklus 3 sebesar 71,25.

Kata kunci : hasil belajar matematika, model grup investigasi

Abstract
This research purpose to increase the results of studying mathematics on 4th grade of 1 Sudorogo
Elementary School by using investigation group model. This research about Classroom Action Research with a
spiral model based on Kemmis & Mc Taggrat. Technique data collection used by observation, interview,
documentation, and field notes. Technique data analysis to research based on reflection in every cycle from the act.
The research subjects were 8 students. The results showed that there is an improve in learning outcomes 4 th grade
of 1 Sudorogo Elementary School, Kaligesing. An increase in mathematics indicated by test results. In pre-action
and the results of cycle 1 there are 0 % did reach KKM. After that, cycle second there are 62.5% still under
indicators success, while in cycle third obtained the average yield 87.5%) from the number of students at KKM.
The average before the cycle of 25,625, at the end of the first average test scores of 36,25, while at the end of the
second cycle of 58,75, and at the end of the cycle of 71,25 third.

Keyword: learning outcomes of students, group investigation model

PENDAHULUAN Valsa C. Paul Ernest and Ron Casey (2008:1)


Pendidikan merupakan investasi peradaban menyatakan bahwa matematika diperlukan dalam
serta akar dari segala permasalahan sosial yang ada di kehidupan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat (Barlian, 2017). Namun, tidak dapat manusia melalui kegiatan keseharian dalam
dipungkiri bahwa dalam pengelolaannya terdapat memecahkan berbagai problematika dalam berbagai
beragam permasalahan salah satunya adalah dalam hal interaksi yang berkaitan dengan angka.
mutu pendidikan nasional. Permasalahan tersebut Akan tetapi, berdasarkan observasi dan
tentunya dapat diatasi dengan memajukan pendidikan wawancara yang telah dilakukan oleh peneliti pada
seperti yang diungkapkan dalam UU No. 22 Tahun hari Selasa, 17 Juli 2018 di kelas IV SD Negeri 1
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Undang- Sudorogo diperoleh informasi mengenai
Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 permasalahan-permasalahan yang ada, antara lain: (1)
pasal 31 ayat 1 dan pasal 31 ayat 2, Undang-Undang keterbatasan waktu dalam pembuatan media, (2)
Nomer 20 Tahun 2003 pasal 17 ayat 1, Undang- Siswa yang terlalu menyukai tempat duduk pilihan
Undang Nomer 20 Tahun 2003 pasal 17 ayat 2, dan menyebabkan guru kesulitan dalam mengubah posisi
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003. tempat duduk ataupun kelompok, (3) Siswa mudah
232 Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar Edisi 3 Tahun ke-8 2019
cepat bosan di kelas dan hanya ingin bermain saja, (4) Salah satu cara yang dapat dilakukan guru
Guru kebanyakan kurang memadahi siswa dalam hal agar tujuan dan kompetensi inti pada aspek
bidang seni (karena pembelajaran tematik), (4) pengetahuan maupun pendukung tersebut tercapai
Karakter bersahabat/komuniatif siswa kurang, terbukti adalah dengan menerapkan model grup investigasi
dengan peristiwa membully sering terjadi dalam kelas adalah suatu metode pembelajaran kooperatif yang
bahkan siswa sering berkelahi, (5) siswa bermain paling kompleks. Hal ini disebabkan oleh metode ini
ketika kegiatan, (6) siswa membicarakan hal lain memadukan beberapa landasan pemikiran, yaitu
diluar materi, (7) siswa kurang berdiskusi dalam berdasarkan pandangan konstruktivistik, democratic
pemecahan masalah, sehingga siswa kurang mampu teaching, dan kelompok belajar kooperatif. Metode ini
untuk mengemukakan pendapat dengan berani, (8) merupakan suatu metode yang memberi kesempatan
hasil belajar matematika yang masih rendah, hal ini seluas-luasnya kepada siswa untuk terlibat secara
ditunjukkan dengan hasil evaluasi pada KD 3.1, 3.2, langsung dan aktif dalam proses pembelajaran mulai
3.3, dan 3.4 yaitu 0% yang mencapai KKM. dari perencanaan sampai cara mempelajari suatu topik
Hasil observasi dan wawancara belum sesuai melalui investigasi. Guru menjadi fasilitator dan
dengan kompetensi harapan yang dimiliki peserta pemandu untuk memberikan penjelasan singkat
didik menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan (klarifikasi) bila terjadi kesalahan konsep dan
Kebudayaan No 21 Tahun 2016 tentang Standar Isi memberikan kesimpulan. Sehingga dapat melakukan
Pendidikan Dasar dan Menengah. Kompetensi inti kegiatan pembelajaran dengan satu kelompoknya
pada tingkat dasar (tingkat kelas I-VI secara baik dan kompak.
SD/MI/SDLB/Paket A) sikap sosial yang diharapkan Dengan model grup investigatisi siswa dapat
yaitu siswa menunjukkan perilaku jujur, disiplin, dihadapi dengan situasi permasalahan, melakukan
santun, percaya diri, peduli, dan bertanggung jawab eksplorasi sebagai respon terhadap situasi yang
dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, problematis, merumuskan tugas-tugas belajar atau
tetangga, dan negara (Permendikbud, 2016: 6). learning taks dan mengorganisasikan untuk
Tujuan pembelajaran Matematika di sekolah membangun suatu proses penelitian, melakukan
tidak hanya tentang berhitung saja namun terdiri dari kegiatan belajar individual dan kelompok,
proses aktif yang mampu menekankan siswa untuk menganalisis kemajuan dan proses yang dilakukan
berpikir secara kritis, analitis, dan rasioanal untuk dalam proses penelitian kelompok, dan melakukan
mencari dan menemukan jawaban dari permasalahan proses pengulangan kegiatan atau Recycle Activities
logika dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan secara berkelompok sehingga muncul sikap
kompetensi inti untuk aspek pengetahuan pada tingkat komunikatif pada diri anak tersebut. Pada model grup
dasar (tingkat kelas I-VI SD/MI/SDLB/Paket A) yaitu investigasi seluruh aktivitas siswa siswa diarahkan
diharapkan peserta didik memahami pengetahuan untuk belajar dan menemukan sendiri inti
faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif pada permasalahan sehingga mendapatkan jawaban secara
tingkat dasar dengan cara mengamati, menanya, dan individu dan kelompok, sehingga diharapkan dapat
mencoba berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, mengatasi permasalahan tentang rendahnya hasil
makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, benda-benda belajar matematika.
yang dijumpainya di rumah, di sekolah, dan tempat Berdasarkan penelitian relevan yang
bermain (Permendikbud, 2016: 7). dilakukan oleh H.M. Zainuddin (2013) dengan judul
“Implementasi Pembentukan Karakter Bersahabat
Peningkatan Hasil Belajar …. (Wanda Tri Utami) 233
Melalui Pembelajaran Group Investigation” di SDN teknik pengumpulan data yang dapat digunakan dalam
Jingglong 01 dengan jumlah 33 siswa yang terdiri dari penelitian. Pada penelitian ini teknik pengumpulan
13 siswa laki-laki dan 20 siswa perempuan. Hasil data yang digunakan yaitu lembar observasi siswa dan
penelitian menunjukan bahwa pembelajaran dapat guru, dan soal evaluasi siswa.
meningkat karena hasil ketuntasan belajar (63,63%) Observasi digunakan untuk
sebutan cukup pada siklus I dan (84,84%) sebutan mendokumentasikan pengaruh tindakan dan
baik pada siklus II. Sehingga, berdasarkan penelitan prosesnya. Observasi penelitian ini untuk mengamati
tersebut dapat meningkatkan hasil belajar. aktivitas guru pada pembelajaran Matematika melalui
Oleh karena itu, perlu diadakan pembuktian model grup investigasi. Sedangkan soal evaluasi
secara empiris melalui penelitian dengan judul untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah
“Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa dalam melakukan pembelajaran Matematika melalui model
Pembelajaran Matematika Melalui Model Grup grup investigasi.
Investigasi Pada Siswa Kelas IV SD Negeri 1 Teknik Analisis Data
Sudorogo”. Analisis data yang digunakan yaitu analisis
deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Analisis data
METODE PENELITIAN kualitatif untuk mendeskripsikan hasil pengamatan
Jenis Penelitian dari lembar observasi aktivitas guru dan siswa.
Penelitian yang digunakan adalah classrom Sedangkan analisis data kuantitatif untuk melakukan
action research atau penelitian tindakan kelas yaitu perhitungan data berupa angka-angka pada hasil
kegiatan yang diarahkan pada pemecahan masalah belajar siswa.
pembelajaran yang dihadapi guru melalui penerapan
langsung dimana guru melaksanakan tugas HASIL DAN PEMBAHASAN
pembelajaran sehari-hari. Penelitian tidak dilakukan Pada penelitian ini, kegiatan pembelajaran
oleh peneliti sendiri. Penelitian ini dilakukan secara dirancang tidak hanya berdasarkan syntax model grup
kolaboratif dengan guru kelas IV SD Negeri 1 investigasi semata. Akan tetapi, tetap melihat pada
Sudorogo. karakteristik siswa kelas IV agar kegiatan
Tempat dan Waktu Penelitian pembelajaran dapat berlangsung sesuai dengan taraf
Penelitian ini dilaksanakan di kelas IV SD tingkatannya.
Negeri 1 Sudorogo yang terletak di Sudorogo, Pada setiap pertemuan guru mempersiapakan
Kaligesing, Puroworejo. Peneltan dilaksanakan di media (benda-benda konkret) untuk melakukan
semester I tahun ajaran 2018/2019 pada bulan penginvestigasian. Hal tersebut dikarenakan siswa SD
November 2018. senang melakukan atau memperagakan sesuatu secara
Subjek Penelitian langsung. Penjelasan guru tentang materi pelajaran
Subjek penelitian yang digunakan adalah akan lebih dipahami jika siswa melaksanakan sendiri
siswa kelas IV SD Negeri 1 Sudorogo semester I yang dan terlibat langsung dalam proses pembelajaran
berjumlah 9 siswa. Kelas tersebut terdiri atas 5 siswa (Sumantri, 2015: 155).
laki-laki dan 3 siswa perempuan. Setiap pertemuan siswa dihadapkan dalam
Teknik dan Instrumen Penelitian anggota kelompok yang berbeda-beda. Hal ini
Teknik yang digunakan disesuaikan dengan dimaksudkan agar setiap kelompok imbang
jenis permasalahan yang akan diteliti. Ada berbagai
234 Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar Edisi 3 Tahun ke-8 2019
dikarenakan peran ketua kelompok disini sangat (fasilitas) belajar kepada siswa dan siswa berinteaksi
berperan aktif untuk keberhasilan penyelidikan. dengan sumber-sumber belajar (buku, siswa, dll) yang
Penelitian ini merupakan penelitian tentang dapat mempermudah dalam proses pembelajaran
penggunaan model grup investigasi untuk berlangsung. Jadi dalam pembelajaran dengan model
meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas IV GI, aktivitas siswa mendominasi proses pembelajaran
SD Negeri 1 Sudorogo tahun 2018/2019. sehingga dalam pembelajaran ini siswa secara mandiri
Penggunaan model pembelajaran grup dengan berfikir kritis dapat menyelesaikan persoalan
investigasi dalam menyelesaikan permasalahan hasil (masalah) yang akan mereka pecahkan. Hal ini selaras
belajar matematika pada siswa kelas IV mengalami dengan pendapat Sulasti (2013:4) yang menyatakan
peningkatan cukup baik, semula pada siklus 1 nilai bahwa model grup investigasi merupakan suatu
rata-rata siswa mencapai 36,25, pada siklus 2 metode yang dapat merangsang siswa agar berpikir
mengalami peningkatan menjadi 58,75, dan yang kritis serta mampu untuk menganalisa suatu
semula pada siklus 1 dan 2 nilai rata-rata siswa belum permasalahan, sehingga siswa dapat memecahkan
mencapai ketuntasan, namun pada siklus 3 mengalami permasalahan tersebut. Demikian pula menurut Slavin
peningkatan menjadi 71,25. Diperolehnya hasil di atas dalam (Listiana, 2013:8) juga mengatakan bahwa
dimungkinkan karena dalam pembelajaran Grup Investigasi (GI) bahwa model ini cocok
menggunakan model GI, siswa belajar bersama, saling digunakan untuk pembelajaran matematika, karena
membantu, dan berdiskusi bersama-sama dalam model ini sesuai untuk proyek-proyek studi yang
menemukan dan menyelesaikan masalah. Hal ini akan terintegrasi berhubungan dengan hal-hal seperti
banyak membantu siswa dalam meningkatkan penguasaan, analisis, sintesis dalam upaya
kemampuan pemecahan masalah, sehingga ketika memecahkan permasalahan yang bersifat multi aspek.
mereka dihadapkan dengan suatu persoalan Pelaksanaan tindakan pada penelitian ini
matematika, mereka dapat melakukan keterampilan dilaksanakan dalam 3 siklus dan masing-masing siklus
memecahkan masalah untuk memilih dan terdiri dari 2 pertemuan. Hasil penelitian menunjukan
mengembangkan argumen (pendapat) tidak hanya bahwa kegiatan pembelajaran sudah berjalan dengan
dengan cara menghafal namun memperdalam dan baik, sesuai dengan indikator kinerja yang telah
memperluas pemikirannya. ditentukan, dan mampu mengalami peningkatan
Kondisi ini didorong oleh pembelajaran pada dalam setiap post test nya. Hal ini dibuktikan dengan
model GI yang menuntut siswa untuk selalu aktif hasil belajar siswa pada siklus I yang mendapatkan
selama pembelajaran berlangsung yaitu aktif untuk nilai rata-rata 36,25 yang termasuk dalam kategori
mengelompokan dan memilih topik masalah, juga cukup karena belum memenuhi kriteria ketuntasan
mampu mandiri dalam merencanakan penyelesaian minimal yaitu 60. Berdasarkan data-data tersebut,
dan menginvestigasi dari permasalahan soal, mampu peneliti menyimpulkan bahwa pelaksanaan
mengorganisir jawaban dari persoalan yang pembelajaran siklus I masih belum berhasil. Untuk itu
dipecahkan, dan hal tersebut mampu menumbuhkan peneliti dan observer melaksanakan tindakan pada
jiwa aktif berinteraksi dengan siswa lain melalui siklus berikutnya dengan melakukan refleksi,
kegiatan diskusi kelompok maupun diskusi kelas serta kekurangan-kekurangan yang muncul pada siklus I
presentasi di depan kelas. Selama pembelajaran akan diperbaiki pada siklus berikutnya yaitu siklus II.
berlangsung, guru bertindak sebagai fasilitator dan Hasil belajar siklus II juga mendapatkan nilai
motivator, dimana guru memberikan kemudahan rata-rata 58,75 juga termasuk dalam kategori cukup
Peningkatan Hasil Belajar …. (Wanda Tri Utami) 235
baik namun belum memenuhi kriteria ketuntasan
100
minimal yaitu 60. Sehingga, peneliti menyimpulkan 80

bahwa pelaksanaan pembelajaran siklus II juga masih 60 Prasiklus


40 Siklus I
belum berhasil. Untuk itu peneliti dan observer Siklus II
20
Siklus III
melaksanakan tindakan pada siklus berikutnya dengan 0
Nilai Nilai Nilai
melakukan refleksi, kekurangan-kekurangan yang Te re ndah Te rtinggi Rata-rata
muncul pada siklus II akan diperbaiki pada siklus
berikutnya yaitu siklus III. Gambar 1. Diagram Perbandingan Nilai Hasil
Penelitian
Pada siklus III, hasil belajar siswa dalam
100%
pembelajaran dengan menggunakan model 80%
60%
pembelajaran Grup Investigasi (GI) berjalan dengan Prasiklus
40%
Siklus I
sangat baik. Hal itu dapat dibuktikan pada siklus III 20%
Siklus II
0%
hasil belajar siswa mengalami peningkatan yaitu Persentase Persentase Siklus III
Siswa Tuntas Siswa Tidak
mencapai 71,25 yang termasuk dalam kategori sangat Tuntas

baik karena sudah memenuhi kriteria ketuntasan


minimal. Adapun perkembangan nilai hasil belajar Gambar 2. Diagram Persentase Ketuntasan Hasil
Penelitian
siswa pratindakan (prasiklus), siklus I, siklus II, dan
siklus III dapat dilihat pada tabel 1, gambar 1 dan Berdasarkan data-data tersebut, peneliti

gambar 2 berikut. menyimpulkan bahwa pelaksanaan pembelajaran pada

Tabel 1. Perkembangan Hasil Belajar Siswa siklus III sudah dikatakan berhasil. Oleh karena itu,
Prasiklus, siklus I, siklus II, dan Siklus III peneliti menyukupkan pelaksanaan tindakan hanya

Siklus Siklus Siklus sampai pada siklus III. Secara keseluruhan


No. Prasiklus peningkatan hasil belajar matematika siswa kelas IV
I II III
1. 40 45 75 90 SD Negeri 1 Sudorogo melalui model grup investigasi
telah mencapai titik keberhasilan.
2. 15 25 45 50
Keberhasilan pembelajaran Matematika siswa
3. 25,625 36,25 58,75 71,25
kelas IV SD Negeri 1 Sudorogo ditandai dengan
4. 0% 0% 62,5% 87,5%
adanya peningkatan dan perubahan setiap siklusnya,
5. 100% 100% 37,5% 12,5%
sesuai dengan pendapat Gangsong (2018:71) yang
menyatakan bahwa sistem pembelajaran
Keterangan mendatar (horizontal):
menghasilkan sejumlah siswa dan lulusan yang telah
1. Nilai tertinggi
meningkat pengetahuan dan keterampilannya berubah
2. Nilai terendah
sikpanya lebih baik. Peningkat tersebut tercermin
3. Nilai rata-rata
pada nilai prestasi belajar masing-masing.
4. Persentase siswa tuntas
Dalam penelitian ini terdapat anak yang masih
5. Persentase siswa belum tuntas
belum paham mengenai materi matematika yang
diajarkan, terbukti dengan adanya nilai siswa yang
belum mencapai KKM. Hal ini disebabkan karena
siswa tersebut belum dapat memahami persoalan yang
akan dipecahkan dan operasi hitung. Hal tersebut
236 Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar Edisi 3 Tahun ke-8 2019
mengacu pada pendapat Gagne dalam (Sanjaya, karakteristik anak kelas IV sekolah dasar perlu
2008:213) yang menyatakan bahwa mengajar bimbingan khusus dalam melakukan tahapan tersebut.
“teaching” merupakan bagian dari pembelajaran Selain itu, pembagian kelompok yang akrab dapat
(instruction), dimana peran guru lebh ditekankan menyebabkan tahap-tahap dari grup investigasi
kepada bagaimana merancang atau mengaransemen membutuhkan waktu yang lebih lama. Perlu adanya
berbagai sumber dan fasilitas yang tersedia untuk kesinambungan antara proses pembelajaran, baik
digunakan atau dimafaatkan siswa dalam mempelajari dalam suasana kelas, guru yang membimbing dalam
sesuatu. Itulah sebabnya seharusnya guru harus lebih pembelajaran, dan siswa yang antusias dalam
teliti untuk mengecek, memperbaiki, dan pengunaan model GI.
menyempurnakan pengetahuan para siswa sebelum Saran
melanjutkan pada materi baru selanjutnya agar siswa Oleh sebab itu, guru sebaiknya menggunakan
dapat mengetahui inti dari pembelajaran yang sedang model Grup Investigasi (GI) tidak hanya pada mata
mereka pelajari. pelajaran matematika. Selain itu, untuk kepala
sekolah, hendaknya mengadakan berbagai kegiatan
SIMPULAN DAN SARAN
yang menunjang peningkatan kemampuan guru
Simpulan
mengenai penerapan model pembelajaran Grup
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan
Investigasi (GI).
yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa
penerapan model pembelajaran Grup Investigasi (GI) DAFTAR PUSTKA
di kelas IV SD Negeri 1 Sudorogo Kecamatan
Listiana, L. (2013, October). Pemberdayaan
Kaligesing Kabupaten Purworejo dapat meningkatkat Keterampilan Berpikir dalam Pembelajaran
hasil belajar matematika. Hal tersebut ditunjukan Biologi melalui Model Kooperatif Tipe GI
(Group Investigation) dan TTW (Think, Talk,
dengan perolehan hasil tes yang telah dilakukan siswa. Write). In Proceeding Biology Education
Pada pretes terdapat 0% (0 siswa) dari jumlah 8 siswa Conference: Biology, Science, Enviromental,
and Learning (Vol. 10, No. 1).
yang mencapai KKM. Hasil tes pada siklus 1
Sanjaya, W. (2008). Kurikulum Dan Pembelajaran
menunjukan 0% (0 siswa) juga yang mencapai KKM. (Teori & Praktek KTSP). Kencana.
Kemudian siklus 2 menunjukan ada 62,5% (5 siswa)
Sumantri, M.S. (2015). Strategi pembelajaran: teori
dari jumlah siswa yang mencapai KKM, sedangkan dan praktik di tingkat pendidikan dasar.
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
pada siklus 3 terdapat 87,5% (7 siswa) dari jumlah
siswa yang mencapai KKM. Nilai rata-rata sebelum Van de Walle, J. A., Karp, K. S., & Bay-Williams, J.
M. (2004). Elementary and middle school
siklus sebesar 25,625, kemudian pada akhir siklus 1 mathematics. Boston: Allyn and Bacon.
nilai rata-rata tes sebesar 36,25, sedangkan pada akhir
Denzin, N.K & Lincoln, Y.S. (2005). The Sage
siklus 2 nilai rata-rata tes sebesar 58,75, dan pada Handbook of Qualitative Research.
akhir siklus 3 sebesar 71,25. Amerika: Sage.
Peneliti menggunakan syntax untuk model Dewi, R. P., dkk. (2012). Penerapan Model
grup investigasi meliputi dari tahap pengelompokan Group Investigation Terhadap Hasil
Belajar Materi Bahan Kimia Di SMP.
dan pemilihan topik, tahap perencanaan, tahap
Unnes Journal of Biology Education 1 (3)
investigasi, tahap pengorganisasian, tahap presentasi, (2012) 279-286.
dan evaluasi. Hal yang perlu diperhatikan dalam El Khuluqo, I. (2017). Belajar dan Pembelajaran.
tahapan diatas yaitu pada tahap presentasi karena Yogyakarta: Pustaka Pelajar.