Anda di halaman 1dari 9

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.

net/publication/326348054

SISTEM PEMBIAYAAN KESEHATAN

Article · March 2017


DOI: 10.22219/sm.v11i2.4206

CITATION READS

1 19,499

1 author:

Febri Endra Budi Setyawan


University of Muhammadiyah Malang
11 PUBLICATIONS   1 CITATION   

SEE PROFILE

Some of the authors of this publication are also working on these related projects:

Independent Research View project

All content following this page was uploaded by Febri Endra Budi Setyawan on 10 September 2018.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


SISTEM PEMBIAYAAN KESEHATAN 119

SISTEM PEMBIAYAAN KESEHATAN

Febri Endra Budi Setyawan

Fakultas Kedokteran, Universitas Muhammadiyah Malang, Jl. Bendungan Sutami 188 A Sumbersari malang,
Lowokwaru, Kota Malang, 65145, Indonesia, (0341) 582060

ABSTRAK

Pembangunan kesehatan adalah bagian dari pembangunan nasional, dalam pembangunan kesehatan tujuan yang
ingin dicapai adalah meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Kenyataan yang terjadi sampai saat ini derajat
kesehatan masyarakat masih rendah khususnya pada masyarakat miskin. Hal ini dapat digambarkan bahwa derajat kesehatan
masyarakat miskin berdasarkan indikator Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia,
masih cukup tinggi, yaitu AKB sebesar 35 per 1000 kelahiran hidup dan AKI sebesar 307 per 100.000 kelahiran hidup.
Salah satu penyebabnya adalah karena mahalnya biaya kesehatan sehingga akses ke pelayanan kesehatan pada umumnya
masih rendah. Asuransi kesehatan adalah salah satu upaya untuk mengatasi masalah ketidakmampuan terhadap pembiayaan
pelayanan kesehatan.

PENDAHULUAN
Pelayanan kesehatan masyarakat pada prinsipnya Dampak krisis ekonomi di Indonesia sampai saat ini
mengutamakan pelayanan kesehatan promotif dan preventif. meluas ke seluruh bidang kehidupan, termasuk bidang
Pelayanan promotif adalah upaya meningkatkan kesehatan pelayanan kesehatan. Dilema yang dihadapi pelayanan
masyarakat ke arah yang lebih baik lagi dan yang preventif kesehatan, disatu pihak pelayanan kesehatan harus
mencegah agar masyarakat tidak jatuh sakit agar terhindar menjalankan misi sosial, yakni merawat dan menolong yang
dari penyakit. Sebab itu pelayanan kesehatan masyarakat itu sedang menderita tanpa memandang sosial, ekonomi, agama
tidak hanya tertuju pada pengobatan individu yang sedang dan sebagainya. Namun dipihak lain pelayanan kesehatan
sakit saja, tetapi yang lebih penting adalah upaya-upaya harus bertahan secara ekonomi dalam menghadapi badai
pencegahan (preventif) dan peningkatan kesehatan krisis tersebut. Oleh sebab itu pelayanan kesehatan harus
(promotif). Sehingga, bentuk pelayanan kesehatan bukan melakukan reformasi, reorientasi dan revitalisasi. (Juanita,
hanya puskesmas atau balkesmas saja, tetapi juga bentuk- 2002).
bentuk kegiatan lain, baik yang langsung kepada peningkatan Reformasi kebijakan pembangunan kesehatan telah
kesehatan dan pencegahan penyakit, maupun yang secara selesai dilakukan sebagaimana telah tertuang dalam Visi,
tidak langsung berpengaruh kepada peningkatan kesehatan. Misi, Strategi dan Paradigma baru pembangunan kesehatan
(Juanita, 2002). yang populer dengan sebutan Indonesia Sehat. Reformasi
Pelayanan kesehatan dibedakan dalam dua golongan, Sistem Kesehatan Nasional (SKN) telah memberi arah baru
yaitu : pembangunan kesehatan di Indonesia. Jika diperhatikan
kebijakan dan sistem baru hasil reformasi tersebut tampak
1. Pelayanan kesehatan primer (primary health care), atau
banyak perubahan yang akan dilakukan, dua diantaranya
pelayanan kesehatan masyarakat adalah pelayanan
yang terpenting adalah perubahan pada subsistem upaya
kesehatan yang paling depan, yang pertama kali
kesehatan dan perubahan pada subsistem pembiayaan
diperlukan masyarakat pada saat mereka mengalami
kesehatan. (Gotama I, Pardede D, 2010).
ganggunan kesehatan atau kecelakaan.
2. Pelayanan kesehatan sekunder dan tersier (secondary and Penggalian, pengalokasian dan pembelanjaan sumber
tertiary health care), adalah rumah sakit, tempat daya keuangan dalam subsistem pembiayaan kesehatan
masyarakat memerlukan perawatan lebih lanjut atau dilakukan untuk membiayai UKM dan UKP penduduk
rujukan. Di Indonesia terdapat berbagai tingkat rumah miskin dengan mobilisasi dan dari masyarakat, pemerintah
sakit, mulai dari rumah sakit tipe D sampai dengan dan public-private mix. Sedangkan untuk penduduk mampu,
Rumah sakit kelas A. (Juanita, 2002). pembiayaan kesehatan masyarakat terutama dari masyarakat
itu sendiri dengan mekanisme jaminan kesehatan baik wajib
Untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan masyarakat maupun sukarela. (Gotama I, Pardede D, 2010).
terhadap kesehatan banyak hal yang harus dilakukan, salah
satunya adalah penyelenggaraan pelayanan kesehatan. Secara
umum dapat dibedakan 9 (sembilan) syarat penyelenggaraan PEMBIAYAAN KESEHATAN
pelayanan kesehatan yang baik, yakni tersedia (available), Proses pelayanan kesehatan tidak bisa dipisahkan
menyeluruh (comprehensive), berkesinambungan (countinues), dengan pembiayaan kesehatan. Biaya kesehatan ialah besarnya
terpadu (integrated), wajar (appropiate), dapat diterima (accept- dana yang harus disediakan untuk menyelenggarakan dan
able), bermutu (quality), tercapai (accessible) serta terjangkau atau memanfaatkan berbagai upaya kesehatan yang diperlukan
(affordable). (Azwar Azrul ,1999). oleh perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat.
120 VOLUME 11 NO 2 DESEMBER 2015
Berdasarkan pengertian ini, maka biaya kesehatan dapat 1) Kebutuhan pelayanan kesehatan muncul secara
ditinjau dari dua sudut yaitu berdasarkan: sporadik dan tidak dapat diprediksikan, sehingga
1. Penyedia Pelayanan Kesehatan (Health Provider), adalah tidak mudah untuk memastikan bahwa setiap individu
besarnya dana yang harus disediakan untuk dapat mempunyai cukup uang ketika memerlukan pelayanan
menyelenggarakan upaya kesehatan, maka dilihat kesehatan.
pengertian ini bahwa biaya kesehatan dari sudut 2) Biaya pelayanan kesehatan pada kondisi tertentu juga
penyedia pelayanan adalah persoalan utama pemerintah sangat mahal, misalnya pelayanan di rumah sakit
dan ataupun pihak swasta, yakni pihak-pihak yang maupun pelayanan kesehatan canggih (operasi dan
akan menyelenggarakan upaya kesehatan. Besarnya dana tindakan khusus lain), kondisi emergensi dan keadaan
bagi penyedia pelayanan kesehatan lebih menunjuk sakit jangka panjang yang tidak akan mampu
kepada seluruh biaya investasi (investment cost) serta ditanggung pembiayaannya oleh masyarakat umum.
seluruh biaya operasional (operational cost). 3) Orang miskin tidak saja lebih sulit menjangkau
2. Pemakai Jasa Pelayanan (Health consumer), adalah pelayanan kesehatan, tetapi juga lebih membutuhkan
besarnya dana yang harus disediakan untuk dapat pelayanan kesehatan karena rentan terjangkit berbagai
memanfaatkan jasa pelayanan. Dalam hal ini biaya permasalahan kesehatan karena buruknya kondisi gizi,
kesehatan menjadi persoalan utama para pemakai jasa perumahan.
pelayanan, namun dalam batas-batas tertentu 4) Apabila individu menderita sakit dapat mempengaruhi
pemerintah juga turut serta, yakni dalam rangka kemampuan untuk berfungsi termasuk bekerja,
terjaminnya pemenuhan kebutuhan pelayanan kesehatan sehingga mengurangi kemampuan membiayai.
bagi masyarakat yang membutuhkannya. Besarnya dana (Departemen Kesehatan RI, 2004).
bagi pemakai jasa pelayanan lebih menunjuk pada
jumlah uang yang harus dikeluarkan (out of pocket) Berdasarkan karakteristik tersebut, sebuah sistem
untuk dapat memanfaatkan suatu upaya kesehatan. pembiayaan pelayanan kesehatan haruslah bertujuan untuk:
(Azwar, A. 1999). 1) Risk spreading, pembiayaan kesehatan harus mampu
Pembiayaan kesehatan yang kuat, stabil dan meratakan besaran resiko biaya sepanjang waktu
berkesinambungan memegang peranan yang amat vital sehingga besaran tersebut dapat terjangkau oleh setiap
untuk penyelenggaraan pelayanan kesehatan dalam rangka rumah tangga. Artinya sebuah sistem pembiayaan harus
mencapai berbagai tujuan penting dari pembangunan mampu memprediksikan resiko kesakitan individu dan
kesehatan di suatu negara diantaranya adalah pemerataan besarnya pembiayaan dalam jangka waktu tertentu
pelayanan kesehatan dan akses (equitable access to health care) (misalnya satu tahun). Kemudian besaran tersebut
dan pelayanan yang berkualitas (assured quality). Oleh karena diratakan atau disebarkan dalam tiap bulan sehingga
itu reformasi kebijakan kesehatan di suatu negara seyogyanya menjadi premi (iuran, tabungan) bulanan yang
memberikan fokus penting kepada kebijakan pembiayaan terjangkau.
kesehatan untuk menjamin terselenggaranya kecukupan (ad- 2) Risk pooling, beberapa jenis pelayanan kesehatan
equacy), pemerataan (equity), efisiensi (efficiency) dan efektifitas (meskipun resiko rendah dan tidak merata) dapat
(effectiveness) dari pembiayaan kesehatan itu sendiri. sangat mahal misalnya hemodialisis, operasi spesialis
(Departemen Kesehatan RI, 2004). (jantung koroner) yang tidak dapat ditanggung oleh
tabungan individu (risk spreading). Sistem pembiayaan
Perencanaan dan pengaturan pembiayaan kesehatan
harus mampu menghitung dengan mengakumulasikan
yang memadai (health care financing) akan menolong
resiko suatu kesakitan dengan biaya yang mahal antar
pemerintah di suatu negara untuk dapat memobilisasi
individu dalam suatu komunitas sehingga kelompok
sumber-sumber pembiayaan kesehatan, mengalokasikannya
masyarakat dengan tingkat kebutuhan rendah (tidak
secara rasional serta menggunakannya secara efisien dan
terjangkit sakit, tidak membutuhkan pelayanan
efektif. Kebijakan pembiayaan kesehatan yang mengutamakan
kesehatan) dapat mensubsidi kelompok masyarakat
pemerataan serta berpihak kepada masyarakat miskin (equi-
yang membutuhkan pelayanan kesehatan. Secara
table and pro poor health policy) akan mendorong tercapainya
sederhana, suatu sistem pembiayaan akan menghitung
akses yang universal. Pada aspek yang lebih luas diyakini
resiko terjadinya masalah kesehatan dengan biaya mahal
bahwa pembiayaan kesehatan mempunyai kontribusi pada
dalam satu komunitas, dan menghitung besaran biaya
perkembangan sosial dan ekonomi. Pelayanan kesehatan itu
tersebut kemudian membaginya kepada setiap individu
sendiri pada akhir-akhir ini menjadi amat mahal baik pada
anggota komunitas. Sehingga sesuai dengan prinsip
negara maju maupun pada negara berkembang. Penggunaan
solidaritas, besaran biaya pelayanan kesehatan yang
yang berlebihan dari pelayanan kesehatan dengan teknologi
mahal tidak ditanggung dari tabungan individu tapi
tinggi adalah salah satu penyebab utamanya. Penyebab yang
ditanggung bersama oleh masyarakat.
lain adalah dominasi pembiayaan pelayanan kesehatan dengan
3) Connection between ill-health and poverty, karena adanya
mekanisme pembayaran tunai (fee for service) dan lemahnya
keterkaitan antara kemiskinan dan kesehatan, suatu
kemampuan dalam penatalaksanaan sumber-sumber dan
sistem pembiayaan juga harus mampu memastikan
pelayanan itu sendiri (poor management of resources and
bahwa orang miskin juga mampu pelayanan kesehatan
services). (Departemen Kesehatan RI, 2004).
yang layak sesuai standar dan kebutuhan sehingga
Pelayanan kesehatan memiliki beberapa ciri yang tidak tidak harus mengeluarkan pembiayaan yang besarnya
memungkinkan setiap individu untuk menanggung tidak proporsional dengan pendapatan. Pada umumnya
pembiayaan pelayanan kesehatan pada saat diperlukan:
SISTEM PEMBIAYAAN KESEHATAN 121
di negara miskin dan berkembang hal ini sering terjadi. 3. Kemajuan ilmu dan teknologi
Orang miskin harus membayar biaya pelayanan Sejalan dengan adanya kemajuan ilmu dan teknologi
kesehatan yang tidak terjangkau oleh penghasilan dalam penyelengg araan pelayanan kesehatan
mereka dan juga memperoleh pelayanan kesehatan di (penggunaan peralatan kedokteran yang modern dan
bawah standar. canggih) memberikan konsekuensi tersendiri, yaitu
4) Fundamental importance of health, kesehatan merupakan tingginya biaya yang harus dikeluarkan dalam
kebutuhan dasar dimana individu tidak dapat berinvestasi. Hal ini membawa akibat dibebankannya
menikmati kehidupan tanpa status kesehatan yang biaya investasi dan operasional tersebut pada pemakai
baik jasa pelayanan kesehatan.
4. Perubahan Pola Penyakit
Organisasi kesehatan se-dunia (WHO) sendiri memberi Meningkatnya biaya kesehatan juga dipengaruhi adanya
fokus strategi pembiayaan kesehatan yang memuat isu-isu perubahan pola penyakit, yang bergeser dari penyakit
pokok, tantangan, tujuan utama kebijakan dan program yang sifatnya akut menjadi penyakit yang bersifat kronis.
aksi itu pada umumnya adalah dalam area sebagai berikut: Dibandingkan dengan berbagai penyakit akut, perawatan
1) Meningkatkan investasi dan pembelanjaan publik dalam berbagai penyakit kronis ternyata lebih lama. Akibatnya
bidang kesehatan biaya yang dikeluarkan untuk perawatan dan
2) Mengupayakan pencapaian kepesertaan semesta dan penyembuhan penyakit ini akan lebih besar. Hal ini
penguatan permeliharaan kesehatan masyarakat miskin akan sangat mempengaruhi tingginya biaya kesehatan.
3) Pengembangan skema pembiayaan praupaya termasuk 5. Perubahan pola pelayanan kesehatan
didalamnya asuransi kesehatan sosial Perubahan pola pelayanan kesehatan ini terjadi akibat
4) Penggalian dukungan nasional dan internasional perkembangan keilmuan dalam bidang kedokteran
5) Penguatan kerangka regulasi dan intervensi fungsional sehingga terbentuk spesialisasi dan subspesialisasi yang
6) Pengembangan kebijakan pembiayaan kesehatan yang menyebabkan pelayanan kesehatan menjadi terkotak-
didasarkan pada data dan fakta ilmiah kotak (fragmented health service) dan satu sama lain
7) Pemantauan dan evaluasi. seolah tidak berhubungan. Akibatnya sering terjadi
tumpang tindih atau pengulangan metoda pemeriksaan
Implementasi strategi pembiayaan kesehatan di suatu yang sama dan pemberian obat-obatan yang dilakukan
negara diarahkan kepada beberapa hal pokok yakni; pada seorang pasien, yang tentu berdampak pada
kesinambungan pembiayaan program kesehatan prioritas, semakin meningkatnya beban biaya yang harus
reduksi pembiayaan kesehatan secara tunai perorangan (out ditanggung oleh pasien selaku pengguna jasa layanan
of pocket funding), menghilangkan hambatan biaya untuk kesehatan ini. Selain itu, dengan adanya pembagian
mendapatkan pelayanan kesehatan, pemerataan dalam akses spesialisasi dan subspesialisasi tenaga pelayanan
pelayanan, peningkatan efisiensi dan efektifitas alokasi kesehatan, menyebabkan hari perawatan juga akan
sumber daya (resources) serta kualitas pelayanan yang memadai meningkat.
dan dapat diterima pengguna jasa. Sumber dana biaya 6. Perubahan Pola Hubungan Dokter-Pasien
kesehatan berbeda pada beberapa negara, namun secara garis Sistem kekeluargaan yang dulu mendasari hubungan
besar berasal dari: dokter-pasien seakan sirna. Dengan adanya
perkembangan spesialisasi dan subspesialisasi serta
1. Anggaran pemerintah.
penggunaan berbagai peralatan yang ditunjang dengan
2. Anggaran masyarakat.
kemajuan ilmu dan teknologi, mengakibatkan
3. Bantuan biaya dari dalam dan luar negeri.
meningkatnya biaya yang harus dikeluarkan oleh pasien,
4. Gabungan anggaran pemerintah dan masyarakat.
hal ini tentu saja membuat pasien menuntut adanya
kepastian pengobatan dan penyembuhan dari
Tingginya biaya kesehatan disebabkan oleh beberapa penyakitnya. Hal ini diperberat dengan semakin
hal, beberapa yang terpenting diantaranya sebagai berikut: tingginya tingkat pendidikan pasien selaku pengguna
1. Tingkat inflasi jasa layanan kesehatan, yang mendorong semakin
Apabila terjadi kenaikan harga di masyarakat, maka kritisnya pemikiran dan pengetahuan mereka tentang
secara otomatis biaya investasi dan juga biaya operasional masalah kesehatan. Hal tersebut diatas mendorong
pelayanan kesehatan akan meningkat pula, yang tentu para dokter sering melakukan pemeriksaan yang
saja akan dibebankan kepada pengguna jasa. berlebihan (over utilization), demi kepastian akan tindakan
2. Tingkat permintaan mereka dalam melakukan pengobatan dan perawatan,
Pada bidang kesehatan, tingkat permintaan dipengaruhi dan juga dengan tujuan mengurangi kemungkinan
sedikitnya oleh dua faktor, yaitu meningkatnya kuantitas kesalahan yang dilakukan dalam mendiagnosa penyakit
penduduk yang memerlukan pelayanan kesehatan, yang yang diderita pasiennya. Konsekuensi yang terjadi adalah
karena jumlahnya lebih atau bertambah banyak, maka semakin tingginya biaya yang dibutuhkan oleh pasien
biaya yang harus disediakan meningkat pula. Faktor untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.
kedua adalah meningkatnya kualitas penduduk. Dengan 7. Lemahnya mekanisme pengendalian biaya
tingkat pendidikan dan penghasilan yang lebih baik, Kurangnya peraturan perundang-undangan yang
mereka akan menuntut penyediaan layanan kesehatan ditetapkan untuk mengatur dan membatasi pemakaian
yang baik pula dan hal ini membutuhkan biaya biaya pelayanan kesehatan menyebabkan pemakaiannya
pelayanan kesehatan yang lebih baik dan lebih besar. sering tidak terkendali, yang akhirnya akan membebani
122 VOLUME 11 NO 2 DESEMBER 2015
penanggung (perusahaan) dan masyarakat secara mutu dan efisiensi namun dapat mengarah pada
keseluruhan. penggunaan terapi yang berlebihan.
8. Penyalahgunaan asuransi kesehatan 2. User payments
Asuransi kesehatan (health insurance) sebenamya Dalam model ini, pasien membayar secara langsung
merupakan salah satu mekanisme pengendalian biaya biaya pelayanan kesehatan baik pelayanan kesehatan
kesehatan, sesuai dengan anjuran yang diterapkan oleh pemerintah maupun swasta. Perbedaannya dengan
pemerintah. Tetapi jika diterapkan secara tidak tepat model informal adalah besaran dan mekanisme
sebagaimana yang lazim ditemukan pada bentuk yang pembayaran, juga kelompok yang menjadi pengecualian
konvensional (third party sistem) dengan sistem telah diatur secara formal oleh pemerintah dan provider.
mengganti biaya (reimbursement) justru akan mendorong Bentuk yang paling kompleks adalah besaran biaya
naiknya biaya kesehatan. (Medis Online, 2009). yang bebeda setiap kunjungan sesuai dengan jasa
pelayanan kesehatan yang diberikan (biasanya terjadi
Biaya kesehatan banyak macamnya, karena kesemuanya untuk fasilitas pelayanan kesehatan swasta). Namun
tergantung dari jenis dan kompleksitas pelayanan kesehatan model yang umum digunakan adalah ’flat rate’, dimana
yang diselenggarakan dan atau yang dimanfaatkan. Hanya besaran biaya per-episode sakit bersifat tetap.
saja disesuaikan dengan pembagian pelayanan kesehatan, 3. Saving based
maka biaya kesehatan tersebut dapat dibedakan atas dua Model ini mempunyai karakteristik ‘risk spreding’ pada
macam yaitu: individu namun tidak terjadi risk pooling antar individu.
Artinya biaya kesehatan langsung, akan ditanggung
1) Biaya pelayanan kedokteran
oleh individu sesuai dengan tingkat penggunaannya,
Biaya yang dimaksudkan adalah yang dibutuhkan untuk
namun individu tersebut mendapatkan bantuan dalam
menyelenggarakan dan atau memanfaatkan pelayanan
mengelola pengumpulan dana (saving) dan
kedokteran, yakni yang tujuan utamanya untuk
penggunaannya bilamana membutuhkan pelayanan
mengobati penyakit serta memulihkan kesehatan
kesehatan. Biasanya model ini hanya mampu mencakup
penderita.
pelayanan kesehatan primer dan akut, bukan pelayanan
2) Biaya pelayanan kesehatan masyarakat
kesehatan yang bersifat kronis dan kompleks yang
Biaya yang dimaksud adalah yang dibutuhkan untuk
biasanya tidak bisa ditanggung oleh setiap individu
menyelenggarakan dan atau memanfaatkan pelayanan
meskipun dengan mekanisme saving. Sehingga model
kesehatan masyarakat yaitu yang tujuan utamanya untuk
ini tidak dapat dijadikan model tunggal pada suatu
memelihara dan meningkatkan kesehatan serta untuk
negara, harus didukung model lain yang menanggung
mencegah penyakit.
biaya kesehatan lain dan pada kelompok yang lebih
luas.
Sama halnya dengan biaya kesehatan secara keseluruhan, 4. Informal
maka masing-masing biaya kesehatan ini dapat pula ditinjau Ciri utama model ini adalah bahwa pembayaran yang
dari dua sudut yaitu dari sudut penyelenggara kesehatan dilakukan oleh individu pada provider kesehatan formal
(health provider) dan dari sudut pemakai jasa pelayanan (health misalnya dokter, bidan tetapi juga pada provider
consumer). kesehatan lain misalnya: mantri, dan pengobatan
tradisional; tidak dilakukan secara formal atau tidak
MODEL SISTEM PEMBIAYAAN diatur besaran, jenis dan mekanisme pembayarannya.
Besaran biaya biasanya timbul dari kesepakatan atau
Pertanyaan yang mengemuka ialah model kebijakan
banyak diatur oleh provider dan juga dapat berupa
kesehatan seperti apa yang layak diterapkan di Indonesia,
pembayaran dengan barang. Model ini biasanya muncul
sistem pembiayaan yang bagaimana yang cocok dengan
pada negara berkembang dimana belum mempunyai
kehidupan masyarakat kita. Terdapat beberapa model sistem
sistem pelayanan kesehatan dan pembiayaan yang
pembiayaan pelayanan kesehatan yang dijalankan oleh
mampu mencakup semua golongan masyarakat dan
beberapa negara, berdasarkan sumber pembiayaannya:
jenis pelayanan.
1. Direct Payments by Patients 5. Insurance Based
Ciri utama model direct payment adalah setiap individu Sistem pembiayaan dengan pendekatan asuransi
menanggung secara langsung besaran biaya pelayanan mempunyai perbedaan utama dimana individu tidak
kesehatan sesuai dengan tingkat penggunaannya. Pada menanggung biaya langsung pelayanan kesehatan.
umumnya sistem ini akan mendorong penggunaan Konsep asuransi memiliki dua karakteristik khusus
pelayanan kesehatan secara lebih hati-hati, serta adanya yaitu pengalihan resiko kesakitan pada satu individu
kompetisi antara para provider pelayanan kesehatan untuk pada satu kelompok serta adanya sharing looses secara
menarik konsumen atau free market. Meskipun adil. Secara sederhana dapat digambarkan bahwa satu
tampaknya sehat, namun transaksi kesehatan pada kelompok individu mempunyai resiko kesakitan yang
umumnya bersifat tidak seimbang dimana pasien telah diperhitungkan jenis, frekuensi dan besaran
sebagai konsumen tidak mampu mengenali biayanya. Keseluruhan besaran resiko tersebut
permasalahan dan kebutuhannya, sehingga tingkat diperhitungkan dan dibagi antar anggota kelompok
kebutuhan dan penggunaan jasa lebih banyak diarahkan sebagai premi yang harus dibayarkan. Apabila anggota
oleh provider. Sehingga free market dalam pelayanan kelompok, maka keseluruhan biaya pelayanan kesehatan
kesehatan tidak selalu berakhir dengan peningkatan
SISTEM PEMBIAYAAN KESEHATAN 123
sesuai yang diperhitungkan akan ditanggung dari dana 3) Proximate cause
yang telah dikumpulkan bersama. Besaran premi dan Suatu penyebab aktif, efisien yang menimbulkan
jenis pelayanan yang ditanggung serta mekanime rantaian kejadian yang menimbulkan suatu akibat tanpa
pembayaran ditentukan oleh organisasi pengelola dana adanya intervensi suatu yang mulai dan secara aktif
asuransi. dari sumber yang baru dan independen.
4) Indemnity
ASURANSI KESEHATAN Suatu mekanisme dimana penanggung menyediakan
kompensasi finansial dalam upayanya menempatkan
Dalam kamus atau perbendaharaan kata bangsa Indo-
tertanggung dalam posisi keuangan yang ia miliki
nesia, tidak dikenal kata asuransi, yang dikenal adalah istilah
sesaat sebelum terjadinya kerugian (KUHD pasal 252,
“jaminan” atau “tanggungan”. Dalam konteks asuransi
253 dan dipertegas dalam pasal 278).
kesehatan, pengertian asuransi adalah memastikan seseorang
5) Subrogation
yang menderita sakit akan mendapatkan pelayanan yang
Pengalihan hak tuntut dari tertanggung kepada
dibutuhkannya tanpa harus mempertimbangkan keadaan
penanggung setelah klaim dibayar.
ekonominya. Ada pihak yang menjamin atau menanggung
6) Contribution
biaya pengobatan atau perawatannya. Pihak yang menjamin
Adalah hak penanggung untuk mengajak penanggung
ini dalam bahasa Inggris disebut insurer atau dalam UU
lainnya yang sama-sama menanggung, tetapi tidak
Asuransi disebut asuradur. Asuransi merupakan jawaban
harus sama kewajibannya terhadap tertanggung untuk
atas sifat ketidak-pastian (uncertain) dari kejadian sakit dan
ikut memberikan indemnity.
kebutuhan pelayanan kesehatan. Untuk memastikan bahwa
kebutuhan pelayanan kesehatan dapat dibiayai secara
memadai, maka seseorang atau kelompok kecil orang Pada umumnya model asuransi mendorong
melakukan transfer risiko kepada pihak lain yang disebut munculnya apa yang disebut sebagai moral hazard:
insurer/asuradur, ataupun badan penyelenggara jaminan. a. Pada sisi tertanggung (pasien): adanya kecenderungan
(Thabrany H, 2001). untuk memaksimalkan pelayanan kesehatan karena
Menurut pasal 246 Kitab Undang-Undang Hukum semua biaya akan ditanggung asuransi, dan
Dagang (KUHD), asuransi mempunyai pengertian sebagai kecenderungan untuk tidak melakukan tindakan
berikut: Asuransi atau pertanggungan adalah suatu preventif
persetujuan dimana penanggung kerugian diri kepada b. Pada sisi provider: mempunyai kecenderungan untuk
tertanggung, dengan mendapat premi untuk mengganti memberikan terapi secara berlebihan untuk
kerugian karena kehilangan kerugian atau tidak diperolehnya memaksimalkan pendapatan.
suatu keuntungan yang diharapkan, yang dapat diderita
karena peristiwa yang tidak diketahui lebih dahulu. (Andreas, Sehingga beberapa skema asuransi diatur sedemikian
2009). Definisi asuransi menurut Undang-Undang Republik rupa untuk mengurangi terjadinya moral hazard, misalnya
Indonesia Nomor 2 Tahun 1992 adalah Asuransi atau dengan mengatur batasan paket pelayanan, mengatur besaran
Pertanggungan adalah perjanjian antara dua pihak atau kontribusi sesuai dengan tingkat resiko tertanggung. Sistem
lebih, dimana pihak penanggung mengikatkan diri kepada ini dapat dibedakan menjadi asuransi yang bersifat umum
tertanggung dengan menerima premi asuransi, untuk yaitu mencakup semua golongan dan asuransi yang bersifat
memberikan penggantian kepada tertanggung karena khusus untuk kelompok masyarakat tertentu. Sifat asuransi
kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
diharapkan, atau tanggungjawab hukum kepada pihak ketiga Asuransi bersifat umum
yang mungkin akan diderita tertanggung, yang timbul dari
suatu peristiwa yang tidak pasti atau untuk memberikan General taxation
suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau General taxation merupakan model dimana sumber
hidupnya seseorang yang dipertanggungkan. (Andreas, 2009). pembiayaan diambil dari pajak pendapatan secara
proporsional dari seluruh populasi yang kemudian
Dalam dunia asuransi ada 6 (enam) macam prinsip dialokasikan untuk berbagai sektor (tidak terbatas pelayanan
dasar yang harus dipenuhi, yaitu: kesehatan). Alokasi pada sektor kesehatan biasanya berupa
1) Insurable interest budget pada fasilitas kesehatan dan gaji staf kesehatan.
Hak untuk mengasuransikan, yang timbul dari suatu Meskipun mempunyai cakupan yang luas, keberhasilan sistem
hubungan keuangan, antara tertanggung dengan yang ini tergantung pada tingkat pendapatan masyarakat dan
diasuransikan dan diakui secara hukum. angkatan kerja, besaran alokasi pada pelayanan kesehatan
2) Utmost good faith dan sistem penarikan pajak. Rendahnya pendapatan
Suatu tindakan untuk mengungkapkan secara akurat masyarakat (ekonomi negara) akan menurunkan nilai pajak,
dan lengkap, semua fakta yang material (material fact) alokasi biaya pada pelayanan kesehatan sehingga mendorong
mengenai sesuatu yang akan diasuransikan baik diminta rendahnya cakupan dan mutu pelayanan sehingga pada
maupun tidak. Artinya adalah: penanggung harus akhirnya biaya pelayanan kesehatan akan kembali ditanggung
dengan jujur menerangkan dengan jelas segala sesuatu langsung oleh individu.
tentang luasnya syarat atau kondisi dari asuransi dan Earmarked payroll tax
tertanggung juga harus memberikan keterangan yang Sistem ini memiliki karakteristik yang hampir serupa
jelas dan benar atas obyek atau kepentingan yang dengan general taxation hanya saja penarikan pajak dialokasikan
dipertanggungkan.
124 VOLUME 11 NO 2 DESEMBER 2015
langsung bagi pelayanan kesehatan sehingga lebih bersifat kebutuhan atau kesalahan pengelolaan oleh negara.
transparan dan dapat mendorong kesadaran pembayaran Disamping itu sumber dana dari funding tentu saja tidak
pajak karena kejelasan penggunaan. dapat diandalkan keberlangsungannya. Berdasarkan
pengelolaan manajemennya, sistem pembiayaan
Asuransi bersifat khusus
menggambarkan hubungan antara pasien sebagai konsumen
Dibandingkan dengan sistem umum, asuransi selektif dan atau sumber biaya, provider/penyelenggara atau pemberi
mempunyai perbedaan dalam hal kontribusi dan tanggungan pelayanan kesehatan (dokter, perawat atau institusi seperti
hanya ditujukan pada suatu kelompok tertentu dengan rumah sakit), pemerintah sebagai pengatur, pengelola
paket pelayanan yang telah ditetapkan. pelayanan kesehatan dan sumber biaya.
1. Social insurance Asuransi kesehatan yang paling mutakhir adalah man-
Social insurance mempunyai karakteristik khusus yang aged care, dimana sistem pembiayaan dikelola secara terintegrasi
membedakan dengan private insurance, yaitu: dengan sistem pelayanan. Asuransi kesehatan dengan model
a. Keanggotaan bersifat wajib managed care ini mulai dikembangkan di Amerika. Hal ini
b. Kontribusi (premi) sesuai dengan besaran gaji timbul oleh karena sistem pembiayaan kesehatan yang lama,
c. Cakupan pelayanan kesehatan yang diasuransikan sesuai inflasi biaya kesehatan terus meningkat jauh diatas inflasi
dengan besaran kontribusi rata-rata, sehingga digali model lain untuk mengatasi
d. Pelayanan dirupakan dalam bentuk paket peningkatan biaya kesehatan. Managed care pada dasarnya
e. Dikelola oleh organisasi yang bersifat otonom sudah mulai diterapkan pada tahun 1983 yaitu oleh kaisar
f. Biasanya merupakan bagian dari sistem jaminan sosial Permanente Medical Care Program, tetapi secara meluas mulai
yang berskala luas diterapkan pada tahun 1973, yaitu dengan diberlakukannya
g. Umumnya terjadi cross subsidi HMO Act, pada periode pemerintahan Noxon. (Juanita,
2. Voluntary community 2002).
Perbedaan utama sistem ini dengan asuransi sosial Pada hakekatnya, managed care adalah suatu konsep
adalah keanggotaan yang bersifat sukarela serta skala cakupan yang masih terus berkembang, sehingga belum ada suatu
tertanggung yang lebih sempit. Biasanya asuransi ini definisi yang satu dan universal tentang managed care. Namun
berkembang pada kelompok masyarakat yang tidak demikian secara umum dapat didefinisikan bahwa managed
tertanggung oleh asuransi sosial yaitu kelompok yang tidak care adalah suatu sistem dimana pelayanan kesehatan
memiliki pekerjaan formal, yang tidak memungkinkan untuk terlaksana secara terintegrasi dengan sistem pembiayaan
dilakukan penarikan kontribusi rutin dari penghasilan. kesehatan, yang mempunyai 5 (lima) elemen sebagai berikut:
Contoh penerapan dari sistem ini adalah kartu sehat/kartu
1. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan oleh provider
gakin yang dikembangkan pemerintah daerah dan ditujukan
tertentu (selecte provider).
pada kelompok tertentu (masyarakat miskin).
2. Adanya kriteria khusus untuk penetapan provider.
3. Private Insurance 3. Mempunyai program pengawasan mutu dan
Perbedaan utama private insurance dan social insurance managemen utilisasi.
adalah tidak adanya risk pooling dan bersifat voluntary. 4. Penekanan pada upaya promotive dan preventive.
Disamping itu private insurance juga memperhitungkan resiko 5. Ada financial insentive bagi peserta yang melaksanakan
kesakitan individu dengan besaran premium dan cakupan pelayanan sesuai prosedur. (Juanita, 2002).
pelayanan asuransi yang diberikan. Artinya individu yang
lebih beresiko sakit misalnya kelompok rentan (bayi, ibu
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan
hami, lansia), orang dengan perilaku tertentu misalnya
alokasi anggaran untuk kesehatan yang ideal adalah sekurang-
perokok, dan orang dengan pekerjaan yang beresiko akan
kurangnya 6% dari anggaran belanja negara (APBN).
dikenakan premi yang lebih tinggi dibandingkan kelompok
Sementara itu di negara-negara maju, alokasi anggaran untuk
yang dengan resiko rendah. Model ini tentunya mempunyai
kesehatan mencapai 6%-15%. Di Indonesia anggaran untuk
mekanisme lebih rumit mengingat harus memperhitungkan
Departemen Kesehatan kurang 5% dari APBN.
tingkat resiko tertanggung.
Melihat karakteristik tersebut diatas, maka biaya yang
Model private insurance mungkin bersifat profit yaitu
timbul akibat gangguan kesehatan (penyakit) merupakan
mencari keuntungan untuk pengelolaan dan pemilik, atau
obyek yang layak diasuransikan untuk meringankan beban
menggunakan keuntungan untuk mengurangi besaran premi
yang ditanggung oleh penderita serta meningkatkan akses
tertanggung. Bentuk private insurance dapat berupa lembaga
pelayanan kesehatan yang merupakan kebutuhan hidup
asuransi swasta atau NGO bagi umum maupun asuransi
masyarakat. WHO didalam The World Health Report 2000-
kelompok khusus seperti asuransi pekerja
Health System: Inproving Pervormance juga merekomendasikan
4. Funding/Donation untuk mengembangkan sistem pembayaran secara ”pre
Seluruh sistem pembiayaan yang telah diuraikan diatas payment”, baik dalam bentuk asuransi, tax, maupun social
menganut keterkaitan antara pengguna jasa pelayanan security. Sistem kesehatan haruslah dirancang sedemikian
kesehatan atau tertanggung dan penggunaan jasa pelayanan rupa, sehingga bersifat terintegrasi antara sistem pelayanan
kesehatan. Model funding tidak ditujukan langsung pada dan sistem pembiayaan, mutu terjamin (quality assurance)
kelompok individu tetapi lebih pada program kesehatan dengan biaya terkendali (cost containment).
misalnya bantuan alat kesehatan, pelatihan atau perbaikan
Indonesia dengan kondisi yang sangat turbulensi dalam
fasilitas pelayanan kesehatan. Permasalahan yang sering
berbagai hal pada saat ini, serta dengan keterbatasan resources
muncul adalah ketidaksesuaian program funding dengan
SISTEM PEMBIAYAAN KESEHATAN 125
yang ada, maka sistem managed care merupakan pilihan yang tional Economic Relations, New Delhi, India, D,iakses
tepat dalam mengatasi masalah pembiayaan kesehatan. tanggal 22 Februari 2012, (http://www.icrier.org/
Managed care dianggap tepat untuk kondisi di Indonesia, pdf/wp123.pdf).
kemungkinan karena sistem pembiayaan managed care dikelola Azwar, A, 1999, Pengantar Administrasi Kesehatan, Edisi
secara terintegrasi dengan sistem pembiayaan, dengan Ketiga, Binarupa Aksara. Jakarta.
managed care berarti badan pengelola dana (perusahaan Bank Dunia, 2007, Peningkatan Keadaan Kesehatan
asuransi) tidak hanya berperan sebagai juru bayar, Indonesia, Diakses tanggal 15 Desember 2011, (http:/
sebagaimana berlaku pada asuransi tradisional, tapi ikut /peningkatan_keadaan_kesehatan_indonesia/
berperan dalam dua hal penting, yaitu pengawasan mutu health2.pdf)
pelayanan (quality control) dan pengendalian biaya (cost con- Biro Hukum & Organisasi Departemen Kesehatan R.I,
tainment). Salah satu elemen managed care adalah bahwa 2010, Jaminan Kesehatan Masyarakat Salah Satu Cara
pelayanan diberikan oleh provider tertentu, yaitu yang Mensejahterakan Rakyat, Jakarta Selatan, Diakses tanggal
memenuhi kriteria yang ditetapkan meliputi aspek 15 Februari 2012 (http://www.jamkesmas_biro
administrasi, fasilitas sarana, prasarana, prosedur dan proses hukum.index.php.htm).
kerja atau dengan istilah lain meliputi proses bisnis, proses Departemen Kesehatan RI, 2009, Sistem Kesehatan Nasional,
produksi, sarana, produk dan pelayanan. Dengan cara ini, Jakarta.
maka pengelola dana (asuransi) ikut mengendalikan mutu Departemen Kesehatan RI, 2009, Rancangan Final: Rencana
pelayanan yang diberikan kepada pesertanya. Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan 2005-
2025, Jakarta, Diakses tanggal 10 Desember 2011,
( h t t p : / / w w w. d e p k e s . g o . i d / d o w n l o a d s /
PENUTUP
newdownloads/ rancangan_RPJPK_2005-2025.pdf).
Peningkatan biaya pelayanan kesehatan yang makin Dural, 2008, Health Insurance Changes Highly Irresponsible,
tidak terkendali serta mengantisipasi ketidakmampuan Herald letter with Media Watch, Diakses tanggal 11
masyarakat dalam mengakses pelayanan kesehatan sehingga Februari 2012, (http://www.heraldletters.com.au/?=97)
perkembangan penyakit semakin tidak terkendali, maka Efendy F, 2010, Definisi Unsur dan Jenis Asuransi
pilihan yang tepat untuk pembiayaan kesehatan adalah Kesehatan, Kumpulan Artikel Kesehatan Kedokteran,
asuransi kesehatan. Mengingat kondisi ekonomi negara dan Keperawatan dan Kebidanan. FK Unhas, Makasar,
masyarakat serta keterbatasan sumber daya yang ada, maka (http://asuransi_kesehatan_definisi _unsur
perlu dikembangkan pilihan asuransi kesehatan dengan suatu _dan_jenis_20101011839.htm)
pendekatan yang efisien, efektif dan berkualitas agar dapat Fernandez, B, 2005, Health Insurance: A Primer, CRS Report
menjangkau masyarakat luas. for Congress, The Library of Congress, Diakses tanggal
Untuk itu, sudah saatnya dikembangkan asuransi 5 Maret2012, (http://www.law-umaryland-edu/
kesehatan nasional dengan managed care sebagai bentuk marshall/crsreports/crsdocuments/RL32237
operasionalnya. Dengan cakupan asuransi yang semakin 02032005.pdf).
luas, maka diperlukan jaringan pelayanan (Rumah Sakit) Gotama I, Pardede D. 2010. Reformasi Jaminan Sosial
yang semakin luas pula. Tuntutan terhadap pelayanan yang Kesehatan: Pembiayaan Kesehatan, Agenda dan Isu-
berkualitas baik terhadap penyelenggaraan asuransi kesehatan Isu Jaminan Kesehatan, Pusat Pembiayaan dan
maupun penyelenggaraan pelayanan kesehatan akan semakin Jaminan Kesehatan Depkes R.I. Diakses tanggal 18
meningkat, upaya peningkatan yang berkesinambungan tidak Januari 2012, (http://www.litbang.depkes.go.id/ down-
hanya menjadi tanggungjawab pemberi pelayanan kesehatan load/ seminar/ desentralisasi6-80606/ makalah
saja tetapi juga bagi penyelenggaraan asuransi. Sebaiknya indra.pdf)
mengikuti program asuransi kesehatan sejak umur yang Henry, 2009, Reformasi Kesehatan, Washington, USA.
masih dini. Hal ini untuk mengantisipasi terhadap penolakan Insurance Provider, 2011, How do Poor People get Health
keikutsertaan asuransi kesehatan. Oleh karena risiko yang Insurance, Diakses tanggal 10 Desember 2011, (http:/
harus ditanggung pada usia tua besar sekali, berbeda dengan /www.insuranceproviders.com/how-do-poor-people-
kalau masih berusia muda. get-health-insurance).
International Labour Organization, 2008, Indonesia: Pro-
viding Health Insurance for The Poor, Subregional Office
DAFTAR PUSTAKA for South East Asia, Social Security Extension Initatives
………….., 2004, Undang-Undang No. 40 tahun 2004 In South East Asia, Diakses tanggal 25 Januari 2012,
tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional, Sekertaris (http://www.ilo.org/public/english/region/asro/
Negara Republik Indonesia, Jakarta. bangkok/ events/sis/ download/ paper25.pdf).
Askes PT, 2009, Asuransi Kesehatan Indonesia, Jakarta, Jimmy, 2010, Asuransi Kesehatan. PT Askes, Wikipedia,
Indonesia, Diakses tanggal 10 Desember 2011, (http:/ Ensiklopedia bebas http://id.wikipedia.org/wiki/
/ I d . W i k i p e d i a . O r g / W i k i / Asuransi_kesehatan
Asuransi_Kesehatan_Indonesia) Juanita, 2002, Peran Asuransi Kesehatan dalam Benchmarking
Andreas, 2009, Defisi Asuransi, Jakarta, Diakses tanggal 10 Rumah Sakit dalam Menghadapi Krisis Ekonomi, Fakultas
Desember 2011, (http://jurnal-sdm. blogspot.com/ Kesehatan Masyarakat Jurusan Administrasi dan
2009/08/ asuransi-insurance-assurance-definisi.html) Kebijakan Kesehatan, Universitas Sumatera Utara, Diakses
Ahuja R, 2004, Health Insurance for the Poor in India, Working tanggal 12 Februari 2012, (www. repository.usu.ac.id/
Paper No. 123, Indian council for research on Interna- bitstream/ 123456789/3747/1/ fkm-juanita5.pdf).
126 VOLUME 11 NO 2 DESEMBER 2015
Martin S.F, 2007, The Welfare Loss of Excess Health Insurance.
The Journal of Political Economy, Vol. 81, No. 2, Part 1.
(Mar. - Apr., 1973), pp. 251-280. Harvard University.
Diakses tanggal 20 Februari 2012, (http://
econ.duke.edu/~hf14/teaching/socialinsurance/ r
eadings/ Feldstein73(3.11). pdf).
Medis Online, 2009, Medical Information and Services: Sistem
Pembiayaan Kesehatan, Diakses tanggal 10 Januari
2012 (www. medisonline .net / article-journal / 41-
article/70-pembiayaan-kesehatan),
Mukti AG, A.G, 2010, Health Insurance. Wikipedia, Jakarta,
Ensiklopedia bebas, Diakses tanggal 10 desember 2011,
(http://www.asuransikesehatan.org).
Oecd, 2009, Health Insurance for The Rural Poor, Diakses
tanggal 10 Desember 2011, (http://www.oecd.org/
dataoecd/31/38/2510517.pdf).
Richardson, C, 2009, Mandatory Health Insurance: Lesson from
Massachusetts, USA, Diakses tanggal 23 Desember 2011,
(http://www.cato.org/pubs/journal/cj29n2/cj29n2-
7.pdf)
Thabrany, H, 2001, Asuransi Kesehatan di Indonesia. Pusat
Kajian Ekonomi Kesehatan FKMUI, Depok,
Indonesia.

View publication stats