Anda di halaman 1dari 3

Pada waktu pemerintahan penjajah belanda, daerah sepanjang jalan dari

pangkalpinang menuju sungaiselan merupakan daerah hutan belantara dimana


terdapat suatu jalan penghubung berupa jalan pintas yang dibangun oleh penjajah
belanda untuk mengangkut hasil tambang timah dan kemudian jalan tersebut
dikenal dengan nama jalan sungaiselan.
Pada saat itu belum terdapat perumahan atau pemukiman penduduk yang
berdiri sepanjang jalan dikarenakan takut kepada tentara belanda yang setiap saat
melewati jalan sungaiselan. Namun seiring waktu di daerah sepanjang jalan
tersebut terdapat pondok-pondok penduduk yang berada di dalam hutan. Jarak
antara pondok satu dengan lainnya terpisah-pisah dari pangkalpinang menuju
sungaiselan.
Diantara penduduk yang tinggal terdapat seorang etnis tionghua bernama
Tiaw Lu yang membuat gubuk tempat tinggal tidak jauh dari jalan penghubung.
Tiaw Lu adalah salah satu budak yang dikirim dari cina oleh penjajah belanda
untuk diperkerjakan di tamabang-tambang milik pemerintah belanda di pulau
bangka. Budak etnis tionghua waktu penjajahan belanda dikenal dengan nama
“singke” yang sering kita sebut sampai saat ini.
Dengan melihat Tiaw Lu tidak dilarang oleh penjajah belanda untuk
membangun gubuk tempat tinggal, maka banyak yang mulai berani untuk
membangun gubuk atau pondok di sepanjang jalan penghubung dan mereka
berasal dari berbagai macam etnis termasuk orang pribumi. Dengan berjalan
waktu semakin bertambah jumlah orang yang bermukim di daerah tersebut.
Sebagian besar dari meraka bekerja sebagai petani dan pekerja tambang.
Tiuw Lu yang memulai membangun gubuk di daerah tersebut merasa
senang karena orang-orang yang bermukim tidak jauh dari gubuknya bisa
membaur dan saling berkunjung. Akhinya dengan semangat gotong royong
mereka memulai membangun sebuah perkampungan mendekati jalan penghubung
tersebut. Walaupun ada perbedaan ras dan agama antara etnis tionghua dan orang
pribumi kehidupan mereka sangat rukun dan damai sehingga mereka tetap bisa
hidup berdampingan sampai sekarang.
Sampai suatu hari Tiaw Lu meninggal dunia sehingga masyarakat di
perkampungan merasa kehilangan sosok seorang etnis tionghua yang merupakan
penggerak dalam membangun perkampungan mereka. Apabila ada orang yang
datang ke perkampungan tersebut selalu menyampaikan ke orang-orang di daerah
lain bahwa daerah tersebut adalah perkampungan Tiuw Lu sehingga menjadi
terbiasa dengan sebutan kampung Tiaw Lu.
Banyak opini yang berkembang sehubungan dengan perubahan Tiaw Lu
menjadi Teru. Ada pendapat bahwa kata teru dipakai untuk mengenang Tiaw Lu
dan ada juga berpendapat karena kesalahan pengucapan kata Teru yang hampir
sama pengucapannya dengan kata Tiaw Lu (Te Lu, diucapkan oleh orang-orang
yang sulit mengucapkan kata ‘R’).
Setelah indonesia merdeka, Teru hanya berupa dusun kecil yang dipimpin
oleh seorang gegading yaitu salah satu tokoh panutan masyarakat yang sangat
disegani karena keberanian dan akhlaknya yang baik. Pada saat itu kampung Teru
terkenal dengan salah satu hasil sektor pertanian yaitu cengkeh. Setelah sekitar
tahun 1990-an oleh Pemerintah Kabupaten Bangka, Dusun Teru dimekarkan
menjadi kampung induk yang menginduk ke Kota Pangkalpinang. Kampung Teru
dipimpin oleh seorang Lurah pada saat itu bernama Munzir Yus yaitu salah
seorang tokoh karismatik dan sangat dicitai masyarakat pada saat itu. Setelah itu
kampung teru berubah menjadi desa yang dipimpin oleh Baharudin Djain.
Perkembangan sejarah Desa Teru dimulai dengan pergantian gelar pemimpin
kampung yaitu dari gegading menjadi lurah kemudian menjadi kepala desa
sampai sekarang.
TUGAS BAHASA INDONESIA
SEJARAH DESA TERU

Dibuat oleh : EVI SETIAWATI

XII MIPA1
SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 2
SUNGAI SELAN
2016